Friday, October 16

[REMAKE] The Violiniest Chapter XIII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 13,

Apapun..
Tiba-tiba saja Jaejoong merasa menyesal sudah menjanjikan sesuatu yang sepertinya bisa digunakan Yunho untuk memanfaatkannya. Tetapi sudah terlanjur, lagipula, melihat perban di tangan Yunho itu membuat Jaejoong merasa sangat bersalah. Tangan kanan merupakan tangan yang vital bagi seorang pemain biola, tangan itu berguna untuk memainkan busur penggesek biola, dan sangat penting dalam menciptakan suara. Tangan kanan  bagi seorang pemain biola bertanggung jawab dalam hal kualitas nada, ritme, dinamik, artikulasi dan timbre, tetapi sekarang Yunho terluka di tangan kanannya, kata Changmin, lelaki itu bahkan kesulitan menggerakkan jari-jarinya...
Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan was-was sementara mata lelaki itu tampak berkilat penuh rencana.
Apa yang ada di benak lelaki ini?
Tiba-tiba saja Yunho menatap Jaejoong tajam dan tersenyum mencurigakan,
"Oke, sudah kuputuskan."
"Sudah diputuskan apa?" Jaejoong bertanya, penasaran dengan sikap Yunho yang penuh misteri.
Senyum Yunho melebar, "Kau akan menjadi pengganti tangan kananku, selama tangan kananku tidak bisa digunakan, sampai aku sembuh."
Mata Jaejoong membelalak, masih berharap kalau dia salah duga karena tidak menyangka bahwa lelaki itu akan meminta hal yang begitu konyol dan egois kepadanya, 
Yunho memasang wajah datar yang menjengkelkan,
"Karena kau aku jadi invalid, aku tidak bisa menggunakan tangan kananku, bukan hanya untuk bermain biola tetapi juga kegiatan-kegiatan lainnya, seperti menulis, menyuapkan makanan, menyisir rambutku."
Lelaki itu tampak geli sendiri dengan kata-katanya, tetapi matanya bersinar menantang ketika menatap Jaejoong,
"Apalagi setelah operasi lusa, aku akan semakin tak bisa menggerakkan tanganku karena masih dalam proses penyembuhan. Jadi Kau bertugas menggantikan tangan kananku."
Mata Jaejoong melirik dirinya sendiri yang memakai kruk dengan kaki dibebat,
"Aku sendiri terluka di bagian kaki dan membutuhkan orang lain untuk menopangku, aku tidak bisa menjadi tangan kananmu." gumamnya jengkel.
Yunho memasang wajah datar,
"Kalau begitu biarkan aku menjadi kakimu, aku akan menopangmu." gumamnya tak peduli,
lalu melemparkan tatapan menuduh kepada Jaejoong,  
"Kau bilang kau mau melakukan 'apapun' untukku."
Jaejoong terdiam, teringat janjinya lagi, lalu memandang Yunho lama, kemudian menghela napas panjang. Ya ampun, sepertinya dia terperangkap dalam jebakan Yunho yang licik.


.
.
.
"Kenapa?"
Changmin duduk di pinggir ranjang, menatap Jaejoong lembut, perempuan itu tadi memaksa untuk menengok Yunho di kamarnya, tetapi setelah kembali wajah Jaejoong bukannya lega, malahan lebih kusut dari biasanya.
Jaejoong menatap Changmin dan mencoba tersenyum, 
"Tidak apa-apa."
sebaiknya Changmin tidak tahu kalau Jaejoong sudah bersedia menjadi pengganti tangan kanan Yunho. Lelaki itu pasti akan marah dan merasa bahwa Yunho memanfaatkan Jaejoong.
Tetapi tentu saja Changmin tidak mau menyerah, "Dia marah padamu ya?"
Jaejoong meringis, mungkin lebih baik kalau Yunho marah kepadanya, mungkin membentak, mencaci dan menyalahkannya. Tetapi tidak, Yunho begitu dingin dan penuh perhitungan sehingga Jaejoong tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kepalanya. Lelaki itu tampak  misterius dan Jaejoong tiba-tiba merasa takut dan tidak nyaman, karena dia tidak bisa mengetahui apa rencana Yunho selanjutnya.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, mengetahui bahwa Changmin masih menantikan jawabannya,
"Tidak, dia tidak marah kepadaku."
'Kau sudah meminta maaf bukan?"
Changmin bertanya lagi, merasa tidak puas dengan jawaban Jaejoong.
Jaejoong menganggukkan kepalanya,
"Sudah."
"Lalu kenapa kau masih tampak sedih?"
"Tidak apa-apa Changmin."
Jaejoong menggelengkan kepalanya, sebaiknya Changmin tidak usah tahu tentang apa yang dikatakan Yunho kepadanya, kalau tidak sifat Changmin yang protektif kepadanya mungkin akan membuat Changmin melabrak Yunho. Lagipula, kalau Yunho memang mau mengerjainya, dia pantas bukan diperlakukan seperti itu? Karena dia yang bersalah....
Tiba-tiba Jaejoong bertanya-tanya, pertanyaan yang kemarin lupa untuk dipikirkannya.... Si penyergap itu, lelaki menakutkan itu jelas-jelas mengincar tangan dan wajah Jaejoong dengan pisau, seperti sudah direncanakan sebelumnya. Lelaki itu bukan penculik acak, Jaejoong memang sudah ditargetkan.
Ketika Jaejoong sadarkan diri, polisi sudah menemuinya dan menanyakan semuanya kepada Jaejoong. Jaejoong sendiri berusaha membantunya sebisanya, tetapi ketika polisi menanyakan pertanyaan itu, dia sendiri tidak punya jawabannya.
Kenapa si penyergap itu berusaha melukainya? Dan siapakah dia?
.
.
.
Ahra menampar Andrew keras-keras, melampiaskan kemarahannya.
"Bodoh!"
dia berteriak kencang, marah luar biasa, sementara Andrew hanya terpatung diam dan tampak pasrah,
"Aku menyuruhmu melukai anak ingusan brengsek itu! Bukannya melukai Yunhoku, dan dari semua bagian tubuhnya, kenapa kau melukai tangannya?!"
Ahra tentu saja mengikuti perkembangan berita tentang Yunho yang heboh ditayangkan di televisi. Dia sama sekali tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti ini.
Ya ampun. Yunhonya! Kesayangannya! Kekasihnya! 
Lelaki itu sekarang terluka, di bagian tangan yang vital pula! Dan itu semua karena kebodohan Andrew.
"Kau harus menebus kesalahanmu ini dengan berhasil di tugas berikutnya Andrew! Kali ini jangan sampai gagal, kau harus bisa melukai Jaejoong!"
suaranya masih tinggi karena emosi, dan ketika Andrew hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, Ahra mendengus lalu membalikkan badan dan meninggalkan Andrew,
Dalam langkahnya, dia membayangkan Yunho, dan kemudian dia sadar bahwa sampai detik ini, tidak ada polisi yang datang menanyainya. Padahal kalau Yunho mau mengatakan kepada polisi bahwa sebelum penyerangan atas Jaejoong itu, Ahra jelas-jelas mengatakan bahwa dia merencanakan menyakiti Jaejoong, pasti sekarang Ahra sudah berada di dalam sel penjara.
Tetapi sepertinya Yunho tidak mengatakan apa-apa kepada polisi. Kenapa Yunho melindunginya?
Apakah jangan-jangan, Yunho masih mencintainya sehingga memutuskan untuk melindunginya?
Bibir Ahra mengembangkan senyum penuh harap. Ya. Yunho pasti masih mencintainya! Segera setelah Andrew berhasil melakukan misinya dan menyingkirkan Jaejoong selamanya, Yunho pasti akan kembali kepada Ahra!
.
.
.
Hari ini adalah hari operasi tangan Yunho yang kedua, lelaki itu duduk dan menunggu. Matanya menatap ke arah tangannya yang diperban,  kemudian dengan senyuman jahil lelaki itu menekan nomor telepon Jaejoong yang sangat dihapalnya.
"Halo?"
suara Jaejoong yang lemah terdengar di seberang, Yunho bahkan bisa membayangkan bagaimana dahi Jaejoong mengerut dan bibir mungilnya mengerucut.
"Aku mau kau ke sini."
Lalu tanpa menunggu jawaban Jaejoong, Yunho mematikan ponselnya. Menunggu.
Senyumnya melebar ketika terdengar ketukan di pintu kamarnya, kamar Jaejoong memang berada di sebelahnya sehingga mudah bagi mereka untuk saling mengunjungi. Yunho sebenarnya bisa mengunjungi Jaejoong ke kamarnya, tetapi karena dia harus dioperasi beberapa jam lagi, dia dilarang keluar dari kamarnya, berbeda dengan Jaejoong yang cedera terkilir dan tidak ada infus yang mengikatnya.
"Masuk." Yunho bergumam tenang, tahu siapa yang ada di depan pintu.
Pintupun terbuka dan Jaejoong masuk, perempuan itu masih memakai kruk tetapi sepertinya kakinya sudah lebih baik. Setengah melangkah Jaejoong berjalan mendekati ranjang Yunho dan berdiri di sana dengan ragu.
Yunho mengangkat alisnya,
"Duduklah, kalau tidak kau bisa ambruk karena berdiri terlalu lama. Ada yang ingin kubicarakan."
Jaejoong menurut, dan duduk meskipun benaknya dipenuhi pertanyaan.
Hening sejenak, Yunho menatap Jaejoong dalam-dalam, dan kemudian bergumam,
"Aku ingin kau menjadi kekasihku."
Kali ini mata Jaejoong membelalak, dan kalau kakinya tidak terkilir, mungkin dia sudah berdiri dari duduknya, 
"Apa maksudmu?"
Matanya membalas tatapan serius Yunho, berusaha mencari candaan dan jebakan yang tersembunyi di sana. Tetapi Yunho tampak tenang, tersenyum misterius dan mengangkat dagunya angkuh.
"Bukan kekasih yang sebenarnya." gumamnya dingin,
"Aku tidak butuh kekasih di saat-saat seperti ini. Aku menawarkan itu supaya semuanya lebih mudah bagi kita."
"Apanya yang lebih mudah?"
kata-kata bantahan sudah berkumpul di ujung bibir Jaejoong, dia masih bingung dengan tawaran Yunho itu yang sebenarnya tidak bisa disebut tawaran, tetapi lebih mirip sebuah perintah. Apa maksud Yunho dengan menjadi kekasihnya, tetapi bukanlah kekasihnya yang sebenarnya?
"Si penyergapmu itu." Mata Yunho menyipit.
"Aku menduga dia adalah suruhan dari orang yang cemburu kepadamu, karena kau ada di dekatku."
Yunho memilih tidak menyebut nama Ahra kepada Jaejoong. Dia punya balas dendam sendiri yang akan dilakukannya kepada Ahra, dan Jaejoong tidak perlu terlibat di dalamnya,
"Dan masih ada kemungkinan dia akan menyerang lagi."
Kenangan itu langsung menyerang Jaejoong, membuatnya pucat pasi. Dia masih ingat pisau yang terayun itu, sedetik sebelum Yunho menyelamatkannya. Kalau dia harus mengalami hal yang sama sekali lagi, entah apakah dia mampu...
"Kalau memang penyerang itu disuruh oleh orang yang cemburu, bukankah lebih baik aku menjauh darimu? Kenapa kau malahan menyuruhku berpura-pura menjadi kekasihmu? bukankah itu malahan semakin menyulut si pelaku?"
Jaejoong melemparkan pemikiran logisnya ke arah Yunho. Sementara itu Yunho malahan menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Kalau kau menjauhiku, kau akan tetap diincar, lagipula kau tidak bisa menjauhiku, kau adalah murid khususku dan kau akan menjadi pengganti tangan kananku."
Yunho seolah senang mengingatkan akan janji Jaejoong untuk bersedia menjadi semacam budaknya.
"Satu-satunya cara kau bisa ada di dekatku, dan aku bisa menjagamu supaya aman adalah dengan statusmu sebagai kekasihku, selain itu aku ingin memancing si pelaku ini supaya semakin marah dan meledak." Senyum Yunho tampak kejam,
"Lalu aku akan menghancurkannya."
Jaejoong menelan ludah, sisi Yunho yang ini belum pernah dilihatnya sebelumnya. Dia tahu Yunho yang menjengkelkan dan pemaksa, dia tahu Yunho yang elegan dan dewasa ketika berada di pesta, dia tahu Yunho yang misterius dan tampak susah didekati ketika bermain biola... tetapi dia belum pernah melihat sisi Yunho yang penuh dendam dan kejam.... dan itu terasa menakutkan...
"Kau tidak bisa menolak."
Yunho mengamati Jaejoong yang merenung, mengira bahwa Jaejoong akan menolaknya,
"Kau sudah berjanji akan melakukan apapun untukku. Ini termasuk di dalamnya."
Sialan Yunho. Jaejoong mengumpati lelaki itu diam-diam, merasa jengkel karena Yunho benar-benar memanfaatkan kata-kata yang diucapkan Jaejoong saat itu. Oke. Sekarang dia tahu bahwa lelaki ini kejam, dan tidak segan-segan memanfaatkan rasa bersalah Jaejoong.
"Jadi sekarang bagaimana?"
Jaejoong melemparkan tatapan mata jengkel kepada Yunho, pada akhirnya dia pasrah, karena lelaki ini pasti akan berusaha mendapatkan apapun yang dia mau.
"Mulai sekarang, kau adalah kekasihku." Senyum Yunho tampak puas,
"Kita harus menandai hal istimewa ini."
Pada saat bersamaan, pintu itu terbuka dari luar, dan seperti sudah direncanakan sebelumnya, detik yang sama pula tangan Yunho yang tidak sakit meraih belakang kepala Jaejoong, memaksa Jaejoong menunduk ke arahnya, dan kemudian bibirnya mengecup bibir Jaejoong dengan sangat ahli.
.
.
.
Tadi Changmin meninggalkan Jaejoong untuk membeli kopi di bawah, dan ketika dia kembali ke kamar Jaejoong, ternyata ranjang Jaejoong kosong.
Changmin sudah tentu tahu bahwa Jaejoong sedang mengunjungi kamar Yunho, dia merasakan dadanya berdenyut oleh perasaan asing. Perasaan asing yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Rasa tidak nyaman yang sama ketika di pesta itu dan dia melihat lengan Yunho melingkari pinggang Jaejoong dengan posesif.
Apakah dia cemburu?
Karena musibah ini, Changmin tidak sempat menelaah perasaannya kepada Jaejoong. Tetapi dia tahu rasa itu ada.... dia tertarik kepada Jaejoong, lebih daripada sahabat, lebih daripada saudara.... apakah Jaejoong akan membalas perasaannya? ataukah perempuan itu tertarik kepada Yunho...? dan kenapa pula Changmin memikirkan kemungkinan itu? Bukankah dia sendiri sudah terikat hubungan asmara dengan Kyuhyun? Kyuhyunnya yang cantik, yang dicintainya bertahun-tahun yang lalu dan pada akhirnya bisa menjadi miliknya?
Tidak. Changmin tidak boleh mengembangkan perasaan ini..... kecuali kalau Jaejoong ternyata menyimpan perasaan yang sama kepadanya. Kalau Jaejoong ternyata juga mencintainya, Changmin mungkin akan sangat tergoda meninggalkan Kyuhyun demi Jaejoong. Perasaannya kepada Jaejoong terasa lebih kuat daripada perasaannya kepada Kyuhyun....
Yah. Dia tidak perlu memikirkan itu dulu. Changmin lalu berjalan keluar dari kamar Jaejoong dan melangkah keluar dari kamar Jaejoong dan menuju kamar Yunho.
Dia langsung membuka pintunya, lupa untuk mengetuk terlebih dulu. Ketika Changmin masuk, pemandangan di depannya membuatnya ternganga....
Yunho dan Jaejoong sedang berciuman!
Seketika itu juga hatinya terasa sakit, seakan diremukkan menjadi serpihan.
.
.
.
Jaejoong benar-benar terkejut karena Yunho menciumnya tiba-tiba, dia bahkan masih membelalak dan berusaha meronta ketika merasakan bibir Yunho yang panas melumat bibirnya dengan begitu ahli. Tetapi tangan Yunho yang kuat menahan belakang kepalanya dan malahan menekan kepalanya semakin rapat ke arah kepala Yunho, membuat bibir mereka berpadu semakin rapat.
Ciuman seorang Jung Yunho sangat luar biasa, seolah-olah lelaki itu diciptakan dengan keahlian mencium alami. Yunho bersikap lembut, bukannya memaksa seperti yang dilakukannya sebelumnya kepada Jaejoong. Bibirnya menyesap bibir Jaejoong hati-hati, mencicipi setiap jengkal rasanya, dan memujanya....
Suara di pintu membuat Jaejoong terkesiap, dan dia memiringkan kepalanya, berusaha melepaskan diri dari bibir Yunho. Dan rupanya kali ini Yunho memutuskan untuk melepaskan bibirnya, membiarkan Jaejoong terengah di sana, dengan bibir panas membara,
Jaejoong menoleh ke arah suara di pintu itu, dan dia ternganga ketika melihat Changmin yang berdiri di sana.
"Changmin oppa?"
Jaejoong merasakan dorongan yang kuat untuk menjelaskan semuanya kepada Changmin, supaya lelaki itu tidak salah paham dan berpikir yang tidak-tidak antara dia dengan Yunho. Tetapi jemari Yunho menyentuh tangannya tegas, seolah mengingatkan Jaejoong akan perjanjian mereka sebelumnya, bahwa Jaejoong sudah bersedia untuk berpura-pura menjadi kekasih Yunho.
"Maafkan aku mengganggu, aku tadi tidak mengetuk pintu dan masuk begitu saja.. aku eh..."
Suara Changmin terbata-bata, ekspresinya tampak begitu shock,
"Aku akan keluar dulu, maafkan aku.."
Changmin membalikkan tubuhnya dan dengan tergesa keluar dari kamar itu, membanting pintu di belakangnya.
"Changmin!" Jaejoong beranjak berdiri, bertumpu pada kruk di bawah lengannya dan hendak mengejar lelaki pujaan hatinya itu. Tetapi lengannya dicekal dan ditahan oleh Yunho.
"Biarkan dia pergi."
Jaejoong menoleh ke arah Yunho dengan panik,
'Tetapi dia akan salah paham! Dia akan mengira aku dan kau serius... aku harus menjelaskan semuanya kepadanya!"
"Tidak boleh."
"Tidak boleh?" Jaejoong tertegun, menatap Yunho dengan marah, berusaha melepaskan diri, tetapi pegangan Yunho ke lengannya makin kencang,
"Tidak apa-apa bukan kalau aku menjelaskan bahwa kita sedang berpura-pura pacaran karena ingin menjebak si penyerang kepada Changmin?"
'Tidak boleh." Mata Yunho menyipit serius,
"Sandiwara ini hanya kita berdua yang boleh tahu, tidak ada orang lain yang boleh..."
Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan mata frustrasi,
"Tetapi dia Changmin! Kau tahu aku padanya..."
"Kau tegila-gila kepadanya, aku tahu." Ekspresi Yunho tampak keras,
"Tidakkah kau sadar kalau sandiwara kita ini juga bisa membantumu?"
"Apa maksudmu?"
Yunho begitu penuh teka-teki hingga Jaejoong sering merasa bingung ketika mencoba memahami maksudnya.
"Apakah kau tak tahu bahwa dorongan alami lelaki adalah untuk bersaing dan mengejar pasangannya? Semakin sulit didapatkan, semakin besar seorang lelaki tertarik." Senyum Yunho tampak tipis,
"Aku tahu bahwa Changminmu itu selama ini begitu bodoh, tidak pernah melihatmu sebagai perempuan. Kau ingin dia menyadari dirimu sebagai perempuan yang pantas dipertimbangkan, Jaejoong? Maka berpura-puralah menjadi kekasihku, aku akan membantumu memancing rasa cemburu Changmin, dan setelah kita selesai, dia akan menyadari perasaannya kepadamu."
Jaejoong tertegun. Benarkah apa yang dikatakan Yunho itu? bahwa dengan berpura-pura menjadi kekasih Yunho, dia bisa membuat Changmin cemburu dan memancing perasaan Changmin kepada Jaejoong? Jaejoong bukan ahli tentang strategi percintaan, tetapi dia percaya Yunho sangat ahlli dalam hal ini.
Dan ya ampun.... tawaran Yunho itu terasa begitu menggodanya, membayangkan Changmin tertarik kepadanya...
Pintu kamar Yunho terbuka lagi, tetapi kali ini dokter yang masuk, dia tersenyum kepada Yunho  dan mengangguk ramah kepada Jaejoong,
"Siap untuk operasi keduamu?"
Yunho tersenyum lebar, "Aku tak sabar menantikannya, dokter."
.
.
.
.
To Be Continue

2 comments:

  1. Akhirnya, Changmin ngerasain gimana friendzone, :')) gak enak to' ya hahahahahaha. Duh Yunho mah jangan dikata lagi deh, udah pinter banget manfaatin kesempatan yang ada. Cieeeee jadian doang ya Yunjae :'v semangat terus ya kakkk! Aku ganti username hohoho

    ReplyDelete
  2. Apa?! Ahra masih blm nyerah utk nyelakain Jj?
    Ya ampun... perempuan gila itu emng bnr2 ya..
    Dan seperti biasa, yunho emng selalu bisa memanfaatkan situasi & kepolosan Jj..
    Chukae yunho ya....^^

    ReplyDelete