Wednesday, October 14

[REMAKE] The Violiniest Chapter XII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 12,

"Jaejoong?" 
Suara itu terdengar samar-samar dan lembut, membangunkan Jaejoong dari kegelapan yang melingkupinya. Dia membuka matanya pelan-pelan, merasa silau oleh cahaya putih lampu yang langsung menerpa matanya.
"Sayang? Jaejoong? kau sudah sadar nak?" 
Itu suara ibunya. Ibunya sedang duduk di tepi ranjang, wajahnya pucat pasi, tampak begitu cemas. Jaejoong bingung, dia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.
Apakah dia ada di rumah sakit?
Jaejoong mencoba bergerak, tetapi rasa nyeri yang menyengat langsung terasa di kakinya.
"Jangan bergerak dulu sayang, kakimu terkilir..."
ibunya bergumam lembut, mendorong Jaejoong untuk terbaring kembali.
Jaejoong mengernyitkan keningnya, berusaha meredakan rasa nyeri yang menyakitkan itu, kemudian dia teringat... darah itu... 
darah dari tangan Yunho!
"Yunho!"
Jaejoong kali ini langsung terduduk panik, tidak mempedulikan rasa sakit di kakinya yang terasa semakin parah. 
Pada saat yang sama pintu kamarnya terbuka, dan Changmin masuk, wajahnya tampak muram. Jaejoong langsung menatap Changmin dengan penuh harap.
"Changmin? Apakah kau tahu kondisi Yunho? bagaimana keadaannya? dia menyelamatkanku dari penjahat itu dan aku lihat tangannya terluka.... bagaimana kondisi Yunho?"
Changmin terdiam, melempar pandang ke arah ibu Jaejoong yang membalas tatapannya dengan bingung, pada akhirnya Changmin kembali menatap Jaejoong.
"Kami masih belum tahu Jaejoong....yang kami tahu, Yunho terluka parah di tangannya."
Wajah Jaejoong memucat,
"Apakah... apakah dia bisa bermain biola lagi?"
Kesedihan langsung menggurat di wajah Changmin, lelaki itu tidak perlu berkata apapun, mereka semua pasti punya pikiran yang sama. Ya. Seorang pemain biola yang handal membutuhkan tangan yang sempurna, terutama tangan utama untuk menggesek biola dan memetiknya.... 
Kalau Yunho tidak bisa bermain biola lagi, maka Jaejoong akan menjadi orang yang paling bersalah di dunia ini.
.
.
.
Yunho menatap tangannya yang dibalut perban, merenung sendirian di kamar. 
Dia tahu bahwa Jaejoong tidak sadarkan diri setelah insiden itu, dan kemudian dirawat di kamar sebelahnya. Dari salah satu perawat, dia tahu bahwa Jaejoong belum bisa berjalan karena kakinya terkilir. Insiden ini sungguh tidak disangkanya akan terjadi malam ini, malam dimana dia akan berduet sekaligus memperkenalkan Jaejoong secara resmi sebagai murid khusus bimbingannya.
Dan dari seluruh bagian tubuhnya yang bisa terluka, kenapa dia terluka di bagian tangan? Tangan yang paling vital untuk bermain biola pula.
Seorang dokter memasuki ruangan, kebetulan Yunho mengenalnya karena dokter itu adalah dokter keluarganya, Yunho sedikit menganggukkan kepalanya, menatap dokter itu dengan tatapan tajam penuh arti.
"Dokter. Anda sudah setuju untuk melakukan apa yang saya minta...."
.
.
.
Demi Jaejoong yang begitu cemas, Changmin menemui dokter yang merawat Yunho, dia harus mendapatkan informasi tentang Yunho, kalau tidak Jaejoong akan selalu dilanda perasaan bingung tanpa tahu arah.
Kebetulan dia berpapasan dengan dokter itu, yang baru keluar dari kamar Yunho,
"Bagaimana kondisi Yunho, dokter?" Changmin langsung mendekati dokter itu, dan berjalan di sebelahnya.
Dokter itu menatap Changmin dan mengenalinya sebagai teman Jaejoong, kebetulan Jaejoong juga berada di bawah pengawasannya,
"Kami sudah melakukan yang terbaik untuknya."
Changmin menghela napas lega,
"Jadi Yunho akan sembuh."
Mata Changmin menatap dokter itu dengan cemas,
"Apakah dia akan bisa bermain biola lagi?"
Dokter itu menelan ludah tampak kesulitan menjawab hingga Changmin harus mengulang pertanyaannya lagi.
"Dokter? Apakah Yunho bisa bermain biola lagi setelah sembuh?"
Dokter itu menghela napas panjang,
"Luka pisau itu memutuskan beberapa syaraf di tangannya. Yang perlu anda tahu, ketika syaraf perifer di tangannya putus, maka seseorang akan kesulitan menggerakkan jari-jarinya, hal itu tentu saja merupakan masalah yang cukup vital bagi seorang pemain biola... kami harus melakukan operasi sekali lagi untuk menyempurnakan penyambungan syaraf yang putus tersebut, Kami yakin dengan tindakan yang tepat dan proses penyembuhan yang kondusif maka kemungkinan besar pasien bisa pulih kembali. Kita doakan saja semoga operasinya nanti berjalan dengan baik."
Dokter itu menatap Changmin dengan tatapan menyesal,
"Dan bahkan kalaupun operasinya sukses, kondisi tangan Yunho tidak akan sama lagi."
Setelah memberikan informasi itu, dokter itu berpamitan pergi karena ada urusan. Meninggalkan Changmin yang tergugu pucat pasi.  
Yunho kesulitan menggerakkan jari-jarinya? Apakah itu berarti Yunho tidak akan bisa bermain biola lagi?
.
.
.
"Bagaimana?" Jaejoong menatap Changmin dengan penuh harap, dia tahu bahwa Changmin baru saja mencari informasi tentang kondisi Yunho.
Changmin menelan ludahnya, dengan hati-hati dia duduk di sebelah ranjang Jaejoong. Jaejoong sendirian di kamar ini karena ibunya sedang pulang untuk mengambil baju gantinya. Semalam setelah mendengar tentang insiden itu, ibu Jaejoong langsung menuju rumah sakit tanpa persiapan apapun, dia menunggui Jaejoong hingga tersadar di pagi harinya dan tampak lelah. Untunglah Changmin berhasil membujuk ibu Jaejoong untuk pulang dulu, beristirahat sejenak dan kembali nanti sore sekaligus membawakan baju ganti dan perlengkapan lainnya untuk rawat inap Jaejoong. Changminlah yang menggantikan menjaga Jaejoong saat ini.
Changmin menatap wajah pucat Jaejoong dan tiba-tiba saja merasa kasihan. Insiden ini sudah menjalar menjadi gosip panas di kalangan profesional musik klasik, menjadi headline di berita-berita. Yunho adalah anak emas mereka. Dan sekarang semua orang was-was dipenuhi pertanyaan apakah Yunho akan bisa bermain biola lagi.
Kalau sampai si anak emas jenius tidak bisa bermain biola lagi, orang-orang akan menunjuk kepada Jaejoong dan beramai-ramai menyalahkannya, karena Yunho terluka untuk menyelamatkan Jaejoong.
"Bagaimana?"
Jaejoong mengulangi pertanyaannya lagi, matanya tampak dilumuri kecemasan karena Changmin tidak segera menjawab.
Changmin menghela napas panjang,
"Aku sudah menemui dokter kalian, dia menjelaskan bahwa Yunho masih harus menjalani operasi lagi untuk penyambungan syaraf tangannya yang terputus... kata dokter itu kemungkinan Yunho bisa pulih lagi, tetapi tidak sempurna."
Jaejoong ternganga, "Apakah... apakah dokter itu menjelaskan tentang kemungkinan Yunho bisa bermain biola lagi?"
Changmin menatap Jaejoong serba salah,
"Dokter itu belum bisa memastikan, Jaejoong. Saat ini Yunho sudah menjalani penanganan terbaik, tetapi katanya dia masih kesulitan menggerakkan jari-jari tangannya. Kata dokter kita harus menunggu hasil operasi keduanya sebelum menentukan."
Air mata langsung menetes ke pipi Jaejoong. Terbayang olehnya bagaimana indahnya permainan biola Yunho, bagaimana sempurnanya seluruh teknik dan emosi yang dibawakan di dalamnya, Yunho adalah pemain biola jenius yang sempurna, hanya ada sedikit violinis di dunia ini dengan kemampuan sama seperti Yunho. Dan sekarang Jaejoong telah merenggut itu semua, dengan membuat tangan Yunho - benda paling berharga bagi seorang violinist - karena melindunginya.
Bahu Jaejoong berguncang-guncang karena menangis, dan tidak ada yang bisa dilakukan Changmin selain memeluk dan menenangkannya.
.
.
.
"Oppa!" pintu itu terbuka, dan Jihye, adik kandung Yunho yang telah terpisah sekian lama, dan kemudian dipertemukan oleh takdir,  masuk dengan wajah pucat pasi. 

Di belakangnya ada suami Jihye sekaligus sahabat Yunho, Yoochun dan kedua orang tua angkatnya yang menyusul. Ibu angkatnya sudah menungguinya sejak semalam, tetapi Yunho menyuruh mereka pergi menjemput Yoochun dan Jihye di bandara, Yoochun dan Jihye langsung pulang di tengah bulan madu mereka ketika mendengar tentang Yunho.
Yunho tersenyum lembut kepada Jihye, senyum tulus yang sangat jarang ditunjukkannya kecuali kepada orang-orang yang benar-benar dicintainya. Jihye adalah salah satu dari orang yang amat dicintainya.
"Jihye ah."
Yunho melebarkan tangannya, dan dengan penuh perasaan, Jihye langsung menubruk kakaknya tenggelam di pelukannya,
"Kau datang."
"Tentu saja kami datang."
Yoochun bergumam, menatap tangan Yunho yang dibalut perban. Sontak Jihye juga menatap tangan itu, dan ekspresinya berubah sama cemasnya seperti Yoochun.
"Bagaimana kondisimu, hyung?"
Yunho menyadari semua mata memandang ke arah tangannya. Dia lalu tersenyum tipis,
"Aku baik-baik saja. Tangan ini masih memerlukan operasi sekali lagi lusa."
Jihye mengernyitkan keningnya, duduk di tepi ranjang,
"Apakah kau sudah bertanya kepada dokter...?"
Jihye menelan ludahnya, "Tentang pengaruhnya terhadap permainan biolamu?"
Eskpresi Yunho mengeras.
"Tidak. Dokter bilang aku harus menunggu hasil operasi keduaku." Lelaki itu lalu menatap ke arah keluarganya dan tersenyum lebar,
"Hei, jangan memasang wajah sedih begitu, eksekusi atas diriku belum dijatuhkan, bukan?" senyumnya melebar, tampak ceria.
.
.
.
Jadi begini rasanya....
Kembali Yunho termenung sendirian di kamarnya. Dia berhasil memaksa Yoochun untuk membujuk supaya Jihye mau pulang dulu dan beristirahat di rumah sebelum menengoknya lagi besok. Adik perempuannya itu sedang hamil, dan menunggui seseorang di rumah sakit merupakan hal yang riskan dan melelahkan bagi perempuan hamil. Yunho tidak ingin sampai Jihye dan bayinya kenapa-kenapa.
Kedua orang tua angkatnya memutuskan menungguinya, tetapi sekarang mereka  sedang makan malam di bawah. Jam besuk sudah ditutup dan malam sudah larut. Dia tahu kedua orangtuanya tadi meninggalkannya setelah mengira Yunho sudah tidur.
Yunho memang berpura-pura tidur. Begitu kedua orang tuanya pergi, mata Yunho membuka kembali, menatap nyalang ke arah langit-langit kamarnya.
Jadi seperti ini yang dirasakan oleh ayah kandungnya dulu ketika menghadapi vonis tidak bisa bermain biola lagi karena cedera syaraf di tangannya sudah terlalu parah tidak terselamatkan lagi.
Yunho menatap perban yang membungkus tangannya, mencoba menggerakkan jari-jarinya tetapi terasa sulit dan kaku. Lalu dia termenung.... saat ini dia punya rencana, dan apapun yang akan terjadi, dia akan mewujudkan rencana itu....
Ketika dia termenung, ponselnya berdering.
.
.
.
Telepon itu dari Woo Bin sahabatnya, yang saat ini sudah tinggal di Australia bersama isterinya, Min Ah. Kedua orang itu adalah sahabat Yunho.
"Kami akan mengambil penerbangan yang paling pagi."
Suara Woo Bin terdengar sedikit keras di telepon,
"Astaga Yunho, kami berdua begitu terkejut ketika melihat beritanya di televisi. Insiden yang menimpamu menjadi headline news di mana-mana."
Polisi juga sudah bertindak cepat untuk mencari pelaku penyergapan yang berusaha menculik dan melukai Jaejoong, sekaligus juga melukai tangan Yunho. Sebenarnya Yunho tahu pasti siapa otak di balik semua peristiwa ini : Ahra.
Ya. perempuan culas itu pastilah yang menjadi dalangnya. Yunho bisa saja membuka mulutnya kepada polisi dan mengatakan kecurigaannya kepada Ahra. Tetapi dia menahan diri. Dia tidak boleh gegabah, pers akan berpesta pora kalau sampai hal ini terkuak. Mereka pasti akan membuat berita dengan judul yang menghebohkan, semacam
‘Pembalasan dendam mantan pacar’, atau ‘Karma sang playboy’. Yunho tidak mau itu terjadi. 
Dia akan membalas Ahra pada saatnya nanti, dengan caranya sendiri.
"Kau dan Min Ah tidak perlu melakukannya, Woo Bin, aku baik-baik saja." gumam Yunho kepada Woo Bin
"Kau tidak bisa melarang kami untuk datang." Woo Bin langsung menyela dengan tegas, membuat Yunho tersenyum simpul. Sahabatnya itu tidak berubah, tetap saja arogan dan keras kepala.
"Terserah kepadamu kalau begitu. sampaikan salamku untuk Min Ah."
setelah menutup pembicaraan, Yunho meletakkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia menoleh waspada ke arah pintu kamarnya yang terbuka pelan-pelan. 
Mungkin kedua orang tuanya sudah kembali dari makan malamnya.....
Tetapi ternyata yang masuk bukan kedua orang tuanya. Yang masuk adalah sosok perempuan mungil, yang berjalan tertatih-tatih dengan kruk di bawah ketiaknya, Yunho melirik ke arah sebelah kaki perempuan itu yang dibebat dengan perban.
Mata Yunho menyipit, "Jaejoong? apa yang kau lakukan di sini?"
Wajah Jaejoong tampak pucat pasi, matanya sembab seperti habis menangis begitu lama, dengan tertatih-tatih perempuan itu mendekat ke tepi ranjang Yunho, berdiri di sana dengan takut-takut”
"Kau terluka karena menyelamatkanku..." suara Jaejoong mulai gemetar di sela isakanya.
"Memang." Yunho menatap Jaejoong dengan datar, "Lalu kenapa?"
Jaejoong tercenung menerima sikap dingin Yunho, tetapi mungkin dia memang pantas mendapatkannya, seharusnya Yunho mencaci makinya dan membentaknya karena dia adalah penyebab kalau sampai Yunho tidak bisa bermain biola lagi....
"Aku... aku membuatmu terluka, semua gara-gara aku."
Jaejoong mengusap air matanya, tetapi air matanya itu tak mau berhenti, mengalir dan mengalir lagi,
"Aku datang untuk minta maaf. Kumohon maafkan aku Yunho."
Jaejoong meringis, melirik ke arah tangan Yunho yang dibalut perban, jantungnya serasa diremas melihat tangan itu,
"Aku akan melakukan apapun untuk menebus kesalahanku, apapun...."
suaranya tertelan oleh tangisannya, Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan mata bersalah.
"Apapun?"
Tiba-tiba Yunho tampak tertarik, ada kilat di mata dan senyum misterius di sana.
"Baiklah Jaejoong. Mulai saat ini kau harus melakukan apapun yang aku mau."
Yunho kembali menekankan pada kata 'apapun',
"Dan setelah itu, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu.".
.
.
.
.
To Be Continue

3 comments:

  1. Sedih banget, walaupun dari chap kemarin udah tau gimana resikonya tapi pas bayangin lagi Yunho gak bisa main biola lagi jadi sedih. Kasihan juga Jae, inikan gak murni karena kesalahan dia T.T dia juga gak tau apa-apa.. duh pasangan yang malang. Semangat terus ya kak!

    ReplyDelete
  2. Wahh, Yunho udah sakit aja masih aja mau 'jahilin' Jae. Kira2 apa yg dia rencanain? Nasib si Ahra gimana ya? Pasti bakal sengsara #ketawanista

    ReplyDelete
  3. Yunho masih hrs operasi lg kan jd msh ada harapan utk bisa main biola lg.
    Yunho emng bener2 licik! Ok, cerdik!
    Tp aku suka. hehehe...

    Btw, adiknya yunho bukannya Junsu ya?
    Kenapa tiba2 jd Jihye?
    Tp gpp, yg penting msh nyambung ceritanya.
    Semangat terus Saki!!

    ReplyDelete