Aku bersandar ke dinding dan memperhatikannya
pergi. Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku mendesis akibat kata-kata dan
kedekatannya.
"Aku tidak ingin kau berada bawah tangga
sialan. Aku benci itu. Tapi aku tidak bisa membawamu kesini. Aku tidak akan
pernah bisa menjauh darimu. Aku ingin kau aman, "katanya tanpa melihat ke
arahku.
Tangannya mencengkeram pagar di tangga sampai
buku-buku jarinya memutih. Dia berdiri di sana satu menit lagi sebelum memaksa
dirinya untuk melangkah pergi dan menaiki tangga. Ketika kudengar pintu
tertutup aku merosot ke lantai.
"Oh, Yun. Bagaimana kita bisa seperti ini? Aku
butuh jarak," bisikku ke ruangan kosong.
Aku harus menemukan orang lain sebagai fokus
baruku. Seseorang yang bukan Yunho. Seseorang yang bersedia. Itu satu-satunya
caraku agar tidak jatuh terlalu jauh. Yunho sangat berbahaya untuk hatiku. Jika
kami akan menjadi teman maka aku harus menemukan orang lain untuk memusatkan
perhatianku. Secepatnya.
Kitahara Saki present
.
.
.
The Untitled Story
Remake from Abby Glines Story
Staring: Jung Yunho, Kim
Jaejoong
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
.
.
.
Chapter 10
.
.
Start
.
.
.
.
Action
.
.
.
Heechul gwijangngnim tidak senang aku pindah ke
ruang makan. Dia ingin aku di lapangan. Dia juga ingin aku mengawasi Junsu.
Junsu cerita, dia tidak bersama Enhyuk lagi. Dia bertemu dengan Enhyuk untuk
minum kopi karena Enhyuk menelponnya dua puluh kali sore itu. Dia bilang
padanya jika dia hanya menjadi rahasia kecil maka itu sudah berakhir. Enhyuk
meminta dan memohon, tapi menolak untuk mengakui Junsu ke lingkaran
pertemanannya dan akhirnya Junsu mencampakkannya, memilih untuk pergi dari
namja konyol itu. Aku begitu bangga.
Besok adalah hari liburku dan Junsu sudah datang
mencariku untuk memastikan kami jadi ke Mirotic. Tentu saja kami akan pergi
kesana. Aku butuh seorang namja, namja mana saja untuk mengeluarkan Yunho dari
pikiranku.
Aku mengikuti Woohyun gwajangnim sepanjang hari.
Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik dan menurut pengakuannya dia Gay
padaku, entahlah kenapa dia memilih jujur padaku. Para anggota klub tidak tahu
ini sama sekali. Dia main mata dengan yeoja tanpa malu-malu. Mereka benar-benar
menikmatinya. Dia akan melihat kembali padaku dan mengedipkan mata ketika
seseorang akan berbisik hal-hal nakal di telinganya. Namja itu seorang playboy
dan ahli dalam hal itu.
Setelah jam tugasnya selesai kami kembali ke ruang
istirahat staf dan menggantung celemek hitam panjang yang harus di pakai di
atas seragam kami. "Kau akan jadi primadona, Jae. Para namja menyukaimu
dan para yeoja terkesan olehmu. Tidak bermaksud menyinggungmu manis, tapi yeoja
yang memiliki body dan tubuh seperti milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus
tanpa cekikikan."
Aku tersenyum padanya. "Begitukah? Aku
tersinggung dengan komentar itu."
Woohyun gwajangnim memutar matanya dan mengulurkan
tangan untuk menjitak kepalaku. "Aniyo, kau tidak tersinggung. Kau tahu
kau adalah yeoja nakal yang mengejutkan."
"Mulai mendekati pelayan baru, Nam
gwajangnim?" Suara Yoochun yang familiar bertanya. Woohyun gwajangnim
memberinya senyum sombong.
"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku punya rasa
tertentu," ia membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat
matanya menelusuri ke tubuh bawah Yoochun.
Aku melirik Yoochun yang cemberut dengan tidak nyaman
dan aku tidak bisa menahan tawa. Woohyun gwajangnim bergabung denganku.
"Senang membuat namja normal menggeliat," ia berbisik di telingaku,
lalu memukul pantatku dan berjalan keluar pintu.
Yoochun memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam
ruangan setelah Woohyun gwajangnim pergi. Rupanya, ia menyadari pilihan seksual
Woohyun gwajangnim.
"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya
sopan.
Aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang
jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para namja
tua yang suka mengintai sepanjang hari. "Ya. Menyenangkan. Gomapta untuk
menempatkanku di bagian ini."
Yoochun mengangguk. "Cheonma. Sekarang,
bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan terbaik di
pantai?"
Dia mengajakku keluar lagi. Aku harus pergi. Dia
akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan tipe pekerja yang aku cari tapi
siapa bilang aku akan menikah dengannya dan melahirkan bayinya?
Sebuah gambaran dari Yunho berkelebat dalam
pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam. Aku tidak bisa membiarkan diriku
untuk berkencan dengan seseorang yang ia kenal. Jika dia benar-benar serius
dengan apa yang dia katakana, maka aku harus menjaga jarak aman dengannya. Aku
tidak termasuk di dalam dunia dimana dia berada.
"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur
nyenyak tadi malam dan aku lelah."
Wajah Yoochun agak kecewa tapi aku tahu dia tidak
akan punya masalah menemukan seseorang untuk menggantikan tempatku.
"Ada pesta malam ini di rumah Yunho, tapi aku
rasa kau tahu itu," kata Yoochun, menyaksikan dengan cermat pada reaksiku.
Aku tidak tahu tentang pesta karena Yunho tidak memberitahuku.
"Aku bisa tidur dikamarku. Aku sudah terbiasa
dengan itu." Itu bohong. Aku tidak akan tidur sampai orang terakhir
berderap menaiki tangga.
"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau
menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur? "
Yoochun bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku
mulai berkata tidak ketika aku sadar bahwa Yunho akan meniduri beberapa yeoja
malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan
hal-hal yang tidak akan mungkin untuk aku rasakan. Aku memang butuh pengalih
perhatian. Yunho bahkan mungkin sudah bersama salah satu yeoja di pangkuannya
begitu aku tiba di rumah.
"Kau dan Yunho tampaknya tidak begitu dekat.
Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu
apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa
melihatmu."
Yoochun mengangguk. "Oke. Aku tidak masalah
dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Jae, " katanya mengamatiku
lekat-lekat. Aku menunggu.
"Mengapa begitu? Sampai malam itu di rumahnya,
Yunho dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama.
Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu
yang terjadi di antara kalian berdua?"
Bagaimana aku menjawab itu? Tidak, karena ia tidak
akan membiarkan hal itu dan lebih aman untuk hatiku jika kita tetap hanya
berteman?
"Kami berteman. Dia protektif."
Yoochun mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak
percaya padaku.
"Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin
tahu apa yang aku hadapi."
Dia tidak menghadapi apa-apa karena dia dan aku
hanya akan berteman. Aku tidak mencari seorang namja kaya, apalagi yang berada
didalam lingkaran yang sama dengan Yunho. "Aku tidak dan tidak akan pernah
menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan
siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."
Aku tidak menunggunya untuk mendebat. Sebaliknya,
aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku harus pulang sebelum pesta jadi
terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Yunho diselimuti oleh beberapa yeoja.
Itu bukan kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar
dua puluh orang. Aku berjalan melewati beberapa dari mereka dalam perjalanan ke
dapur. Beberapa dari mereka sedang menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada
mereka sebelum melangkah ke dapur dan kemudian ke kamar belakangku.
Jika teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah
tangga, mereka tahu sekarang. Aku mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah
gaun biru es untuk di pakai. Kakiku sakit karena berjalan sepanjang hari jadi
aku akan bertelanjang kaki. Aku mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan
melangkah ke dapur untuk bertatap muka dengan Yunho. Dia bersandar pada pintu
yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di
wajahnya.
"Yunho? Musun iriya?" Aku bertanya ketika
dia tidak mengatakan apa-apa.
"Yoochun di sini," jawabnya.
"Terakhir, yang aku tahu dia adalah
temanmu."
Yunho menggelengkan kepala dan matanya mengamati
tubuhku dengan cepat. "Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk
orang lain."
Aku menyilangkan tanganku di bawah payudaraku dan
mengambil pose defensif yang sama. "Mungkin. Apakah kau memiliki masalah
dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?"
"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia
seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Yunho dengan nada marah yang
keras.
Mungkin dia seperti itu. Aku meragukannya, tapi itu
mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkan Yoochun menyentuhku.
Kedekatannya tidak membuat perutku bergejolak dan rasa sakit di antara kakiku
mulai terasa.
"Aku tidak tertarik pada Yoochun. Dia adalah
bosku dan mungkin teman. Itu saja."
Yunho melarikan tangannya di atas kepalanya dan
cincin perak polos di jempolnya tertangkap mataku. Aku belum pernah melihat dia
memakainya sebelumnya. Siapa yang telah memberikan itu kepadanya?
"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang
akan naik dan turun tangga. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar
sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir
aku akan mengobrol dengan Yoochun di pantai. Memiliki percakapan dengan
seseorang. Aku butuh teman."
Yunho tersentak seolah aku memukulnya. "Aku
tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Yoochun."
Ini konyol. "Ya, mungkin aku tidak ingin kau
meniduri seorang yeoja tapi kau akan melakukannya."
Yunho menarik diri dari pintu dan menuju ke arahku
mendorongku ke kamar kecilku sampai kami berdua di dalam. Satu inci lagi dan
aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.
"Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam
ini," ia berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar.
Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini.
Tinggallah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Aku bilang kita
bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Yoochun sebagai teman."
Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya untuk
mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa membuat diriku melakukannya
setelah aku menaruh tanganku pada dirinya. "Kau tidak pernah berbicara
denganku. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh."
Yunho menggeleng. "Tidak sekarang. Kita
berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Jebal jangan pergi,
tinggallah di sini bersamaku."
.
.
.
.
.
To Be Continue

aq sempet bingung,,,ini repost atau salah ngepost...
ReplyDeletepas dicari, emang udah d post...
waeyo ??? gwaenchana ???
Ah, un gomapta ne, Saki salah ngepost, hehe
ReplyDeleteSaki udah post yang bener kok, hehe
hhhh dah kuduga ^_^
ReplyDeleteSaki,,,,aq kecanduan(?) TUS nihhhh
itu berapa chapter ???
lagi...
ReplyDeleteyun menghindari jae lagi
yun jd gk pede gtu klo dkt jae y