Tuesday, November 10

The Untittled Story Season 2 Chapter 3

Summary: Jaejoong kecewa pada Yunho hingga membuat dia menentukan pilihan untuk meninggalkan Yunho dan semua yang membuatnya sakit. Dia memilih meninggalkan Gyongju, kota pesisir pantai yang indah lengkap dengan ceritanya bersama Yunho disana. Dia memilih kembali ke Gongju, kota dimana tempat ia kembali pulang. Karena eomma dan Jaekyung ada disana. Tetapi ketika kembali ke Gongju, dia menemukan kenyataan yang membuatnya tak bisa menetap lagi di kota itu. Lalu haruskah ia kembali ke Gyongju? Siapkah ia kembali bertemu dengan Yunho?
The Untitled Story
Season 2
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 3,

Yunho POV
Sekarang adalah hari ulang tahun Ibuku. Boa sudah dua kali menelponku menanyakan apakah aku akan menelpon Ibu kami. Aku tidak bisa melakukannya. Dia sedang berada di pantai di Jeju bersama dengannya. Hal ini sama sekali tidak mempengaruhinya. Sekali lagi dia kabur untuk menikmati hidupnya sementara itu meninggalkan anaknya di belakang untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Boa menelpon lagi. Kau ingin aku menjawabnya dan mengatakan padanya agar meninggalkan kau sendirian?"
Changmin berjalan masuk ke ruang tamu memegang ponselku di tangannya sementara ponsel itu berdering. Dua orang itu bertengkar seperti layaknya saudara kandung,
"Tidak, berikan itu padaku," jawabku sambil dia melemparkan ponsel itu padaku.
"Boa," sapaku dengan hangat.
"Apakah kau akan menelpon Eomma atau tidak? Dia sudah dua kali menelponku, bertanya apakah aku bicara padamu dan jika kau ingat ini adalah hari ulang tahunnya. Dia peduli padamu. Berhenti membiarkan yeoja itu menghancurkan segalanya, Yunho. Dia menodongkan senjatanya padaku, demi Tuhan. Senjata, Yunho. Dia gila. Dia-"
"Berhenti. Jangan berkata apa-apa lagi. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak ingin tahu tentangnya. Jadi hentikan. Aku tidak akan menelpon Eomma. Lain kali dia menelpon katakan padanya seperti itu. Aku tidak ingin mendengar suaranya. Aku tidak peduli akan liburannya atau apa yang dia dapatkan saat ulang tahunnya."
"Ouch,"
gumam Changmin saat dia merebahkan diri pada sofa diseberangku dan menopangkan kaki nya pada ottoman (sofa rendah tanpa sandaran) di depannya.
"Aku tidak percaya kau berkata seperti itu. Aku tidak memahamimu. Dia tidak mungkin baik dalam,,,,"
"Jangan Boa. Percakapan ini selesai. Telpon aku jika kau butuh aku."
Aku menekan tombol end kemudian melemparkan ponselku ke kursi disampingku dan menyandarkan kepalaku pada bantal.
"Ayo pergi. Sedikit minum. Berdansa dengan beberapa gadis. Lupakan semua omong kosong ini. Semuanya." kata Changmin.
Dia menyarankan ini beberapa kali selama lebih dari tiga minggu. Atau setidaknya sejak aku berhenti memecahkan sesuatu dan dia merasa itu sudah cukup aman untuk bicara.
"Tidak,"jawabku tanpa melihatnya.
Tidak ada satu alasan pun untuk bersikap seolah aku baik-baik saja. Sampai aku tahu Jaejoong baik-baik saja, aku tidak akan pernah baik. Dia mungkin tidak akan memaafkanku. Masa bodoh dia mungkin tidak akan pernah melihatku lagi tapi aku ingin tahu apakah dia sudah pulih. Aku ingin tahu sesuatu. Apa saja.
"Aku sangat baik untuk tidak ikut campur. Aku membiarkanmu
menjadi gila, berteriak pada semua yang bergerak dan menyebalkan.
Ku pikir ini saatnya kau bilang sesuatu padaku. Apa yang terjadi
ketika kau pergi ke Alabama? Sesuatu pasti telah terjadi. Kau tidak
kembali menjadi orang yang sama."
Aku menyayangi Changmin seperti saudara tetapi tidak mungkin aku
mengatakan padanya tentang malam di kamar hotel bersama Jaejoong.
Dia telah terluka dan aku sangat putus asa.
"Aku tidak ingin membicarakannya. Tapi aku ingin pergi keluar. Berhenti menatap pada semua dinding ini dan mengingatnya...yeah aku perlu keluar."
Aku berdiri dan Changmin melompat dari tempat duduknya di sofa. Kelegaan nampak nyata di matanya.
"Untuk apa kau pergi keluar? Bir atau yeoja atau keduanya?"
"Musik yang keras," jawabku.
Aku benar-benar tidak perlu bir atau gadis...Aku hanya tidak siap untuk itu.
"Kita harus keluar kota."
Aku melemparkan kunci mobilku padanya,
"Tentu, kau yang menyetir."
Bunyi bel menghentikan langkah kami berdua. Terakhir kali aku punya tamu tak diundang berakhir dengan tidak baik. Seolah ada polisi yang datang untuk menahanku karena memukul wajah Yihan. Cukup aneh, aku tidak peduli. Aku tidak takut.
"Aku yang akan membukanya," kata Changmin,
Ia menatapku dengan gelisah. Dia memikirkan hal yang sama. Aku duduk kembali di sofa dan menopangkan kakiku ke atas meja kopi di depanku. Ibuku tidak menyukainya ketika aku meletakkan kakiku di atas meja ini. Dia membelinya pada waktu liburan luar negerinya dan meja itu dikirimkan kesini. Aku merasa tiba-tiba rasa bersalah datang karena tidak menelponnya tapi aku mengabaikannya.Seumur hidupku aku membuat wanita itu bahagia dan menjaga Boa. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Aku sudah selesai. Dengan semua omong kosongnya.
"Yoochun, ada apa? Kami baru saja akan keluar. Kau mau ikut?"
Kata Changmin sambil melangkah mundur dan membiarkan Yoochun masuk ke dalam rumah. Aku tidak bangun. Aku ingin dia pergi. Melihat Yoochun mengingatkanku pada Junsu yang mengingatkanku pada Jaejoong. Yoochun harus pergi.
"Uh, tidak, aku uh...Aku perlu bicara padamu tentang suatu hal," kata Yoochun,
menyeret kakinya dan memasukkan tangannya ke sakunya. Dia kelihatannya siap untuk melompat keluar dari pintu.
"Oke," balasku.
"Hari ini mungkin bukan waktu yang baik untuk berbicara dengannya, kawan," kata Changmin, melangkah ke depan Yoochun dan menatapku.
"Kami berdua mau keluar. Ayo pergi. Yoochun bisa bicara nanti."
Sekarang aku penasaran,
"Aku bukanlah orang yang tidak terkendali, Changmin. Duduklah. Biarkan dia bicara."
Changmin menghembuskan nafas dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah. Kau akan mengatakan padanya omong kosong ini sekarang, maka katakan padanya."
Yoochun menatap Changmin dengan gugup kemudian dia menatapku kembali. Dia berjalan dan duduk di kursi yang paling jauh dariku. Aku menatap saat dia menyelipkan rambutnya di belakang telinganya dan ingin tahu apa yang akan dia katakan adalah hal penting.
"Junsu dan aku menjadi lebih serius," dia memulai.
Aku sudah tahu ini. Aku tidak peduli. Aku merasakan rasa sakit terbuka di dadaku dan aku mengepalkan tanganku. Aku harus fokus untuk memasukkan udara ke dalam paru-paruku. Junsu adalah teman baik Jaejoong. Dia tahu bagaimana Jaejoong.
"Dan uh...tempat tinggal Junsu sewanya naik dan tempat itu juga buruk. Aku merasa tidak aman dia tinggal disana. Jadi, aku bicara pada Hyunjoong dan dia bilang bahwa Abojinya punya kondominium dengan dua kamar yang kosong jika aku ingin menyewanya. Aku uh, menyewanya untuk Junsu dan membayar uang sewa dan semuanya. Tapi ketika aku mengajaknya untuk melihatnya dia marah. Sangat marah. Dia tidak ingin aku membayar uang sewanya. Dia bilang itu membuatnya merasa murahan,"
Dia menghembuskan nafas dan tatapan maaf yang tetap terlihat di matanya tetap tidak berarti. Aku tidak peduli tentang pertengkarannya dengan Junsu.
"Itu dua kali lebih...atau, setidaknya, Junsu berpikir itu dua kali lebih mahal dari tempat tinggal lamanya. Dan sebenarnya itu empat kali lebih mahal dari tempat lamanya. Aku meminta Hyunjoong merahasiakannya. Aku membayar bagian yang lain tanpa dia ketahui. Ngomong ngomong. Dia, uh...dia...pergi ke Gongju hari ini. Dia menyukai kondominium itu. Dia ingin tinggal di property klub atau di pantai. Tapi satu-satunya orang yang dia anggap cocok sebagai teman sekamarnya adalah...Jaejoong."
Aku berdiri. Aku tidak bisa duduk.
"Whoa kawan...duduklah." Changmin menahanku dan aku menepisnya.
"Aku tidak marah. Aku hanya perlu bernapas," kataku,
Menatap keluar ke pintu kaca menatap ombak yang menghantam pantai. Junsu pergi untuk mendapatkan Jaejoong. Jantungku berdetak cepat. Apakah dia akan datang?
"Aku tahu kalian berdua berakhir dengan tidak baik. Aku memintanya untuk tidak melakukannya tapi dia marah dan aku tidak suka membuatnya marah. Dia bilang dia merindukan Jaejoong dan Jaejoong membutuhkan seseorang. Dia, uh, juga bicara pada Hyunjoong agar memberi Jaejoong pekerjaan lagi jika dia bisa mendapatkan Jaejoong kembali."
Jaejoong. Kembali...
Dia tidak akan kembali. Dia membenciku. Dia membenci Boa. Dia membenci Ibuku. Dia membenci Ayahnya. Dia tidak akan kembali ke sini...tapi Ya Tuhan, aku ingin dia kembali. Aku menoleh dan melihat Yoochun.
"Dia tidak akan kembali," kataku. Rasa sakit di suaraku tidak bias dipungkiri. Aku tidak peduli untuk menyembunyikannya. Tidak lagi. Yoochun mengangkat bahu.
"Dia mungkin butuh waktu untuk memikirkan hal ini. Bagaimana jika dia kembali? Apa yang akan kau lakukan?" Changmin bertanya padaku.
Apa yang akan kulakukan?
Aku akan memohon.
.
.
Jaejoong POV
Junsu menghentikan mobil Yoochun ke tempat Dairy K. Aku melihat mobil Volkswagen kecil berwarna biru milik Sooyoung dan memutuskan untuk tidak keluar dari mobil. Aku hanya pernah bertemu Sooyoung dua kali sejak aku kembali dan dia sudah siap mencakar keluar mataku.
Dia telah menyukai Yihan semenjak SHS. Aku pulang kembali dan mengacaukan apa pun jenis hubungan mereka yang akhirnya telah berhasil mereka jalani. Aku tidak bermaksud seperti itu. Dia bias memiliki Yihan.
Junsu mulai keluar dari mobil dan aku meraih lengannya. "Ayo kita bicara di dalam mobil saja," kataku menghentikannya.
"Tapi aku ingin beberapa es krim yang dicampur dengan Oreo," keluhnya.
"Aku tidak bisa bicara di sana. Aku kenal banyak orang," jelasku.
Junsu menghela napas dan bersandar di kursinya. "Oke baik. Lagipula diriku tidak membutuhkan es krim dan kue."
Aku tersenyum dan santai, berterima kasih atas jendela berwarna gelap. Mengetahui aku tidak akan terlihat saat orang berhenti dan menatap mobil Yoochun itu. Tidak ada seorang pun di sini yang mengendarai mobil yang bahkan dekat dengan lingkaran ini.
"Aku tidak akan bertele-tele dengan ini, Jae. Aku merindukanmu. Aku tidak pernah punya teman dekat yeoja sebelumnya. Tidak pernah. Kemudian kau datang dan kau pergi. Aku benci ketika kau pergi. Pekerjaan menjadi menyebalkan tanpamu ada di sana. Aku tidak memiliki seorangpun yang bisa di ajak cerita tentang kehidupan seksku dengan Yoochun dan bagaimana manisnya dia yang mana takkan pernah kudapatkan bila aku tak mendengar nasihatmu. Aku hanya merindukanmu."
Aku merasa airmata mulai menggenang. Hanya merasa dirindukan  terasa begitu baik. Aku merindukannya juga. Aku merindukan banyak hal.
"Aku juga merindukanmu," jawabku ,
berharap aku tidak menjadi cengeng. Junsu mengangguk dan senyum terpasang di bibirnya.
"Oke baik. Karena aku ingin kau kembali dan tinggal bersamaku. Yoochun menempatkanku di kondominium tepi pantai di properti klub. Aku, bagaimanapun,menolak untuk membiarkan dia membayarnya. Jadi, aku butuh teman sekamar. Tolong kembalilah. Aku membutuhkanmu. Dan Hyunjoong mengatakan kau akan mendapatkan pekerjaanmu kembali segera."
Kembali ke Gyongju? Dimana Yunho berada...dan Boa...dan Ayahku. Aku tidak bisa kembali. Aku tidak bisa bertemu mereka. Mereka akan berada di klub. Apakah Ayahku akan mengajak Boa untuk bermain golf? Bisakah aku melihatnya? Tidak, aku tidak bisa.
"Aku tidak bisa," aku tercekat.
Aku berharap aku bisa. Aku tidak tahu kemana aku akan pergi sekarang mengetahui bahwa aku hamil tapi aku tidak bisa pergi ke Gyongju dan aku tak bisa tinggal disini.
”Kumohon, Jae. Yunho merindukanmu juga. Dia tidak pernah meninggalkan rumahnya. Yoochun mengatakan dia begitu menyedihkan."
Rasa amarah seketika menggelegak dalam dadaku. Mengetahui bahwa Yunho juga sakit terasa terlalu berat. Aku membayangkan dia mengadakan pesta dirumahnya dan meneruskan hidupnya. Aku tidak ingin dia masih sedih. Aku hanya perlu bagi kita untuk melanjutkan hidup. Tapi mungkin aku tidak akan pernah bisa. Aku akan selalu mengingat Yunho.
"Aku tidak bisa melihat mereka. Salah satu dari mereka. Ini akan terlalu berat,"
aku berhenti. Aku tidak bisa memberitahu Junsu tentang kehamilanku. Saya hampir tidak punya waktu untuk memahaminya. Aku belum siap untuk memberitahu siapa pun. Aku mungkin tidak akan pernah memberitahu siapa pun selain Yihan. Aku akan segera meninggalkan tempat ini. Kemanapun aku pergi aku tak ingin mengenali seorangpun. Aku akan mulai lagi dari awal .
”Appa...eh Appamu dan Heechul tidak ada. Mereka pergi. Boa ada tapi dia lebih tenang sekarang. Ku rasa dia mengkhawatirkan Yunho. Akan sulit pada awalnya, namun setelah kau mencoba melupakan lukamu kau bisa mengatasi mereka. Bahkan segalanya. Selain itu, dari gaya mata Hyunjoong yang mengerjap bahagia ketika aku menyebutkan kau akan kembali, kau bisa mengalihkan dirimu padanya. Dia jauh lebih menarik."
Aku tidak ingin Hyunjoong. Dan tidak ada yang dapat mengalihkan perhatianku. Junsu tidak tahu segalanya. Aku pun tidak bisa mengatakan padanya. Tidak hari ini.
"Sebanyak yang ku inginkan...aku hanya tidak bisa. Maafkan aku."
Aku menyesal. Tinggal bersama Junsu dan mendapatkan kembali pekerjaanku di klub akan menjadi jawaban untuk masalahku, hampir. Junsu mendesah frustrasi dan membaringkan kepalanya kembali di kursi dan memejamkan mata.
"Oke. Aku mengerti. Aku tidak menyukainya namun aku mengerti."
Aku mengulurkan tangan dan meremas tangannya erat. Aku berharap sesuatu yang berbeda. Jika saja Yunho hanya seorang lelaki dari beberapa lelaki yang telah putus denganku mungkin itu lebih baik. Tapi dia tidak. Dia tidak akan pernah. Dia lebih dari itu. Jauh lebih dari yang bisa Junsu mengerti. Junsu meremas tanganku kembali.
"Aku akan membiarkan ini berlalu untuk hari ini. Tapi aku tidakakan segera mencari teman sekamar. Aku memberimu waktu seminggu untuk berpikir tentang hal ini. Lalu aku harus mencari seseorang untuk membantuku membayar tagihan. Jadi kau mau kan? Memikirkan tentang hal ini?"
Aku mengangguk karena aku tahu itu apa yang dia butuhkan walau aku tahu dia menunggu dengan sia-sia.
"Bagus. Aku akan pulang dan berdoa jika Tuhan masih mengingat siapa sih aku ini."
Dia mengedipkan mata ke arahku dan kemudian melintasi kursi untuk memelukku.
"Makanlah makanan untukku, oke? Kau terlalu kurus," katanya.
"Oke," jawabku,
bertanya-tanya apakah itu akan mungkin. Junsu duduk kembali.
"Nah, jika kau tidak akan berkemas dan kembali ke Gyongju denganku maka setidaknya mari kita pergi keluar. Aku perlu untuk menginap semalam sebelum aku melakukan perjalanan ini lagi. Kita bisa mencari tempat hiburan di suatu tempat dan kemudian lelah setibanya di hotel."
Aku mengangguk. "Ya. Kedengarannya menarik. Hanya saja tidak ada Mirotic." Aku tidak bisa mendatangi kembali salah satu dari pub-pub semacam Mirotic. Setidaknya tidak secepat ini.
Junsu mengerutkan kening. "Oke...tapi apakah ada sesuatu yang lain di negara bagian ini?"
Dia punya tujuan. "Ya...kita bisa menyetir ke kota terdekat."
"Sempurna. Ayo kita bersenang-senang."
Ketika kami berhenti di parkiran jalan di rumah Nenek Yihan dia duduk di teras sedang mengupas kacang polong. Aku tidak ingin menemui dia, tapi dia telah memberiku tempat tinggal selama tiga minggu tanpa pamrih. Dia berhak mendapatkan penjelasan jika dia ingin. Aku tidak yakin Yihan telah memberitahunya segalanya. Truknya tidak ada di sini dan aku sangat berterima kasih.
"Kau ingin aku tetap tinggal di mobil?" tanya Junsu.
Akan lebih mudah jika dia melakukannya tapi Nenek Yihan akan melihatnya dan menngatakan betapa tidak sopannya diriku jika tak mengijinkan temanku untuk masuk.
"Kau bisa ikut denganku," kataku dan membuka pintu mobil .
Junsu berjalan mengitari bagian depan mobil dan melangkah disampingku. Nenek Yihan tidak mendongak dari kacang polongnya tapi aku tahu dia mendengar kami. Dia sedang memikirkan apa yang akan dia katakan. Yihan pasti telah memberitahunya. Sialan!
Aku memandang saat ia terus mengupas kacang polong dalam keheningan. Hanya rambut pendeknya berwarna putihlah yang bisa aku lihat darinya. Tidak ada kontak mata. Akan jauh lebih mudah untuk hanya masuk ke dalam dan mengambil keuntungan darinya yang tak berbicara padaku. Tapi ini adalah rumahnya. Jika dia tidak ingin aku berada di sini aku perlu untuk berkemas dan pergi.
"Halmonie,"
kataku dan berhenti, menunggu dia untuk mengangkat kepalanya untuk menatapku. Senyap. Dia marah denganku. Kecewa atau marah, aku tidak yakin yang mana. Aku benci Yihan sekarang untuk memberitahunya. Tidak bisakah dia menutup mulutnya?
"Ini temanku, Junsu. Dia datang untuk mengunjungiku hari ini," lanjutku.
Nenek Yihan akhirnya mengangkat kepalanya dan kemudian tersenyum pada Junsu selanjutnya tatapannya berpindah padaku.
"Kau ajaklah dia masuk dan suguhkan dia segelas besar es teh dan berikan dia sepiring pie goreng yang telah kudinginkan di meja. Kemudian kembalilah keluar sini dan bicara padaku sebentar, hmmm."
Ini bukan perintah, Itu permintaan halus. Aku mengangguk dan memimpin Junsu masuk ke dalam.
"Apakah kau membuat jengkel wanita tua itu?" bisik Junsu ketika kami berada aman di dalam rumah.
Aku mengangkat bahu. Aku tidak yakin.
"Aku tidak tahu," jawabku.
Aku pergi ke lemari dan mengambil gelas tinggi dan pergi untuk menyuguhkan Junsu segelas es teh. Aku bahkan tidak bertanya apakah dia menginginkannya. Aku hanya mencoba untuk melakukan apa yang dikatakan Nenek Yihan tadi.
"Ini. Minumlah ini dan makanlah sepotong pie goreng. Aku akan segera kembali dalam beberapa menit,"kataku dan bergegas kembali ke luar.
Aku harus menyelesaikan masalah ini.
.
.
.
.

To Be Continue

2 comments:

  1. Kereeennnnn,,,
    Penasaran deh. Q tiap hr selalu nunggu cerita ni. Semangat trus y??? Lanjuuuttt,,,,!!!!!!

    ReplyDelete
  2. Kpan mereka dipertemukan lgi ????
    Si Boa ngapain sihhh ikut campur urusan Yunjae,,,
    Saki,,, lanjuttttttttr !!!!!!

    ReplyDelete