Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Apapun..
Tiba-tiba saja Jaejoong merasa
menyesal sudah menjanjikan sesuatu yang sepertinya bisa digunakan Yunho untuk
memanfaatkannya. Tetapi sudah terlanjur, lagipula, melihat perban di tangan Yunho
itu membuat Jaejoong merasa sangat bersalah. Tangan kanan merupakan tangan yang
vital bagi seorang pemain biola, tangan itu berguna untuk memainkan busur
penggesek biola, dan sangat penting dalam menciptakan
suara. Tangan kanan bagi seorang pemain biola bertanggung jawab dalam hal
kualitas nada, ritme, dinamik, artikulasi dan timbre, tetapi sekarang
Yunho terluka di tangan kanannya, kata Changmin, lelaki itu bahkan kesulitan
menggerakkan jari-jarinya...
Jaejoong menatap Yunho dengan
tatapan was-was sementara mata lelaki itu tampak berkilat penuh rencana.
Tiba-tiba saja Yunho menatap Jaejoong
tajam dan tersenyum mencurigakan,
"Oke, sudah
kuputuskan."
"Sudah diputuskan apa?"
Jaejoong bertanya, penasaran dengan sikap Yunho yang penuh misteri.
Senyum Yunho melebar, "Kau
akan menjadi pengganti tangan kananku, selama tangan kananku tidak bisa
digunakan, sampai aku sembuh."
Mata Jaejoong membelalak, masih
berharap kalau dia salah duga karena tidak menyangka bahwa lelaki itu akan
meminta hal yang begitu konyol dan egois kepadanya,
Yunho memasang wajah datar yang
menjengkelkan,
"Karena kau aku jadi
invalid, aku tidak bisa menggunakan tangan kananku, bukan hanya untuk bermain
biola tetapi juga kegiatan-kegiatan lainnya, seperti menulis, menyuapkan
makanan, menyisir rambutku."
Lelaki itu tampak geli sendiri
dengan kata-katanya, tetapi matanya bersinar menantang ketika menatap Jaejoong,
"Apalagi setelah operasi
lusa, aku akan semakin tak bisa menggerakkan tanganku karena masih dalam proses
penyembuhan. Jadi Kau bertugas menggantikan tangan kananku."
Mata Jaejoong melirik dirinya
sendiri yang memakai kruk dengan kaki dibebat,
"Aku sendiri terluka di
bagian kaki dan membutuhkan orang lain untuk menopangku, aku tidak bisa menjadi
tangan kananmu." gumamnya jengkel.
Yunho memasang wajah datar,
"Kalau begitu biarkan aku
menjadi kakimu, aku akan menopangmu." gumamnya tak peduli,
lalu melemparkan tatapan menuduh
kepada Jaejoong,
"Kau bilang kau mau
melakukan 'apapun' untukku."
Jaejoong terdiam, teringat
janjinya lagi, lalu memandang Yunho lama, kemudian menghela napas panjang. Ya
ampun, sepertinya dia terperangkap dalam jebakan Yunho yang licik.
.
.
.
"Kenapa?"
Changmin duduk di pinggir
ranjang, menatap Jaejoong lembut, perempuan itu tadi memaksa untuk menengok Yunho
di kamarnya, tetapi setelah kembali wajah Jaejoong bukannya lega, malahan lebih
kusut dari biasanya.
Jaejoong menatap Changmin dan
mencoba tersenyum,
"Tidak apa-apa."
sebaiknya Changmin tidak tahu
kalau Jaejoong sudah bersedia menjadi pengganti tangan kanan Yunho. Lelaki itu
pasti akan marah dan merasa bahwa Yunho memanfaatkan Jaejoong.
Tetapi tentu saja Changmin tidak
mau menyerah, "Dia marah padamu ya?"
Jaejoong meringis, mungkin lebih
baik kalau Yunho marah kepadanya, mungkin membentak, mencaci dan
menyalahkannya. Tetapi tidak, Yunho begitu dingin dan penuh perhitungan
sehingga Jaejoong tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Lelaki
itu tampak misterius dan Jaejoong tiba-tiba merasa takut dan tidak
nyaman, karena dia tidak bisa mengetahui apa rencana Yunho selanjutnya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya,
mengetahui bahwa Changmin masih menantikan jawabannya,
"Tidak, dia tidak marah
kepadaku."
'Kau sudah meminta maaf
bukan?"
Changmin bertanya lagi, merasa
tidak puas dengan jawaban Jaejoong.
Jaejoong menganggukkan kepalanya,
"Sudah."
"Lalu kenapa kau masih
tampak sedih?"
"Tidak apa-apa Changmin."
Jaejoong menggelengkan kepalanya,
sebaiknya Changmin tidak usah tahu tentang apa yang dikatakan Yunho kepadanya,
kalau tidak sifat Changmin yang protektif kepadanya mungkin akan membuat Changmin
melabrak Yunho.
Lagipula, kalau Yunho memang mau
mengerjainya, dia pantas bukan diperlakukan seperti itu? Karena dia yang
bersalah....
Tiba-tiba Jaejoong
bertanya-tanya, pertanyaan yang kemarin lupa untuk dipikirkannya.... Si
penyergap itu, lelaki menakutkan itu jelas-jelas mengincar tangan dan wajah Jaejoong
dengan pisau, seperti sudah direncanakan sebelumnya. Lelaki itu bukan penculik
acak, Jaejoong memang sudah ditargetkan.
Ketika Jaejoong sadarkan diri,
polisi sudah menemuinya dan menanyakan semuanya kepada Jaejoong. Jaejoong
sendiri berusaha membantunya sebisanya, tetapi ketika polisi menanyakan
pertanyaan itu, dia sendiri tidak punya jawabannya.
Kenapa si
penyergap itu berusaha melukainya? Dan siapakah dia?
.
.
.
Ahra menampar Andrew keras-keras,
melampiaskan kemarahannya.
"Bodoh!"
dia berteriak kencang, marah luar
biasa, sementara Andrew hanya terpatung diam dan tampak pasrah,
"Aku menyuruhmu melukai anak
ingusan brengsek itu! Bukannya melukai Yunhoku, dan dari semua bagian tubuhnya,
kenapa kau melukai tangannya?!"
Ahra tentu saja mengikuti
perkembangan berita tentang Yunho yang heboh ditayangkan di televisi. Dia sama
sekali tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.
Ya ampun. Yunhonya!
Kesayangannya! Kekasihnya!
Lelaki itu sekarang terluka, di
bagian tangan yang vital pula! Dan itu semua karena kebodohan Andrew.
"Kau harus menebus
kesalahanmu ini dengan berhasil di tugas berikutnya Andrew! Kali ini jangan
sampai gagal, kau harus bisa melukai Jaejoong!"
suaranya masih tinggi karena
emosi, dan ketika Andrew hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Ahra mendengus
lalu membalikkan badan dan meninggalkan Andrew,
Dalam langkahnya, dia
membayangkan Yunho, dan kemudian dia sadar bahwa sampai detik ini, tidak ada
polisi yang datang menanyainya. Padahal kalau Yunho mau mengatakan kepada
polisi bahwa sebelum penyerangan atas Jaejoong itu, Ahra jelas-jelas mengatakan
bahwa dia merencanakan menyakiti Jaejoong, pasti sekarang Ahra sudah berada di
dalam sel penjara.
Tetapi sepertinya Yunho tidak
mengatakan apa-apa kepada polisi. Kenapa Yunho melindunginya?
Apakah jangan-jangan, Yunho masih
mencintainya sehingga memutuskan untuk melindunginya?
Bibir Ahra mengembangkan senyum
penuh harap. Ya. Yunho pasti masih mencintainya! Segera setelah Andrew berhasil
melakukan misinya dan menyingkirkan Jaejoong selamanya, Yunho pasti akan
kembali kepada Ahra!
.
.
.
Hari ini adalah hari operasi
tangan Yunho yang kedua, lelaki itu duduk dan menunggu. Matanya menatap ke arah
tangannya yang diperban, kemudian dengan senyuman jahil lelaki itu
menekan nomor telepon Jaejoong yang sangat dihapalnya.
"Halo?"
suara Jaejoong yang lemah
terdengar di seberang, Yunho bahkan bisa membayangkan bagaimana dahi Jaejoong
mengerut dan bibir mungilnya mengerucut.
"Aku mau kau ke sini."
Lalu tanpa menunggu jawaban Jaejoong,
Yunho mematikan ponselnya. Menunggu.
Senyumnya melebar ketika
terdengar ketukan di pintu kamarnya, kamar Jaejoong memang berada di sebelahnya
sehingga mudah bagi mereka untuk saling mengunjungi. Yunho sebenarnya bisa
mengunjungi Jaejoong ke kamarnya, tetapi karena dia harus dioperasi beberapa
jam lagi, dia dilarang keluar dari kamarnya, berbeda dengan Jaejoong yang
cedera terkilir dan tidak ada infus yang mengikatnya.
"Masuk." Yunho bergumam
tenang, tahu siapa yang ada di depan pintu.
Pintupun terbuka dan Jaejoong
masuk, perempuan itu masih memakai kruk tetapi sepertinya kakinya sudah lebih
baik. Setengah melangkah Jaejoong berjalan mendekati ranjang Yunho dan berdiri
di sana dengan ragu.
Yunho mengangkat alisnya,
"Duduklah, kalau tidak kau
bisa ambruk karena berdiri terlalu lama. Ada yang ingin kubicarakan."
Jaejoong menurut, dan duduk
meskipun benaknya dipenuhi pertanyaan.
Hening sejenak, Yunho menatap Jaejoong
dalam-dalam, dan kemudian bergumam,
"Aku ingin kau menjadi
kekasihku."
Kali ini mata Jaejoong
membelalak, dan kalau kakinya tidak terkilir, mungkin dia sudah berdiri dari
duduknya,
"Apa maksudmu?"
Matanya membalas tatapan serius Yunho,
berusaha mencari candaan dan jebakan yang tersembunyi di sana. Tetapi Yunho
tampak tenang, tersenyum misterius dan mengangkat dagunya angkuh.
"Bukan kekasih yang
sebenarnya." gumamnya dingin,
"Aku tidak butuh kekasih di
saat-saat seperti ini. Aku menawarkan itu supaya semuanya lebih mudah bagi
kita."
"Apanya yang lebih
mudah?"
kata-kata bantahan sudah
berkumpul di ujung bibir Jaejoong, dia masih bingung dengan tawaran Yunho itu
yang sebenarnya tidak bisa disebut tawaran, tetapi lebih mirip sebuah perintah.
Apa maksud Yunho dengan menjadi kekasihnya, tetapi bukanlah kekasihnya yang
sebenarnya?
"Si penyergapmu itu."
Mata Yunho menyipit.
"Aku menduga dia adalah
suruhan dari orang yang cemburu kepadamu, karena kau ada di dekatku."
Yunho memilih tidak menyebut nama
Ahra kepada Jaejoong. Dia punya balas dendam sendiri yang akan dilakukannya
kepada Ahra, dan Jaejoong tidak perlu terlibat di dalamnya,
"Dan masih ada kemungkinan
dia akan menyerang lagi."
Kenangan itu langsung menyerang Jaejoong,
membuatnya pucat pasi. Dia masih ingat pisau yang terayun itu, sedetik sebelum Yunho
menyelamatkannya. Kalau dia harus mengalami hal yang sama sekali lagi, entah
apakah dia mampu...
"Kalau memang penyerang itu
disuruh oleh orang yang cemburu, bukankah lebih baik aku menjauh darimu? Kenapa
kau malahan menyuruhku berpura-pura menjadi kekasihmu? bukankah itu malahan
semakin menyulut si pelaku?"
Jaejoong melemparkan pemikiran
logisnya ke arah Yunho.
Sementara itu Yunho malahan
menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kalau kau
menjauhiku, kau akan tetap diincar, lagipula kau tidak bisa menjauhiku, kau
adalah murid khususku dan kau akan menjadi pengganti tangan kananku."
Yunho seolah senang mengingatkan
akan janji Jaejoong untuk bersedia menjadi semacam budaknya.
"Satu-satunya cara kau bisa
ada di dekatku, dan aku bisa menjagamu supaya aman adalah dengan statusmu
sebagai kekasihku, selain itu aku ingin memancing si pelaku ini supaya semakin
marah dan meledak." Senyum Yunho tampak kejam,
"Lalu aku akan
menghancurkannya."
Jaejoong menelan ludah, sisi Yunho
yang ini belum pernah dilihatnya sebelumnya. Dia tahu Yunho yang menjengkelkan
dan pemaksa, dia tahu Yunho yang elegan dan dewasa ketika berada di pesta, dia
tahu Yunho yang misterius dan tampak susah didekati ketika bermain biola...
tetapi dia belum pernah melihat sisi Yunho yang penuh dendam dan kejam.... dan
itu terasa menakutkan...
"Kau tidak bisa
menolak."
Yunho mengamati Jaejoong yang
merenung, mengira bahwa Jaejoong akan menolaknya,
"Kau sudah berjanji akan
melakukan apapun untukku. Ini termasuk di dalamnya."
Sialan Yunho. Jaejoong mengumpati
lelaki itu diam-diam, merasa jengkel karena Yunho benar-benar memanfaatkan
kata-kata yang diucapkan Jaejoong saat itu. Oke. Sekarang dia tahu bahwa lelaki
ini kejam, dan tidak segan-segan memanfaatkan rasa bersalah Jaejoong.
"Jadi sekarang bagaimana?"
Jaejoong melemparkan tatapan mata
jengkel kepada Yunho, pada akhirnya dia pasrah, karena lelaki ini pasti akan
berusaha mendapatkan apapun yang dia mau.
"Mulai sekarang, kau adalah
kekasihku." Senyum Yunho tampak puas,
"Kita harus menandai hal istimewa
ini."
Pada saat bersamaan, pintu itu
terbuka dari luar, dan seperti sudah direncanakan sebelumnya, detik yang sama
pula tangan Yunho yang tidak sakit meraih belakang kepala Jaejoong, memaksa Jaejoong
menunduk ke arahnya, dan kemudian bibirnya mengecup bibir Jaejoong dengan
sangat ahli.
.
.
.
Tadi Changmin meninggalkan Jaejoong
untuk membeli kopi di bawah, dan ketika dia kembali ke kamar Jaejoong, ternyata
ranjang Jaejoong kosong.
Changmin sudah tentu tahu bahwa Jaejoong
sedang mengunjungi kamar Yunho, dia merasakan dadanya berdenyut oleh perasaan
asing. Perasaan asing yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Rasa tidak nyaman
yang sama ketika di pesta itu dan dia melihat lengan Yunho melingkari pinggang Jaejoong
dengan posesif.
Apakah dia cemburu?
Karena musibah ini, Changmin
tidak sempat menelaah perasaannya kepada Jaejoong. Tetapi dia tahu rasa itu
ada.... dia tertarik kepada Jaejoong, lebih daripada sahabat, lebih daripada
saudara.... apakah Jaejoong akan membalas perasaannya? ataukah perempuan itu tertarik
kepada Yunho...? dan kenapa pula Changmin memikirkan kemungkinan itu? Bukankah
dia sendiri sudah terikat hubungan asmara dengan Kyuhyun? Kyuhyunnya yang
cantik, yang dicintainya bertahun-tahun yang lalu dan pada akhirnya bisa
menjadi miliknya?
Tidak. Changmin tidak boleh
mengembangkan perasaan ini..... kecuali kalau Jaejoong ternyata menyimpan
perasaan yang sama kepadanya. Kalau Jaejoong ternyata juga mencintainya, Changmin
mungkin akan sangat tergoda meninggalkan Kyuhyun demi Jaejoong. Perasaannya kepada
Jaejoong terasa lebih kuat daripada perasaannya kepada Kyuhyun....
Yah. Dia tidak perlu memikirkan
itu dulu. Changmin lalu berjalan keluar dari kamar Jaejoong dan melangkah
keluar dari kamar Jaejoong dan menuju kamar Yunho.
Dia langsung membuka pintunya,
lupa untuk mengetuk terlebih dulu. Ketika Changmin masuk, pemandangan di
depannya membuatnya ternganga....
Yunho dan Jaejoong sedang
berciuman!
Seketika itu juga hatinya terasa
sakit, seakan diremukkan menjadi serpihan.
.
.
.
Jaejoong benar-benar terkejut
karena Yunho menciumnya tiba-tiba, dia bahkan masih membelalak dan berusaha
meronta ketika merasakan bibir Yunho yang panas melumat bibirnya dengan begitu
ahli. Tetapi tangan Yunho yang kuat menahan belakang kepalanya dan malahan
menekan kepalanya semakin rapat ke arah kepala Yunho, membuat bibir mereka
berpadu semakin rapat.
Ciuman seorang Jung Yunho sangat
luar biasa, seolah-olah lelaki itu diciptakan dengan keahlian mencium alami. Yunho
bersikap lembut, bukannya memaksa seperti yang dilakukannya sebelumnya kepada Jaejoong.
Bibirnya menyesap bibir Jaejoong hati-hati, mencicipi setiap jengkal rasanya,
dan memujanya....
Suara di pintu membuat Jaejoong
terkesiap, dan dia memiringkan kepalanya, berusaha melepaskan diri dari bibir Yunho.
Dan rupanya kali ini Yunho memutuskan untuk melepaskan bibirnya, membiarkan Jaejoong
terengah di sana, dengan bibir panas membara,
Jaejoong menoleh ke arah suara di
pintu itu, dan dia ternganga ketika melihat Changmin yang berdiri di sana.
"Changmin oppa?"
Jaejoong merasakan dorongan yang
kuat untuk menjelaskan semuanya kepada Changmin, supaya lelaki itu tidak salah
paham dan berpikir yang tidak-tidak antara dia dengan Yunho. Tetapi jemari Yunho
menyentuh tangannya tegas, seolah mengingatkan Jaejoong akan perjanjian mereka
sebelumnya, bahwa Jaejoong sudah bersedia untuk berpura-pura menjadi kekasih Yunho.
"Maafkan aku mengganggu, aku
tadi tidak mengetuk pintu dan masuk begitu saja.. aku eh..."
Suara Changmin terbata-bata,
ekspresinya tampak begitu shock,
"Aku akan keluar dulu,
maafkan aku.."
Changmin membalikkan tubuhnya dan
dengan tergesa keluar dari kamar itu, membanting pintu di belakangnya.
"Changmin!" Jaejoong
beranjak berdiri, bertumpu pada kruk di bawah lengannya dan hendak mengejar
lelaki pujaan hatinya itu. Tetapi lengannya dicekal dan ditahan oleh Yunho.
"Biarkan dia pergi."
Jaejoong menoleh ke arah Yunho
dengan panik,
'Tetapi dia akan salah paham! Dia
akan mengira aku dan kau serius... aku harus menjelaskan semuanya
kepadanya!"
"Tidak boleh."
"Tidak boleh?" Jaejoong
tertegun, menatap Yunho dengan marah, berusaha melepaskan diri, tetapi pegangan
Yunho ke lengannya makin kencang,
"Tidak apa-apa bukan kalau
aku menjelaskan bahwa kita sedang berpura-pura pacaran karena ingin menjebak si
penyerang kepada Changmin?"
'Tidak boleh." Mata Yunho
menyipit serius,
"Sandiwara ini hanya kita
berdua yang boleh tahu, tidak ada orang lain yang boleh..."
Jaejoong menatap Yunho dengan
tatapan mata frustrasi,
"Tetapi dia Changmin! Kau
tahu aku padanya..."
"Kau tegila-gila kepadanya,
aku tahu." Ekspresi Yunho tampak keras,
"Tidakkah kau sadar kalau
sandiwara kita ini juga bisa membantumu?"
"Apa maksudmu?"
Yunho begitu penuh teka-teki
hingga Jaejoong sering merasa bingung ketika mencoba memahami maksudnya.
"Apakah kau tak tahu bahwa
dorongan alami lelaki adalah untuk bersaing dan mengejar pasangannya? Semakin
sulit didapatkan, semakin besar seorang lelaki tertarik." Senyum Yunho
tampak tipis,
"Aku tahu bahwa Changminmu
itu selama ini begitu bodoh, tidak pernah melihatmu sebagai perempuan. Kau
ingin dia menyadari dirimu sebagai perempuan yang pantas dipertimbangkan, Jaejoong?
Maka berpura-puralah menjadi kekasihku, aku akan membantumu memancing rasa
cemburu Changmin, dan setelah kita selesai, dia akan menyadari perasaannya
kepadamu."
Jaejoong tertegun. Benarkah apa
yang dikatakan Yunho itu? bahwa dengan berpura-pura menjadi kekasih Yunho, dia
bisa membuat Changmin cemburu dan memancing perasaan Changmin kepada Jaejoong? Jaejoong
bukan ahli tentang strategi percintaan, tetapi dia percaya Yunho sangat ahlli
dalam hal ini.
Dan ya ampun.... tawaran Yunho
itu terasa begitu menggodanya, membayangkan Changmin tertarik kepadanya...
Pintu kamar Yunho terbuka lagi,
tetapi kali ini dokter yang masuk, dia tersenyum kepada Yunho dan
mengangguk ramah kepada Jaejoong,
"Siap untuk operasi
keduamu?"
Yunho tersenyum lebar, "Aku
tak sabar menantikannya, dokter."
.
.
.
.
To Be
Continue

Akhirnya, Changmin ngerasain gimana friendzone, :')) gak enak to' ya hahahahahaha. Duh Yunho mah jangan dikata lagi deh, udah pinter banget manfaatin kesempatan yang ada. Cieeeee jadian doang ya Yunjae :'v semangat terus ya kakkk! Aku ganti username hohoho
ReplyDeleteApa?! Ahra masih blm nyerah utk nyelakain Jj?
ReplyDeleteYa ampun... perempuan gila itu emng bnr2 ya..
Dan seperti biasa, yunho emng selalu bisa memanfaatkan situasi & kepolosan Jj..
Chukae yunho ya....^^