Jaejoong masih berada dalam gelombang orgasme saat
Yunho menggeram dan menusuk ke dalam Jaejoong dengan tusukan lainnya. Tiga
tusukan dalam lalu Yunho klimaks, mengikuti Jaejoong ke dalam dunia yang
intens, kenikmatan yang mendalam. Yunho bertahan di dalam Jaejoong, menumpahkan
benihnya yang hangat, basah dan nikmat ke dalam dirinya.
Jaejoong merasakan itu langsung menuju ke dalam
jiwanya saat ia memeluk erat bahu Yunho.
Mulut Yunho meninggalkan mulut Jaejoong dan Yunho
menjatuhkan kepalanya di samping Jaejoong. Bibir Yunho yang terbuka mendarat ke
bahu Jaejoong dan Yunho tetap berada dalam posisi itu, Mulut Yunho basah di
atas kulit Jaejoong saat mereka berdua mulai menenangkan diri.
Bibir Yunho bergerak ke telinga Jaejoong. “Aku
minta maaf, Boo.” Yunho berbisik.
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Yunho menahan dirinya di atas Jaejoong, masih ada
di dalam tubuh Jaejoong.
Jaejoong mulai bisa berpikir kembali dan semua
terasa baik. Tak ada penyesalan sama sekali, hanya perasaan nyaman dan
keyakinan bahwa Yunho perduli padanya. Untuk apa Yunho meminta maaf? “Apa yang
kau sesali?”
Yunho mengangkat dirinya dari atas tubuh Jaejoong,
perlahan menarik keluar dirinya dari dalam tubuh Jaejoong dan bergerak ke
sampingnya. Yunho menyusupkan lengannya kebawah tubuh Jaejoong. “Aku terlalu
kasar padamu.”
“Tidak. Kau tidak kasar.”
Tangan Yunho menyusup ke payudara Jaejoong dimana
kulit lembut dan putih miliknya sudah mulai menunjukkan efek dari sentuhan
Yunho. “Ya,Tuhan, sayang, aku membuatmu memar.”
“Ini hanya sebuah tanda darimu. Tidak sakit.”
Kata-kata Jaejoong lembut, mencoba untuk meyakinkan Yunho.
“Aku tidak bermaksud membuat itu dikulitmu. Aku
bahkan tak menyadari apa yang kulakukan.”
Kenikmatan melanda Jaejoong. “Tidak Apa-apa,”
Jaejoong berbisik.
“Dan aku tak seharusnya mengancammu. Aku tak
bermaksud untuk membuatmu takut, Boo. Tentang namja yang tadi berdansa
denganmu.”
Jaejoong memalingkan kepalanya untuk memandang mata
Yunho. “kau tidak serius?”
“Tentu saja aku serius. Tapi aku tak bermaksud
untuk membuatmu takut.”
“Apakah aku terlihat takut?”
Yunho tersenyum. “Tidak juga.”
“Aku tidak takut.“ Jawaban Jaejoong sangat yakin.
“Bagus.” Yunho menggerakkan tangannya ke bawah dan
menangkap gundukan Jaejoong dengan telapak tangannya. “Ok. Itu tadi latihan.
Sekarang ini untuk yang sebenarnya.”
Yunho membungkuk ke bawah dan menempatkan mulutnya
di atas mulut Jaejoong.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sepuluh pagi, bel pintu Yixing berbunyi. Yixing
sudah selesai mandi, berpakaian dan memakai make up. Yixing siap menumpahkan
uneg-unegnya pada Yifan yang tak sempat dia ucapkan tadi malam.
Yixing membuka pintu dan Yifan berdiri bersandar
dalam celana jeans ketat dan sudah pudar, sepatu ket dan kaos ketat merah yang
membentuk perut berototnya dan mata Yixing bergerak dengan cepat, secepat
matanya mendarat pada Yifan. Maskulinitas teradiasi dari diri Yifan dan Yixing
tidak kebal dengan hal itu.
Yifan berdiri memandang Yixing, memutar kunci mobil
Yifan di tangannya.
Kunci mobil Yifan bukan kunci mobil miliknya.
Yixing mengabaikan ketegangan seksual yang mengalir
diantara mereka setiap kali mereka berada di ruangan yang sama dan Yixing
langsung ke pokok permasalahan. “Dimana Kunci mobilku?”
“Mobilmu di dealer. Mereka akan mulai
mengerjakannya senin pagi.“
“Mwo?” Yixing kaget, Yixing tidak sepenuhnya paham
apa yang Yifan katakan.
“Mobilmu sedang dikerjakan.“ Kata-kata Yifan pendek
dan singkat.
“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Kebingungan
melanda Yixing.
“Apa kau menyadari lampu check mesin yang
berkedip?” Mata Yifan berkabut, tak membiarkan Yixing melihat apa yang
sebenarnya terjadi di kepalanya.
“Ya, Tapi sudah seperti itu sejak beberapa minggu
dan tidak ada hal buruk yang terjadi.” Saat Yixing mengatakan hal itu, Yixing
bisa mengatakan itu membuat Yifan lebih kecewa lagi. Wajahnya meringis seperti
merasakan sakit.
“sebuah kecelakaan menunggu untuk terjadi.” Suara
Yifan menjadi dalam dan keras. “Kau ingin mogok di pinggir jalan manis, dan
berharap belas kasihan pada siapapun orang yang berhenti?”
“Tidak. Aku punya telepon. Aku bisa menelpon Derek
mobil jika aku membutuhkannya.” Yixing berusaha untuk membuat suaranya ringan
tapi itu bukan seutuhnya yang menjadi perhatian Yifan. Dan Yixing tidak
mempunyai uang untuk perbaikan.
“Sementara itu siapa yang sedang mengintai bokong
kecilmu yang manis itu, saat kau berdiri di tepi jalan menunggu? seorang
pemerkosa? Atau bahkan seorang pembunuh?” kemarahan hadir di suara Yifan.
“Aku tak punya uang sekarang ini untuk
memperbaikinya.” Yixing mendorong kata-kata itu keluar, malu pada sesuatu yang
sama sekali tidak bisa Yixing hindari.
“Bukan masalah. Aku akan membayarnya.” Yifan
mengatakannya seperti itu sudah disepakati.
“Ani. Kau tidak boleh.” Yixing mencoba untuk tidak
bertengkar, tapi Yixing tak bisa mencegah untuk berargumen.
“kenapa tidak? Kau harus memperbaikinya, aku punya
uang untuk memperbaikinya untukmu.”
“Tidak sesederhana itu. Kenapa kau mau melakukan
hal itu untukku?” Yixing dengan tulus bertanya kepadanya.
“Kau punya orang lain yang akan melakukan itu
untukmu?” Yifan tahu Yixing tidak punya. Mobil Yixing begitu jelek, itu sama
sekali tidak lucu. Jika Yixing memiliki seseorang yang akan memberikannya uang,
maka mobilnya pasti sudah diperbaiki.
“A..ani.” Suara Yixing ragu-ragu.
“Baiklah. Aku akan membuat mobilmu diperbaiki. Kau
tak bisa mengendarai mobil seperti itu mengelilingi kota. Sesuatu yang buruk
akan terjadi padamu,” Suara Yifan langsung berubah pelan. “Aku tak ingin
berpikir sesuatu yang buruk terjadi padamu. Tidak ketika sesuatu itu dapat
dengan mudah ku bereskan.“
Yixing tetap berdiri, terkesima. Sedikit kehangatan
perlahan mengalir ke bawah tulang belakangnya. Lutut Yixing mulai gemetar
seperti biasa tiap kali Yifan berada di dekatnya. Perlahan, pikiran Yixing
mulai bekerja. “Terima kasih. Aku akan m-membayarmu kembali secepatnya saat Aku
b-bisa.”
“Kita akan lihat.”
“kau tak percaya padaku?”
“Bukan itu maksudku. Kau bilang kau akan membayarku
kembali dan aku bilang kita akan lihat. Biarkan seperti itu. Kau punya tugas
yang harus kau lakukan pagi ini? kau ingin meminjam mobilku atau kau ingin aku
mengantarmu?”
Lagi, Yixing berdiri saat dia mengumpulkan
kecerdasannya. Yixing tak bisa percaya Yifan berada di sini di apartemennya,
tidak bisa percaya Yifan memperbaiki mobilnya dan Yixing tidak bisa percaya
Yifan menawarkan waktunya dan atau mobilnya padanya.
Apa maksud ini semua?
Tidak ada Yixing.
Mungkin Yifan seorang namja yang baik. Kau berpikir
dia namja yang baik semalam. Mungkin semalam itu anomali dan kesan awal Yixing
adalah yang benar.
Jawaban Yixing datang dengan pelan. “Aku tak ingin
terus merepotkanmu. Aku sudah cukup merasa tidak enak untuk apa yang telah kau
lakukan untukku. Aku bisa membatalkan tugasku. Aku tak ingin kau mengantarku
dan aku tak ingin meninggalkanmu tanpa mobilmu.”
“Yixing, aku punya dua mobil. Aku akan membawa
Audiku dan kita bisa ke rumahku dan mengambil mobilku yang satunya lagi.
Lagipula aku tidak pernah memakainya. Ok?”
Yixing mengamati Yifan yang berdiri di pintunya.
“Apa kau yakin?”
“Ya aku yakin. Aku mengasuransikan mobilku. Tak ada
hal buruk yang bisa terjadi.”
Yixing memberikan Yifan senyuman kecil, senyum
keragu-raguan. “Ok, terima kasih. Aku akan mengambil tasku.”
.
.
.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian, Yixing duduk dengan diam
di sebelah Yifan di dalam Audi Yifan sementara Yifan menyetir masuk ke dalam
lingkungan berpagar dimana Yifan tinggal. Yixing memandang sekeliling dengan
kagum. Tempat ini mempesona. Tempat ini berada di sebelah utara Seoul.
Mereka berada di sebuah area pemukiman kelas atas
yang membuka jalan baru, pohon palem dan restoran di depan pancuran air dekat
gerbang.
Lingkungan perumahan Yifan masih baru dan terlihat
mengkilap. Yifan membuka pintu garasi dengan menekan tombol di dashboard nya
dan satu dari tiga bagian dinding membuka.
Yifan membawa mobilnya masuk.
Garasi terhubung dengan rumah lewat jalan yang
tertutup dan setelah mereka meninggalkan mobil, Yixing berdiri di jalan rumah
Yifan dan menunggu dipersilahkan oleh Yifan. Yixing ingin melihat rumah Yifan,
tapi Yixing tidak akan meminta. Yixing masih trauma dengan perlakuan kasar
Yifan semalam dan Yixing tidak akan berkata apapun, melakukan apapun yang dalam
cara apapun memberikan kesan Yixing mengejar-ngejar Yifan. Yifan yang harus
memohon terlebih dulu padanya. Yixing masih memiliki sedikit harga diri.
Yifan menekan tombol keypad dan pintu dinding
garasi lain terbuka.
Yixing mengamati dengan diam saat Yifan masuk ke
dalam dan kembali dengan membawa sebuah mobil keluar.
Yixing meringis saat melihat mobil itu.
Oh astaga. Tidak, Tidak akan.
Yixing tidak akan mengendarai mobil itu.
Yixing tidak bisa.
Yixing tidak akan.
Bisakah?
Yixing memandang dengan kagum saat Yifan keluar
dari Corvette seri terbaru yang cantik dan berwarna merah cherry. Yifan
berjalan kembali ke arah Yixing dan melemparkan kunci mobil. Yixing secara
otomatis meraih kunci dan menangkapnya.
“Aku tak bisa mengendarai mobil itu.” dengan segera
Yixing membantah.
“Tentu saja kau bisa. Ini transmisi otomatis. “
Yifan dengan sengaja mengalihkan kata-kata Yixing.
“Bukan, maksudku, ini sebuah Vette.” Yixing
menunjuk sesuatu yang sudah jelas terlihat.
“Ya.” Yifan setuju,
“Ini seri terbaru.” Yixing meneruskan bantahannya.
“Tidak, ini seri lama,” Yifan membantah pernyataan
Yixing.
“Omong kosong. Ini terlihat baru.”
“Ini tidak baru, sayang. Aku membeli mobil ini
dengan bonus pertamaku empat tahun lalu.“ Yifan menjelaskan.
“Apa maksudmu?“ Suara Yixing bergetar.
“Aku seorang pialang saham.” Suara Yifan datar.
“Oh.” Yixing berkata.
“Apa pekerjaanmu?” Yifan balik bertanya.
“Aku seorang resepsionis di kantor dokter gigi.”
Jawaban Yixing diucapkan dengan pelan.
“Ya? Kau punya gigi yang cantik.” Mata Yifan
memandang mata Yixing, tidak pernah berpaling.
Yixing membiarkan itu beralih saat pembicaraan
menjadi lebih berputar.
“kau membeli mobil ini empat t-tahun lalu?
be-berapa usiamu?“ Yixing menjadi bertanya-tanya tentang Yifan.
“26. Apakah kau tidak mengerjakan PR mu?“ Yifan
bertanya.
“PR?”
“Ya. Kau tahulah, hal-hal biasa yang dilakukan para
wanita saat mereka tertarik pada seorang namja? Google. Memata-matai lewat
Facebook.” Yifan tersenyum. “Dun and Bradstreet.” Katanya dengan menggoda.
Yixing meradang. “Aku tidak tertarik Yifan. Aku
tidak tertarik denganmu. Aku tidak tertarik dengan uangmu.”
“Ok. Terserah apa katamu.” Kata Yifan dengan
netral.
Mereka mempelajari diri mereka masing-masing dalam
diam sampai Yixing bicara. “Kau menerima bonus yang cukup besar untuk membeli
Corvette saat umurmu 22 tahun?”
“Ya.”
“Bagaimana?” Yixing benar-benar ingin tahu.
“Bagaimana apanya?” Yifan bertanya.
“Bagaimana kau bisa melakukan itu?”
“Mereka menginginkan aku, sayang. Aku lulus dari
Todai dengan IPK 3.98.” Yifan tersenyum dengan senyuman mematikan.
“Aku memiliki karisma,“ Yifan menggerutu dengan
suaranya yang dalam dan seksi. “Mereka menginginkan omong kosongku. Masih
sampai sekarang.”
Yixing menelan ludah dan memalingkan pandangannya
dari Yifan dan memandang Mobil Yifan. Pikirannya berada dalam kekacauan. Yifan
jauh dari jangkauannya, benar-benar jauh dari jangkauannya. Semua yang Yixing
tahu soal Yifan adalah hal-hal di permukaan saja. Yixing berpikir Yifan berumur
hampir tiga puluh dan Yixing tahu Yifan terlihat cukup enak untuk disantap, tapi
Yixing tak pernah tahu bahwa Yifan kaya dan berpendidikan tinggi. Todai.
Astaga.
Yixing lulus SMA, punya hutang kartu kredit seribu
dua juta won yang sepertinya tidak bisa ia atasi dan tinggal di sebuah
apartemen dengan dua yeoja lainnya sehingga mereka bisa berbagi uang sewa.
Well, terlalu banyak bermimpi tentang Yifan. Yixing
tak akan mempermalukan dirinya lebih jauh lagi. Saat ini Yixing akan menerima
saran Yifan dan berhenti berfantasi tentangnya. Yixing tidak benar-benar pernah
mengejar-ngejar Yifan, tak perduli apapun yang dipikirkan oleh Yifan, tapi saat
ini, mimpi itu mati.
Yixing berbalik menghadap ke arah Yifan.
“Aku tak bisa mengendarai mobilmu. Kukira mobilmu
Ford Taurus atau sejenisnya.“
“Mobilku diasuransikan, sayang.” Saat Yifan
mengatakan itu dia berjalan menuju Yixing dan mengambil kunci mobil dari tangan
Yixing. Yifan membuka pintu kemudi dan menunggu.
Perlahan, Yixing berjalan menuju Yifan. Yixing
bahkan belum pernah mengendarai Corvette sebelumnya dan ingin setidaknya
melihat interiornya.
Yifan bersandar ke dalam mobil, memasukkan kunci
mobil dan menyalakannya.
Yifan kembali berdiri tegak dan membawa tangan
Yixing ke tangannya. Yifan mengangkat dagu Yixing dan menempatkan satu ciuman
lembut ke bibir Yixing. “Aku bersikap seperti seorang bajingan semalam. Kau tak
pantas mendapatkannya. Kau lembut dan manis dan aku berhutang permintaan maaf
padamu. Hanya karena aku punya masalah dengan Yunho itu Seharusnya tidak
berarti aku harus melampiaskannya padamu. Ini bukan salahmu. Kendarailah mobilnya,
sayang. Hati-hati. Aku tidak perduli dengan mobilnya, tapi aku ingin kau aman.
Mobil ini punya tenaga yang besar. Hati-hati.”
Yifan menjadi sangat lembut padanya dan Yixing
nyaris menitikkan air mata. “Apakah kau yakin?”
“Aku yakin.” Yifan mengamati Yixing dengan
hati-hati, khawatir dengan air mata yang Yifan bisa dilihat di matanya.
“Gomapta. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan,
Aku…”
“katakan bahwa kau akan menyetir dengan aman.” Jika
Yifan tak bisa mendapatkan Yixing, ia setidaknya ingin tahu bahwa Yixing akan
baik-baik saja.
“Ya. Aku akan berhati-hati.”
“Aku akan menelponmu minggu depan saat mobilmu
telah selesai, Ok?”
“Ok.” Yixing setuju.
Yifan mendorong Yixing ke arah pintu dan Yixing
masuk ke dalam mobil. Jok kulit dan interior kayu seakan membungkus dirinya.
Yifan memberitahu Yixing tentang beberapa hal mengenai kontrol dan menunjukkan
pada Yixing bagaimana cara mengatur jok dan spion.
Yifan mendorong pintu mobil tertutup dan Yixing
memandang ke arah Yifan untuk beberapa saat lewat jendela mobil sebelum dengan
hati-hati mundur di halaman rumah Yifan.
Yifan mengamati Yixing yang membawa mobilnya keluar
dan turun ke jalan. Rasa bahagia yang tajam melanda Yifan saat dia melihat
Yixing mengendarai mobilnya. Mobil itu dibayar dengan uangnya. Saat Yifan
menyadari kemana emosinya menuju, Yifan dengan kasar mengenyahkannya. Ya, Yifan
begitu menginginkan Yixing. Yixing adalah terlarang untuknya. Jika Yifan
mengambil apa yang ia inginkan, maka ia kemungkinan akan kehilangan sahabatnya.
Pandangan marah yang gelap melintasi Yifan. Situasi
ini secara keseluruhan menyebalkan, jelas sekali.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Baca ff ini entah kenapa banyak bagian yang saya skip..Cuma baca yang part yunjaenya..Walaupun g dominan kayanya..
ReplyDeleteme too... aku mau x yunjae aja..
ReplyDeleteSebenernya berat mw ngomong, g enak sm saki cz pasti susah ngremake nih novel, tp aq jg sependapat sm yg lain, utk part kray couple aq skip bacanya....mian saki
ReplyDeleteBtw yg sacrificio blm update lg, i'm waiting ^^