Sunday, November 15

[REMAKE] The Untittled Story Season 2 Chapter 4

Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit. Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali bertemu dengan Yunho?
The Untitled Story
Season 2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 4,

Jaejoong
Papan kayu retak di bawah kakiku kala aku melangkah kembali ke teras depan rumah Nenek Yihan. Aku membiarkan pintu kasa menutup dengan suara keras di belakangku sebelum teringat bahwa pintu itu sudah tua dan kelihatan sudah lama berkarat. Aku menghabiskan banyak waktu masa kecilku di teras depan ini mengupas kacang polong dengan Yihan dan Nenek Yihan. Aku tidak ingin dia marah padaku. Perutku bergejolak.
"Duduklah Jae dan berhenti menatap seperti kau bersiap untuk menangis. Tuhan tahu aku mencintaimu layaknya kau cucuku sendiri. Kupikir kau akan menjadi salah satunya suatu hari nanti."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Bocah bodoh tidak bias mengatasinya bersama-sama. Aku berharap dia akan menyadarinya sebelum semuanya terlambat. Tapi dia tidak, bukan? Kau telah pergi dan menemukan orang lain untukmu."
Ini bukan sesuatu yang kuharapkan. Aku mengambil kursi di depannya dan mulai mengupas kacang polong jadi aku tidak perlu melihatnya.
"Yihan dan aku telah putus lebih dari tiga tahun silam. Tidak ada yang terjadi sekarang karena hubungan itu. Dia adalah temanku, itu saja."
Nenek Yihan berdeham dan bergeser di ayunan teras dimana duduk.
"Aku tidak mempercayainya. Kalian berdua tidak terpisahkan semenjak anak-anak. Bahkan ketika remaja dia tidak bisa berhenti menatapmu. Itu lucu melihat betapa dia memujamu dan bahkan tidak menyadarinya sendiri. Tapi masa remaja menghantamnya dan membuatnya kehilangan pikirannya tentang mencintai. Aku benci dia begitu. Aku benci dia kehilangan dirimu, Jae. Karena tidak akan ada Jaejoong lain untuk Yihan. Kau untuknya."
Dia tidak menyebutkan tes kehamilanku. Apakah dia tahu aku membelinya? Aku tidak ingin mengulang masa lalu ku dengan Yihan. Tentu kami punya kenangan tapi ada begitu banyak kesedihan dan penyesalan yang tidak ingin ku alami lagi. Aku sudah hidup dalam kebohongan yang dibangun oleh Ayahku. Hanya mengingatnya terasa menyakitkan.
"Apakah Yihan datang ke sini hari ini?" tanyaku.
"Ya. Dia datang pagi ini mencarimu. Aku bilang padanya kau belum kembali dari kepergian awalmu. Dia tampak khawatir dan berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa apa. Dia juga menangis. Jangan dikira aku pernah melihatnya menangis sebelumnya. Paling tidak sejak ia masih kecil."
Dia menangis? Aku memejamkan mata dan menjatuhkan kacang polong ke dalam ember plastik besar yang digunakan Nenek Yihan. Yihan seharusnya tidak marah. Dia tidak seharusnya menangis. Dia membiarkan aku pergi sejak lama. Mengapa ini begitu sulit baginya?
"Berapa lama itu?" tanyaku,
Aku berpikir tentang berapa jam yang telah dia lalui sejak aku memperlihatkan jiwaku padanya di tempat parker apotek.
"Ah, sekitar sembilan jam yang lalu kurasa. Itu masih pagi. Dia terlihat kacau, Jae. Setidaknya pergilah mencarinya dan berbicara dengannya. Tidak peduli bagaimana perasaanmu padanya sekarang dia perlu mendengar sendiri darimu bahwa kau baik-baik saja."
Aku mengangguk. "Bisakah aku memakai telponmu?" tanyaku, berdiri.
"Tentu saja bisa. Makanlah salah satu dari pie goreng saat kau berada di sana. Aku membuat cukup untuk banyak orang setelah dia kabur pagi ini. Itu rasa favoritnya," katanya.
"Cherry," jawabku
Dan dia tersenyum padaku. Aku bisa melihat begitu banyak hal dalam mata miliknya. Aku tahu Yihan. Tidak ada yang mengejutkanku darinya. Aku memahami dia. Kami memiliki masa lalu. Aku mencintai keluarganya dan mereka jelas mencintaiku juga. Ini adalah rasa aman.
Junsu berdiri di sisi lain dari pintu menyesap segelas teh manis dan mengeluarkan ponselnya ke arahku. Dia menguping. Aku tak terkejut.
"Telponlah dia. Selesaikan masalah ini," katanya.
Aku mengambil ponselnya dan berjalan ke ruang tamu untuk memberi sedikit privasi pada diriku sebelum menekan nomor Yihan. Aku menghapalnya di luar kepala. Dia punya nomor yang sama sejak dia punya ponsel pertama ketika kami berumur enam belas tahun.
"Halo," jawabnya.
Aku bisa mendengar keraguan dalam suaranya. Sesuatu telah terjadi. Dia terdengar seperti sedang berbicara melalui hidungnya.
"Yihan? Apakah kau baik-baik saja?"
tanyaku tiba-tiba khawatir tentang dia. Ada jeda kemudian desahan panjang.
"Jaejoong. Yeah... Aku baik-baik saja."
"Dimana kau?"
Dia berdeham. "Aku, eh...aku di Gyongju."
Dia ada di Gyongju? Apa? Aku terduduk di sofa di belakangku dan mencengkeram erat ponsel. Apakah dia memberitahu Yunho? Hatiku terasa sakit dan aku memejamkan mata ku erat-erat sebelum bertanya,
"Kenapa kau ada di Gyongju? Tolong katakan padaku kau tidak ..."
Aku tidak bisa mengatakan itu. Tidak dengan Junsu ada di ruangan dan lebih dari senang menguping pembicaraanku.
"Aku harus melihat wajahnya. Aku perlu tahu jika dia mencintaimu. Aku perlu tahu...karena, aku hanya perlu tahu."
Itu tidak masuk akal.
"Apa yang kau katakan padanya? Bagaimana kau menemukannya? Apakah kau menemukannya?"
Mungkin dia tidak menemukannya. Mungkin aku bisa menghentikan ini. Ada tawa keras di ujung lain telpon.
"Ya, aku menemukan dia baik baik saja. Tidak sulit. Tempat ini kecil dan semua orang tahu di mana putra bintang rock tinggal."
Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan...
"Apa yang kau katakan padanya?"
tanyaku perlahan kala ketakutan mulai menyelimutiku.
"Aku tidak memberitahunya. Aku tidak akan melakukannya kepadamu. Berikan aku sedikit kesempatan. Aku selingkuh sebab aku adalah remaja pria yang bergairah tapi sialan Jaejoong kapan kau akan memaafkanku? Apakah aku harus membayar kesalahanku itu sepanjang hidupku? Aku minta maaf! Oh TUHAN Aku benar-benar menyesal. Aku akan kembali dan mengubah segalanya jika aku bisa."
Dia berhenti dan membuat rengutan yang terdengar seperti sedang sakit.
"Yihan. Ada apa denganmu? Apakah kau baik-baik saja?" tanyaku.
Aku tidak mau mengakui apa yang dia katakan. Aku tahu dia menyesal. Aku juga. Tapi tidak, aku tidak akan pernah bias melaluinya. Memaafkan adalah satu hal. Melupakan adalah hal lain.
"Aku baik-baik. Aku hanya sedikit babak belur. Anggap saja namja itu tidak suka padaku, oke."
Namja. Yunho? Apakah Yunho menyakitinya? Itu tidak terdengar seperti Yunho sama sekali.
"Siapa?"
Yihan mendesah, "Jung Yunho."
Aku melongo saat aku menatap lurus ke depan. Yunho telah menyakiti Yihan?
"Aku tidak mengerti."
"Tidak apa-apa. Aku punya kamar untuk menginap dan aku akan tidur. Aku akan pulang besok. Kita punya beberapa hal untuk dibicarakan."
"Yihan. Mengapa Yunho menyakitimu?"
Ada jeda lain dan kemudian napas kelelahan.
"Karena aku bertanya akan hal yang menurutnya bukanlah urusanku. Aku akan pulang besok."
Dia bertanya pertanyaan. Pertanyaan macam apa?
"Jaejoong, kau tidak harus memberitahunya. Aku akan menjagamu. Hanya saja... kita perlu bicara."
Dia menjagaku? Apa yang dia bicarakan? Aku tidak akan membiarkan dia mengurusku.
"Dimana kau sebenarnya?" tanyaku.
"Di sebuah hotel di luar dari Gyongju. Mereka pikir omong kosong mereka tidak akan ketahuan di kota. Semua yang ada disana biayanya lima kali terlalu mahal."
"Oke. Tetaplah disitu dan aku akan menemuimu besok." Jawabku kemudian menutup telepon.
Junsu melangkah ke dalam ruangan. Dia mengangkat satu alis gelapnya saat ia menatapku menunggu. Dia telah menguping . Aku tahu dia melakukannya.
"Aku butuh tumpangan untuk Gyongju," kataku bangkit berdiri.
Aku tidak bisa membiarkan Yihan berbaring terluka di kamar hotel dan aku tidak bisa menghadapai kemungkinan dia akan kembali dan mencoba untuk berbicara dengan Yunho lagi. Jika Junsu bias mengantarku kesana aku bisa memeriksanya dan kemudian mengantarnya pulang .
Junsu mengangguk dan tersenyum kecil. Aku tahu dia tidak ingin aku untuk melihat bagaimana bahagianya dia mendengar ini. Aku tidak akan tinggal. Dia tidak perlu melambungkan harapannya terlalu tinggi.
"Ini hanya tentang Yihan. Aku tidak...Aku tidak bisa tinggal di sana."
Dia tampaknya tidak percaya padaku.
"Tentu saja. Aku tahu."
Aku sedang tidak bersemangat untuk meyakinkannya. Aku menyerahkan ponsel padanya dan kembali ke kamar sementaraku untuk berkemas beberapa hal.
.

.
Yunho
Changmin akhirnya menyerah padaku dan pergi berdansa dengan salah seorang gadis yang telah main mata dengan kami ketika kami berjalan masuk ke klub. Dia datang ke sini untuk bersenang-senang, dan aku membutuhkan pengalihan tapi sekarang saat aku sudah disini yang ingin kulakukan hanyalah segera pergi. Meminum birku, aku tidak mencoba untuk membuat kontak mata dengan siapa pun.
Aku terus menunduk dan cemberut. Itu tidak sulit untuk dilakukan. Ucapan Yoochun itu terus berputar di kepalaku. Aku takut...Tidak, aku terlalu takut untuk membiarkan diriku percaya bahwa dia akan kembali ke sini. Aku telah melihat wajahnya malam itu di kamar hotel. Dia begitu kosong. Emosi di matanya hilang. Dia telah selesai -dengan ku, dengan Ayahnya, dengan segala sesuatu nya.
Cinta itu kejam. Sangat kejam.
Kursi bar di samping ku berbunyi di lantai saat itu di duduki. Aku tidak melihatnya. Aku tidak ingin siapa pun untuk berbicara denganku.
"Tolong katakan padaku bahwa mimik cemberut di wajah tampanmu itu bukanlah karena seorang yeoja. Kau mungkin menghancurkan hatiku."
Suara perempuan itu terdengar akrab. Aku memiringkan kepalaku ke sisi hanya cukup untuk melihat wajahnya. Meskipun dia lebih tua sekarang aku langsung mengenalinya. Ada beberapa hal yang tak bisa dilupakan oleh pria dalam hidupnya dan gadis yang mengambil keperjakaan mereka adalah salah satunya.
Go Ahra. Dia tiga tahun lebih tua dariku dan sedang mengunjungi neneknya kala musim panas saat aku berumur empat belas tahun. Itu bukanlah cinta. Lebih seperti pelajaran hidup.
"Ahra," jawabku,
lega itu bukanlah perempuan lain yang tidak ku kenal yang ingin melemparkan dirinya kepadaku.
"Dan dia mengingat namaku. Aku terkesan," jawabnya lalu memandang bartender dan tersenyum.
"Tolong Jack dan Coke."
"Para pria tidak pernah melupakan wanita pertamanya."
Dia bergeser di bangkunya, menyilangkan kaki dan memiringkan kepalanya untuk menatapku menyebabkan rambut hitam panjangnya jatuh di salah satu bahu. Dia masih memanjangkannya. Aku pernah terpesona akan hal itu dulu.
"Kebanyakan para namja tidak tetapi kau telah menjalani kehidupan yang berbeda dibandingkan dengan kebanyakan orang. Ketenaran harus mengubahmu selama bertahun-tahun."
"Abojiku yang terkenal bukan aku," bentakku,
Aku membenci ketika wanita ingin berbicara tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui. Ahra dan aku telah bercinta beberapa kali tapi dia tidak benar-benar tahu banyak tentangku saat itu.
"Hmmm, terserah. Jadi, kenapa kau begitu murung?"
Aku tidak murung . Aku benar-benar kacau. Tapi dia bukan orang yang aku berniat untuk menceritakan curhatku.
"Aku baik-baik saja,"
jawabku dan melirik kembali ke lantai dansa berharap untuk menangkap perhatian Changmin. Aku sudah siap untuk pergi.
"Kau kelihatan seperti sedang patah hati dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan hal itu," katanya sambil meraih Jack dan Cokenya.
" Aku tidak akan berbicara denganmu tentang kehidupan pribadiku, Ahra."
Aku memberikan peringatan terdengar keras dan jelas di ujung suaraku.
"Whoaa sabar, tampan. Aku tidak berusaha untuk membuatmu kesal. Hanya berbasa-basi."
Kehidupan pribadi ku bukanlah hal basa-basi.
"Kalo begitu tanyakan saja padaku tentang cuaca sialan itu," kataku sambil membentak .
Dia tidak menanggapi dan aku senang. Mungkin dia akan pindah. Jangan ganggu aku.
"Aku sedang di kota merawat Nenekku. Dia sakit dan aku butuh sesuatu yang baru untuk kulakukan dalam hidupku. Aku baru saja mengalami perceraian yang berantakan. Sebuah perubahan pemandangan dari tempat tinggalku sebelumnya adalah apa yang aku butuhkan. Aku akan berada di sini selama setidaknya enam bulan. Apakah kau akan jahat padaku selama aku disini atau kau akan baik padaku suatu saat dalam waktu dekat?"
Dia ingin berkencan denganku. Tidak, aku tidak siap untuk itu. Aku akan mulai menjawabnya ketika ponselku memberitahu adanya pesan teks masuk. Lega karena memiliki jeda sejenak sehingga aku bisa berpikir tentang bagaimana aku akan menanggapinya aku menariknya keluar dari kantongku. Aku tidak mengenali nomornya. Tapi ‘Hei Ini Junsu’ menarik perhatianku dan aku berhenti bernapas saat aku membuka teks untuk membaca selengkapnya.
‘Hei ini Junsu. Jika kau bukanlah seseorang yang sangat bodoh bangunlah dan bersiaplah dengan rencana.’
Apa artinya itu? Apa yang aku lewati? Apakah Jaejoong di Gyongju? Apakah artinya ini? Aku berdiri dan menaruh cukup uang di bar untuk membayar birku dan minuman Ahra.
"Aku harus pergi. Senang bertemu denganmu lagi. Jaga diri mu,"
kataku sambil lalu saat aku berjalan melalui kerumunan orang sampai aku menemukan Changmin sedang berdansa dengan seseorang berambut merah di lantai dansa. Matanya bertemu mataku dan aku mengangguk ke arah pintu.
"Sekarang," kataku
Aku berbalik untuk berjalan keluar. Aku akan meninggalkan dia disini jika dia tidak menyusulku saat aku mencapai Range Roverku. Jaejoong akan kesini. Aku akan mencari tahu. Bertanya pada Junsu apa yang dia maksudkan dengan pesan yang menyemangatiku itu bukanlah sia-sia.
.
.
.
.

To Be Continue

1 comment:

  1. Apa Yun bakal ketemu Jae ???
    Jangan bilang klo Ahra bakal jadi kerikil antara YunJae,,, #negativthinking kumat

    ReplyDelete