Jaejoong
mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa
menuruti apapun kemauan Yunho.
“Dan
satu lagi jangan memanggilku tuan jika kita sedang berdua. Bersikaplah seperti
kekasih diranjang.”
Setelah
menghabiskan kopinya Yunho melirik jam tangannya,
"Well,
pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah,
aku akan menemuinya sebentar",
dengan
santai namja itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Jaejoong berdiri,
mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan hangat
dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya, Jaejoong
hampir tak bisa berdiri membuat Yunho musti menahan tubuhnya, dengan lembut namja
itu mendudukkan Jaejoong di kursi,
"Sebenarnya
sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam senyum puas
sebelum pergi meninggalkan Jaejoong.
Sacrificio de Amor
©Kitahara
Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their
Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy
Agatha
"Kau
benar-benar serius tentang ini Jung?", Yoochun bertanya saat Yunho
mempelajari salinan kontrak itu,
Yunho
mengangkat matanya dan menatap Yoochun, lalu menunjukkan kontrak itu,
"Kau
pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga puluh juta won, Park!"
"Aku
tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan yeoja manapun
yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang yeoja? Yeoja yang sangat
murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi
uang? Apa yang ada dipikiranmu Yun?"
Kening
Yunho berkerut tidak suka mendengar kata-kata Yoochun, meskipun dia tahu itu
semua benar.
"Kau
tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang yeoja, dan tiba-tiba seluruh
tubuhmu menginginkannya?", Yunho tersenyum melihat ekspresi skeptis Yoochun,
tentu saja Yoochun tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya,
"Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga puluh
juta won tak ada artinya buatku"
"Tapi
kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya,
dan menyesali kontrak ini"
"Dan
aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi",
jawab Yunho yakin.
Yoochun
mengangkat bahu,
"Aku
tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada yeoja
itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli
padaku",
Yoochun
menyandarkan tubuhnya dikursi, "Kim Jaejoong ini, apakah aku pernah
melihatnya sebelumnya?"
Yunho
menggeleng,
"Dia
hanya pegawai biasa, bekerja sebagai panjang,
kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.
"Apakah
dia yeoja mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan doe eyes dengan tatapan
seperti anak kucing minta dipungut yang ada di area pameran mendampingi bosnya
yang penjilat waktu itu?"
Yunho
langsung bersiaga, Kenapa Yoochun ingat pada Jaejoong? Apakah Yoochun juga
memperhatikan Jaejoong? Apakah dia juga tertarik padanya?Insting posesifnya
langsung menyeruak keluar,
Yoochun
tertawa melihat tatapan tajam Yunho,
"Ya!
jangan menatapku seperti itu Jung, aku memperhatikannya karena waktu itu kau
memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas
darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",
Yoochun
mengangkat bahu,
"Orang
lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan
aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam
itu kau kehilangan konsentrasimu, yeoja itu menarik seluruh perhatianmu, kau
sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",
Yoochun
menarik napas panjang, "Well jika dengan yeoja yang sama ini kau terlibat,
semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."
.
.
.
.
.
Semua
terjadi begitu cepat, Yunho langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya,
sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin,
Jaejoong tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Yunho bersikap sangat
santai, katanya itu semua hanyalah investasi.
Dengan
sangat efisien Yunho membantu Jaejoong membereskan barang-barangnya yang tentu
saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke apartement, lalu menyelesaikan
pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.
Mereka
berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Yunho
tersenyum pada Jaejoong yang berdiri kaku di tengah ruangan,
"Well
anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya,
"Aku harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya
apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan
menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu,
jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"
Jaejoong
memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu,
penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau
mengganti apalagi?
"Sementara
kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk
diriku sendiri seperti yang kaujanjikan?"
Yunho
mengangkat bahu,
"Terserah
kau", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",
"Ani...!",
Jaejoong menjawab tegas, uang tiga puluh juta won yang ditransfer Yunho tadi
siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari namja itu,
Yunho
sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong,
"Uang
yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi
untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku
di ruangan kerjaku dulu?",
Yunho
mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,
"Ini
kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil
sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Jaejoong
mengingatnya baik-baik. Jaejoong sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak
ingin berlama-lama berdebat dengan Yunho disini, lagipula dia tinggal menyimpannya
di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Yunho tidak akan tahu.
Yunho
memakai jasnya , puas karena Jaejoong menerima kartu debitnya, "Kita akan
buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan
kesini", Tatapan Yunho ketika
mengucapkan ‘nanti malam’ begitu intens, membuat pipi Jaejoong memerah.
.
.
.
.
.
.
Sepeninggal
Yunho, Jaejoong segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah
pergi, lobyy apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi
penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah
keluar,
"Anda
ingin dipanggilkan taxi, agashi?", sapanya dengan sopan.
Jaejoong
cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu
kendaraan umum di depan perempatan sana?
"Aniyo",
jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu
sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Jaejoong segera mengangguk sopan
dan melangkah pergi.
Perjalanan
ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan
tidak begitu macet,
Jaejoong
berpapasan dengan Boa ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Changmin,
"Gwenchana
Jae? kau kelihatan pucat,”
Jaejoong
meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia
menyerahkan.....
"Aku,,,
aku mencari uang untuk biaya operasi Changmin", gumamnya gugup,
Boa
menatap Jaejoong sedih,
"Jae,
uang tiga puluh juta won itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih
menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat juta won. Aku punya simpanan
sekitar lima juta won, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh
surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat
beberapa tambahan...."
"Uisa,
saya sudah mendapatkan uangnya", Jaejoong bergumam lemah,
Kata-kata
Boa langsung terhenti seketika,
"Mwo?....Sudah
mendapatkan uangnya? Darimana....?", kata-katanya langsung terhenti
melihat Jaejoong mulai menangis,
"Wae
Jae? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu
lega",
"Mungkin
setelah ini uisa akan jijik pada saya", Jaejoong terisak pelan.
Boa
mengelus rambut Jaejoong dengan lembut,
"Tidak
akan Jae, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan
menerima anaknya apa adanya"
Jaejoong
menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi
cerita, dan amat sangat bersyukur ada Boa yang mau mendengarkannya, lalu
meluncurlah cerita itu dari bibirnya,
"Aku
tidak menyalahkanmu Jae, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu
memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Boa.
Jaejoong
buru-buru mencegah kemarahan Boa,
"Aniyo
Uisa, sampai sekarang Tuan jung tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk
biaya perawatan Changmin, dia mengira aku yeoja muda dengan gaya hidup berfoya-foya
yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan
mengambil atas pembayarannya"
Boa
mengerutkan keningnya,
"Kenapa
kau tidak mengatakannya Jae? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu
alasanmu yang sebenarnya",
Jaejoong
menggelengkan kepalanya,
"Aniyo
uisa, aku tidak mau Tuan jung mengetahui tentang Changmin, namja itu tidak
mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Changmin
nanti",
Boa
menarik napas,
"Setidaknya
dia tidak brengsek seperti namja hidung belang yang mungkin nantinya akan
menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan Boa berubah intens dan hati-hati,
"Apakah
dia berbuat kasar padamu?"
Jaejoong
saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Boa,
"Nde?"
Boa
tampak salah tingkah,
"Apakah
dia bertindak kasar semalam Jae?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan yeoja
akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",
Wajah
Jaejoong langsung merah padam,
"Aniyo
Uisa, Tuan jung tidak kasar.... Aigo!", Jaejoong menutup mukanya dengan
kedua tangannya,"Aku malu sekali uisa, tiap kali aku memandang diriku di
cermin aku merasa seperti yeoja yang sangat tidak berharga."
Boa
menepuk pundak Jaejoong lembut, menenangkannya,
"Jae,
kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan
menerimanya, pengorbananmu demi Changmin sudah luar biasa besarnya, aku yakin
Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional,
"Jae aku yakin, Tuan jung ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan?
Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah kemarin dia
menggunakan pengaman?",
Jaejoong
memandang Boa dengan bodoh,
"Pengaman?"
Barulah
ketika Boa menatapnya dengan intens dan penuh arti, Jaejoong menangkap
maksudnya, wajahnya memerah lagi,
"Oh,
itu...", suara Jaejoong hilang, "kemarin dia memakainya"
Boa
berdehem,
"Baik,
kalau begitu dia namja yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu
sayang?",
“Gwenchana"
"Kalau
begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini
dengan Tuan jung "
.
.
.
.
.
.
Jaejoong
meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke
supermarket untuk membeli bahan makanan.
Kondisi
Changmin baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang,
Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Jaejoong hanya bisa berdoa dan
menyerahkan semuanya pada Tuhan,
Dengan
ragu, Jaejoong memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang,
semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di
tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya
yang sedikit, sehingga hanya memerlukan
waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa,
apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian.
Baru kemudian Jaejoong menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi
pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.
Setelah
mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga
tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,
Jaejoong
mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan
pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan
mungil yang sudah diberi mentega.
Aroma
harum telur menyeruak ke seluruh dapur,
"Baunya
enak."
Suara
itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga
Jaejoong hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,
Dengan
gugup dia menoleh ke pintu dapur, Yunho bersandar di sana, mengenakan baju
santai dan tampaknya habis mandi,
"I,,,iya,
aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya
lagi ke telurnya.
Yunho
melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Jaejoong,
dia berdiri dekat di belakang Jaejoong, lalu menengok penggorengan,
"Apa
itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Jaejoong.
"Eh,
ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Jaejoong
berusaha bertingkah wajar,
"Seperti
omelet?", kali ini Yunho tampak benar-benar tertarik,
"Ya
seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Jaejoong menjawab sambil melirik ke
ekspresi Yunho, baru sekarang Jaejoong sadar, ternyata namja ini tertarik pada
hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
"Buatkan
aku satu ya"
Jaejoong
menoleh mendengar permintaan Yunho,
"Memangnya
kau mau?", tanyanya ragu.
Namja
itu mengangkat bahunya,
"Siapa
tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku
langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat
kondisimu."
“Dasar perayu ulung,” Jaejoong memaki dalam
hati, orang seperti Yunho tidak segan-segan memanipulasi pikiran yeoja agar mau melakukan apapun yang
dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!
Yunho
masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena
Yunho memang jauh lebih tinggi dibanding Jaejoong, tiba-tiba saja, tangan namja
itu ,mencengkeram pundak Jaejoong mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun
dan bibirnya mengecup leher Jaejoong dari samping dengan kecupan selembut bulu
dan panas, sehingga tubuh Jaejoong bagaikan disetrum dari ujung kepala sampai
ujung kaki.
"Aku
menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Yunho pelan, lalu
melangkah pergi meninggalkan Jaejoong di dapur, yang mencoba menetralkan
nafasnya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Hummnn.. hubungan yunjae makin mencair.. boa yg hangat. Than.. minnie? Gmn dg minnie?? Hiks...hiks. saki. Semangat...lnjutkan. we always supported to u
ReplyDeleteEum ayooooooo sakiiiii
ReplyDeleteTlg d lanjutkaaaaannnn.....
Minnie, come on wake Up ><
semakin lancar aja yunjae, updt kilat ya
ReplyDeleteLanjut eonni
ReplyDeleteBoa baik bngt ngerti bngt prsaan jaejoong ... seenggaknya jae punya tman untuk berbagi
ReplyDeletehubungan yunjae semakin dekat dan ga canggung lgi
Kayaknya hubungan yunjae sedikit ada kemajuan.
ReplyDeleteAk yakin sebenernya Yunho laki2 yg baik.
Hmmm....lanjut ah...