Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
"Whoa, girl," Seok Chun oppa
berkata sambil mengulurkan lengannya untuk menangkapku saat aku menghambur
memasuki dapur.
Sebuah cegukan terlontar dan aku menelan
kembali isakan yang mengikuti.
"Yang terjadi di sana tadi cukup
brutal tapi bisa saja lebih buruk lagi. Setidaknya Yunho datang untuk
menyelamatkan." Seok Chun oppa menepuk pelan punggungku dan memelukku.
Aku tidak menginginkan Seok Chun oppa
mengetahui betapa murahannya diriku. Aku tak mampu mengatakan padanya bahwa
airmata ini disebabkan karena aku adalah rahasia kecil kotor dari seorang pria
kaya raya. Bukan karena gadis jalang yang telah menumpahkan makanan ke seluruh
tubuhku di ruangan yang dipenuhi banyak orang.
"Kembalilah kesana, Hyung. Kita
membutuhkan lebih banyak penyaji di ruangan itu. Aku akan berbicara dengan
Jaejoong," Hyunjoong berkata ketika dia berjalan masuk ke dapur.
Seok Chun oppa memelukku dengan erat sekali
lagi kemudian cemberut pada Hyunjoong sebelum mengambil nampannya dan berjalan
mengarah ke pintu. "Kau bersikap baiklah pada gadisku," Seok Chun
oppa berujar saat dia melewati Hyunjoong.
Hyunjoong tidak menjawab. Malahan dia
mengamatiku. Aku mengira inilah saatnya. Momen besar ‘ini adalah kesalahanmu jadi kau bisa pergi sekarang’.
"Aku telah mengambil resiko
memperingatkanmu mengenai Boa dan itu bahkan bukan merupakan kesalahan Yunho
bahwa seorang gadis jalang pencemburu menyerangmu," Hyunjoong menggeram
dan menggelengkan kepalanya dengan jijik.
"Aku minta maaf, Jae. Semua ini kesalahanku.
Aku tidak mengira dia mampu melakukan ini. Dia adalah mantan pacar tidak waras
yang sepertinya tidak mampu aku goyahkan."
Dia tidak memecatku? Aku bersandar ke meja
dapur di belakangku untuk menghirup napas panjang.
"Akibat drama yang telah terjadi, aku
tak ingin kau kembali kesana. Kau bisa tinggal di sini dan membantu menyiapkan
nampan-nampan saja. Aku akan memastikan kau mendapat jumlah bayaran yang sama
dengan yang kau hasilkan jika kau bekerja di luar."
"Terima kasih. Tapi bolehkah aku
berganti pakaian?" Tanyaku, aku harus menyingkirkan semua kotoran yang
menempel padaku.
Hyunjoong tersenyum, "Ya. Pergi dan
ambillah salah satu pakaian *cart girl dari kantor. Malam ini kita telah
menggunakan seluruh seragam tambahan penyaji."
Aku menegakkan diri dari posisi bersandarku
di meja dapur dan berjalan menuju pintu.
"Tidak usah terburu-buru. Kita akan
baik-baik saja di sini jika kau butuh istirahat." Hyunjoong berseru ketika
aku keluar dari dapur.
Saat aku berjalan keluar, Yunho dan Boa
berdiri di lorong nampaknya sedang dalam adu argumen yang panas. Boa
mengirimkan tatapan sedingin es kearahku. Aku dapat melihat ekspresi frustrasi
di wajah Yunho. Aku hanya menyebabkan kesedihan baginya. Aku tidak mau melihat
kejadian ini. Mereka bisa terlibat dalam perselisihan keluarga namun pada
akhirnya akan menyelesaikannya. Setelah malam ini, aku seharusnya sudah
memiliki cukup uang untuk pindah keluar. Besok aku akan menemukan tempat
tinggal karena tidur seatap dengan Yunho sangat tidak memungkinkan. Aku memutar
dan membuka pintu yang menuju keluar.
"Jae, tunggu," Yunho berseru.
"Biarkan dia pergi, Yunho," ujar
Boa.
"Aku tidak bisa," jawabnya.
Pintu menutup di belakangku dan aku
berusaha menghalangi apa yang mungkin akan kudengar. Aku tidak perlu berpikir
atau bahkan mempertimbangkan bahwa Yunho akan memperjuangkanku.
Pintu mengayun terbuka dan Yunho berlari
keluar dari sana. "Boo, kumohon tunggu. Bicaralah padaku," dia
memohon.
Kuhentikan langkahku dan memandang ketika
dia berlari kencang untuk berdiri di depanku. Tidak ada lagi yang perlu
kukatakan padanya. Aku telah mengatakan semuanya.
"Maafkan aku. Namun kau salah, Aku
tidak mengabaikanmu di sana. Tanyalah pada semua orang. Mataku tidak pernah
lepas darimu. Jika ada pertanyaan dalam benak siapa pun mengenai bagaimana
perasaanku padamu, dengan kenyataan bahwa aku tidak bisa berpaling darimu
selama kau berjalan berkeliling dalam ruangan itu, pasti menjadi
jawabannya," Yunho berhenti sejenak dan mengusap rambutnya lalu
menggumamkan makian.
"Kemudian aku melihat ekspresi wajahmu
ketika kau melihat Junsu bersama Yoochun. Sesuatu di dalam diriku terkoyak. Aku
tidak mengetahui apa yang kau pikirkan tapi aku menyadari kesalahan malam ini.
Kau seharusnya tidak di sana melayani semua orang. Kau semestinya ada di
sisiku. Aku menginginkan kau ada di sisiku. Aku merasa amat gugup menanti siapa
saja yang akan berbuat salah padamu sehingga aku lupa untuk bernapas hampir
sepanjang waktu."
Yunho meraih dan menjalarkan jemarinya pada
tanganku yang terkepal. "Jika kau bisa memaafkanku, aku berjanji hal ini
tidak akan pernah terjadi lagi. Aku menyayangi Boa. Namun aku sudah cukup
berusaha menyenangkannya. Dia adikku dan memiliki beberapa masalah yang harus
dia selesaikan. Aku telah memberitahunya bahwa aku akan bercerita segalanya
padamu. Ada beberapa hal yang harus kukatakan padamu." Yunho memejamkan
matanya dan menarik napas dalam-dalam.
"Aku berurusan dengan fakta bahwa kau
mungkin akan pergi menjauh dariku begitu kau tahu semua permasalahannya dan
tidak akan pernah melihat ke belakang. Hal itu amat sangat menakutkanku. Aku
tak tahu apa yang sedang terjadi diantara kita namun sejak pertama kali aku
menjatuhkan pandangan padamu aku tahu kau akan mengubah duniaku. Aku sempat
ketakutan. Semakin aku memperhatikanmu semakin kau membuatku tertarik. Aku
tidak bisa merasa cukup dekat denganmu."
Dia telah siap membuka diri padaku dan
membiarkanku masuk. Dia tidak hanya memanfaatkanku. Aku bukan hanya gadis
sembarangan lain yang ditidurinya kemudian dia campakkan. Dia telah siap
membiarkanku masuk ke dunianya yang penuh rahasia. Dia ingin memilikiku. Hatiku
telah menyerah. Aku telah berusaha menahan diri dan berjuang keras agar Yunho
tidak mengambil alih. Tetap saja, dia berusaha untuk memilikinya. Melihatnya
sedemikian rapuh merupakan kendali terakhir. Aku tidak mampu menahan diri lagi.
Aku telah terjatuh terlalu dalam.
"Oke," jawabku. Tidak ada lagi
yang harus dikatakan. Dia memilikiku.
Yunho mengernyit. "Oke?"
Aku mengangguk. "Oke. Jika kau memang
sangat ingin memilikiku hingga kau bersedia membuka diri padaku, maka
oke."
Aku
tidak bisa mengatakan bahwa aku mencintainya. Itu terlalu dini. Dia akan
berpikir itu karena aku masih amat muda. Hal itu adalah sesuatu yang aku simpan
hingga tiba waktunya nanti. Mungkin memang karena aku masih amat muda. Aku
merasa tidak ada yang berubah.
Seringaian kecil terbentuk di bibir Yunho.
"Aku baru saja membuka jiwaku padamu dan yang kudapatkan hanya sebuah kata
'oke' ?" tanyanya.
Aku mengendikkan bahu, "Kau telah
mengatakan semua yang ingin aku dengar. Sekarang aku telah terperangkap. Kau
mendapatkanku. Apa yang akan kau lakukan padaku?"
Yunho melepaskan suara tawa rendah yang
seksi dan menarikku untuk mendekat. "Aku berpikir berhubungan seks di
lubang keenam belas yang terletak di samping danau pasti menyenangkan."
Kumiringkan kepalaku seakan aku sedang mempertimbangkannya.
"Hmmm...masalahnya adalah aku seharusnya berganti pakaian dan kembali
bekerja di dapur sepanjang malam."
Yunho menghela napas berat.
"Sial."
Aku mendaratkan ciuman pada rahangnya.
"Kau memiliki seorang adik yang harus kau temani," aku mengingatkannya.
Lengan Yunho mengetat disekelilingku.
"Yang dapat kupikirkan saat ini hanyalah berada di dalam dirimu.
Mendekapmu erat padaku dan mendengarmu mengeluarkan desahan kecil yang
seksi."
Oh. Ya ampun. Degup jantungku meningkat
oleh pemikiran itu.
"Jika saja aku dapat melepaskan dirimu
dengan mudah, aku akan membawamu ke kantor itu dan merapatkanmu ke dinding dan
menenggelamkan diriku didalammu. Namun aku tidak bisa berhubungan seks cepat
denganmu. Kau membuatku sangat kecanduan."
Penjelasannya membuatku sulit bernapas dan
memegang erat bahunya. "Salinlah pakaianmu. Aku akan berdiri di luar sini
agar aku tidak tergoda. Nanti akan kutemani kembali ke dapur." Yunho
berkata saat perlahan melepaskanku.
Aku membutuhkan waktu sejenak untuk
mendapatkan kembali kendali atas diriku sebelum aku melepaskan lengannya. Lalu
aku berbalik dan terburu-buru memasuki kantor.
.
.
.
Aku tidak melihat Yunho lagi setelah dia
meninggalkan aku di pintu dapur dengan ciuman kilat. Malam seakan tak berujung
dan aku kelelahan. Menyiapkan makanan ternyata lebih sulit daripada
kelihatannya. Setelah tempat itu dikosongkan kami kemudian diberi tugas untuk
membersihkan.
Tiga jam kemudian waktu menunjukkan hampir
pukul 4 pagi. Aku melangkah tersaruk-saruk menembus kegelapan dini hari dan
menuju ke arah trukku ada bagian dari diriku mengharapkan Yunho menungguku
namun dia harus tidur di dalam mobilnya jadi itu merupakan hal yang konyol.
Kunyalakan mesin trukku dan mengarah ke
rumah Yunho. Aku tidak perlu kembali bekerja hari ini jadi aku bisa tidur. Aku
pun tidak perlu menemukan apartemen lagi. Ketika aku menepi di jalanan masuk
aku menatap keatas melihat bahwa lampu masih menyala di kamar Yunho. Bagian
atas rumah terlihat terang dibandingkan dengan kegelapan yang menyelimuti sisa
rumah tersebut.
Pintu depan tidak terkunci jadi aku masuk
dan dengan perlahan menutup pintu di belakangku. Aku bertanya-tanya dalam hati
apakah Yunho masih terjaga atau dia tertidur dengan lampu menyala? Apakah aku
harus ke kamarnya atau kamarku?
Aku berjalan menuju ke tangga dan menemukan
Yunho sedang duduk di lantai bersandar pada pintu kamar dan menatap langsung
kearahku. Apa yang sedang ia lakukan?
Ketika matanya menemukan mataku dia berdiri
dan berjalan kearahku. Aku bertemu dengannya di pertengahan jalan. Dia terlihat
putus asa. Aku tidak tahu apa penyebabnya. "Aku membutuhkanmu di atas.
Sekarang," dia berkata dengan suara tegang.
Degup jantungku meningkat. Apakah ada
seseorang yang terluka? Apakah Yunho baik-baik saja?
Aku tergesa-gesa mengikuti di belakangnya.
Dia menutup pintu dan menguncinya. Dia tidak pernah menguncinya. Lalu tiba-tiba
tangannya sudah bergerilya di tubuhku bahkan sebelum kami menaiki tangga.
Itu seperti seolah-olah seorang pria liar
yang telah mengambil alih. Yunho menjalarkan tangannya menuruni pinggulku dan
melewati pantatku kemudian naik lagi. Aku mendengar sebuah kancing terlepas dan
mengerenyit. Itu adalah seragam kerja. Aku mulai bertanya apa yang sedang
terjadi namun mulutnya menutupi mulutku dan lidahnya juga meluncur masuk. Tangannya
menemukan kaitan celana pendekku dan disentakkan untuk dibuka dia mulai
mendorongnya kebawah. Geraman kelaparan kecil yang dibuatnya mengakibatkan
tubuhku bereaksi. Aku mulai merasakan basah diantara kedua kaki dan denyutan
yang mendamba.
Yunho mendorongku terbaring pada tangga dan
menyentak lepas sepatuku serta meloloskan celana pendek beserta celana dalamku
kemudian mencengkeram kedua lututku dan dipisahkannya. Aku tidak sempat
berpikir sebelum mulutnya ada padaku, lidahnya menjilati lipatanku dan
menyelinap kedalam. Akibat seks liar
yang kami lakukan malam sebelumnya kewanitaanku masih sangat sensitif pada
setiap belaian lidahnya. Aku mulai meneriakkan namanya. Menumpu pada sikuku aku
mengamati ketika dia menghujani sepanjang pahaku dengan ciuman kemudian
menguburkan wajahnya diantara kakiku lagi membuatku terengah-engah dan memohon.
"Milikku. Ini milikku," katanya
berulang-ulang seperti pria yang sedang kerasukan saat dia menatap ke arah
kewanitaanku. Dia menjalarkan tangannya ke tengah dengan lembut kemudian
mengalihkan pandangannya langsung ke mataku,
"Milikku. Vagina manis ini adalah milikku, Boo."
Aku siap menyetujui segalanya jika dia
bersedia membuatku mencapai orgasme. Namun pertama-tama aku menginginkan dia
berada di dalamku.
"Katakan bahwa ini milikku,"
pintanya.
Aku mengangguk dan Yunho menyelipkan satu
jari masuk ke dalamku menyebabkan rintihan lain terlepas dari mulutku.
"Katakan bahwa ini milikku," ulangnya.
"Itu milikmu, sekarang kumohon Yunho,
setubuhi aku."
Matanya melebar lalu dia berdiri dan
melepaskan kancing piyama yang dia kenakan. Ereksinya berdiri tegak.
"Malam ini tanpa kondom. Aku akan
ejakulasi di luar. Aku hanya perlu merasakanmu seutuhnya," ujarnya saat
dia menaikkan lututku dan dia menurunkan tubuhnya sehingga penisnya berada di
pintu masukku. Dia tidak menghujamku seperti yang kuperkirakan. Yunho bergerak
dengan pelan.
"Apakah ini menyakitkan?"
tanyanya saat dia menahan tubuhnya di atasku.
Sejujurnya terasa sedikit nyeri namun aku
tidak akan mengakuinya. Aku menginginkannya tanpa kendali. "Ini terasa
nikmat," aku meyakinkan dia.
Dia menggigiti bibir bawahnya dan dengan
perlahan menarik keluar. "Tangga ini terlalu keras untukmu.
Kemarilah." Dia membungkuk dan meraupku ke lengannya dan mulai melangkah
menaiki tangga. Sebelumnya aku tidak
pernah dibopong oleh seorang pria dan dapat kukatakan bahwa ini adalah
pengalaman yang sempurna. Dada telanjang Yunho yang sedang menggendongku luar
biasa.
"Maukah kau melakukan sesuatu
untukku?" dia bertanya sambil menunfukkan kepalanya untuk memberikan
ciuman-ciuman kecil pada hidung dan kelopak mataku.
"Ya," jawabku.
Dia berhenti di samping ranjang dan dengan
perlahan menurunkanku hingga kakiku menyentuh lantai. "Berbalik,
membungkuk dan baringkan dadamu mendatar di tempat tidur. Letakkan tangan
diatas kepalamu dan biarkan pantatmu terangkat di udara."
Um...oke. Aku tidak menanyakan alasannya
karena aku sudah mengerti maksudnya. Tetap menjejakkan kakiku di lantai, aku
membungkuk ke depan dan berbaring di ranjang dengan posisi seperti
permintaannya.
Tangannya merayap diatas pantatku dan dia
mengeluarkan suara puas di dalam tenggorokannya. "Kau memiliki pantat
paling sempurna."
Kedua tangannya berpegangan pada pinggulku
dan perlahan dia memasukiku menarikku mundur saat memasukiku. Dengan posisi ini
dia terkubur jauh lebih dalam. "Yunho!" Aku berteriak ketika
merasakan sekilas rasa nyeri dari kedalaman yang telah dicapainya.
"Sial, aku merasa sangat dalam,"
raungnya.
Lalu dia menarik keluar perlahan dan
pinggulnya mulai bergerak. Aku mencengkeram sprei saat tubuhku mulai mencapai
klimaks. Mengetahui apa yang akan terjadi dan kakiku mulai bergetar dari
kenikmatan yang mulai terbangun di dalam diriku.
Salah satu tangan Yunho menyelip turun
hingga menyentuh klitku yag bengkak dan dia mulai mengusapnya. "Ya Tuhan,
kau basah kuyup," katanya sambil terengah.
Kaki menjadi kaku saat orgasme menyapuku
kemudian aku pun berusaha melepaskan diri karena tak mampu menanggung sensasi
dari Yunho yang masih terus menerus membelaiku. Terlalu banyak kenikmatan
sehingga terasa menyakitkan. Sebelum aku bisa memohon belas kasihan, tangannya
mencengkeram pinggulku dan dia menarik keluar penisnya dengan cepat.
"GAAAAH!" Yunho berteriak saat
aku ambruk ke ranjang mengetahui walaupun aku tidak melihatnya bahwa dia telah
menarik keluar sebelum dia orgasme.
"Sial baby, jika saja kau tahu betapa
menakjubkannya pantatmu terlihat sekarang," ujarnya dengan suara
terengah-engah.
Kuputar kepalaku ke samping karena tidak
sanggup mengangkatnya dan aku memandangnya. "Kenapa?"
Sebuah kekehan rendah menderu dari dalam
dadanya. "Katakan saja aku perlu membesihkanmu."
Kesadaranku muncul dan rasa hangat pada
pantatku yang sebelumnya tidak kuperhatikan tiba-tiba saja mendapat
perhatianku. Sebuah cekikikan terlepas dan kubenamkan wajahku di tanganku.
Aku terbaring disana mendengarkan ketika
dia menyalakan air dan kemudian berjalan kembali kearahku. Kehangatan dari
handuk kecil saat dia menyekaku untuk membersihkan cairan spermanya terasa
menyenangkan dan perlahan aku mulai tertidur. Aku kelelahan. Aku bertanya-tanya
akankah aku bangun lagi?
.
.
.
.
To Be Continue

Wahhh Yun ketagihan bgt kayaknya,,, hhhh
ReplyDeleteMasih penasaran ma Boa,, bapaknya si Jae blom pulang juga nihhh
Masih panjang kah ???
Lanjutttttttttt