Friday, September 18

[REMAKE] The Violinist Chapter II



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 2

Anak Kecil?
Dalam sekejap Jaejoong merasa tersinggung.
Apakah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil' untuk menghinanya? Di usianya yang ke delapan belas tahun, tubuh Jaejoong memang kecil, mungil dan tidak seperti seluruh keluarganya yang bertubuh tinggi, Jaejoong pendek, kurus dengan doe eyes yang besar dan bening. Sekarang dia mengenakan celana pendek warna hitam dipadu dengan t-shirt biru muda yang sedikit kedororan. dari jauh penampilannya seperti anak lelaki.
Pantaslah lelaki itu memanggilnya 'anak kecil'. Mungkin dia mengira Jaejoong adalah salah satu murid kelas yunior akademi yang tersesat. Ya, Jaejoong memang murid di akademi ini, tetapi dia adalah murid senior yang sudah lulus enam bulan yang lalu, sekarang dia dan eommanya, serta Changmin sahabatnya, datang ke akademi ini untuk mengambil formulir pelatihan khusus.
Pemain biola itu meletakkan biolanya, kemudian melangkah mendekat. Ketika dia makin dekat, Jaejoong langsung terpana. Astaga.... lelaki itu tampan sekali. Rambut hitamnya yang lurus dibiarkan memanjang sampai menyentuh kerah bajunya, bibirnya... matanya... semuanya sempurna. Mungkin jika lelaki ini kehilangan pekerjaannya sebagai pemain biola, dia bisa menjadi aktor atau model sempurna.
Jadi inilah dia penampilan langsung Yunho, si pemain biola jenius yang begitu terkenal. Jaejoong sering melihatnya bermain di video-video latihannya, sering mendengarkan rekamannya yang brilian di sela-sela belajarnya bermain biola, tetapi rupanya, penampilan lelaki ini secara langsung benar-benar berkali-kali lebih mempesona daripada gambarnya di video-video itu.
Tapi ekspresi lelaki itu tampak tidak senang. Dia mengerutkan keningnya dan menatap Jaejoong dengan tatapan yang tidak bersahabat?
"Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?"
Jaejoong tergeragap mendengar gumaman ketus itu.
Pertanyaan apa?
dia bahkan lupa akan kata-kata Yunho barusan, selain bahwa lelaki itu menyebutnya sebagai  'anak kecil'. Benaknya sedang berkelana akan betapa beruntungnya dirinya, bisa mendengarkan permainan sang maestro secara langsung, dan bisa melihatnya secara langsung pula. Changmin pasti akan sangat terkejut kalau Jaejoong bercerita tentang keberuntungannya.
Karena Jaejoong hanya terdiam, Yunho makin mendekat, mengerutkan kening dan menatap curiga. Anak ini ternyata anak perempuan yang cantik.... batinnya dalam hati, mengawasi pipi Jaejoong yang memerah dan mata besar yang dipayungi bulu mata yang sangat lentik. Usianya mungkin baru dua belas atau tiga belas tahun. Mungkin dalam beberapa tahun lagi, dia akan tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik yang akan dipuja oleh banyak lelaki.
Yunho tersenyum masam. Tiba-tiba merasa aneh pada dirinya sendiri karena membatin kecantikan anak-anak seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau tersesat?" Anak perempuan itu tampak ketakutan, jadi Yunho meredakan ekspresi marahnya dan merubahnya menjadi datar.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, "Aku mendengarkan permainan biolamu." ada kebahagiaan di matanya ketika membicarakan permainan biola. Senyumnya mengembang,
"Luar biasa sempurna, itu ‘Introduction et Rondo Capriccioso’, bukan? Kau memainkan dengan luar biasa indahnya."
Anak ini mengerti musik. Yunho membatin. Mungkin dia memang salah satu murid di akademi ini, yang sedang tersesat.
"Ya. Aku sedang berlatih memainkannya sebelum kau datang dan mengganggu konsentrasiku."
Yunho tidak terbiasa membahas musik bersama orang asing, pun dengan perempuan kecil di depannya ini,
"Apakah kau tersesat?"
Dia mengulang lagi pertanyaannya, langsung menyimpulkan meskipun anak itu tadi menggelengkan kepalanya,
"Kau bisa keluar dari lorong ini dengan melalui jalanmu masuk tadi."
Mata anak perempuan itu menyinarkan protes, "Perlu kau tahu, aku tidak tersesat. Dan aku bukan anak kecil."
Dagunya mendongak dengan angkuh, "Usiaku sudah delapan belas tahun, permisi."
Perempuan itu membungkukkan tubuhnya, seolah mengejek, lalu secepat kilat berbalik pergi, dengan langkah ringan seperti langkah peri.
Yunho masih termangu di ambang pintu, mendengarkan langkah-langkah kecil yang menjauh pergi itu. Kemudian tersenyum masam. Delapan belas tahun... tebakannya meleset jauh, padahal dia sangat ahli dengan perempuan. Tetapi dengan tubuh semungil itu dan wajah polos serta mata bening tanpa dosa, wajar saja kalau Yunho salah tebak.
.
.
.
“Kemana saja kau Jaejoong? eommamu mencarimu dengan cemas karena kau menghilang lama tadi."
Changmin berpapasan dengan Jaejoong di ujung koridor, dia langsung menjajari langkah Jaejoong dan tersenyum lembut,
"Kau pasti menjelajah lagi tanpa izin."
Pipi Jaejoong memerah. Changmin adalah temannya dari kecil karena kedua orang tua mereka bertetangga dan bersahabat. Lelaki itu mungkin menganggap Jaejoong sebagai adiknya, tetapi bagi Jaejoong, Changmin lebih dari itu..... Changmin selalu ada untuknya, dan Jaejoong mungkin menyimpan perasaan lebih kepadanya, sayangnya, Changmin sepertinya masih memperlakukan Jaejoong sebagai anak kecil, sebagai adiknya... dan itulah salah satu hal yang membuat Jaejoong membenci penampilannya yang seperti anak kecil ini.
"Aku bertemu dengan Yunho .... si pemain biola itu."
Langkah Changmin langsung terhenti, dia menatap Jaejoong kaget dan membelalakkan matanya,
"Kau bertemu dengannya? dengan Jung Yunho? Dimana?"
Changmin seperti sudah siap untuk berlari, tapi Jaejoong menahan tangannya.
"Dia sedang berlatih di ruangan khusus di sayap ujung akademi ini, sepertinya dia sedang badmood, mungkin karena tadi aku muncul tiba-tiba tanpa sengaja dan mengganggu permainannya."
Jaejoong menatap Changmin dengan tatapan penuh permintaan maaf,
"Jangan ke sana Changmin, kalaupun dia masih ada di sana dia pasti sedang marah besar."
Changmin menundukkan kepalanya menatap Jaejoong yang jauh lebih pendek darinya, lalu menghela napas panjang,
"Kau sungguh beruntung.... tapi yah sudahlah, mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengan Yunho." gumamnya lalu tersenyum dan menepuk pundak Jaejoong penuh sayang,
"Nanti kita pasti akan bisa bertemu dengannya, kita kan sudah mengisi dan memasukkan formulir audisi untuk masuk sebagai murid khusus Yunho. Ayo kita cari eommamu."
Setiap tahun sekali, Yunho sang pemain biola jenius yang sangat terkenal itu, akan menyempatkan waktunya untuk memberikan kelas khusus hanya untuk siswa akademi senior atau alumni yang terpilih, semuanya dibatasi berusia minimal delapan belas tahun dan maksimal berusia dua puluh tahun. Pendaftaran dibuka sebebas-bebasnya, tetapi pada tahap awal kualifikasi, hanya ada dua ratus orang terpilih yang berhak mengikuti audisi khusus yang dihadiri langsung oleh Yunho.
Kelas itu hanya diikuti oleh beberapa orang yang terbaik, dan Yunho sendiri yang memilihnya. Mereka harus mengisi formulir, kemudian mengikuti audisi, perbandingan antara yang lolos dengan tidak lolos mungkin satu dibanding sepuluh siswa audisi. Ini adalah kesempatan pertama Jaejoong, sedangkan Changmin yang dua tahun lebih tua darinya, akan mencoba keberuntungannya untuk ketiga kalinya, dia gagal di percobaan dua kali sebelumnya.
Dari dua ratus orang yang ikut audisi hanya akan dipilih sejumlah maksimal dua puluh orang, akan diberikan pelatihan di kelas khusus selama tiga bulan dengan mentor utama Yunho sendiri. Memang waktu pelatihan yang singkat, tetapi banyak sekali ilmu yang bisa mereka dapat karena sang maestro sendiri yang turun tangan mengajari mereka, selain itu kalau beruntung, Yunho bahkan bermain biola di kelasnya, suatu kesempatan luar biasa mendengarkan Yunho bermain biola secara langsung, karena lelaki itu lebih banyak mengadakan konsernya di luar negeri, sehingga para murid akademi ini hanya bisa mendengarkan permainannya dari rekaman video untuk berlatih.
Yang pasti, kelas khusus Yunho ini sangat eksklusif dan siapapun yang ingin lolos audisi, harus berebut dengan dua ratus siswa akademi sekaligus alumni lainnya yang lolos kualifikasi tahap awal. Audisi ini begitu ketatnya sehingga Changmin yang notabene anak direktur akademi musik ini, diperlakukan sama seperti yang lain. Dia harus mengambil formulir, mengisinya sesuai prosedur dan mengikuti test audisi bersama yang lain. Hanya Yunho yang bisa menentukan siapa yang akan dia latih.
Changmin dan Jaejoong adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang berharap memperoleh keberuntungan ini, diajar langsung oleh Yunho. Changmin terutama, adalah penggemar berat Yunho, dia pada mulanya berlatih piano, ayahnya adalah salah satu pemilik dan direktur di akademi musik ini sehingga bakat Changmin sudah terasah sejak kecil.  Kemudian tanpa sengaja dia mendengarkan acara konser solo Yunho- sang jenius biola, salah satu lulusan akademi yang sama dengannya,  yang waktu itu baru berusia dua puluh satu tahun - di televisi. Dia terpana, takjub akan kemampuan Yunho membawakan biolanya dengan begitu sempurna,  dan seketika itulah dia memutuskan bermain biola. Yunho adalah salah satu motivasi terbesarnya bermain biola.
Sementara itu, Jaejoong.... yah bisa dikatakan dia hanya ikut-ikutan. Jaejoong dan Changmin memang dilahirkan dari keluarga pemusik, kedua orang tua mereka dulu bersahabat di akademi musik di Vienna, dan sama-sama berkarir di sebuah orkestra besar di Italia, sebelum akhirnya orang tua Changmin yang memutuskan pulang ke korea lebih dulu dikarenakan ayah Changmin harus meneruskan perusahaan kakek Changmin, yang meninggal dunia, salah satunya adalah akademi musik milik keluarganya. Beberapa tahun kemudian, ketika Jaejoong berusia delapan tahun, ayah Jaejoong meninggal dunia karena sakit, ibu Jaejoong akhirnya memutuskan untuk pensiun dari karier musiknya di Italia dan membawa Jaejoong pulang ke Korea. Dan kemudian, ibu Changmin jugalah yang membantu mereka, mencarikan rumah yang nyaman untuk mereka tempati dan memberikan pekerjaan kepada ibu Jaejoong sebagai salah satu guru di akademi ini.
Jaejoong bisa bermain musik apa saja, dan dia memainkan semuanya, dia bahkan tidak mengkhususkan diri pada satu alat musik, sesuatu yang diprotes oleh ibunya. Kata ibunya, kalau kita tidak men-spesialisasikan diri pada satu alat musik, maka kemampuan kita akan mengambang, tidak bisa sepenuhnya fokus. Ibu Jaejoong selalu mendorong Jaejoong untuk mengembangkan bakat musiknya ke satu titik khusus, tetapi memang tidak ada dorongan bagi Jaejoong untuk melakukannya. Dia memang berbakat dalam bermusik tetapi tidak berambisi. Sampai kemudian dia melihat Changmin begitu fokus bermain biola, dan Jaejoong berpikir, kalau dia bermain biola juga, mungkin dia bisa semakin dekat dengan Changmin.
Jaejoong tersenyum pahit, yah.... Yunho adalah motivasi Changmin bermain biola, sedangkan Changmin adalah motivasi Jaejoong bermain biola.
.
.
.
"Terimakasih kau selalu menyempatkan waktumu untuk mengajar murid-murid kami setiap tahunnya."
Yunho duduk di ruang tamu direktur, dijamu dengan teh dalam poci ala inggris dan kue-kue yang tampak nikmat di piring, dia duduk berhadapan dengan direktur itu sendiri.
"Akademi ini pernah melatihku dan sedikit banyak membantuku menjadi seperti sekarang ini, aku tidak keberatan mengajar mereka di sela waktu rehatku." gumam Yunho tenang.
Matanya menelusuri ke arah pintu. Dia tidak suka dengan pertemuan formal ini dan ingin melarikan diri cepat-cepat, tetapi tentu saja itu tidak sopan.
"Dan antusiasme anak-anak benar-benar meluber tahun ini, apalagi setelah konser solo terakhirmu di Austria yang sangat sukses." direktur itu tersenyum, menatap Yunho senang,
"Anakku akan ada di audisi ini lagi tahun ini, aku tidak akan memberitahukanmu yang mana karena hal itu mungkin akan mempengaruhimu, tetapi aku berharap dengan kemampuannya dia bisa lolos dari audisi. Dia sudah mencoba dua kali sebelumnya dan gagal."
Direktur itu menuang tehnya dan mempersilahkan Yunho untuk minum teh bersamanya.
Yunho tersenyum. Dia tahu bahwa direktur ini dulu punya karier bermusik yang cemerlang di Italia, sebelum menjadi direktur akademi ini, direktur itu adalah seorang pemain piano profesional. Yunho tidak mengira bahwa anaknya lebih memilih bermain biola. Bahkan sebelumnya, direktur ini sangat jarang menyebut tentang anaknya. Lelaki di depannya ini memang sangat teguh pada peraturan dalam bermusik, sepertinya dia tidak ingin anaknya diperlakukan dengan istimewa, mau tak mau Yunho merasa kagum kepada prinsip yang dianut sang direktur, kalau orang lain, mungkin akan menggunakan segala cara agar anaknya memperoleh hak istimewa.
"Anak anda bermain biola Tuan Shim?" gumam Yunho mempertanyakannya langsung.
Direktur itu mengangkat bahunya, "Semua orang pasti mempertanyakan itu mengingat aku adalah pemain piano. Yah, aku sudah berusaha mengajari anakku itu bermain piano sedari dini. Dan kemudian dengan keras kepala dia berubah halauan, bermain biola."
Matanya menatap Yunho dengan dalam, "Kau adalah motivasinya bermain biola."
Yunho menyesap tehnya dan mengangkat alis, lalu tersenyum samar.
"Kalau anak anda benar-benar berbakat, dia pasti akan menemukan jalannya untuk masuk ke kelas khususku."
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Brarti nanti yunho bisa jd gurunya jj donk..
    Wah, kayaknya bakalan tambah seru nih...

    ReplyDelete