Summary:
Jaejoong dan Yunho sebelumnya tidak saling mengenal. Permasalahan
diantara orang tua mereka membuat Yunho harus membenci Jaejoong. Tapi
sikap Jaejoong membuat Yunho mulai ragu. Haruskah ia membenci Jaejoong
dan menutup hatinya agar tidak tertaeik pada anak dari appa tirinya?
©Kitahara Saki
Remake from Abby Glines
Story
Jung Yunho, Kim Jaejoong © their self
Marga disesuaikan untuk
kepentingan cerita
Aku menghapus air mataku dan memaksakan diri untuk
mengambil nafas dalam. Aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku tidak menyerah
ketika aku duduk memegang tangan eommaku saat dia menghembuskan nafas
terakhirnya. Aku tidak menyerah saat mereka melakukan kremasi padanya. Dan aku
tidak menyerah ketika aku menjual satu-satunya rumahku. Aku tidak akan menyerah
sekarang. Aku bisa melaluinya.
Aku tidak punya cukup uang untuk menyewa kamar
hotel tapi aku punya trukku. Aku bisa tinggal di trukku. Mencari tempat aman
untuk memarkirnya di malam hari mungkin akan menjadi satu-satunya masalahku. Gyongju
kelihatannya cukup aman tapi aku sangat yakin jika truk tua ini di parkir
disembarang tempat akan menarik perhatian. Aku akan melihat polisi mengetuk
jendelaku bahkan sebelum aku tidur.Aku akan menggunakan dua puluh ribu won
terakhirku untuk mengisi bensin. Kemudian aku bisa mengemudikan trukku ke pusat
kota dimana trukku tidak akan ketahuan di tempat parkir.
Mungkin aku bisa memarkirnya di belakang restoran
dan mendapat kerja juga di sana. Aku tidak perlu bensin untuk pulang pergi ke
tempat kerja. Perut keronconganku mengingatkanku kalau aku belum makan sejak
pagi tadi. Aku akan menghabiskan beberapa ribu won untuk makan. Dan berdoa
semoga aku akan mendapatkan kerja esok hari.
Aku akan baik baik saja. Aku memutar kepalaku untuk
memeriksa di belakangku sebelum aku menghidupkan mesin truk dan mundur.
Sepasang mata musang menatapku.
Sebuah teriakan kecil lolos dariku sebelum aku tahu
kalau itu adalah Yunho.
Apa yang dia lakukan berdiri di luar trukku?
Apakah dia meyakinkan dirinya kalau aku telah
meninggalkan rumahnya?
Aku benar-benar tidak mau berbicara lagi dengannya.
Aku mengalihkan tatapanku untuk keluar dari tempat
ini sebelum dia mengangkat alis matanya padaku.
Apa maksudnya?
Kau tahu apa?
Aku benar-benar tidak peduli.
Meskipun dia terlihat sangat seksi saat melakukannya.
Aku mulai menghidupkan truk tapi tiba-tiba mesin
meraung, aku mendengar bunyi klik dan senyap.
Ani, jebal jangan sekarang tuhan. Jangan sekarang.
Tolong jangan sekarang.
Aku menggoncangkan kunci dan berdoa kalau aku
salah. Aku tahu alat pengukur bensinku rusak tapi aku melihat alat pengukur
jarak. Aku seharusnya tidak kehabisan bensin.Aku masih punya beberapa mil lagi.
Aku tahu aku bisa.
Aku menghantamkan telapak tanganku pada setir dan
memanggil truk dengan beberapa pilihan nama tapi tidak terjadi apa-apa. Aku
terjebak. Apakah Yunho akan menelpon polisi? Dia ingin aku keluar dari rumahnya
jadi dia keluar untuk memastikan aku sudah pergi.Sekarang aku tidak bisa pergi
apakah dia akan membuatku ditangkap? Atau yang lebih buruk, memanggil mobil
derek. Aku tidak punya uang untuk mendapatkan kembali trukku jika dia
melakukannya. Paling tidak di penjara aku dapat makan dan tempat tidur.
Menelan gumpalanyang tersangkut ditenggorokanku aku
membuka pintu truk dan berharap yang terbaik.
"Ada masalah?" tanya Yunho.
Aku ingin berteriak histeris dalam frustasi. Namun,
aku memutuskan untuk mengangguk.
"Aku kehabisan bensin."
Yunho mendesah.
Aku tidak berbicara.
Aku memutuskan untuk menunggu keputusan yang menjadi
pilihan terbaik di sini. Aku bisa saja memohon dan membela diri setelahnya.
"Berapa usiamu?"
“Nde?”
Apa? Apakah dia benar-benar bertanya usiaku? Aku
terjebak di jalan masuk rumahnya, dia ingin aku pergi dan sekarang dia lebih
suka membicarakan usiaku daripada pilihanku. Dasar namja aneh!
"Ah, Sembilan belas," jawabku.
Yunho mengangkat alisnya, "Benarkah?"
Aku mencoba keras tidak marah. Aku memerlukan
kemurahan hati namja ini untukku. Menekan komentar sinis di ujung lidahku, aku
tersenyum.
"Ya. Benar."
Yunho menyeringai dan mengangkat bahu."Mian.
Kau terlihat lebih muda." Dia berhenti dan matanya menelusuri tubuhku dan
kembali keatas dengan perlahan. Rasa panas tiba-tiba merayapi pipiku dengan
memalukan, membuat rona merah dipipiku semakin mengembang.
"Aku tarik lagi kata-kataku. Tubuhmu sedikit
seperti berusia sembilan belas tahun. Wajahmu kelihatan begitu segar dan muda.
Kau tidak memakai make-up?"
Pertanyaan macam apa itu?
Apa yang dia lakukan?
Aku ingin tahu dengan segera seperti apa nasibku
kedepannya, bukan membicarakan tentang kenyataan bahwa memakai make-up adalah
hal mewah yang tidak bisa kulakukan.Selain itu, Hyunjoong, mantan pacarku dan
teman terdekatku, selalu bilang aku tidak butuh make-up untuk terlihat cantik.
Apapun maksudnya itu.
"Aku kehabisan bensin. Aku hanya punya dua
puluh ribu won. Appaku kabur dan meninggalkanku setelah mengatakan dia akan
membantuku untuk bertahan hidup. Percayalah padaku, dia adalah orang TERAKHIR
yang ingin kumintai tolong. Tidak,aku tidak pakai make-up. Aku punya masalah
yang lebih besar daripada terlihat cantik. Sekarang, apakah kau akan menelpon
polisi atau mobil derek? Aku lebih menyukai polisi dalam masalah ini jika aku
boleh memilih," aku menutup mulutku untuk menyudahi kata-kata kasarku. Dia
telah mendorongku terlalu jauh dan aku tidak bisa mengontrol mulutku. Sekarang,
aku dengan bodohnya memberi dia ide bodoh tentang mobil derek. Brengsek!
Yunho mengangkat kepalanya dan mengamatiku.
Kesunyian lebih dari yang bisa kuatasi. Aku hanya membagi sedikit informasi
pada namja ini. Dia bisa saja membuat hidupku lebih sulit jika dia
menginginkannya.
"Aku tidak suka Appamu dan dari nada bicaramu,
begitu pula kau," katanya penuh pertimbangan."Ada satu kamar kosong
malam ini. Kosong hingga Eommaku pulang dari liburannya. Aku tidak menyuruh
asisten rumah tangga untuk tinggal di sini sementara dia berlibur. Bibi Hwang
hanya datang untuk bersih-bersih seminggu sekali saat Eommaku berlibur. Kau
bisa menempati kamarnya yang ada di bawah tangga. Kamarnya kecil tapi ada
ranjangnya."
Dia menawariku kamar. Aku tidak akan menangis. Aku
bisa melakukannya larut malam nanti. Aku tidak jadi dipenjara. Terima kasih
Tuhan.
"Satu-satunya pilihanku adalah truk ini. Aku
bisa menjamin apa yang kau tawarkan jauh lebih baik. Gomapta."
Yunho mengerutkan dahi beberapa saat, kemudian
segera hilang dan ada senyum tipis di wajahnya. "Di mana kopermu?"
tanyanya.
Aku menutup pintu truk dan berjalan ke belakang
truk untuk mengeluarkannya. Sebelum aku bisa mengambilnya, sesosok tubuh hangat
dengan aroma asing dan lezat meraihnya duluan. Aku membeku saat Yunho meraih
koperku dan menariknya keluar.
Berbalik aku berhadapan dengan mata musangnya. Dia
berkedip padaku. "Aku bisa membawakan tasmu. Aku bukanlah seorang
bajingan."
"Gomawo, sekali lagi," aku tergagap,
tidak bisa jauh dari tatapannya. Matanya begitu mengagumkan. Bulu mata hitam
tebal yang membingkai hampir terlihat seperti garis mata. Dia memiliki semua
yang hal alami di sekeliling matanya. Itu sangat tidak adil. Meski semua orang
yang mengenalku selalu bilang doe eyes milikku selalu membuat mereka terpesona,
tapi mata musang itu membuatku iri.
"Ah,bagus, kau menghentikannya. Aku memberimu
lima menit dan kemudian keluar untuk memastikan kau tidak kehilangannya."
Suara akrab Changmin mengagetkanku dari
kebingunganku dan aku berbalik untuk berterima kasih atas interupsinya. Aku
telah menatap Yunho seperti orang bodoh. Aku terkejut dia tidak melemparku
dengan tas lagi.
"Dia akan memakai kamar Bibi Hwang sampai aku
bisa menghubungi Appanya dan mencari tahu sesuatu." Yunho seolah
terganggu. Dia berjalan ke sampingku dan memberikan kopernya pada Changmin."
Ini, tolong antarkan dia ke kamarnya. Aku harus kembali."
Yunho berjalan tanpa menatap ke belakang.
Diperlukan seluruh tekadku untuk tidak melihatnya pergi. Terutama sejak melihat
belakang jeansnya yang sangat menggoda. Dia bukanlah orang yang harus kusukai.
"Dia adalah seorang yang pemurung," kata Changmin,
menggelengkan kepalanya dan menatap padaku. Aku setuju dengannya.
"Kau tidak perlu membawa koperku masuk
lagi," aku berkata sambil meraih koper.
Changmin menjauhkannya dari jangkauanku. "Aku
bersikap seperti Oppa yang baik.Aku tidak akan membiarkanmu membawa koper ini
saat aku dua kali lebih kuat darimu untuk membawanya."
Aku ingin tersenyum jika saja satu kata yang baru
saja membuatku kaget. "Oppa?" aku mengulangi.
Changmin tersenyum tapi senyum itu tidak mencapai
matanya. "Kupikir aku lupa bilang kalau aku anak dari suami Heechul yang
ke dua. Dia menikah dengan appaku saat aku berusia tiga tahun dan Yunho empat
tahun, mereka menikah hingga aku berusia lima belas. Sejak saat itu Yunho dan
aku bersaudara. Hanya karena appaku bercerai dari eommanya tidak mengubah apa
pun antara kami. Kami pergi sekolah bersama dan bergabung di perkumpulan yang
sama."
Oh. Oke. Aku tidak menduganya. "Berapa banyak
suami yang dimiliki Heechul?"
Changmin tertawa pendek kemudian berjalan menuju
pintu. "Appamu suami nomor empat."
Appaku adalah orang bodoh. Yeoja seperti dia
kelihatannya mudah berganti suami seperti dia berganti celana dalam. Berapa
lama dia melupakan para namja itu dan membuka hati lagi?
Changmin berjalan di belakang dan tidak berkata
apa-apa padaku saat kami menuju dapur. Dapur itu besar dengan meja batu pualam
hitam dan peralatan rumah tangga yang banyak. Mengingatkanku pada sesuatu dari
majalah dekorasi rumah. Kemudian dia membuka pintu yang terlihat seperti jalan
lebar di pantry. Bingung, aku melihat sekelilingku kemudian mengikutinya masuk
ke dalam. Dia berjalan ke belakang ruangan itu dan membuka pintu lain.
Dia punya cukup ruang untuk masuk dan meletakkan
koperku di ranjang. Aku mengikutinya dan
berputar di sekitar ranjang ukuran kecil yang hanya meninggalkan jarak
beberapa inci antara ranjang dan pintu. Aku benar-benar ada di bawah tangga.
Sebuah meja kecil ada diantara ranjang dan dinding.Selain itu, tidak ada apa-apa
lagi.
"Aku tidak tahu di mana kau akan menyimpan
kopermu. Kamar ini kecil. Aku sebenarnya tidak pernah kesini." Changmin
menggelengkan kepalanya dan kemudian mendesah.
"Dengar, jika kau ingin tinggal di apartemenku
kau bisa. Paling tidak aku akan memberimu
kamar yang bisa membuatmu bergerak di dalamnya."
Ucapan Changmin yang manis membuatku tidak ingin
menolak penawarannya.Dia tidak membutuhkan tamu tak diundang untuk menempati
salah satu kamarnya.Paling tidak disini aku bisa menyembunyikan diri jadi tidak
ada seorang pun yang akan melihatku.Aku bisa membersihkan sekitar rumah dan
mendapatkan kerja di suatu tempat. Mungkin Yunho akan membiarkanku tidur di
kamar kecil yang tak terpakai ini sampai aku punya cukup uang untuk pindah.Aku
tidak merasa seolah aku terpukau ada disini.Aku akan mencari toko bahan makanan
besok dan memakai dua puluh ribu wonku untuk membeli makanan. Selai kacang dan
roti akan menjadi makananku selama seminggu atau lebih.
"Di sini sempurna. Aku akan baik-baik saja
disini.Selain itu,Yunho akan menelpon Appaku besok dan mencari tahu kapan dia
akan kembali. Mungkin Appaku sudah punya rencana.Aku tidak tahu.Tapi sekali
lagi gomapta, aku sangat menghargai tawaranmu."
Changmin melihat sekeliling kamar sekali lagi dan
merengut.Dia tidak senang pada kamar ini tapi aku menyukainya. Dia sangat
perhatian.
"Aku tidak suka meninggalkanmu disini.Rasanya
salah." Dia menatapku sekarang dengan suara memohon.
"Ini
hebat. Lebih baik daripada trukku."
Changmin mengerutkan dahi,"Truk? Kau berencana
tidur di truk?"
"Ya, Kamar ini,bagaimana pun juga,memberikan
aku sedikit waktu untuk mencari tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya."
Changmin menjalankan tangannya ke rambutnya.
"Maukah kau berjanji sesuatu?" tanyanya.
Aku bukan orang yang suka berjanji.Yang aku tahu
dari janji adalah mereka mudah dilupakan.Aku mengangkat bahu. Hal terbaik yang
bisa kulakukan.
"Jika Yunho menyuruhmu pergi, telpon
aku."
Aku akan menyetujui dan tahu jika aku tidak punya
nomor telponnya.
"Dimana ponselmu jadi aku bisa memasukkan
nomorku?" tanyanya.
Hal ini akan membuatku terdengar makin menyedihkan.
"Aku tidak punya."
Changmin menganga padaku," Kau tidak punya
ponsel? Tak heran kau punya senjata."
Changmin meraih ke sakunya dan mengeluarkan sesuatu
yang mirip kuitansi."Kau punya pulpen?"
Aku mengeluarkan pulpen dari dompetku dan
memberikannya padanya.
Dia dengan cepat menuliskan nomornya dan memberikan
kertas dan pulpen padaku. "Telpon aku. Aku serius."
Aku tidak akan pernah menelponnya tapi dia baik
sekali dengan tawarannya. Aku mengangguk. Aku tidak menjanjikan apa-apa.
"Kuharap kau tidur nyenyak disini Jae."
Dia melihat sekeliling kamar kecil itu dengan rasa khawatir di matanya. Aku
akan tidur dengan nyenyak.
"Tentu," aku menyakinkan dia.
Dia mengangguk dan keluar dari kamar menutup pintu
dibelakangnya. Aku menunggu hingga aku mendengar dia menutup pintu pantry
sebelum aku duduk di ranjang di samping koperku. Ini akan baik-baik saja. Aku
bisa menjalaninya.
.
.
.
To Be Continue

changmin kayanya khawatir bngt sama jae
ReplyDeleteada apa sebenarnya ?
Wawww.. alu bingung mu comen apa.. yg jls saki pinter milih novel yg mau d remake. So romantic
ReplyDeleteChangmin so sweet banget, perhatiaan sama Jae :3
ReplyDelete