Wednesday, March 26

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter XII


Yunho hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya bibirnya, napasnya terangah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin dipuaskan kebutuhannya, tapi Yunho menahan diri.
Demi Tuhan !!!  yeoja ini sedang sakit!
Jaejoong merasakan gairah Yunho yang bangkit, semalam namja ini menahan diri untuk tidak menyentuhnya, padahal Jaejoong tahu Yunho punya kebutuhan fisik yang sangat besar. Melihat namja ini menahan diri sampai menggertakkan gigi menyentuh hati Jaejoong.
Tanggannya menyentuh pipi Yunho, tak disangka Yunho langsung memejamkan mata menempelkan pipinya
"Gwenchana", gumam Jaejoong lembut.
Mata itu terbuka bagaikan api biru yang menyala-nyala,
"Kau sedang sakit!" geramnya.
Jaejoong tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Yunho,
"Gwenchana Yunnie."
Dan Yunho menyerah pada gairahnya, sambil mengerang dilumatnya bibir Jaejoong lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy Agatha
Panas tubuh Jaejoong karena demam, menyatu dengan panas tubuh Yunho karena gairah, tubuh mereka menyatu ketika Yunho menghujamkan dirinya dengan lembut, mengerang karena merindukan kenikmatan itu, kenikmatan ketika tubuh Jaejoong yang selembut sutra melingkupinya, meremas kejantanannya, membuatnya melayang.
Yunho tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya. Dia tidak pernah tidak bisa menahan dirinya untuk bercinta dengan seorang yeoja. Tidak pernah. Sampai dia bertemu Jaejoong. Yeoja pemilik doe eyes ini menjungkirbalikkan dunianya. Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan Yunho tahu dia sudah tidak bisa melepaskan dirinya lagi.
Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku. Yunho merenung sambil menatap Jaejoong yang terbaring telanjang,tertidur pulas berbantalkan lengannya.
Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan! Yunho mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Jaejoong yang sedang sakit!
Tapi kelembutan Jaejoong ketika membisikkan kata "Gwenchana" benar benar membuatnya lepas kendali.
Yunho menggertakkan giginya, aku tidak boleh lepas kendali lagi!
Dengan lembut diletakkannya kepala Jaejoong di bantal,dan diselimutinya tubuh telanjang Jaejoong dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartementnya berbunyi, Yunho mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.
Ketika melihat dari lubang di atas pintu,dia melihat Junsu dan Yoochun berdiri disana,dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka,
"Kenapa kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga.
Junsu mengangkat alisnya,
"Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?"
Yunho menatap Junsu sekilas lalu menatap Yoochun yang sedang tersenyum,
"Dan kau? Kenapa kemari?"
Yoochun hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Yunho,
Sambil menarik napas panjang Yunho membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk,
"Oke, masuklah. Aku akan mengganti pakaianku dulu Park. Su’ie, Jaejoong masih tidur."
"Tidak hanya tidur kurasa", Junsu memandang penampilan Yunho yang acak-acakan dengan tatapan mencela.
Dan ketika Yunho tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tidak percaya,
"Maksudmu...kau..?", Junsu kehilangan kata-kata, "astaga Jung tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta yeoja yang sedang sakit untuk melayanimu!!!", serunya blak-blakkan, "Jaejoong, oddie? aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya disini, kalau disini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malahan tambah parah!!!"
Yoochun tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk melihat-lihat ruangan apartement itu,
"Wah, apartement yang bagus...mungkin aku bisa beli satu disini ", Gumamnya santai.
Yunho melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Junsu mengikutinya.
Jaejoong sedang tertidur pulas saat Junsu mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya,
"Panasnya seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke Lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah....",
Junsu mengernyit menyadari Jaejoong telanjang di balik selimutnya, "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini.....aku tak tahu dia siapamu Jung, setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan sekarang tiba2 kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri......."
"Tidak tinggal serumah,aku tinggal di rumahku sendiri, apartemen ini kubelikan untuknya."
Junsu mengangkat alisnya,
"Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur disini?", dengan cekatan, Junsu memeriksa Kondisi Jaejoong dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Jaejoong.
Sementara itu Yunho kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Junsu,
"Kau benar", Yunho mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam"
"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan?, seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarangpun aku masih bertanya-tanya Yun, Yoochun juga tidak mau menjelaskan apapun, kukira......"
"Bukan urusanmu Kim, tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun kepadamu", Yunho menjawab dengan tajam.
Junsu mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Jaejoong lalu menuliskan resep.
"Diagnosa awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Yunho, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari yeoja lain."
.
.
.
.
.
Jaejoong terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. ketika dia membuka matanya, dia melihat yeoja yang sangat familiar di duduk di ranjang sebelahnya,
"Kim uisanim?"
Junsu tersenyum,
"Yah, Yunho memintaku datang memeriksamu. Dia dan Yoochun, para namja sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini, bagaimana kondisimu?"
Jaejoong berusaha keras mengeluarkan suaranya,
"Mual....pa...nas..", gumamnya serak,
Junsu memegang dahi Jaejoong, panasnya seperti api,
"Kemari, aku akan membantumu meminum obat."
dengan cekatan Junsu membantu Jaejoong meminumkan obatnya, lalu membaringkan Jaejoong lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Jaejoong telanjang di balik selimutnya,
wajah Jaejoong langsung merah padam.
Junsu menatap Jaejoong penuh pengertian.
" Dia memang kadang kadang sangat egois,kau tahu, menjadi satu-satunya keturunan Jung sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi....",
Junsu mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku sangat tidak menyukainya"
Jaejoong tersenyum malu-malu,
"Saya juga ", jawabnya pelan.
Junsu tertawa mendengarnya,
"Tapi walau pun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak menolak, kau tahu itu kan?"
Sebelum Jaejoong sempat menjawab, Yunho, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.
"Su, bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?", gumam Yunho datar, tapi matanya memperingatkan.
Junsu tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Jaejoong,
"Sepertinya aku sudah diusir, obatnya ada di meja Jung beserta cara pakai, kutinggalkan resep kalau2 obatnya habis, besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya".
Junsu mengangguk pada Jaejoong mengangkat tasnya dan berjalan pergi, pada saat berhadapan dengan Yunho di pintu keluar, dia menatap tajam,
"Ingat Jung, dia harus istirahat kalau mau sembuh", gumamnya tegas sebelum melangkah pergi,
Yunho menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Jaejoong,
"Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang."
Jaejoong tersenyum lemah pada Yunho yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang,
"Apakah kau haus ? ayo, aku akan membantumu minum."
Dengan cekatan Yunho membantu Jaejoong duduk, beberapa kali selimut melorot dari dada Jaejoong, hingga Jaejoong harus mencengkeramnya, tapi Yunho mengabaikannya, sama sekali tidak melirik ketelanjangan Jaejoong, rupanya namja itu bertekad untuk membiarkan Jaejoong beristirahat.
Setelah membantunya minum, Yunho menyentuh dahi Jaejoong dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas,
"Mian", Jaejoong tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Yunho,
Wajah Yunho melembut,
"Minta maaf karena sakit ?", Yunho menarik napas, "kau benar-benar yeoja aneh", Yunho tersenyum miris.
"Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun kau bisa makan."
Jaejoong mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual,
Yunho menatap Jaejoong dengan tatapan tegas seperti seorang appa memarahi anaknya,
"Kau harus makan", gumamnya tegas, "Tidurlah", lalu namja itu berbalik dan melangkah keluar kamar.
Jaejoong meringkuk dibalik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.
.
.
.
.
Yunho duduk di tepi ranjang, dan mengamati Jaejoong, panasnya sudah agak turun dan yeoja itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau yeoja kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini, Yunho tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.
Tiba-tiba bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Yunho, ponsel kecil itu bergetar dan Yunho mengernyitkan keningnya, ponsel milik Jaejoong? Dia baru pertama melihatnya, karena Jaejoong tidak pernah menggunakannya di depannya.
Dan yang terlintas pertama kali di otak Yunho ketika melihat ponsel itu adalah, dia harus membelikan Jaejoong ponsel yang lebih baik.
Ponsel itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah, Yunho meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Jaejoong yang sedang tertidur lelap.
[Boa uisa]
Yunho mengernyit membaca nama penelphon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya,
"Jaejoong?", suara diseberang telephone langung menyahut cemas, "maafkan aku karena menelepon, aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun, apakah kau baik baik saja?"
Jeda sejenak, Yunho ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara,
"Mian, Jaejoong sedang tidur", ketika Yunho bersuara, dia mendengar suara terkesiap diseberang sana, sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut,
"Oh...mianhaeyo....", Boa tampak kehilangan kata-kata.
"Jaejoong sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya kalau anda menelepon", lanjut Yunho tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.
"Ah, nde, gomawoyo", suara diseberang terdengar sangat gugup, lalu telephone ditutup dengan begitu cepat sehingga Yunho mengernyit.
Ada yang aneh, yeoja diseberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Yunho yang menjawab telepon. Apakah yeoja diseberang itu mengetahui siapa Yunho ? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu haripun? Datang kemana? Untuk apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Yunho dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa tentang Jaejoong.
.
.
.
Junsu sedang duduk di bar bersama dengan Yoochun, lalu mengernyit,
"menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?"
Yoochun menyesap minumannya,
"Apa maksudmu?"
"Yeoja kecil itu, Jaejoong"
Hening sejenak dan Yoochun menyesap minumannya lagi,
"Menurutku Yunho sudah gila", gumamnya dengan nada tidak setuju," Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut yeoja itu."
Junsu menolehkan kepalanya ke Yoochun dengan penuh rasa ingin tahu, "sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Yunho menyimpan perasaan yang dalam...."
"Ralat, nafsu yang dalam", sela Yoochun, "Yunho sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat yeoja itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan yeoja itu, Jaejoong, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Yunho", gumamnya jijik.
Junsu mengernyit lagi,
"Jaejoong tidak kelihatan seperti yeoja yang sengaja menjual dirinya"
"Dia menjual dirinya seharga tiga puluh juta won. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Yunho masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang yeoja itu yang hampir 4 juta won di perusahaan, aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Yunho tidak peduli", gumam Yoochun frustasi.
Junsu merenung dengan serius, tiga puluh juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk yeoja seumuran Jaejoong. Dan yeoja itu juga berhutang 4 juta di perusahaan, sungguh pengeluaran fantastis untuk yeoja dengan penampilan sederhana seperti Jaejoong,
"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, yeoja itu tinggal di apartment sederhana, pakaian  dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor", gumam Junsu pelan.
Yoochun menoleh dan mengangkat alisnya,
"Untuk seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"
Junsu tertawa pelan,
"Tentu saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Yoochun, tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Jaejoong", Junsu berubah serius, "Yunho bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"
"Dia tergila-gila pada yeoja itu, namja yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Jaejoong", gumam Yoochun dengan penuh tekat.
Junsu diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Yoochun dan Yunho, dan betapa Yoochun sangat ingin menjaga sahabatnya itu.
Tetapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Jaejoong, yeoja itu terasa familiar tetapi Junsu tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. dasar beruang mesum ga bisa nahan napsu setiap kli dketan sama jj ...semoga jae cepet sembuh
    junsu apa dia kenal sama jaejoong ????

    ReplyDelete
  2. Anonymous9:56 PM

    Pelan2 keberadaan dan posisi changmin akan diketahui yunho. O ya saki.. d novel aslinya yoosu ntr jadian ga. Klopun engga pliss jadiin donk. Hehehe

    ReplyDelete
  3. Anonymous1:07 PM

    Fiuuuuuhhhhhh nahaaannn naapaaaasss

    Yunbear bener2 deh pervert tingkat akut ><

    Elephant umma cpt sembuh yaaa

    ReplyDelete
  4. Yunho sweet & nyeremin disaat yg bersamaan.
    Sweet bgt krn syg & perhatian bgt sma Jaejae tp nyeremin kl pervynya kumat.
    Apa Junsu kenal sma Jaejae?

    ReplyDelete