Yunho hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya bibirnya, napasnya terangah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin dipuaskan kebutuhannya, tapi Yunho menahan diri.
Demi Tuhan !!!
yeoja ini sedang sakit!
Jaejoong merasakan gairah Yunho yang bangkit,
semalam namja ini menahan diri untuk tidak menyentuhnya, padahal Jaejoong tahu
Yunho punya kebutuhan fisik yang sangat besar. Melihat namja ini menahan diri
sampai menggertakkan gigi menyentuh hati Jaejoong.
Tanggannya menyentuh pipi Yunho, tak disangka Yunho
langsung memejamkan mata menempelkan pipinya
"Gwenchana", gumam Jaejoong lembut.
Mata itu terbuka bagaikan api biru yang
menyala-nyala,
"Kau sedang sakit!" geramnya.
Jaejoong tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke
leher Yunho,
"Gwenchana Yunnie."
Dan Yunho menyerah pada gairahnya, sambil mengerang
dilumatnya bibir Jaejoong lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang
panas.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Jaejoong
©Santhy
Agatha
Panas
tubuh Jaejoong karena demam, menyatu dengan panas tubuh Yunho karena gairah,
tubuh mereka menyatu ketika Yunho menghujamkan dirinya dengan lembut, mengerang
karena merindukan kenikmatan itu, kenikmatan ketika tubuh Jaejoong yang selembut
sutra melingkupinya, meremas kejantanannya, membuatnya melayang.
Yunho tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya.
Dia tidak pernah tidak bisa menahan dirinya untuk bercinta dengan seorang
yeoja. Tidak pernah. Sampai dia bertemu Jaejoong. Yeoja pemilik doe eyes ini
menjungkirbalikkan dunianya. Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan
Yunho tahu dia sudah tidak bisa melepaskan dirinya lagi.
Julukan
bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku. Yunho merenung sambil menatap Jaejoong
yang terbaring telanjang,tertidur pulas berbantalkan lengannya.
Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia
kelelahan gara-gara perbuatanmu dasar bajingan! Yunho mengutuk dirinya
sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Jaejoong yang sedang
sakit!
Tapi
kelembutan Jaejoong ketika membisikkan kata "Gwenchana" benar benar
membuatnya lepas kendali.
Yunho
menggertakkan giginya, aku tidak boleh
lepas kendali lagi!
Dengan
lembut diletakkannya kepala Jaejoong di bantal,dan diselimutinya tubuh
telanjang Jaejoong dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartementnya
berbunyi, Yunho mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.
Ketika
melihat dari lubang di atas pintu,dia melihat Junsu dan Yoochun berdiri
disana,dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di
pintu yang terbuka,
"Kenapa
kalian bisa datang berdua disini?" tanyanya curiga.
Junsu
mengangkat alisnya,
"Sungguh
penyambutan tamu yang tidak sopan, kau kan yang meminta aku datang?"
Yunho
menatap Junsu sekilas lalu menatap Yoochun yang sedang tersenyum,
"Dan
kau? Kenapa kemari?"
Yoochun
hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Yunho,
Sambil
menarik napas panjang Yunho membuka pintu lebar-lebar dan mempersilahkan masuk,
"Oke,
masuklah. Aku akan mengganti pakaianku dulu Park. Su’ie, Jaejoong masih
tidur."
"Tidak
hanya tidur kurasa", Junsu memandang penampilan Yunho yang acak-acakan
dengan tatapan mencela.
Dan
ketika Yunho tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya
membelalak tidak percaya,
"Maksudmu...kau..?",
Junsu kehilangan kata-kata, "astaga Jung tidak kusangka kau menjadi maniak
seks separah itu sampai tega-teganya meminta yeoja yang sedang sakit untuk
melayanimu!!!", serunya blak-blakkan, "Jaejoong, oddie? aku harusnya
merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukannya disini, kalau disini
bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malahan tambah parah!!!"
Yoochun
tampak tidak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya, dia sibuk
melihat-lihat ruangan apartement itu,
"Wah,
apartement yang bagus...mungkin aku bisa beli satu disini ", Gumamnya
santai.
Yunho
melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Junsu mengikutinya.
Jaejoong
sedang tertidur pulas saat Junsu mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya,
"Panasnya
seperti api, mungkin aku harus membawa sample darahnya ke Lab untuk memastikan
dia tidak terkena demam berdarah....",
Junsu
mengernyit menyadari Jaejoong telanjang di balik selimutnya, "Aku masih
tidak habis pikir kau menidurinya pada saat seperti ini.....aku tak tahu dia
siapamu Jung, setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan
sekarang tiba2 kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri......."
"Tidak
tinggal serumah,aku tinggal di rumahku sendiri, apartemen ini kubelikan
untuknya."
Junsu
mengangkat alisnya,
"Oh
ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur
disini?", dengan cekatan, Junsu memeriksa Kondisi Jaejoong dan menyiapkan
suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sample darah Jaejoong.
Sementara
itu Yunho kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Junsu,
"Kau
benar", Yunho mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali,
aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam"
"Bagaimana
ceritanya kalian bisa menjalin hubungan?, seingatku tingkat peluang pertemuan
antara sang CEO dan staff biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarangpun aku
masih bertanya-tanya Yun, Yoochun juga tidak mau menjelaskan apapun,
kukira......"
"Bukan
urusanmu Kim, tidak ada yang aneh dalam hubungan ini, dua orang setuju untuk
saling memenuhi kebutuhan itu saja, dan aku menolak menjawab apapun
kepadamu", Yunho menjawab dengan tajam.
Junsu
mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Jaejoong lalu menuliskan resep.
"Diagnosa
awal hanya flu biasa, tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan
menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Yunho, dan ingat, dia
harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari yeoja
lain."
.
.
.
.
.
Jaejoong
terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. ketika dia membuka
matanya, dia melihat yeoja yang sangat familiar di duduk di ranjang sebelahnya,
"Kim
uisanim?"
Junsu
tersenyum,
"Yah,
Yunho memintaku datang memeriksamu. Dia dan Yoochun, para namja sedang
membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar
di sini, bagaimana kondisimu?"
Jaejoong
berusaha keras mengeluarkan suaranya,
"Mual....pa...nas..",
gumamnya serak,
Junsu
memegang dahi Jaejoong, panasnya seperti api,
"Kemari,
aku akan membantumu meminum obat."
dengan
cekatan Junsu membantu Jaejoong meminumkan obatnya, lalu membaringkan Jaejoong
lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Jaejoong telanjang di
balik selimutnya,
wajah
Jaejoong langsung merah padam.
Junsu
menatap Jaejoong penuh pengertian.
"
Dia memang kadang kadang sangat egois,kau tahu, menjadi satu-satunya keturunan
Jung sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi....",
Junsu
mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya aku
sangat tidak menyukainya"
Jaejoong
tersenyum malu-malu,
"Saya
juga ", jawabnya pelan.
Junsu
tertawa mendengarnya,
"Tapi
walau pun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu, kau berhak
menolak, kau tahu itu kan?"
Sebelum
Jaejoong sempat menjawab, Yunho, yang entah kapan sudah berada di ruangan itu
berdehem keras, dengan sengaja.
"Su,
bukannya kau harus segera membawa sample darah itu ke lab?", gumam Yunho
datar, tapi matanya memperingatkan.
Junsu
tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Jaejoong,
"Sepertinya
aku sudah diusir, obatnya ada di meja Jung beserta cara pakai, kutinggalkan
resep kalau2 obatnya habis, besok aku akan mengabarimu tentang hasil
labnya".
Junsu
mengangguk pada Jaejoong mengangkat tasnya dan berjalan pergi, pada saat
berhadapan dengan Yunho di pintu keluar, dia menatap tajam,
"Ingat
Jung, dia harus istirahat kalau mau sembuh", gumamnya tegas sebelum
melangkah pergi,
Yunho
menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum
pada Jaejoong,
"Kadang-kadang
aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang."
Jaejoong
tersenyum lemah pada Yunho yang menuang segelas air dari teko di meja samping
ranjang,
"Apakah
kau haus ? ayo, aku akan membantumu minum."
Dengan
cekatan Yunho membantu Jaejoong duduk, beberapa kali selimut melorot dari dada Jaejoong,
hingga Jaejoong harus mencengkeramnya, tapi Yunho mengabaikannya, sama sekali
tidak melirik ketelanjangan Jaejoong, rupanya namja itu bertekad untuk
membiarkan Jaejoong beristirahat.
Setelah
membantunya minum, Yunho menyentuh dahi Jaejoong dengan lembut, dan mengernyit
karena badannya sangat panas,
"Mian",
Jaejoong tiba-tiba merasa bersalah, dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya
sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Yunho,
Wajah
Yunho melembut,
"Minta
maaf karena sakit ?", Yunho menarik napas, "kau benar-benar yeoja
aneh", Yunho tersenyum miris.
"Oke,
obat itu akan membuatmu mengantuk, aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun
kau bisa makan."
Jaejoong
mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual,
Yunho
menatap Jaejoong dengan tatapan tegas seperti seorang appa memarahi anaknya,
"Kau
harus makan", gumamnya tegas, "Tidurlah", lalu namja itu
berbalik dan melangkah keluar kamar.
Jaejoong
meringkuk dibalik selimut, obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat
mengantuk.
.
.
.
.
Yunho
duduk di tepi ranjang, dan mengamati Jaejoong, panasnya sudah agak turun dan yeoja
itu tidur seperti bayi, entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau yeoja
kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka
selama ini, Yunho tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.
Tiba-tiba
bunyi getaran disamping ranjang mengejutkan Yunho, ponsel kecil itu bergetar
dan Yunho mengernyitkan keningnya, ponsel milik Jaejoong? Dia baru pertama
melihatnya, karena Jaejoong tidak pernah menggunakannya di depannya.
Dan
yang terlintas pertama kali di otak Yunho ketika melihat ponsel itu adalah, dia
harus membelikan Jaejoong ponsel yang lebih baik.
Ponsel
itu terus bergetar, rupanya penelpon di seberang sana tidak mau menyerah, Yunho
meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Jaejoong yang sedang
tertidur lelap.
[Boa
uisa]
Yunho
mengernyit membaca nama penelphon di ponsel itu, sebelum mengangkatnya,
"Jaejoong?",
suara diseberang telephone langung menyahut cemas, "maafkan aku karena
menelepon, aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar
sama sekali darimu, padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun, apakah
kau baik baik saja?"
Jeda
sejenak, Yunho ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia bersuara,
"Mian,
Jaejoong sedang tidur", ketika Yunho bersuara, dia mendengar suara
terkesiap diseberang sana, sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar
dia yang menyahut,
"Oh...mianhaeyo....",
Boa tampak kehilangan kata-kata.
"Jaejoong
sedang sakit, dua hari ini dia demam tinggi, mungkin besok saya akan memberitahunya
kalau anda menelepon", lanjut Yunho tenang dan tanpa memperkenalkan
dirinya, tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.
"Ah,
nde, gomawoyo", suara diseberang terdengar sangat gugup, lalu telephone
ditutup dengan begitu cepat sehingga Yunho mengernyit.
Ada
yang aneh, yeoja diseberang itu memang kaget mendengar suaranya, tetapi tidak
ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Yunho yang menjawab telepon. Apakah yeoja
diseberang itu mengetahui siapa Yunho ? Dan apa yang dimaksud dengan datang
setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu haripun? Datang kemana? Untuk apa?
Pertanyaan-pertanyaan
itu memenuhi kepala Yunho dan membuatnya menyadari bahwa dia tidak tahu apa-apa
tentang Jaejoong.
.
.
.
Junsu
sedang duduk di bar bersama dengan Yoochun, lalu mengernyit,
"menurutmu
apakah bos kita itu sudah main hati?"
Yoochun
menyesap minumannya,
"Apa
maksudmu?"
"Yeoja
kecil itu, Jaejoong"
Hening
sejenak dan Yoochun menyesap minumannya lagi,
"Menurutku
Yunho sudah gila", gumamnya dengan nada tidak setuju," Dia sudah
bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut yeoja itu."
Junsu
menolehkan kepalanya ke Yoochun dengan penuh rasa ingin tahu, "sebenarnya
aku sangat penasaran dengan hubungan mereka, menurutku Yunho menyimpan perasaan
yang dalam...."
"Ralat,
nafsu yang dalam", sela Yoochun, "Yunho sudah merasakan nafsu yang
dalam ketika melihat yeoja itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan yeoja
itu, Jaejoong, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Yunho",
gumamnya jijik.
Junsu
mengernyit lagi,
"Jaejoong
tidak kelihatan seperti yeoja yang sengaja menjual dirinya"
"Dia
menjual dirinya seharga tiga puluh juta won. Aku sendiri yang membuatkan
kontrak perjanjian jual beli yang konyol itu, setelah itu Yunho masih
membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi
hutang yeoja itu yang hampir 4 juta won di perusahaan, aku sudah menasehatinya
kalau dia mulai berlebihan, tapi Yunho tidak peduli", gumam Yoochun
frustasi.
Junsu
merenung dengan serius, tiga puluh juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk yeoja
seumuran Jaejoong. Dan yeoja itu juga berhutang 4 juta di perusahaan, sungguh
pengeluaran fantastis untuk yeoja dengan penampilan sederhana seperti Jaejoong,
"Menurutmu
untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin, yeoja
itu tinggal di apartment sederhana, pakaian
dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk, dia juga selalu naik
kendaraan umum ke kantor", gumam Junsu pelan.
Yoochun
menoleh dan mengangkat alisnya,
"Untuk
seorang dokter perusahaan, tampaknya kau tahu banyak"
Junsu
tertawa pelan,
"Tentu
saja, aku banyak berhubungan dengan karyawan kau tahu. Yoochun, tampaknya kau
tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Jaejoong", Junsu berubah
serius, "Yunho bukan orang bodoh, dia tidak akan membiarkan dirinya
dimanfaatkan, kecuali dia melakukannya dengan sukarela"
"Dia
tergila-gila pada yeoja itu, namja yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan
akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan
memperingatkan Jaejoong", gumam Yoochun dengan penuh tekat.
Junsu
diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Yoochun dan Yunho,
dan betapa Yoochun sangat ingin menjaga sahabatnya itu.
Tetapi
ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, sesuatu tentang Jaejoong, yeoja itu
terasa familiar tetapi Junsu tidak bisa mengingatnya, kapan? Dimana?
.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue
dasar beruang mesum ga bisa nahan napsu setiap kli dketan sama jj ...semoga jae cepet sembuh
ReplyDeletejunsu apa dia kenal sama jaejoong ????
Pelan2 keberadaan dan posisi changmin akan diketahui yunho. O ya saki.. d novel aslinya yoosu ntr jadian ga. Klopun engga pliss jadiin donk. Hehehe
ReplyDeleteFiuuuuuhhhhhh nahaaannn naapaaaasss
ReplyDeleteYunbear bener2 deh pervert tingkat akut ><
Elephant umma cpt sembuh yaaa
Yunho sweet & nyeremin disaat yg bersamaan.
ReplyDeleteSweet bgt krn syg & perhatian bgt sma Jaejae tp nyeremin kl pervynya kumat.
Apa Junsu kenal sma Jaejae?