Sunday, March 30

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XXI

"Apakah.... Apakah Anda diminta Yunho melakukannya?" Jaejoong menatap Junsu sedikit curiga. Kebaikan hati yeoja cantik di depannya ini tampak diluar dugaan, apakah Yunho memaksa Junsu menawarkan ini kepadanya?
Junsu mengangkat bahu dan tersenyum lagi,

"Yunho memintaku memang, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Changmin-shi," Junsu menepuk pundak Jaejoong hangat, "Kau tahu almarhum suamiku.... Dia meninggal dalam kecelakaan beruntun di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai changmin."

"Ya Tuhan", Jaejoong menutup mulutnya dengan jemarinya, terkejut,

Junsu tersenyum, "dunia ini sempit bukan? Kadang kebetulan-kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya-tanya," tatapan Junsu berubah serius, "tapi sungguh Jaejoong-shi, kondisi Changmin ini kupandang sebagai kesempatan kedua,

“aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi kurasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama, itupun kalau kau mengizinkan."

Jaejoong menganggukkan kepalanya, terharu,

"Iya Uisa, saya akan senang dan lega sekali menyerahkan perawatan Changmin di tangan uisa."


Sacrificio de Amor

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong & Jung Yunho

©their Self

A Romantic Story About Jaejoong

©Santhy Agatha

"Tidak enak." Changmin mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Jaejoong kepadanya.

Hari ini adalah tiga minggu sejak Changmin tersadar dari komanya, kondisinya sudah mulai membaik, dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat, dan alat-alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu persatu, dokter sendiri memuji perkembangan Changmin yang luar biasa pesat, tekad namja itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh dia akan merasakannya sepenuh hati.

"Kau harus memakannya," gumam Jaejoong sedikit geli dengan kemanjaan Changmin yang seperti anak-anak, "ini menyehatkanmu."

"Rasanya seperti muntahan." Gumam Changmin, tapi akhirnya menurut membuka mulutnya, menerima suapan Jaejoong lalu mengernyit ketika menelan.

Ekspresinya membuat Jaejoong tergelak, tapi kemudian Changmin meraih tangan Jaejoong yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius,

"Jaejoongi, tak terbayangkan rasa terimakasihku padamu....aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku.... Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku...."

"Stttt," Jaejoong meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Changmin, "Perjuangannya sepadan, kau akhirnya bangun kan?"

"Keunde...." ekspresi kesedihan menghantam Changmin, "aku.... Aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin lumpuh selamanya, aku hanya akan menjadi bebanmu..."

"Changmin-ah," Jaejoong menyela sedikit marah, "kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri, kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama-sama, meskipun begitu....", Suara Jaejoong berubah sendu, "meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu... Kau tahu selama ini aku selalu berdoa apa? Aku berdoa yang penting kau sadar, aku tidak peduli yang lain, Tuhan sudah mengabulkan doaku Changmin.... Tidakkah itu cukup?"

Mata Changmin tampak berkaca-kaca.

"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu......"

Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka, Jaejoong dan Changmin menoleh bersamaan, lalu Jaejoong tersenyum, Junsu ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa, sekarang bahkan Junsu sudah mulai akrab dan berteman dengan Changmin.

Tapi senyuman Jaejoong langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Junsu, itu Yunho!

Yunho yang sama. Yunho yang tampan dengan penampilan bak adonis, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Jaejoong tidak pernah berhubungan dengan Yunho lagi sejak Changmin sadarkan dari komanya, Yunho selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan Junsu, seperti ketika Yunho memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Changmin dan ketika Yunho memaksakan Jaejoong setuju - lewat bujukan Junsu - agar Jaejoong dan Changmin pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Changmin sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.

Sekarang namja itu berdiri di depannya, ekspresinya tak terselami dan sedikit muram, membuat Jaejoong bertanya-tanya, apakah Yunho mendengarkan percakapannya dengan Changmin tadi. Apakah Yunho tidak senang mendengarnya,

"Junsu uisanim," Changmin menyapa ramah ketika Jaejoong hanya diam saja, lalu menatap ingin tahu ke arah namja tampan yang sepertinya hanya menatap terfokus kepada Jaejoong,

"Anyong Changmin-shi, aku datang untuk mengecek keadaanmu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus," Junsu menyadari Changmin menatap ke arah Yunho, lalu menyikut pinggang Yunho untuk menarik perhatian Yunho yang terarah lurus kepada Jaejoong, "Dan ini Yunho, dia, eh CEO ditempat aku dan Jaejoong bekerja."

Yunho menolehkan kepalanya pelan-pelan, lalu menatap ke arah Changmin, menelusurinya dengan tajam dan meneliti.

Inikah namja yang dicintai Jaejoong sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba- tiba pikiran jahat melintas di benaknya, apa yang akan diperbuat Changmin jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Jaejoong sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?

"Yunho." Junsu bergumam ketika Yunho hanya menatap dan tidak bersuara,

Yunho lalu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Changmin,

"Anyong Changmin-shi, saya adalah.... Atasan Jaejoong di tempat kerjanya... Kebetulan kami eh cukup .... akrab. Bangapta." sedikit senyum muncul di bibir Yunho ketika menyadari Jaejoong dan Junsu tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya,

Changmin menerima jabatan tangan Yunho dan tersenyum tulus,

"Bangapta Yunho Shi." meskipun Changmin sedikit bertanya-tanya kenapa tatapan Yunho seolah-olah ingin membunuhnya.

“Saya senang kondisi anda semakin membaik.” gumam Yunho tenang, tapi terdengar seolah-olah mengatakan, kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?

Jaejoong mengernyit mendengar nada suara Yunho itu, namja itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah malah seolah-olah menantang Jaejoong untuk mengakui sesuatu ?

mengakui apa?

apakah Yunho ingin agar Jaejoong mengakui segalanya di depan Changmin?

Mengakui bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai biaya operasi Changmin??

Jaejoong akan mengakuinya, itu pasti, dia tidak mungkin membohongi Changmin. Changmin mungkin akan marah dan sedih, sedih karena Jaejoong terpaksa melakukan semua itu demi dirinya. Lalu mungkin Changmin akan menyalahkan dirinya sendiri. Oh, namja itu tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tidak perawan. Jaejoong begitu mengenal Changmin hingga yakin akan hal itu, dia namja berpkiran terbuka, tetapi yang Jaejoong takuti adalah Changmin akan semakin menyalahkan dirinya, sendiri, menyalahkan kondisinya yang tidak berdaya yang membuat Jaejoong harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Jaejoong tidak mau Changmin mengalami itu semua, tidak di saat kondisi Changmin masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Jaejoong pasti akan mengakui semuanya, tetapi tidak sekarang.

Karena itu dia langsung memelototi Yunho mengingatkan, memastikan Yunho melihat isyarat dalam matanya, dan menggeram dalam hati ketika Yunho malahan tersenyum meremehkan.

“Tuan Jung adalah atasanku di tempat lamaku bekerja Changmin-ah.” jelas Jaejoong cepat begitu melihat kebingungan di mata Changmin.

“Tempatmu sekarang bekerja Jaejoong-shi, kau masih bekerja di sana.” sela Yunho tajam.

Jaejoong ternganga mendengar bantahan Yunho itu, kehabisan kata-kata, sementara namja itu tersenyum datar pada Changmin,

“Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Jaejoong-shi melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan, Tetapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya,” Yunho menatap Jaejoong penuh arti,

“Dan dengan rendah hati, saya meminta Jaejoong-SHI kembali kepada saya”. kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai, tapi entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat pipi Jaejoong merona.

Junsu langsung berdehem memecah kecanggungan,

“Bagus, kita akhirnya menyelesaikan segala kesalahpahaman,” gumamnya ceria, “Nah sekarang aku ingin memeriksa kondisimu Changmin.”

“Saya tidak pernah merasa lebih baik dokter.” Changmin tersenyum, perhatiannya teralih dari Yunho dan Jaejoong.

“Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu,” Junsu tersenyum, lalu menatap Jaejoong dan Yunho, “Kalian bisa keluar sebentar? aku ingin memeriksa kondisi Changmin.”

Dan dalam diam Yunho dan Jaejoong melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri diam di lorong ruang perawatan.

“Dia tampak sehat.” gumam Yunho kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Jaejoong tajam,

Jaejoong menganggukkan kepalanya.

“Dia tidak akan bisa berjalan lagi kan?” sambung Yunho jahat.

Jaejoong membelalakkan matanya mendegar kekejaman dalam suara Yunho,

“Jung Yunho!! Jahat sekali kau!”, mata Jaejoong tampak berkaca-kaca, "Dokter Junsu bilang masih ada kesempatan bagi Changmin untuk sembuh, dan aku percaya dia akan sembuh.”

“Sampai berapa lama lagi Jae? kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi, Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?” Yunho mendeses kesal, “Dan kata Junsu dia juga mungkin tidak bisa berfungsi sebagai namja normal...”

“Cukup Jung!!!” Jaejoong setengah berteriak, menghentikan kata-kata Yunho, pipinya memerah mendengar ucapan Yunho yang begitu vulgar.

Yunho mengangkat bahunya tanpa rasa bersalah,

“Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Junsu kepadaku,”

tiba-tiba Yunho mendekat dan merengkuh pundah Jaejoong, “Bagaimana Jae? Bagaimana jika dia tidak dapat berfungsi sebagai namja normal? padahal aku tahu...”, mata Yunho menyala-nyala, “aku tahu betapa kau yeoja yang penuh gairah, betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya... Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua...tidak disentuh.. tidak di...”

“Hentikan!!!!” Kali ini Jaejoong benar-benar berteriak, matanya berkaca-kaca. Membuat Yunho terdiam dan tidak melanjutkan kata-katanya. Jaejoong tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Yunho ingin melumatnya...

“Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik,” desis Jaejoong tajam,

“aku mencintai Changmin, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku, itu saja... Kalaupun.. kalaupun dia nantinya tidak bisa memelukku dengan bergairah, aku tidak peduli, yang penting dia hidup dan ada di sisiku, aku tidak butuh yang lain lagi...”

"Tidak butuh yang lain lagi?” Kata-kata Jaejoong yang penuh cinta kepada Changmin itu menyulut kemarahan Yunho, dengan kasar direngggutnya Jaejoong ke dalam pelukannya, “Kalau begitu bagaimana dengan yang ini??!”

Dengan tanpa diduga-duga, Yunho mencium bibir Jaejoong, pertama kasar, meluapkan kemarahannya disana, melumat bibir Jaejoong dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Oh! betapa dia ingin menghukum yeoja ini karena menyakitinya! Oh berapa dia merindukan yeoja ini!!

Ciumannya melembut ketika merasakan bibir yeoja yang sangat dirindukannya, yang sudah lama tidak disentuhnya, yang sudah lama tidak dirasakannya. Kerinduannya meluap, dipeluknya tubuh Jaejoong erat-erat, dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya, dipujanya bibir itu.

Jaejoong yang tidak menyangka akan dicium dengan seintens itu semula hanya terpaku, lalu dia memejamkan matanya, aroma Yunho, kemaskulinannya menyeruak di dalam dirinya. Membangkitkan kenangan lama akan kedekatan mereka, dan secara alami, Jaejoong membalas pelukan dan lumatan Yunho.

Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Yunho melepaskan tautan bibir mereka, terengah-engah.

Dengan lembut Yunho menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Jaejoong, napas mereka yang panas menyatu, bibir mereka masih berdekatan.

Kemarahan Yunho mereda seketika oleh ciuman itu, kini dadanya dipenuhi oleh perasaan lembut yang menyesakkan dada,

“Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku.” bisik Yunho lembut,

Jaejoong memejamkan mata berusaha menggeleng,

“Aku tidak merindukannya.” erangnya mencoba melawan,

Yunho menundukkan kepalanya, menghujani telinga dan leher Jaejoong dengan ciuman-ciuman lembut seringan bulu, membuat tubuh Jaejoong gemetaran,

“Teruslah berbohong? bisik Yunho di telinga Jaejoong, “Tapi tubuhmu tidak bisa membohongiku, tubuhmu merindukanku Boo, dan aku merindukanmu.” bisik Yunho di sela-sela kecupannya.

Jaejoong mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia merindukan Yunho, dia memang merindukan namja itu. Sering di malam-malam dia berbaring di sendirian di sofa rumah sakit, menunggui Changmin. Dia merindukan Yunho, merindukan pelukannya yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang selalu menjadi bantal tidurnya, merindukan desah napas teratur Yunho di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Jaejoong menahannya, mencoba mengenyahkannya. Perasaan itu tidak boleh ditumbuhkan. Dia sudah mempunyai Changmin, Changminnya, tunangannya. Kekasih yang dicintainya. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama dua tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali demi dirinya.

Air mata mengalir deras di pipi Jaejoong,

“Aku merindukanmu Yun.” pengakuan itu, pengakuan yang sama sekali tidak di duga-duga Yunho membuat gerakan namja itu yang sedang mencumbu Jaejoong terpaku.

Yunho langsung menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Jaejoong agar menatapnya,

“Ye? Katakan sekali lagi, katakan,” Yunho mendesak ketika Jaejoong menghindari matanya. “Katakan sekali lagi Boo, aku perlu mendengarkan lagi.”

Jaejoong menarik napas panjang, lalu menatap mata musang Yunho yang berbinar-binar bahagia,

“Aku merindukanmu Yunnie, beuang mesumku.” gumamnya lagi, lebih pelan dan bergetar.

“Demi Tuhan,” Yunho memejamkan matanya lama, lalu memeluk Jaejoong, “betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu...”

Mereka berpelukan lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan itu, sampai kemudian Yunho menjauhkan pelukannya dan menatap penuh tekad,

“Keunde, kenapa kau menyebutku beruang? Aku bahkan jauh lebih dari tampan dari seekor beruang. Dan ya, jika kau menyebutku mesum, tapi itu hanya denganmu Boo.“

“Karena kau segendut beruang!”

“Mwo!”

Teriak Yunho protes, membuat Jaejoong tertawa. Yunho bahagia melihat senyum Jaejoong lagi. Rasanya sudah puluhan abad dia tidak melihat raut bahagia dimata Jaejoong.

“Kita harus berbicara dengan Changmin.”

.

.

.

.

.

To Be Continue
Ini Saki persembahkan buat kalian yang insomnia kayak Saki, adakah?

11 comments:

  1. Anonymous2:26 AM

    Hiii sakiii

    Sama lg insomnia jg hehehe

    Aq lg buntu nehhh mu komen jg, cz bener2 dah ga sabar nuggu Ending'y

    Sakiiii d tunggu chap slanjut'y ^^

    Pstttttt kpn jaeUmma hamil ><

    ReplyDelete
  2. Jaenna ♥3:31 AM

    Kebangn nihh. Kyny sugesti saki udh apdet Sda Lg..hehehe.
    Wooww bnrkah yunho akan memberi tahu Changmin?? Wooooo

    ReplyDelete
  3. Anonymous7:30 AM

    aku dukung klu ada minsu (changmin junsu)………
    biar yunjae aman g da penggangggu

    ReplyDelete
  4. sempet deg2an klo Jae bkal nolak Yun,,,tapi luluh jga ma si beruang

    cepet deh kasih tau Min, dia bakal ngerti kok #soktau

    Jun chan tolong alihkan perhatian Min ya. kkkkkkk

    lanjuttt, saki. fighting !!!!

    ReplyDelete
  5. jaejae7:58 AM

    hua... gmna nih.. aku juga jadi ikutan panik.. gmana changmin nanti x?

    ReplyDelete
  6. Jaenna ♥9:28 AM

    Ehh itu yg part yg paling bawah.. emang mata yun biru yahh?. apa saki lp edit lg? Cz kayaknya sblm2 nya mata yun itu tajam dan berbentuk musang.. hehe abaikan anggap aja yun pke softlense

    ReplyDelete
  7. Akhirnya Jae mengakui perasaannya pd Yunho. Changmin pasti mengerti. Waktu sudah banyak berubah, perasaan Jae jg pasti berubah. Meski akan sakit tp Changmin pasti bisa melewatinya

    ReplyDelete
  8. Jae ga bisa bohongin perasaan nya ke yunho
    mereka saling cinta
    Semoga changmin merestui
    lanjut saki ^__^

    ReplyDelete
  9. Anonymous1:23 PM

    aduh changmin, sini sama aku aja lah.. wkwk banting tulang kerja keras deh buat changminie, aku! :D aduh gak tahan liat yunjae deh. hari ini cuma satu, unnie? #retno

    ReplyDelete
  10. Jadi mereka udah balikan lg?
    Trs Changmin gmn?

    ReplyDelete
  11. Dicyunie9:53 PM

    Adakah yg masih baca ff ini klo lagi kangen ? Aku sering bgt, dan ya skrng lagi baca ulang😆 30 mei 2022

    ReplyDelete