Sunday, March 16

[Remake] Choosey Lover Chapter VII



Jaejoong masih berada dalam gelombang orgasme saat Yunho menggeram dan menusuk ke dalam Jaejoong dengan tusukan lainnya. Tiga tusukan dalam lalu Yunho klimaks, mengikuti Jaejoong ke dalam dunia yang intens, kenikmatan yang mendalam. Yunho bertahan di dalam Jaejoong, menumpahkan benihnya yang hangat, basah dan nikmat ke dalam dirinya.
Jaejoong merasakan itu langsung menuju ke dalam jiwanya saat ia memeluk erat bahu Yunho.
Mulut Yunho meninggalkan mulut Jaejoong dan Yunho menjatuhkan kepalanya di samping Jaejoong. Bibir Yunho yang terbuka mendarat ke bahu Jaejoong dan Yunho tetap berada dalam posisi itu, Mulut Yunho basah di atas kulit Jaejoong saat mereka berdua mulai menenangkan diri.
Bibir Yunho bergerak ke telinga Jaejoong. “Aku minta maaf, Boo.” Yunho berbisik.

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Yunho menahan dirinya di atas Jaejoong, masih ada di dalam tubuh Jaejoong.
Jaejoong mulai bisa berpikir kembali dan semua terasa baik. Tak ada penyesalan sama sekali, hanya perasaan nyaman dan keyakinan bahwa Yunho perduli padanya. Untuk apa Yunho meminta maaf? “Apa yang kau sesali?”
Yunho mengangkat dirinya dari atas tubuh Jaejoong, perlahan menarik keluar dirinya dari dalam tubuh Jaejoong dan bergerak ke sampingnya. Yunho menyusupkan lengannya kebawah tubuh Jaejoong. “Aku terlalu kasar padamu.”
“Tidak. Kau tidak kasar.”
Tangan Yunho menyusup ke payudara Jaejoong dimana kulit lembut dan putih miliknya sudah mulai menunjukkan efek dari sentuhan Yunho. “Ya,Tuhan, sayang, aku membuatmu memar.”
“Ini hanya sebuah tanda darimu. Tidak sakit.” Kata-kata Jaejoong lembut, mencoba untuk meyakinkan Yunho.
“Aku tidak bermaksud membuat itu dikulitmu. Aku bahkan tak menyadari apa yang kulakukan.”
Kenikmatan melanda Jaejoong. “Tidak Apa-apa,” Jaejoong berbisik.
“Dan aku tak seharusnya mengancammu. Aku tak bermaksud untuk membuatmu takut, Boo. Tentang namja yang tadi berdansa denganmu.”
Jaejoong memalingkan kepalanya untuk memandang mata Yunho. “kau tidak serius?”
“Tentu saja aku serius. Tapi aku tak bermaksud untuk membuatmu takut.”
“Apakah aku terlihat takut?”
Yunho tersenyum. “Tidak juga.”
“Aku tidak takut.“ Jawaban Jaejoong sangat yakin.
“Bagus.” Yunho menggerakkan tangannya ke bawah dan menangkap gundukan Jaejoong dengan telapak tangannya. “Ok. Itu tadi latihan. Sekarang ini untuk yang sebenarnya.”
Yunho membungkuk ke bawah dan menempatkan mulutnya di atas mulut Jaejoong.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sepuluh pagi, bel pintu Yixing berbunyi. Yixing sudah selesai mandi, berpakaian dan memakai make up. Yixing siap menumpahkan uneg-unegnya pada Yifan yang tak sempat dia ucapkan tadi malam.
Yixing membuka pintu dan Yifan berdiri bersandar dalam celana jeans ketat dan sudah pudar, sepatu ket dan kaos ketat merah yang membentuk perut berototnya dan mata Yixing bergerak dengan cepat, secepat matanya mendarat pada Yifan. Maskulinitas teradiasi dari diri Yifan dan Yixing tidak kebal dengan hal itu.
Yifan berdiri memandang Yixing, memutar kunci mobil Yifan di tangannya.
Kunci mobil Yifan bukan kunci mobil miliknya.
Yixing mengabaikan ketegangan seksual yang mengalir diantara mereka setiap kali mereka berada di ruangan yang sama dan Yixing langsung ke pokok permasalahan. “Dimana Kunci mobilku?”
“Mobilmu di dealer. Mereka akan mulai mengerjakannya senin pagi.“
“Mwo?” Yixing kaget, Yixing tidak sepenuhnya paham apa yang Yifan katakan.
“Mobilmu sedang dikerjakan.“ Kata-kata Yifan pendek dan singkat.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Kebingungan melanda Yixing.
“Apa kau menyadari lampu check mesin yang berkedip?” Mata Yifan berkabut, tak membiarkan Yixing melihat apa yang sebenarnya terjadi di kepalanya.
“Ya, Tapi sudah seperti itu sejak beberapa minggu dan tidak ada hal buruk yang terjadi.” Saat Yixing mengatakan hal itu, Yixing bisa mengatakan itu membuat Yifan lebih kecewa lagi. Wajahnya meringis seperti merasakan sakit.
“sebuah kecelakaan menunggu untuk terjadi.” Suara Yifan menjadi dalam dan keras. “Kau ingin mogok di pinggir jalan manis, dan berharap belas kasihan pada siapapun orang yang berhenti?”
“Tidak. Aku punya telepon. Aku bisa menelpon Derek mobil jika aku membutuhkannya.” Yixing berusaha untuk membuat suaranya ringan tapi itu bukan seutuhnya yang menjadi perhatian Yifan. Dan Yixing tidak mempunyai uang untuk perbaikan.
“Sementara itu siapa yang sedang mengintai bokong kecilmu yang manis itu, saat kau berdiri di tepi jalan menunggu? seorang pemerkosa? Atau bahkan seorang pembunuh?” kemarahan hadir di suara Yifan.
“Aku tak punya uang sekarang ini untuk memperbaikinya.” Yixing mendorong kata-kata itu keluar, malu pada sesuatu yang sama sekali tidak bisa Yixing hindari.
“Bukan masalah. Aku akan membayarnya.” Yifan mengatakannya seperti itu sudah disepakati.
“Ani. Kau tidak boleh.” Yixing mencoba untuk tidak bertengkar, tapi Yixing tak bisa mencegah untuk berargumen.
“kenapa tidak? Kau harus memperbaikinya, aku punya uang untuk memperbaikinya untukmu.”
“Tidak sesederhana itu. Kenapa kau mau melakukan hal itu untukku?” Yixing dengan tulus bertanya kepadanya.
“Kau punya orang lain yang akan melakukan itu untukmu?” Yifan tahu Yixing tidak punya. Mobil Yixing begitu jelek, itu sama sekali tidak lucu. Jika Yixing memiliki seseorang yang akan memberikannya uang, maka mobilnya pasti sudah diperbaiki.
“A..ani.” Suara Yixing ragu-ragu.
“Baiklah. Aku akan membuat mobilmu diperbaiki. Kau tak bisa mengendarai mobil seperti itu mengelilingi kota. Sesuatu yang buruk akan terjadi padamu,” Suara Yifan langsung berubah pelan. “Aku tak ingin berpikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tidak ketika sesuatu itu dapat dengan mudah ku bereskan.“
Yixing tetap berdiri, terkesima. Sedikit kehangatan perlahan mengalir ke bawah tulang belakangnya. Lutut Yixing mulai gemetar seperti biasa tiap kali Yifan berada di dekatnya. Perlahan, pikiran Yixing mulai bekerja. “Terima kasih. Aku akan m-membayarmu kembali secepatnya saat Aku b-bisa.”
“Kita akan lihat.”
“kau tak percaya padaku?”
“Bukan itu maksudku. Kau bilang kau akan membayarku kembali dan aku bilang kita akan lihat. Biarkan seperti itu. Kau punya tugas yang harus kau lakukan pagi ini? kau ingin meminjam mobilku atau kau ingin aku mengantarmu?”
Lagi, Yixing berdiri saat dia mengumpulkan kecerdasannya. Yixing tak bisa percaya Yifan berada di sini di apartemennya, tidak bisa percaya Yifan memperbaiki mobilnya dan Yixing tidak bisa percaya Yifan menawarkan waktunya dan atau mobilnya padanya.
Apa maksud ini semua?
Tidak ada Yixing.
Mungkin Yifan seorang namja yang baik. Kau berpikir dia namja yang baik semalam. Mungkin semalam itu anomali dan kesan awal Yixing adalah yang benar.
Jawaban Yixing datang dengan pelan. “Aku tak ingin terus merepotkanmu. Aku sudah cukup merasa tidak enak untuk apa yang telah kau lakukan untukku. Aku bisa membatalkan tugasku. Aku tak ingin kau mengantarku dan aku tak ingin meninggalkanmu tanpa mobilmu.”
“Yixing, aku punya dua mobil. Aku akan membawa Audiku dan kita bisa ke rumahku dan mengambil mobilku yang satunya lagi. Lagipula aku tidak pernah memakainya. Ok?”
Yixing mengamati Yifan yang berdiri di pintunya. “Apa kau yakin?”
“Ya aku yakin. Aku mengasuransikan mobilku. Tak ada hal buruk yang bisa terjadi.”
Yixing memberikan Yifan senyuman kecil, senyum keragu-raguan. “Ok, terima kasih. Aku akan mengambil tasku.”
.
.
.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, Yixing duduk dengan diam di sebelah Yifan di dalam Audi Yifan sementara Yifan menyetir masuk ke dalam lingkungan berpagar dimana Yifan tinggal. Yixing memandang sekeliling dengan kagum. Tempat ini mempesona. Tempat ini berada di sebelah utara Seoul.
Mereka berada di sebuah area pemukiman kelas atas yang membuka jalan baru, pohon palem dan restoran di depan pancuran air dekat gerbang.
Lingkungan perumahan Yifan masih baru dan terlihat mengkilap. Yifan membuka pintu garasi dengan menekan tombol di dashboard nya dan satu dari tiga bagian dinding membuka.
Yifan membawa mobilnya masuk.
Garasi terhubung dengan rumah lewat jalan yang tertutup dan setelah mereka meninggalkan mobil, Yixing berdiri di jalan rumah Yifan dan menunggu dipersilahkan oleh Yifan. Yixing ingin melihat rumah Yifan, tapi Yixing tidak akan meminta. Yixing masih trauma dengan perlakuan kasar Yifan semalam dan Yixing tidak akan berkata apapun, melakukan apapun yang dalam cara apapun memberikan kesan Yixing mengejar-ngejar Yifan. Yifan yang harus memohon terlebih dulu padanya. Yixing masih memiliki sedikit harga diri.
Yifan menekan tombol keypad dan pintu dinding garasi lain terbuka.
Yixing mengamati dengan diam saat Yifan masuk ke dalam dan kembali dengan membawa sebuah mobil keluar.
Yixing meringis saat melihat mobil itu.
Oh astaga. Tidak, Tidak akan.
Yixing tidak akan mengendarai mobil itu.
Yixing tidak bisa.
Yixing tidak akan.
Bisakah?
Yixing memandang dengan kagum saat Yifan keluar dari Corvette seri terbaru yang cantik dan berwarna merah cherry. Yifan berjalan kembali ke arah Yixing dan melemparkan kunci mobil. Yixing secara otomatis meraih kunci dan menangkapnya.
“Aku tak bisa mengendarai mobil itu.” dengan segera Yixing membantah.
“Tentu saja kau bisa. Ini transmisi otomatis. “ Yifan dengan sengaja mengalihkan kata-kata Yixing.
“Bukan, maksudku, ini sebuah Vette.” Yixing menunjuk sesuatu yang sudah jelas terlihat.
“Ya.” Yifan setuju,
“Ini seri terbaru.” Yixing meneruskan bantahannya.
“Tidak, ini seri lama,” Yifan membantah pernyataan Yixing.
“Omong kosong. Ini terlihat baru.”
“Ini tidak baru, sayang. Aku membeli mobil ini dengan bonus pertamaku empat tahun lalu.“ Yifan menjelaskan.
“Apa maksudmu?“ Suara Yixing bergetar.
“Aku seorang pialang saham.” Suara Yifan datar.
“Oh.” Yixing berkata.
“Apa pekerjaanmu?” Yifan balik bertanya.
“Aku seorang resepsionis di kantor dokter gigi.” Jawaban Yixing diucapkan dengan pelan.
“Ya? Kau punya gigi yang cantik.” Mata Yifan memandang mata Yixing, tidak pernah berpaling.
Yixing membiarkan itu beralih saat pembicaraan menjadi lebih berputar.
“kau membeli mobil ini empat t-tahun lalu? be-berapa usiamu?“ Yixing menjadi bertanya-tanya tentang Yifan.
“26. Apakah kau tidak mengerjakan PR mu?“ Yifan bertanya.
“PR?”
“Ya. Kau tahulah, hal-hal biasa yang dilakukan para wanita saat mereka tertarik pada seorang namja? Google. Memata-matai lewat Facebook.” Yifan tersenyum. “Dun and Bradstreet.” Katanya dengan menggoda.
Yixing meradang. “Aku tidak tertarik Yifan. Aku tidak tertarik denganmu. Aku tidak tertarik dengan uangmu.”
“Ok. Terserah apa katamu.” Kata Yifan dengan netral.
Mereka mempelajari diri mereka masing-masing dalam diam sampai Yixing bicara. “Kau menerima bonus yang cukup besar untuk membeli Corvette saat umurmu 22 tahun?”
“Ya.”
“Bagaimana?” Yixing benar-benar ingin tahu.
“Bagaimana apanya?” Yifan bertanya.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu?”
“Mereka menginginkan aku, sayang. Aku lulus dari Todai dengan IPK 3.98.” Yifan tersenyum dengan senyuman mematikan.
“Aku memiliki karisma,“ Yifan menggerutu dengan suaranya yang dalam dan seksi. “Mereka menginginkan omong kosongku. Masih sampai sekarang.”
Yixing menelan ludah dan memalingkan pandangannya dari Yifan dan memandang Mobil Yifan. Pikirannya berada dalam kekacauan. Yifan jauh dari jangkauannya, benar-benar jauh dari jangkauannya. Semua yang Yixing tahu soal Yifan adalah hal-hal di permukaan saja. Yixing berpikir Yifan berumur hampir tiga puluh dan Yixing tahu Yifan terlihat cukup enak untuk disantap, tapi Yixing tak pernah tahu bahwa Yifan kaya dan berpendidikan tinggi. Todai. Astaga.
Yixing lulus SMA, punya hutang kartu kredit seribu dua juta won yang sepertinya tidak bisa ia atasi dan tinggal di sebuah apartemen dengan dua yeoja lainnya sehingga mereka bisa berbagi uang sewa.
Well, terlalu banyak bermimpi tentang Yifan. Yixing tak akan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi. Saat ini Yixing akan menerima saran Yifan dan berhenti berfantasi tentangnya. Yixing tidak benar-benar pernah mengejar-ngejar Yifan, tak perduli apapun yang dipikirkan oleh Yifan, tapi saat ini, mimpi itu mati.
Yixing berbalik menghadap ke arah Yifan.
“Aku tak bisa mengendarai mobilmu. Kukira mobilmu Ford Taurus atau sejenisnya.“
“Mobilku diasuransikan, sayang.” Saat Yifan mengatakan itu dia berjalan menuju Yixing dan mengambil kunci mobil dari tangan Yixing. Yifan membuka pintu kemudi dan menunggu.
Perlahan, Yixing berjalan menuju Yifan. Yixing bahkan belum pernah mengendarai Corvette sebelumnya dan ingin setidaknya melihat interiornya.
Yifan bersandar ke dalam mobil, memasukkan kunci mobil dan menyalakannya.
Yifan kembali berdiri tegak dan membawa tangan Yixing ke tangannya. Yifan mengangkat dagu Yixing dan menempatkan satu ciuman lembut ke bibir Yixing. “Aku bersikap seperti seorang bajingan semalam. Kau tak pantas mendapatkannya. Kau lembut dan manis dan aku berhutang permintaan maaf padamu. Hanya karena aku punya masalah dengan Yunho itu Seharusnya tidak berarti aku harus melampiaskannya padamu. Ini bukan salahmu. Kendarailah mobilnya, sayang. Hati-hati. Aku tidak perduli dengan mobilnya, tapi aku ingin kau aman. Mobil ini punya tenaga yang besar. Hati-hati.”
Yifan menjadi sangat lembut padanya dan Yixing nyaris menitikkan air mata. “Apakah kau yakin?”
“Aku yakin.” Yifan mengamati Yixing dengan hati-hati, khawatir dengan air mata yang Yifan bisa dilihat di matanya.
“Gomapta. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan, Aku…”
“katakan bahwa kau akan menyetir dengan aman.” Jika Yifan tak bisa mendapatkan Yixing, ia setidaknya ingin tahu bahwa Yixing akan baik-baik saja.
“Ya. Aku akan berhati-hati.”
“Aku akan menelponmu minggu depan saat mobilmu telah selesai, Ok?”
“Ok.” Yixing setuju.
Yifan mendorong Yixing ke arah pintu dan Yixing masuk ke dalam mobil. Jok kulit dan interior kayu seakan membungkus dirinya. Yifan memberitahu Yixing tentang beberapa hal mengenai kontrol dan menunjukkan pada Yixing bagaimana cara mengatur jok dan spion.
Yifan mendorong pintu mobil tertutup dan Yixing memandang ke arah Yifan untuk beberapa saat lewat jendela mobil sebelum dengan hati-hati mundur di halaman rumah Yifan.
Yifan mengamati Yixing yang membawa mobilnya keluar dan turun ke jalan. Rasa bahagia yang tajam melanda Yifan saat dia melihat Yixing mengendarai mobilnya. Mobil itu dibayar dengan uangnya. Saat Yifan menyadari kemana emosinya menuju, Yifan dengan kasar mengenyahkannya. Ya, Yifan begitu menginginkan Yixing. Yixing adalah terlarang untuknya. Jika Yifan mengambil apa yang ia inginkan, maka ia kemungkinan akan kehilangan sahabatnya.
Pandangan marah yang gelap melintasi Yifan. Situasi ini secara keseluruhan menyebalkan, jelas sekali.
.

.

.

.

.

To Be Continue

3 comments:

  1. Anonymous9:07 PM

    Baca ff ini entah kenapa banyak bagian yang saya skip..Cuma baca yang part yunjaenya..Walaupun g dominan kayanya..

    ReplyDelete
  2. Anonymous6:29 AM

    me too... aku mau x yunjae aja..

    ReplyDelete
  3. Sebenernya berat mw ngomong, g enak sm saki cz pasti susah ngremake nih novel, tp aq jg sependapat sm yg lain, utk part kray couple aq skip bacanya....mian saki
    Btw yg sacrificio blm update lg, i'm waiting ^^

    ReplyDelete