Wednesday, March 26

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XIII


Yoochun menoleh dan mengangkat alisnya,
"Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"
Junsu tertawa pelan,
"Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Yoochun, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Jaejoong", Junsu berubah serius, "Yunho bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"
"Dia tergila-gila pada yeoja itu, namja yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Jaejoong", gumam Yoochun dengan penuh tekat.
Junsu diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Yoochun dan Yunho, dan betapa Yoochun sangat ingin menjaga sahabatnya itu.
Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Jaejoong, yeoja itu terasa familiar tetapi Junsu tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Jaejoong mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Yunho tidak mengijinkannya. Namja itu bersikeras bahwa Jaejoong belum boleh bekerja, dan dia memerintahkan Junsu menghubungi langsung atasan Jaejoong sehingga tidak masuknya Jaejoong selama empat hari ini tidak akan menjadi masalah.
Well, besok dia harus masuk, dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dan dengan perawatan Yunho yang sengat intensif disertai dengan obat dari Junsu yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini.
Dan Jaejoong merindukan Changmin, sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit, kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tetapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Changmin,
Boa menelepon dan menceritakan perihal Yunho yang mengangkat telephonnya pada waktu Jaejoong tertidur,  sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Jaejoong.
Setelah itu, Jaejoong bersikap hati-hati kepada Yunho, menunggu namja itu bertanya kepadanya. Tetapi Yunho besikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Jaejoong berpikir Yunho tidak menganggap telepon dari Boa uisa sebagai sesuatu yang serius.
Jaejoong sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore, Yunho masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Changmin.
Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Jaejoong berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya, hanya untuk berhadapan dengan sosok Yunho yang akan membuka pintu untuk masuk, Yunho mengamati Jaejoong yang berpenampilan rapi,
"Mau kemana?", tanyanya langsung.
Sejenak Jaejoong terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Yunho, matanya mengerjap gugup.
"Jae?", Yunho mengulang pertanyaannya dalam matanya.
"Eh aku...", Jaejoong mengerjap lagi, "aku mau membeli bahan makanan di supermarket", gumamnya, mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.
Yunho mengernyit,
"Kau masih sakit, tidak boleh keluar-keluar, kau bisa membeli bahan makanan itu besok, lagipula aku sudah membawa makanan", Yunho menunjukkan kantong kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartement, ketika dirasakannya Jaejoong masih terpaku dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu,
"Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?", tanyanya lembut,
Jaejoong tergeragap, dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Yunho,
Ketika Yunho melangkah ke kamar dan mandi, Jaejoong menata makanan di dapur dengan frustasi, kenapa Yunho sudah pulang sore-sore begini? kenapa waktunya begitu tidak tepat?
Jaejoong menyempatkan diri menghubungi Boa dan menjelaskan perihal batalnya kunjungannya ke rumah sakit, untunglah Boa mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Changmin yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Jaejoong merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkannya doa permohonan untuk Changmin lalu melanjutkan menata makanan itu.
Semua masakan yang dibeli Yunho tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Jaejoong,
"Kau pasti menyukainya, itu menu andalan dari restaurant favoritku", Yunho masuk kedapur dengan mengenakan pakaian santai, dia sudah bertransformasi dari pebisinis yang dingin ke namja yang lebih mudah didekati.
"Mana kopiku?", gumamnya disebelah Jaejoong,
Yunho berdiri begitu dekat hingga membuat Jaejoong gugup, dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Yunho, membuat namja itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Jaejoong,
"A....akan kubuatkan", gumam Jaejoong dengan pipi merah padam.
"Tidak usah, nanti saja akan kubuat sendiri, kemarilah aku belum memeriksamu sejak tadi", Yunho merentangkan tanggannya sambil bersandar di meja dapur.
Jaejoong memandang ragu-ragu ke tangan Yunho yang terentang, lalu beralih kemata Yunho yang menyiratkan perintah tanpa kata-kata.
Dengan ragu dia melangkah mendekat ke arah Yunho, namja itu langsung merengkuhnya ke dalam pelukannya,
"Hmmmm kau harum seperti aroma bayi", gumam Yunho tenggelam disela sela rambut Jaejoong.
Yunho juga harum, pikir Jaejoong dalam hati, aroma sabun dan aftershave, aroma yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Jaejoong merasa nyaman ada di dalam pelukan Yunho,
Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama, tanpa suara tanpa kata-kata,
Ketika akhirnya Yunho mengangkat kepalanya dan menatap Jaejoong, matanya tampak membara,
"Kau sudah tidak demam lagi", suaranya terdengar serak, dan Jaejoong mengerti artinya, Yunho sudah terlalu lama menahan diri, namja itu tidak menyentuhnya selama tiga malam, dan mengingat besarnya gairah Yunho kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Yunho. Jaejoong sangat mengerti.
“Iya, aku sudah tidak demam lagi”, balas Jaejoong lembut.
Yunho mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Jaejoong, hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Jaejoong membuat pipi Jaejoong memerah. Dengan lembut Yunho mengusap pipi Jaejoong,
“Begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika kugoda”, dengan lembut Yunho meniupkan napas panas di telinga Jaejoong, membuat tubuh Jaejoong menggelenyar, “Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika kugoda?”
Tangan Yunho menyentuh Jaejoong dengan lembut, membuat napas Jaejoong terengah, jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Jaejoong dan menggodanya, membuatnya basah.
Yunho mendorong Jaejoong ke atas meja dapur membuka pahanya, lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Jaejoong. Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.
Entah hati mereka saling berseberangan, tetapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Jaejoong setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Yunho melingkupinya, Namja itu membutuhkannya dan Jaejoong dengan caranya sendiri membutuhkan Yunho. Ketika paha mungil Jaejoong melingkupi pinggang Yunho, Yunho menekankan dirinya kuat kuat, menggoda batas pertahanan Jaejoong.
“Yun...”, Jaejoong merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Yunho, dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Yunho,
“Ya boo, katakan, kau ingin aku berbuat apa?”, bisik Yunho parau disela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Jaejoong, di sela napasnya yang tersengal yang terpacu cepat.
“Kau ingin aku memuaskanmu? Aku akan memuaskanmu boo, aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan yang sama dari siapapun.”, Dengan posesif Yunho menekan Jaejoong menyatakan kepemilikannya,
“Kau tidak akan pernah menemukan namja lain...”, suara Yunho tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Jaejoong ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya.
Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.
.
.
.
.
Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur.
Jaejoong duduk disana, disamping ranjang Changmin, menatap Changmin yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Changmin akan dilaksanakan.
Kau harus kuat bertahan ya? demi aku kau harus bertahan, kau harus bertahan, demi aku Minnie...
Berkali-kali Jaejoong merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak ada putus-putusnya.
Changmin tampak lebih kurus, dan pucat, dan begitu diam, tetapi Jaejoong meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Changmin, Jaejoong mempercayainya. Jaejoong percaya kepada Changmin, seluruh harapannya masih bertumpu kepada kepercayaannya itu.
Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60, dan Jaejoong bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Changmin adalah namja yang kuat, buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.
Boa masuk ke dalam ruangan, dan menyentuh pundak Jaejoong.
“Kondisinya stabil Jae, aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua.”
“Iya Boa uisa, Changmin pasti kuat.“
Boa mengecek denyut nadi Changmin lalu menatap Jaejoong seolah teringat sesuatu.
“Bagaimana kau berpamitan dengan tuan Jung?”
Jaejoong merona.
“Aku bilang  menemani teman yang akan melahirkan,” gumamnya pelan, merasa berdosa karena tidak biasa berbohong.
Hari ini hari minggu, Yunho kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Jaejoong. Tetapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Jaejoong  berhasil membuat Yunho melepaskannya.
Meskipun dahi Yunho tampak berkerut curiga ketika Jaejoong berpamitan tadi pagi.
“Kalau begitu kenapa kau tak mau kuantar?” kejar Yunho tadi pagi ketika Jaejoong menolak tawarannya.
“Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku, nanti dia bisa mengetahui semuanya.” jawab Jaejoong cepat-cepat.
Namja itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas.
“Apakah dia salah satu pegawaiku?”
“Bukan!”
Jaejoong langsung menyela keras, karena setelah mengenal Yunho lebih dekat, Jaejoong tahu, jika dia menjawab ‘iya’, maka Yunho pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Jaejoong berbohong.
“Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor  dan dia tahu tentangmu, jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain….”
“Oke, kalau begitu di Rumah Sakit mana?”
Jaejoong kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban.
“Eh...aku tidak tahu di Rumah Sakit mana.”
Dengan cepat Yunho melangkah ke hadapan Jaejoong yang berusaha menghindari tatapannya.
“Kau bilang akan menemani temanmu itu di Rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya???”
“A...aku...”, dengan gugup Jaejoong menelan ludah, “Aku akan menunggu di apartmentku yang lama, suaminya akan menjemputku nanti” , disyukurinya  jawaban yang terlintas cepat di otaknya, Dia jarang berbohong, dan tidak pandai berbohong, sementara Yunho terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.
“Suaminya?”
Jawaban itu sepertinya membuat Yunho tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap.
“Kau membiarkan suaminya menjemputmu? kalian hanya berdua di jalan?”
Jaejoong merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Yunho yang terasa aneh.
“Yun,“ gumam Jaejoong jengkel, “ Dia seorang suami, dan isterinya akan melahirkan anaknya, apa yang ada di dalam pikiranmu?”
Perkataan itu membuat pipi Yunho merona, dan dia melangkah mundur.
“Ah ya...mian,“ lalu namja itu menatap Jaejoong tajam,
“ Kau boleh pergi, tapi begitu sampai di rumah sakit  itu kau harus menghubungiku”
“Ne,” jawaban Jaejoong terlalu cepat sehingga Yunho menatapnya makin curiga.
“Kau harus menghubungiku, arra?”
“Arra”, jawab Jaejoong terlalu cepat.
“Jae!” Suara Yunho terdengar jengkel.
“Oke, Aku janji.” Jawab Jaejoong akhirnya.
“Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang.”
“Ne Yun”, Jaejoong berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya.
Dan sekarang, dengan sengaja Jaejoong mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Yunho nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Changmin.
"Sudah waktunya", gumam Boa, membuyarkan lamunan Jaejoong.
Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Changmin. Lalu mulai mendorong tubuh Changmin keluar ruangan.
Jaejoong mengikuti di belakang, sampai Changmin menghilang di pintu khusus ruang operasi.
Dengan lemah dia menoleh ke Boa,
"Berapa lama uisa operasinya?" Boa memeluk Jaejoong lembut.
"Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam Jae.”
.
.
4 jam
.
.
5 jam
.
.
6 jam
.
.
.
.
Napas Jaejoong mulai terasa sesak, berkali kali dia melirik lampu di atas pintu ruang operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, napas Jaejoong terasa makin lama makin sesak.
Kenapa lama sekali?
Apa yang terjadi?
Apakah para dokter mengalami kesulitan?
Bagaimana kondisi Changmin disana?
Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Jaejoong, membuatnya makin cemas dan ketakutan.
Boa sudah berkali-kali menengok keadaan Jaejoong di sela-sela tugas jaganya, membawakan Jaejoong segelas kopi dan makanan kecil karena Jaejoong tidak mau makan.
"Makanlah dulu Jae. Aku tidak mau kau pingsan nantinya." gumam Boa sambil memijit lembut pundak Jaejoong.
Dengan lemah Jaejoong menggeleng. "Tidak bisa uisa, aku terlalu cemas untuk makan."
"Kalau begitu minumlah kopimu, kau sama sekali belum makan sejak tadi.”
Dengan patuh Jaejoong meneguk kopinya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.
"Kenapa lama sekali uisa operasinya?"
Boa menghela napas.
"Aku tidak tahu Jae, tapi Changmin kan kasus khusus, para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama."
Pandangan Jaejoong tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi.
Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.
Dokter itu tersenyum sebelum Jaejoong bertanya, dia mengenal Jaejoong, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.
"Gwenchana Jaejoong-shi, Changmin-shi namja yang kuat, operasinya berhasil."
Tubuh Jaejoong langsung lunglai penuh rasa syukur  hingga sang dokter harus menopangnya.
"Selamat Jae, kau berhasil... Kalian berdua berhasil."
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. yunho udah mulai curiga sama sikap aneh jaejoong semenjak ngangkat tlpon dari boa .apalagi sikap cemburu nya yang berlebihan itu nggemesin bngt ga bisa liat jae dket sama namja laen yunho lebih sering tinggal di apartement jae semenjak jae sakit syukur lah operasinya berhasil apakah changmin bkalan hidup lagi ?
    ga bisa ngebayangin gimana reaksi yunho klo tau tentang changmin ....
    penasaran sama kelanjutannya
    di tunggu kelanjutannya saki ^__^

    ReplyDelete
  2. hasil diagnosis junsu ttg penyakitnya jae apa ya?kan darahnya diambil buat lab,trs hasilnya apa author-ssi?

    ReplyDelete
  3. Anonymous10:09 PM

    Masalah br akan dimulai changmin sembuh.. teng..teng..teng

    ReplyDelete
  4. OMG Yunho!!!
    Doyan bgt ngerjain Jaejae..
    Waduh, gawat! Yunho mulai curiga tuh ma Jaejae..
    Mudah2an Changmin bisa sembuh & cepet sadar, kasian Jaejae.
    Tp ntr Yunho apa kbr?
    Jd bingung...

    ReplyDelete