Sunday, October 4

[REMAKE] The Violiniest Chapter VII



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
Embrace The Chord
Remake from Santhy Agatha Novel

Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

Chapter 7,

"Apa yang kau lakukan di sini?"
Jaejoong ternganga, benar-benar kaget akan kehadiran Yunho di depan pintu rumahnya, dengan penampilan santai yang luar biasa tampan.
Yunho tersenyum lebar, mengangkat kacamata hitam yang dikenakannya dan menaruhnya di kepala,
"Menjemputmu, kau pikir apa? Aku rasa murid khusus perlu diperlakukan istimewa."
"Tidak perlu, terimakasih."
Jaejoong mengerutkan keningnya, masih teringat di benaknya kemarin lelaki itu menciumnya tanpa permisi. Yunho bukan hanya merebut ciuman pertamanya, lelaki itu juga merebut ciuman keduanya! Dan setelah itu Yunho berciuman dengan Ahra pula seolah ciuman bibir adalah hal biasa untuknya.
"Aku bisa berangkat sendiri ke kampus.”
"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, penting." Yunho masih tetap tersenyum, seolah tak peduli dengan sikap ketus Jaejoong.
Jaejoong membuka mulutnya hendak mengusir Yunho, tetapi kemudian suara ibunya menginterupsi di belakangnya,
"Siapa itu Jae?"
ibunya sudah muncul di belakang Jaejoong, dan kemudian tertegun senyap. Jaejoong bisa membayangkan ekspresi ibunya yang ternganga dan dia tak perlu menoleh ke belakang untuk memastikannya.
"Yunho?" suara ibunya penuh dengan rasa kaget,
"Kenapa ada di sini pagi-pagi sekali?"
Yunho langsung menebarkan pesonanya, senyumannya memang dimaksudkan untuk meluluhkan hati perempuan manapun, tak terkecuali ibu Jaejoong
"Selamat pagi nyonya Kim, saya hendak menjemput Jaejoong."
Ibu Jaejoong langsung luluh tanpa ampun,
"Wah astaga, kau menjemput Jaejoongie sendiri? ayo.. ayo masuklah kau pasti belum sarapan, ayo sarapan dulu."
"Eomma, Yunho pasti sudah sarapan...."
"Wah menyenangkan sekali, kebetulan saya lapar."
Yunho menyela, melemparkan pandangan penuh kemenangan kepada Jaejoong yang menatapnya dengan cemberut dan kesal, lalu setengah geli berjalan mendahuli Jaejoong memasuki rumahnya.
Mereka duduk di dapur itu, dan ibu Jaejoong dengan tergesa menghidangkan telur orak-arik khas buatannnya dan waffle keju yang disirap dengan sirup mapple yang manis. 
Yunho menerima piringnya dengan penuh rasa terimakasih, membuat Jaejoong mencibir karena menyangka lelaki itu berpura-pura hanya untuk mengambil hati ibunya. Tetapi kemudian Jaejoong melirik dan mengangkat alis melihat Yunho melahap makanannya dengan lahap seolah memang sangat menikmatinya.
Lelaki itu benar-benar menghabiskan makanannya, lalu meletakkan sendoknya dan tersenyum senang,
"Sarapan yang luar biasa enak, terimakasih nyonya." gumamnya mempesona,
dan Jaejoong mengamati ibunya, menyadari bahwa ibu-nya benar-benar tersipu-sipu! Astaga! pesona Yunho memang benar-benar tiada duanya!
.
.
. 
"Kenapa kau begitu tidak menyukaiku?"
Yunho pada akhirnya berhasil memaksa Jaejoong berangkat bersamanya dan masuk ke mobilnya, apalagi dengan dukungan ibu Jaejoong yang sangat antusias.
Jaejoong melirik sedikit ke arah Yunho, kemudian langsung memalingkan muka. Astaga, meskipun dia tidak simpati dengan sikap pemaksa, arogan dan egois Yunho, tetapi ketampanan lelaki itu yang luar biasa memang tak tertahankan, membuatnya sesak napas.
"Aku tidak membencimu...." gumam Jaejoong pelan,
Tidak rela mengatakannya, karena jauh di dalam hatinya dia memang benar-benar tidak menyukai Yunho, di balik wajah tampannya, lelaki ini berbahaya, dia terkenal sebagai pematah hati perempuan. Oh ya, bakatnya bermain biola memang luar biasa dan begitu jenius, Jaejoong mengagumi kemampuan Yunho, tetapi bukan berarti dia bisa menerima sikap buruk Yunho.
Yunho sendiri tersenyum sinis, seolah tak percaya dengan kata-kata Jaejoong,
"Baguslah kalau begitu." gumamnya,
"Karena aku akan menjadi mentormu, dan seorang murid yang sukses adalah murid yang menghormati gurunya."
Lelaki itu menatap lurus ke depan, menjalankan kemudi dengan lancar, suasana hening sejenak hingga Jaejoong melirik ke arah Yunho, dan memberanikan diri bertanya,
"Katamu ada yang ingin kau katakan?"
"Apa?" Yunho melirik sedikit.
"Tadi kau bilang kau menjemputku karena ada yang ingin kau katakan?"
"Oh itu." Tatapan mata Yunho tampak misterius,
"Aku berubah pikiran, nanti saja. Kau bisa melihatnya sendiri, akan kutunjukkan."
Jaejoong menatap Yunho dengan kesal, menyadari bahwa sikap Yunho memang seperti ini, suka berbuat seenaknya.
.
.
.
Ketika mobil mereka parkir di parkiran dan Jaejoong melangkah turun, Changmin kebetulan ada di sana dan sedang turun dari mobilnya. Wajah dan senyum Jaejoong langsung cerah ketika melihat lelaki pujaan hatinya itu, dan itu tidak luput dari pengawasan Yunho,
"Changmin oppa!"
Jaejoong memanggil Changmin dengan bersemangat, membuat lelaki itu menoleh, sementara Jaejoong berjalan cepat, mengejar Changmin dan meninggalkan Yunho di belakangnya.
Yunho meringis, menyimpan senyum pahit kepada dirinya di dalam hatinya. Baru sekali ini seumur hidupnya, seorang perempuan yang berjalan bersamanya meninggalkannya untuk mengejar lelaki lain. Jaejoong benar-benar tidak mempan dengan pesonanya rupanya.
"Jaejoongie?"
Changmin menghentikan langkahnya, tersenyum lebar, kemudian matanya menatap ke arah Yunho yang berjalan tenang di belakang Jaejoong dan dia mengangkat alisnya,
"Kau... kau datang bersama Yunho Seongsaenim?"
Jaejoong mendekati Changmin, menoleh sedikit ke arah Yunho yang berjalan pelan di belakangnya, lalu berbisik,
"Dia menjemputku tanpa peringatan ke rumah, mengambil hati ibuku sehingga ibuku mendorongku ke mobilnya."
Changmin ternganga, "Yunho....? dia menjemputmu sendiri? wah kau memang benar-benar istimewa Jaejoong."
senyum Changmin melebar ketika Yunho semakin dekat, dia menunduk sopan,
"Selamat pagi Sir." sapanya tak kalah sopan.
Yunho hanya mengangkat alisnya, mengamati Changmin yang begitu sopan dan kemudian berganti ke arah Jaejoong yang cemberut menatapnya, lalu tersenyum,
"Selamat pagi, sampai bertemu nanti di kelas."
lelaki itu menoleh ke arah Jaejoong, menatapnya dengan intens,
"Jangan lupa, kau harus tinggal 3 jam untuk pelatihan khusus bersamaku, setelah pelatihan sesi kelas nanti."
Setelah mengucapkan kalimat arogan itu dan tanpa menunggu Jaejoong menjawab, Yunho melangkah pergi.
.
.
Kelas khusus memang luar biasa, Yunho benar-benar melatih dua puluh anak terpilih dengan metode yang pribadi, mengenali setiap siswa, mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing dengan akurat hanya dengan sekali mendengarkan permainan, dan kemudian melakukan koreksi dan mengeluarkan bakat yang belum tergali.
Hanya dalam satu sesi, permainan murid-murid khusus di kelas itu menjadi lebih baik. Yunho ternyata bukan hanya pemain biola yang jenius, dia juga mentor yang luar biasa.
"Aku baru menyadari bahwa posisi sikuku yang biasa menghambat gesekanku ketika mencapai nada tinggi."
Changmin berbisik di telinga Jaejoong ketika sesi pelatihan mereka hampir selesai,
"Luar biasa.... aku dan orang-orang di sekitarku bahkan tidak menyadarinya, tetapi dia langsung tahu apa yang kurang dari permainanku hanya dari beberapa menit mendengarkannya."
Changmin tampak benar-benar kagum kepada Yunho, dan ketika Jaejoong hanya menganggukkan kepalanya, Changmin merangkul Jaejoong penuh sayang,
"Pelatihan sudah hampir selesai, dan hanya dalam satu sesi dia memperbaiki permaikanku menjadi luar biasa, kau benar-benar beruntung Jaejoongie bisa mendapatkan sesi tambahan khusus bersamanya." 
Jaejoong menatap Changmin mencoba tersenyum, yah semua orang terus dan terus mengatakan betapa beruntungnya Jaejoong, jadi yang bisa dilakukan Jaejoong hanya tersenyum dan mencoba bersikap seperti seseorang yang tahu terimakasih.
"Setelah ini kau akan kemana?"
ini hari Senin, biasanya Changmin akan mengajak Jaejoong makan malam bersamanya setiap Senin, lalu mereka akan menonton film baru di bioskop. Ya, sejak dulu, hari Senin memang hari Jaejoong bersama Changmin.
Changmin menatapnya dengan menyesal, "Aku tahu Senin adalah hari kita bersenang-senang, tapi sekarang kau tidak bisa pergi karena masih ada sesi tiga jam bersama Yunho..."
senyum Changmin melebar, "Jadi aku mengajak Kyuhyun jalan, kami akan makan steak dan kemudian nonton."
Dan sekali lagi, Changmin mematahkan hati Jaejoong tanpa lelaki itu menyadarinya... tiba-tiba Jaejoong sangat ingin lari saja, kembali ke kamarnya lalu menangis keras-keras dan tidak perlu mengikuti sesi latihan 'keberuntungannya' bersama Yunho. 
.
.
.
"Hentikan."
Yunho bergumam tajam, menyuruh Jaejoong menghentikan permainan biolanya. Mereka sudah berdua saja sekarang di ruangan itu. Dan Yunho menyuruh Jaejoong memainkan kembali Bach's Chaconne yang dimainkannya kembali bersama Yunho, kali ini solo bukan duet.
Jaejoong menghentikan permainannya dan langsung bertatapan dengan mata tajam Yunho.
"Apa yang mengganggu pikiranmu? Bach's Chaconne seharusnya membawa perasaan pemujaan, kenangan akan isteri tercinta, alunannya bisa membawa kita mengenang akan cinta sejati dua anak manusia. Tetapi yang kudengar dari permainanmu sekarang adalah sakit hati yang pedih dan menyanyat-nyayat, berbeda sekali dengan permainanmu kemarin."
Yunho berdiri di depan Jaejoong, menatap tajam ke arah Jaejoong yang terdiam, kemudian mengulurkan jemarinya dan meraih dagu Jaejoong yang menunduk,
"Apa yang mengganggu pikiranmu, Jaejoong?"
Jaejoong memalingkan mukanya, melepaskan diri dari jemari Yunho di dagunya,
"Tidak.. bukan apa-apa, maafkan aku, kurasa aku hanya lelah."
"Lelah?" Yunho mengangkat alisnya, "Ini bukan gara-gara Changminmu bukan?"
Pipi Jaejoong langsung memerah dan Yunho tidak memerlukan jawabannya, dia menghela napas panjang, tampak kesal,
"Anak remaja dan pencarian cintanya."
lelaki itu bergumam menghina tidak mempedulikan pelototan tersinggung Jaejoong,
"Aku hanya berusaha mengembangkan kemampuanmu dan kau malahan berkutat dengan cintamu yang bertepuk sebelah tangan." Yunho membalikkan tubuhnya,
"Kemasi biolamu, kurasa kita tidak akan bisa latihan malam ini."
Jaejoong terpaku, Apakah Yunho menyuruhnya pulang? apakah pada akhirnya lelaki itu menyadari bahwa Jaejoong ternyata tidak berbakat dan melatihnya adalah hal yang sia-sia.
Tiba-tiba ada penyesalan yang mengganggu Jaejoong, tetapi dia cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan menghilangkan pikiran itu. Ini yang diharapkannya bukan? Bahwa Yunho akan melepaskannya dan tidak memaksanya mengikuti pelatihan khusus yang sudah ditolaknya?
.
.
.
Ternyata Yunho tidak membawanya pulang, mobilnya mengarah ke pinggiran kota, lalu berhenti di sebuah cafe yang ramai, di sana ada pertunjukan life music, konser mini band yang suaranya berdentam-dentam sampai ke luar. 
Pengunjung cafe itu banyak sekali, beberapa adalah remaja seumuran Jaejoong, laki-laki dan perempuan, semua berdesak-desakan, meluber sampai ke luar pintu cafe,
"Kita ada di mana?" Jaejoong menoleh ke arah Yunho, kebingungan.
Yunho hanya tersenyum simpul, dan melirik ke arah Jaejoong,
"Ini yang akan kutunjukkan kepadamu. Selama ini kau pasti mengira aku adalah pemain musik klasik yang kolot, yang arogan, sombong dan tidak menghargai kemampuan orang lain di bawahku. Mungkin dengan ini kau bisa melihat bahwa pemain musik klasik, khususnya pemain biola sepertiku, kadangkala bisa juga bersikap seperti manusia biasa."
Senyumnya melebar, lalu turun dari mobil,
"Ayo Jaejoong, turun."
Jaejoong masih menatap bingung, tetapi kemudian dia turun juga, dan tidak bisa menolak ketika Yunho menggandeng tangannya. Mereka melangkah melalui pintu belakang yang dijaga, sepertinya mengarah khusus ke bagian belakang panggung konser mini itu.
Penjaga itu ternyata mengenali Yunho, senyumnya melebar,
"Kau datang juga Yunho." sapanya ramah.
Yunho menganggukkan kepalanya dan tersenyum,
"Tentu saja, aku tidak akan melewatkan acara ini. Apakah Yoochun sudah di dalam?"
"Yoochun dan semuanya sudah menunggu di dalam."
Penjaga itu menoleh ke arah Jaejoong yang ada dalam gandengan Yunho, kemudian mengangkat alisnya,
"Selera baru, eh?"
Yunho tertawa, mengedipkan sebelah matanya,
"Kadang-kadang aku senang mencicipi daun muda." gumamnya dalam tawa,
tidak mempedulikan pipi Jaejoong yang merah padam ketika lelaki itu setengah menyeretnya masuk ke dalam gedung itu.
.
.
.
"Yunho." seorang lelaki tampan dengan tampilan anak band langsung menyambut Yunho,
"Kau datang juga, kami tidak sabar menanti pertunjukanmu yang spektakuler."
Pertunjukan Yunho yang spektakuler? 
Jaejoong mengerutkan keningnya. Apakah Yunho akan bermain biola di sini? Tetapi.... tidak cocok untuk dimainkan di sini bukan? musik band yang keras dan berdentam di luar sana dan teriakan penonton yang antusias tentu saja jelas-jelas menunjukkan bahwa mereka bukan penggemar musik klasik....
"Aku senang memiliki waktu untuk memberikan pertunjukan yang spektakuler di sini, Yoochun." Yunho tersenyum, "apakah semuanya sudah siap?'
"Tentu saja kami selalu siap untukmu." Lelaki bernama Yoochun itu memberikan reaksi yang sama seperti penjaga di depan ketika melihat Jaejoong, mengangkat alisnya skeptis,
"Selera baru Yunho? tidak kusangka kau juga memangsa gadis-gadis muda."
Yunho tertawa.
"Jangan ganggu dia Yoochun, dia bukan korbanku, dia muridku, aku minta orangmu untuk menjaga dia selama aku tampil."
Lalu tanpa berkata-kata, Yunho melangkah masuk ke ruang musik, Jaejoong terbirit-birit mengikutinya, dia tidak mau tersesat di tempat yang tidak dikenalnya ini, tempat yang hingar bingar dan sangat ramai.
"Kau akan bermain biola?" tanya Jaejoong tergesa.
Yunho menoleh, menatap Jaejoong dan mengangkat alisnya,
"Biola? tentu saja tidak, aku akan bermain gitar."
Lelaki itu lalu meraih gitar hitam pekat yang ada di kotak di sana, kemudian memasang ke tubuhnya.
"Kau bermain gitar? kau bermain band?"
itu adalah sisi lain yang tidak pernah dibayangkan oleh Jaejoong sebelumnya, dia selalu membayangkan Yunho sebagai seorang pemain biola klasik, berdiri di tengah orkestra megah, diantara para penonton yang memenuhi seluruh kursi sampai ke tribun kehormatan, mengenakan tuxedo klasik lalu menggesek biola di pundaknya dan memainkan nada musik klasik dengan indah dan sempurna.
Yunho yang ada di depannya ini sekarang berpenampilan acak-acakan, santai, dan memasang gitar hitam di tangannya.... dan seorang pemain band!, 
Sebelum Jaejoong sempat berkata-kata, ada suara riuh rendah di antara penonton di panggung depan. Yunho tersenyum,
"Itu panggilan untukku, tetap di sini dan nikmatilah musikku, Jaejoong."
Yunho mengedipkan sebelah matanya, lalu melangkah ke luar panggung.
Begitu lelaki itu memasuki panggung, suara-suara histeris langsung terdengar, terutama dari para wanita. Yoochun yang rupanya vokalis band itu memperkenalkan seluruh anggotanya, diiringi teriakan-teriakan dan tepuk tangan yang riuh rendah.
Jaejoong berdiri di tepi panggung, menatap ke arah Yunho yang tampak luar biasa tampan di bawah sinar lampu panggung. Ini Yunho yang berbeda...sangat berbeda dari apa yang ditampilkannya.
Kemudian musik dimainkan, Yunho memetik gitarnya dan Jaejoong ternganga...
.
.
.
.
To Be Continue


2 comments:

  1. Owww, keren! Ternyata Yunho multitalenta.. Cool

    ReplyDelete
  2. Aku suka bgt sama sikapnya Jj yg not easy to get, kan jd bikin yunho tambah penasaran.
    Yunho bisa main gitar jg!
    Yunho bukan cm 'triple treat' tp 'multiple treat'. Hahaha....

    ReplyDelete