Saturday, September 19

[REMAKE] The Violinist Chapter 2 part 2



Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya, dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya. Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e

 Chapter 2b

Yunho pulang ke apartemennya, dia memang punya apartemen pribadinya sendiri jikalau ingin menyepi sendirian.  Ini adalah apartemen lamanya yang tahun kemarin sempat ditinggalkannya begitu lama untuk melarikan diri dari ibunya. Kibum, ibu angkatnya mengejar-ngejarnya untuk segera menikah, dia menawarkan berbagai macam calon isteri untuk Yunho yang tentu saja ditolak Yunho mentah-mentah, dan membuatnya melarikan diri dari rumah dengan alasan pelatihan intensif untuk beberapa lama, padahal Yunho terpaksa menumpang di rumah salah satu sahabatnya.
Untunglah setelah itu Yunho harus segera berangkat ke Austria kali ini benar-benar untuk persiapan konser solo dan sebagai violinist tamu di konser bersama orkestra besar di austria, sehingga membuat ibunya tidak bisa mengejar-ngejarnya lagi.
Ketika Yunho pulang ke negaranya, ibunya sepertinya sudah sadar bahwa sia-sia saja dia mencoba memaksakan Yunho untuk menikah, perempuan yang sangat menyayangi Yunho itu lalu melupakan usahanya, dan membuat Yunho merasa nyaman kembali untuk pulang. Yunho memang sering menghabiskan waktunya di rumah, kadang beberapa hari seminggu dia tidur di sana, tetapi selain itu, dia pulang ke apartemen pribadinya.
Apartemen ini berada di lantai paling atas, sebuah hunian eksklusif yang sangat menjaga privacy, Yunho mengubah seluruh interiornya sendiri, dan memasang dinding kedap suara, yang memungkinkannya berlatih siang malam, tanpa mengganggu orang lain.
Lelaki itu duduk dalam kegelapan, dasinya sudah terlepas dan matanya dingin.
Besok adalah hari audisi. Yunho tak sabar menantinya. Banyak sekali hal-hal baru, bakat-bakat baru yang sebelumnya belum pernah muncul yang bisa ditemukannya di saat audisi, dan Yunho tentunya akan memilih yang terbaik.
Karena dia hanya mau melatih yang terbaik.
.
.
.
"Ayo cepat."
Changmin berlari-lari kecil menuju ruangan aula besar akademi, tempat audisi berlangsung, sementara Jaejoong mengikutinya, sama-sama panik. Kemarin mereka mendapatkan pemberitahuan bahwa mereka berdua termasuk salah satu dari dua ratus peserta audisi yang beruntung. Dan sekarang mereka hampir terlambat karena mobil mereka terjebak macet dan sempat membuat panik karena takut kehilangan kesempatan. Tetapi untunglah Changmin menemukan jalan tikus yang meskipun sempit tapi lancar, dan membuat mereka hanya terlambat beberapa menit.
Ketika mereka sampai di pintu aula, suara alunan biola sudah terdengar. Berarti audisi sudah dimulai. Untunglah panitia audisi masih ada di depan pintu sehingga Changmin dan Jaejoong bisa mendapatkan nomor audisi, meskipun mereka harus mendapatkan nomor terakhir untuk hari ini.
Satu orang mendapatkan jatah waktu hanya tiga menit untuk memainkan bagian lagu yang telah mereka pilih, memamerkan bakatnya sebaik mungkin. Sementara itu, Yunho beserta dua mentor senior di akademi, duduk diam dan mendengarkan di sebuah kursi yang telah disediakan di sudut depan aula, tepat di depan peserta audisi dan tampak mengintimidasi
Para peserta lain yang mengantri tampak menunggu dengan sabar di kursi-kursi yang telah disediakan dan terisi penuh sehingga beberapa harus berdiri di sisi samping aula, semua menunggu dengan setia berharap menjadi peserta yang beruntung.
Jaejoong dan Changmin akhirnya bisa mendapatkan posisi berdiri di samping yang paling dekat dengan bagian depan aula. Mata Jaejoong melirik ke arah Yunho yang duduk dengan tenang di kursinya, tampak luar biasa tampan dengan celana jeans dan kemeja hitamnya. Mata lelaki itu serius, tanpa ekspresi sehingga tidak bisa terbaca apakah dia menyukai permainan biola yang dimainkan oleh salah satu peserta di depannya atau tidak. Di tangannya ada kertas, kadang-kadang lelaki itu mencatatkan sesuatu di sana.
Jaejoong melirik beberapa peserta perempuan lain di sekitarnya, mereka semua sama, tampak begitu terpesona akan ketampanan Yunho. Bahkan kemudian Changmin menyenggolnya dan tersenyum,
"Dia luar biasa tampan bukan?"
Changmin bergumam menggoda, membuat pipi Jaejoong memerah. Ya. Yunho memang luar biasa tampan, tetapi bagi Jaejoong, tidak ada lelaki yang setampan Changmin di dunia ini.
"Bermain di depannya terasa sangat mengintimidasi." sambung Changmin sambil mendesah.
"Apalagi kita tidak pernah bisa membaca apa yang ada di balik tatapan mata dinginnya itu. Dua kali kemarin aku gagal sepertinya lebih karena gugup, semoga sekarang ada kesempatan untukku."
Jaejoong tersenyum dan menyentuh lengan Changmin dengan sayang,
"Kau pasti berhasil Changmin, dan kali ini jangan gugup. Aku akan mendoakanmu."
.
.
.
Malam sudah menjelang, tetapi dua ratus siswa itu tampak setia, belum ada satupun yang pulang. Karena hasil audisi akan diumumkan sendiri oleh Yunho setelah proses audisi selesai. Sudah tinggal beberapa peserta yang maju. Dan kemudian giliran Changmin.
Changmin tampak begitu tampan dengan kemeja birunya yang tampak sesuai dengan rambutnya yang kecoklatan. Lelaki itu menghela napas panjang, dan kemudian memainkan biolanya. Alunan musik nan merdu langsung mengalun di seluruh penjuru aula. Dan Jaejoong menatap lelaki itu dengan kagum. Changmin tampak begitu tampan, seperti pangeran yang memainkan biola untuk kekasihnya.
Perasaan Jaejoong dipenuhi dengan cinta. Alunan musik yang dimainkan oleh Changmin begitu menghangatkan hati, membuat mata Jaejoong berkaca-kaca. Teknik Changmin tidak dipertanyakan lagi, begitu sempurna dan luar biasa. Bakat itu memang ada di diri lelaki yang dipujanya itu.
Ketika Changmin selesai, beberapa siswa bahkan ada yang tak bisa menahan diri untuk bertepuk tangan, dan Jaejoong memandang penuh harap ke wajah Yunho. Lelaki itu masih memasang wajah tanpa ekspresi. Jaejoong langsung harap-harap cemas, dia berdoa sepenuh hati agar kali ini Changmin lolos. Ini adalah kesempatan terakhir Changmin karena dia sudah berusia dua puluh tahun. Changmin akan sangat kecewa kalau gagal di kesempatan terakhirnya ini. Dan Jaejoong tidak akan tahan melihat Changmin kecewa.
Setelah Changmin membungkuk ke arah Yunho dan dua mentor senior akademi yang berada di depannya, dia berlari-lari kecil ke arah Jaejoong yang menunggu di bagian samping tempat duduk.
"Bagaimana permainanku tadi?"
Wajah Changmin tampak berseri-seri hingga mau tak mau membuat Jaejoong tersenyum lebar.
"Bagus sekali Changmin ah. Kau memainkannya dengan sempurna!"
Jaejoong menjawab sambil tertawa, ketika Changmin memeluknya layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
Peserta nomor terakhir dipanggil, dan itu nomor Jaejoong. Changmin mengacak rambut Jaejoong dengan sayang,
"Ayo Jaejoong, bersemangatlah!" gumamnya riang, menepuk pundak Jaejoong hangat sebelum Jaejoong melangkah ke depan.
Jaejoong berjalan dengan tenang dan tanpa beban, meskipun dia merasa semua mata peserta memandang ke arahnya. Ini adalah audisi perdananya dan ternyata beginilah rasanya bermain di hadapan banyak orang. Dia menghela napas panjang, yah dia akan bermain sesuai kemampuannya. Lagipula dia datang kemari tanpa beban, dia hanya ingin bersama Changmin. Dan kalaupun nanti dia tidak lolos, dia sudah cukup bahagia jika bisa melihat Changmin lolos.
Jaejoong berdiri di tengah ruangan, menghela napas panjang, memasang biolanya di pundaknya dan kemudian menggesekknya.
.
.
.
Hari hampir menjelang malam, dan Yunho lelah. Dia juga bosan. Telinganya terasa berdenging mendengarkan permainan biola ratusan siswa-siswa yang antusias. Dan kebosanannya muncul karena banyak sekali siswa yang memilih lagu yang sama, jenis musik populer karya Mozart seperti symphony 35 atau 40 yang paling sering dimainkan. Mungkin mereka semua sengaja memilih musik populer agar lebih familiar di telinganya. Tetapi Yunho tidak butuh yang familiar, dia butuh sesuatu yang berbeda, sesuatu yang istimewa.
Ada beberapa siswa yang istimewa tentu saja, dan Yunho sudah mencatat mereka di lembar kertasnya. Ketika peserta terakhir dipanggil, Yunho sudah skeptis. Tinggal satu lagi, dan dia bisa membuat pengumuman kemudian pulang untuk beristirahat.
Kemudian matanya menatap peserta terakhir yang melangkah seperti tanpa beban ke depan mereka. Itu anak kecil itu... oh bukan, itu perempuan itu. Yunho mengoreksi dalam hati sambil duduk tegak di kursinya.
Apakah dia juga seorang pemain biola?
Yunho menatap perempuan itu dengan tertarik. Sekarang setelah melihat lebih seksama, Yunho sadar bahwa perempuan itu memang bukan anak kecil. Dengan gaun warna putihnya yang melebar di bagian bawah, dan berkibar setiap dia bergerak, dia tampak cantik dan menawan, berbeda dengan celana pendek serta t-shirt kebesaran yang dulu dipakainya di pertemuan tanpa sengaja mereka. Gaun itu menunjukkan lekuk tubuhnya, lekuk tubuh perempuan yang beranjak dewasa - meskipun tentu saja Yunho tidak tertarik untuk merayu perempuan yang jelas-jelas lebih muda ini, dia bilang usianya delapan belas tahun, berarti perempuan ini delapan tahun lebih muda darinya. Yunho lebih suka berpacaran dengan perempuan yang sudah matang. Perempuan ini jelas jauh sekali dibawah kriterianya, masih remaja, ditambah lagi penampilannya seperti anak kecil. Yunho sudah mencoret perempuan itu sejak awal dari daftar korbannya.
Kalau begitu kenapa dia terus menerus memikirkannya? 
Yunho mengernyit, membuat gerakan mencoret tanpa sadar di kertas yang dipegangnya. Dia melirik daftar musik yang akan dimainkan oleh peserta audisi. Peserta nomor dua ratus, namanya Jaejoong - Yunho mencatat dalam hati, Jaejoong memilih memainkanTchaikovsky, Violin Concerto in D major Op.35. Pilihan yang tidak biasa untuk siswa semuda itu. Yunho menatap tajam, tertarik.
Lalu perempuan itu menghela napas panjang, meletakkan biola di pundaknya dan menggeseknya. Seketika itu juga, alunan musik yang indah, membahana memenuhi aula.
.
.
.
.
Bersambung ke part 3

2 comments:

  1. Wah, Yunho mulai tertarik dengan Jaejoong. Hihihihi~
    Gak sabar baca chapter 3

    ReplyDelete
  2. Jj yg mau tampil didepan yunho, aku yg deg2an rasanya.
    Kira2 Jj bakalan lolos audisi ga ya??

    ReplyDelete