Tuesday, April 1

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XXV

Beberapa saat kemudian, Junsu kembali datang dan membantu Jaejoong duduk, lalu membantunya meneguk teh mint itu, setelah itu dia membaringkan Jaejoong yang lemas di ranjang, Jaejoong meletakkan kepalanya di bantal dengan penuh syukur,
"Terima kasih Junsu-shi, tehnya sangat membantu, perut saya tidak begitu bergolak lagi seperti tadi."
Junsu tersenyum lembut,
"Cobalah untuk tidur." gumamnya sebelum melangkah keluar kamar.
Ketika merasa suasana cukup aman, dengan Changmin yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Junsu meraih ponselnya menghubungi nomor telepon Yunho.
Yunho memang menghilang dari kehidupan Jaejoong, tetapi namja itu tetap memantau setiap detik kehidupan Jaejoong, namja itu menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Junsu setiap saat. Dan menurut Junsu,  Yunho berhak mengetahui dugaannya ini.
"Junsu." Yunho mengangkat teleponnya pada deringan pertama.
"Yun," Junsu berbisik pelan, bingung memulai dari mana. Sejenak suasana hening, dan tiba-tiba suara Yunho memecah keheningan.
"Dia hamil." itu pernyataan bukan pertanyaan.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
"Aku tidak bisa menyimpulkannya seakurat itu sebelum dilakukan test urine dan test lainnya, tapi kemungkinan besar dia hamil, dia memuntahkan semua yang dimakannya, dan mual-mual setiap saat."
"Dia hamil." kali ini rona kegembiraan mewarnai suara Yunho,
"Aku akan melakukan test urine dulu Yun, kau tak bisa...."
"Aku akan segera kesana." dan Yunho menutup telepon. Membiarkan Junsu ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan ketidaksabaran Yunho.
.
.
.
Yunho mau kesini, lalu apa? Langsung melemparkan bom itu ke muka Changmin dan Jaejoong? Dasar! Junsu berniat menunggu Yunho di depan apartemen, berusaha mencegah Yunho bertindak gegabah, namja itu harus berusaha pelan-pelan, apalagi kehamilan Jaejoong belum dipastikan secara akurat.
Lama sekali Junsu menunggu di ruang tamu, hampir satu jam. Kenapa Yunho lama sekali? Apakah Yunho membatalkan niatnya kemari? Junsu mulai bertanya-tanya. Saat itulah Changmin mendorong kursi rodanya ke ruang tamu,
Junsu menoleh dan tersenyum,
"Changmin-ah, bagaimana kondisimu?"
Changmin balas tersenyum,
"Tidak pernah lebih baik, aku tadi membaca di kamar, dan mulai merasa bosan jadi aku keluar, bagaimana keadaan Jaejoongie?"
Junsu menarik napas,
"Dia sudah tidur pulas sepertinya, kasihan sepertinya perutnya bermasalah."
Changmin mengernyitkan keningnya,
"Dia bekerja terlalu keras," gumamnya sendu, "dan itu semua gara-gara aku."
"Changmin-ah," Junsu menyela dengan lembut,
"Kita sudah pernah membahas ini, Kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Jaejoong-shi melakukannya dengan sukarela."
"Gurae?" suara Changmin menjadi pelan, "kadang-kadang aku merasa dia hanya kasihan kepadaku."
"Changmin....", Junsu tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering, dengan cepat diliriknya layar ponselnya. Yoochun.
"Yoochun?" panggilnya setelah mengangkat telepon, "Yoochun kau tahu di mana Yunho? Dia bilang akan ke sini, tapi sampai sekarang dia belum datang....."
"Junsu, Yunho kecelakaan di tol."
.
.
.
.
"Jaejoong-shi." dengan lembut Junsu menggoyangkan pundak Jaejoong yang tertidur pulas. Sementara Changmin mengikuti di belakangnya.
Dengan sedikit lemah Jaejoong membuka mata dan agak waspada melihat wajah Junsu yang pucat pasi, dengan segera dia duduk, gerakan tiba-tiba itu langsung membuat kepalanya pening, tapi Jaejoong menahannya sambil mengernyit,
"Ada apa Junsu-shi? Changmin kenapa?"
"Aku baik-baik saja di sini." gumam Changmin dalam senyum.
Jaejoong menatap Changmin dengan lega, tapi lalu menatap Junsu yang begitu pucat pasi,
"Jaejoong-shi, aku.... Ah aku bingung bagaimana mengatakannya, tapi aku harus segera pergi, ini darurat... Tapi aku bertanya-tanya mungkin kau mau ikut.."
"musun iriya Junsu-shi?", Jaejoong mulai tegang ketika Junsu tidak juga mengatakan maksudnya.
"Yunho, barusan kecelakaan di jalan tol, dia sudah dibawa ke rumah sakit, tapi kami belum tahu kondisinya, Yoochun juga sedang dalam perjalanan menuju kesana."
"Mwo?" warna pucat mulai menjalar ke wajah Jaejoong, lalu segera digantikan dengan kepanikan luar biasa, "Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit, Junsu-shi!!"
Changmin mengamati kepanikan Jaejoong dari kejauhan, tapi dia hanya diam dan menatap. Jaejoong tampak pucat pasi dan ketakutan luar biasa.
Kenapa sampai begitu? Seolah-olah kondisi Yunho benar-benar membuatnya cemas.
Bukankah Yunho hanya atasannya di perusahaan?
Atau..... Jangan-jangan lebih dari atasan?
Pikiran buruk itu menyeruak dalam benak Changmin, dan dia cepat-cepat menyingkirkannya. Tapi ketika dia melihat betapa Jaejoong mulai gemetaran karena cemas dan panik ketika bersiap-siap berangkat, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi benaknya, ada hubungan istimewa apa antara Yunho dengan Jaejoong?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Jaejoong, dia terus menerus berdoa, seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras. Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orangtuanya dan melukai Changmin dulu. Dan Jaejoong tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa kepada Yunho.
Ya Tuhan!! Jangan sampai terjadi apa-apa pada Yunho, dia belum sempat mengatakan... Dia belum sempat mengatakan dengan jelas, bahwa dia... Bahwa dia mencintai Yunho.
.
.
.
Jaejoong berlari di depan menuju ruangan gawat darurat sementara Junsu mendorong kursi roda Changmin di belakangnya.
Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Yunho.
Namja itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban, dokter sedang membalut luka di pundak dan lengannya. Banyak darah, tapi sudah dibersihkan. Selebihnya, Yunho tidak apa-apa. Namja itu masih hidup, masih untuh, dan ketika Yunho memalingkan kepalanya lalu menatap Jaejoong.
Jaejoong pingsan.
.
.
.
Yunho berteriak memanggil Jaejoong, begitu juga dengan Junsu dan Changmin yang ada di belakang Jaejoong. Tapi Jaejoong pingsan mendadak dan jatuh ke lantai.
Dengan kasar Yunho menyingkirkan tangan dokter yang sedang membalut lukanya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Jaejoong, perawat datang menghampiri, tapi Yunho menyingkirkannya,
"Biar aku saja." gumamnya serak, mengeryit sedikit ketika mengangkat Jaejoong menyakiti luka di lengan dan bahunya, tapi dia tidak peduli, dipeluknya Jaejoong dengan posesif dan dibaringkannya ke meja perawatan,
"Tuan, saya belum menyelesaikan membalut lukanya." gumam dokter di ruang gawat darurat itu sedikit jengkel,
"Nanti saja." Yunho bergumam tajam dengan arogansi yang sudah seperti pembawaan alaminya sehingga membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahunya lalu pergi.
"Boo, BooJae" Yunho menepuk pipi Jaejoong, tapi yeoja itu begitu pucat pasi, dengan panik, Yunho menoleh ke arah Junsu di pintu, mengabaikan Changmin, "Dia tidak apa-apa?"
Junsu mendorong Changmin mendekat, lalu menyentuh Jaejoong,
"Dia demam Yun, dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku kesini, terus tepuk pipinya pelan-pelan dan sadarkan dia, sepertinya dia shock," Junsu menatap Yunho tajam, "dan kau..kau tidak pernah kecelakaan selama hidupmu, apa yang kau lakukan di jalan tol tadi sehingga berakhir di rumah sakit ini?? Apakah kau mabuk??"
Yunho mengeryit,
"Aku tidak mabuk, aku hanya terlalu buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati." saat itulah Jaejoong bergerak membuka mata, "ah, Boo…..BooJae, gwenchana? Appo? Oddie?”
Jaejoong mengerjap-ngerjapkan matanya, begitu mendapati wajah Yunho ada di dekatnya, airmata mengalir di pipinya, tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Yunho, meyakinkan dirinya bahwa betul-betul Yunho yang ada di depannya,
Dengan lembut Yunho meraih tangan Jaejoong dan mengecupnya,
“Aku ada di sini, aku baik-baik saja.” gumamnya setengah berbisik.
Jaejoong membiarkan tangannya dalam genggaman Yunho, merasakan kulit Yunho yang panas, mensyukuri bahwa namja itu masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati saja ketika mengetahui bahwa Yunho kecelakaan, pikiran-pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama-sama dengan Yunho lagi asalkan namja itu tetap hidup, asalkan namja itu masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini, biarpun Jaejoong tidak bisa melihatnya lagi. Pikiran bahwa Yunho bisa saja meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah tadi ketika melihat Yunho masih hidup meskipun terluka membuatnya lega luar biasa sehingga pingsan. Jaejoong merasakan dadanya sesak ketika menyadari, bahwa cinta barunya, cintanya yang tidak diduga, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
“Jangan pernah ulangi lagi,” suara Jaejoong bergetar ketika mencoba berbicara serius kepada Yunho, “Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini kepadaku.”
Yunho meraih kedua tangan Jaejoong dan mengecup jemarinya dengan lembut,
“aku berjanji,” jawabnya penuh perasaan, “Sekarang tidurlah Boo, aku ada di sini.”
Dengan lembut Yunho mengusap dahi Jaejoong yang panas, membuat pikiran Jaejoong melayang, dia merasa lelah sekali, tubuhnya, jiwanya dan raganya. Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya kelelahan menahan perasaan. Usapan tangan Yunho di dahinya membuatnya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Jaejoong akhirnya terlelap lagi.
“Kemari, lukamu harus dibalut.” Junsu mencoba menarik perhatian Yunho, namja itu menatap Jaejoong dengan serius, memastikan bahwa Jaejoong sudah tidur, lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Junsu lebih mudah membalut luka di pundak dan lengannya.
Saat itulah Yunho menyadari kehadiran Changmin, yang hanya diam saja menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata. Mata Yunho berkilat-kilat,
“Aku mencintainya.” gumamnya terus terang, membuat Junsu tersedak dan saat itulah dia juga baru menyadari kehadiran Changmin.
Changmin hanya terdiam, menatap Jaejoong yang tertidur pulas dengan sedih,
“Arrayo.” gumamnya pelan.
Yunho mengangkat dagunya, mengernyit ketika perban itu membebat kencang lukanya,
“Dan dia juga mencintaiku, tetapi dia memilihmu.” sambungnya getir.
Changmin menghela nafas,
“Arra.”
“Sudah selesai.” Junsu menyela cepat, lalu menepuk pundak Yunho, “Berbaringlah dulu di ranjang sebelah”, Junsu mengedikkan bahu ke ranjang di sebelah ranjang yang dipakai Jaejoong yang masih kosong.
“Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak segera berbaring kau akan mengalami vertigo.” sambungnya tegas ketika melihat Yunho akan membantah.
Semula Yunho akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Changmin, menjelaskan semuanya. Tetapi Junsu benar, rasa pusing mulai menyerangnya, pusing dan nyeri di bahu dan kepalanya. Obat penghilang rasa sakit yang disuntikkan dokter jaga tadipun mulai bereaksi, membuatnya merasa lemas dan lunglai. Akhirnya Yunho mengangkat bahu dan melangkah ke ranjang kosong itu.
“Kita belum selesai bicara.” gumamnya pada Changmin, mulai menguap.
“Nanti saja.” sela Junsu mengernyit, lalu meraih kursi roda Changmin dan mendorongnya keluar, “Ayo Changmin, kita harus membiarkan mereka beristirahat.” bisiknya lembut dan mendorong mereka keluar dari ruangan perawatan itu.
Junsu mendorong Changmin sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi, lalu duduk di sofa di sebelah Changmin. Suasana hening, dan Changmin hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama. Junsu menunggu, menunggu sepatah pertanyaan dari Changmin sebelum menjelaskan semuanya, dan akhirnya pertanyaan itu datang setelah menunggu sekian lama,
“Apa yang sebenarnya terjadi Junsu-ah?”
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. hohoho,,,,akhirnya,,,finally,,,deudio,,,,
    Min dah tau dan emang dah ngerasain klo JJ dah gak cinta ma Min lgi...
    blom da yg meriksa jj hamil taw gak tuh ??? lol

    ReplyDelete
  2. Jaenna ♥9:25 PM

    Chawangg... don't be sad pliss.. ada junsu d sampingmu #lho .
    Aha.. changmin tau dg cr yg tak terduga..melihat sang kekasih lovey dovey dg namja lain.. apa? Diq cm bilang "arrayo, arra" . Min-ah, kau tabah sekali eohh

    ReplyDelete
  3. Changminie tabahkan hatimu
    akhirnya tau juga changmin
    tapi apa dia mau nglepasin jaejoong buat yunho ....

    ReplyDelete
  4. Kasian sama Changmin jadinya...
    Kr2 dia relain Jaejae diambil Yunho ga ya?

    ReplyDelete