Tuesday, April 1

[Remake] The Untittled Story Chaper X


Aku bersandar ke dinding dan memperhatikannya pergi. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku mendesis akibat kata-kata dan kedekatannya.
"Aku tidak ingin kau berada bawah tangga sialan. Aku benci itu. Tapi aku tidak bisa membawamu kesini. Aku tidak akan pernah bisa menjauh darimu. Aku ingin kau aman, "katanya tanpa melihat ke arahku.
Tangannya mencengkeram pagar di tangga sampai buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri di sana satu menit lagi sebelum memaksa dirinya untuk melangkah pergi dan menaiki tangga. Ketika kudengar pintu tertutup aku merosot ke lantai.
"Oh, Yun. Bagaimana kita bisa seperti ini? Aku butuh jarak," bisikku ke ruangan kosong.
Aku harus menemukan orang lain sebagai fokus baruku. Seseorang yang bukan Yunho. Seseorang yang bersedia. Itu satu-satunya caraku agar tidak jatuh terlalu jauh. Yunho sangat berbahaya untuk hatiku. Jika kami akan menjadi teman maka aku harus menemukan orang lain untuk memusatkan perhatianku. Secepatnya.

Kitahara Saki present
.
.
.
The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim Jaejoong
Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita
.
.
.
Chapter 10
.
.
Start
.
.
.
.
Action
.
.
.
Heechul gwijangngnim tidak senang aku pindah ke ruang makan. Dia ingin aku di lapangan. Dia juga ingin aku mengawasi Junsu. Junsu cerita, dia tidak bersama Enhyuk lagi. Dia bertemu dengan Enhyuk untuk minum kopi karena Enhyuk menelponnya dua puluh kali sore itu. Dia bilang padanya jika dia hanya menjadi rahasia kecil maka itu sudah berakhir. Enhyuk meminta dan memohon, tapi menolak untuk mengakui Junsu ke lingkaran pertemanannya dan akhirnya Junsu mencampakkannya, memilih untuk pergi dari namja konyol itu. Aku begitu bangga.
Besok adalah hari liburku dan Junsu sudah datang mencariku untuk memastikan kami jadi ke Mirotic. Tentu saja kami akan pergi kesana. Aku butuh seorang namja, namja mana saja untuk mengeluarkan Yunho dari pikiranku.
Aku mengikuti Woohyun gwajangnim sepanjang hari. Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik dan menurut pengakuannya dia Gay padaku, entahlah kenapa dia memilih jujur padaku. Para anggota klub tidak tahu ini sama sekali. Dia main mata dengan yeoja tanpa malu-malu. Mereka benar-benar menikmatinya. Dia akan melihat kembali padaku dan mengedipkan mata ketika seseorang akan berbisik hal-hal nakal di telinganya. Namja itu seorang playboy dan ahli dalam hal itu.
Setelah jam tugasnya selesai kami kembali ke ruang istirahat staf dan menggantung celemek hitam panjang yang harus di pakai di atas seragam kami. "Kau akan jadi primadona, Jae. Para namja menyukaimu dan para yeoja terkesan olehmu. Tidak bermaksud menyinggungmu manis, tapi yeoja yang memiliki body dan tubuh seperti milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus tanpa cekikikan."
Aku tersenyum padanya. "Begitukah? Aku tersinggung dengan komentar itu."
Woohyun gwajangnim memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepalaku. "Aniyo, kau tidak tersinggung. Kau tahu kau adalah yeoja nakal yang mengejutkan."
"Mulai mendekati pelayan baru, Nam gwajangnim?" Suara Yoochun yang familiar bertanya. Woohyun gwajangnim memberinya senyum sombong.
"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku punya rasa tertentu," ia membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Yoochun.
Aku melirik Yoochun yang cemberut dengan tidak nyaman dan aku tidak bisa menahan tawa. Woohyun gwajangnim bergabung denganku. "Senang membuat namja normal menggeliat," ia berbisik di telingaku, lalu memukul pantatku dan berjalan keluar pintu.
Yoochun memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Woohyun gwajangnim pergi. Rupanya, ia menyadari pilihan seksual Woohyun gwajangnim.
"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya sopan.
Aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para namja tua yang suka mengintai sepanjang hari. "Ya. Menyenangkan. Gomapta untuk menempatkanku di bagian ini."
Yoochun mengangguk. "Cheonma. Sekarang, bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan terbaik di pantai?"
Dia mengajakku keluar lagi. Aku harus pergi. Dia akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan tipe pekerja yang aku cari tapi siapa bilang aku akan menikah dengannya dan melahirkan bayinya?
Sebuah gambaran dari Yunho berkelebat dalam pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam. Aku tidak bisa membiarkan diriku untuk berkencan dengan seseorang yang ia kenal. Jika dia benar-benar serius dengan apa yang dia katakana, maka aku harus menjaga jarak aman dengannya. Aku tidak termasuk di dalam dunia dimana dia berada.
"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah."
Wajah Yoochun agak kecewa tapi aku tahu dia tidak akan punya masalah menemukan seseorang untuk menggantikan tempatku.
"Ada pesta malam ini di rumah Yunho, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Yoochun, menyaksikan dengan cermat pada reaksiku. Aku tidak tahu tentang pesta karena Yunho tidak memberitahuku.
"Aku bisa tidur dikamarku. Aku sudah terbiasa dengan itu." Itu bohong. Aku tidak akan tidur sampai orang terakhir berderap menaiki tangga.
"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur? "
Yoochun bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku mulai berkata tidak ketika aku sadar bahwa Yunho akan meniduri beberapa yeoja malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk aku rasakan. Aku memang butuh pengalih perhatian. Yunho bahkan mungkin sudah bersama salah satu yeoja di pangkuannya begitu aku tiba di rumah.
"Kau dan Yunho tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa melihatmu."
Yoochun mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Jae, " katanya mengamatiku lekat-lekat. Aku menunggu.
"Mengapa begitu? Sampai malam itu di rumahnya, Yunho dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?"
Bagaimana aku menjawab itu? Tidak, karena ia tidak akan membiarkan hal itu dan lebih aman untuk hatiku jika kita tetap hanya berteman?
"Kami berteman. Dia protektif."
Yoochun mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak percaya padaku.
"Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."
Dia tidak menghadapi apa-apa karena dia dan aku hanya akan berteman. Aku tidak mencari seorang namja kaya, apalagi yang berada didalam lingkaran yang sama dengan Yunho. "Aku tidak dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."
Aku tidak menunggunya untuk mendebat. Sebaliknya, aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku harus pulang sebelum pesta jadi terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Yunho diselimuti oleh beberapa yeoja.
Itu bukan kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar dua puluh orang. Aku berjalan melewati beberapa dari mereka dalam perjalanan ke dapur. Beberapa dari mereka sedang menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada mereka sebelum melangkah ke dapur dan kemudian ke kamar belakangku.
Jika teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah tangga, mereka tahu sekarang. Aku mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah gaun biru es untuk di pakai. Kakiku sakit karena berjalan sepanjang hari jadi aku akan bertelanjang kaki. Aku mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan melangkah ke dapur untuk bertatap muka dengan Yunho. Dia bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.
"Yunho? Musun iriya?" Aku bertanya ketika dia tidak mengatakan apa-apa.
"Yoochun di sini," jawabnya.
"Terakhir, yang aku tahu dia adalah temanmu."
Yunho menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuhku dengan cepat. "Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."
Aku menyilangkan tanganku di bawah payudaraku dan mengambil pose defensif yang sama. "Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?"
"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Yunho dengan nada marah yang keras.
Mungkin dia seperti itu. Aku meragukannya, tapi itu mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkan Yoochun menyentuhku. Kedekatannya tidak membuat perutku bergejolak dan rasa sakit di antara kakiku mulai terasa.
"Aku tidak tertarik pada Yoochun. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."
Yunho melarikan tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di jempolnya tertangkap mataku. Aku belum pernah melihat dia memakainya sebelumnya. Siapa yang telah memberikan itu kepadanya?
"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang akan naik dan turun tangga. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Yoochun di pantai. Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."
Yunho tersentak seolah aku memukulnya. "Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Yoochun."
Ini konyol. "Ya, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang yeoja tapi kau akan melakukannya."
Yunho menarik diri dari pintu dan menuju ke arahku mendorongku ke kamar kecilku sampai kami berdua di dalam. Satu inci lagi dan aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.
"Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam ini," ia berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini. Tinggallah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Aku bilang kita bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Yoochun sebagai teman."
Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya untuk mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa membuat diriku melakukannya setelah aku menaruh tanganku pada dirinya. "Kau tidak pernah berbicara denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh."
Yunho menggeleng. "Tidak sekarang. Kita berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Jebal jangan pergi, tinggallah di sini bersamaku."
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. aq sempet bingung,,,ini repost atau salah ngepost...
    pas dicari, emang udah d post...
    waeyo ??? gwaenchana ???

    ReplyDelete
  2. Ah, un gomapta ne, Saki salah ngepost, hehe
    Saki udah post yang bener kok, hehe

    ReplyDelete
  3. hhhh dah kuduga ^_^
    Saki,,,,aq kecanduan(?) TUS nihhhh
    itu berapa chapter ???

    ReplyDelete
  4. lagi...
    yun menghindari jae lagi
    yun jd gk pede gtu klo dkt jae y

    ReplyDelete