Monday, October 12

[REMAKE] The Violiniest Chapter XI



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 11,

Ahra melepaskan jemarinya dari pisau lipat kecil di tasnya.
Tidak. Dia tidak boleh terbawa emosi dan berbuat bodoh yang pada akhirnya akan merugikan dirinya sendiri. Ahra memang selalu membawa pisau kemana-mana sejak peristiwa percobaan perampokan yang pernah menimpanya. Pisau itu memberinya rasa aman, dan seharusnya hanya dipakai untuk melindungi dirinya. Ahra tidak akan menggunakan pisau itu untuk melukai Jaejoong. Kalau dia ingin mencelakakan Jaejoong maka itu tidak akan dilakukan dengan tangannya sendiri, tangannya harus benar-benar bersih...
Orang lainlah yang akan melakukan untuknya.
Ahra kemudian menekan nomor ponsel yang sangat dikenalnya, nomor ponsel seorang teman sekaligus pesuruhnya yang setia, karena Ahra selalu memberikan bayaran yang besar kepadanya. Suara di seberang langsung menjawab pada deringan kedua.
“Ahra.” Terdengar suara yang dalam dan tenang, Ahra bahkan bisa membayangkan senyum lebar orang diseberang sana.
“Andrew.” Setengah berbisik Ahra memanggil nama lawan bicaranya itu, “Aku ingin kau melakukan seuatu untukku nanti.”
.
.
.
Acara makan malam itu berlangsung elegan dan menyenangkan, banyak orang-orang penting dari dunia musik klasik yang datang, dan Jaejoong beruntung bisa berkenalan dengan beberapa di antara mereka. Tentu saja kalau dia tidak kemari bersama Yunho, dia tidak akan mendapatkan kesempatan itu. Yunho mengenal hampir semua orang di ruangan ini, dan bahkan dikenal oleh seluruh orang di ruangan ini.
Jaejoong melihat bahwa beberapa orang melemparkan tatapan kagum kepada Yunho. Yah... lelaki ini tampak berbeda kalau berada di depan umum, Yunho tersenyum sopan dan lembut kepada semua orang yang menyapanya, menanggapi setiap pertanyaan atau sapaan dengan penuh perhatian, bisa dikatakan lelaki ini tampak.. dewasa.
Selama ini yang ada di benak Jaejoong adalah Yunho yang tukang memaksa, tukang cium sembarangan, tidak sopan dan suka memaksakan kehendaknya.,,,
Kalau begitu, manakah dari dua sisi yang ditampilkan Yunho ini yang merupakan kepribadian aslinya?
“Kita akan tampil setelah makan malam.”
Yunho sedikit menundukkan kepalaya,  berbisik pelan di telinga Jaejoong. Dengan lengannya yang masih melingkari pinggang Jaejoong, mereka berdua terlihat benar-benar intim. Dan sayangnya mereka tidak menyadari ada dua pasang mata yang mengawasi mereka, sama-sama cemburu.
Tiba-tiba Jaejoong mengingat musik yang akan mereka mainkan dan mengerutkan keningnya,
“Kenapa di antara semua musik yang ada, kau memilih untuk memainkan itu?”
“Memilih apa?”
Yunho menganggukkan kepalanya kepada seorang tamu yang menyapanya dari kejauhan, lalu dia memfokuskan pandangannya kepada Jaejoong sambil mengangkat alisnya.
Pipi Jaejoong langsung memerah menerima tatapan itu, “Lagu itu... maksudku...”
Mata Yunho langsung berbinar,
“Itu adalah melodi yang indah, cocok untuk dimainkan di malam yang juga indah ini... apakah judulnya yang mengganggumu? Beethoven Violin Romance hmm? Kau tidak sedang berpikir bahwa aku sengaja membuat kita tampak seperti sepasang kekasih bukan?”
Sekarang pipi Jaejoong benar-benar merah padam.
“Aku... aku akan ke kamar mandi dulu.”
Jaejoong melepaskan diri dari pegangan Yunho dan terbirit-birit masuk ke kamar mandi.
.
.
.
Yunho sedang meminum gelas anggur keduanya, bersandar di dekat jendela di salah satu sudut yang sepi, berusaha menghindari keramaian pesta sambil mengamati tamu-tamu yang berkerumun dan asyik bercakap-cakap satu sama lain.
Sebentar lagi mereka akan masuk ke ruangan besar untuk acara makan malam formal, dan setelah itu dia akan bermain biola bersama Jaejoong.
Bibir Yunho menyunggingkan senyum tipis penuh rasa ironi.
Ini gila.  
Rasanya seperti dia ketagihan bermain biola bersama Jaejoong. Ketagihan berdiri di sana mengimbangi nada-nada indah yang dihasilkan oleh gesekan alami Jaejoong.
Dia sendiri tidak menyangka akan melakukan tindakan kekanak-kanakan seperti itu, mengancam Jaejoong dengan sebuah foto. Foto Jaejoong yang sedang mengecup dahi Changmin dengan penuh cinta.
Jaejoong yang bodoh dan bertepuk sebelah tangan, tidakkah dia menyadari bahwa dia membuang-buang waktunya dengan mengharapkan Changmin? Seorang lelaki yang bahkan tidak pernah melirik Jaejoong sebagai seorang perempuan.
“Kau datang dengannya.”
Suara itu tiba-tiba saja sudah muncul di sebelah Yunho. Membuat Yunho menoleh dan mengerang dalam hati. Sial. Dari semua orang yang ada, dia harus bercakap-cakap dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya, yah Yunho seharusnya tahu bahwa Ahra pasti akan hadir di acara-acara makan malam seperti ini.
“Tentu saja.”
Yunho memalingkan wajahnya dan menatap ke arah para tamu,
“Malam ini adalah malam perkenalan resmi Jaejoong sebagai murid khususku di hadapan tamu-tamu penting ini.”
“Apakah kau tidak sadar bahwa kau sama saja menampar mukaku di sini? Datang ke pesta sebagai pasangannya? Apa kau tidak sadar sudah berapa kali aku menerima tatapan kasihan dari semua orang karena datang kesini sendirian dan dicampakkan olehmu?”
“Kau sebenarnya tidak perlu datang ke pesta ini sendirian, Ahra. Itu pilihanmu sendiri untuk mempermalukan dirimu.” Yunho bergumam dingin.
Ahra menghela napas panjang melihat ekspresi dingin Yunho, “Dia sepertinya sangat istimewa bagimu, kau memperlakukan Jaejoong seperti anak emasmu.”
Yunho melirik ke arah Ahra dan melihat perempuan itu membawa gelas anggur di tangannya, entah gelas yang ke berapa. Bagi Yunho, Ahra tampak agak mabuk dan tidak fokus.
“Dia memang istimewa, kalau di asah dengan benar, permainan biolanya akan bisa menandingiku.” Yunho menjawab datar dan hati-hati.
“Bagiku tidak akan pernah ada orang yang bisa menandingimu dalam bermain biola, Yunho. Kaulah yang paling hebat.”
Ahra menyela cepat, penuh keyakinan di matanya, kemudian dia mendongak menatap Yunho tajam dan berusaha menarik perhatian Yunho,
“Apakah ketertarikanmu kepadanya hanya karena dia sangat berbakat dalam permainan biola?”
“Apa maksudmu?”
Yunho mengerutkan keningnya, kali ini dia benar-benar yakin bahwa Ahra mabuk. Perempuan itu bahkan tidak bisa berdiri tegak dan bersandar di sisi lain jendela, setengah sempoyongan.
“Apakah kau masih berpikir bahwa aku mencampakkanmu karena Jaejoong?”
Ahra tersenyum sinis, “Setelah bertemu dengannya, kau meninggalkanku.”
Mata Ahra menyala, “Aku jadi bertanya-tanya, kau selalu mengatakan bahwa kau tertarik kepadanya karena bakatnya, bagaimana jika dia kehilangan kemampuannya bermain biola?”
Yunho langsung menoleh waspada, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres,
“Apa yang kau rencanakan, Ahra?”
Mata Ahra bersinar penuh rahasia, “Pembalasan.”
Dengan geram Yunho merenggut lengan Ahra dan menatapnya penuh ancaman. Sayangnya, Ahra terlalu mabuk untuk merasa takut kepadanya, perempuan itu malahan tersenyum lebar dengan tatapan mata bergairah, senang akan sentuhan Yunho di tubuhnya.
“Jika sampai terjadi sesuatu kepada Jaejoong dan kau adalah dalangnya, aku akan membuatmu menyesal seumur hidup, Ahra.”
Ahra terkekeh, “Sayangnya sepertinya sudah terlambat, Yunho sayang.”
Jemari lentik Ahra dengan kuku yang dicat merah darah menyentuh pipi Yunho penuh hasrat,
“Kalau aku tidak bisa memilikimu, Yunho. Maka tak seorangpun bisa.”
Yunho langsung melepaskan pegangannya dari Ahra, setengah mendorong perempuan itu dengan jijik, tidak dipedulikannya Ahra yang masih terkekeh mabuk, dia langsung melangkah menuju area toilet tempat Jaejoong menghilang tadi.
Jaejoong sudah terlalu lama berada di kamar mandi... Jantung Yunho berdebar cemas.
.
.
.
Jaejoong sedang mencuci tangannya di wastafel dan menatap bayangan dirinya di kaca. Pipinya masih merona merah. Ya ampun, bodoh sekali dia bertanya seperti itu kepada Yunho dan lelaki itu langsung menyambarnya untuk mempermalukannya.
Setelah menghela napas panjang, Jaejoong melangkah keluar dari kamar mandi, yah dia hanya perlu melalui malam ini dengan baik dan berharap Yunho segera menghapus fotonya yang sedang mencium dahi Changmin dari ponselnya....
Satu langkah Jaejoong keluar dari pintu area toilet yang kebetulan berada di lorong yang sepi, sebuah tangan kekar dan kuat mencengkeramnya dengan kasar. Jaejoong memekik tetapi sebelah tangan sosok kasar yang menyergapnya itu langsung menutup mulutnya. Di pinggangnya Jaejoong merasakan benda keras yang menekan dan tajam, dia melirik dan mengernyit cemas, sebuah pisau!
“Diam kalau kau mau hidup.”
Suara lelaki yang menyergapnya itu mendesis kasar, membuat Jaejoong tak berdaya mengikuti kemauan si penyergap, dia bisa apa? Sebuah pisau yang mengerikan sekarang menempel di pingangnya!
Si penyergap itu setengah menyeret Jaejoong menuju ujung lorong ke arah tangga darurat menuju ke bagian luar rumah. Jantung Jaejoong berdebar kencang, apa yang akan terjadi kepadanya? Siapa lelaki ini? Kenapa melakukan ini kepadanya?
Langkah-langkah si penyergap semakin cepat seakan ingin segera keluar dari rumah besar itu, Jaejoong bisa mendengar napas lelaki itu terengah di atas kepalanya, dia ingin melirik wajah lelaki itu, bukankah itu yang selalu dikatakan polisi? Jika terjadi sesuatu kepadamu, hapalkan wajah penjahatnya seteliti mungkin. Tetapi ternyata tubuh Jaejoong yang pendek menghalanginya melihat wajah lelaki itu, lelaki itu tinggi dan besar, setinggi Yunho tetapi lebih kekar dan mengerikan, dan sekarang kaki Jaejoong mulai terasa pedih karena sepatu hak tingginya terseret-seret mengikuti langkah si penyergap itu.
“Jaejoong?”
sebuah teriakan terdengar dari ujung atas tangga, di pintu keluar dekat area toilet. Si penyergap sudah menyeret Jaejoong sampai ke tangga bagian bawah, sebentar lagi mereka akan mencapai pintu keluar. Jaejoong dan si penyergap sama-sama terkesiap mendengar suara panggilan itu. Jaejoong mengenali suara itu..
itu suara Yunho!
Jaejoong langsung meronta sekuat tenaga merasakan ada harapan, tetapi kemudian ujung pisau yang tajam itu menusuk ke pinggannya sedikit, membuatnya merasa perih dan ngeri.
“Jangan coba-coba.”
Lelaki itu mendesis tajam, “Ayo!”
dengan gerakan kasar, si penyergap menyeret Jaejoong kali ini lebih terburu-buru, dan kemudian membuka pintu tembusan ke luar rumah itu.
Sementara itu, suara Yunho masih memanggil-manggil di ujung tangga.
.
.
.
Yunho memanggil-manggil Jaejoong tanpa hasil. Dia bahkan melongok ke area toilet perempuan dan langsung merasa cemas ketika mengetahui bahwa tidak ada seorangpun di dalamnya. Buru-buru dia melangkah keluar dari area kamar mandi, dan kemudian kakinya menginjak sesuatu yang keras.
Yunho membungkuk dan mengambil benda yang mengganjal sepatunya itu dan mengernyit ketika memegang sebuah kancing kecil... kancing kecil berwarna hijau... Jaejoong mengenakan baju hijau..
Matanya membara ketika menemukan bahwa di ujung lorong ada sebuah pintu kecil yang mengarah kepada tangga darurat di luar, dengan langkah cepat dia menuju ke pintu itu dan membukanya,
“Jaejoong?”
Yunho memanggil lagi, suaranya menggema di area tangga darurat itu, dan kemudian telinganya yang tajam mendengar suara pintu dibanting di bawah.
Ada seseorang membuka pintu di bawah!
Setengah berlari, Yunho menuruni tangga darurat itu.
.
.
.
Sebentar lagi beres. Mereka sekarang berlari menembus kegelapan taman yang dipenuhi pohon-pohon besar. Si Penyergap rupanya berhasil menyusup masuk ke pesta melalui halaman belakang rumah. Ya. Ini adalah pesta untuk acara musik yang penuh persahabatan, jadi sama sekali tidak ada penjagaan keamanan berlebih kecuali dua orang satpam yang berjaga di pintu depan.
Tentu saja si penyergap tidak sebodoh itu melalui pintu depan, dia berhasil menemukan jalan masuk kecil melewati pintu belakang di tengah taman yang sepertinya digunakan khusus untuk membuang sampah.
Perintah Ahra sangat jelas. Lukai urat penting di tangan Jaejoong, dan buat rusak wajahnya, tetapi jangan bunuh dia, lalu tinggalkan.
Sepertinya tempat di halaman belakang yang penuh pohon ini cukup cocok untuk mengeksekusi korbannya. Andrew, si penyergap sebenarnya tidak suka melukai perempuan... tetapi ini adalah pekerjaan, dan bayarannya menggiurkan.
Ya.Dia harus buru-buru melakukan tugasnya dan kemudian bergegas pergi dari rumah ini, menghilang di kegelapan. Suara-suara yang memanggil di belakangnya tadi tidak main-main, dan kalau dia tidak cepat, pemilik suara itu akan mengejar mereka. Dia hanya perlu melakukan satu atau dua tikaman sebelum perempuan mungil ini sempat menjerit, kemudian dia bisa melompat melalui pintu belakang itu dan kabur dalam kegelapan.
Dengan kasar, Andrew membanting tubuh Jaejoong ke tanah, begitu keras hingga Jaejoong memekik kesakitan, sepertinya tingkah kasarnya telah membuat Jaejoong cedera, perempuan itu meringis, melirik ke arah kakinya yang terkilir.
“Apa yang kau lakukan? Siapa kau...?”
suara Jaejoong berubah ngeri ketika pisau di tangan Andrew memantulkan cahaya bulan, tampak mengancam,
“Kenapa kau melakukan ini kepadaku?”
Suara Jaejoong ketakutan bercampur panik, dia berusaha beringsut menjauh, tetapi kakinya terkilir, amat sangat sakit dan membuatnya tak bisa berdiri, yang bisa dilakukannya hanyalah menyeret tubuhnya menjauhi sang penyergap.
Sayangnya itu tak berarti banyak, karena sang penyergap sekarang berdiri menjulang di atasnya, tubuhnya menghalangi bayangan bulan dan wajahnya hampir seperti siluet, tetapi Jaejoong bisa merasakan lelaki itu menyeringai,
“Maafkan aku cantik, sayangnya aku harus melukaimu.”
Suara si penyergap serak dan mengerikan, dan pada detik itu, si penyergap mengayunkan pisaunya ke arah Jaejoong. Jaejoong sontak menjerit keras-keras, berusaha beringsut mundur dan menaruh tangannya di depannya untuk melindungi dirinya.
Lalu detik berikutnya berlangsung cepat, pisau si penyergap tidak mengayun kepadanya, tubuh si pernyergap terbanting kesamping, ada seseorang yang menerjangnya dari belakang.
Itu Yunho!
Yunho datang menolongnya! Dan sekarang kedua lelaki itu sedang bergulat di tanah, tetapi si penyergap membawa pisau dan Yunho hanya memakai tangan kosong!
Jaejoong menjerit, mencoba memanggil bantuan, mencoba berteriak agar siapa saja yang mungkin mendengar  bisa datang dan menolong mereka. Dia menatap cemas dan ketakutan ke arah dua lelaki yang masih bergulat dengan keras itu. Yang satu berusaha mengalahkan yang lain, pukulan-pukulan dilayangkan dan Yunho berusaha menangkis tikaman-tikaman pisau dari si penyergap, membuat Jaejoong mengerutkan keningnya ketakutan dan semakin menjerit keras sampai suaranya serak.
Kemudian terdengar langkah-langkah kaki berderap yang mendekati mereka, membuat si penyergap panik dan membabi buta untuk melepaskan diri dari pergulatannya dengan Yunho. Lelaki itu mengayunkan pisaunya dengan keras dan kejam ke arah Yunho, hanya beberapa detik hingga Yunho tidak bsia menghindar, darah mengucur deras dari tubuh Yunho dan seketika tubuh Yunho tumbang ke tanah, membuat Jaejoong memekik.
Kesempatan itu digunakan si penyergap untuk melepaskan diri dari Yunho, dia langsung bangkit dan berlari secepat kilat menuju ke arah pintu belakang dan tubuhnya menghilang di kegelapan malam.
Jaejoong menyeret kakinya yang terkilir setengah merangkak mendekati Yunho, seluruh gaun hijaunya berlumuran tanah, tetapi dia tidak peduli. Dia berhasil mendekati Yunho yang terbaring setengah meringkuk membelakanginya, dia meraih tubuh Yunho, membalikkannya dan langsung membelalakkan matanya.
Yunho sedang meringis menahan sakit, wajahnya pucat pasi hingga tampak begitu putih di kegelapan kebun belakang ini, dan meskipun sekeliling mereka gelap pekat, Jaejoong bisa melihat bahwa sebelah tangan Yunho sedang menekan pergelangan tangannya yang lain.... dan darah segar mengucur di sana, begitu deras keluar dari sebuah luka sayatan yang menganga lebar dari telapak tangan Yunho hingga melewati pergelangan tangannya.
“Yunho? Oh astaga... Yunho??
Jemari Jaejoong bergetar menyentuh pipi Yunho yang dingin.
“Kau tidak apa-apa Jaejoong?”
Suara Yunho tampak lemah dan matanya tidak fokus, tetapi dia sepertinya menyadari Jaejoong yang membungkuk di atasnya,
“Ini sakit sekali... aku lelah.”
Dan Yunho-pun memejamkan matanya.
Jaejoong langsung panik, dia berusaha mengguncangkan tubuh Yunho, tetapi tidak ada reaksi. Suara derap kaki semakin mendekat, tetapi sepertinya mereka kebingungan menemukan Yunho dan Jaejoong karena suasana begitu gelap. Jaejoong akhirnya berteriak-teriak di kegelapan sampai suaranya serak...
Bantuan itupun datang, ternyata itu adalah dua orang satpam di depan yang sedang berpatroli dan kebetulan mendengarkan jeritan Jaejoong tadi. Mereka segera memanggil ambulance. Dan kemudian, ketika bantuan paramedis berdatangan, dan tubuh Yunho yang lunglai diangkat untuk dinaikkan ke ambulance. Jaejoong kehilangn kesadarannya.
Yang diingatnya terakhir kali adalah darah itu... darah yang mengucur deras dari telapak hingga pergelangan tangan Yunho.
Tangan yang digunakannya untuk menggesek biolanya......
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. DEMI APAPUN AKU PENGEN CEKEK AHRA :)))))) Duh gemes banget sama itu cewek satu, Kasihan Yunho yaampun padahal awalnya dia niat pengen bantuin Jae T.T semoga Jae tetep ada disamping Yun setelah kejadian ini! Semangat dan sehat selalu ya kak..

    ReplyDelete
  2. Astaga.. Jangan2 ntar Yunho gak bisa main biola lagi? 🎻

    ReplyDelete
  3. Hiks.. Terus gimana dengan Chwang? Jaejoong?

    ReplyDelete
  4. Ya ampun!!
    Ahra ternyata beneran udah gila!!
    Semoga yunho ga kenapa2.

    ReplyDelete
  5. Sloty Casino New York - Mapyro
    Free Casino 태백 출장샵 Sloty 안동 출장안마 New York - No Deposit Bonus! Free Casino 밀양 출장마사지 Sloty New York - No Deposit Bonus! Free Casino 제주 출장샵 Sloty New York - No Deposit 화성 출장샵 Bonus! Free Casino Sloty New York

    ReplyDelete