Summary: Jung Yunho, violin jenius, tampan, kaya,
dan sangat mempesona memiliki pengalaman buruk dimasa lalu. Dia disakiti oleh
wanita terdekatnya. Dipisahkan dari appa dan dongsaengnya untuk kemudian
dibuang hanya demi uang. Semenjak itu dia sangat membenci mahluk yang bernama
perempuan. Dia akan menyakiti perempuan untuk membalaskan dendam masa lalunya.
Hingga hadir seorang yang menariknya untuk perduli, dan tanpa disadarinya cinta
mulai membayangi kehidupan mereka.
The Violinist
Remake from Santhy Agatha Novel
Jung Yunho, Kim Jaejoong, Go Ahra, Shim
Changmin, dan lainnya milik diri mereka sendiri
By Kitahara Saki/7ec4df8e
Chapter 2b
Yunho pulang ke apartemennya, dia
memang punya apartemen pribadinya sendiri jikalau ingin menyepi
sendirian. Ini adalah apartemen lamanya yang tahun kemarin sempat
ditinggalkannya begitu lama untuk melarikan diri dari ibunya. Kibum, ibu
angkatnya mengejar-ngejarnya untuk segera menikah, dia menawarkan berbagai
macam calon isteri untuk Yunho yang tentu saja ditolak Yunho mentah-mentah, dan
membuatnya melarikan diri dari rumah dengan alasan pelatihan intensif untuk
beberapa lama, padahal Yunho terpaksa menumpang di rumah salah satu sahabatnya.
Untunglah setelah itu Yunho harus
segera berangkat ke Austria kali ini benar-benar untuk persiapan konser solo
dan sebagai violinist tamu di konser bersama orkestra besar di
austria, sehingga membuat ibunya tidak bisa mengejar-ngejarnya lagi.
Ketika Yunho pulang ke negaranya,
ibunya sepertinya sudah sadar bahwa sia-sia saja dia mencoba memaksakan Yunho
untuk menikah, perempuan yang sangat menyayangi Yunho itu lalu melupakan
usahanya, dan membuat Yunho merasa nyaman kembali untuk pulang. Yunho memang
sering menghabiskan waktunya di rumah, kadang beberapa hari seminggu dia tidur
di sana, tetapi selain itu, dia pulang ke apartemen pribadinya.
Apartemen ini berada di lantai
paling atas, sebuah hunian eksklusif yang sangat menjaga privacy, Yunho
mengubah seluruh interiornya sendiri, dan memasang dinding kedap suara, yang
memungkinkannya berlatih siang malam, tanpa mengganggu orang lain.
Lelaki itu duduk dalam kegelapan,
dasinya sudah terlepas dan matanya dingin.
Besok adalah hari audisi. Yunho
tak sabar menantinya. Banyak sekali hal-hal baru, bakat-bakat baru yang
sebelumnya belum pernah muncul yang bisa ditemukannya di saat audisi, dan Yunho
tentunya akan memilih yang terbaik.
Karena
dia hanya mau melatih yang terbaik.
.
.
.
"Ayo cepat."
Changmin berlari-lari kecil
menuju ruangan aula besar akademi, tempat audisi berlangsung, sementara Jaejoong
mengikutinya, sama-sama panik. Kemarin mereka mendapatkan pemberitahuan
bahwa mereka berdua termasuk salah satu dari dua ratus peserta audisi yang
beruntung. Dan sekarang mereka hampir terlambat karena mobil mereka terjebak
macet dan sempat membuat panik karena takut kehilangan kesempatan. Tetapi
untunglah Changmin menemukan jalan tikus yang meskipun sempit tapi lancar, dan
membuat mereka hanya terlambat beberapa menit.
Ketika mereka sampai di pintu
aula, suara alunan biola sudah terdengar. Berarti audisi sudah dimulai.
Untunglah panitia audisi masih ada di depan pintu sehingga Changmin dan Jaejoong
bisa mendapatkan nomor audisi, meskipun mereka harus mendapatkan nomor terakhir
untuk hari ini.
Satu orang mendapatkan jatah
waktu hanya tiga menit untuk memainkan bagian lagu yang telah mereka pilih,
memamerkan bakatnya sebaik mungkin. Sementara itu, Yunho beserta dua
mentor senior di akademi, duduk diam dan mendengarkan di sebuah kursi yang
telah disediakan di sudut depan aula, tepat di depan peserta audisi dan tampak
mengintimidasi
Para peserta lain yang mengantri
tampak menunggu dengan sabar di kursi-kursi yang telah disediakan dan terisi
penuh sehingga beberapa harus berdiri di sisi samping aula, semua menunggu
dengan setia berharap menjadi peserta yang beruntung.
Jaejoong dan Changmin akhirnya
bisa mendapatkan posisi berdiri di samping yang paling dekat dengan bagian
depan aula. Mata Jaejoong melirik ke arah Yunho yang duduk dengan tenang di
kursinya, tampak luar biasa tampan dengan celana jeans dan kemeja hitamnya.
Mata lelaki itu serius, tanpa ekspresi sehingga tidak bisa terbaca apakah dia
menyukai permainan biola yang dimainkan oleh salah satu peserta di depannya
atau tidak. Di tangannya ada kertas, kadang-kadang lelaki itu mencatatkan
sesuatu di sana.
Jaejoong melirik beberapa peserta
perempuan lain di sekitarnya, mereka semua sama, tampak begitu terpesona akan
ketampanan Yunho. Bahkan kemudian Changmin menyenggolnya dan tersenyum,
"Dia luar biasa tampan
bukan?"
Changmin bergumam menggoda,
membuat pipi Jaejoong memerah. Ya. Yunho memang luar biasa tampan, tetapi bagi Jaejoong,
tidak ada lelaki yang setampan Changmin di dunia ini.
"Bermain di depannya terasa
sangat mengintimidasi." sambung Changmin sambil mendesah.
"Apalagi kita tidak pernah
bisa membaca apa yang ada di balik tatapan mata dinginnya itu. Dua
kali kemarin aku gagal sepertinya lebih karena gugup, semoga sekarang ada
kesempatan untukku."
Jaejoong tersenyum dan menyentuh
lengan Changmin dengan sayang,
"Kau pasti berhasil Changmin,
dan kali ini jangan gugup. Aku akan mendoakanmu."
.
.
.
Malam sudah menjelang, tetapi dua
ratus siswa itu tampak setia, belum ada satupun yang pulang. Karena hasil audisi
akan diumumkan sendiri oleh Yunho setelah proses audisi selesai. Sudah tinggal
beberapa peserta yang maju. Dan kemudian giliran Changmin.
Changmin tampak begitu tampan
dengan kemeja birunya yang tampak sesuai dengan rambutnya yang kecoklatan.
Lelaki itu menghela napas panjang, dan kemudian memainkan biolanya. Alunan
musik nan merdu langsung mengalun di seluruh penjuru aula. Dan Jaejoong menatap
lelaki itu dengan kagum. Changmin tampak begitu tampan, seperti pangeran yang
memainkan biola untuk kekasihnya.
Perasaan Jaejoong dipenuhi dengan
cinta. Alunan musik yang dimainkan oleh Changmin begitu menghangatkan hati,
membuat mata Jaejoong berkaca-kaca. Teknik Changmin tidak dipertanyakan lagi,
begitu sempurna dan luar biasa. Bakat itu memang ada di diri lelaki yang
dipujanya itu.
Ketika Changmin selesai, beberapa
siswa bahkan ada yang tak bisa menahan diri untuk bertepuk tangan, dan Jaejoong
memandang penuh harap ke wajah Yunho. Lelaki itu masih memasang wajah tanpa
ekspresi. Jaejoong langsung harap-harap cemas, dia berdoa sepenuh hati agar
kali ini Changmin lolos. Ini adalah kesempatan terakhir Changmin karena
dia sudah berusia dua puluh tahun. Changmin akan sangat kecewa kalau gagal di
kesempatan terakhirnya ini. Dan Jaejoong tidak akan tahan melihat Changmin
kecewa.
Setelah Changmin membungkuk ke
arah Yunho dan dua mentor senior akademi yang berada di depannya, dia
berlari-lari kecil ke arah Jaejoong yang menunggu di bagian samping tempat
duduk.
"Bagaimana permainanku
tadi?"
Wajah Changmin tampak
berseri-seri hingga mau tak mau membuat Jaejoong tersenyum lebar.
"Bagus sekali Changmin ah.
Kau memainkannya dengan sempurna!"
Jaejoong menjawab sambil tertawa,
ketika Changmin memeluknya layaknya seorang kakak terhadap adiknya.
Peserta nomor terakhir dipanggil,
dan itu nomor Jaejoong. Changmin mengacak rambut Jaejoong dengan sayang,
"Ayo Jaejoong,
bersemangatlah!" gumamnya riang, menepuk pundak Jaejoong hangat
sebelum Jaejoong melangkah ke depan.
Jaejoong berjalan dengan tenang
dan tanpa beban, meskipun dia merasa semua mata peserta memandang ke arahnya.
Ini adalah audisi perdananya dan ternyata beginilah rasanya bermain di hadapan
banyak orang. Dia menghela napas panjang, yah dia akan bermain sesuai
kemampuannya. Lagipula dia datang kemari tanpa beban, dia hanya ingin bersama Changmin.
Dan kalaupun nanti dia tidak lolos, dia sudah cukup bahagia jika bisa melihat Changmin
lolos.
Jaejoong berdiri di tengah
ruangan, menghela napas panjang, memasang biolanya di pundaknya dan kemudian
menggesekknya.
.
.
.
Hari hampir menjelang malam, dan Yunho
lelah. Dia juga bosan. Telinganya terasa berdenging mendengarkan permainan
biola ratusan siswa-siswa yang antusias. Dan kebosanannya muncul karena banyak
sekali siswa yang memilih lagu yang sama, jenis musik populer karya Mozart
seperti symphony 35 atau 40 yang paling sering dimainkan.
Mungkin mereka semua sengaja memilih musik populer agar lebih familiar di
telinganya. Tetapi Yunho tidak butuh yang familiar, dia butuh sesuatu yang
berbeda, sesuatu yang istimewa.
Ada beberapa siswa yang istimewa
tentu saja, dan Yunho sudah mencatat mereka di lembar kertasnya. Ketika peserta
terakhir dipanggil, Yunho sudah skeptis. Tinggal satu lagi, dan dia bisa
membuat pengumuman kemudian pulang untuk beristirahat.
Kemudian matanya menatap peserta
terakhir yang melangkah seperti tanpa beban ke depan mereka. Itu anak kecil
itu... oh bukan, itu perempuan itu. Yunho mengoreksi dalam hati sambil duduk
tegak di kursinya.
Apakah
dia juga seorang pemain biola?
Yunho menatap perempuan itu
dengan tertarik. Sekarang setelah melihat lebih seksama, Yunho sadar bahwa
perempuan itu memang bukan anak kecil. Dengan gaun warna putihnya yang melebar
di bagian bawah, dan berkibar setiap dia bergerak, dia tampak cantik dan menawan,
berbeda dengan celana pendek serta t-shirt kebesaran yang dulu dipakainya di
pertemuan tanpa sengaja mereka. Gaun itu menunjukkan lekuk tubuhnya, lekuk
tubuh perempuan yang beranjak dewasa - meskipun tentu saja Yunho tidak tertarik
untuk merayu perempuan yang jelas-jelas lebih muda ini, dia bilang usianya
delapan belas tahun, berarti perempuan ini delapan tahun lebih muda darinya. Yunho
lebih suka berpacaran dengan perempuan yang sudah matang. Perempuan ini jelas
jauh sekali dibawah kriterianya, masih remaja, ditambah lagi penampilannya
seperti anak kecil. Yunho sudah mencoret perempuan itu sejak awal dari
daftar korbannya.
Kalau
begitu kenapa dia terus menerus memikirkannya?
Yunho mengernyit, membuat gerakan
mencoret tanpa sadar di kertas yang dipegangnya. Dia melirik daftar musik yang
akan dimainkan oleh peserta audisi. Peserta nomor dua ratus, namanya Jaejoong -
Yunho mencatat dalam hati, Jaejoong memilih memainkanTchaikovsky, Violin
Concerto in D major Op.35. Pilihan yang tidak biasa untuk siswa semuda itu.
Yunho menatap tajam, tertarik.
Lalu perempuan itu menghela napas
panjang, meletakkan biola di pundaknya dan menggeseknya. Seketika itu juga,
alunan musik yang indah, membahana memenuhi aula.
.
.
.
.
Bersambung
ke part 3

Wah, Yunho mulai tertarik dengan Jaejoong. Hihihihi~
ReplyDeleteGak sabar baca chapter 3
Jj yg mau tampil didepan yunho, aku yg deg2an rasanya.
ReplyDeleteKira2 Jj bakalan lolos audisi ga ya??