Tuesday, March 25

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter IX



"Tidak perlu selimut boo, aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara intim, tak ada yang terlewatkan....begitu juga sebaliknya hmmm?"
Wajah Jaejoong memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganyapun memerah dan Yunho terkekeh melihatnya,
Lalu tiba tiba tawa itu hilang dan Jaejoong merasakan gairah Yunho bangkit lagi,
Dengan bingung dia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata musang Yunho yang menyala penuh gairah,
"Tto?", Jaejoong tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat Yunho menginginkannya lagi setelah semalam?, hanya Tuhan dan dirinya yang tahu bagaimana bergairahnya Yunho semalam, Jaejoong pikir Yunho sudah terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.
"Aku juga tidak menyangka", gumam Yunho parau, "Sepertinya kau akan menjadi penyebab kematianku"
kemudian Yunho meraih Jaejoong lagi ke dalam pelukan penuh gairahnya.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy Agatha
 Jaejoong hampir saja terlambat kerja, dia menarik napas panjang melihat jam absennya...hanya kurang satu menit.
Dengan segera dia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Jaejoongpun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer, pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit, Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada namja itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, namja itu adalah jelmaan dewa Eros penakluk yeoja dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Jaejoong baru pertama kalinya bercinta.
Tuhan, ampunilah dosa-dosaku. Jaejoong memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.
"Iya, aku juga tidak menyangka", suara berbisik dua rekan disebelahnya menarik perhatian Jaejoong, "Rasanya seperti bukan tuan Jung."
Mendengar nama namja itu disebut mau tak mau Jaejoong menajamkan telinganya, mendengarkan.
"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan  Tuan Jung, kami hanya menunduk karena biasanya Bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh."
Yeoja itu menghembuskan napas takjub, "tapi tadi,,,, astaga! Tuan Jung bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua....", suaranya terpekik hampir histeris, "Dan senyumnya yang sangat jarang itu,,,bukannya menjawab semuanya malah terpesona dengan mulut menganga, ada yang mencoba menjawab tapi yang keluar hanya suara tercekik", lanjutnya menggebu-gebu.
"Tuan Jung sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi......benar benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu.........."
Jaejoong beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan pemujaan terhadap namja musang itu.
Tapi tetap saja dia ikut bertanya tanya, Jaejoong terpekur di depan pintu kamar mandi.
Dia berpikir mengenai perubahan sikap Yunho dikantor, bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara, banyak yeoja di sini yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu........tapi kenapa dia berubah ramah?
"Memikirkanku?"
Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Jaejoong membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri dibelakangnya.
Matanya langsung bertatapan dengan mata musangnya yang tajam, obyek pikirannya.
Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal dia punya kamar mandi sendiri di ruangannya?
Tanpa sadar Jaejoong mengucapkan pertanyaannya keras-keras,
Yunho tertawa,
"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama, tiba tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?", suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam. Dan Jaejoong mengenali tatapan itu, tatapan kalau....
"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!"
Dengan cepat Yunho meraih Jaejoong,lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah-olah sudah lama tidak berciuman, padahal baru tadi pagi mereka.....
Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Jaejoong terperanjat,dengan secepat kilat didorongnya Yunho dan dia setengah berlari masuk ke toilet yeoja.
Didengarnya suara Yunho dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang baru datang ke toliet, Suaranya terdengar biasa saja bahkan sedikit kegembiraan kecil terselip di sana. Apakah namja itu geli atas sikapnya?
Sialan dia! Tak sadarkah dia kalau menyergapnya seperti itu di toilet kantor benar-benar tindakan nekat? Jantungnya masih berdentam-dentam dengan kuatnya seakan ingin meloncat dari tempatnya....
Tapi...Jaejoong mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan....ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu.....?
.
.
.
.
.
.
"Kau kelihatan bahagia hyung", Yoochun menatap Yunho yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru.
Yunho mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Yoochun muram,
"Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"
Yoochun mengangkat bahu,
"Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti."
Tatapan Yunho berubah tajam,
"Aku??,,,, Mabuk kepayang???... Apakah kau sedang bercanda?"
"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah, kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekertarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, katanya."
"Dan kau kira itu karna aku mabuk kepayang pada Jaejoong, begitu????...baik  !! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Jaejoong, lalu kenapa?? Perusahaan ini milikku!! Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat??, toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini!!
"Hyung", Yoochun berusaha meredakan emosi Yunho, "Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu."
Sejenak Yunho tidak berkata-kata, tatapannya menyala-nyala, mata musangnya menyorot tajam. Tapi  kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya napas keras-keras.
"Kau benar, maafkan aku Chun."
Sebelum Yoochun dapat menjawab, ponsel Yunho berdering, Yunho meliriknya dan dahinya berkerut melihat siapa yang menelponnya.
"Ada apa Ahra?"
Mendengar nama Ahra disebut, Yoochun langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Yunho, Yunho mengangguk mempersilahkan dan Yoochun berjalan keluar ruangan.
Di seberang, suara Ahra yang lembut dan elegan terdengar mengalun.
"Aku bertanya-tanya, kenapa kau tak menghubungiku sayang, sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu, apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"
Wajah Yunho berubah dingin, dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Ahra. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam, setelah itu Ahra menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Yunho tidak menolaknya.
baginya Ahra cukup cantik dan saat yeoja itu mendekatinya, kenapa tidak? Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya, Tetapi  di saat awal Yunho sudah menegaskan kepada Ahra bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan  tanpa ikatan. Saat Ahra mengundangnya ke tempat tidurnyapun Yunho sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.
Tapi sekarang Ahra sepertinya besar kepala karena Yunho saat itu tidak dekat dengan yeoja lain selain dirinya, dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Yunho dan membuat namja itu setia padanya, Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Yunho sedang terpaku untuk mendapatkan yeoja lain, Jaejoong.
Sekarang Yunho merasa muak dengan tingkah Ahra yang bertindak seolah-olah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Yunho dan merasa berhak mengatur-atur Yunho.
"Sayang, Yun? Kau masih disana?"
"Ahra, maafkan aku sedang sibuk sekali."
Terdengar helaan napas dramatis di sana, sudah pasti yeoja ini tidak akan menyerah, dia terbiasa dikejar kejar dan dipuja namja, penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.
"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Richard, kau tau kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya....Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana, kau mau kan menemaniku?"
Yunho menghela napas keras.
"Ahra, sudah kubilang aku sibuk, aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun, lebih baik kau ajak kekasihmu atau namja lain, pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu."
"Tapi Yun, aku mencintaimu dan aku ingin kau...."
"Aku bukan kekasihmu Ahra, dan tak akan pernah, ingat itu, jadi jangan meminta macam-macam dariku, Oke ?", Yunho langsung menyela dengan kesal.
"Oke, Oke !!" Ahra setengah menjerit, "kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini....."
"Ahra, aku sibuk. Maaf!", Yunho langsung menutup percakapan, menyudahinya karena dia yakin Ahra tidak akan menyerah dengan segera.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong baru saja membuka pintu apartemen ketika teleponnya berdering, dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Yunho diseberang sana,
"Kau suka masakan cina?"
"Nde?", Jaejoong terperangah mendengar sapaan pertama Yunho yang tanpa basa-basi, baru ketika Yunho mengulang pertanyaannya dia mengerti, dan tanpa sadar mengangguk.
"Jae?"
Mendengar pertanyaan Yunho Jaejoong baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ah...N...Nde.."
"Oke, kalau begitu jangan memasak malam ini, kubawakan dua porsi untuk kita."
Telepon ditutup. Meninggalkan Jaejoong yang yang masih terperangah.
Satu jam kemudian, ketika Jaejoong menyeduh kopi, Yunho datang, langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya, tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan Kantong kertas berisi makanan yang masih panas, berlogokan nama hotel bintang lima.
"Tadi ada undangan pertemuan dengan kilen di sana, hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan cina di hotel ini terkenal enaknya, dan aku ingat kau."
Yunho mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya, aku mandi dulu."
Dengan langkah anggun Yunho membalikkan badan menuju kamar.
Jaejoong mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji, sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Yunho, untuk dirinya dia menyeduh secangkir teh.
Yunho muncul di dapur setengah jam kemudian, dengan piyama sutra hitam, lali duduk di kursi di meja dapur.
"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet."
Jaejoong duduk di hadapan Yunho, memperhatikan namja itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat.
"Tadi, di pertemuan tidak ada makan malam?", setahu Jaejoong pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.
"Ada, tapi aku menolaknya, hanya minum kopi tadi", Yunho menatap Jaejoong dengan tiba-tiba hingga Jaejoong kaget, "Kenapa tidak kau makan ? Kka, enak lho."
Dengan gugup Jaejoong menyantap makanannya, memang enak sekali, guman Jaejoong pada suapan pertama, Tanpa sadar dia makan dengan lahap, dan baru berhenti ketika menyadari Yunho menatapnya geli, pipinya langsung bersemu merah.
Yunho langsung terkekeh geli.
Jaejoong baru mengetahui kepribadian Yunho yang seperti ini, santai dan penuh tawa, berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor.
Selesai makan seperti biasa Yunho minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya, namja itu tampak serius mengahadapi notebooknya, sambil sesekali menyesap kopi, sementara Jaejoong menyibukkan diri  denga menonton chanel masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, apakah Yunho akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa namja itu menginap disini?
"Kau bisa memasak yang seperti itu?" Suara celetukan Yunho hampir membuat Jaejoong terlonjak karena kaget.
Jaejoong menatap ke arah Yunho, namja itu sudah bersandar di sofa, dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Notebooknya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi, Astaga...berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Yunho menyelesaikan pekerjaannya?
Dengan buru buru Jaejoong menoleh ke televisi, adegan disana menampilkan cara memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya.
"Bisa...aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu."
Yunho tersenyum.
"Aku jadi ingat saat aku sakit waktu kecil dulu, eommaku selalu membuatkanku sup jagung, tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya."
Jaejoong ikut tersenyum mengenang.
 “eomma dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya."
Yunho tertawa geli mendengarnya.
"Aku belum pernah menemui yeoja sepertimu sebelumnya", gumamnya dalam tawa.
Jaejoong menoleh pada Yunho dengan bingung.
"Yeoja sepertiku.....?"
"Polos, jujur dan tidak berusaha memanipulasiku", senyum Yunho berubah sensual," dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya,padahal sudah berkali-kali kusentuh."
Kali ini Jaejoong hampir tersedak tehnya,dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Yunho dengan waspada. Namja itu juga sedang menyesap kopinya, tapi mata sipitnya yang tajam itu menatap serius pada Jaejoong.
"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan", gumam Yunho sambil menyipitkan matanya, "apakah cara bercintaku menyakitimu?"
Pipi Jaejoong langsung memerah mendengar pertanyaan Yunho yang blak-blakan itu,
"A..ani, bukan begitu...aku....aku hanya belum....terbiasa..."
Jaejoong menelan ludah ketika Yunho beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Jaejoong,lalu menarik Jaejoong berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut,
"Kalau begitu, tidak ada yang bisa kulakukan selain membuatmu terbiasa bukan?", suara Yunho berubah serak, lalu dengan cepat mengangkat Jaejoong dan membawanya ke kamar.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

6 comments:

  1. Ahra masih aja ngejar2 yunho jlas2 yunho ga mau
    klo ahra tau yunho udah punya jaejoong pasti ahra bkalan marah
    yunho udah berani nyentuh jae di kantor gimana klo ada yng liat bisa ada gosip besar2 an
    lanjut saki ....

    ReplyDelete
  2. Ahra masih aja ngejar2 yunho jlas2 yunho ga mau
    klo ahra tau yunho udah punya jaejoong pasti ahra bkalan marah
    yunho udah berani nyentuh jae di kantor gimana klo ada yng liat bisa ada gosip besar2 an
    lanjut saki ....

    ReplyDelete
  3. Anonymous9:19 PM

    Hi saki.. aku suka tampilan baru blog mu.. fresh..
    ok.. ahra..apa yg akan org ini lakukan selanjutny.
    Yunjae makin romantis aja..

    ReplyDelete
  4. Anonymous9:46 PM

    Sakiii.... Seneng deh update kilat

    Gomawo ^^

    D tunggu chap selanjut'y ><

    ReplyDelete
  5. rifqi7:05 PM

    Huwaaaaa lama ga kesini....dan aku ketinggalan jauuuuuh....haaah lanjut next chap dulu lah ya....

    ReplyDelete
  6. Awww.... Gara2 Jaejae Yunho bisa berubah ternyata..
    Well done Jae..

    ReplyDelete