The Untitled Story
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Chapter
5
Matahari sangat panas. Jessica tidak ingin
aku mengikat rambutku menjadi ekor kuda. Dia
berpikir bahwa para namja menyukai rambut yang tergerai. Sayangnya
bagiku hari ini sangat panas. Aku merogoh pendingin dan mengambil es batu
menggosoknya ke leherku membiarkannya menyelinap ke dalam baju ku. Aku hampir
berada di lubang lima belas untuk ketiga kalinya hari ini.
Tidak ada yang bangun pagi ini ketika aku
keluar dari kamarku. Piring piring yang kosong masih ada di meja. Aku
membersihkannya dan melempar keluar makanan dipanci yang dia tinggalkan
sepanjang malam. Itu membuatku sedih melihat makanan itu dibuang. Baunya sangat
enak semalam saat aku pulang.
Lalu aku membuang botol anggur kosong dan
menemukan gelas gelas diluar disamping meja tempat aku menyaksikan Yunho
melakukan hal itu dengan wanita yang tidak
diketahui. Setelah meletakkan piring kotor di mesin cuci piring aku
menyalakannya dan mengelap meja konter dan kompor,
Aku meragukan Yunho memperhatikan tapi itu
membuatku merasa lebih baik tentang tidur gratis disini. Aku berhenti disamping
kelompok pegolf di lubang kelima belas. Mereka masih muda. Aku pernah melihat mereka ketika mereka
berada dilubang ketiga. Mereka membeli banyak dan mereka benar benar pemberi
tips yang baik. Jadi aku melakukan
tindakan yang menggoda. Itu tidak seperti salah satu dari mereka benar
benar akan berkencan dengan yeoja kereta di lapangan golf. Aku bukan idiot.
"Itu dia," salah satu orang
berteriak saat aku berhenti di samping mereka dan tersenyum.
"Ah, yeoja favoritku kembali. Disini
sangat panas dari pada neraka. Aku butuh yang dingin satu, mungkin dua."
Aku memarkir kereta dan keluar untuk pergi
memutar kebelakang dan mengambil pesanan mereka.
"Kau ingin yang lain, Miller (nama
minuman)?" aku bertanya kepadanya bangga pada diriku sendiri untuk
mengingat pesanannya yang terakhir.
"Ya, sayang aku mau." Dia
mengedipkan mata dan menutup jarak antara kami membuatku sedikit tidak nyaman.
"Hei aku juga ingin sesuatu Yoochun.
Mundur lebih baik," kata namja lain dan aku terus tersenyum di wajahku
saat aku menyerahkan bir dan ia menyodorkan uang dua puluh ribu won.
"Simpan saja kembaliannya."
"Gomawo," jawabku menyelipkan
uang ke sakuku. Aku melihat pada namja lain nya. "Siapa lagi?"
"Aku," seorang namja dengan
rambut pirang pendek keriting dan mata coklat yang cantik berkata melambaikan
tagihan.
"Kau ingin corona kan?" tanyaku
meraih ke pendingin dan menarik keluar minuman yg dipesannya saat terakhir
kali.
"Kurasa aku jatuh cinta. Dia cantik
dan dia ingat bir apa yang kuminum. Lalu ia membuka nya untukku." Aku tau
dia hanya menggoda sambil menyodorkan tagihan ditanganku dan mengambil bir
dariku. "kembaliannya untukmu cantik."
Aku melihat uang lima puluh ribu won saat
kumasukkan didalam sakuku. Namja namja
ini benar benar tidak keberatan membuang buang uang. Itu tip yg konyol.
Aku merasa seperti harus mengatakan kepadanya untuk tidak memberiku begitu
banyak tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya. Mereka mungkin suka
memberi tip setiap saat.
"Siapa namamu?" seseorang
bertanya dan aku berpaling untuk melihat seseorang berambut gelap dengan wajah tampan
menunggu untuk menyerahkan pesanannya dan mendengar jawabanku.
"Jaejoong." jawabku meraih ke
pendingin untuk bir yang dia pesan. Aku membuka tutupnya dan menyerahkan
kepadanya.
"Kau punya namjachingu Jae?"
tanyanya mengambil minuman dariku saat menjalankan jarinya membelai di sepanjang
sisi tanganku.
"Um, Ani." jawabku, tidak yakin
apakah mungkin lebih baik berbohong dalam situasi seperti ini.
Namja itu mendekat kearahku dan mengulurkan
tangannya membayar dengan tip di dalamnya, "Aku Hyunjoong," jawabnya.
"Ini, eh senang bertemu denganmu Hyunjoong,"
aku tergagap menjawabnya. Pandangan yang
intens dalam matanya yang gelap membuatku gugup. Dia bisa berbahaya dan
beraroma cologne yang mahal. Cologne yang berkualitas tinggi. Dia salah satu
dari orang orang yang tampan dan dia tau itu. Apa dia sedang menggodaku?
"Tidak adil, Hyunjoong. Mundur boy.
Kau harus berusaha maksimal dengan yang satu ini. Hanya karena ayahmu pemilik
bersama disini tidak berarti kau yang pertama." canda si ikal. Aku pikir
dia sedang bercanda.
Hyunjoong mengabaikan temannya dan tetap
fokus padaku "jam berapa kau selesai bekerja?"
Uh-oh. Jika aku mengerti dengan benar kalau
ayah Hyunjoong adalah bos utamaku. Aku tidak perlu menghabiskan waktu ku dengan
putra pemilik klub glof ini. Akan menjadi hal yang sangat buruk.
"Aku bekerja sampai tutup," aku
menjelaskan dan menyerahkan empat bir terakhir dan mengambil uangnya
"Kenapa kau tidak membiarkan aku
menjemputmu dan membawamu untuk makan sesuatu?" kata Hyunjoong berdiri
sangat dekat denganku sekarang. Jika aku berbalik dia hanya akan berupa
bisikan.
"Di sini panas dan aku sudah
kelelahan. Yang aku ingin lakukan adalah mandi dan beristirahat,"
Napas hangat menggelitik telingaku dan aku
menggigil saat butir butir keringat mengalir kepunggungku. "Apakah kau takut padaku? Aku tidak
berbahaya Jae."
Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan
pada nya. Aku tidak pintar menggoda dan aku cukup yakin itu yang dia lakukan.
Tidak ada seorang pun yang menggodaku dalam setahun. Setelah aku putus dari Yihan, hariku telah di dihabiskan dengan sekolah dan
kemudian eommaku. Aku tidak punya waktu untuk hal lain. Namja namja tidak
menghiraukan ku.
"Kau tidak menakutiku. Aku hanya tidak
terbiasa untuk hal semacam ini" jawabku meminta maaf aku tidak tahu
bagaimana untuk merespon dengan benar.
"Hal apa itu?" dia bertanya
penasaran. Aku akhirnya berbalik untuk menghadapinya.
"Namja. Dan rayuan. Setidaknya aku
pikir itulah yg terjadi," aku terdengar seperti orang bodoh. Senyum
perlahan lahan membentang di wajah Hyunjoong membuatku ingin merangkak dibawah
mobil golf dan bersembunyi. Aku tidak pantas untuk komunitasnya.
"Ya, tentu saja ini merayu. Dan
bagaimana bisa seorang yang luar biasa seksi sepertimu tidak terbiasa dengan
hal semacam ini?"
Aku menegang mendengar kata-katanya dan
menggeleng. Aku harus pergi ke lubang enam belas. "Aku sibuk beberapa
tahun terakhir. Jika eh, kau tidak perlu apa-apa lagi pegolf di lubang enam
belas mungkin marah denganku sekarang"
Hyunjoong mengangguk dan mengambil langkah
mundur "Aku belum selesai denganmu bukan karena sesuatu hal yang penting,
tapi untuk sekarang aku akan membiarkanmu kembali bekerja."
Aku bergegas kembali kesisi pengemudi
kereta dan menaikinya. Lubang berikutnya adalah sekelompok namja pensiunan. Aku
tidak pernah mencari perhatian untuk dilirik namja namja tua dalam hidupku tapi
setidaknya mereka tidak menggoda.
.
.
.
.
Ketika aku berjalan ke trukku malam itu aku
merasa lega melihat tidak ada tanda tanda Hyunjoong. Seharusnya aku tau dia
hanya menggoda. Aku telah mendapat tips beberapa ratus ribu won hari ini dan
aku memutuskan untuk memperlakukan diri dengan makanan yang benar benar enak.
Aku menuju ke drive-thru di Mc Donalds dan memesan sebuah cheeseburger dan
kentang goreng. Aku makan dengan senang dalam perjalanan kembali ke Yunho.
Tidak ada mobil diluar malam ini.
Aku tidak ingin masuk saat dia berhubungan
seks malam ini. Kemudian, dia mungkin telah membawa seseorang disini dalam
mobilnya. Aku berjalan didalam dan berhenti di ruang depan. Tidak ada televisi.
Tidak ada suara sama sekali, tapi pintu telah dibuka. Aku tidak harus
menggunakan kunci tersembunyi yang sudah dia beritahukan.
Aku berkeringat terlalu banyak hari ini.
Aku harus mandi sebelum aku pergi tidur. Aku melangkah ke dapur dan memeriksa
teras depan untuk memastikan bebas dari petualangan seksual. Mandi akan terasa nyaman.
Aku masuk ke kamarku dan meraih boxer lama
milik Yihan dan tank top yang kupakai di malam
hari. Yihan telah memberikannya kepadaku ketika
kami masih muda dan konyol. Dia ingin aku tidur di sesuatu yang dimiliknya. Aku
sudah tidur didalammya setiap saat. Meskipun sekarang jauh lebih ketat daripada
dulu. Lekukanku berkembang sejak usia lima belas.
.
.
.
.
Aku menarik napas dalam dalam dari udara di
laut saat aku melangkah keluar. Ini adalah malam ketiga ku disini dan aku benar
benar belum pernah turun ke air. Aku pulang sangat lelah sehingga aku tidak
punya tenaga untuk pergi kesana. Aku menuruni tangga dan meletakkan piyamaku
dikamar mandi sebelum melepas sepatu tenisku.
Pasirnya masih hangat dari sinar matahari.
Aku berjalan didalam kegelapan sampai ke tepi air mengenai ku. Rasa dingin
mengejutkanku dan aku menarik napas tapi membiarkan air garam menutupi kakiku.
Eommaku tersenyum bercerita tentang saat
dia bermain dilaut berkelebat dalam memoriku dan aku memiringkan kepalaku ke
surga dan tersenyum. Aku akhirnya disini. Aku disni untuk kita berdua.
Sebuah suara disisi kiri memecahkan
pikiranku. Aku berbalik untuk memandang rendah kepantai sepertinya cahaya bulan
memecah lepas dari awan dan Yunho tersorot dalam kegelapan. Berlari.
Sekali lagi, ia bertelanjang dada. Celana
pendek yang ia kenakan menggantung rendah dipinggul kecilnya dan aku terpesona
oleh tubuhnya yang terlihat saat ia berlari kearahku. Aku tidak yakin apakah
aku harus bergerak atau dia yang melakukannya. Kakinya melambat dan kemudian ia
berhenti disampingku. Keringat di dadanya berkilau dalam cahaya lembut. Anehnya
aku ingin meraih dan menyentuhnya. Tapi seperti nya tidak mugkin nyata. Itu
tidak mungkin.
"Kau kembali," katanya sambil
mengambil napas dalam dalam.
"Aku baru saja pulang kerja,"
jawabku, berusaha keras untuk menjaga mataku padanya dan tidak di dadanya.
"Jadi kau mendapat pekerjaan?"
"Ya. Kemarin."
"Di mana itu?"
Aku tidak yakin tentang bagaimana
perasaanku memberitahunya terlalu banyak. Dia bukan lah teman. Dan jelas aku
tidak pernah dianggap sebagai keluarganya. Orang tua kita mungkin menikah
tetapi ia tampaknya tidak ingin berhubungan dengan ayahku atau aku.
"Kim’s Club," jawabku.
Alis Yunho terangkat dan ia mengambil
langkah mendekatiku. Ia menyelipkan tangannya dibawah daguku dan memiringkan
wajahku. " Kau memakai mascara," katanya, sambil mengamati ku.
"Ya."
Aku menarik daguku dari genggamannya. Dia
mungkin membiarkanku tidur dirumahnya tapi aku tidak suka dia menyentuhku. Atau
mungkin aku menyukai dia menyentuhku dan itulah masalahnya. Aku tidak ingin
menyukai sentuhannya.
"Itu membuatmu terlihat lebih
tua." Dia melangkah mundur dan melakukan penilaian perlahan pada
pakaianku,
"Kau yeoja kereta dilapangan
golf," jawabnya singkat dan menatapku kembali.
"Bagaimana kau tau?" tanyaku.
Dia melambaikan tangannya padaku.
"Pakaian itu. Celana pendek putih kecil dan kaus polo. Ini seragam."
Aku sangat senang karena gelap. Aku yakin
wajahku memerah.
"Kau membuat keuntungan besar, benar
kan?" tanyanya dengan nada geli.
Aku menghasilkan lebih dari lima ratus ribu
won tips dalam dua hari. Itu bukan keuntungan besar untuknya tapi bagiku iya.
Aku mengangkat bahu. "Kau akan lega
mengetahui bahwa aku keluar dari sini dalam waktu kurang dari sebulan."
Dia tidak menanggapi segera. Aku mungkin
harus meninggalkannya dan pergi untuk mandi. Aku mulai mengatakan sesuatu
ketika ia mengambil langkah mendekatiku. "Aku Mungkin seharusnya, lega.
Benar benar lega, sialan. Tapi, aku tidak. Aku tidak lega Jae," ia
berhenti dan membungkuk untuk berbisik ditelingaku, "kenapa begitu?"
Aku ingin meraih dan memegang tangannya
untuk menjaganya agar aku tidak jatuh ke tanah . Tapi aku menahan diri.
"Jaga jarak dariku, Jae. Kau tidak
ingin terlalu dekat. Semalam." dia menelan dengan keras. "Semalam
menghantuiku. Mengetahui kau sedang menonton. Ini membuatku gila. Jadi,
menjauhlah. Aku melakukan yang terbaik untuk menjauh darimu." Dia berbalik
dan berlari kembali kerumah saat aku berdiri disana mencoba untuk tidak meleleh
di genangan pasir.
Apa maksudnya? Bagaimana dia tahu aku
melihat mereka? Ketika aku melihat pintu rumah tertutup dibelakangnya aku masuk
dan mandi. Kata kata nya terus membuatku terjaga sepanjang malam.
.
.
.
.
.
To Be Continue

yuchun berusaha deketin jae dan yunho malah nyuruh jae menjauh ternyat yunho tau klo jae liat yun lgi nc an mungkin yunho sengaja
ReplyDeletedan jae kayanya udah mulai terpesona sama yunho
Yunho ingin jae menjauh?? Jgn bilang yunho udh mulai pny perasaan lain ke jae...
ReplyDelete