Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara
orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong
membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya
agar tidak tertarik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
Kitahara Saki, 7ec4df8e
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Aku sendirian. Aku melindungi mata dari
sinar matahari pagi dan melihat ke sekeliling ruangan. Yunho tidak ada di sini.
Itu mengejutkan. Aku duduk dan melihat jam. Hampir pukul sepuluh. Tidak heran
dia tidak di sini. Aku tidur sepanjang pagi. Hari ini kami harus berbicara. Dia
telah membiarkanku masuk. Semalam kami melakukan hubungan seks yang
menakjubkan. Aku butuh kata-kata sekarang.
Aku berdiri dan menemukan celana pendekku
tergeletak di ujung tempat tidur. Yunho pasti membawanya ke lantai atas karena
seingatku tadi malam aku meninggalkan itu di tangga tadi. Aku mengenakannya dan
kemudian mencari-cari kemejaku. Salah satu t-shirt Yunho terlipat rapi di
samping celana pendekku jadi aku langsung memakainya dan menuju lantai bawah.
Aku sudah siap untuk menemui Yunho.
Pintu lorong di sisi keluarga terbuka. Aku
membeku. Apa artinya? Mereka selalu tertutup. Lalu aku mendengar suara-suara.
Aku berjalan menuju tangga kedua dan mendengarkan. Suara akrab ayahku terdengar
melalui tangga dari ruang tamu. Dia sudah pulang.
Aku mengambil langkah pertama dan berhenti.
Bisakah aku menghadapinya? Akankah dia menyuruhku pergi? Apakah dia tahu aku
telah tidur dengan Yunho? Akankah Boa akan membuat ibunya membenciku juga? Aku
tidak punya waktu untuk memikirkan semua ini.
Ayahku menyebut namaku dan aku tahu bahwa
harus turun ke sana dan menghadapi ini. Apapun yang akan terjadi. Aku memaksa
diriku turun setiap langkah. Aku berhasil menyeberangi foyer dan berhenti
setelah aku bisa mendengar mereka dengan jelas. Aku harus tahu dengan jelas apa
yang sedang dibicarakan.
“Aku tidak percaya, Yunho. Apa yang kau
pikirkan? Kau tahu siapa dia? Apa artinya ia bagi keluarga ini?" Itu
ibunya berbicara. Aku tidak pernah bertemu dengannya tapi aku tahu.
“Kau tidak bisa melimpahkan semua tanggung
jawab padanya. Pada saat itu dia bahkan belum lahir. Ibu tidak tahu apa yang
telah ia lalui. Apa yang telah DIA lakukan padanya untuk dilalui." Yunho
murka.
Aku mulai berjalan ke pintu tapi berhenti
sejenak. Tunggu. Apa arti diriku dalam keluarga ini? Siapa yang mereka
bicarakan?
"Jangan merasa tinggi dan hebat. Kau
adalah orang yang pergi dan mengantarkannya untukku. Jadi apa pun yang dia
lakukan untuk dilaluinya," bentaknya, "kau yang memulai semuanya.
Kemudian kau menidurinya? Sungguh Yunho. Ya Tuhan apa yang kau pikirkan? Kau
sama seperti ayahmu."
Aku mengulurkan tangan untuk meraih kusen
pintu untuk bersandar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi tapi napasku
menjadi pendek. Aku bisa merasakan panik tumbuh di dadaku.
"Ingat siapa pemilik rumah ini, eomma,"
peringatan Yunho sangat jelas.
Ibunya mengeluarkan suara decakan yang
nyaring. "Bisakah kau percaya ini? Dia melawanku demi seorang gadis yang
baru saja ditemuinya. Siwon, kau harus melakukan sesuatu."
Hening. Lalu ayahku berdeham. "Ini
rumahnya, Heechul. Aku tidak bisa memaksa dia untuk melakukan apa pun.
Seharusnya aku dapat menduganya. Dia begitu mirip ibunya."
"Apa maksudnya?" Raung wanita
itu.
Ayahku mendesah," Kita sudah melalui
ini sebelumnya. Alasan aku meninggalkanmu untuknya karena dia punya sisi itu
yang menarikku padanya. Aku tidak bisa melepaskannya-"
"Aku TAHU itu. Aku tidak ingin
mendengarnya lagi. Kau sangat menginginkannya sehingga kau meninggalkan aku
yang sedang hamil dengan setumpuk undangan pernikahan yang dibatalkan."
“Heenim, tenanglah. Aku mencintaimu. Aku
hanya menjelaskan bahwa Jaejoong memiliki kharisma ibunya. Tidak mungkin untuk
tidak merasa tertarik padanya. Dan dia juga "buta" seperti ibunya.
Dia tidak bisa menahannya."
"ARGH, kapankah perempuan itu akan
meninggalkan aku? Apakah dia akan selalu menghancurkan hidupku? Dia telah
meninggal dunia. namja yang kucintai akhirnya kembali dan uri adeul akhirnya
memiliki abojinya dan sekarang ini. Kau tidur dengan dia, yeoja ini!"
Tubuhku mati rasa. Aku tidak mampu
bergerak. Aku tidak bisa menarik napas dalam-dalam. Aku masih bermimpi. Itu
yang terjadi. Aku belum terbangun. Aku memejamkan mata kuat-kuat memaksa diri
untuk bangun dari mimpi yang gila dan membingungkan ini.
"Satu kata lagi tentang dia dan aku akan
mengusirmu keluar." Nada Yunho dingin dan keras.
"Heenim, honey, tenanglah. Jaejoong
adalah gadis yang baik. Dia berada di sini bukanlah akhir dari dunia. Dia
membutuhkan tempat tinggal. Aku sudah menjelaskannya kepadamu. Aku tahu kau
benci Kibum tapi dia dulu adalah sahabat terdekatmu. Kalian berdua telah
bersahabat sejak kalian masih anak-anak. Sampai aku datang dan merusak hubungan
kalian berdua yang sudah seperti saudara. Ini adalah putrinya. Berbelas
kasihanlah sedikit."
Tidak. TIDAK. Tidak. Tidak. Tidak. Aku
tidak hanya mendengarnya. Ini tidak nyata. Ibuku tidak akan pernah
menghancurkan pernikahan seseorang. Dia tidak akan membuat ayahku seseorang
yang meninggalkan seorang wanita yang sedang mengandung anaknya. Ibuku adalah
seorang wanita penuh kasih sayang. Dia tak akan pernah membiarkan hal itu
terjadi. Aku tidak bisa berdiri di sini dan mendengarkan mereka berbicara
tentang hal itu. Mereka semua salah. Mereka tidak mengenalnya. Ayahku telah
pergi begitu lama sehingga ia lupa apa yang sebenarnya terjadi.
Aku melepaskan pegangan eratku pada kusen
pintu dan berjalan ke ruang dimana mereka mempermalukan nama ibuku.
"TIDAK! Diam kalian semua," aku
berteriak.
Ruangan itu menjadi hening. Aku melihat ke
arah ayahku dan meningkatkan level tatapan marahku padanya. Tidak ada orang
lain di sini yang penting sekarang. Bukan wanita yang terus mengumbar
kebohongan tentang ibuku atau orang yang kupikir aku cintai. Seseorang yang
telah kupersembahkan tubuhku. Orang yang telah membohongiku.
"Boo," suara Yunho terdengar
jauh. Aku mengangkat tanganku untuk menghentikannya. Aku tidak ingin dia dekat
denganku.
"Kau," aku menunjuk jariku pada
ayahku. "Kau membiarkan mereka berbohong tentang ibuku," aku
berteriak. Aku tidak peduli jika aku tampak seperti orang gila. Aku benci
mereka semua sekarang.
"Jae biarkan aku menjelaskan-"
"TUTUP MULUT!" Aku meraung.
"Dongsaengku, separuh diriku, meninggal. Dia meninggal, appa. Dalam mobil
dalam perjalanan menuju toko bersamamu. Rasanya seperti jiwaku telah direnggut
dari diriku dan terbelah menjadi dua. Kehilangan dia sangat tak tertahankan.
Aku melihat eommaku meratap dan menangis dan berkabung dan kemudian aku melihat
appaku berjalan pergi. Tidak pernah kembali. Sementara putrinya dan istrinya
berusaha untuk mengumpulkan serpihan dunia mereka tanpa Jaekyung di dalamnya.
Kemudian ibuku jatuh sakit. Aku meneleponmu tapi kau tidak menjawab. Jadi, aku
melakukan pekerjaan tambahan sepulang sekolah dan aku mulai melakukan
pembayaran untuk perawatan medis eomma. Aku tidak melakukan apapun selain
merawat eomma dan pergi ke sekolah. Kecuali sewaktu aku di SMA, dia sakit parah
sehingga aku harus drop out. Aku mengambil GED*) dan sampai disana pendidikanku
terhenti. Karena satu-satunya orang di planet ini yang mencintaiku sedang
sekarat disaat aku hanya bisa duduk dan melihatnya dengan pasrah. Aku memegang
tangannya saat dia menghembuskan napas terakhirnya. Aku mengatur pemakamannya.
Aku melihat mereka menurunkan dia ke tanah. Kau tidak pernah sekalipun
menghubungi. Tidak sekalipun. Lalu aku harus menjual rumah peninggalan halmonie
dan segala sesuatu yang bernilai di dalamnya hanya untuk melunasi tagihan
medis." Aku berhenti dan mengambil napas terengah-engah dengan keras dan
isakan lolos dariku.
Dua lengan memelukku dan aku berteriak, menghentakkan
lenganku dan bergerak menjauh. "JANGAN SENTUH AKU!" Aku tidak ingin
dia menyentuhku. Dia telah berbohong kepadaku. Dia tahu ini dan ia telah
berbohong kepadaku.
“Sekarang aku dipaksa untuk mendengarmu
berbicara tentang eommaku yang suci. Kau dengar aku? Dia adalah seorang yang
suci! Kalian semua adalah pembohong. Jika ada orang yang bersalah penyebab
semua omong kosong yang terdengar mengalir keluar dari mulutmu itu adalah
dia."Aku menunjuk ayahku. Aku tidak bisa menyebutnya itu lagi. Tidak sekarang.
"Dia adalah pembohongnya. Dia bahkan
tidak layak menjadi kotoran di bawah kakiku. Jika Boa adalah putrinya. Jika
Anda pada saat itu sedang hamil." Aku mengalihkan tatapanku kepada wanita
yang belum pernah kulihat sebelumnya dan kata-kata membeku di bibirku. Aku
ingat dia. Aku terhuyung kembali dan menggeleng. Tidak. Ini bukanlah seperti
yang terlihat.
"Siapa kau?" Tanyaku saat
kenangan akan wajah itu perlahan-lahan kembali ke ingatanku.
"Berhati-hatilah dalam menjawab,"
suara Yunho tegang berasal dari belakang ku. Dia masih berada di dekatku.
Matanya bergeser dariku kepada ayahku
kemudian kembali lagi ke aku. "Kau tahu siapa aku Jae. Kita pernah bertemu
sebelumnya."
"Kau pernah datang ke rumahku.
Kau...kau membuat ibuku menangis."
Wanita itu memutar matanya.
"Peringatan terakhir, ibu," kata Yunho.
"Boa ingin bertemu appanya. Jadi aku
membawanya kesana. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga kecilnya yang
bahagia dengan putri kembarnya yang cantik yang ia cintai dan seorang istri
yang sempurna. Aku lelah harus memberitahu putriku jika dia tidak punya appa.
Dia tahu dia memilikinya. Jadi aku menunjukkan padanya apa yang appanya pilih
dan itu bukan dia. Dia tidak pernah bertanya lagi tentang dia lagi sampai jauh
di kemudian hari."
Gadis cilik seusiaku yang berdiri
menggenggam erat tangan ibunya dan memperhatikanku saat aku berdiri di pintu.
Itu adalah Boa. Perutku bergolak. Apa yang telah ayahku lakukan?
"BooJae, kumohon tataplah aku."
Suara Yunho yang putus asa datang dari arah
belakangku, tapi aku tidak bisa mengenalinya. Dia tahu semua ini. Ini adalah
rahasia besar Boa. Dia telah melindunginya untuk Boa. Apakah dia tidak melihat
ini adalah rahasiaku juga? Dia adalah ayahku dan aku tahu apa-apa. Kata-kata Hyunjoong
berdering di kepalaku. ‘Jika dia harus
memilih antara Kau dan Boa ia akan memilih Boa.’
Pada saat itu dia tahu bahwa Yunho telah
memilih Boa. Semua orang di kota ini tahu rahasia ini kecuali aku. Mereka semua
tahu siapa aku namun aku sendiri tidak tahu.
"Aku bertunangan dengan Heechul. Dia
hamil Boa. Eommamu datang mengunjunginya. Dia seperti tidak ada yang pernah
kutemui. Dia adalah candu untukku. Aku tidak bisa menjauh darinya. Heechul
masih melekat pada Yukihiro, dan Yunho masih mengunjungi abojinya setiap akhir
pekan dua minggu sekali. Aku harap Heechul bersama dengan Hiro di menit ia
memutuskan ingin memiliki sebuah keluarga. Aku bahkan tidak yakin Boa adalah
milikku. Eommamu lugu dan menyenangkan. Dia sama sekali tidak tergila-gila
ataupun tertarik ada idola dan dia membuatku tertawa. Aku mengejar dia dan dia
mengabaikanku. Lalu aku berbohong padanya. Aku bilang padanya Heechul sedang
mengandung anak Hiro yang lain. Dia merasa kasihan padaku. Aku entah bagaimana
pada akhirnya meyakinkan dia untuk melarikan diri denganku. Untuk membuang
persahabatan yang telah ia memiliki selama hidupnya."
Aku menekankan kedua tanganku di telinga
untuk memblokir kata-kata ayahku. Aku tidak bisa mendengarkan ini. Itu semua
kebohongan. Ini dunia yang memuakkan dimana mereka tinggal itu bukan untukku.
Aku ingin pulang ke rumah. Kembali ke Gongju. Kembali ke apa yang aku mengerti.
Dimana uang dan idola bukanlah segalanya.
"Berhenti. Aku tidak ingin
mendengarnya. Aku hanya ingin mengumpulkan barang-barangku. Aku hanya ingin
pergi."
Isak tangis yang keluar tidak bisa
dibendung lagi. Duniaku dan apa yang aku tahu baru saja hancur
berkeping-keping. Aku harus pergi duduk di samping makam ibuku dan berbicara
dengannya. Aku ingin pulang ke rumah.
“Baby, bicaralah padaku, kumohon."
ujar Yunho dari belakangku.
Aku terlalu lelah untuk menghalaunya. Aku
menjauh dari dia sebagai gantinya. Aku tidak akan menatapnya.
"Aku tidak mau melihatmu. Aku tidak
ingin berbicara denganmu. Aku hanya ingin mengemas barang-barangku. Aku ingin
pulang."
"Jaejoongie, tidak ada lagi
rumah." Suara ayahku seperti goresan pada syarafku. Aku mengangkat mataku
dan memelototinya. Semua rasa sakit dan kepahitan yang selama ini aku simpan
sejak dia meninggalkan kami telah menggerogotiku.
"Makam ibu dan adikku adalah rumah.
Aku ingin berada di dekat mereka. Aku berdiri di sini dan mendengarkan kalian
semua menceritakan hal tentang ibuku yang aku tahu tidak seperti itu. Dia tidak
akan pernah melakukan apa yang kau tuduhkan. Tinggallah disini dengan
keluargamu, Appa. Aku yakin mereka akan mencintaimu sebesar cinta dari keluarga
terakhirmu. Cobalah untuk tidak membunuh satu pun dari mereka," hardikku.
Suara terkesiap Heechul yang keras adalah
hal terakhir yang kudengar sebelum aku meninggalkan ruangan. Aku ingin langsung
pergi tapi aku butuh tas dan kunciku. Aku berlari menaiki tangga dan
melemparkan semua yang bisa kuraih kembali kedalam koper dan menutupnya dengan
keras. Aku mengayunkan tali tas keatas bahu dan berbalik ke pintu melihat Yunho
berdiri di sana menatapku.
Wajahnya pucat dan matanya semerah darah.
Aku memejamkan mata. Aku tidak peduli bahwa dia marah. Dia layak mendapakannya.
Dia berbohong kepadaku. Dia telah mengkhianatiku.
"Kau tidak bisa meninggalkan
aku," katanya dalam bisikan serak.
"Lihat saja," pungkasku dingin.
"Boo, Kau tidak membiarkanku
menjelaskan. Aku akan memberi tahumu segalanya hari ini. Mereka pulang tadi
malam dan aku panik. Aku harus memberitahumu terlebih dahulu." Dia menghantamkan
tinjunya ke kusen pintu.
"Kau tidak bisa keluar begitu saja.
Tidak seperti itu. Oh Tuhan tidak seperti itu." Dia terdengar benar-benar
murka.
Aku tidak akan membiarkannya meruntuhkan
hatiku akibat dari raut wajah yang diberikan olehnya. Aku akan menjadi seorang
idiot jika melakukannya. Selain itu, adiknya... Boa adalah adiknya. Tidak heran
ia dibesarkan untuk melindunginya. Dia adalah anak tanpa ayah. Aku menelan
empedu di tenggorokan ku. Ayahku adalah orang yang sangat mengerikan.
"Aku tidak bisa tinggal di sini. Aku
tidak bisa menatapmu. Kau mewakili rasa sakit dan pengkhianatan bukan hanya
padaku tapi juga pada ibuku."
Aku menggelengkan kepala. "Apapun yang
kita miliki telah berakhir. Itu sudah mati saat aku berjalan di lantai bawah
dan menyadari dunia yang selalu kuketahui itu ternyata kebohongan belaka."
Yunho menurunkan tangannya dari kusen pintu
dan bahunya terkulai sambil menunduk. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya
melangkah mundur sehingga aku bisa keluar. Hati kecil yang tersisa telah
hancur.
Terlihat dari wajahnya yang kalah. Tidak
ada jalan lain. Kami telah ternoda.
.
.
.
.
To Be Continue
*GED: singkatan resminya yaitu General
Education Development adalah merupakan serangkaian tes yang dimana ketika
seseorang lulus dari tes tersebut akan
dianugerahi sertifikat yang setara dengan ijazah pendidikan SMA. Namun
ada juga yang mengenalnya sebagai General Equivalency Diploma atau General
Education(al) Diploma atau beberapa orang menyebutnya sebagai Good Enough
Diploma.

Jadi Boa tuh satu ayah ma Jae,,
ReplyDeletePantess dia benci bgt ma Jae,,
Beneran Jae mo pergi nih ???
#penasaran
hua,, bnran frustasi,,, bnran frustasi,, udah ga bisa ngomen di hp, dilaptop juga,, brusan komen, tpi saat mlih profil malah ilang komen yg dibikin,, hikz...
ReplyDeletesaki ga ada bikin di wattpad juga? frustasi pengen ngomen atau liat komen kehapus,,
jdi mreka seayah? si boa bnran b*tch.. sini joongie, nginap drumah aku aja,,, jauh2 sama mereka,, ksihan uri joongie,,
Saki-chan~
ReplyDeleteKira2 ini end ny smpe brp? Penasarannn ..
Tiap hari selalu buka blog sakichan 😄😄😄