Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 2
Anak
Kecil?
Dalam
sekejap Jaejoong merasa tersinggung.
Apakah lelaki itu memanggilnya
'anak kecil' untuk menghinanya? Di usianya yang ke delapan belas tahun, tubuh Jaejoong
memang kecil, mungil dan tidak seperti seluruh keluarganya yang bertubuh
tinggi, Jaejoong pendek, kurus dengan doe eyes yang besar dan bening. Sekarang
dia mengenakan celana pendek warna hitam dipadu dengan t-shirt biru muda yang
sedikit kedororan. dari jauh penampilannya seperti anak lelaki.
Pantaslah lelaki itu
memanggilnya 'anak kecil'. Mungkin dia mengira Jaejoong adalah
salah satu murid kelas yunior akademi yang tersesat. Ya, Jaejoong memang murid
di akademi ini, tetapi dia adalah murid senior yang sudah lulus enam bulan yang
lalu, sekarang dia dan eommanya, serta Changmin sahabatnya, datang ke akademi
ini untuk mengambil formulir pelatihan khusus.
Pemain biola itu meletakkan
biolanya, kemudian melangkah mendekat. Ketika dia makin dekat, Jaejoong
langsung terpana. Astaga.... lelaki itu tampan sekali. Rambut hitamnya yang
lurus dibiarkan memanjang sampai menyentuh kerah bajunya, bibirnya...
matanya... semuanya sempurna. Mungkin jika lelaki ini kehilangan pekerjaannya
sebagai pemain biola, dia bisa menjadi aktor atau model sempurna.
Jadi inilah dia penampilan
langsung Yunho, si pemain biola jenius yang begitu terkenal. Jaejoong sering
melihatnya bermain di video-video latihannya, sering mendengarkan rekamannya
yang brilian di sela-sela belajarnya bermain biola, tetapi rupanya, penampilan
lelaki ini secara langsung benar-benar berkali-kali lebih mempesona daripada
gambarnya di video-video itu.
Tapi
ekspresi lelaki itu tampak tidak senang. Dia mengerutkan keningnya dan menatap Jaejoong
dengan tatapan yang tidak bersahabat?
"Kenapa kau tidak menjawab
pertanyaanku?"
Jaejoong tergeragap mendengar
gumaman ketus itu.
Pertanyaan
apa?
dia bahkan lupa akan kata-kata Yunho
barusan, selain bahwa lelaki itu menyebutnya sebagai 'anak kecil'.
Benaknya sedang berkelana akan betapa beruntungnya dirinya, bisa mendengarkan
permainan sang maestro secara langsung, dan bisa melihatnya secara langsung
pula. Changmin pasti akan sangat terkejut kalau Jaejoong bercerita tentang
keberuntungannya.
Karena Jaejoong hanya terdiam, Yunho
makin mendekat, mengerutkan kening dan menatap curiga. Anak ini ternyata anak
perempuan yang cantik.... batinnya dalam hati, mengawasi pipi Jaejoong
yang memerah dan mata besar yang dipayungi bulu mata yang sangat lentik.
Usianya mungkin baru dua belas atau tiga belas tahun. Mungkin dalam beberapa
tahun lagi, dia akan tumbuh menjadi perempuan dewasa yang cantik yang akan
dipuja oleh banyak lelaki.
Yunho tersenyum masam. Tiba-tiba
merasa aneh pada dirinya sendiri karena membatin kecantikan anak-anak seperti
ini.
"Apa yang kau lakukan di
sini? Apakah kau tersesat?" Anak perempuan itu tampak ketakutan, jadi Yunho
meredakan ekspresi marahnya dan merubahnya menjadi datar.
Jaejoong menggelengkan kepalanya,
"Aku mendengarkan permainan biolamu." ada kebahagiaan di matanya
ketika membicarakan permainan biola. Senyumnya mengembang,
"Luar biasa sempurna,
itu ‘Introduction et Rondo Capriccioso’, bukan? Kau memainkan
dengan luar biasa indahnya."
Anak ini mengerti musik. Yunho
membatin. Mungkin dia memang salah satu murid di akademi ini, yang sedang
tersesat.
"Ya. Aku sedang berlatih
memainkannya sebelum kau datang dan mengganggu konsentrasiku."
Yunho tidak terbiasa membahas
musik bersama orang asing, pun dengan perempuan kecil di depannya ini,
"Apakah kau tersesat?"
Dia mengulang lagi pertanyaannya,
langsung menyimpulkan meskipun anak itu tadi menggelengkan kepalanya,
"Kau bisa keluar dari lorong
ini dengan melalui jalanmu masuk tadi."
Mata anak perempuan itu
menyinarkan protes, "Perlu kau tahu, aku tidak tersesat. Dan aku bukan
anak kecil."
Dagunya mendongak dengan angkuh,
"Usiaku sudah delapan belas tahun, permisi."
Perempuan itu membungkukkan tubuhnya,
seolah mengejek, lalu secepat kilat berbalik pergi, dengan langkah ringan
seperti langkah peri.
Yunho masih termangu di ambang
pintu, mendengarkan langkah-langkah kecil yang menjauh pergi itu. Kemudian
tersenyum masam. Delapan belas tahun... tebakannya meleset jauh,
padahal dia sangat ahli dengan perempuan. Tetapi dengan tubuh semungil itu dan
wajah polos serta mata bening tanpa dosa, wajar saja kalau Yunho salah tebak.
.
.
.
“Kemana saja kau Jaejoong? eommamu
mencarimu dengan cemas karena kau menghilang lama tadi."
Changmin berpapasan dengan Jaejoong
di ujung koridor, dia langsung menjajari langkah Jaejoong dan tersenyum lembut,
"Kau pasti menjelajah lagi
tanpa izin."
Pipi Jaejoong memerah. Changmin
adalah temannya dari kecil karena kedua orang tua mereka bertetangga dan
bersahabat. Lelaki itu mungkin menganggap Jaejoong sebagai adiknya, tetapi bagi
Jaejoong, Changmin lebih dari itu..... Changmin selalu ada untuknya, dan Jaejoong
mungkin menyimpan perasaan lebih kepadanya, sayangnya, Changmin sepertinya
masih memperlakukan Jaejoong sebagai anak kecil, sebagai adiknya... dan itulah
salah satu hal yang membuat Jaejoong membenci penampilannya yang seperti anak
kecil ini.
"Aku bertemu dengan Yunho
.... si pemain biola itu."
Langkah Changmin langsung terhenti,
dia menatap Jaejoong kaget dan membelalakkan matanya,
"Kau bertemu dengannya?
dengan Jung Yunho? Dimana?"
Changmin seperti sudah siap untuk
berlari, tapi Jaejoong menahan tangannya.
"Dia sedang berlatih di
ruangan khusus di sayap ujung akademi ini, sepertinya dia sedang badmood,
mungkin karena tadi aku muncul tiba-tiba tanpa sengaja dan mengganggu
permainannya."
Jaejoong menatap Changmin dengan
tatapan penuh permintaan maaf,
"Jangan ke sana Changmin,
kalaupun dia masih ada di sana dia pasti sedang marah besar."
Changmin menundukkan kepalanya
menatap Jaejoong yang jauh lebih pendek darinya, lalu menghela napas panjang,
"Kau sungguh beruntung....
tapi yah sudahlah, mungkin memang belum saatnya aku bertemu dengan Yunho."
gumamnya lalu tersenyum dan menepuk pundak Jaejoong penuh sayang,
"Nanti kita pasti akan bisa
bertemu dengannya, kita kan sudah mengisi dan memasukkan formulir
audisi untuk masuk sebagai murid khusus Yunho. Ayo kita cari eommamu."
Setiap tahun sekali, Yunho sang
pemain biola jenius yang sangat terkenal itu, akan menyempatkan waktunya untuk
memberikan kelas khusus hanya untuk siswa akademi senior atau alumni yang
terpilih, semuanya dibatasi berusia minimal delapan belas tahun dan maksimal
berusia dua puluh tahun. Pendaftaran dibuka sebebas-bebasnya, tetapi pada tahap
awal kualifikasi, hanya ada dua ratus orang terpilih yang berhak mengikuti
audisi khusus yang dihadiri langsung oleh Yunho.
Kelas itu hanya diikuti oleh
beberapa orang yang terbaik, dan Yunho sendiri yang memilihnya. Mereka harus
mengisi formulir, kemudian mengikuti audisi, perbandingan antara yang lolos
dengan tidak lolos mungkin satu dibanding sepuluh siswa audisi. Ini adalah
kesempatan pertama Jaejoong, sedangkan Changmin yang dua tahun lebih tua
darinya, akan mencoba keberuntungannya untuk ketiga kalinya, dia gagal di
percobaan dua kali sebelumnya.
Dari dua ratus orang
yang ikut audisi hanya akan dipilih sejumlah maksimal dua puluh
orang, akan diberikan pelatihan di kelas khusus selama tiga bulan dengan mentor
utama Yunho sendiri. Memang waktu pelatihan yang singkat, tetapi banyak sekali
ilmu yang bisa mereka dapat karena sang maestro sendiri yang turun tangan
mengajari mereka, selain itu kalau beruntung, Yunho bahkan bermain biola di
kelasnya, suatu kesempatan luar biasa mendengarkan Yunho bermain biola secara
langsung, karena lelaki itu lebih banyak mengadakan konsernya di luar negeri,
sehingga para murid akademi ini hanya bisa mendengarkan permainannya dari
rekaman video untuk berlatih.
Yang pasti, kelas khusus Yunho
ini sangat eksklusif dan siapapun yang ingin lolos audisi, harus berebut
dengan dua ratus siswa akademi sekaligus alumni lainnya yang lolos
kualifikasi tahap awal. Audisi ini begitu ketatnya sehingga Changmin yang
notabene anak direktur akademi musik ini, diperlakukan sama seperti yang lain.
Dia harus mengambil formulir, mengisinya sesuai prosedur dan mengikuti test
audisi bersama yang lain. Hanya Yunho yang bisa menentukan siapa yang akan dia
latih.
Changmin dan Jaejoong adalah
salah satu dari sekian banyak siswa yang berharap memperoleh keberuntungan ini,
diajar langsung oleh Yunho. Changmin terutama, adalah penggemar berat Yunho,
dia pada mulanya berlatih piano, ayahnya adalah salah satu pemilik dan direktur
di akademi musik ini sehingga bakat Changmin sudah terasah sejak
kecil. Kemudian tanpa sengaja dia mendengarkan acara konser solo Yunho-
sang jenius biola, salah satu lulusan akademi yang sama dengannya,
yang waktu itu baru berusia dua puluh satu tahun - di televisi. Dia
terpana, takjub akan kemampuan Yunho membawakan biolanya dengan begitu
sempurna, dan seketika itulah dia memutuskan bermain biola. Yunho adalah
salah satu motivasi terbesarnya bermain biola.
Sementara itu, Jaejoong.... yah
bisa dikatakan dia hanya ikut-ikutan. Jaejoong dan Changmin memang dilahirkan
dari keluarga pemusik, kedua orang tua mereka dulu bersahabat di akademi musik di
Vienna, dan sama-sama berkarir di sebuah orkestra besar di Italia, sebelum
akhirnya orang tua Changmin yang memutuskan pulang ke korea lebih dulu
dikarenakan ayah Changmin harus meneruskan perusahaan kakek Changmin, yang
meninggal dunia, salah satunya adalah akademi musik milik keluarganya. Beberapa
tahun kemudian, ketika Jaejoong berusia delapan tahun, ayah Jaejoong meninggal
dunia karena sakit, ibu Jaejoong akhirnya memutuskan untuk pensiun dari karier
musiknya di Italia dan membawa Jaejoong pulang ke Korea. Dan kemudian, ibu Changmin
jugalah yang membantu mereka, mencarikan rumah yang nyaman untuk mereka tempati
dan memberikan pekerjaan kepada ibu Jaejoong sebagai salah satu guru di
akademi ini.
Jaejoong bisa bermain musik apa
saja, dan dia memainkan semuanya, dia bahkan tidak mengkhususkan diri pada satu
alat musik, sesuatu yang diprotes oleh ibunya. Kata ibunya, kalau kita tidak
men-spesialisasikan diri pada satu alat musik, maka kemampuan kita akan
mengambang, tidak bisa sepenuhnya fokus. Ibu Jaejoong selalu mendorong Jaejoong
untuk mengembangkan bakat musiknya ke satu titik khusus, tetapi memang tidak
ada dorongan bagi Jaejoong untuk melakukannya. Dia memang berbakat dalam
bermusik tetapi tidak berambisi. Sampai kemudian dia melihat Changmin begitu
fokus bermain biola, dan Jaejoong berpikir, kalau dia bermain biola juga,
mungkin dia bisa semakin dekat dengan Changmin.
Jaejoong tersenyum pahit, yah....
Yunho adalah motivasi Changmin bermain biola, sedangkan Changmin adalah
motivasi Jaejoong bermain biola.
.
.
.
"Terimakasih kau selalu
menyempatkan waktumu untuk mengajar murid-murid kami setiap tahunnya."
Yunho duduk di ruang tamu
direktur, dijamu dengan teh dalam poci ala inggris dan kue-kue yang tampak
nikmat di piring, dia duduk berhadapan dengan direktur itu sendiri.
"Akademi ini pernah
melatihku dan sedikit banyak membantuku menjadi seperti sekarang ini, aku tidak
keberatan mengajar mereka di sela waktu rehatku." gumam Yunho tenang.
Matanya menelusuri ke arah pintu.
Dia tidak suka dengan pertemuan formal ini dan ingin melarikan diri
cepat-cepat, tetapi tentu saja itu tidak sopan.
"Dan antusiasme anak-anak benar-benar
meluber tahun ini, apalagi setelah konser solo terakhirmu di Austria yang
sangat sukses." direktur itu tersenyum, menatap Yunho senang,
"Anakku akan ada di audisi
ini lagi tahun ini, aku tidak akan memberitahukanmu yang mana karena hal
itu mungkin akan mempengaruhimu, tetapi aku berharap dengan kemampuannya dia
bisa lolos dari audisi. Dia sudah mencoba dua kali sebelumnya dan gagal."
Direktur itu menuang tehnya dan
mempersilahkan Yunho untuk minum teh bersamanya.
Yunho tersenyum. Dia tahu bahwa direktur
ini dulu punya karier bermusik yang cemerlang di Italia, sebelum menjadi
direktur akademi ini, direktur itu adalah seorang pemain piano profesional. Yunho
tidak mengira bahwa anaknya lebih memilih bermain biola. Bahkan sebelumnya,
direktur ini sangat jarang menyebut tentang anaknya. Lelaki di depannya ini
memang sangat teguh pada peraturan dalam bermusik, sepertinya dia tidak ingin
anaknya diperlakukan dengan istimewa, mau tak mau Yunho merasa kagum kepada
prinsip yang dianut sang direktur, kalau orang lain, mungkin akan menggunakan
segala cara agar anaknya memperoleh hak istimewa.
"Anak anda bermain biola
Tuan Shim?" gumam Yunho mempertanyakannya langsung.
Direktur itu mengangkat bahunya,
"Semua orang pasti mempertanyakan itu mengingat aku adalah pemain piano.
Yah, aku sudah berusaha mengajari anakku itu bermain piano sedari dini. Dan
kemudian dengan keras kepala dia berubah halauan, bermain biola."
Matanya menatap Yunho dengan
dalam, "Kau adalah motivasinya bermain biola."
Yunho menyesap tehnya dan mengangkat
alis, lalu tersenyum samar.
"Kalau anak anda benar-benar
berbakat, dia pasti akan menemukan jalannya untuk masuk ke kelas
khususku."
.
.
.
.
To Be Continue

Brarti nanti yunho bisa jd gurunya jj donk..
ReplyDeleteWah, kayaknya bakalan tambah seru nih...