Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 7,
"Apa yang kau lakukan di
sini?"
Jaejoong ternganga, benar-benar
kaget akan kehadiran Yunho di depan pintu rumahnya, dengan penampilan santai
yang luar biasa tampan.
Yunho tersenyum lebar, mengangkat
kacamata hitam yang dikenakannya dan menaruhnya di kepala,
"Menjemputmu, kau pikir apa?
Aku rasa murid khusus perlu diperlakukan istimewa."
"Tidak perlu,
terimakasih."
Jaejoong mengerutkan keningnya,
masih teringat di benaknya kemarin lelaki itu menciumnya tanpa permisi. Yunho
bukan hanya merebut ciuman pertamanya, lelaki itu juga merebut ciuman keduanya!
Dan setelah itu Yunho berciuman dengan Ahra pula seolah ciuman bibir adalah hal
biasa untuknya.
"Aku bisa berangkat sendiri
ke kampus.”
"Ada
yang ingin kubicarakan denganmu, penting." Yunho masih tetap tersenyum,
seolah tak peduli dengan sikap ketus Jaejoong.
Jaejoong membuka mulutnya hendak
mengusir Yunho, tetapi kemudian suara ibunya menginterupsi di belakangnya,
"Siapa itu Jae?"
ibunya sudah muncul di belakang Jaejoong,
dan kemudian tertegun senyap. Jaejoong bisa membayangkan ekspresi ibunya yang
ternganga dan dia tak perlu menoleh ke belakang untuk memastikannya.
"Yunho?" suara ibunya
penuh dengan rasa kaget,
"Kenapa ada di sini
pagi-pagi sekali?"
Yunho langsung menebarkan
pesonanya, senyumannya memang dimaksudkan untuk meluluhkan hati perempuan
manapun, tak terkecuali ibu Jaejoong
"Selamat pagi nyonya Kim,
saya hendak menjemput Jaejoong."
Ibu Jaejoong langsung luluh tanpa
ampun,
"Wah astaga, kau menjemput Jaejoongie
sendiri? ayo.. ayo masuklah kau pasti belum sarapan, ayo sarapan dulu."
"Eomma, Yunho pasti sudah
sarapan...."
"Wah menyenangkan sekali, kebetulan
saya lapar."
Yunho menyela, melemparkan
pandangan penuh kemenangan kepada Jaejoong yang menatapnya dengan cemberut dan
kesal, lalu setengah geli berjalan mendahuli Jaejoong memasuki rumahnya.
Mereka duduk di dapur itu, dan ibu
Jaejoong dengan tergesa menghidangkan telur orak-arik khas buatannnya dan
waffle keju yang disirap dengan sirup mapple yang manis.
Yunho menerima piringnya dengan
penuh rasa terimakasih, membuat Jaejoong mencibir karena menyangka lelaki itu
berpura-pura hanya untuk mengambil hati ibunya. Tetapi kemudian Jaejoong
melirik dan mengangkat alis melihat Yunho melahap makanannya dengan lahap
seolah memang sangat menikmatinya.
Lelaki itu benar-benar
menghabiskan makanannya, lalu meletakkan sendoknya dan tersenyum senang,
"Sarapan yang luar biasa
enak, terimakasih nyonya." gumamnya mempesona,
dan Jaejoong mengamati ibunya,
menyadari bahwa ibu-nya benar-benar tersipu-sipu! Astaga! pesona Yunho memang
benar-benar tiada duanya!
.
.
.
"Kenapa kau begitu tidak
menyukaiku?"
Yunho pada akhirnya berhasil
memaksa Jaejoong berangkat bersamanya dan masuk ke mobilnya, apalagi dengan
dukungan ibu Jaejoong yang sangat antusias.
Jaejoong melirik sedikit ke arah Yunho,
kemudian langsung memalingkan muka. Astaga, meskipun dia tidak simpati dengan
sikap pemaksa, arogan dan egois Yunho, tetapi ketampanan lelaki itu yang luar
biasa memang tak tertahankan, membuatnya sesak napas.
"Aku tidak
membencimu...." gumam Jaejoong pelan,
Tidak rela mengatakannya, karena
jauh di dalam hatinya dia memang benar-benar tidak menyukai Yunho, di balik
wajah tampannya, lelaki ini berbahaya, dia terkenal sebagai pematah hati
perempuan. Oh ya, bakatnya bermain biola memang luar biasa dan begitu jenius, Jaejoong
mengagumi kemampuan Yunho, tetapi bukan berarti dia bisa menerima sikap buruk Yunho.
Yunho sendiri tersenyum sinis,
seolah tak percaya dengan kata-kata Jaejoong,
"Baguslah kalau
begitu." gumamnya,
"Karena aku akan menjadi
mentormu, dan seorang murid yang sukses adalah murid yang menghormati
gurunya."
Lelaki itu menatap lurus ke
depan, menjalankan kemudi dengan lancar, suasana hening sejenak hingga Jaejoong
melirik ke arah Yunho, dan memberanikan diri bertanya,
"Katamu ada yang ingin kau
katakan?"
"Apa?" Yunho melirik
sedikit.
"Tadi kau bilang kau
menjemputku karena ada yang ingin kau katakan?"
"Oh itu." Tatapan mata Yunho
tampak misterius,
"Aku berubah pikiran, nanti
saja. Kau bisa melihatnya sendiri, akan kutunjukkan."
Jaejoong menatap Yunho dengan
kesal, menyadari bahwa sikap Yunho memang seperti ini, suka berbuat seenaknya.
.
.
.
Ketika mobil mereka parkir di
parkiran dan Jaejoong melangkah turun, Changmin kebetulan ada di sana dan
sedang turun dari mobilnya. Wajah dan
senyum Jaejoong langsung cerah ketika melihat lelaki pujaan hatinya itu, dan
itu tidak luput dari pengawasan Yunho,
"Changmin oppa!"
Jaejoong memanggil Changmin
dengan bersemangat, membuat lelaki itu menoleh, sementara Jaejoong berjalan
cepat, mengejar Changmin dan meninggalkan Yunho di belakangnya.
Yunho meringis, menyimpan senyum
pahit kepada dirinya di dalam hatinya. Baru sekali ini seumur hidupnya, seorang
perempuan yang berjalan bersamanya meninggalkannya untuk mengejar lelaki lain. Jaejoong
benar-benar tidak mempan dengan pesonanya rupanya.
"Jaejoongie?"
Changmin menghentikan langkahnya,
tersenyum lebar, kemudian matanya menatap ke arah Yunho yang berjalan tenang di
belakang Jaejoong dan dia mengangkat alisnya,
"Kau... kau datang bersama Yunho
Seongsaenim?"
Jaejoong mendekati Changmin,
menoleh sedikit ke arah Yunho yang berjalan pelan di belakangnya, lalu
berbisik,
"Dia menjemputku tanpa
peringatan ke rumah, mengambil hati ibuku sehingga ibuku mendorongku ke
mobilnya."
Changmin ternganga, "Yunho....?
dia menjemputmu sendiri? wah kau memang benar-benar istimewa Jaejoong."
senyum Changmin melebar ketika Yunho
semakin dekat, dia menunduk sopan,
"Selamat pagi Sir."
sapanya tak kalah sopan.
Yunho hanya mengangkat alisnya,
mengamati Changmin yang begitu sopan dan kemudian berganti ke arah Jaejoong
yang cemberut menatapnya, lalu tersenyum,
"Selamat pagi, sampai
bertemu nanti di kelas."
lelaki itu menoleh ke arah Jaejoong,
menatapnya dengan intens,
"Jangan lupa, kau harus
tinggal 3 jam untuk pelatihan khusus bersamaku, setelah pelatihan sesi kelas
nanti."
Setelah mengucapkan kalimat
arogan itu dan tanpa menunggu Jaejoong menjawab, Yunho melangkah pergi.
.
.
.
Kelas khusus memang luar biasa, Yunho
benar-benar melatih dua puluh anak terpilih dengan metode yang pribadi,
mengenali setiap siswa, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing
dengan akurat hanya dengan sekali mendengarkan permainan, dan kemudian
melakukan koreksi dan mengeluarkan bakat yang belum tergali.
Hanya dalam satu sesi, permainan murid-murid
khusus di kelas itu menjadi lebih baik. Yunho ternyata bukan hanya pemain biola
yang jenius, dia juga mentor yang luar biasa.
"Aku baru menyadari bahwa
posisi sikuku yang biasa menghambat gesekanku ketika mencapai nada
tinggi."
Changmin berbisik di telinga Jaejoong
ketika sesi pelatihan mereka hampir selesai,
"Luar biasa.... aku dan
orang-orang di sekitarku bahkan tidak menyadarinya, tetapi dia langsung tahu
apa yang kurang dari permainanku hanya dari beberapa menit
mendengarkannya."
Changmin tampak benar-benar kagum
kepada Yunho, dan ketika Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya, Changmin
merangkul Jaejoong penuh sayang,
"Pelatihan sudah hampir
selesai, dan hanya dalam satu sesi dia memperbaiki permaikanku menjadi luar
biasa, kau benar-benar beruntung Jaejoongie bisa mendapatkan sesi tambahan
khusus bersamanya."
Jaejoong menatap Changmin mencoba
tersenyum, yah semua orang terus dan terus mengatakan betapa beruntungnya Jaejoong,
jadi yang bisa dilakukan Jaejoong hanya tersenyum dan mencoba bersikap seperti
seseorang yang tahu terimakasih.
"Setelah ini kau akan
kemana?"
ini hari Senin, biasanya Changmin
akan mengajak Jaejoong makan malam bersamanya setiap Senin, lalu mereka akan
menonton film baru di bioskop. Ya, sejak dulu, hari Senin memang hari Jaejoong
bersama Changmin.
Changmin menatapnya dengan
menyesal, "Aku tahu Senin adalah hari kita bersenang-senang, tapi sekarang
kau tidak bisa pergi karena masih ada sesi tiga jam bersama Yunho..."
senyum Changmin melebar,
"Jadi aku mengajak Kyuhyun jalan, kami akan makan steak dan kemudian
nonton."
Dan sekali lagi, Changmin
mematahkan hati Jaejoong tanpa lelaki itu menyadarinya... tiba-tiba Jaejoong
sangat ingin lari saja, kembali ke kamarnya lalu menangis keras-keras dan tidak
perlu mengikuti sesi latihan 'keberuntungannya' bersama Yunho.
.
.
.
"Hentikan."
Yunho bergumam tajam, menyuruh Jaejoong
menghentikan permainan biolanya. Mereka sudah berdua saja sekarang di ruangan
itu. Dan Yunho menyuruh Jaejoong memainkan kembali Bach's
Chaconne yang dimainkannya kembali bersama Yunho, kali ini solo bukan
duet.
Jaejoong menghentikan
permainannya dan langsung bertatapan dengan mata tajam Yunho.
"Apa yang mengganggu
pikiranmu? Bach's Chaconne seharusnya membawa perasaan
pemujaan, kenangan akan isteri tercinta, alunannya bisa membawa kita mengenang
akan cinta sejati dua anak manusia. Tetapi yang kudengar dari permainanmu
sekarang adalah sakit hati yang pedih dan menyanyat-nyayat, berbeda sekali
dengan permainanmu kemarin."
Yunho berdiri di depan Jaejoong,
menatap tajam ke arah Jaejoong yang terdiam, kemudian mengulurkan jemarinya dan
meraih dagu Jaejoong yang menunduk,
"Apa yang mengganggu
pikiranmu, Jaejoong?"
Jaejoong memalingkan mukanya,
melepaskan diri dari jemari Yunho di dagunya,
"Tidak.. bukan apa-apa,
maafkan aku, kurasa aku hanya lelah."
"Lelah?" Yunho
mengangkat alisnya, "Ini bukan gara-gara Changminmu bukan?"
Pipi Jaejoong langsung memerah
dan Yunho tidak memerlukan jawabannya, dia menghela napas panjang, tampak
kesal,
"Anak remaja dan pencarian
cintanya."
lelaki itu bergumam menghina
tidak mempedulikan pelototan tersinggung Jaejoong,
"Aku hanya berusaha
mengembangkan kemampuanmu dan kau malahan berkutat dengan cintamu yang bertepuk
sebelah tangan." Yunho membalikkan tubuhnya,
"Kemasi biolamu, kurasa kita
tidak akan bisa latihan malam ini."
Jaejoong terpaku, Apakah Yunho
menyuruhnya pulang? apakah pada akhirnya lelaki itu menyadari bahwa Jaejoong
ternyata tidak berbakat dan melatihnya adalah hal yang sia-sia.
Tiba-tiba ada penyesalan yang
mengganggu Jaejoong, tetapi dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan
menghilangkan pikiran itu. Ini yang diharapkannya bukan? Bahwa Yunho akan
melepaskannya dan tidak memaksanya mengikuti pelatihan khusus yang sudah
ditolaknya?
.
.
.
Ternyata Yunho tidak membawanya
pulang, mobilnya mengarah ke pinggiran kota, lalu berhenti di sebuah cafe yang
ramai, di sana ada pertunjukan life music, konser mini band yang suaranya
berdentam-dentam sampai ke luar.
Pengunjung cafe itu banyak
sekali, beberapa adalah remaja seumuran Jaejoong, laki-laki dan perempuan,
semua berdesak-desakan, meluber sampai ke luar pintu cafe,
"Kita ada di mana?" Jaejoong
menoleh ke arah Yunho, kebingungan.
Yunho hanya tersenyum simpul, dan
melirik ke arah Jaejoong,
"Ini yang akan kutunjukkan
kepadamu. Selama ini kau pasti mengira aku adalah pemain musik klasik yang
kolot, yang arogan, sombong dan tidak menghargai kemampuan orang lain di
bawahku. Mungkin dengan ini kau bisa melihat bahwa pemain musik klasik,
khususnya pemain biola sepertiku, kadangkala bisa juga bersikap seperti manusia
biasa."
Senyumnya melebar, lalu turun
dari mobil,
"Ayo Jaejoong, turun."
Jaejoong masih menatap bingung,
tetapi kemudian dia turun juga, dan tidak bisa menolak ketika Yunho menggandeng
tangannya. Mereka melangkah melalui pintu belakang yang dijaga, sepertinya
mengarah khusus ke bagian belakang panggung konser mini itu.
Penjaga itu ternyata mengenali Yunho,
senyumnya melebar,
"Kau datang juga Yunho."
sapanya ramah.
Yunho menganggukkan kepalanya dan
tersenyum,
"Tentu saja, aku tidak akan
melewatkan acara ini. Apakah Yoochun sudah di dalam?"
"Yoochun dan semuanya sudah
menunggu di dalam."
Penjaga itu menoleh ke arah Jaejoong
yang ada dalam gandengan Yunho, kemudian mengangkat alisnya,
"Selera baru, eh?"
Yunho tertawa, mengedipkan
sebelah matanya,
"Kadang-kadang aku senang
mencicipi daun muda." gumamnya dalam tawa,
tidak mempedulikan pipi Jaejoong
yang merah padam ketika lelaki itu setengah menyeretnya masuk ke dalam gedung
itu.
.
.
.
"Yunho." seorang lelaki
tampan dengan tampilan anak band langsung menyambut Yunho,
"Kau datang juga, kami tidak
sabar menanti pertunjukanmu yang spektakuler."
Pertunjukan Yunho yang
spektakuler?
Jaejoong mengerutkan keningnya.
Apakah Yunho akan bermain biola di sini? Tetapi.... tidak cocok untuk dimainkan
di sini bukan? musik band yang keras dan berdentam di luar sana dan teriakan
penonton yang antusias tentu saja jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka bukan
penggemar musik klasik....
"Aku senang memiliki waktu
untuk memberikan pertunjukan yang spektakuler di sini, Yoochun." Yunho
tersenyum, "apakah semuanya sudah siap?'
"Tentu saja kami selalu siap
untukmu." Lelaki bernama Yoochun itu memberikan reaksi yang sama seperti
penjaga di depan ketika melihat Jaejoong, mengangkat alisnya skeptis,
"Selera baru Yunho? tidak
kusangka kau juga memangsa gadis-gadis muda."
Yunho tertawa.
"Jangan ganggu dia Yoochun,
dia bukan korbanku, dia muridku, aku minta orangmu untuk menjaga dia selama aku
tampil."
Lalu tanpa berkata-kata, Yunho
melangkah masuk ke ruang musik, Jaejoong terbirit-birit mengikutinya, dia tidak
mau tersesat di tempat yang tidak dikenalnya ini, tempat yang hingar bingar dan
sangat ramai.
"Kau akan bermain
biola?" tanya Jaejoong tergesa.
Yunho menoleh, menatap Jaejoong
dan mengangkat alisnya,
"Biola? tentu saja tidak,
aku akan bermain gitar."
Lelaki itu lalu meraih gitar
hitam pekat yang ada di kotak di sana, kemudian memasang ke tubuhnya.
"Kau bermain gitar? kau
bermain band?"
itu adalah sisi lain yang tidak
pernah dibayangkan oleh Jaejoong sebelumnya, dia selalu membayangkan Yunho
sebagai seorang pemain biola klasik, berdiri di tengah orkestra megah, diantara
para penonton yang memenuhi seluruh kursi sampai ke tribun kehormatan, mengenakan
tuxedo klasik lalu menggesek biola di pundaknya dan memainkan nada musik klasik
dengan indah dan sempurna.
Yunho yang ada di depannya ini
sekarang berpenampilan acak-acakan, santai, dan memasang gitar hitam di
tangannya.... dan seorang pemain band!,
Sebelum Jaejoong sempat
berkata-kata, ada suara riuh rendah di antara penonton di panggung depan. Yunho
tersenyum,
"Itu panggilan untukku,
tetap di sini dan nikmatilah musikku, Jaejoong."
Yunho mengedipkan sebelah
matanya, lalu melangkah ke luar panggung.
Begitu lelaki itu memasuki
panggung, suara-suara histeris langsung terdengar, terutama dari para wanita. Yoochun
yang rupanya vokalis band itu memperkenalkan seluruh anggotanya, diiringi
teriakan-teriakan dan tepuk tangan yang riuh rendah.
Jaejoong berdiri di tepi
panggung, menatap ke arah Yunho yang tampak luar biasa tampan di bawah sinar
lampu panggung. Ini Yunho yang berbeda...sangat berbeda dari apa yang
ditampilkannya.
Kemudian musik dimainkan, Yunho
memetik gitarnya dan Jaejoong ternganga...
.
.
.
.
To Be Continue

Owww, keren! Ternyata Yunho multitalenta.. Cool
ReplyDeleteAku suka bgt sama sikapnya Jj yg not easy to get, kan jd bikin yunho tambah penasaran.
ReplyDeleteYunho bisa main gitar jg!
Yunho bukan cm 'triple treat' tp 'multiple treat'. Hahaha....