Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona
memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya.
Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang.
Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan
menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang
yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi
kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy
Agatha Novel
Jung Yunho, Kim
Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara
Saki/7ec4df8e
Chapter 11,
Ahra melepaskan jemarinya dari
pisau lipat kecil di tasnya.
Tidak. Dia tidak boleh terbawa
emosi dan berbuat bodoh yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Ahra
memang selalu membawa pisau kemana-mana sejak peristiwa percobaan perampokan
yang pernah menimpanya. Pisau itu memberinya rasa aman, dan seharusnya hanya
dipakai untuk melindungi dirinya. Ahra tidak akan menggunakan pisau itu untuk
melukai Jaejoong. Kalau dia ingin mencelakakan Jaejoong maka itu tidak akan
dilakukan dengan tangannya sendiri, tangannya harus benar-benar bersih...
Orang lainlah yang akan melakukan
untuknya.
Ahra kemudian menekan nomor
ponsel yang sangat dikenalnya, nomor ponsel seorang teman sekaligus pesuruhnya
yang setia, karena Ahra selalu memberikan bayaran yang besar kepadanya. Suara
di seberang langsung menjawab pada deringan kedua.
“Ahra.” Terdengar suara yang
dalam dan tenang, Ahra bahkan bisa membayangkan senyum lebar orang diseberang
sana.
“Andrew.” Setengah berbisik Ahra
memanggil nama lawan bicaranya itu, “Aku ingin kau melakukan seuatu untukku
nanti.”
.
.
.
Acara makan malam itu berlangsung
elegan dan menyenangkan, banyak orang-orang penting dari dunia musik klasik
yang datang, dan Jaejoong beruntung bisa berkenalan dengan beberapa di antara
mereka. Tentu saja kalau dia tidak kemari bersama Yunho, dia tidak akan
mendapatkan kesempatan itu. Yunho mengenal hampir semua orang di ruangan ini,
dan bahkan dikenal oleh seluruh orang di ruangan ini.
Jaejoong melihat bahwa beberapa
orang melemparkan tatapan kagum kepada Yunho. Yah... lelaki ini tampak berbeda
kalau berada di depan umum, Yunho tersenyum sopan dan lembut kepada semua orang
yang menyapanya, menanggapi setiap pertanyaan atau sapaan dengan penuh
perhatian, bisa dikatakan lelaki ini tampak.. dewasa.
Selama ini yang ada di benak Jaejoong
adalah Yunho yang tukang memaksa, tukang cium sembarangan, tidak sopan dan suka
memaksakan kehendaknya.,,,
Kalau begitu, manakah dari dua
sisi yang ditampilkan Yunho ini yang merupakan kepribadian aslinya?
“Kita akan tampil setelah makan
malam.”
Yunho sedikit menundukkan
kepalaya, berbisik pelan di telinga Jaejoong. Dengan lengannya yang masih
melingkari pinggang Jaejoong, mereka berdua terlihat benar-benar intim. Dan
sayangnya mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka,
sama-sama cemburu.
Tiba-tiba Jaejoong mengingat
musik yang akan mereka mainkan dan mengerutkan keningnya,
“Kenapa di antara semua musik
yang ada, kau memilih untuk memainkan itu?”
“Memilih apa?”
Yunho menganggukkan kepalanya
kepada seorang tamu yang menyapanya dari kejauhan, lalu dia memfokuskan
pandangannya kepada Jaejoong sambil mengangkat alisnya.
Pipi Jaejoong langsung memerah
menerima tatapan itu, “Lagu itu... maksudku...”
Mata Yunho langsung berbinar,
“Itu adalah melodi yang indah,
cocok untuk dimainkan di malam yang juga indah ini... apakah judulnya yang mengganggumu? Beethoven
Violin Romance hmm? Kau tidak sedang berpikir bahwa aku sengaja
membuat kita tampak seperti sepasang kekasih bukan?”
Sekarang pipi Jaejoong
benar-benar merah padam.
“Aku... aku akan ke kamar mandi
dulu.”
Jaejoong melepaskan diri dari
pegangan Yunho dan terbirit-birit masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Yunho sedang meminum gelas anggur
keduanya, bersandar di dekat jendela di salah satu sudut yang sepi, berusaha
menghindari keramaian pesta sambil mengamati tamu-tamu yang berkerumun dan
asyik bercakap-cakap satu sama lain.
Sebentar lagi mereka akan masuk
ke ruangan besar untuk acara makan malam formal, dan setelah itu dia akan
bermain biola bersama Jaejoong.
Bibir Yunho menyunggingkan senyum
tipis penuh rasa ironi.
Ini gila.
Rasanya seperti dia ketagihan
bermain biola bersama Jaejoong. Ketagihan berdiri di sana mengimbangi nada-nada
indah yang dihasilkan oleh gesekan alami Jaejoong.
Dia sendiri tidak menyangka akan
melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti itu, mengancam Jaejoong dengan sebuah
foto. Foto Jaejoong yang sedang mengecup dahi Changmin dengan penuh cinta.
Jaejoong yang bodoh dan bertepuk
sebelah tangan, tidakkah dia menyadari bahwa dia membuang-buang waktunya dengan
mengharapkan Changmin? Seorang lelaki yang bahkan tidak pernah melirik Jaejoong
sebagai seorang perempuan.
“Kau datang dengannya.”
Suara itu tiba-tiba saja sudah
muncul di sebelah Yunho. Membuat Yunho menoleh dan mengerang dalam hati. Sial.
Dari semua orang yang ada, dia harus bercakap-cakap dengan orang yang paling
tidak ingin ditemuinya, yah Yunho seharusnya tahu bahwa Ahra pasti akan hadir
di acara-acara makan malam seperti ini.
“Tentu saja.”
Yunho memalingkan wajahnya dan
menatap ke arah para tamu,
“Malam ini adalah malam perkenalan
resmi Jaejoong sebagai murid khususku di hadapan tamu-tamu penting ini.”
“Apakah kau tidak sadar bahwa kau
sama saja menampar mukaku di sini? Datang ke pesta sebagai pasangannya? Apa kau
tidak sadar sudah berapa kali aku menerima tatapan kasihan dari semua orang
karena datang kesini sendirian dan dicampakkan olehmu?”
“Kau sebenarnya tidak perlu
datang ke pesta ini sendirian, Ahra. Itu pilihanmu sendiri untuk mempermalukan
dirimu.” Yunho bergumam dingin.
Ahra menghela napas panjang
melihat ekspresi dingin Yunho, “Dia sepertinya sangat istimewa bagimu, kau
memperlakukan Jaejoong seperti anak emasmu.”
Yunho melirik ke arah Ahra dan
melihat perempuan itu membawa gelas anggur di tangannya, entah gelas yang ke
berapa. Bagi Yunho, Ahra tampak agak mabuk dan tidak fokus.
“Dia memang istimewa, kalau di
asah dengan benar, permainan biolanya akan bisa menandingiku.” Yunho menjawab
datar dan hati-hati.
“Bagiku tidak akan pernah ada
orang yang bisa menandingimu dalam bermain biola, Yunho. Kaulah yang paling
hebat.”
Ahra menyela cepat, penuh
keyakinan di matanya, kemudian dia mendongak menatap Yunho tajam dan berusaha
menarik perhatian Yunho,
“Apakah ketertarikanmu kepadanya
hanya karena dia sangat berbakat dalam permainan biola?”
“Apa maksudmu?”
Yunho mengerutkan keningnya, kali
ini dia benar-benar yakin bahwa Ahra mabuk. Perempuan itu bahkan tidak bisa
berdiri tegak dan bersandar di sisi lain jendela, setengah sempoyongan.
“Apakah kau masih berpikir bahwa
aku mencampakkanmu karena Jaejoong?”
Ahra tersenyum sinis, “Setelah
bertemu dengannya, kau meninggalkanku.”
Mata Ahra menyala, “Aku jadi
bertanya-tanya, kau selalu mengatakan bahwa kau tertarik kepadanya karena
bakatnya, bagaimana jika dia kehilangan kemampuannya bermain biola?”
Yunho langsung menoleh waspada,
instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres,
“Apa yang kau rencanakan, Ahra?”
Mata Ahra bersinar penuh rahasia,
“Pembalasan.”
Dengan geram Yunho merenggut
lengan Ahra dan menatapnya penuh ancaman. Sayangnya, Ahra terlalu mabuk untuk
merasa takut kepadanya, perempuan itu malahan tersenyum lebar dengan tatapan
mata bergairah, senang akan sentuhan Yunho di tubuhnya.
“Jika sampai terjadi sesuatu
kepada Jaejoong dan kau adalah dalangnya, aku akan membuatmu menyesal seumur
hidup, Ahra.”
Ahra terkekeh, “Sayangnya
sepertinya sudah terlambat, Yunho sayang.”
Jemari lentik Ahra dengan kuku
yang dicat merah darah menyentuh pipi Yunho penuh hasrat,
“Kalau aku tidak bisa memilikimu,
Yunho. Maka tak seorangpun bisa.”
Yunho langsung melepaskan
pegangannya dari Ahra, setengah mendorong perempuan itu dengan jijik, tidak
dipedulikannya Ahra yang masih terkekeh mabuk, dia langsung melangkah menuju
area toilet tempat Jaejoong menghilang tadi.
Jaejoong sudah terlalu lama
berada di kamar mandi... Jantung Yunho berdebar cemas.
.
.
.
Jaejoong sedang mencuci tangannya
di wastafel dan menatap bayangan dirinya di kaca. Pipinya masih merona merah.
Ya ampun, bodoh sekali dia bertanya seperti itu kepada Yunho dan lelaki itu
langsung menyambarnya untuk mempermalukannya.
Setelah menghela napas panjang, Jaejoong
melangkah keluar dari kamar mandi, yah dia hanya perlu melalui malam ini dengan
baik dan berharap Yunho segera menghapus fotonya yang sedang mencium dahi
Changmin dari ponselnya....
Satu langkah Jaejoong keluar dari
pintu area toilet yang kebetulan berada di lorong yang sepi, sebuah tangan
kekar dan kuat mencengkeramnya dengan kasar. Jaejoong memekik tetapi sebelah
tangan sosok kasar yang menyergapnya itu langsung menutup mulutnya. Di pinggangnya
Jaejoong merasakan benda keras yang menekan dan tajam, dia melirik dan
mengernyit cemas, sebuah pisau!
“Diam kalau kau mau hidup.”
Suara lelaki yang menyergapnya
itu mendesis kasar, membuat Jaejoong tak berdaya mengikuti kemauan si
penyergap, dia bisa apa? Sebuah pisau yang mengerikan sekarang menempel di
pingangnya!
Si penyergap itu setengah
menyeret Jaejoong menuju ujung lorong ke arah tangga darurat menuju ke bagian
luar rumah. Jantung Jaejoong berdebar kencang, apa yang akan terjadi kepadanya?
Siapa lelaki ini? Kenapa melakukan ini kepadanya?
Langkah-langkah si penyergap
semakin cepat seakan ingin segera keluar dari rumah besar itu, Jaejoong bisa
mendengar napas lelaki itu terengah di atas kepalanya, dia ingin melirik wajah
lelaki itu, bukankah itu yang selalu dikatakan polisi? Jika terjadi sesuatu
kepadamu, hapalkan wajah penjahatnya seteliti mungkin. Tetapi ternyata tubuh Jaejoong
yang pendek menghalanginya melihat wajah lelaki itu, lelaki itu tinggi dan
besar, setinggi Yunho tetapi lebih kekar dan mengerikan, dan sekarang kaki Jaejoong
mulai terasa pedih karena sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah
si penyergap itu.
“Jaejoong?”
sebuah teriakan terdengar dari
ujung atas tangga, di pintu keluar dekat area toilet. Si penyergap sudah
menyeret Jaejoong sampai ke tangga bagian bawah, sebentar lagi mereka akan
mencapai pintu keluar. Jaejoong dan si penyergap sama-sama terkesiap mendengar
suara panggilan itu. Jaejoong mengenali suara itu..
itu suara Yunho!
Jaejoong langsung meronta sekuat
tenaga merasakan ada harapan, tetapi kemudian ujung pisau yang tajam itu
menusuk ke pinggannya sedikit, membuatnya merasa perih dan ngeri.
“Jangan coba-coba.”
Lelaki itu mendesis tajam, “Ayo!”
dengan gerakan kasar, si
penyergap menyeret Jaejoong kali ini lebih terburu-buru, dan kemudian membuka
pintu tembusan ke luar rumah itu.
Sementara itu, suara Yunho masih
memanggil-manggil di ujung tangga.
.
.
.
Yunho memanggil-manggil Jaejoong
tanpa hasil. Dia bahkan melongok ke area toilet perempuan dan langsung merasa
cemas ketika mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dalamnya. Buru-buru dia
melangkah keluar dari area kamar mandi, dan kemudian kakinya menginjak sesuatu
yang keras.
Yunho membungkuk dan mengambil
benda yang mengganjal sepatunya itu dan mengernyit ketika memegang sebuah
kancing kecil... kancing kecil berwarna hijau... Jaejoong mengenakan baju
hijau..
Matanya membara ketika menemukan
bahwa di ujung lorong ada sebuah pintu kecil yang mengarah kepada tangga
darurat di luar, dengan langkah cepat dia menuju ke pintu itu dan membukanya,
“Jaejoong?”
Yunho memanggil lagi, suaranya
menggema di area tangga darurat itu, dan kemudian telinganya yang tajam mendengar
suara pintu dibanting di bawah.
Ada seseorang membuka pintu di
bawah!
Setengah berlari, Yunho menuruni
tangga darurat itu.
.
.
.
Sebentar lagi beres. Mereka
sekarang berlari menembus kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Si
Penyergap rupanya berhasil menyusup masuk ke pesta melalui halaman belakang
rumah. Ya. Ini adalah pesta untuk acara musik yang penuh persahabatan, jadi
sama sekali tidak ada penjagaan keamanan berlebih kecuali dua orang satpam yang
berjaga di pintu depan.
Tentu saja si penyergap tidak
sebodoh itu melalui pintu depan, dia berhasil menemukan jalan masuk kecil
melewati pintu belakang di tengah taman yang sepertinya digunakan khusus untuk
membuang sampah.
Perintah Ahra sangat jelas. Lukai
urat penting di tangan Jaejoong, dan buat rusak wajahnya, tetapi jangan bunuh
dia, lalu tinggalkan.
Sepertinya tempat di halaman
belakang yang penuh pohon ini cukup cocok untuk mengeksekusi korbannya. Andrew,
si penyergap sebenarnya tidak suka melukai perempuan... tetapi ini adalah
pekerjaan, dan bayarannya menggiurkan.
Ya.Dia harus buru-buru melakukan
tugasnya dan kemudian bergegas pergi dari rumah ini, menghilang di kegelapan.
Suara-suara yang memanggil di belakangnya tadi tidak main-main, dan kalau dia
tidak cepat, pemilik suara itu akan mengejar mereka. Dia hanya perlu melakukan
satu atau dua tikaman sebelum perempuan mungil ini sempat menjerit, kemudian
dia bisa melompat melalui pintu belakang itu dan kabur dalam kegelapan.
Dengan kasar, Andrew membanting
tubuh Jaejoong ke tanah, begitu keras hingga Jaejoong memekik kesakitan,
sepertinya tingkah kasarnya telah membuat Jaejoong cedera, perempuan itu
meringis, melirik ke arah kakinya yang terkilir.
“Apa yang kau lakukan? Siapa
kau...?”
suara Jaejoong berubah ngeri
ketika pisau di tangan Andrew memantulkan cahaya bulan, tampak mengancam,
“Kenapa kau melakukan ini
kepadaku?”
Suara Jaejoong ketakutan
bercampur panik, dia berusaha beringsut menjauh, tetapi kakinya terkilir, amat
sangat sakit dan membuatnya tak bisa berdiri, yang bisa dilakukannya hanyalah
menyeret tubuhnya menjauhi sang penyergap.
Sayangnya itu tak berarti banyak,
karena sang penyergap sekarang berdiri menjulang di atasnya, tubuhnya
menghalangi bayangan bulan dan wajahnya hampir seperti siluet, tetapi Jaejoong
bisa merasakan lelaki itu menyeringai,
“Maafkan aku cantik, sayangnya
aku harus melukaimu.”
Suara si penyergap serak dan
mengerikan, dan pada detik itu, si penyergap mengayunkan pisaunya ke arah Jaejoong.
Jaejoong sontak menjerit keras-keras, berusaha beringsut mundur dan menaruh
tangannya di depannya untuk melindungi dirinya.
Lalu detik berikutnya berlangsung
cepat, pisau si penyergap tidak mengayun kepadanya, tubuh si pernyergap
terbanting kesamping, ada seseorang yang menerjangnya dari belakang.
Itu Yunho!
Yunho datang menolongnya! Dan
sekarang kedua lelaki itu sedang bergulat di tanah, tetapi si penyergap membawa
pisau dan Yunho hanya memakai tangan kosong!
Jaejoong menjerit, mencoba
memanggil bantuan, mencoba berteriak agar siapa saja yang mungkin mendengar
bisa datang dan menolong mereka. Dia menatap cemas dan ketakutan ke arah
dua lelaki yang masih bergulat dengan keras itu. Yang satu berusaha mengalahkan
yang lain, pukulan-pukulan dilayangkan dan Yunho berusaha menangkis
tikaman-tikaman pisau dari si penyergap, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya
ketakutan dan semakin menjerit keras sampai suaranya serak.
Kemudian terdengar
langkah-langkah kaki berderap yang mendekati mereka, membuat si penyergap panik
dan membabi buta untuk melepaskan diri dari pergulatannya dengan Yunho. Lelaki
itu mengayunkan pisaunya dengan keras dan kejam ke arah Yunho, hanya beberapa
detik hingga Yunho tidak bsia menghindar, darah mengucur deras dari tubuh Yunho
dan seketika tubuh Yunho tumbang ke tanah, membuat Jaejoong memekik.
Kesempatan itu digunakan si
penyergap untuk melepaskan diri dari Yunho, dia langsung bangkit dan berlari
secepat kilat menuju ke arah pintu belakang dan tubuhnya menghilang di
kegelapan malam.
Jaejoong menyeret kakinya yang
terkilir setengah merangkak mendekati Yunho, seluruh gaun hijaunya berlumuran
tanah, tetapi dia tidak peduli. Dia berhasil mendekati Yunho yang terbaring
setengah meringkuk membelakanginya, dia meraih tubuh Yunho, membalikkannya dan
langsung membelalakkan matanya.
Yunho sedang meringis menahan
sakit, wajahnya pucat pasi hingga tampak begitu putih di kegelapan kebun
belakang ini, dan meskipun sekeliling mereka gelap pekat, Jaejoong bisa melihat
bahwa sebelah tangan Yunho sedang menekan pergelangan tangannya yang lain.... dan
darah segar mengucur di sana, begitu deras keluar dari sebuah luka sayatan yang
menganga lebar dari telapak tangan Yunho hingga melewati pergelangan tangannya.
“Yunho? Oh astaga... Yunho??”
Jemari Jaejoong bergetar
menyentuh pipi Yunho yang dingin.
“Kau tidak apa-apa Jaejoong?”
Suara Yunho tampak lemah dan
matanya tidak fokus, tetapi dia sepertinya menyadari Jaejoong yang membungkuk
di atasnya,
“Ini sakit sekali... aku lelah.”
Dan Yunho-pun memejamkan matanya.
Jaejoong langsung panik, dia
berusaha mengguncangkan tubuh Yunho, tetapi tidak ada reaksi. Suara derap kaki
semakin mendekat, tetapi sepertinya mereka kebingungan menemukan Yunho dan Jaejoong
karena suasana begitu gelap. Jaejoong akhirnya berteriak-teriak di kegelapan
sampai suaranya serak...
Bantuan itupun datang, ternyata
itu adalah dua orang satpam di depan yang sedang berpatroli dan kebetulan
mendengarkan jeritan Jaejoong tadi. Mereka segera memanggil ambulance.
Dan kemudian, ketika bantuan paramedis berdatangan, dan tubuh Yunho yang lunglai
diangkat untuk dinaikkan ke ambulance. Jaejoong kehilangn kesadarannya.
Yang diingatnya terakhir kali
adalah darah itu... darah yang mengucur deras dari telapak hingga pergelangan
tangan Yunho.
Tangan yang digunakannya untuk
menggesek biolanya......
.
.
.
.
To Be Continue

DEMI APAPUN AKU PENGEN CEKEK AHRA :)))))) Duh gemes banget sama itu cewek satu, Kasihan Yunho yaampun padahal awalnya dia niat pengen bantuin Jae T.T semoga Jae tetep ada disamping Yun setelah kejadian ini! Semangat dan sehat selalu ya kak..
ReplyDeleteAstaga.. Jangan2 ntar Yunho gak bisa main biola lagi? 🎻
ReplyDeleteHiks.. Terus gimana dengan Chwang? Jaejoong?
ReplyDeleteYa ampun!!
ReplyDeleteAhra ternyata beneran udah gila!!
Semoga yunho ga kenapa2.
Sloty Casino New York - Mapyro
ReplyDeleteFree Casino 태백 출장샵 Sloty 안동 출장안마 New York - No Deposit Bonus! Free Casino 밀양 출장마사지 Sloty New York - No Deposit Bonus! Free Casino 제주 출장샵 Sloty New York - No Deposit 화성 출장샵 Bonus! Free Casino Sloty New York