Jung Yunho, namja ini seperti remaja pria yang
lain. Di tidak perduli dengan urusan orang lain dan berusaha tidak mencari
masalah dengan orang lain. Bahkan ketika Shim changmin, ketua geng yang paling
ditakuti dikelas itu selalu membuat masalah dengannya, dia tak terlalu
menganggapnya. Meski dia juga tidak tunduk padanya, tapi ketika Shim changmin
memukulnya dia akan membiarkannya. Selalu tidur dikelas tanpa perduli pada
pelajaran dan guru. Kecuali ketika pelajaran Uhm Seongsaenim yang biasa di
panggil Uhm-Force dia baru akan menegakkan kepalanya, meski sebenarnya dia
tidak tahu sang guru mengajar apa.
Dia tinggal sendiri. Appanya bekerja, dan ketika
appanya mabuk dia yang akan menjemputnya. Hanya kepada Jaejoong dia akan
perduli dan sayang. Kesalahannya pada Kim jaejoong dimasa lalu yang membuatnya
selalu merasa bersalah pada Kim jaejoong. Yang membuatnya memperlakukan
Jaejoong seperti sekarang.
Kim jaejoong siswa pindahan yang sejak
kepindahannya membuat heboh teman sekelas karena menantang Uhm-Force, guru
paling ditakuti satu sekolah, dihari pertamanya menggenakan seragam sekolah
Toho.
Share The World
© Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
© Their Self
Remake School 2013
Hari ini ketika pelajaran matematika semua siswa
sekelas hampir terlihat bosan dengan tulisan dan penjelasan-penjelasan
seongsaenim. Yang mungkin bahkan tak mereka pahami sama sekali. Hanya terlihat
beberapa yang mendengarkan. Yoochun yang sedari tadi terlihat serius melihat
kearah papan, dan Hanbyul dan Woohyun yang serius mencatat. Sementara anak-anak
namja dibelakang tampak banyak yang tertidur.
“Nomor 2, 9, 35, maju dan jawab pertanyaannya.”
“Di kelas ini tidak ada murid dengan nomor 35
seongsaenim.” Woohyun sebagai ketua kelas menjawab Uhm seongsaenim.
“Itu untuk murid pindahan.”
“Kim Kwangyeon, Shim changmin, Kim jaejoong maju
kedepan.”
Terlihat Kwangyeon dan Changmin dengan malas
melangkah kedepan. Tunggu dimana Kim Jaejoong.
“Kim jaejoong, bangun.”
Ah dia bahkan masih berada ditempatnya. Perkataan
seongsaenim membuat perhatian kelas terarah pada Jaejoong. Jaejoong kini
berdiri. Masih ditempatnya duduk.
“Ke depan dan jawab soalnya.”
“Saya tak bisa mengerjakannya.”
Semua tertegun. Sebelumnya tak ada yang berani
membantah Uhm force. Bahkan Shim changmin.
“Kemari ambil kapurnya.”
“Saya tidak tahu pelajarannya.”
Wah dia benar-benar berani.
“Kau melawanku? Kau ingin tinggal kelas lagi?”
Mulai terdengar bisikan-bisikan di kelas. Semua
terkejut mendengar Jaejoong pernah tinggal kelas.
“Diam. Jika kau ingin lulus……”
“Karena itu, jangan membuat saya marah.”
Kim jaejoong memotong perkataan seongsaenim. Wah
dia benar-benar luar biasa. Anak namja dibelakang diam-diam memujinya.
“Mwo?!”
seongsaenim mulai marah. Dia menaikkan nada
bicaranya. Dia pasti kesal, muridnya ada yang berani membantahnya.
“Saya bertekad mendapatkan sertifikat kelulusan
dari sekolah ini. Saya akan tetap tenang di sekolah ini. Karena itu, jangan
membuat saya marah.”
Kelas menjadi hening. Shim changmin memandang
tidak suka. sementara Uhm Seongsaenim terdiam. Tampaknya dia tengah memikirkan
sesuatu. Setelah mengatakan itu dia duduk.
“Temui aku di kantor setelah pelajaran.”
“Nde.” Jaejoong menjawab dengan malas. Bahkan dia
tak memandang seongsaenim.
Kelas berlangsung kembali. Mulai terdengar
bisikan pujian untuk Jaejoong dari Yesung. Ungkapan penyesalan dari kedua teman
Shim changmin kenapa mereka tidak membolos saja. Dan pandangan benci dari Shim
changmin.
.
.
.
Kabar mengenai Jaejoong menyebar. Ada yang mengatakan
kalau Jaejoong adalah mantan petarung terhebat di Gongju. Bahkan dia dijuluki
‘tsunami’ karena walau hanya lewat didepanmu saja dia bisa membuatmu terjatuh. Yesung
dengan bodohnya justru memuji Jaejoong dengan tatapan mata kagum.
Beberapa anak namja kembali meributkan Jaejoong.
Mengatakan kalau Jaejoong bahkan sudah menaklukan seluruh kota pada saat dia
kelas tujuh. Dan setiap geng di kota berusaha untuk merekrutnya. Tapi sekarang
dia sudah berhenti dan itu sebabnya dia sekolah di TOHO SHS.
Kulihat Jaejoong memasuki kantin. Berjalanan
melewati antrian untuk makan tanpa perduli pada apapun dan siapapun. Semua yang
melihat Jaejoong berjalan kearah kantin menundukkan kepalanya takut.
Jung Yunho telah selesai mengantri. Dia berjalan,
lalu berhenti karena melihat keadaan yang aneh. Yunho berbalik dan mendapati Jaejoong
yang ada disampingnya, mereka saling menatap, dan akhirnya Yunho menyerahkan
piring makannya. Jaejoong tertawa sinis. Tapi dia tetap menerimanya dan
berjalan meninggalkan Yunho. Yunho pun pergi meninggalkan kantin.
Ya! Apa-apaan mereka berdua
.
.
Kelas ramai. Kami tengah melakukan apapun yang kami
suka sambil menunggu jam istirahat selesai. Yunho memasuki kelas dengan
menenteng sebuah buku. berjalan kemeja Jaejoong dan meletakkan buku yang
dibawanya di meja Jaejoong dan berjalan kembali. Jaejoong melirik sekilas
dengan wajah dingin.
“Kenapa tak membelikanku roti sekalian?”
Yunho
berhenti. Melihat Jaejoong yang kini juga tengah meliriknya. Sedetik kemudian
dia berlalu meninggalkan kelas. Yesung berlari menyusulnya.
Para namja kembali ribut saling adu pendapat
apakah Jung Yunho kini telah menjadi pengikut Jaejoong atau tidak. Benar-benar
kurang kerjaan.
Yunho kembali masuk dan meletakkan roti dan susu
yang dibawanya di meja Jaejoong lalu pergi ke mejanya sendiri, meletakkan
kepalanya dimeja, memejamkan mata, pura-pura tidur. Seperti yang selalu
dilakukannya selama ini.
Dan sekarang murid yeoja ikut membicarakan Yunho.
kudengar bahkan mereka menyebutnya namja menyedihkan.
Selama ini Yunho tak pernah sekalipun mau
diperintah Shim Changmin. Lalu kenapa sekarang dia berubah menjadi namja dungu
yang selalu menuruti perintah namja pindahan itu?
Jaejoong sepertinya mendengarkan apa yang
dibicarakan para gadis itu. Entah apa yang dipikirkannya, karena dia menatap Yesung
yang berdiri didekatnya,
“Kau bisa memakannya.”
Jaejoong tak memperdulikan Yesung yang kini
dengan semangat mengucapkan terima kasih. dia menatap Yunho dengan pandangan
yang bahkan aku tak bisa mengartikannya.
.
.
Go Seongsaenim tengah membagikan formulir biodata
diri untuk sesi konsultasi sekolah. Taka da satupun diantara kami yang
memperhatikannya. Ah, teman-temanku tidak jahat. Mereka hanya seperti siswa
lainnya, kami masih nyaman dengan kenakalan kami.
“Kita akan mulai dengan pengenalan diri untuk
sesi konsultasi. Dan yang pertama adalah Shim Changmin. Kedua Kim Junsu, dan selanjutnya
Park Yoochun. Jung Yunho. …
Jung Yunho menggambil kertas lusuh dilaci
mejanya, melihat kertas yang kini digenggamannya. Dia menatap Park Jaejoong.
“Dan Park Jaejoong kau bisa menyerahannya besok.”
“Nde.”
Yunho meremas lembar pengenalannya dan menaruhnya
kelaci mejanya kembali.
.
.
Jaejoong berjalan pulang. Dan Yunho yang ingin
pulang bersama Jaejoong meminta ijin pada seongsaenim untuk membatalkan sesi
konsultasinya dan diganti besok. Yunho berjalan mengikuti Jaejoong tepat
dibelakangnya. Jaejoong yang sudah tidak tahan akhirnya berhenti dan
membalikkan badannya menghadap Yunho. Yunho mengambil tas Jaejoong dan
meletakkan tas Jaejoong dipundak kanannya.
“Kau pindah kemana? Ayo pergi bersama.” Yunho
mulai berjalan lagi.
“Kau bersikap ramah padaku? Kau berani? Kau yang
pergi atau aku yang harus pergi? Kita tak akan bisa sekolah ditempat yang sama.
Karena aku ingin memukul wajahmu setiap kali aku melihatnya.”
Yunho mengalihkan pandangannya
“Kau saja yang pergi. Kau ahli melarikan diri
kan?” sindir Jaejoong
Yunho memandang Jaejoong dengan tatapan sedih dan
terluka. “Kkajja.”
.
.
Yunho tengah memandang bangunan sekolahnya dari
depan gerbang. Jaejoong berjalan dari arah belakangnya. Yunho akan melangkahkan
kakinya namun berhenti,
“Kau akan masuk?”
Yunho menoleh kebelakang, mendapati Jaejoong
disamping belakangnya. Dia berputar menghadap Jaejoong, baru saja dia ingin
mengatakan sesuatu, tapi Jaejoong telah berbalik dan berjalan meninggalkannya.
“Aku akan pergi.”
Dengan wajah terluka Yunho mengatakannya. Jaejoong
menghentikan langkahnya. Yunho berjalan melewati Jaejoong masih dengan wajah
sedihnya. Jaejoong menatap Yunho sebentar lalu berbalik kembali memasuki
gerbang sekolah.
.
.
Yunho baru datang satu jam setelah bel berbunyi.
Untungnya kelas kami belum dimulai. Ketika dia memasuki kelas beberapa pasang
mata melihat kearahnya, beberapa hanya meliriknya, dan Yesung langsung
menghadangnya yang langsung disingkirkan tangannya oleh Yunho. Jaejoong hanya
menolehkan sedikit kepalanya kearah Yunho. begitu pula dengan Yunho.
Donghae mendekati bangku Yunho dan mengatakan
kalau ia mengkhawatirkan Yunho. Jaejoong melirik kearah Yunho yang ada
disebelah kirinya. Melihat interaksi Yunho dengan temannya, mengalihkan tatapannya
kedepan, lalu berdiri dari kursinya dan pergi.
Yunho yang menyadari perginya Jaejoong menyusul Jaejoong
pergi. Ah mereka berdua benar-benar membuatku penasaran!
.
.
Jaejoong ternyata pergi merokok di tempat
pengelolaan sampah dibelakang sekolah. Mengeluarkan sebatang rokok dari saku
celananya. Bukankah dia bilang sudah berhenti. Dia terlihat mencari koreknya,
mungkin dia lupa membawanya. Yunho datang dan langsung mengambil batang rokok
yang ada dibibir Jaejoong dan membuangnya ke tempat sampah. Dan bersiap
berbicara dengan Jaejoong,
“Kau bilang sudah berhenti.”
Yunho melihat kearah sisi Tv yang ada tak jauh
dari mereka. Jaejoong melihat sejenak kearah CCTV itu, lalu melihat Yunho
dengan tatapan malas,
“Pergilah, sebelum aku memukulmu.”
“Pukul saja aku. Aku tak tahu harus pergi kemana
selain kesekolah.”
Jaejoong memutar kedua matanya, “Ah.. benar-benar
omong kosong.”
Jaejoong tak tahan, dia kemudian berjalan pergi
meninggalkan Yunho. tapi kemudian dia berhenti, tersenyum melecehkan, dan
berbalik kearah Yunho
“Kau aktor yang hebat! Anak sekelas tampaknya
menganggapmu namja ‘biasa’. Apa kau juga berbohong tentang usiamu? Sikap mereka
seperti kalian seumuran. Aku yakin kau tengah cemas. Berpikir apa aku akan
membongkar rahasiamu.”
“Itu bukan masalah.”
Jaejoong menatap Yunho tajam dan tersenyum sinis,
“Ah gurae? Kau pikir saat mereka tahu siapa
dirimu sebenarnya mereka akan tetap menganggapmu sebagai teman? Siapkan dirimu,
tak ada yang namanya rahasia yang abadi.”
Dan Jaejoong pergi meninggalkan Yunho yang
menatapnya dengan pandangan nanar.
.
.
.
.
.
To Be Continued

No comments:
Post a Comment