Junsu mengangkat bahu dan tersenyum lagi,
"Yunho memintaku memang, tapi bukan itu alasan
aku ingin merawat Changmin-shi," Junsu menepuk pundak Jaejoong hangat,
"Kau tahu almarhum suamiku.... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di
jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai
changmin."
"Ya Tuhan", Jaejoong menutup mulutnya
dengan jemarinya, terkejut,
Junsu tersenyum, "dunia ini sempit bukan?
Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya,"
tatapan Junsu berubah serius, "tapi sungguh Jaejoong-shi, kondisi Changmin
ini kupandang sebagai kesempatan kedua,
“aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi
kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari
kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, terharu,
"Iya Uisa, saya akan senang dan lega sekali
menyerahkan perawatan Changmin di tangan uisa."
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
"Tidak
enak." Changmin mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok
berisi bubur sayuran yang disuapkan Jaejoong kepadanya.
Hari
ini adalah tiga minggu sejak Changmin tersadar dari komanya, kondisinya sudah
mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu
kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu,
dokter sendiri memuji perkembangan Changmin yang luar biasa pesat, tekad namja
itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.
"Kau
harus memakannya," gumam Jaejoong sedikit geli dengan kemanjaan Changmin
yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu."
"Rasanya
seperti muntahan." Gumam Changmin, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya,
menerima suapan Jaejoong lalu mengernyit ketika menelan.
Ekspresinya
membuat Jaejoong tergelak, tapi kemudian Changmin meraih tangan Jaejoong yang
tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,
"Jaejoongi,
tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu....aku tidak tahu bagaimana
mengungkapkan cintaku, aku.... Para dokter dan perawat menceritakan
perjuanganmu untukku...."
"Stttt,"
Jaejoong meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Changmin,
"Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"
"Keunde...."
ekspresi kesedihan menghantam Changmin, "aku.... Aku mungkin tidak akan
bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi
bebanmu..."
"Changmin-ah,"
Jaejoong menyela sedikit marah, "kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri,
kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti
bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun
begitu....", Suara Jaejoong berubah sendu, "meskipun pada akhirnya
kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama
ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli
yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Changmin.... Tidakkah itu cukup?"
Mata
Changmin tampak berkaca-kaca.
"Kau
tidak tahu betapa aku mencintaimu......"
Suara
di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Jaejoong dan Changmin menoleh
bersamaan, lalu Jaejoong tersenyum, Junsu ada di sana, dalam kunjungannya yang
biasa, sekarang bahkan Junsu sudah mulai akrab dan berteman dengan Changmin.
Tapi
senyuman Jaejoong langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di
belakang dokter Junsu, itu Yunho!
Yunho
yang sama. Yunho yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang
dingin dan tidak terbaca. Jaejoong tidak pernah berhubungan dengan Yunho lagi
sejak Changmin sadarkan dari komanya, Yunho selalu memaksakan maksudnya dengan
perantaraan Junsu, seperti ketika Yunho memaksakan untuk menanggung biaya rumah
sakit Changmin dan ketika Yunho memaksakan Jaejoong setuju - lewat bujukan
Junsu - agar Jaejoong dan Changmin pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika
Changmin sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.
Sekarang
namja itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram,
membuat Jaejoong bertanya-tanya, apakah Yunho mendengarkan percakapannya dengan
Changmin tadi. Apakah Yunho tidak senang mendengarnya,
"Junsu
uisanim," Changmin menyapa ramah ketika Jaejoong hanya diam saja, lalu
menatap ingin tahu ke arah namja tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus
kepada Jaejoong,
"Anyong
Changmin-shi, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah
boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Junsu menyadari Changmin
menatap ke arah Yunho, lalu menyikut pinggang Yunho untuk menarik perhatian
Yunho yang terarah lurus kepada Jaejoong, "Dan ini Yunho, dia, eh CEO
ditempat aku dan Jaejoong bekerja."
Yunho
menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Changmin, menelusurinya
dengan tajam dan meneliti.
Inikah
namja yang dicintai Jaejoong sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba- tiba pikiran
jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Changmin jika tiba-tiba dia
mengungkapkan bahwa Jaejoong sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia
sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?
"Yunho."
Junsu bergumam ketika Yunho hanya menatap dan tidak bersuara,
Yunho
lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Changmin,
"Anyong
Changmin-shi, saya adalah.... Atasan Jaejoong di tempat kerjanya... Kebetulan
kami eh cukup .... akrab. Bangapta." sedikit senyum muncul di bibir Yunho
ketika menyadari Jaejoong dan Junsu tampak begitu cemas dengan kata-kata yang
mungkin muncul dari bibirnya,
Changmin
menerima jabatan tangan Yunho dan tersenyum tulus,
"Bangapta
Yunho Shi." meskipun Changmin sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Yunho
seolah-olah ingin membunuhnya.
“Saya
senang kondisi anda semakin membaik.” gumam Yunho tenang, tapi terdengar
seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?
Jaejoong
mengernyit mendengar nada suara Yunho itu, namja itu sama sekali tidak mencoba
membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Jaejoong untuk
mengakui sesuatu ?
mengakui
apa?
apakah
Yunho ingin agar Jaejoong mengakui segalanya di depan Changmin?
Mengakui
bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi
Changmin??
Jaejoong
akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Changmin. Changmin
mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Jaejoong terpaksa melakukan semua
itu demi dirinya. Lalu mungkin Changmin akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh,
namja itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak perawan. Jaejoong
begitu mengenal Changmin hingga yakin akan hal itu, dia namja berpkiran
terbuka, tetapi yang Jaejoong takuti adalah Changmin akan semakin menyalahkan
dirinya, sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat
Jaejoong harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Jaejoong tidak mau Changmin
mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Changmin masih begitu rapuh dan ada
di dalam proses pemulihan. Nanti, Jaejoong pasti akan mengakui semuanya, tetapi
tidak sekarang.
Karena
itu dia langsung memelototi Yunho mengingatkan, memastikan Yunho melihat
isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Yunho malahan tersenyum
meremehkan.
“Tuan
Jung adalah atasanku di tempat lamaku bekerja Changmin-ah.” jelas Jaejoong
cepat begitu melihat kebingungan di mata Changmin.
“Tempatmu
sekarang bekerja Jaejoong-shi, kau masih bekerja di sana.” sela Yunho tajam.
Jaejoong
ternganga mendengar bantahan Yunho itu, kehabisan kata-kata, sementara namja
itu tersenyum datar pada Changmin,
“Kami
sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Jaejoong-shi melakukan
sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari
kesalahan saya,” Yunho menatap Jaejoong penuh arti,
“Dan
dengan rendah hati, saya meminta Jaejoong-SHI kembali kepada saya”. kata-kata
itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di
dalamnya membuat pipi Jaejoong merona.
Junsu
langsung berdehem memecah kecanggungan,
“Bagus,
kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman,” gumamnya ceria, “Nah
sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Changmin.”
“Saya
tidak pernah merasa lebih baik dokter.” Changmin tersenyum, perhatiannya
teralih dari Yunho dan Jaejoong.
“Dan
akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu,” Junsu tersenyum,
lalu menatap Jaejoong dan Yunho, “Kalian bisa keluar sebentar? aku ingin
memeriksa kondisi Changmin.”
Dan
dalam diam Yunho dan Jaejoong melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri
diam di lorong ruang perawatan.
“Dia
tampak sehat.” gumam Yunho kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan
menatap Jaejoong tajam,
Jaejoong
menganggukkan kepalanya.
“Dia
tidak akan bisa berjalan lagi kan?” sambung Yunho jahat.
Jaejoong
membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Yunho,
“Jung
Yunho!! Jahat sekali kau!”, mata Jaejoong tampak berkaca-kaca, "Dokter
Junsu bilang masih ada kesempatan bagi Changmin untuk sembuh, dan aku percaya
dia akan sembuh.”
“Sampai
berapa lama lagi Jae? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi,
Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?” Yunho mendeses
kesal, “Dan kata Junsu dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai namja
normal...”
“Cukup
Jung!!!” Jaejoong setengah berteriak, menghentikan kata-kata Yunho, pipinya
memerah mendengar ucapan Yunho yang begitu vulgar.
Yunho
mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah,
“Aku
cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Junsu kepadaku,”
tiba-tiba
Yunho mendekat dan merengkuh pundah Jaejoong, “Bagaimana Jae? Bagaimana jika
dia tidak dapat berfungsi sebagai namja normal? padahal aku tahu...”, mata
Yunho menyala-nyala, “aku tahu betapa kau yeoja yang penuh gairah, betapa kau
menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya...
Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua...tidak disentuh..
tidak di...”
“Hentikan!!!!”
Kali ini Jaejoong benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Membuat Yunho
terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Jaejoong tampak begitu rapuh
sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti
itu, membuat Yunho ingin melumatnya...
“Kau
terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan
melakukan hubungan fisik,” desis Jaejoong tajam,
“aku
mencintai Changmin, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja...
Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku
tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain
lagi...”
"Tidak
butuh yang lain lagi?” Kata-kata Jaejoong yang penuh cinta kepada Changmin itu
menyulut kemarahan Yunho, dengan kasar direngggutnya Jaejoong ke dalam
pelukannya, “Kalau begitu bagaimana dengan yang ini??!”
Dengan
tanpa diduga-duga, Yunho mencium bibir Jaejoong, pertama kasar, meluapkan
kemarahannya disana, melumat bibir Jaejoong dengan menyakitkan seolah ingin
menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum yeoja ini karena menyakitinya! Oh
berapa dia merindukan yeoja ini!!
Ciumannya
melembut ketika merasakan bibir yeoja yang sangat dirindukannya, yang sudah
lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya
meluap, dipeluknya tubuh Jaejoong erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh
gairahnya, dipujanya bibir itu.
Jaejoong
yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu
dia memejamkan matanya, aroma Yunho, kemaskulinannya menyeruak di dalam
dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami,
Jaejoong membalas pelukan dan lumatan Yunho.
Entah
berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Yunho melepaskan tautan bibir
mereka, terengah-engah.
Dengan
lembut Yunho menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Jaejoong,
napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.
Kemarahan
Yunho mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan
lembut yang menyesakkan dada,
“Jangan
bilang kau tidak merindukan sentuhanku.” bisik Yunho lembut,
Jaejoong
memejamkan mata berusaha menggeleng,
“Aku
tidak merindukannya.” erangnya mencoba melawan,
Yunho
menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Jaejoong dengan
ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Jaejoong gemetaran,
“Teruslah
berbohong? bisik Yunho di telinga Jaejoong, “Tapi tubuhmu tidak bisa
membohongiku, tubuhmu merindukanku Boo, dan aku merindukanmu.” bisik Yunho di
sela-sela kecupannya.
Jaejoong
mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Yunho,
dia memang merindukan namja itu. Sering di malam-malam dia berbaring di
sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Changmin. Dia merindukan Yunho,
merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan
lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur
Yunho di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Jaejoong menahannya, mencoba
mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai
Changmin, Changminnya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang
ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang
berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.
Air
mata mengalir deras di pipi Jaejoong,
“Aku
merindukanmu Yun.” pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga
Yunho membuat gerakan namja itu yang sedang mencumbu Jaejoong terpaku.
Yunho
langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Jaejoong agar menatapnya,
“Ye?
Katakan sekali lagi, katakan,” Yunho mendesak ketika Jaejoong menghindari
matanya. “Katakan sekali lagi Boo, aku perlu mendengarkan lagi.”
Jaejoong
menarik napas panjang, lalu menatap mata musang Yunho yang berbinar-binar bahagia,
“Aku
merindukanmu Yunnie, beuang mesumku.” gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.
“Demi
Tuhan,” Yunho memejamkan matanya lama, lalu memeluk Jaejoong, “betapa aku ingin
mendengar pengakuan itu darimu...”
Mereka
berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai
kemudian Yunho menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad,
“Keunde,
kenapa kau menyebutku beruang? Aku bahkan jauh lebih dari tampan dari seekor
beruang. Dan ya, jika kau menyebutku mesum, tapi itu hanya denganmu Boo.“
“Karena
kau segendut beruang!”
“Mwo!”
Teriak
Yunho protes, membuat Jaejoong tertawa. Yunho bahagia melihat senyum Jaejoong
lagi. Rasanya sudah puluhan abad dia tidak melihat raut bahagia dimata
Jaejoong.
“Kita
harus berbicara dengan Changmin.”
.
.
.
.
.
To Be
Continue
Ini Saki persembahkan buat kalian yang insomnia kayak Saki, adakah?

Hiii sakiii
ReplyDeleteSama lg insomnia jg hehehe
Aq lg buntu nehhh mu komen jg, cz bener2 dah ga sabar nuggu Ending'y
Sakiiii d tunggu chap slanjut'y ^^
Pstttttt kpn jaeUmma hamil ><
Kebangn nihh. Kyny sugesti saki udh apdet Sda Lg..hehehe.
ReplyDeleteWooww bnrkah yunho akan memberi tahu Changmin?? Wooooo
aku dukung klu ada minsu (changmin junsu)………
ReplyDeletebiar yunjae aman g da penggangggu
sempet deg2an klo Jae bkal nolak Yun,,,tapi luluh jga ma si beruang
ReplyDeletecepet deh kasih tau Min, dia bakal ngerti kok #soktau
Jun chan tolong alihkan perhatian Min ya. kkkkkkk
lanjuttt, saki. fighting !!!!
hua... gmna nih.. aku juga jadi ikutan panik.. gmana changmin nanti x?
ReplyDeleteEhh itu yg part yg paling bawah.. emang mata yun biru yahh?. apa saki lp edit lg? Cz kayaknya sblm2 nya mata yun itu tajam dan berbentuk musang.. hehe abaikan anggap aja yun pke softlense
ReplyDeleteAkhirnya Jae mengakui perasaannya pd Yunho. Changmin pasti mengerti. Waktu sudah banyak berubah, perasaan Jae jg pasti berubah. Meski akan sakit tp Changmin pasti bisa melewatinya
ReplyDeleteJae ga bisa bohongin perasaan nya ke yunho
ReplyDeletemereka saling cinta
Semoga changmin merestui
lanjut saki ^__^
aduh changmin, sini sama aku aja lah.. wkwk banting tulang kerja keras deh buat changminie, aku! :D aduh gak tahan liat yunjae deh. hari ini cuma satu, unnie? #retno
ReplyDeleteJadi mereka udah balikan lg?
ReplyDeleteTrs Changmin gmn?
Adakah yg masih baca ff ini klo lagi kangen ? Aku sering bgt, dan ya skrng lagi baca ulang😆 30 mei 2022
ReplyDelete