Sunday, September 20

[REMAKE] The Untittled Story Chapter XXIII



Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Chapter 23
Aku sendirian. Aku melindungi mata dari sinar matahari pagi dan melihat ke sekeliling ruangan. Yunho tidak ada di sini. Itu mengejutkan. Aku duduk dan melihat jam. Hampir pukul sepuluh. Tidak heran dia tidak di sini. Aku tidur sepanjang pagi. Hari ini kami harus berbicara. Dia telah membiarkanku masuk. Semalam kami melakukan hubungan seks yang menakjubkan. Aku butuh kata-kata sekarang.
Aku berdiri dan menemukan celana pendekku tergeletak di ujung tempat tidur. Yunho pasti membawanya ke lantai atas karena seingatku tadi malam aku meninggalkan itu di tangga tadi. Aku mengenakannya dan kemudian mencari-cari kemejaku. Salah satu t-shirt Yunho terlipat rapi di samping celana pendekku jadi aku langsung memakainya dan menuju lantai bawah. Aku sudah siap untuk menemui Yunho.
Pintu lorong di sisi keluarga terbuka. Aku membeku. Apa artinya? Mereka selalu tertutup. Lalu aku mendengar suara-suara. Aku berjalan menuju tangga kedua dan mendengarkan. Suara akrab ayahku terdengar melalui tangga dari ruang tamu. Dia sudah pulang.
Aku mengambil langkah pertama dan berhenti. Bisakah aku menghadapinya? Akankah dia menyuruhku pergi? Apakah dia tahu aku telah tidur dengan Yunho? Akankah Boa akan membuat ibunya membenciku juga? Aku tidak punya waktu untuk memikirkan semua ini.
Ayahku menyebut namaku dan aku tahu bahwa harus turun ke sana dan menghadapi ini. Apapun yang akan terjadi. Aku memaksa diriku turun setiap langkah. Aku berhasil menyeberangi foyer dan berhenti setelah aku bisa mendengar mereka dengan jelas. Aku harus tahu dengan jelas apa yang sedang dibicarakan.
“Aku tidak percaya, Yunho. Apa yang kau pikirkan? Kau tahu siapa dia? Apa artinya ia bagi keluarga ini?" Itu ibunya berbicara. Aku tidak pernah bertemu dengannya tapi aku tahu.
“Kau tidak bisa melimpahkan semua tanggung jawab padanya. Pada saat itu dia bahkan belum lahir. Ibu tidak tahu apa yang telah ia lalui. Apa yang telah DIA lakukan padanya untuk dilalui." Yunho murka.
Aku mulai berjalan ke pintu tapi berhenti sejenak. Tunggu. Apa arti diriku dalam keluarga ini? Siapa yang mereka bicarakan?
"Jangan merasa tinggi dan hebat. Kau adalah orang yang pergi dan mengantarkannya untukku. Jadi apa pun yang dia lakukan untuk dilaluinya," bentaknya, "kau yang memulai semuanya. Kemudian kau menidurinya? Sungguh Yunho. Ya Tuhan apa yang kau pikirkan? Kau sama seperti ayahmu."
Aku mengulurkan tangan untuk meraih kusen pintu untuk bersandar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tapi napasku menjadi pendek. Aku bisa merasakan panik tumbuh di dadaku.
"Ingat siapa pemilik rumah ini, eomma," peringatan Yunho sangat jelas.
Ibunya mengeluarkan suara decakan yang nyaring. "Bisakah kau percaya ini? Dia melawanku demi seorang gadis yang baru saja ditemuinya. Siwon, kau harus melakukan sesuatu."
Hening. Lalu ayahku berdeham. "Ini rumahnya, Heechul. Aku tidak bisa memaksa dia untuk melakukan apa pun. Seharusnya aku dapat menduganya. Dia begitu mirip ibunya."
"Apa maksudnya?" Raung wanita itu.
Ayahku mendesah," Kita sudah melalui ini sebelumnya. Alasan aku meninggalkanmu untuknya karena dia punya sisi itu yang menarikku padanya. Aku tidak bisa melepaskannya-"
"Aku TAHU itu. Aku tidak ingin mendengarnya lagi. Kau sangat menginginkannya sehingga kau meninggalkan aku yang sedang hamil dengan setumpuk undangan pernikahan yang dibatalkan."
“Heenim, tenanglah. Aku mencintaimu. Aku hanya menjelaskan bahwa Jaejoong memiliki kharisma ibunya. Tidak mungkin untuk tidak merasa tertarik padanya. Dan dia juga "buta" seperti ibunya. Dia tidak bisa menahannya."
"ARGH, kapankah perempuan itu akan meninggalkan aku? Apakah dia akan selalu menghancurkan hidupku? Dia telah meninggal dunia. namja yang kucintai akhirnya kembali dan uri adeul akhirnya memiliki abojinya dan sekarang ini. Kau tidur dengan dia, yeoja ini!"
Tubuhku mati rasa. Aku tidak mampu bergerak. Aku tidak bisa menarik napas dalam-dalam. Aku masih bermimpi. Itu yang terjadi. Aku belum terbangun. Aku memejamkan mata kuat-kuat memaksa diri untuk bangun dari mimpi yang gila dan membingungkan ini.
"Satu kata lagi tentang dia dan aku akan mengusirmu keluar." Nada Yunho dingin dan keras.
"Heenim, honey, tenanglah. Jaejoong adalah gadis yang baik. Dia berada di sini bukanlah akhir dari dunia. Dia membutuhkan tempat tinggal. Aku sudah menjelaskannya kepadamu. Aku tahu kau benci Kibum tapi dia dulu adalah sahabat terdekatmu. Kalian berdua telah bersahabat sejak kalian masih anak-anak. Sampai aku datang dan merusak hubungan kalian berdua yang sudah seperti saudara. Ini adalah putrinya. Berbelas kasihanlah sedikit."
Tidak. TIDAK. Tidak. Tidak. Tidak. Aku tidak hanya mendengarnya. Ini tidak nyata. Ibuku tidak akan pernah menghancurkan pernikahan seseorang. Dia tidak akan membuat ayahku seseorang yang meninggalkan seorang wanita yang sedang mengandung anaknya. Ibuku adalah seorang wanita penuh kasih sayang. Dia tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi. Aku tidak bisa berdiri di sini dan mendengarkan mereka berbicara tentang hal itu. Mereka semua salah. Mereka tidak mengenalnya. Ayahku telah pergi begitu lama sehingga ia lupa apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melepaskan pegangan eratku pada kusen pintu dan berjalan ke ruang dimana mereka mempermalukan nama ibuku.
"TIDAK! Diam kalian semua," aku berteriak.
Ruangan itu menjadi hening. Aku melihat ke arah ayahku dan meningkatkan level tatapan marahku padanya. Tidak ada orang lain di sini yang penting sekarang. Bukan wanita yang terus mengumbar kebohongan tentang ibuku atau orang yang kupikir aku cintai. Seseorang yang telah kupersembahkan tubuhku. Orang yang telah membohongiku.
"Boo," suara Yunho terdengar jauh. Aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya. Aku tidak ingin dia dekat denganku.
"Kau," aku menunjuk jariku pada ayahku. "Kau membiarkan mereka berbohong tentang ibuku," aku berteriak. Aku tidak peduli jika aku tampak seperti orang gila. Aku benci mereka semua sekarang.
"Jae biarkan aku menjelaskan-"
"TUTUP MULUT!" Aku meraung. "Dongsaengku, separuh diriku, meninggal. Dia meninggal, appa. Dalam mobil dalam perjalanan menuju toko bersamamu. Rasanya seperti jiwaku telah direnggut dari diriku dan terbelah menjadi dua. Kehilangan dia sangat tak tertahankan. Aku melihat eommaku meratap dan menangis dan berkabung dan kemudian aku melihat appaku berjalan pergi. Tidak pernah kembali. Sementara putrinya dan istrinya berusaha untuk mengumpulkan serpihan dunia mereka tanpa Jaekyung di dalamnya. Kemudian ibuku jatuh sakit. Aku meneleponmu tapi kau tidak menjawab. Jadi, aku melakukan pekerjaan tambahan sepulang sekolah dan aku mulai melakukan pembayaran untuk perawatan medis eomma. Aku tidak melakukan apapun selain merawat eomma dan pergi ke sekolah. Kecuali sewaktu aku di SMA, dia sakit parah sehingga aku harus drop out. Aku mengambil GED*) dan sampai disana pendidikanku terhenti. Karena satu-satunya orang di planet ini yang mencintaiku sedang sekarat disaat aku hanya bisa duduk dan melihatnya dengan pasrah. Aku memegang tangannya saat dia menghembuskan napas terakhirnya. Aku mengatur pemakamannya. Aku melihat mereka menurunkan dia ke tanah. Kau tidak pernah sekalipun menghubungi. Tidak sekalipun. Lalu aku harus menjual rumah peninggalan halmonie dan segala sesuatu yang bernilai di dalamnya hanya untuk melunasi tagihan medis." Aku berhenti dan mengambil napas terengah-engah dengan keras dan isakan lolos dariku.
Dua lengan memelukku dan aku berteriak, menghentakkan lenganku dan bergerak menjauh. "JANGAN SENTUH AKU!" Aku tidak ingin dia menyentuhku. Dia telah berbohong kepadaku. Dia tahu ini dan ia telah berbohong kepadaku.
“Sekarang aku dipaksa untuk mendengarmu berbicara tentang eommaku yang suci. Kau dengar aku? Dia adalah seorang yang suci! Kalian semua adalah pembohong. Jika ada orang yang bersalah penyebab semua omong kosong yang terdengar mengalir keluar dari mulutmu itu adalah dia."Aku menunjuk ayahku. Aku tidak bisa menyebutnya itu lagi. Tidak sekarang. 
"Dia adalah pembohongnya. Dia bahkan tidak layak menjadi kotoran di bawah kakiku. Jika Boa adalah putrinya. Jika Anda pada saat itu sedang hamil." Aku mengalihkan tatapanku kepada wanita yang belum pernah kulihat sebelumnya dan kata-kata membeku di bibirku. Aku ingat dia. Aku terhuyung kembali dan menggeleng. Tidak. Ini bukanlah seperti yang terlihat.
"Siapa kau?" Tanyaku saat kenangan akan wajah itu perlahan-lahan kembali ke ingatanku.
"Berhati-hatilah dalam menjawab," suara Yunho tegang berasal dari belakang ku. Dia masih berada di dekatku.
Matanya bergeser dariku kepada ayahku kemudian kembali lagi ke aku. "Kau tahu siapa aku Jae. Kita pernah bertemu sebelumnya."
"Kau pernah datang ke rumahku. Kau...kau membuat ibuku menangis."
Wanita itu memutar matanya.
"Peringatan terakhir, ibu," kata Yunho.
"Boa ingin bertemu appanya. Jadi aku membawanya kesana. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga kecilnya yang bahagia dengan putri kembarnya yang cantik yang ia cintai dan seorang istri yang sempurna. Aku lelah harus memberitahu putriku jika dia tidak punya appa. Dia tahu dia memilikinya. Jadi aku menunjukkan padanya apa yang appanya pilih dan itu bukan dia. Dia tidak pernah bertanya lagi tentang dia lagi sampai jauh di kemudian hari."
Gadis cilik seusiaku yang berdiri menggenggam erat tangan ibunya dan memperhatikanku saat aku berdiri di pintu. Itu adalah Boa. Perutku bergolak. Apa yang telah ayahku lakukan?
"BooJae, kumohon tataplah aku."
Suara Yunho yang putus asa datang dari arah belakangku, tapi aku tidak bisa mengenalinya. Dia tahu semua ini. Ini adalah rahasia besar Boa. Dia telah melindunginya untuk Boa. Apakah dia tidak melihat ini adalah rahasiaku juga? Dia adalah ayahku dan aku tahu apa-apa. Kata-kata Hyunjoong berdering di kepalaku. ‘Jika dia harus memilih antara Kau dan Boa ia akan memilih Boa.’
Pada saat itu dia tahu bahwa Yunho telah memilih Boa. Semua orang di kota ini tahu rahasia ini kecuali aku. Mereka semua tahu siapa aku namun aku sendiri tidak tahu.
"Aku bertunangan dengan Heechul. Dia hamil Boa. Eommamu datang mengunjunginya. Dia seperti tidak ada yang pernah kutemui. Dia adalah candu untukku. Aku tidak bisa menjauh darinya. Heechul masih melekat pada Yukihiro, dan Yunho masih mengunjungi abojinya setiap akhir pekan dua minggu sekali. Aku harap Heechul bersama dengan Hiro di menit ia memutuskan ingin memiliki sebuah keluarga. Aku bahkan tidak yakin Boa adalah milikku. Eommamu lugu dan menyenangkan. Dia sama sekali tidak tergila-gila ataupun tertarik ada idola dan dia membuatku tertawa. Aku mengejar dia dan dia mengabaikanku. Lalu aku berbohong padanya. Aku bilang padanya Heechul sedang mengandung anak Hiro yang lain. Dia merasa kasihan padaku. Aku entah bagaimana pada akhirnya meyakinkan dia untuk melarikan diri denganku. Untuk membuang persahabatan yang telah ia memiliki selama hidupnya."
Aku menekankan kedua tanganku di telinga untuk memblokir kata-kata ayahku. Aku tidak bisa mendengarkan ini. Itu semua kebohongan. Ini dunia yang memuakkan dimana mereka tinggal itu bukan untukku. Aku ingin pulang ke rumah. Kembali ke Gongju. Kembali ke apa yang aku mengerti. Dimana uang dan idola bukanlah segalanya. 
"Berhenti. Aku tidak ingin mendengarnya. Aku hanya ingin mengumpulkan barang-barangku. Aku hanya ingin pergi."
Isak tangis yang keluar tidak bisa dibendung lagi. Duniaku dan apa yang aku tahu baru saja hancur berkeping-keping. Aku harus pergi duduk di samping makam ibuku dan berbicara dengannya. Aku ingin pulang ke rumah.
“Baby, bicaralah padaku, kumohon." ujar Yunho dari belakangku.
Aku terlalu lelah untuk menghalaunya. Aku menjauh dari dia sebagai gantinya. Aku tidak akan menatapnya.
"Aku tidak mau melihatmu. Aku tidak ingin berbicara denganmu. Aku hanya ingin mengemas barang-barangku. Aku ingin pulang."
"Jaejoongie, tidak ada lagi rumah." Suara ayahku seperti goresan pada syarafku. Aku mengangkat mataku dan memelototinya. Semua rasa sakit dan kepahitan yang selama ini aku simpan sejak dia meninggalkan kami telah menggerogotiku.
"Makam ibu dan adikku adalah rumah. Aku ingin berada di dekat mereka. Aku berdiri di sini dan mendengarkan kalian semua menceritakan hal tentang ibuku yang aku tahu tidak seperti itu. Dia tidak akan pernah melakukan apa yang kau tuduhkan. Tinggallah disini dengan keluargamu, Appa. Aku yakin mereka akan mencintaimu sebesar cinta dari keluarga terakhirmu. Cobalah untuk tidak membunuh satu pun dari mereka," hardikku.
Suara terkesiap Heechul yang keras adalah hal terakhir yang kudengar sebelum aku meninggalkan ruangan. Aku ingin langsung pergi tapi aku butuh tas dan kunciku. Aku berlari menaiki tangga dan melemparkan semua yang bisa kuraih kembali kedalam koper dan menutupnya dengan keras. Aku mengayunkan tali tas keatas bahu dan berbalik ke pintu melihat Yunho berdiri di sana menatapku.
Wajahnya pucat dan matanya semerah darah. Aku memejamkan mata. Aku tidak peduli bahwa dia marah. Dia layak mendapakannya. Dia berbohong kepadaku. Dia telah mengkhianatiku.
"Kau tidak bisa meninggalkan aku," katanya dalam bisikan serak.
"Lihat saja," pungkasku dingin.
"Boo, Kau tidak membiarkanku menjelaskan. Aku akan memberi tahumu segalanya hari ini. Mereka pulang tadi malam dan aku panik. Aku harus memberitahumu terlebih dahulu." Dia menghantamkan tinjunya ke kusen pintu.
"Kau tidak bisa keluar begitu saja. Tidak seperti itu. Oh Tuhan tidak seperti itu." Dia terdengar benar-benar murka.
Aku tidak akan membiarkannya meruntuhkan hatiku akibat dari raut wajah yang diberikan olehnya. Aku akan menjadi seorang idiot jika melakukannya. Selain itu, adiknya... Boa adalah adiknya. Tidak heran ia dibesarkan untuk melindunginya. Dia adalah anak tanpa ayah. Aku menelan empedu di tenggorokan ku. Ayahku adalah orang yang sangat mengerikan.
"Aku tidak bisa tinggal di sini. Aku tidak bisa menatapmu. Kau mewakili rasa sakit dan pengkhianatan bukan hanya padaku tapi juga pada ibuku."
Aku menggelengkan kepala. "Apapun yang kita miliki telah berakhir. Itu sudah mati saat aku berjalan di lantai bawah dan menyadari dunia yang selalu kuketahui itu ternyata kebohongan belaka."
Yunho menurunkan tangannya dari kusen pintu dan bahunya terkulai sambil menunduk. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya melangkah mundur sehingga aku bisa keluar. Hati kecil yang tersisa telah hancur.
Terlihat dari wajahnya yang kalah. Tidak ada jalan lain. Kami telah ternoda.
.
.
.
.
To Be Continue
*GED: singkatan resminya yaitu General Education Development adalah merupakan serangkaian tes yang dimana ketika seseorang lulus dari tes tersebut akan  dianugerahi sertifikat yang setara dengan ijazah pendidikan SMA. Namun ada juga yang mengenalnya sebagai General Equivalency Diploma atau General Education(al) Diploma atau beberapa orang menyebutnya sebagai Good Enough Diploma.

3 comments:

  1. Jadi Boa tuh satu ayah ma Jae,,
    Pantess dia benci bgt ma Jae,,
    Beneran Jae mo pergi nih ???
    #penasaran

    ReplyDelete
  2. hua,, bnran frustasi,,, bnran frustasi,, udah ga bisa ngomen di hp, dilaptop juga,, brusan komen, tpi saat mlih profil malah ilang komen yg dibikin,, hikz...
    saki ga ada bikin di wattpad juga? frustasi pengen ngomen atau liat komen kehapus,,


    jdi mreka seayah? si boa bnran b*tch.. sini joongie, nginap drumah aku aja,,, jauh2 sama mereka,, ksihan uri joongie,,

    ReplyDelete
  3. Saki-chan~
    Kira2 ini end ny smpe brp? Penasarannn ..
    Tiap hari selalu buka blog sakichan 😄😄😄

    ReplyDelete