"Terima kasih Junsu-shi, tehnya sangat
membantu, perut saya tidak begitu bergolak lagi seperti tadi."
Junsu tersenyum lembut,
"Cobalah untuk tidur." gumamnya sebelum
melangkah keluar kamar.
Ketika merasa suasana cukup aman, dengan Changmin
yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Junsu meraih ponselnya menghubungi
nomor telepon Yunho.
Yunho memang menghilang dari kehidupan Jaejoong,
tetapi namja itu tetap memantau setiap detik kehidupan Jaejoong, namja itu
menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Junsu setiap saat. Dan menurut
Junsu, Yunho berhak mengetahui dugaannya
ini.
"Junsu." Yunho mengangkat teleponnya pada
deringan pertama.
"Yun," Junsu berbisik pelan, bingung
memulai dari mana. Sejenak suasana hening, dan tiba-tiba suara Yunho memecah
keheningan.
"Dia hamil." itu pernyataan bukan
pertanyaan.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
"Aku tidak bisa menyimpulkannya seakurat itu
sebelum dilakukan test urine dan test lainnya, tapi kemungkinan besar dia
hamil, dia memuntahkan semua yang dimakannya, dan mual-mual setiap saat."
"Dia hamil." kali ini rona kegembiraan
mewarnai suara Yunho,
"Aku akan melakukan test urine dulu Yun, kau
tak bisa...."
"Aku akan segera kesana." dan Yunho
menutup telepon. Membiarkan Junsu ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan
ketidaksabaran Yunho.
.
.
.
Yunho mau kesini, lalu apa? Langsung melemparkan
bom itu ke muka Changmin dan Jaejoong? Dasar! Junsu berniat menunggu Yunho di
depan apartemen, berusaha mencegah Yunho bertindak gegabah, namja itu harus
berusaha pelan-pelan, apalagi kehamilan Jaejoong belum dipastikan secara
akurat.
Lama sekali Junsu menunggu di ruang tamu, hampir
satu jam. Kenapa Yunho lama sekali? Apakah Yunho membatalkan niatnya kemari?
Junsu mulai bertanya-tanya. Saat itulah Changmin mendorong kursi rodanya ke
ruang tamu,
Junsu menoleh dan tersenyum,
"Changmin-ah, bagaimana kondisimu?"
Changmin balas tersenyum,
"Tidak pernah lebih baik, aku tadi membaca di
kamar, dan mulai merasa bosan jadi aku keluar, bagaimana keadaan Jaejoongie?"
Junsu menarik napas,
"Dia sudah tidur pulas sepertinya, kasihan
sepertinya perutnya bermasalah."
Changmin mengernyitkan keningnya,
"Dia bekerja terlalu keras," gumamnya
sendu, "dan itu semua gara-gara aku."
"Changmin-ah," Junsu menyela dengan
lembut,
"Kita sudah pernah membahas ini, Kau tidak
boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Jaejoong-shi melakukannya dengan
sukarela."
"Gurae?" suara Changmin menjadi pelan,
"kadang-kadang aku merasa dia hanya kasihan kepadaku."
"Changmin....", Junsu tidak melanjutkan
kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat diliriknya
layar ponselnya. Yoochun.
"Yoochun?" panggilnya setelah mengangkat
telepon, "Yoochun kau tahu di mana Yunho? Dia bilang akan ke sini, tapi
sampai sekarang dia belum datang....."
"Junsu, Yunho kecelakaan di tol."
.
.
.
.
"Jaejoong-shi." dengan lembut Junsu
menggoyangkan pundak Jaejoong yang tertidur pulas. Sementara Changmin mengikuti
di belakangnya.
Dengan sedikit lemah Jaejoong membuka mata dan agak
waspada melihat wajah Junsu yang pucat pasi, dengan segera dia duduk, gerakan
tiba-tiba itu langsung membuat kepalanya pening, tapi Jaejoong menahannya
sambil mengernyit,
"Ada apa Junsu-shi? Changmin kenapa?"
"Aku baik-baik saja di sini." gumam Changmin
dalam senyum.
Jaejoong menatap Changmin dengan lega, tapi lalu
menatap Junsu yang begitu pucat pasi,
"Jaejoong-shi, aku.... Ah aku bingung
bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku
bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"musun iriya Junsu-shi?", Jaejoong mulai
tegang ketika Junsu tidak juga mengatakan maksudnya.
"Yunho, barusan kecelakaan di jalan tol, dia
sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Yoochun juga
sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Mwo?" warna pucat mulai menjalar ke
wajah Jaejoong, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa, "Ya
Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, Junsu-shi!!"
Changmin mengamati kepanikan Jaejoong dari
kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap. Jaejoong tampak pucat pasi dan
ketakutan luar biasa.
Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Yunho
benar-benar membuatnya cemas.
Bukankah Yunho hanya atasannya di perusahaan?
Atau..... Jangan-jangan lebih dari atasan?
Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Changmin, dan
dia cepat-cepat menyingkirkannya. Tapi ketika dia melihat betapa Jaejoong mulai
gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau
pikiran buruk itu memenuhi benaknya, ada hubungan istimewa apa antara Yunho
dengan Jaejoong?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu
menyiksa bagi Jaejoong, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu
menghantamnya lagi keras-keras. Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh
kedua orangtuanya dan melukai Changmin dulu. Dan Jaejoong tidak akan kuat
menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa kepada Yunho.
Ya Tuhan!! Jangan sampai terjadi apa-apa pada
Yunho, dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas,
bahwa dia... Bahwa dia mencintai Yunho.
.
.
.
Jaejoong berlari di depan menuju ruangan gawat
darurat sementara Junsu mendorong kursi roda Changmin di belakangnya.
Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan
langsung bertatapan dengan Yunho.
Namja itu duduk di meja perawatan, telanjang dada,
kepalanya terluka dan sudah di tutup perban, dokter sedang membalut luka di
pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Yunho
tidak apa-apa. Namja itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Yunho memalingkan
kepalanya lalu menatap Jaejoong.
Jaejoong pingsan.
.
.
.
Yunho berteriak memanggil Jaejoong, begitu juga
dengan Junsu dan Changmin yang ada di belakang Jaejoong. Tapi Jaejoong pingsan
mendadak dan jatuh ke lantai.
Dengan kasar Yunho menyingkirkan tangan dokter yang
sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri
Jaejoong, perawat datang menghampiri, tapi Yunho menyingkirkannya,
"Biar aku saja." gumamnya serak,
mengeryit sedikit ketika mengangkat Jaejoong menyakiti luka di lengan dan
bahunya, tapi dia tidak peduli, dipeluknya Jaejoong dengan posesif dan
dibaringkannya ke meja perawatan,
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut
lukanya." gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel,
"Nanti saja." Yunho bergumam tajam dengan
arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu
terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Boo, BooJae" Yunho menepuk pipi
Jaejoong, tapi yeoja itu begitu pucat pasi, dengan panik, Yunho menoleh ke arah
Junsu di pintu, mengabaikan Changmin, "Dia tidak apa-apa?"
Junsu mendorong Changmin mendekat, lalu menyentuh
Jaejoong,
"Dia demam Yun, dia sedang sakit ketika
memaksa mengikuti aku kesini, terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia,
sepertinya dia shock," Junsu menatap Yunho tajam, "dan kau..kau tidak
pernah kecelakaan selama hidupmu, apa yang kau lakukan di jalan tol tadi
sehingga berakhir di rumah sakit ini?? Apakah kau mabuk??"
Yunho mengeryit,
"Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru
ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati." saat itulah Jaejoong bergerak membuka
mata, "ah, Boo…..BooJae, gwenchana? Appo? Oddie?”
Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu
mendapati wajah Yunho ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya, tangannya
bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Yunho, meyakinkan dirinya bahwa
betul-betul Yunho yang ada di depannya,
Dengan lembut Yunho meraih tangan Jaejoong dan
mengecupnya,
“Aku ada di sini, aku baik-baik saja.” gumamnya
setengah berbisik.
Jaejoong membiarkan tangannya dalam genggaman
Yunho, merasakan kulit Yunho yang panas, mensyukuri bahwa namja itu masih
hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Yunho
kecelakaan, pikiran-pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan
berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan
akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Yunho lagi asalkan namja itu tetap
hidup, asalkan namja itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun
Jaejoong tidak bisa melihatnya lagi. Pikiran bahwa Yunho bisa saja meninggal
dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah
tadi ketika melihat Yunho masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar
biasa sehingga pingsan. Jaejoong merasakan dadanya sesak ketika menyadari,
bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa
disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah
mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
“Jangan pernah ulangi lagi,” suara Jaejoong
bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Yunho, “Jangan pernah ulangi
lagi melakukan seperti ini kepadaku.”
Yunho meraih kedua tangan Jaejoong dan mengecup
jemarinya dengan lembut,
“aku berjanji,” jawabnya penuh perasaan, “Sekarang
tidurlah Boo, aku ada di sini.”
Dengan lembut Yunho mengusap dahi Jaejoong yang
panas, membuat pikiran Jaejoong melayang, dia merasa lelah sekali, tubuhnya,
jiwanya dan raganya. Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan
menahan perasaan. Usapan tangan Yunho di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan
luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Jaejoong
akhirnya terlelap lagi.
“Kemari, lukamu harus dibalut.” Junsu mencoba
menarik perhatian Yunho, namja itu menatap Jaejoong dengan serius, memastikan
bahwa Jaejoong sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Junsu lebih
mudah membalut luka di pundak dan lengannya.
Saat itulah Yunho menyadari kehadiran Changmin,
yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Yunho
berkilat-kilat,
“Aku mencintainya.” gumamnya terus terang, membuat
Junsu tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Changmin.
Changmin hanya terdiam, menatap Jaejoong yang
tertidur pulas dengan sedih,
“Arrayo.” gumamnya pelan.
Yunho mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban
itu membebat kencang lukanya,
“Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu.”
sambungnya getir.
Changmin menghela nafas,
“Arra.”
“Sudah selesai.” Junsu menyela cepat, lalu menepuk
pundak Yunho, “Berbaringlah dulu di ranjang sebelah”, Junsu mengedikkan bahu ke
ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Jaejoong yang masih kosong.
“Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika
kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo.” sambungnya tegas ketika
melihat Yunho akan membantah.
Semula Yunho akan membantah, dia ingin melanjutkan
pembicaraan dengan Changmin, menjelaskan semuanya. Tetapi Junsu benar, rasa
pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat
penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi,
membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Yunho mengangkat bahu dan
melangkah ke ranjang kosong itu.
“Kita belum selesai bicara.” gumamnya pada Changmin,
mulai menguap.
“Nanti saja.” sela Junsu mengernyit, lalu meraih
kursi roda Changmin dan mendorongnya keluar, “Ayo Changmin, kita harus
membiarkan mereka beristirahat.” bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar
dari ruangan perawatan itu.
Junsu mendorong Changmin sampai di ruang tunggu
yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Changmin. Suasana hening,
dan Changmin hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama. Junsu menunggu,
menunggu sepatah pertanyaan dari Changmin sebelum menjelaskan semuanya, dan
akhirnya pertanyaan itu datang setelah menunggu sekian lama,
“Apa yang sebenarnya terjadi Junsu-ah?”
.
.
.
.
To Be Continue
hohoho,,,,akhirnya,,,finally,,,deudio,,,,
ReplyDeleteMin dah tau dan emang dah ngerasain klo JJ dah gak cinta ma Min lgi...
blom da yg meriksa jj hamil taw gak tuh ??? lol
Chawangg... don't be sad pliss.. ada junsu d sampingmu #lho .
ReplyDeleteAha.. changmin tau dg cr yg tak terduga..melihat sang kekasih lovey dovey dg namja lain.. apa? Diq cm bilang "arrayo, arra" . Min-ah, kau tabah sekali eohh
Changminie tabahkan hatimu
ReplyDeleteakhirnya tau juga changmin
tapi apa dia mau nglepasin jaejoong buat yunho ....
Kasian sama Changmin jadinya...
ReplyDeleteKr2 dia relain Jaejae diambil Yunho ga ya?