Wednesday, March 26

[Remake] The Untittled Story Chapter VI


Summary: Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
The Untitled Story

©Kitahara Saki

Remake from Abby Glines Story

Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self

Marga disesuaikan untuk kepentingan cerita

Chapter 6
Menjauh dari Yunho tidaklah mudah apalagi kami tinggal di bawah atap yang sama. Walaupun dia berusaha menjaga jarak, kami tetap saling bertemu. Dia juga menghindari bertatap mata denganku namun itu malah membuatku makin terpesona padanya.
Dua hari setelah percakapan kami di pantai, aku melangkah memasuki dapur setelah menyantap roti isi mentega kacangku dan kembali disambut oleh yeoja setengah telanjang lain lagi. Rambutnya berantakan meskipun tidak disisir dia adalah yeoja yang menarik. Aku benci yeoja-yeoja seperti itu.
Si yeoja berbalik untuk memandangku. Ekspresi terkejutnya dengan cepat berubah  menjadi  tidak suka. Dia mengerjapkan kedua mata cokelatnya dan kemudian berkacak pinggang. "Apakah kau baru saja keluar dari pantry?"
"Ya. Apakah kau baru saja turun dari tempat tidur Yunho?" Tukasku. Itu terlontar dari mulutku sebelum aku dapat menghentikan diriku. Yunho sendiri telah menegaskan bahwa kehidupan seksnya sama sekali bukan urusanku. Aku seharusnya harus menutup mulut ku.
Si yeoja menaikkan kedua alis matanya yang berbentuk sempurna kemudian seringai geli tersungging di bibirnya.
"Ani. Bukan berarti aku menolak naik ke tempat tidurnya jika dia mengijinkan tapi jangan pernah mengadu pada Changmin."
Dia mengibaskan tangannya seperti menghalau pergi seekor lalat. "Lupakanlah. Changmin juga sepertinya sudah tahu."
Aku jadi bingung. "Jadi, kau baru turun dari tempat tidurnya Changmin?" Tanyaku sambil menyadari sekali lagi bahwa itu juga bukan urusanku. Namun Changmin tidak tinggal disini jadi aku penasaran.
Si yeoja menyapukan jemarinya ke rambut ikalnya yang berantakan dan menghela napas. "Iya. Atau lebih tepatnya tempat tidur lamanya."
"Tempat tidur lamanya?" Aku mengulang.
Pergerakan di lorong membuat perhatianku teralihkan dan mataku mengunci mata Yunho. Dia memperhatikanku dengan sebuah cengiran yang menghiasi bibirnya. Bagus. Dia telah mendengarkanku mengorek keterangan. Aku ingin membuang pandanganku dan berpura-pura tidak pernah bertanya pada yeoja itu apakah dia dari tempat tidurnya Yunho. Kilatan pengetahuan di matanya memberitahuku bahwa itu tidak ada gunanya.
"Kumohon jangan biarkan aku jadi penghalang Jae. Silahkan lanjutkan menginterogasi tamu Changmin. Aku yakin dia tidak keberatan," ujar Yunho dengan perkataan yang sengaja dilambatkan. Dia menyilangkan lengannya di dada dan bersandar pada kusen pintu seakan dia makin merasa nyaman.
Kutundukkan kepalaku dan berjalan ke arah tempat sampah untuk menyingkirkan remah roti dari jemariku sambil mengumpulkan pikiranku. Aku tidak mau melanjutkan obrolan ini apabila Yunho masih mendengarkan. Itu membuatku terlihat amat tertarik padanya. Sesuatu yang tidak dia inginkan.
"Selamat pagi, Yunho, terimakasih telah mengizinkan kami menginap disini semalam. Changmin minum terlalu banyak sehingga tidak bisa mengemudi kembali ke rumahnya," ujar yeoja itu.
Oh. Jadi begitu ceritanya. Sial. Kenapa aku membiarkan rasa ingin tahu menguasaiku?
"Changmin tahu dia punya kamar kalau dia ingin tinggal di sini," timpal Yunho. Aku bisa melihat dengan menggunakan sudut mataku dia berjalan menjauh dari kusen pintu menuju meja dapur. Perhatiannya tercurah padaku. Kenapa dia tidak melupakan hal ini? Aku akan pergi dalam diam.
"Well, uh, kalau begitu kurasa aku akan kembali ke lantai atas," suara yeoja itu terdengar tidak yakin. Yunho tidak menjawab dan aku tidak menoleh untuk memandang salah satu dari mereka. Si yeoja menganggap itu merupakan suatu pertanda bahwa dia harus segera pergi dan aku menunggu langkah kaki yeoja itu menaiki tangga sebelum aku berbalik memandang Yunho.
"Rasa ingin tahu bisa membuat seekor kucing kecil terbunuh, Jae," bisik Yunho ketika dia berjalan kearahku. "Apakah tadi kau berpikir aku punya teman tidur yang lain? Hmmm? Berusaha memutuskan apakah dia telah berada di tempat tidurku semalaman?"
Aku menelan dengan susah payah namun tidak berkata apapun.
"Dengan siapa aku tidur bukan urusanmu. Bukankah kita pernah membicarakan ini sebelumnya?"
Aku mengangguk. Jika dia membiarkanku pergi aku tidak akan pernah berbicara lagi dengan yeoja manapun yang datang ke rumah ini.
Yunho mengulurkan tangannya dan memilintir rambutku dengan jarinya. "Kau tidak mau mengenalku. Kau mungkin berpikir sebaliknya tapi sebenarnya tidak. Aku berjanji."
Jika dia tidak sangat mempesona dan berada tepat di depanku maka itu akan lebih mudah mempercayainya. Tapi semakin dia menolakku semakin aku tertarik padanya.
"Kau bukan seperti yang kuperkirakan. Walau aku berharap sebaliknya. Itu akan mempermudah segalanya," ujarnya dengan suara rendah sambil melepaskan rambutku lalu berbalik dan berjalan menjauh. Ketika pintu yang mengarah ke teras belakang tertutup kulepaskan napas yang sedari tadi kutahan.
Apa maksudnya? Apa yang telah dia harapkan?
.
.
.
.
Malam itu ketika aku pulang kerja, Yunho tidak ada.
.
.
.
Kubuka mataku dan melihat kearah jam alarm kecil diatas nakas. Sudah lewat dari pukul sembilan pagi. Tidurku nyenyak. Meregangkan tubuhku, aku meraih tombol dan menyalakan lampu. Aku telah mandi semalam jadi tubuhku bersih. Aku telah menghasilkan lebih dari satu juta won minggu ini. Kuputuskan untuk memulai mencari apartemen hari ini. Pada waktu yang sama minggu depan seharusnya aku telah mendapatkan tempat untuk kutinggali.
Kujalarkan tangan pada rambutku dan mencoba untuk merapikannya sebelum aku bangkit. Aku ingin berjemur sebentar di pantai pagi ini. Aku belum sempat melakukannya hingga sekarang. Hari ini aku akan menikmati laut dan sinar  matahari.
Kutarik keluar koperku dari bawah tempat tidur dan mencari bikini putih dan pinkku. Itu satu-satunya yang kumiliki. Jujur saja, sangat jarang kukenakan. Pola renda putihnya dengan pinggiran pink terlihat bagus pada kulit ku.
Ketika kukenakan kusadari bahwa bikininya telah mengecil. Atau tubuhku telah berubah semenjak terakhir aku memakainya. Kukeluarkan sehelai tank top dari koper untuk menutupi bikini yang kukenakan dan menyambar tabir suryaku. Aku telah membelinya setelah hari pertamaku bekerja. Tabir surya adalah suatu kewajiban untuk pekerjaanku.
Kumatikan lampu dan memasuki pantry kemudian dapur. "Sial. Siapakah dia?" seorang namja muda bertanya dengan terkejut kearahku saat aku melangkah kearah cahaya. Aku menatap sekilas pada orang asing yang terperangah itu, dia sedang duduk di bar lalu aku mengalihkan pandangan kearah kulkas dimana Changmin sedang berdiri sambil tersenyum.
"Apakah kau keluar dari kamar dengan berpakaian seperti itu setiap hari?" Changmin bertanya.
Aku tidak mengira akan bertemu siapapun disini. "Um, tidak. Biasanya aku berpakaian dengan seragam kerja," Jawabku ketika siulan pelan datang dari namja muda di bar. Dia tidak mungkin berusia lebih dari enam belas tahun.
"Jangan pedulikan hormon yang sedang menguasai idiot yang ada di bar itu. Dia Kyuhyun. Eommanya adik Heechul. Jadi dia adalah dongsaeng sepupuku. Dia datang kemari tadi malam setelah kabur untuk ratusan kalinya dan Yunho menghubungiku untuk datang menjemputnya dan menyeret bokongnya pulang."
Yunho. Kenapa dengan mendengar namanya membuat jantungku berdegup lebih kencang? Karena dia secara tidak adil sempurna. Itulah alasannya. Kugelengkan kepalaku untuk menyingkirkan pemikiran mengenai Yunho. "Senang bertemu denganmu, Kyu. Aku Jaejoong. Yunho mengasihaniku dan mengizinkanku tinggal hingga aku mampu mencari tempat tinggalku sendiri."
"Hey, kau bisa ikut pulang bersamaku. Aku tidak akan membiarkanmu tidur dibawah tangga," Kyuhyun menawarkan.
Aku tersenyum. Ini adalah rayuan polos yang bisa kupahami.
"Terima kasih tapi aku kira eommamu tidak akan mengizinkannya. Aku tidak masalah dengan kamar dibawah tangga. Tempat tidurnya nyaman dan aku tidak perlu tidur dengan pistolku."
Changmin terbahak dan mata Kyuhyun melotot. "Kau punya pistol?" Kyuhyun bertanya dengan nada kagum.
"Sekarang, kau telah mengatakannya. Sebaiknya aku membawanya pergi sebelum dia jatuh cinta lagi," jawab Changmin, membawa cangkir yang telah dia isi dengan kopi. Dia mendahului berjalan kearah pintu sambil berkata "Ayo Kyu sebelum aku membangunkan Yunho dan kau harus menghadapi bokong pemarahnya."
Kyuhyun menatap sekilas pada Changmin lalu kembali menatapku seakan dia terluka. Itu menggemaskan.
"SEKARANG, Cho," Changmin berkata dengan nada yang lebih menuntut.
"Hey, Changmin," Aku memanggilnya sebelum dia melewati pintu.
Dia berbalik untuk memandangku, "Ye?"
"Gomapta untuk bensinnya. Akan kubayar secepatnya setelah aku mendapatkan gajiku."
Changmin menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak boleh. Aku akan merasa tersinggung. Tapi, terima kasih kembali." Dia berkedip padaku kemudian mengirimkan tatapan menperingatkan kepada Kyuhyun sebelum meninggalkan dapur.
Aku melambaikan tangan sebagai tanda selamat tinggal pada Kyuhyun. Aku nanti akan mencari cara membayar Changmin tanpa membuatnya tersinggung. Pasti ada suatu cara. Sekarang, aku punya rencana lain. Aku melangkahkan kaki ke pintu yang mengarah keluar. Inilah waktunya aku menikmati hari pertama yang sebenarnya di pantai.
Kubentangkan handuk yang kupinjam dari kamar mandi. Aku harus mencucinya nanti malam. Ini satu-satunya yang kupakai untuk mengeringkan tubuh dan sekarang kugunakan sebagai alas diatas pasir. Itu sangat sepadan.
Pantainya sepi. Kami tidak dekat dengan rumah lainnya jadi pantainya kosong. Merasa berani, kulepaskan tank top yang kupakai dan ku lepaskan  lewat  kepalaku. Lalu kupejamkan mataku dan membiarkan suara ombak di lautan yang menghantam tepi pantai menyeretku untuk kembali  tidur.
"Kumohon katakan padaku kalau kau memakai tabir surya," sebuah suara berat menyapuku dan aku mencondongkan tubuhku ke depan. Aroma bersih maskulinnya sangat menggiurkan. Aku harus lebih dekat.
Kubuka mataku, aku berkedip akibat sinar matahari yang menyilaukan dan kunaungi mataku untuk melihat Yunho yang sedang duduk disampingku. Mata musangnya mengamati ku. Kehangatan atau humor dalam suaranya yang tadi kubayangkan telah lenyap.
"Kau memakai tabir surya, ya kan?"
Aku hanya mengangguk dan bangkit ke posisi duduk.
"Bagus. Aku tidak suka melihat kulit mulusmu yang lembut berubah menjadi pink."
Dia pikir kulitku mulus dan lembut. Itu terdengar seperti sebuah pujian tapi aku tidak yakin mengucapkan terima kasih itu pantas.
"Aku, uh, mengoleskannya sebelum kemari."
Dia terus menatapku. Aku melawan keinginanku untuk meraih tank topku dan mengenakannya diatas bikiniku. Aku tidak memiliki bentuk tubuh seperti yeoja-yeoja yang kulihat selalu menemaninya. Aku tidak menyukai perasaan seakan dia sedang membanding-bandingkanku.
"Kau tidak bekerja hari ini?" Akhirnya dia bertanya.
Aku menggelengkan kepalaku. "Ini adalah hari liburku."
"Bagaimana pekerjaanmu?"
Dia sedang bersikap baik, semacamnya. Setidaknya dia tidak menghindariku. Sekonyol apapun kelihatannya tapi aku menginginkan perhatiannya. Ada suatu daya tarik yang menyeretku kepadanya yang tidak bisa kujelaskan. Semakin dia menjaga jarak semakin aku ingin mendekat. Dia memiringkan kepalanya dan menaikkan salah satu alisnya seperti sedang menantiku untuk mengatakan sesuatu.
Oh tunggu dulu. Dia telah bertanya padaku. Sial, mata musang itu. Membuatku sulit berkonsentrasi. "Ah, nde?" Aku bertanya merasakan wajahku memanas.
Dia berdecak, "Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya perlahan.
Aku harus berhenti bersikap seperti idiot kalau dia sedang berada di sekitarku. Kuluruskan bahuku, "Berjalan dengan baik. Aku menyukainya."
Yunho menyeringai dan memandang ke air, "Aku yakin kau menikmatinya."
Aku terdiam sejenak dan memikirkan komentar itu lalu bertanya, "Apa maksud perkataanmu itu?"
Tatapan Yunho turun menjelajahi tubuhku kemudian naik lagi. Aku amat menyesal tidak mengenakan kembali tank topku. "Kau tahu bagaimana wajahmu, Jae. Apalagi dengan senyum sialanmu yang manis itu. Para pegolf namja pasti membayarmu dengan baik."
Dia benar mengenai uang tipnya. Dia juga membuatku bernapas secara konyol dengan memandangku seperti itu. Aku menginginkan dia menyukai apa yang dia lihat namun kemudian aku takut dengan apa yang akan terjadi. Bagaimana jika dia mengubah keputusannya mengenai saling menjaga jarak? Bisakah aku mengikutinya?
Kami duduk dalam diam selama beberapa saat ketika dia memandang lurus kedepan. Aku yakin dia sedang memikirkan sesuatu. Rahangnya menegang dan ada garis kerutan terbentuk di dahinya. Aku jadi memikirkan lagi semua yang telah kukatakan. Aku tidak dapat menemukan satupun yang dapat membuatnya kesal.
"Sudah berapa lama eommamu meninggal?" Tanyanya sambil menatapku lagi.
Aku tidak ingin membicarakan mengenai eommaku. Tidak padanya. Namun mengabaikan pertanyaannya tidaklah sopan. "Tiga puluh enam hari yang lalu."
Rahangnya bergerak seakan dia gusar akan sesuatu dan kerutan di dahinya semakin dalam. "Apakah appamu tahu bahwa sebelumnya beliau sakit?"
Pertanyaan lain yang tidak ingin aku jawab. "Ya, appaku tahu. Aku juga menghubunginya di hari eommaku meninggal dunia. Dia tidak mengangkat teleponnya. Aku hanya meninggalkan sebuah pesan." Kenyataan bahwa appaku tidak pernah membalas teleponku terlalu sakit untuk kuakui.
"Apa kau membencinya?" tanya Yunho.
Aku ingin membencinya. Dia telah menyebabkan duka dalam hidupku sejak hari dimana eonniku meninggal. Itu sulit. Tapi appaku satu-satunya keluarga yang masih kumiliki. "Kadang-kadang," sahutku jujur.
Yunho mengangguk dan menjulurkan tangannya kemudian mengaitkan kelingkingnya dengan kelingkingku. Dia tidak berkata apapun namun pada saat itu memang tidak perlu. Satu koneksi kecil itu sudah cukup mengatakan semuanya. Mungkin aku tidak terlalu mengenal Yunho namun dia telah mempengaruhiku.
"Aku mengadakan sebuah pesta malam  ini. dongsaengku Boa, berulang tahun. Aku selalu menyelenggarakan pesta untuknya. Mungkin kau tidak terlalu dapat berbaur namun kau diundang jika kau mau hadir"
dongsaeng? Dia memiliki seorang yodongsaeng? Kupikir dia anak tunggal. Bukankah Boa adalah yeoja yang sangat kasar di malam kedatanganku?
"Kau memiliki yodongsaeng?"
Yunho mengendikkan bahunya, "Ya."
Kenapa Changmin bilang dia anak tunggal? Kutunggu dia untuk menjelaskan tapi dia diam saja. Lalu kuputuskan untuk bertanya.
"Changmin bilang kau anak tunggal."
Yunho menegang. Kemudian menggelengkan kepalanya saat dia melepaskan jarinya dan berpaling untuk memandang ke laut. "Changmin tidak punya hak untuk menceritakan hal-hal mengenai diriku. Betapapun dia sangat menginginkan masuk kedalam celana dalammu." Yunho berdiri dan tidak memandangku lagi ketika dia berjalan kearah rumah.
Sesuatu mengenai Boa melewati batasan. Aku tidak tahu apa tapi benar-benar melewati batasan. Aku seharusnya tidak menjadi orang yang mau tahu urusan orang lain. Aku berdiri dan berjalan menuju air. Panas dan aku membutuhkan sesuatu untuk menyingkirkan Yunho dari benakku. Setiap kali aku mengendurkan penjagaanku di sekitarnya dia mengingatkanku alasan mengapa aku harus diam di tempat saja. Namja itu aneh. Seksi, tampan, dan menggiurkan namun aneh.
.
.
.
.
To Be Continued

4 comments:

  1. Anonymous11:30 AM

    Kasian jj. Saki.. yg de amor lanjut dunkkk

    ReplyDelete
  2. yunho belum keliatan di pesta kmana dia ? yoochun berusah terus deketin jaejoong dan kahi mlah terang2 an ngehina jaejoong
    sabar jae ....
    lanjut saki

    ReplyDelete
  3. Anonymous8:20 PM

    Sakiii yunbear koq blm nongol nehhh

    Kpn yunjae moment'y, aq tunggu lo

    Sacrifio de amor mhn d lanjutkan yaaaa

    (ʃƪ´⌣`) Ţћǟπƙ γǿΰ (´⌣`ʃƪ)

    ReplyDelete
  4. Jae tabahkan hatimu, nak....udh di kmr aja g ush keluar, drpd sakit hati, jd sebel jae digituin

    ReplyDelete