Thursday, March 27

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XIV


"Kalau begitu minumlah kopimu, kau sama sekali belum makan sejak tadi.”
Dengan patuh Jaejoong meneguk kopinya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.
"Kenapa lama sekali uisa operasinya?"
Boa menghela napas.
"Aku tidak tahu Jae, tapi Changmin kan kasus khusus, para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama."
Pandangan Jaejoong tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi.
Ketegangannya semakin meningkat, ketika lampu di atas pintu ruang operasi menyala, tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setengah berlari menyongsong dokter.
Dokter itu tersenyum sebelum Jaejoong bertanya, dia mengenal Jaejoong, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.
"Gwenchana Jaejoong-shi, Changmin-shi namja yang kuat, operasinya berhasil."
Tubuh Jaejoong langsung lunglai penuh rasa syukur  hingga sang dokter harus menopangnya.
"Selamat Jae, kau berhasil... Kalian berdua berhasil."

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
"Pulanglah dulu Jae, ini sudah hampir jam tiga pagi", Boa yang masih setia menemani mengguncang pundak Jaejoong.
Dia kasihan melihat yeoja itu tertidur kelelahan di samping ranjang Changmin, begitu Changmin keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Jaejoong tak pernah beranjak dari sisi Changmin, tidak makan, tidak minum. Hanya duduk disana mengenggam tangan Changmin yang tidak terbalut infus, seolah olah akan ada keajaiban dimana Changmin akhirnya sadarkan diri.
Kasihan sekali kau Jae, Boa menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati.
Jaejoong berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.
"Kau harus pulang Jae, ingat, mungkin Yunho kebingungan mencarimu."
Astaga!
Ya Tuhan, Jaejoong benar-benar lupa, Yunho!
Astaga, namja itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang  marah besar!
Dengan gugup Jaejoong bangkit dari kursinya, sedikit gemetar membayangkan kemarahan Yunho nantinya.
"Aku meminta supir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kau tidak perlu naik taksi dini hari begini", Boa berusaha meredakan kegugupan Jaejoong.
Dengan cepat Jaejoong mengecup tangan Changmin yang masih ada dalam genggamannya, memeluk Boa dan setengah berlari keluar.
.
.
.
.
Ruangan itu gelap.
Gelap dan sunyi, hingga bunyi klik ketika Jaejoong menutup pintu terdengar begitu keras.
Dengan gugup Jaejoong menelan ludah.
Kenapa sepi? Kemana Yunho?
Apa Yunho mungkin pulang ke rumahnya? Apa mungkin dia tidak tahu kalau Jaejoong belum pulang?
Syukurlah kalau begitu kejadiannya.
Jaejoong berusaha menenangkan dirinya, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya menghadapi apa yang akan terjadi, seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.
Dan bom itu memang meledak.
Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka,
Ani, bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala.
Yunho tampak begitu menakutkan, matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut masai.
Yang pasti, namja itu kelihatan begitu murka mendapati Jaejoong berdiri di ruang tamu apartemen itu,
hanya menatapnya.
Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Jaejoong dan mengguncangnya begitu keras sampai Jaejoong merasa pusing,
"Kemana saja KAU?????!!!", teriak Yunho, lepas kendali.
Jaejoong berusaha menjawab, tetapi kepalanya terasa pusing karena Yunho masih mengguncangnya.
"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu????!!! ", Yunho masih berteriak.
“Semua rumah sakit bersalin di kota ini aku datangi satu persatu, tapi kau tidak ada! Kemana saja KAU????"
"Yunho, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi", sebuah suara tenang terdengar di belakang Yunho, membuat namja itu terpaku, seolah-olah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.
Yoochun berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, sepertinya menikmati pemandangan Jaejoong yang didamprat oleh Yunho.
Yunho menarik napas dalam-dalam beberapa kali, berusaha mengontrol emosinya.
Sialan benar Jaejoong!!!
Sialan benar yeoja ini!!!
Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Jaejoong tidak juga pulang?
Tak tahukah dia betapa hati Yunho dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Jaejoong dan menemukan bahwa ponselnya mati???
Beribu pikiran buruk tadi berkecamuk di dalam benak Yunho, bagaimana kalau Jaejoong kecelakaan?
Atau dia menjadi korban kejahatan???!!!!
Bagaimana kalau yeoja itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan???
Dan sekarang, menemukan yeoja itu berdiri di ruang tamu apartemennya, tanpa kekurangan suatu apapun, membuat Yunho dibanjiri perasaan lega yang amat sangat, lega sekaligus murka, murka karena yeoja itu telah membuatnya kacau balau, murka karena yeoja itu telah membuatnya berubah dari Yunho yang tenang menjadi Yunho yang kacau, murka karena yeoja itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.
"Pro... Proses melahirkan temanku bermasalah.... Dia... Dia eh... Harus.... Dioperasi....", Jaejoong masih berusaha mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.
Tangan Yunho yang masih berada di pundaknya mencengkeramnya kuat.
"Kalau begitu, apa susahnya meneleponku??!!! Kenapa kau matikan ponselmu hah??!!",
Jaejoong mengerjapkan matanya gugup. "Baterai ponselku... Habis..."
"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku?! Aku hampir gila memikirkan kau ada dimana!! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu??? Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi!!! "
"Yunho, sudahlah, toh dia sudah pulang dengan selamat", Yoochun menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Yunho.
Dengan tajam Yunho menoleh kepada sahabatnya itu,
"Cukup Park, kau boleh pulang, terima kasih sudah menemaniku tadi."
Yoochun hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu, dia menepuk-nepuk kemejanya yang juga kusut, lalu melangkah keluar pintu.
"Kau harus menenangkan otakmu, kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak mengenalmu", kata-kata Yoochun ditujukan kepada Yunho, tapi matanya menatap tajam ke arah Jaejoong, menyalahkan.
“Dan kau, princess, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab!", sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Yoochun.
Yunho diam.
Dan Jaejoong juga diam, menilai emosi Yunho, takut salah berbicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Yunho semakin parah.
Setelah mengamati dengan hati-hati, Jaejoong menarik kesimpulan kalau kemarahan Yunho sudah mulai mereda, matanya musangnya sudah tidak menyala lagi, dan napasnya sudah teratur, hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.
"Mian Yun," bisik Jaejoong pelan, takut-takut.
Sejenak Yunho tampak akan mendampratnya lagi, tetapi namja itu menarik napas panjang, berusaha menahan diri.
"Sudahlah", gumamnya, melangkah melewati Jaejoong memasuki kamar.
Dengan gugup Jaejoong berusaha mengejar langkah Yunho yang begitu cepat.
"Mian, jeongmal aku tidak berpikir kau akan secemas itu", tersengal Jaejoong berusaha menjajari langkah Yunho menuju kamar. "Aku... aku terlalu terfokus pada operasi temanku lalu aku...Jung Yunho!!", Jaejoong setengah berseru karena namja itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.
Yunho berhenti melangkah, menatap Jaejoong, tampak begitu dingin.
"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat", jawabnya datar.
"Yun.....?"
Jaejoong merasa ragu mendengar nada dingin di dalam suara Yunho.
"Sudah! Aku mau tidur!” geram Yunho marah sambil melangkah ke arah ranjang.
.
.
.
Namja itu marah, marah besar padanya.
Jaejoong bisa merasakannya dari suasana pagi itu, ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor.
Semalaman Jaejoong tidak bisa tidur, dan Jaejoong yakin Yunho juga tidak tidur, karena namja itu bergerak dengan gelisah sepanjang malam.
Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya.
Ia tidak menyukai suasana seperti ini, lebih baik Yunho meledak-ledak marah seperti kemarin, setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang.
Namja itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Kita berangkat bersama", desis Yunho setelah membanting serbet makannya ke meja.
Tangan Jaejoong yang menyuapkan roti ke mulutnya berhenti di tengah-tengah.
"Nde?"
"Kita berangkat bersama-sama", ulang Yunho datar.
"Keunde......"
"Berhenti membantahku Jae," sela Yunho kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu, "Kkaja!!!"
Dengan gusar namja itu membukakan pintu mobil buat Jaejoong, dan membantingnya ketika Jaejoong sudah duduk di kursi, tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.
Sepanjang jalan, namja itu menyetir dengan sangat kasar, seolah-olah melampiaskan kemarahannya. Jaejoong hanya duduk berdiam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Yunho.
"Nanti kau pulang denganku!! Kau dengar itu?? Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor, kita pulang bersama!!!", gumam Yunho tanpa mau dibantah ketika menurunkan Jaejoong di lobi kantor.
.
.
.
Hari ini berlalu dengan amat lambat bagi Jaejoong, perasaannya tidak enak, sampai kapan Yunho akan marah padanya? Sampai kapan Yunho akan bersikap seperti ini kepadanya?
Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah meminta maaf? Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Yunho?
Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya ke ruangan pribadi CEO perusahaan.
Sebenarnya Jaejoong tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah Sakit menengok Changmin, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Yunho pada waktu perjanjian awal mereka.
Tapi dengan ancaman Yunho tadi pagi, Jaejoong tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Yunho untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.
Meja sekertaris Yunho sudah kosong, dengan pelan Jaejoong melangkah ke pintu besar ruangan Yunho, mengetuknya pelan.
"Masuk."
Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Jaejoong masuk dan menutup pintu di belakangnya, ketika membalikkan badannya dia terpaku.
Bukan Yunho yang ada di sana, tetapi Yoochun, namja itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brendy, menatap Jaejoong dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.
"Tuan Jung menyuruh saya kesini jam pulang kantor.", jelas Jaejoong terbata.
Yoochun tersenyum, masih duduk santai di sofa sambil menatap brendynya yang tinggal seperempat gelas.
"Arra, Yunho menyuruhku menunggumu di sini, dia sedang menemui tamu penting dari Jepang di ruang pertemuan."
"Oh."
Jaejoong tidak tahu harus berkata apa, suasana terasa sangat canggung. Entah karena Jaejoong memang tidak kenal dekat dengan Yoochun, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Yoochun.
"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja", gumam Jaejoong cepat-cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.
"Bagaimana rasanya?"
Pertanyaan tiba-tiba Yoochun itu menghentikan gerakan tangan Jaejoong membuka pegangan pintu.
"Nde?"
"Bagaimana rasanya menjadi slave namja kaya seperti Yunho?",Yoochun bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Jaejoong.
Jaejoong tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Yoochun, dia ingin segera keluar dari ruangan ini.
"Mungkin saya harus menunggu di luar," Jaejoong berhasil membuka pintu sedikit, tapi dengan lengannya Yoochun mendorong pintu itu tertutup lagi.
"Aku bertanya padamu princess", ulang Yoochun sinis.
Jaejoong menatap Yoochun tajam.
"Saya tidak akan membiarkan anda merendahkan saya," desisnya pelan.
Ucapan itu membuat Yoochun tertawa, penuh penghinaan.
"Merendahkan katamu?, bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Yunho???", ejeknya kasar, lalu mencekal lengan Jaejoong tak kalah kasar, tak peduli Jaejoong mulai meronta-ronta.
"Kau adalah yeoja paling rendah, paling murahan yang pernah kukenal, kau mungkin berhasil merayu Yunho dengan tubuhmu", Yoochun menyeringai sinis.
"Tak kusangka Yunho bisa bertekuk lutut pada yeoja sepertimu, tapi kau tentu sudah tahu kan? Yunho terbiasa dikelilingi yeoja-yeoja dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanak-kanakanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya."
"Anda salah ! Saya tidak begitu", Jaejoong berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Yoochun, tapi genggaman namja itu seperti capit besi, dan dari napasnya yang berbau brendy, sepertinya namja itu setengah mabuk.
"Kau tidak bisa membohongiku bitch!!", Yoochun menggeram pelan.
"Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak tiga puluh juta won yang konyol itu, jangan kira aku akan membiarkanmu menyetir Yunho untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!!!"
"Anda salah paham!!", Jaejoong setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Yoochun yang sangat keras.
"Kau yeoja yang menjual tubuhmu seharga tiga puluh juta won", Yoochun mulai merapat ke tubuh Jaejoong.
“Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu???"
“Andwe!!! Lepaskan saya!!!", Jaejoong mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Yoochun yang semakin gelap mata.
Namja itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar
Jaejoong meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila, dia tak mau disentuh Yoochun, dia tidak mau!!!!
Yunho!!! Yunho!!! Tolong aku!!!!
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. ya !! jidaaaattttt !!!! ada apa dgn muu ??
    ohhhh,,,,jgn sampai bikin hubungan yun ma chun jelek,,nnti si chun makin benci ma jae

    sumpah,,,susah bgt buat komen. tiap chapter mo komen tapi gagal mulu. klo ini berhasil alhamdulillah.
    ditunggu lanjutannya, fighting !!!!!

    ReplyDelete
  2. Anonymous12:07 PM

    Update..horeee..gumawwo Saki.
    Hooo.. aku bgt teroesona mengetahui fakta yunho mendatangi seluruh rs bersalin. Perasaan khawatir yg berlebihan inilah yg membuat yoochun merasa bahwa yunho sdh berubah. Dan sikap yoochun yg merapat dan mencium yunho tdk lbh karana rasa marahny pada jeje karna merasa shntny telag d kuasai jeje.
    Bnr ga saki ?
    Oh ya.. setlh tulisan "TBC" SAKI TAMBAHIN donk curcolan saki ttg ffn ini.. jd biaf obrolan kt hidup gitu...

    one which your guest aka anonim

    :-) JAENNA ;-)

    ReplyDelete
  3. yeayy update cepet ^__^
    yunho klo marah serem banget
    klo udah kaya gini susah buat jae keluar rumah buat nemuin changmin
    yuchun msih mikir jae cuma manpaatin yunho
    semoga ketaun yunho klo yuchun mo nglecehin jae biar mampus pasti di marahin yunho abis2 an
    lanjuttttt saki ^__^

    ReplyDelete
  4. Anonymous12:12 PM

    Update..horeee..gumawwo Saki. Hooo.. aku bgt terpesona mengetahui fakta yunho mendatangi seluruh rs bersalin. Perasaan khawatir yg berlebihan inilah yg membuat yoochun merasa bahwa yunho sdh berubah. Dan sikap yoochun yg merapat dan mencium jeje tdk lbh karana rasa marahny pada jeje karna merasa shbatny telah d kuasai dan kendalikan jeje. Bnr ga saki ? Oh ya.. setlh tulisan "TBC" SAKI TAMBAHIN donk curcolan saki ttg ffn ini.. jd biar obrolan kt hidup gitu... 

    one which your guest aka anonim

    :-) JAENNA ;-)

    ReplyDelete
  5. Yunho serem bgt kl lg marah.
    Tapi ternyata Yoochun lebih nyeremin & nyebelin.
    Bete deh sma Yoochun!!

    ReplyDelete