Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 12,
"Jaejoong?"
Suara itu terdengar samar-samar dan lembut,
membangunkan Jaejoong dari kegelapan yang melingkupinya. Dia membuka matanya
pelan-pelan, merasa silau oleh cahaya putih lampu yang langsung menerpa
matanya.
"Sayang? Jaejoong? kau sudah sadar
nak?"
Itu suara ibunya. Ibunya sedang duduk di tepi
ranjang, wajahnya pucat pasi, tampak begitu cemas. Jaejoong bingung, dia
mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Apakah dia ada di rumah sakit?
Jaejoong mencoba bergerak, tetapi rasa nyeri yang
menyengat langsung terasa di kakinya.
"Jangan bergerak dulu sayang, kakimu
terkilir..."
ibunya bergumam lembut, mendorong Jaejoong untuk
terbaring kembali.
Jaejoong mengernyitkan keningnya, berusaha
meredakan rasa nyeri yang menyakitkan itu, kemudian dia teringat... darah
itu...
"Yunho!"
Jaejoong kali ini langsung terduduk panik, tidak
mempedulikan rasa sakit di kakinya yang terasa semakin parah.
Pada saat yang sama pintu kamarnya terbuka, dan Changmin
masuk, wajahnya tampak muram. Jaejoong langsung menatap Changmin dengan penuh
harap.
"Changmin? Apakah kau tahu kondisi Yunho?
bagaimana keadaannya? dia menyelamatkanku dari penjahat itu dan aku lihat
tangannya terluka.... bagaimana kondisi Yunho?"
Changmin terdiam, melempar pandang ke arah ibu Jaejoong
yang membalas tatapannya dengan bingung, pada akhirnya Changmin kembali menatap
Jaejoong.
"Kami masih belum tahu Jaejoong....yang kami
tahu, Yunho terluka parah di tangannya."
Wajah Jaejoong memucat,
"Apakah... apakah dia bisa bermain biola
lagi?"
Kesedihan langsung menggurat di wajah Changmin,
lelaki itu tidak perlu berkata apapun, mereka semua pasti punya pikiran yang
sama. Ya. Seorang pemain biola yang handal membutuhkan tangan yang sempurna,
terutama tangan utama untuk menggesek biola dan memetiknya....
Kalau Yunho tidak bisa bermain biola lagi, maka Jaejoong
akan menjadi orang yang paling bersalah di dunia ini.
.
.
.
Yunho menatap tangannya yang dibalut perban,
merenung sendirian di kamar.
Dia tahu bahwa Jaejoong tidak sadarkan diri setelah
insiden itu, dan kemudian dirawat di kamar sebelahnya. Dari salah satu perawat,
dia tahu bahwa Jaejoong belum bisa berjalan karena kakinya terkilir. Insiden
ini sungguh tidak disangkanya akan terjadi malam ini, malam dimana dia akan
berduet sekaligus memperkenalkan Jaejoong secara resmi sebagai murid khusus
bimbingannya.
Dan dari seluruh bagian tubuhnya yang bisa terluka,
kenapa dia terluka di bagian tangan? Tangan yang paling vital untuk bermain
biola pula.
Seorang dokter memasuki ruangan, kebetulan Yunho
mengenalnya karena dokter itu adalah dokter keluarganya, Yunho sedikit
menganggukkan kepalanya, menatap dokter itu dengan tatapan tajam penuh arti.
"Dokter. Anda sudah setuju untuk melakukan apa
yang saya minta...."
.
.
.
Demi Jaejoong yang begitu cemas, Changmin menemui
dokter yang merawat Yunho, dia harus mendapatkan informasi tentang Yunho, kalau
tidak Jaejoong akan selalu dilanda perasaan bingung tanpa tahu arah.
Kebetulan dia berpapasan dengan dokter itu, yang
baru keluar dari kamar Yunho,
"Bagaimana kondisi Yunho, dokter?" Changmin
langsung mendekati dokter itu, dan berjalan di sebelahnya.
Dokter itu menatap Changmin dan mengenalinya
sebagai teman Jaejoong, kebetulan Jaejoong juga berada di bawah pengawasannya,
"Kami sudah melakukan yang terbaik
untuknya."
Changmin menghela napas lega,
"Jadi Yunho akan sembuh."
Mata Changmin menatap dokter itu dengan cemas,
"Apakah dia akan bisa bermain biola
lagi?"
Dokter itu menelan ludah tampak kesulitan menjawab
hingga Changmin harus mengulang pertanyaannya lagi.
"Dokter? Apakah Yunho bisa bermain biola lagi
setelah sembuh?"
Dokter itu menghela napas panjang,
"Luka pisau itu memutuskan beberapa syaraf di
tangannya. Yang perlu anda tahu, ketika
syaraf perifer di tangannya putus, maka seseorang akan kesulitan
menggerakkan jari-jarinya, hal itu tentu saja merupakan masalah yang cukup
vital bagi seorang pemain biola... kami harus melakukan operasi sekali lagi
untuk menyempurnakan penyambungan syaraf yang putus tersebut, Kami yakin
dengan tindakan yang tepat dan proses penyembuhan yang kondusif maka
kemungkinan besar pasien bisa pulih kembali. Kita doakan saja semoga operasinya
nanti berjalan dengan baik."
Dokter itu menatap Changmin dengan
tatapan menyesal,
"Dan bahkan kalaupun
operasinya sukses, kondisi tangan Yunho tidak akan sama lagi."
Setelah memberikan informasi itu, dokter itu
berpamitan pergi karena ada urusan. Meninggalkan Changmin yang tergugu pucat
pasi.
Yunho kesulitan menggerakkan jari-jarinya? Apakah
itu berarti Yunho tidak akan bisa bermain biola lagi?
.
.
.
"Bagaimana?" Jaejoong menatap Changmin
dengan penuh harap, dia tahu bahwa Changmin baru saja mencari informasi tentang
kondisi Yunho.
Changmin menelan ludahnya, dengan hati-hati dia
duduk di sebelah ranjang Jaejoong. Jaejoong sendirian di kamar ini karena ibunya
sedang pulang untuk mengambil baju gantinya. Semalam setelah mendengar tentang
insiden itu, ibu Jaejoong langsung menuju rumah sakit tanpa persiapan apapun,
dia menunggui Jaejoong hingga tersadar di pagi harinya dan tampak lelah.
Untunglah Changmin berhasil membujuk ibu Jaejoong untuk pulang dulu,
beristirahat sejenak dan kembali nanti sore sekaligus membawakan baju ganti dan
perlengkapan lainnya untuk rawat inap Jaejoong. Changminlah yang menggantikan
menjaga Jaejoong saat ini.
Changmin menatap wajah pucat Jaejoong dan tiba-tiba
saja merasa kasihan. Insiden ini sudah menjalar menjadi gosip panas di kalangan
profesional musik klasik, menjadi headline di berita-berita. Yunho
adalah anak emas mereka. Dan sekarang semua orang was-was dipenuhi pertanyaan
apakah Yunho akan bisa bermain biola lagi.
Kalau sampai si anak emas jenius tidak bisa bermain
biola lagi, orang-orang akan menunjuk kepada Jaejoong dan beramai-ramai
menyalahkannya, karena Yunho terluka untuk menyelamatkan Jaejoong.
"Bagaimana?"
Jaejoong mengulangi pertanyaannya lagi, matanya
tampak dilumuri kecemasan karena Changmin tidak segera menjawab.
Changmin menghela napas panjang,
"Aku sudah menemui dokter kalian, dia
menjelaskan bahwa Yunho masih harus menjalani operasi lagi untuk penyambungan
syaraf tangannya yang terputus... kata dokter itu kemungkinan Yunho bisa pulih
lagi, tetapi tidak sempurna."
Jaejoong ternganga, "Apakah... apakah dokter
itu menjelaskan tentang kemungkinan Yunho bisa bermain biola lagi?"
Changmin menatap Jaejoong serba salah,
"Dokter itu belum bisa memastikan, Jaejoong.
Saat ini Yunho sudah menjalani penanganan terbaik, tetapi katanya dia masih
kesulitan menggerakkan jari-jari tangannya. Kata dokter kita harus menunggu
hasil operasi keduanya sebelum menentukan."
Air mata langsung menetes ke pipi Jaejoong.
Terbayang olehnya bagaimana indahnya permainan biola Yunho, bagaimana
sempurnanya seluruh teknik dan emosi yang dibawakan di dalamnya, Yunho adalah
pemain biola jenius yang sempurna, hanya ada sedikit violinis di dunia ini
dengan kemampuan sama seperti Yunho. Dan sekarang Jaejoong telah merenggut itu
semua, dengan membuat tangan Yunho - benda paling berharga bagi seorang
violinist - karena melindunginya.
Bahu Jaejoong berguncang-guncang karena menangis,
dan tidak ada yang bisa dilakukan Changmin selain memeluk dan menenangkannya.
.
.
.
"Oppa!" pintu itu terbuka, dan Jihye, adik
kandung Yunho yang telah terpisah sekian lama, dan kemudian dipertemukan oleh
takdir, masuk dengan wajah pucat pasi.
Di belakangnya ada suami Jihye sekaligus sahabat Yunho,
Yoochun dan kedua orang tua angkatnya yang menyusul. Ibu angkatnya sudah
menungguinya sejak semalam, tetapi Yunho menyuruh mereka pergi menjemput Yoochun
dan Jihye di bandara, Yoochun dan Jihye langsung pulang di tengah bulan madu
mereka ketika mendengar tentang Yunho.
Yunho tersenyum lembut kepada Jihye, senyum tulus
yang sangat jarang ditunjukkannya kecuali kepada orang-orang yang benar-benar
dicintainya. Jihye adalah salah satu dari orang yang amat dicintainya.
"Jihye ah."
Yunho melebarkan tangannya, dan dengan penuh
perasaan, Jihye langsung menubruk kakaknya tenggelam di pelukannya,
"Kau datang."
"Tentu saja kami datang."
Yoochun bergumam, menatap tangan Yunho yang dibalut
perban. Sontak Jihye juga menatap tangan itu, dan ekspresinya berubah sama
cemasnya seperti Yoochun.
"Bagaimana kondisimu, hyung?"
Yunho menyadari semua mata memandang ke arah
tangannya. Dia lalu tersenyum tipis,
"Aku baik-baik saja. Tangan ini masih
memerlukan operasi sekali lagi lusa."
Jihye mengernyitkan keningnya, duduk di tepi
ranjang,
"Apakah kau sudah bertanya kepada
dokter...?"
Jihye menelan ludahnya, "Tentang pengaruhnya
terhadap permainan biolamu?"
Eskpresi Yunho mengeras.
"Tidak. Dokter bilang aku harus menunggu hasil
operasi keduaku." Lelaki itu lalu menatap ke arah keluarganya dan
tersenyum lebar,
"Hei, jangan memasang wajah sedih begitu,
eksekusi atas diriku belum dijatuhkan, bukan?" senyumnya melebar, tampak
ceria.
.
.
.
Jadi begini rasanya....
Kembali Yunho termenung sendirian di kamarnya. Dia
berhasil memaksa Yoochun untuk membujuk supaya Jihye mau pulang dulu dan
beristirahat di rumah sebelum menengoknya lagi besok. Adik perempuannya itu
sedang hamil, dan menunggui seseorang di rumah sakit merupakan hal yang riskan
dan melelahkan bagi perempuan hamil. Yunho tidak ingin sampai Jihye dan bayinya
kenapa-kenapa.
Kedua orang tua angkatnya memutuskan menungguinya,
tetapi sekarang mereka sedang makan malam di bawah. Jam besuk sudah
ditutup dan malam sudah larut. Dia tahu kedua orangtuanya tadi meninggalkannya
setelah mengira Yunho sudah tidur.
Yunho memang berpura-pura tidur. Begitu kedua orang
tuanya pergi, mata Yunho membuka kembali, menatap nyalang ke arah langit-langit
kamarnya.
Jadi seperti ini yang dirasakan oleh ayah
kandungnya dulu ketika menghadapi vonis tidak bisa bermain biola lagi karena
cedera syaraf di tangannya sudah terlalu parah tidak terselamatkan lagi.
Yunho menatap perban yang membungkus tangannya,
mencoba menggerakkan jari-jarinya tetapi terasa sulit dan kaku. Lalu dia
termenung.... saat ini dia punya rencana, dan apapun yang akan terjadi, dia
akan mewujudkan rencana itu....
Ketika dia termenung, ponselnya berdering.
.
.
.
Telepon itu dari Woo Bin sahabatnya, yang saat ini
sudah tinggal di Australia bersama isterinya, Min Ah. Kedua orang itu adalah
sahabat Yunho.
"Kami akan mengambil penerbangan yang paling
pagi."
Suara Woo Bin terdengar sedikit keras di telepon,
"Astaga Yunho, kami berdua begitu terkejut
ketika melihat beritanya di televisi. Insiden yang menimpamu menjadi headline
news di mana-mana."
Polisi juga sudah bertindak cepat untuk mencari
pelaku penyergapan yang berusaha menculik dan melukai Jaejoong, sekaligus juga
melukai tangan Yunho. Sebenarnya Yunho tahu pasti siapa otak di balik semua
peristiwa ini : Ahra.
Ya. perempuan culas itu pastilah yang menjadi
dalangnya. Yunho bisa saja membuka mulutnya kepada polisi dan mengatakan
kecurigaannya kepada Ahra. Tetapi dia menahan diri. Dia tidak boleh gegabah,
pers akan berpesta pora kalau sampai hal ini terkuak. Mereka pasti akan membuat
berita dengan judul yang menghebohkan, semacam
‘Pembalasan dendam mantan pacar’, atau ‘Karma sang playboy’. Yunho tidak mau itu terjadi.
Dia akan membalas Ahra pada saatnya nanti, dengan
caranya sendiri.
"Kau dan Min Ah tidak perlu melakukannya, Woo
Bin, aku baik-baik saja." gumam Yunho kepada Woo Bin
"Kau tidak bisa melarang kami untuk
datang." Woo Bin langsung menyela dengan tegas, membuat Yunho tersenyum
simpul. Sahabatnya itu tidak berubah, tetap saja arogan dan keras kepala.
"Terserah kepadamu kalau begitu. sampaikan
salamku untuk Min Ah."
setelah menutup pembicaraan, Yunho meletakkan
ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia menoleh waspada ke arah pintu kamarnya
yang terbuka pelan-pelan.
Mungkin kedua orang tuanya sudah kembali dari makan
malamnya.....
Tetapi ternyata yang masuk bukan kedua orang
tuanya. Yang masuk adalah sosok perempuan mungil, yang berjalan tertatih-tatih
dengan kruk di bawah ketiaknya, Yunho melirik ke arah sebelah kaki perempuan
itu yang dibebat dengan perban.
Mata Yunho menyipit, "Jaejoong? apa yang kau
lakukan di sini?"
Wajah Jaejoong tampak pucat pasi, matanya sembab
seperti habis menangis begitu lama, dengan tertatih-tatih perempuan itu
mendekat ke tepi ranjang Yunho, berdiri di sana dengan takut-takut”
"Kau terluka karena menyelamatkanku..."
suara Jaejoong mulai gemetar di sela isakanya.
"Memang." Yunho menatap Jaejoong dengan
datar, "Lalu kenapa?"
Jaejoong tercenung menerima sikap dingin Yunho,
tetapi mungkin dia memang pantas mendapatkannya, seharusnya Yunho mencaci
makinya dan membentaknya karena dia adalah penyebab kalau sampai Yunho tidak
bisa bermain biola lagi....
"Aku... aku membuatmu terluka, semua gara-gara
aku."
Jaejoong mengusap air matanya, tetapi air matanya
itu tak mau berhenti, mengalir dan mengalir lagi,
"Aku datang untuk minta maaf. Kumohon maafkan
aku Yunho."
Jaejoong meringis, melirik ke arah tangan Yunho
yang dibalut perban, jantungnya serasa diremas melihat tangan itu,
"Aku akan melakukan apapun untuk menebus
kesalahanku, apapun...."
suaranya tertelan oleh tangisannya, Jaejoong
menatap Yunho dengan tatapan mata bersalah.
"Apapun?"
Tiba-tiba Yunho tampak tertarik, ada kilat di mata
dan senyum misterius di sana.
"Baiklah Jaejoong. Mulai saat ini kau harus
melakukan apapun yang aku mau."
Yunho kembali menekankan pada kata 'apapun',
"Dan setelah itu, mungkin aku akan
mempertimbangkan untuk memaafkanmu.".
.
.
.
.
To Be Continue

Sedih banget, walaupun dari chap kemarin udah tau gimana resikonya tapi pas bayangin lagi Yunho gak bisa main biola lagi jadi sedih. Kasihan juga Jae, inikan gak murni karena kesalahan dia T.T dia juga gak tau apa-apa.. duh pasangan yang malang. Semangat terus ya kak!
ReplyDeleteWahh, Yunho udah sakit aja masih aja mau 'jahilin' Jae. Kira2 apa yg dia rencanain? Nasib si Ahra gimana ya? Pasti bakal sengsara #ketawanista
ReplyDeleteYunho masih hrs operasi lg kan jd msh ada harapan utk bisa main biola lg.
ReplyDeleteYunho emng bener2 licik! Ok, cerdik!
Tp aku suka. hehehe...
Btw, adiknya yunho bukannya Junsu ya?
Kenapa tiba2 jd Jihye?
Tp gpp, yg penting msh nyambung ceritanya.
Semangat terus Saki!!