Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Chapter 6
Menjauh dari Yunho
tidaklah mudah apalagi kami tinggal di bawah atap yang sama. Walaupun dia
berusaha menjaga jarak, kami tetap saling bertemu. Dia juga menghindari
bertatap mata denganku namun itu malah membuatku makin terpesona padanya.
Dua hari setelah
percakapan kami di pantai, aku melangkah memasuki dapur setelah menyantap roti
isi mentega kacangku dan kembali disambut oleh yeoja setengah telanjang lain
lagi. Rambutnya berantakan meskipun tidak disisir dia adalah yeoja yang
menarik. Aku benci yeoja-yeoja seperti itu.
Si yeoja berbalik
untuk memandangku. Ekspresi terkejutnya dengan cepat berubah menjadi
tidak suka. Dia mengerjapkan kedua mata cokelatnya dan kemudian berkacak
pinggang. "Apakah kau baru saja keluar dari pantry?"
"Ya. Apakah
kau baru saja turun dari tempat tidur Yunho?" Tukasku. Itu terlontar dari
mulutku sebelum aku dapat menghentikan diriku. Yunho sendiri telah menegaskan
bahwa kehidupan seksnya sama sekali bukan urusanku. Aku seharusnya harus
menutup mulut ku.
Si yeoja
menaikkan kedua alis matanya yang berbentuk sempurna kemudian seringai geli
tersungging di bibirnya.
"Ani. Bukan
berarti aku menolak naik ke tempat tidurnya jika dia mengijinkan tapi jangan
pernah mengadu pada Changmin."
Dia mengibaskan
tangannya seperti menghalau pergi seekor lalat. "Lupakanlah. Changmin juga
sepertinya sudah tahu."
Aku jadi bingung.
"Jadi, kau baru turun dari tempat tidurnya Changmin?" Tanyaku sambil
menyadari sekali lagi bahwa itu juga bukan urusanku. Namun Changmin tidak
tinggal disini jadi aku penasaran.
Si yeoja
menyapukan jemarinya ke rambut ikalnya yang berantakan dan menghela napas.
"Iya. Atau lebih tepatnya tempat tidur lamanya."
"Tempat
tidur lamanya?" Aku mengulang.
Pergerakan di
lorong membuat perhatianku teralihkan dan mataku mengunci mata Yunho. Dia
memperhatikanku dengan sebuah cengiran yang menghiasi bibirnya. Bagus. Dia
telah mendengarkanku mengorek keterangan. Aku ingin membuang pandanganku dan
berpura-pura tidak pernah bertanya pada yeoja itu apakah dia dari tempat
tidurnya Yunho. Kilatan pengetahuan di matanya memberitahuku bahwa itu tidak
ada gunanya.
"Kumohon
jangan biarkan aku jadi penghalang Jae. Silahkan lanjutkan menginterogasi tamu Changmin.
Aku yakin dia tidak keberatan," ujar Yunho dengan perkataan yang sengaja
dilambatkan. Dia menyilangkan lengannya di dada dan bersandar pada kusen pintu
seakan dia makin merasa nyaman.
Kutundukkan
kepalaku dan berjalan ke arah tempat sampah untuk menyingkirkan remah roti dari
jemariku sambil mengumpulkan pikiranku. Aku tidak mau melanjutkan obrolan ini
apabila Yunho masih mendengarkan. Itu membuatku terlihat amat tertarik padanya.
Sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Selamat
pagi, Yunho, terimakasih telah mengizinkan kami menginap disini semalam. Changmin
minum terlalu banyak sehingga tidak bisa mengemudi kembali ke rumahnya,"
ujar yeoja itu.
Oh. Jadi begitu
ceritanya. Sial. Kenapa aku membiarkan rasa ingin tahu menguasaiku?
"Changmin
tahu dia punya kamar kalau dia ingin tinggal di sini," timpal Yunho. Aku
bisa melihat dengan menggunakan sudut mataku dia berjalan menjauh dari kusen
pintu menuju meja dapur. Perhatiannya tercurah padaku. Kenapa dia tidak
melupakan hal ini? Aku akan pergi dalam diam.
"Well, uh,
kalau begitu kurasa aku akan kembali ke lantai atas," suara yeoja itu
terdengar tidak yakin. Yunho tidak menjawab dan aku tidak menoleh untuk
memandang salah satu dari mereka. Si yeoja menganggap itu merupakan suatu
pertanda bahwa dia harus segera pergi dan aku menunggu langkah kaki yeoja itu
menaiki tangga sebelum aku berbalik memandang Yunho.
"Rasa ingin
tahu bisa membuat seekor kucing kecil terbunuh, Jae," bisik Yunho ketika
dia berjalan kearahku. "Apakah tadi kau berpikir aku punya teman tidur
yang lain? Hmmm? Berusaha memutuskan apakah dia telah berada di tempat tidurku
semalaman?"
Aku menelan
dengan susah payah namun tidak berkata apapun.
"Dengan
siapa aku tidur bukan urusanmu. Bukankah kita pernah membicarakan ini
sebelumnya?"
Aku mengangguk.
Jika dia membiarkanku pergi aku tidak akan pernah berbicara lagi dengan yeoja
manapun yang datang ke rumah ini.
Yunho mengulurkan
tangannya dan memilintir rambutku dengan jarinya. "Kau tidak mau
mengenalku. Kau mungkin berpikir sebaliknya tapi sebenarnya tidak. Aku
berjanji."
Jika dia tidak
sangat mempesona dan berada tepat di depanku maka itu akan lebih mudah
mempercayainya. Tapi semakin dia menolakku semakin aku tertarik padanya.
"Kau bukan
seperti yang kuperkirakan. Walau aku berharap sebaliknya. Itu akan mempermudah
segalanya," ujarnya dengan suara rendah sambil melepaskan rambutku lalu
berbalik dan berjalan menjauh. Ketika pintu yang mengarah ke teras belakang
tertutup kulepaskan napas yang sedari tadi kutahan.
Apa maksudnya?
Apa yang telah dia harapkan?
.
.
.
.
Malam itu ketika
aku pulang kerja, Yunho tidak ada.
.
.
.
Kubuka mataku dan
melihat kearah jam alarm kecil diatas nakas. Sudah lewat dari pukul sembilan
pagi. Tidurku nyenyak. Meregangkan tubuhku, aku meraih tombol dan menyalakan
lampu. Aku telah mandi semalam jadi tubuhku bersih. Aku telah menghasilkan
lebih dari satu juta won minggu ini. Kuputuskan untuk memulai mencari apartemen
hari ini. Pada waktu yang sama minggu depan seharusnya aku telah mendapatkan
tempat untuk kutinggali.
Kujalarkan tangan
pada rambutku dan mencoba untuk merapikannya sebelum aku bangkit. Aku ingin
berjemur sebentar di pantai pagi ini. Aku belum sempat melakukannya hingga
sekarang. Hari ini aku akan menikmati laut dan sinar matahari.
Kutarik keluar
koperku dari bawah tempat tidur dan mencari bikini putih dan pinkku. Itu
satu-satunya yang kumiliki. Jujur saja, sangat jarang kukenakan. Pola renda
putihnya dengan pinggiran pink terlihat bagus pada kulit ku.
Ketika kukenakan
kusadari bahwa bikininya telah mengecil. Atau tubuhku telah berubah semenjak
terakhir aku memakainya. Kukeluarkan sehelai tank top dari koper untuk menutupi
bikini yang kukenakan dan menyambar tabir suryaku. Aku telah membelinya setelah
hari pertamaku bekerja. Tabir surya adalah suatu kewajiban untuk pekerjaanku.
Kumatikan lampu
dan memasuki pantry kemudian dapur. "Sial. Siapakah dia?" seorang namja
muda bertanya dengan terkejut kearahku saat aku melangkah kearah cahaya. Aku
menatap sekilas pada orang asing yang terperangah itu, dia sedang duduk di bar
lalu aku mengalihkan pandangan kearah kulkas dimana Changmin sedang berdiri
sambil tersenyum.
"Apakah kau
keluar dari kamar dengan berpakaian seperti itu setiap hari?" Changmin
bertanya.
Aku tidak mengira
akan bertemu siapapun disini. "Um, tidak. Biasanya aku berpakaian dengan
seragam kerja," Jawabku ketika siulan pelan datang dari namja muda di bar.
Dia tidak mungkin berusia lebih dari enam belas tahun.
"Jangan
pedulikan hormon yang sedang menguasai idiot yang ada di bar itu. Dia Kyuhyun. Eommanya
adik Heechul. Jadi dia adalah dongsaeng sepupuku. Dia datang kemari tadi malam
setelah kabur untuk ratusan kalinya dan Yunho menghubungiku untuk datang
menjemputnya dan menyeret bokongnya pulang."
Yunho. Kenapa
dengan mendengar namanya membuat jantungku berdegup lebih kencang? Karena dia
secara tidak adil sempurna. Itulah alasannya. Kugelengkan kepalaku untuk
menyingkirkan pemikiran mengenai Yunho. "Senang bertemu denganmu, Kyu. Aku
Jaejoong. Yunho mengasihaniku dan mengizinkanku tinggal hingga aku mampu
mencari tempat tinggalku sendiri."
"Hey, kau
bisa ikut pulang bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu tidur dibawah
tangga," Kyuhyun menawarkan.
Aku tersenyum.
Ini adalah rayuan polos yang bisa kupahami.
"Terima
kasih tapi aku kira eommamu tidak akan mengizinkannya. Aku tidak masalah dengan
kamar dibawah tangga. Tempat tidurnya nyaman dan aku tidak perlu tidur dengan
pistolku."
Changmin terbahak
dan mata Kyuhyun melotot. "Kau punya pistol?" Kyuhyun bertanya dengan
nada kagum.
"Sekarang,
kau telah mengatakannya. Sebaiknya aku membawanya pergi sebelum dia jatuh cinta
lagi," jawab Changmin, membawa cangkir yang telah dia isi dengan kopi. Dia
mendahului berjalan kearah pintu sambil berkata "Ayo Kyu sebelum aku
membangunkan Yunho dan kau harus menghadapi bokong pemarahnya."
Kyuhyun menatap
sekilas pada Changmin lalu kembali menatapku seakan dia terluka. Itu
menggemaskan.
"SEKARANG, Cho,"
Changmin berkata dengan nada yang lebih menuntut.
"Hey, Changmin,"
Aku memanggilnya sebelum dia melewati pintu.
Dia berbalik
untuk memandangku, "Ye?"
"Gomapta
untuk bensinnya. Akan kubayar secepatnya setelah aku mendapatkan gajiku."
Changmin
menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak boleh. Aku akan merasa tersinggung.
Tapi, terima kasih kembali." Dia berkedip padaku kemudian mengirimkan
tatapan menperingatkan kepada Kyuhyun sebelum meninggalkan dapur.
Aku melambaikan
tangan sebagai tanda selamat tinggal pada Kyuhyun. Aku nanti akan mencari cara
membayar Changmin tanpa membuatnya tersinggung. Pasti ada suatu cara. Sekarang,
aku punya rencana lain. Aku melangkahkan kaki ke pintu yang mengarah keluar.
Inilah waktunya aku menikmati hari pertama yang sebenarnya di pantai.
Kubentangkan
handuk yang kupinjam dari kamar mandi. Aku harus mencucinya nanti malam. Ini
satu-satunya yang kupakai untuk mengeringkan tubuh dan sekarang kugunakan
sebagai alas diatas pasir. Itu sangat sepadan.
Pantainya sepi.
Kami tidak dekat dengan rumah lainnya jadi pantainya kosong. Merasa berani,
kulepaskan tank top yang kupakai dan ku lepaskan lewat
kepalaku. Lalu kupejamkan mataku dan membiarkan suara ombak di lautan
yang menghantam tepi pantai menyeretku untuk kembali tidur.
"Kumohon
katakan padaku kalau kau memakai tabir surya," sebuah suara berat menyapuku
dan aku mencondongkan tubuhku ke depan. Aroma bersih maskulinnya sangat
menggiurkan. Aku harus lebih dekat.
Kubuka mataku,
aku berkedip akibat sinar matahari yang menyilaukan dan kunaungi mataku untuk
melihat Yunho yang sedang duduk disampingku. Mata musangnya mengamati ku.
Kehangatan atau humor dalam suaranya yang tadi kubayangkan telah lenyap.
"Kau memakai
tabir surya, ya kan?"
Aku hanya
mengangguk dan bangkit ke posisi duduk.
"Bagus. Aku
tidak suka melihat kulit mulusmu yang lembut berubah menjadi pink."
Dia pikir kulitku
mulus dan lembut. Itu terdengar seperti sebuah pujian tapi aku tidak yakin
mengucapkan terima kasih itu pantas.
"Aku, uh,
mengoleskannya sebelum kemari."
Dia terus
menatapku. Aku melawan keinginanku untuk meraih tank topku dan mengenakannya
diatas bikiniku. Aku tidak memiliki bentuk tubuh seperti yeoja-yeoja yang
kulihat selalu menemaninya. Aku tidak menyukai perasaan seakan dia sedang
membanding-bandingkanku.
"Kau tidak
bekerja hari ini?" Akhirnya dia bertanya.
Aku menggelengkan
kepalaku. "Ini adalah hari liburku."
"Bagaimana
pekerjaanmu?"
Dia sedang
bersikap baik, semacamnya. Setidaknya dia tidak menghindariku. Sekonyol apapun
kelihatannya tapi aku menginginkan perhatiannya. Ada suatu daya tarik yang
menyeretku kepadanya yang tidak bisa kujelaskan. Semakin dia menjaga jarak
semakin aku ingin mendekat. Dia memiringkan kepalanya dan menaikkan salah satu
alisnya seperti sedang menantiku untuk mengatakan sesuatu.
Oh tunggu dulu.
Dia telah bertanya padaku. Sial, mata musang itu. Membuatku sulit
berkonsentrasi. "Ah, nde?" Aku bertanya merasakan wajahku memanas.
Dia berdecak,
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya perlahan.
Aku harus
berhenti bersikap seperti idiot kalau dia sedang berada di sekitarku.
Kuluruskan bahuku, "Berjalan dengan baik. Aku menyukainya."
Yunho menyeringai
dan memandang ke air, "Aku yakin kau menikmatinya."
Aku terdiam
sejenak dan memikirkan komentar itu lalu bertanya, "Apa maksud perkataanmu
itu?"
Tatapan Yunho
turun menjelajahi tubuhku kemudian naik lagi. Aku amat menyesal tidak
mengenakan kembali tank topku. "Kau tahu bagaimana wajahmu, Jae. Apalagi
dengan senyum sialanmu yang manis itu. Para pegolf namja pasti membayarmu
dengan baik."
Dia benar
mengenai uang tipnya. Dia juga membuatku bernapas secara konyol dengan memandangku
seperti itu. Aku menginginkan dia menyukai apa yang dia lihat namun kemudian
aku takut dengan apa yang akan terjadi. Bagaimana jika dia mengubah
keputusannya mengenai saling menjaga jarak? Bisakah aku mengikutinya?
Kami duduk dalam
diam selama beberapa saat ketika dia memandang lurus kedepan. Aku yakin dia
sedang memikirkan sesuatu. Rahangnya menegang dan ada garis kerutan terbentuk
di dahinya. Aku jadi memikirkan lagi semua yang telah kukatakan. Aku tidak
dapat menemukan satupun yang dapat membuatnya kesal.
"Sudah
berapa lama eommamu meninggal?" Tanyanya sambil menatapku lagi.
Aku tidak ingin
membicarakan mengenai eommaku. Tidak padanya. Namun mengabaikan pertanyaannya
tidaklah sopan. "Tiga puluh enam hari yang lalu."
Rahangnya
bergerak seakan dia gusar akan sesuatu dan kerutan di dahinya semakin dalam.
"Apakah appamu tahu bahwa sebelumnya beliau sakit?"
Pertanyaan lain
yang tidak ingin aku jawab. "Ya, appaku tahu. Aku juga menghubunginya di
hari eommaku meninggal dunia. Dia tidak mengangkat teleponnya. Aku hanya
meninggalkan sebuah pesan." Kenyataan bahwa appaku tidak pernah membalas
teleponku terlalu sakit untuk kuakui.
"Apa kau
membencinya?" tanya Yunho.
Aku ingin
membencinya. Dia telah menyebabkan duka dalam hidupku sejak hari dimana eonniku
meninggal. Itu sulit. Tapi appaku satu-satunya keluarga yang masih kumiliki.
"Kadang-kadang," sahutku jujur.
Yunho mengangguk
dan menjulurkan tangannya kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan
kelingkingku. Dia tidak berkata apapun namun pada saat itu memang tidak perlu.
Satu koneksi kecil itu sudah cukup mengatakan semuanya. Mungkin aku tidak
terlalu mengenal Yunho namun dia telah mempengaruhiku.
"Aku
mengadakan sebuah pesta malam ini. dongsaengku
Boa, berulang tahun. Aku selalu menyelenggarakan pesta untuknya. Mungkin kau
tidak terlalu dapat berbaur namun kau diundang jika kau mau hadir"
dongsaeng? Dia
memiliki seorang yodongsaeng? Kupikir dia anak tunggal. Bukankah Boa adalah yeoja
yang sangat kasar di malam kedatanganku?
"Kau
memiliki yodongsaeng?"
Yunho mengendikkan
bahunya, "Ya."
Kenapa Changmin
bilang dia anak tunggal? Kutunggu dia untuk menjelaskan tapi dia diam saja.
Lalu kuputuskan untuk bertanya.
"Changmin
bilang kau anak tunggal."
Yunho menegang.
Kemudian menggelengkan kepalanya saat dia melepaskan jarinya dan berpaling
untuk memandang ke laut. "Changmin tidak punya hak untuk menceritakan
hal-hal mengenai diriku. Betapapun dia sangat menginginkan masuk kedalam celana
dalammu." Yunho berdiri dan tidak memandangku lagi ketika dia berjalan
kearah rumah.
Sesuatu mengenai
Boa melewati batasan. Aku tidak tahu apa tapi benar-benar melewati batasan. Aku
seharusnya tidak menjadi orang yang mau tahu urusan orang lain. Aku berdiri dan
berjalan menuju air. Panas dan aku membutuhkan sesuatu untuk menyingkirkan Yunho
dari benakku. Setiap kali aku mengendurkan penjagaanku di sekitarnya dia
mengingatkanku alasan mengapa aku harus diam di tempat saja. Namja itu aneh.
Seksi, tampan, dan menggiurkan namun aneh.
.
.
.
.
To Be Continued

Kasian jj. Saki.. yg de amor lanjut dunkkk
ReplyDeleteyunho belum keliatan di pesta kmana dia ? yoochun berusah terus deketin jaejoong dan kahi mlah terang2 an ngehina jaejoong
ReplyDeletesabar jae ....
lanjut saki
Sakiii yunbear koq blm nongol nehhh
ReplyDeleteKpn yunjae moment'y, aq tunggu lo
Sacrifio de amor mhn d lanjutkan yaaaa
(ʃƪ´⌣`) Ţћǟπƙ γǿΰ (´⌣`ʃƪ)
Jae tabahkan hatimu, nak....udh di kmr aja g ush keluar, drpd sakit hati, jd sebel jae digituin
ReplyDelete