Saturday, September 19

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 22
"Whoa, girl," Seok Chun oppa berkata sambil mengulurkan lengannya untuk menangkapku saat aku menghambur memasuki dapur.
Sebuah cegukan terlontar dan aku menelan kembali isakan yang mengikuti.
"Yang terjadi di sana tadi cukup brutal tapi bisa saja lebih buruk lagi. Setidaknya Yunho datang untuk menyelamatkan." Seok Chun oppa menepuk pelan punggungku dan memelukku.
Aku tidak menginginkan Seok Chun oppa mengetahui betapa murahannya diriku. Aku tak mampu mengatakan padanya bahwa airmata ini disebabkan karena aku adalah rahasia kecil kotor dari seorang pria kaya raya. Bukan karena gadis jalang yang telah menumpahkan makanan ke seluruh tubuhku di ruangan yang dipenuhi banyak orang.
"Kembalilah kesana, Hyung. Kita membutuhkan lebih banyak penyaji di ruangan itu. Aku akan berbicara dengan Jaejoong," Hyunjoong berkata ketika dia berjalan masuk ke dapur.
Seok Chun oppa memelukku dengan erat sekali lagi kemudian cemberut pada Hyunjoong sebelum mengambil nampannya dan berjalan mengarah ke pintu. "Kau bersikap baiklah pada gadisku," Seok Chun oppa berujar saat dia melewati Hyunjoong.
Hyunjoong tidak menjawab. Malahan dia mengamatiku. Aku mengira inilah saatnya. Momen besar ‘ini adalah kesalahanmu jadi kau bisa pergi sekarang’.
"Aku telah mengambil resiko memperingatkanmu mengenai Boa dan itu bahkan bukan merupakan kesalahan Yunho bahwa seorang gadis jalang pencemburu menyerangmu," Hyunjoong menggeram dan menggelengkan kepalanya dengan jijik.
"Aku minta maaf, Jae. Semua ini kesalahanku. Aku tidak mengira dia mampu melakukan ini. Dia adalah mantan pacar tidak waras yang sepertinya tidak mampu aku goyahkan."
Dia tidak memecatku? Aku bersandar ke meja dapur di belakangku untuk menghirup napas panjang.
"Akibat drama yang telah terjadi, aku tak ingin kau kembali kesana. Kau bisa tinggal di sini dan membantu menyiapkan nampan-nampan saja. Aku akan memastikan kau mendapat jumlah bayaran yang sama dengan yang kau hasilkan jika kau bekerja di luar."
"Terima kasih. Tapi bolehkah aku berganti pakaian?" Tanyaku, aku harus menyingkirkan semua kotoran yang menempel padaku.
Hyunjoong tersenyum, "Ya. Pergi dan ambillah salah satu pakaian *cart girl dari kantor. Malam ini kita telah menggunakan seluruh seragam tambahan penyaji."
Aku menegakkan diri dari posisi bersandarku di meja dapur dan berjalan menuju pintu.
"Tidak usah terburu-buru. Kita akan baik-baik saja di sini jika kau butuh istirahat." Hyunjoong berseru ketika aku keluar dari dapur.
Saat aku berjalan keluar, Yunho dan Boa berdiri di lorong nampaknya sedang dalam adu argumen yang panas. Boa mengirimkan tatapan sedingin es kearahku. Aku dapat melihat ekspresi frustrasi di wajah Yunho. Aku hanya menyebabkan kesedihan baginya. Aku tidak mau melihat kejadian ini. Mereka bisa terlibat dalam perselisihan keluarga namun pada akhirnya akan menyelesaikannya. Setelah malam ini, aku seharusnya sudah memiliki cukup uang untuk pindah keluar. Besok aku akan menemukan tempat tinggal karena tidur seatap dengan Yunho sangat tidak memungkinkan. Aku memutar dan membuka pintu yang menuju keluar.
"Jae, tunggu," Yunho berseru.
"Biarkan dia pergi, Yunho," ujar Boa.
"Aku tidak bisa," jawabnya.
Pintu menutup di belakangku dan aku berusaha menghalangi apa yang mungkin akan kudengar. Aku tidak perlu berpikir atau bahkan mempertimbangkan bahwa Yunho akan memperjuangkanku.
Pintu mengayun terbuka dan Yunho berlari keluar dari sana. "Boo, kumohon tunggu. Bicaralah padaku," dia memohon.
Kuhentikan langkahku dan memandang ketika dia berlari kencang untuk berdiri di depanku. Tidak ada lagi yang perlu kukatakan padanya. Aku telah mengatakan semuanya.
"Maafkan aku. Namun kau salah, Aku tidak mengabaikanmu di sana. Tanyalah pada semua orang. Mataku tidak pernah lepas darimu. Jika ada pertanyaan dalam benak siapa pun mengenai bagaimana perasaanku padamu, dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa berpaling darimu selama kau berjalan berkeliling dalam ruangan itu, pasti menjadi jawabannya," Yunho berhenti sejenak dan mengusap rambutnya lalu menggumamkan makian.
"Kemudian aku melihat ekspresi wajahmu ketika kau melihat Junsu bersama Yoochun. Sesuatu di dalam diriku terkoyak. Aku tidak mengetahui apa yang kau pikirkan tapi aku menyadari kesalahan malam ini. Kau seharusnya tidak di sana melayani semua orang. Kau semestinya ada di sisiku. Aku menginginkan kau ada di sisiku. Aku merasa amat gugup menanti siapa saja yang akan berbuat salah padamu sehingga aku lupa untuk bernapas hampir sepanjang waktu."
Yunho meraih dan menjalarkan jemarinya pada tanganku yang terkepal. "Jika kau bisa memaafkanku, aku berjanji hal ini tidak akan pernah terjadi lagi. Aku menyayangi Boa. Namun aku sudah cukup berusaha menyenangkannya. Dia adikku dan memiliki beberapa masalah yang harus dia selesaikan. Aku telah memberitahunya bahwa aku akan bercerita segalanya padamu. Ada beberapa hal yang harus kukatakan padamu." Yunho memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Aku berurusan dengan fakta bahwa kau mungkin akan pergi menjauh dariku begitu kau tahu semua permasalahannya dan tidak akan pernah melihat ke belakang. Hal itu amat sangat menakutkanku. Aku tak tahu apa yang sedang terjadi diantara kita namun sejak pertama kali aku menjatuhkan pandangan padamu aku tahu kau akan mengubah duniaku. Aku sempat ketakutan. Semakin aku memperhatikanmu semakin kau membuatku tertarik. Aku tidak bisa merasa cukup dekat denganmu."
Dia telah siap membuka diri padaku dan membiarkanku masuk. Dia tidak hanya memanfaatkanku. Aku bukan hanya gadis sembarangan lain yang ditidurinya kemudian dia campakkan. Dia telah siap membiarkanku masuk ke dunianya yang penuh rahasia. Dia ingin memilikiku. Hatiku telah menyerah. Aku telah berusaha menahan diri dan berjuang keras agar Yunho tidak mengambil alih. Tetap saja, dia berusaha untuk memilikinya. Melihatnya sedemikian rapuh merupakan kendali terakhir. Aku tidak mampu menahan diri lagi.
Aku telah terjatuh terlalu dalam.
"Oke," jawabku. Tidak ada lagi yang harus dikatakan. Dia memilikiku.
Yunho mengernyit. "Oke?"
Aku mengangguk. "Oke. Jika kau memang sangat ingin memilikiku hingga kau bersedia membuka diri padaku, maka oke."
 Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu terlalu dini. Dia akan berpikir itu karena aku masih amat muda. Hal itu adalah sesuatu yang aku simpan hingga tiba waktunya nanti. Mungkin memang karena aku masih amat muda. Aku merasa tidak ada yang berubah.
Seringaian kecil terbentuk di bibir Yunho. "Aku baru saja membuka jiwaku padamu dan yang kudapatkan hanya sebuah kata 'oke' ?" tanyanya.
Aku mengendikkan bahu, "Kau telah mengatakan semua yang ingin aku dengar. Sekarang aku telah terperangkap. Kau mendapatkanku. Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Yunho melepaskan suara tawa rendah yang seksi dan menarikku untuk mendekat. "Aku berpikir berhubungan seks di lubang keenam belas yang terletak di samping danau pasti menyenangkan."
Kumiringkan kepalaku seakan aku sedang mempertimbangkannya. "Hmmm...masalahnya adalah aku seharusnya berganti pakaian dan kembali bekerja di dapur sepanjang malam."
Yunho menghela napas berat. "Sial."
Aku mendaratkan ciuman pada rahangnya. "Kau memiliki seorang adik yang harus kau temani," aku mengingatkannya.
Lengan Yunho mengetat disekelilingku. "Yang dapat kupikirkan saat ini hanyalah berada di dalam dirimu. Mendekapmu erat padaku dan mendengarmu mengeluarkan desahan kecil yang seksi."
Oh. Ya ampun. Degup jantungku meningkat oleh pemikiran itu.
"Jika saja aku dapat melepaskan dirimu dengan mudah, aku akan membawamu ke kantor itu dan merapatkanmu ke dinding dan menenggelamkan diriku didalammu. Namun aku tidak bisa berhubungan seks cepat denganmu. Kau membuatku sangat kecanduan."
Penjelasannya membuatku sulit bernapas dan memegang erat bahunya. "Salinlah pakaianmu. Aku akan berdiri di luar sini agar aku tidak tergoda. Nanti akan kutemani kembali ke dapur." Yunho berkata saat perlahan melepaskanku.
Aku membutuhkan waktu sejenak untuk mendapatkan kembali kendali atas diriku sebelum aku melepaskan lengannya. Lalu aku berbalik dan terburu-buru memasuki kantor.
.
.
 .
Aku tidak melihat Yunho lagi setelah dia meninggalkan aku di pintu dapur dengan ciuman kilat. Malam seakan tak berujung dan aku kelelahan. Menyiapkan makanan ternyata lebih sulit daripada kelihatannya. Setelah tempat itu dikosongkan kami kemudian diberi tugas untuk membersihkan.
Tiga jam kemudian waktu menunjukkan hampir pukul 4 pagi. Aku melangkah tersaruk-saruk menembus kegelapan dini hari dan menuju ke arah trukku ada bagian dari diriku mengharapkan Yunho menungguku namun dia harus tidur di dalam mobilnya jadi itu merupakan hal yang konyol.
Kunyalakan mesin trukku dan mengarah ke rumah Yunho. Aku tidak perlu kembali bekerja hari ini jadi aku bisa tidur. Aku pun tidak perlu menemukan apartemen lagi. Ketika aku menepi di jalanan masuk aku menatap keatas melihat bahwa lampu masih menyala di kamar Yunho. Bagian atas rumah terlihat terang dibandingkan dengan kegelapan yang menyelimuti sisa rumah tersebut.
Pintu depan tidak terkunci jadi aku masuk dan dengan perlahan menutup pintu di belakangku. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah Yunho masih terjaga atau dia tertidur dengan lampu menyala? Apakah aku harus ke kamarnya atau kamarku?
Aku berjalan menuju ke tangga dan menemukan Yunho sedang duduk di lantai bersandar pada pintu kamar dan menatap langsung kearahku. Apa yang sedang ia lakukan?
Ketika matanya menemukan mataku dia berdiri dan berjalan kearahku. Aku bertemu dengannya di pertengahan jalan. Dia terlihat putus asa. Aku tidak tahu apa penyebabnya. "Aku membutuhkanmu di atas. Sekarang," dia berkata dengan suara tegang.
Degup jantungku meningkat. Apakah ada seseorang yang terluka? Apakah Yunho baik-baik saja?
Aku tergesa-gesa mengikuti di belakangnya. Dia menutup pintu dan menguncinya. Dia tidak pernah menguncinya. Lalu tiba-tiba tangannya sudah bergerilya di tubuhku bahkan sebelum kami menaiki tangga.
Itu seperti seolah-olah seorang pria liar yang telah mengambil alih. Yunho menjalarkan tangannya menuruni pinggulku dan melewati pantatku kemudian naik lagi. Aku mendengar sebuah kancing terlepas dan mengerenyit. Itu adalah seragam kerja. Aku mulai bertanya apa yang sedang terjadi namun mulutnya menutupi mulutku dan lidahnya juga meluncur masuk. Tangannya menemukan kaitan celana pendekku dan disentakkan untuk dibuka dia mulai mendorongnya kebawah. Geraman kelaparan kecil yang dibuatnya mengakibatkan tubuhku bereaksi. Aku mulai merasakan basah diantara kedua kaki dan denyutan yang mendamba.
Yunho mendorongku terbaring pada tangga dan menyentak lepas sepatuku serta meloloskan celana pendek beserta celana dalamku kemudian mencengkeram kedua lututku dan dipisahkannya. Aku tidak sempat berpikir sebelum mulutnya ada padaku, lidahnya menjilati lipatanku dan menyelinap kedalam.  Akibat seks liar yang kami lakukan malam sebelumnya kewanitaanku masih sangat sensitif pada setiap belaian lidahnya. Aku mulai meneriakkan namanya. Menumpu pada sikuku aku mengamati ketika dia menghujani sepanjang pahaku dengan ciuman kemudian menguburkan wajahnya diantara kakiku lagi membuatku terengah-engah dan memohon.
"Milikku. Ini milikku," katanya berulang-ulang seperti pria yang sedang kerasukan saat dia menatap ke arah kewanitaanku. Dia menjalarkan tangannya ke tengah dengan lembut kemudian mengalihkan pandangannya langsung ke mataku,
"Milikku. Vagina manis ini adalah  milikku, Boo."
Aku siap menyetujui segalanya jika dia bersedia membuatku mencapai orgasme. Namun pertama-tama aku menginginkan dia berada di dalamku.
"Katakan bahwa ini milikku," pintanya.
Aku mengangguk dan Yunho menyelipkan satu jari masuk ke dalamku menyebabkan rintihan lain terlepas dari mulutku. "Katakan bahwa ini milikku," ulangnya.
"Itu milikmu, sekarang kumohon Yunho, setubuhi aku."
Matanya melebar lalu dia berdiri dan melepaskan kancing piyama yang dia kenakan. Ereksinya berdiri tegak.
"Malam ini tanpa kondom. Aku akan ejakulasi di luar. Aku hanya perlu merasakanmu seutuhnya," ujarnya saat dia menaikkan lututku dan dia menurunkan tubuhnya sehingga penisnya berada di pintu masukku. Dia tidak menghujamku seperti yang kuperkirakan. Yunho bergerak dengan pelan.
"Apakah ini menyakitkan?" tanyanya saat dia menahan tubuhnya di atasku.
Sejujurnya terasa sedikit nyeri namun aku tidak akan mengakuinya. Aku menginginkannya tanpa kendali. "Ini terasa nikmat," aku meyakinkan dia.
Dia menggigiti bibir bawahnya dan dengan perlahan menarik keluar. "Tangga ini terlalu keras untukmu. Kemarilah." Dia membungkuk dan meraupku ke lengannya dan mulai melangkah menaiki tangga.  Sebelumnya aku tidak pernah dibopong oleh seorang pria dan dapat kukatakan bahwa ini adalah pengalaman yang sempurna. Dada telanjang Yunho yang sedang menggendongku luar biasa.
"Maukah kau melakukan sesuatu untukku?" dia bertanya sambil menunfukkan kepalanya untuk memberikan ciuman-ciuman kecil pada hidung dan kelopak mataku.
"Ya," jawabku.
Dia berhenti di samping ranjang dan dengan perlahan menurunkanku hingga kakiku menyentuh lantai. "Berbalik, membungkuk dan baringkan dadamu mendatar di tempat tidur. Letakkan tangan diatas kepalamu dan biarkan pantatmu terangkat di udara."
Um...oke. Aku tidak menanyakan alasannya karena aku sudah mengerti maksudnya. Tetap menjejakkan kakiku di lantai, aku membungkuk ke depan dan berbaring di ranjang dengan posisi seperti permintaannya.
Tangannya merayap diatas pantatku dan dia mengeluarkan suara puas di dalam tenggorokannya. "Kau memiliki pantat paling sempurna."
Kedua tangannya berpegangan pada pinggulku dan perlahan dia memasukiku menarikku mundur saat memasukiku. Dengan posisi ini dia terkubur jauh lebih dalam. "Yunho!" Aku berteriak ketika merasakan sekilas rasa nyeri dari kedalaman yang telah dicapainya.
"Sial, aku merasa sangat dalam," raungnya.
Lalu dia menarik keluar perlahan dan pinggulnya mulai bergerak. Aku mencengkeram sprei saat tubuhku mulai mencapai klimaks. Mengetahui apa yang akan terjadi dan kakiku mulai bergetar dari kenikmatan yang mulai terbangun di dalam diriku.
Salah satu tangan Yunho menyelip turun hingga menyentuh klitku yag bengkak dan dia mulai mengusapnya. "Ya Tuhan, kau basah kuyup," katanya sambil terengah.
Kaki menjadi kaku saat orgasme menyapuku kemudian aku pun berusaha melepaskan diri karena tak mampu menanggung sensasi dari Yunho yang masih terus menerus membelaiku. Terlalu banyak kenikmatan sehingga terasa menyakitkan. Sebelum aku bisa memohon belas kasihan, tangannya mencengkeram pinggulku dan dia menarik keluar penisnya dengan cepat.
"GAAAAH!" Yunho berteriak saat aku ambruk ke ranjang mengetahui walaupun aku tidak melihatnya bahwa dia telah menarik keluar sebelum dia orgasme.
"Sial baby, jika saja kau tahu betapa menakjubkannya pantatmu terlihat sekarang," ujarnya dengan suara terengah-engah.
Kuputar kepalaku ke samping karena tidak sanggup mengangkatnya dan aku memandangnya. "Kenapa?"
Sebuah kekehan rendah menderu dari dalam dadanya. "Katakan saja aku perlu membesihkanmu."
Kesadaranku muncul dan rasa hangat pada pantatku yang sebelumnya tidak kuperhatikan tiba-tiba saja mendapat perhatianku. Sebuah cekikikan terlepas dan kubenamkan wajahku di tanganku.
Aku terbaring disana mendengarkan ketika dia menyalakan air dan kemudian berjalan kembali kearahku. Kehangatan dari handuk kecil saat dia menyekaku untuk membersihkan cairan spermanya terasa menyenangkan dan perlahan aku mulai tertidur. Aku kelelahan. Aku bertanya-tanya akankah aku bangun lagi?
.
.
.
.
To Be Continue

1 comment:

  1. Wahhh Yun ketagihan bgt kayaknya,,, hhhh
    Masih penasaran ma Boa,, bapaknya si Jae blom pulang juga nihhh
    Masih panjang kah ???
    Lanjutttttttttt

    ReplyDelete