Monday, March 17

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter VII

"Apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.
Jaejoong mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Yunho.
“Dan satu lagi jangan memanggilku tuan jika kita sedang berdua. Bersikaplah seperti kekasih diranjang.”
Setelah menghabiskan kopinya Yunho melirik jam tangannya,
"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah,  aku akan menemuinya sebentar",
dengan santai namja itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Jaejoong berdiri, mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya, Jaejoong hampir tak bisa berdiri membuat Yunho musti menahan tubuhnya, dengan lembut namja itu mendudukkan Jaejoong di kursi,
"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Jaejoong.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy Agatha
"Kau benar-benar serius tentang ini Jung?", Yoochun bertanya saat Yunho mempelajari salinan kontrak itu,
Yunho mengangkat matanya dan menatap Yoochun, lalu menunjukkan kontrak itu,
"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga puluh juta won, Park!"
"Aku tak habis pikir, kenapa seseorang sepertimu yang bisa mendapatkan yeoja manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang yeoja? Yeoja yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada dipikiranmu Yun?"
Kening Yunho berkerut tidak suka mendengar kata-kata Yoochun, meskipun dia tahu itu semua benar.
"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang yeoja, dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?", Yunho tersenyum melihat ekspresi skeptis Yoochun, tentu saja Yoochun tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya, "Yang pasti aku menginginkannya, dan aku masih belum bosan, tiga puluh juta won tak ada artinya buatku"
"Tapi kau orang yang sangat pembosan, seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya, dan menyesali kontrak ini"
"Dan aku tetap akan merasa puas karena setidaknya aku tidak penasaran lagi", jawab Yunho yakin.
Yoochun mengangkat bahu,
"Aku tetap tidak setuju, tapi ini semua keputusanmu, serahkan kontrak pada yeoja itu, pastikan dia tandatangan, beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku",
Yoochun menyandarkan tubuhnya dikursi, "Kim Jaejoong ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"
Yunho menggeleng,
"Dia hanya pegawai biasa, bekerja sebagai panjang, kau tidak mungkin pernah melihatnya", jawabnya tegas.
"Apakah dia yeoja mungil dengan rambut sebahu dan wajah polos dan doe eyes dengan tatapan seperti anak kucing minta dipungut yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"
Yunho langsung bersiaga, Kenapa Yoochun ingat pada Jaejoong? Apakah Yoochun juga memperhatikan Jaejoong? Apakah dia juga tertarik padanya?Insting posesifnya langsung menyeruak keluar,
Yoochun tertawa melihat tatapan tajam Yunho,
"Ya! jangan menatapku seperti itu Jung, aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens, tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya, seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya",
Yoochun mengangkat bahu,
"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal, malam itu kau kehilangan konsentrasimu, yeoja itu menarik seluruh perhatianmu, kau sulit berkonsentrasi pada hal lain selain itu",
Yoochun menarik napas panjang, "Well jika dengan yeoja yang sama ini kau terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku."
.
.
.
.
.
Semua terjadi begitu cepat, Yunho langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya, sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin, Jaejoong tidak berani membayangkan berapa harganya, tapi Yunho bersikap sangat santai, katanya itu semua hanyalah investasi.
Dengan sangat efisien Yunho membantu Jaejoong membereskan barang-barangnya yang tentu saja tidak banyak, untuk dipindahkan ke apartement, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.
Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu, Yunho tersenyum pada Jaejoong yang berdiri kaku di tengah ruangan,
"Well anggap saja ini rumahmu sendiri", dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali rumahku, pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tidak memberi kabar, dia akan kebingungan menjawab telepon yang masuk, kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu, jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja"
Jaejoong memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu, penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apalagi?
"Sementara kau pergi,,,,bolehkah aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kaujanjikan?"
Yunho mengangkat bahu,
"Terserah kau", dia mengeluarkan dompetnya,"Kau butuh uang?",
"Ani...!", Jaejoong menjawab tegas, uang tiga puluh juta won yang ditransfer Yunho tadi siang sudah lebih dari cukup, dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari namja itu,
Yunho sepertinya bisa membaca pikiran Jaejoong,
"Uang yang kuberi tadi, itu murni untukmu silahkan kau gunakan sesuka hatimu, tetapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu, ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?",
Yunho mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dompetnya,
"Ini kartu debit, isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun", dia lalu menyebutkan nomor PIN nya dan menyuruh Jaejoong mengingatnya baik-baik. Jaejoong sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Yunho disini, lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Yunho tidak akan tahu.
Yunho memakai jasnya , puas karena Jaejoong menerima kartu debitnya, "Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan aku akan kesini",  Tatapan Yunho ketika mengucapkan ‘nanti malam’ begitu intens, membuat pipi Jaejoong memerah.
.
.
.
.
.
.
Sepeninggal Yunho, Jaejoong segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi, lobyy apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder, apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar,
"Anda ingin dipanggilkan taxi, agashi?", sapanya dengan sopan.
Jaejoong cepat-cepat menggeleng, tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?
"Aniyo", jawabnya," saya menunggu jemputan, di depan", gumamnya singkat, lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Jaejoong segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.
Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet,
Jaejoong berpapasan dengan Boa ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Changmin,
"Gwenchana Jae? kau kelihatan pucat,”
Jaejoong meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia menyerahkan.....
"Aku,,, aku mencari uang untuk biaya operasi Changmin", gumamnya gugup,
Boa menatap Jaejoong sedih,
"Jae, uang tiga puluh juta won itu sangat banyak, aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat juta won. Aku punya simpanan sekitar lima juta won, mungkin itu bisa membantu, dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan...."
"Uisa, saya sudah mendapatkan uangnya", Jaejoong bergumam lemah,
Kata-kata Boa langsung terhenti seketika,
"Mwo?....Sudah mendapatkan uangnya? Darimana....?", kata-katanya langsung terhenti melihat Jaejoong mulai menangis,
"Wae Jae? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu lega",
"Mungkin setelah ini uisa akan jijik pada saya", Jaejoong terisak pelan.
Boa mengelus rambut Jaejoong dengan lembut,
"Tidak akan Jae, aku menyayangimu seperti anakku sendiri, dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"
Jaejoong menarik napas panjang, dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dan amat sangat bersyukur ada Boa yang mau mendengarkannya, lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya,
"Aku tidak menyalahkanmu Jae, yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya!", geram Boa.
Jaejoong buru-buru mencegah kemarahan Boa,
"Aniyo Uisa, sampai sekarang Tuan jung tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Changmin, dia mengira aku yeoja muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku, jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"
Boa mengerutkan keningnya,
"Kenapa kau tidak mengatakannya Jae? setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya",
Jaejoong menggelengkan kepalanya,
"Aniyo uisa, aku tidak mau Tuan jung mengetahui tentang Changmin, namja itu tidak mudah ditebak, tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Changmin nanti",
Boa menarik napas,
"Setidaknya dia tidak brengsek seperti namja hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu", tiba-tiba tatapan Boa berubah intens dan hati-hati,
"Apakah dia berbuat kasar padamu?"
Jaejoong saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata Boa,
"Nde?"
Boa tampak salah tingkah,
"Apakah dia bertindak kasar semalam Jae?, maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan yeoja akan merasa tidak nyaman, apalagi jika pasangannya bertindak kasar",
Wajah Jaejoong langsung merah padam,
"Aniyo Uisa, Tuan jung tidak kasar.... Aigo!", Jaejoong menutup mukanya dengan kedua tangannya,"Aku malu sekali uisa, tiap kali aku memandang diriku di cermin aku merasa seperti yeoja yang sangat tidak berharga."
Boa menepuk pundak Jaejoong lembut, menenangkannya,
"Jae, kita semua tahu alasanmu melakukan ini, aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya, pengorbananmu demi Changmin sudah luar biasa besarnya, aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah profesional, "Jae aku yakin, Tuan jung ini akan 'mengunjungimu' secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya,apakah kemarin dia menggunakan pengaman?",
Jaejoong memandang Boa dengan bodoh,
"Pengaman?"
Barulah ketika Boa menatapnya dengan intens dan penuh arti, Jaejoong menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi,
"Oh, itu...", suara Jaejoong hilang, "kemarin dia memakainya"
Boa berdehem,
"Baik, kalau begitu dia namja yang cukup bertanggung jawab, bagaimana kondisi tubuhmu sayang?",
“Gwenchana"
"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi, kau juga perlu membicarakan ini dengan Tuan jung "
.
.
.
.
.
.
Jaejoong meletakkan barang belanjaannya di meja dapur, tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Kondisi Changmin baik-baik saja dan cukup stabil, itu sudah membuatnya cukup tenang, Operasi sudah dijadwalkan 1minggu lagi, Sekarang Jaejoong hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan,
Dengan ragu, Jaejoong memandang sekeliling apartemen, lalu menarik napas panjang, semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini, tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang  sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar, setelah itu dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa, apalagi ditempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Jaejoong menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.
Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong,
Jaejoong mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran, dikocoknya dengan pelan sambil berdendang, lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega.
Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur,
"Baunya enak."
Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat menegejutkan sehingga Jaejoong hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya,
Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Yunho bersandar di sana, mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi,
"I,,,iya, aku memasak makan malamku", jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.
Yunho melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak mempedulikan kegugupan Jaejoong, dia berdiri dekat di belakang Jaejoong, lalu menengok penggorengan,
"Apa itu?", tanyanya tertarik melihat masakan Jaejoong.
"Eh, ini? Ini telur goreng kuberi campuran sosis dan sayuran", Jaejoong berusaha bertingkah wajar,
"Seperti omelet?", kali ini Yunho tampak benar-benar tertarik,
"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana. Jaejoong menjawab sambil melirik ke ekspresi Yunho, baru sekarang Jaejoong sadar, ternyata namja ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemuinya sebelumnya.
"Buatkan aku satu ya"
Jaejoong menoleh mendengar permintaan Yunho,
"Memangnya kau mau?", tanyanya ragu.
Namja itu mengangkat bahunya,
"Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali, setelah menyelesaijan urusan rumah, aku langsung kemari, kau kan masih penyesuaian diri disini, jadi aku ingin melihat kondisimu."
“Dasar perayu ulung,” Jaejoong memaki dalam hati, orang seperti Yunho tidak segan-segan memanipulasi  pikiran yeoja agar mau melakukan apapun yang dia inginkan, pura-pura mengkuatirkanku, huh!
Yunho masih berdiri di belakangnya, napasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Yunho memang jauh lebih tinggi dibanding Jaejoong, tiba-tiba saja, tangan namja itu ,mencengkeram pundak Jaejoong mendekatkannya ke belakang, kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Jaejoong dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas, sehingga tubuh Jaejoong bagaikan disetrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku menunggu di sofa ya, kita makan disana saja", gumam Yunho pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Jaejoong di dapur, yang mencoba menetralkan nafasnya.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

6 comments:

  1. Anonymous2:35 PM

    Hummnn.. hubungan yunjae makin mencair.. boa yg hangat. Than.. minnie? Gmn dg minnie?? Hiks...hiks. saki. Semangat...lnjutkan. we always supported to u

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:09 PM

    Eum ayooooooo sakiiiii

    Tlg d lanjutkaaaaannnn.....

    Minnie, come on wake Up ><

    ReplyDelete
  3. semakin lancar aja yunjae, updt kilat ya

    ReplyDelete
  4. Boa baik bngt ngerti bngt prsaan jaejoong ... seenggaknya jae punya tman untuk berbagi
    hubungan yunjae semakin dekat dan ga canggung lgi

    ReplyDelete
  5. Kayaknya hubungan yunjae sedikit ada kemajuan.
    Ak yakin sebenernya Yunho laki2 yg baik.
    Hmmm....lanjut ah...

    ReplyDelete