Tuesday, March 25

[Remake] Share The World Chapter I


Jung Yunho, namja ini seperti remaja pria yang lain. Di tidak perduli dengan urusan orang lain dan berusaha tidak mencari masalah dengan orang lain. Bahkan ketika Shim changmin, ketua geng yang paling ditakuti dikelas itu selalu membuat masalah dengannya, dia tak terlalu menganggapnya. Meski dia juga tidak tunduk padanya, tapi ketika Shim changmin memukulnya dia akan membiarkannya. Selalu tidur dikelas tanpa perduli pada pelajaran dan guru. Kecuali ketika pelajaran Uhm Seongsaenim yang biasa di panggil Uhm-Force dia baru akan menegakkan kepalanya, meski sebenarnya dia tidak tahu sang guru mengajar apa.

Dia tinggal sendiri. Appanya bekerja, dan ketika appanya mabuk dia yang akan menjemputnya. Hanya kepada Jaejoong dia akan perduli dan sayang. Kesalahannya pada Kim jaejoong dimasa lalu yang membuatnya selalu merasa bersalah pada Kim jaejoong. Yang membuatnya memperlakukan Jaejoong seperti sekarang.

Kim jaejoong siswa pindahan yang sejak kepindahannya membuat heboh teman sekelas karena menantang Uhm-Force, guru paling ditakuti satu sekolah, dihari pertamanya menggenakan seragam sekolah Toho.
Share The World
© Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho 
© Their Self 
Remake School 2013

Hari ini ketika pelajaran matematika semua siswa sekelas hampir terlihat bosan dengan tulisan dan penjelasan-penjelasan seongsaenim. Yang mungkin bahkan tak mereka pahami sama sekali. Hanya terlihat beberapa yang mendengarkan. Yoochun yang sedari tadi terlihat serius melihat kearah papan, dan Hanbyul dan Woohyun yang serius mencatat. Sementara anak-anak namja dibelakang tampak banyak yang tertidur.

“Nomor 2, 9, 35, maju dan jawab pertanyaannya.”

“Di kelas ini tidak ada murid dengan nomor 35 seongsaenim.” Woohyun sebagai ketua kelas menjawab Uhm seongsaenim.

“Itu untuk murid pindahan.”

“Kim Kwangyeon, Shim changmin, Kim jaejoong maju kedepan.”

Terlihat Kwangyeon dan Changmin dengan malas melangkah kedepan. Tunggu dimana Kim Jaejoong.

“Kim jaejoong, bangun.”

Ah dia bahkan masih berada ditempatnya. Perkataan seongsaenim membuat perhatian kelas terarah pada Jaejoong. Jaejoong kini berdiri. Masih ditempatnya duduk.

“Ke depan dan jawab soalnya.”

“Saya tak bisa mengerjakannya.”

Semua tertegun. Sebelumnya tak ada yang berani membantah Uhm force. Bahkan Shim changmin.

“Kemari ambil kapurnya.”

“Saya tidak tahu pelajarannya.”

Wah dia benar-benar berani.

“Kau melawanku? Kau ingin tinggal kelas lagi?”

Mulai terdengar bisikan-bisikan di kelas. Semua terkejut mendengar Jaejoong pernah tinggal kelas.

“Diam. Jika kau ingin lulus……”

“Karena itu, jangan membuat saya marah.”

Kim jaejoong memotong perkataan seongsaenim. Wah dia benar-benar luar biasa. Anak namja dibelakang diam-diam memujinya.

“Mwo?!”

seongsaenim mulai marah. Dia menaikkan nada bicaranya. Dia pasti kesal, muridnya ada yang berani membantahnya.

“Saya bertekad mendapatkan sertifikat kelulusan dari sekolah ini. Saya akan tetap tenang di sekolah ini. Karena itu, jangan membuat saya marah.”

Kelas menjadi hening. Shim changmin memandang tidak suka. sementara Uhm Seongsaenim terdiam. Tampaknya dia tengah memikirkan sesuatu. Setelah mengatakan itu dia duduk.

“Temui aku di kantor setelah pelajaran.”

“Nde.” Jaejoong menjawab dengan malas. Bahkan dia tak memandang seongsaenim.

Kelas berlangsung kembali. Mulai terdengar bisikan pujian untuk Jaejoong dari Yesung. Ungkapan penyesalan dari kedua teman Shim changmin kenapa mereka tidak membolos saja. Dan pandangan benci dari Shim changmin.

.

.

.

Kabar mengenai Jaejoong menyebar. Ada yang mengatakan kalau Jaejoong adalah mantan petarung terhebat di Gongju. Bahkan dia dijuluki ‘tsunami’ karena walau hanya lewat didepanmu saja dia bisa membuatmu terjatuh. Yesung dengan bodohnya justru memuji Jaejoong dengan tatapan mata kagum.

Beberapa anak namja kembali meributkan Jaejoong. Mengatakan kalau Jaejoong bahkan sudah menaklukan seluruh kota pada saat dia kelas tujuh. Dan setiap geng di kota berusaha untuk merekrutnya. Tapi sekarang dia sudah berhenti dan itu sebabnya dia sekolah di TOHO SHS.

Kulihat Jaejoong memasuki kantin. Berjalanan melewati antrian untuk makan tanpa perduli pada apapun dan siapapun. Semua yang melihat Jaejoong berjalan kearah kantin menundukkan kepalanya takut.

Jung Yunho telah selesai mengantri. Dia berjalan, lalu berhenti karena melihat keadaan yang aneh. Yunho berbalik dan mendapati Jaejoong yang ada disampingnya, mereka saling menatap, dan akhirnya Yunho menyerahkan piring makannya. Jaejoong tertawa sinis. Tapi dia tetap menerimanya dan berjalan meninggalkan Yunho. Yunho pun pergi meninggalkan kantin.

Ya! Apa-apaan mereka berdua

.

.

Kelas ramai. Kami tengah melakukan apapun yang kami suka sambil menunggu jam istirahat selesai. Yunho memasuki kelas dengan menenteng sebuah buku. berjalan kemeja Jaejoong dan meletakkan buku yang dibawanya di meja Jaejoong dan berjalan kembali. Jaejoong melirik sekilas dengan wajah dingin.

“Kenapa tak membelikanku roti sekalian?”

 Yunho berhenti. Melihat Jaejoong yang kini juga tengah meliriknya. Sedetik kemudian dia berlalu meninggalkan kelas. Yesung berlari menyusulnya.

Para namja kembali ribut saling adu pendapat apakah Jung Yunho kini telah menjadi pengikut Jaejoong atau tidak. Benar-benar kurang kerjaan.

Yunho kembali masuk dan meletakkan roti dan susu yang dibawanya di meja Jaejoong lalu pergi ke mejanya sendiri, meletakkan kepalanya dimeja, memejamkan mata, pura-pura tidur. Seperti yang selalu dilakukannya selama ini.

Dan sekarang murid yeoja ikut membicarakan Yunho. kudengar bahkan mereka menyebutnya namja menyedihkan.

Selama ini Yunho tak pernah sekalipun mau diperintah Shim Changmin. Lalu kenapa sekarang dia berubah menjadi namja dungu yang selalu menuruti perintah namja pindahan itu?

Jaejoong sepertinya mendengarkan apa yang dibicarakan para gadis itu. Entah apa yang dipikirkannya, karena dia menatap Yesung yang berdiri didekatnya,

“Kau bisa memakannya.”

Jaejoong tak memperdulikan Yesung yang kini dengan semangat mengucapkan terima kasih. dia menatap Yunho dengan pandangan yang bahkan aku tak bisa mengartikannya.

.

.

Go Seongsaenim tengah membagikan formulir biodata diri untuk sesi konsultasi sekolah. Taka da satupun diantara kami yang memperhatikannya. Ah, teman-temanku tidak jahat. Mereka hanya seperti siswa lainnya, kami masih nyaman dengan kenakalan kami.

“Kita akan mulai dengan pengenalan diri untuk sesi konsultasi. Dan yang pertama adalah Shim Changmin. Kedua Kim Junsu, dan selanjutnya Park Yoochun. Jung Yunho. …

Jung Yunho menggambil kertas lusuh dilaci mejanya, melihat kertas yang kini digenggamannya. Dia menatap Park Jaejoong.

“Dan Park Jaejoong kau bisa menyerahannya besok.”

“Nde.”

Yunho meremas lembar pengenalannya dan menaruhnya kelaci mejanya kembali.

.

.

Jaejoong berjalan pulang. Dan Yunho yang ingin pulang bersama Jaejoong meminta ijin pada seongsaenim untuk membatalkan sesi konsultasinya dan diganti besok. Yunho berjalan mengikuti Jaejoong tepat dibelakangnya. Jaejoong yang sudah tidak tahan akhirnya berhenti dan membalikkan badannya menghadap Yunho. Yunho mengambil tas Jaejoong dan meletakkan tas Jaejoong dipundak kanannya.

“Kau pindah kemana? Ayo pergi bersama.” Yunho mulai berjalan lagi.

“Kau bersikap ramah padaku? Kau berani? Kau yang pergi atau aku yang harus pergi? Kita tak akan bisa sekolah ditempat yang sama. Karena aku ingin memukul wajahmu setiap kali aku melihatnya.”

Yunho mengalihkan pandangannya

“Kau saja yang pergi. Kau ahli melarikan diri kan?” sindir Jaejoong

Yunho memandang Jaejoong dengan tatapan sedih dan terluka. “Kkajja.”

.

.

Yunho tengah memandang bangunan sekolahnya dari depan gerbang. Jaejoong berjalan dari arah belakangnya. Yunho akan melangkahkan kakinya namun berhenti,

“Kau akan masuk?”

Yunho menoleh kebelakang, mendapati Jaejoong disamping belakangnya. Dia berputar menghadap Jaejoong, baru saja dia ingin mengatakan sesuatu, tapi Jaejoong telah berbalik dan berjalan meninggalkannya.

“Aku akan pergi.”

Dengan wajah terluka Yunho mengatakannya. Jaejoong menghentikan langkahnya. Yunho berjalan melewati Jaejoong masih dengan wajah sedihnya. Jaejoong menatap Yunho sebentar lalu berbalik kembali memasuki gerbang sekolah.

.

.

Yunho baru datang satu jam setelah bel berbunyi. Untungnya kelas kami belum dimulai. Ketika dia memasuki kelas beberapa pasang mata melihat kearahnya, beberapa hanya meliriknya, dan Yesung langsung menghadangnya yang langsung disingkirkan tangannya oleh Yunho. Jaejoong hanya menolehkan sedikit kepalanya kearah Yunho. begitu pula dengan Yunho.

Donghae mendekati bangku Yunho dan mengatakan kalau ia mengkhawatirkan Yunho. Jaejoong melirik kearah Yunho yang ada disebelah kirinya. Melihat interaksi Yunho dengan temannya, mengalihkan tatapannya kedepan, lalu berdiri dari kursinya dan pergi.

Yunho yang menyadari perginya Jaejoong menyusul Jaejoong pergi. Ah mereka berdua benar-benar membuatku penasaran!

.

.

Jaejoong ternyata pergi merokok di tempat pengelolaan sampah dibelakang sekolah. Mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya. Bukankah dia bilang sudah berhenti. Dia terlihat mencari koreknya, mungkin dia lupa membawanya. Yunho datang dan langsung mengambil batang rokok yang ada dibibir Jaejoong dan membuangnya ke tempat sampah. Dan bersiap berbicara dengan Jaejoong,

“Kau bilang sudah berhenti.”

Yunho melihat kearah sisi Tv yang ada tak jauh dari mereka. Jaejoong melihat sejenak kearah CCTV itu, lalu melihat Yunho dengan tatapan malas,

“Pergilah, sebelum aku memukulmu.”

“Pukul saja aku. Aku tak tahu harus pergi kemana selain kesekolah.”

Jaejoong memutar kedua matanya, “Ah.. benar-benar omong kosong.”

Jaejoong tak tahan, dia kemudian berjalan pergi meninggalkan Yunho. tapi kemudian dia berhenti, tersenyum melecehkan, dan berbalik kearah Yunho

“Kau aktor yang hebat! Anak sekelas tampaknya menganggapmu namja ‘biasa’. Apa kau juga berbohong tentang usiamu? Sikap mereka seperti kalian seumuran. Aku yakin kau tengah cemas. Berpikir apa aku akan membongkar rahasiamu.”

“Itu bukan masalah.”

Jaejoong menatap Yunho tajam dan tersenyum sinis,

“Ah gurae? Kau pikir saat mereka tahu siapa dirimu sebenarnya mereka akan tetap menganggapmu sebagai teman? Siapkan dirimu, tak ada yang namanya rahasia yang abadi.”

Dan Jaejoong pergi meninggalkan Yunho yang menatapnya dengan pandangan nanar.

.
.
.
.
.
To Be Continued

No comments:

Post a Comment