"Kalau begitu minumlah kopimu, kau sama sekali belum makan sejak tadi.”
Dengan patuh Jaejoong meneguk kopinya, lalu menatap
ke pintu lagi dengan cemas.
"Kenapa lama sekali uisa operasinya?"
Boa menghela napas.
"Aku tidak tahu Jae, tapi Changmin kan kasus khusus,
para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang
memerlukan waktu lebih lama."
Pandangan Jaejoong tetap tidak terlepas dari pintu
ruang operasi.
Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di
atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya
berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.
Dokter itu tersenyum sebelum Jaejoong bertanya, dia
mengenal Jaejoong, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan
tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.
"Gwenchana Jaejoong-shi, Changmin-shi namja
yang kuat, operasinya berhasil."
Tubuh Jaejoong langsung lunglai penuh rasa
syukur hingga sang dokter harus
menopangnya.
"Selamat Jae, kau berhasil... Kalian berdua
berhasil."
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
"Pulanglah dulu Jae, ini sudah hampir jam tiga
pagi", Boa yang masih setia menemani mengguncang pundak Jaejoong.
Dia kasihan melihat yeoja itu tertidur kelelahan di
samping ranjang Changmin, begitu Changmin keluar dari ruang pemulihan dan
kembali ke kamar perawatan intensif, Jaejoong tak pernah beranjak dari sisi Changmin,
tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Changmin yang
tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Changmin akhirnya
sadarkan diri.
Kasihan sekali kau Jae, Boa menggumamkan rasa
tersentuhnya dalam hati.
Jaejoong berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa
terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.
"Kau harus pulang Jae, ingat, mungkin Yunho
kebingungan mencarimu."
Astaga!
Ya Tuhan, Jaejoong benar-benar lupa, Yunho!
Astaga, namja itu pasti akan mencarinya dan
sekarang dia pasti sedang marah besar!
Dengan gugup Jaejoong bangkit dari kursinya,
sedikit gemetar membayangkan kemarahan Yunho nantinya.
"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu
pulang, jadi kau tidak perlu naik taksi dini hari begini", Boa berusaha
meredakan kegugupan Jaejoong.
Dengan cepat Jaejoong mengecup tangan Changmin yang
masih ada dalam genggamannya, memeluk Boa dan setengah berlari keluar.
.
.
.
.
Ruangan itu gelap.
Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Jaejoong
menutup pintu terdengar begitu keras.
Dengan gugup Jaejoong menelan ludah.
Kenapa sepi? Kemana Yunho?
Apa Yunho mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin
dia tidak tahu kalau Jaejoong belum pulang?
Syukurlah kalau begitu kejadiannya.
Jaejoong berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap
saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi,
seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.
Dan bom itu memang meledak.
Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka,
Ani, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya,
lampu-lampu menyala.
Yunho tampak begitu menakutkan, matanya
menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu
elegan dan rapi tampak kusut masai.
Yang pasti, namja itu kelihatan begitu murka
mendapati Jaejoong berdiri di ruang tamu apartemen itu,
hanya menatapnya.
Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Jaejoong dan
mengguncangnya begitu keras sampai Jaejoong merasa pusing,
"Kemana saja KAU?????!!!", teriak Yunho,
lepas kendali.
Jaejoong berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa
pusing karena Yunho masih mengguncangnya.
"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau
tahu????!!! ", Yunho masih berteriak.
“Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi
satu persatu, tapi kau tidak ada! Kemana saja KAU????"
"Yunho, kalau kau terus mengguncangnya seperti
itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di
belakang Yunho, membuat namja itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran
sosok di belakangnya.
Yoochun berdiri dengan santai sambil menyandarkan
tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Jaejoong yang
didamprat oleh Yunho.
Yunho menarik napas dalam-dalam beberapa kali,
berusaha mengontrol emosinya.
Sialan benar Jaejoong!!!
Sialan benar yeoja ini!!!
Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai
malam Jaejoong tidak juga pulang?
Tak tahukah dia betapa hati Yunho dicengkeram
ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Jaejoong dan menemukan
bahwa ponselnya mati???
Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak
Yunho, bagaimana kalau Jaejoong kecelakaan?
Atau dia menjadi korban kejahatan???!!!!
Bagaimana kalau yeoja itu terluka parah dan tidak
dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan???
Dan sekarang, menemukan yeoja itu berdiri di ruang
tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Yunho dibanjiri
perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena yeoja itu
telah membuatnya kacau balau, murka karena yeoja itu telah membuatnya berubah
dari Yunho yang tenang menjadi Yunho yang kacau, murka karena yeoja itu telah
menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Pro... Proses melahirkan temanku
bermasalah.... Dia... Dia eh... Harus.... Dioperasi....", Jaejoong masih
berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat
pandangannya berkunang-kunang.
Tangan Yunho yang masih berada di pundaknya
mencengkeramnya kuat.
"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku??!!!
Kenapa kau matikan ponselmu hah??!!",
Jaejoong mengerjapkan matanya gugup. "Baterai
ponselku... Habis..."
"Memangnya tidak ada cara lain buat
menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana!! Apa kau pikir aku
tidak mencemaskanmu??? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor
polisi!!! "
"Yunho, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan
selamat", Yoochun menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Yunho.
Dengan tajam Yunho menoleh kepada sahabatnya itu,
"Cukup Park, kau boleh pulang, terima kasih
sudah menemaniku tadi."
Yoochun hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran
halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar
pintu.
"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau
seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Yoochun
ditujukan kepada Yunho, tapi matanya menatap tajam ke arah Jaejoong,
menyalahkan.
“Dan kau, princess, lain kali belajarlah sedikit
bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan
menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Yoochun.
Yunho diam.
Dan Jaejoong juga diam, menilai emosi Yunho, takut
salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Yunho semakin
parah.
Setelah mengamati dengan hati-hati, Jaejoong
menarik kesimpulan kalau kemarahan Yunho sudah mulai mereda, matanya musangnya sudah
tidak menyala lagi, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan
bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.
"Mian Yun," bisik Jaejoong pelan,
takut-takut.
Sejenak Yunho tampak akan mendampratnya lagi,
tetapi namja itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.
"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Jaejoong
memasuki kamar.
Dengan gugup Jaejoong berusaha mengejar langkah Yunho
yang begitu cepat.
"Mian, jeongmal aku tidak berpikir kau akan
secemas itu", tersengal Jaejoong berusaha menjajari langkah Yunho menuju
kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku...Jung Yunho!!",
Jaejoong setengah berseru karena namja itu berjalan terus tanpa
memperhatikannya.
Yunho berhenti melangkah, menatap Jaejoong, tampak
begitu dingin.
"Yang penting kau sudah pulang dengan
selamat", jawabnya datar.
"Yun.....?"
Jaejoong merasa ragu mendengar nada dingin di dalam
suara Yunho.
"Sudah! Aku mau tidur!” geram Yunho marah
sambil melangkah ke arah ranjang.
.
.
.
Namja itu marah, marah besar padanya.
Jaejoong bisa merasakannya dari suasana pagi itu,
ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.
Semalaman Jaejoong tidak bisa tidur, dan Jaejoong
yakin Yunho juga tidak tidur, karena namja itu bergerak dengan gelisah
sepanjang malam.
Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa
seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Yunho
meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya
terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Namja itu murka, tetapi menyimpannya sehingga
membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama", desis Yunho
setelah membanting serbet makannya ke meja.
Tangan Jaejoong yang menyuapkan roti ke mulutnya
berhenti di tengah-tengah.
"Nde?"
"Kita berangkat bersama-sama", ulang Yunho
datar.
"Keunde......"
"Berhenti membantahku Jae," sela Yunho
kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu, "Kkaja!!!"
Dengan gusar namja itu membukakan pintu mobil buat Jaejoong,
dan membantingnya ketika Jaejoong sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah,
tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, namja itu menyetir dengan sangat
kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Jaejoong hanya duduk berdiam,
tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Yunho.
"Nanti kau pulang denganku!! Kau dengar itu??
Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!!!", gumam
Yunho tanpa mau dibantah ketika menurunkan Jaejoong di lobi kantor.
.
.
.
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Jaejoong,
perasaannya tidak enak, sampai kapan Yunho akan marah padanya? Sampai kapan Yunho
akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta
maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan
oleh Yunho?
Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika
keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Jaejoong tadi bermaksud pulang sendiri
dan mampir ke rumah Sakit menengok Changmin, memanfaatkan waktu bebasnya yang
dijanjikan oleh Yunho pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Yunho tadi pagi, Jaejoong tidak
punya pilihan lain selain menuruti permintaan Yunho untuk menemuinya di
ruangannya sepulang kerja.
Meja sekertaris Yunho sudah kosong, dengan pelan Jaejoong
melangkah ke pintu besar ruangan Yunho, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Jaejoong
masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia
terpaku.
Bukan Yunho yang ada di sana, tetapi Yoochun, namja
itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Jaejoong
dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Tuan Jung menyuruh saya kesini jam pulang
kantor.", jelas Jaejoong terbata.
Yoochun tersenyum, masih duduk santai di sofa
sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Arra, Yunho menyuruhku menunggumu di sini,
dia sedang menemui tamu penting dari Jepang di ruang pertemuan."
"Oh."
Jaejoong tidak tahu harus berkata apa, suasana
terasa sangat canggung. Entah karena Jaejoong memang tidak kenal dekat dengan Yoochun,
atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Yoochun.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di
luar saja", gumam Jaejoong cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan
itu.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Yoochun itu menghentikan gerakan
tangan Jaejoong membuka pegangan pintu.
"Nde?"
"Bagaimana rasanya menjadi slave namja kaya
seperti Yunho?",Yoochun bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Jaejoong.
Jaejoong tidak suka mendengar nada melecehkan dalam
suara Yoochun, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Mungkin saya harus menunggu di luar," Jaejoong
berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Yoochun mendorong pintu
itu tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu princess", ulang Yoochun
sinis.
Jaejoong menatap Yoochun tajam.
"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan
saya," desisnya pelan.
Ucapan itu membuat Yoochun tertawa, penuh
penghinaan.
"Merendahkan katamu?, bukannya kau yang datang
merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Yunho???", ejeknya kasar, lalu
mencekal lengan Jaejoong tak kalah kasar, tak peduli Jaejoong mulai
meronta-ronta.
"Kau adalah yeoja paling rendah, paling
murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Yunho dengan
tubuhmu", Yoochun menyeringai sinis.
"Tak kusangka Yunho bisa bertekuk lutut pada yeoja
sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Yunho terbiasa dikelilingi yeoja-yeoja
dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja
menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."
"Anda salah ! Saya tidak begitu", Jaejoong
berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Yoochun, tapi
genggaman namja itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy,
sepertinya namja itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku bitch!!", Yoochun
menggeram pelan.
"Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak
tiga puluh juta won yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir
Yunho untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!!!"
"Anda salah paham!!", Jaejoong setengah
berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Yoochun yang sangat keras.
"Kau yeoja yang menjual tubuhmu seharga tiga puluh
juta won", Yoochun mulai merapat ke tubuh Jaejoong.
“Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan
dengan pelayananmu???"
“Andwe!!! Lepaskan saya!!!", Jaejoong mulai berteriak
membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Yoochun yang semakin gelap mata.
Namja itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke
tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar
Jaejoong meronta membabi buta, berusaha menghindari
ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau
disentuh Yoochun, dia tidak mau!!!!
Yunho!!! Yunho!!! Tolong aku!!!!
.
.
.
.
.
To Be Continue

ya !! jidaaaattttt !!!! ada apa dgn muu ??
ReplyDeleteohhhh,,,,jgn sampai bikin hubungan yun ma chun jelek,,nnti si chun makin benci ma jae
sumpah,,,susah bgt buat komen. tiap chapter mo komen tapi gagal mulu. klo ini berhasil alhamdulillah.
ditunggu lanjutannya, fighting !!!!!
Update..horeee..gumawwo Saki.
ReplyDeleteHooo.. aku bgt teroesona mengetahui fakta yunho mendatangi seluruh rs bersalin. Perasaan khawatir yg berlebihan inilah yg membuat yoochun merasa bahwa yunho sdh berubah. Dan sikap yoochun yg merapat dan mencium yunho tdk lbh karana rasa marahny pada jeje karna merasa shntny telag d kuasai jeje.
Bnr ga saki ?
Oh ya.. setlh tulisan "TBC" SAKI TAMBAHIN donk curcolan saki ttg ffn ini.. jd biaf obrolan kt hidup gitu...
one which your guest aka anonim
:-) JAENNA ;-)
yeayy update cepet ^__^
ReplyDeleteyunho klo marah serem banget
klo udah kaya gini susah buat jae keluar rumah buat nemuin changmin
yuchun msih mikir jae cuma manpaatin yunho
semoga ketaun yunho klo yuchun mo nglecehin jae biar mampus pasti di marahin yunho abis2 an
lanjuttttt saki ^__^
Update..horeee..gumawwo Saki. Hooo.. aku bgt terpesona mengetahui fakta yunho mendatangi seluruh rs bersalin. Perasaan khawatir yg berlebihan inilah yg membuat yoochun merasa bahwa yunho sdh berubah. Dan sikap yoochun yg merapat dan mencium jeje tdk lbh karana rasa marahny pada jeje karna merasa shbatny telah d kuasai dan kendalikan jeje. Bnr ga saki ? Oh ya.. setlh tulisan "TBC" SAKI TAMBAHIN donk curcolan saki ttg ffn ini.. jd biar obrolan kt hidup gitu...
ReplyDeleteone which your guest aka anonim
:-) JAENNA ;-)
Yunho serem bgt kl lg marah.
ReplyDeleteTapi ternyata Yoochun lebih nyeremin & nyebelin.
Bete deh sma Yoochun!!