Yunho merasa puas. Yunho tahu Jaejoong akan
terlihat indah. Itu sebuah berkah. Tapi keindahan tubuhnya benar-benar
mengagetkan Yunho. Jaejoong bertubuh langsing, sangat langsing, pusarnya bagian
sangat indah dari perutnya, kulitnya pucat. Payudaranya kecil tapi padat dan
bentuknya sempurna pada tubuhnya.
Dan Jaejoong gemetar oleh gairah, kebutuhan seksual
untuk berada di lengan Yunho dan Jaejoong akan segera terbakar.
Untuk Yunho.
Yunho kemudian mengetahui sebuah perasaan posesif
yang buta hadir saat Yunho memeluk Jaejoong dan pelukan Yunho menguasai
Jaejoong secara utuh. Gerakan itu mendorong lengan Jaejoong dari bahu Yunho
untuk kemudian lengannya berpindah
memeluk leher Yunho. Dada Jaejoong menekan kuat ke dada Yunho. Bibir
Yunho mendarat di telinga Jaejoong, lubang hidung Yunho pada rambut Jaejoong
dan aroma Jaejoong membuat milik Yunho mengeras menimbulkan rasa sakit. Yunho
mencoba untuk menguasai emosinya. Yunho tidak ingin membuat Jaejoong takut tapi
tetap saja mulutnya terbuka.
“Jangan pernah katakan lagi padaku bahwa kau bukan
milikku. Tidak setelah apa yang terjadi malam
ini. Apa yang terjadi. Kau milikku. Jangan pernah mengingkari itu lagi.“
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Permintaan itu harusnya membuat Jaejoong takut.
Tapi tidak. Kebahagiaan mengalir pada diri Jaejoong dan Jaejoong merasa aman di
lengan Yunho. Merasa aman untuk memberikan tubuhnya pada Yunho. Ini perasaan
yang dia butuhkan dan akhirnya Jaejoong merasakan ini untuk pertama kalinya di
minggu pertama Jaejoong mengenal Yunho. Di minggu pertama Yunho mencoba untuk
mendapatkan Jaejoong di atas tempat tidur.
Ini waktunya.
Ini waktu yang tepat.
Jemari Jaejoong merenggut kulit kepala Yunho, tubuh
Jaejoong menyetujui permintaan Yunho. Ini tidak cukup bagi Yunho. Yunho
menangkup wajah Jaejoong dan mengangkat wajahnya untuk memandangnya. “Jawab Aku
Boo.”
Mata Jaejoong terbuka. Jaejoong tenggelam pada intensitas
Yunho. “Ya.”
Satu tangan Yunho menyusup ke dalam kulit kepala
Jaejoong ke dalam helaian rambutnya. “Milikku.”
“Ya.” Jaejoong berbisik.
“Yang tidak akan kubagi.”
“Aku juga tidak ingin kau bagi. Aku juga tidak akan
membagimu.”
Kebahagiaan mengalir ke dalam tulang punggungnya.
Yunho ingin menjadi milik Jaejoong. Takdir mereka untuk bersama. Mereka saling
memiliki.
Yunho terus memandang Jaejoong saat tangan Yunho
bergerak menuju penjepit bra-nya lalu Yunho membuka bra Jaejoong dengan cepat.
Cupnya terbuka lalu Yunho menyibakkannya ke samping mengikuti alur renda lalu
melemparkannya. Puting payudara Jaejoong mengeras dari perhatian intens yang
diberikan Yunho dan udara dingin yang mengenai payudaranya. Jaejoong sedikit
gemetar.
Pandangan Yunho tertuju pada payudara Jaejoong yang
sudah terekspos. Suara Yunho mendesis. “Kau ingin aku menggunakan kondom?”
“Itu - itu juga bagus.” Jaejoong menjawab dengan
suara yang gemetar.
“Kau tidak menggunakan kontrasepsi apapun?” Suara
Yunho serak, kata-katanya berasal dari kalimat yang tidak sempurna.
“Tidak.”
“Apakah kau akan menggunakan kontrasepsi? Minggu
depan?” hal itu permintaan.
“Ya.” Jaejoong menyetujui dengan suara pelan.
Yunho mengulangi kata-kata Jaejoong, “Itu akan jadi
lebih bagus.”
“Ya.”
Ibu jari Yunho menyapu puting payudara Jaejoong dan
Yunho mengamati mereka berubah menjadi gelap saat Yunho menambah gerakan
melintir dengan ibu jarinya. “Ini akan menjadi sangat bagus, Sayang.”
Jaejoong tak dapat bicara. Memandang Yunho dan
berdiri dengan kakinya sendiri sudah mengambil begitu banyak kekuatan Jaejoong.
Tangan Jaejoong kembali berpindah ke bahu Yunho dan Jaejoong merasakan bahan
halus dari kemeja Yunho. “Buka kemejamu.” Jaejoong berbisik.
“Aku tidak bisa.”
Jaejoong bingung. “Kenapa T-Tidak?”
“Aku tidak bisa lama-lama melepaskanmu.”
Kebahagiaan yang tajam dan manis melanda ke dalam
diri Jaejoong dan Jaejoong menggerakkan jemarinya ke atas kancing kemeja Yunho
dan mulai membuka kancingnya satu per satu.
“Kau suka memelukku begitu lama?” Kata-kata
Jaejoong merayu saat pinggulnya mendorong maju ke arah Yunho dan jemari
Jaejoong pelan-pelan menyingkap tubuh Yunho yang keras dan panas untuk
dipandangnya.
Yunho mendengar rayuan Jaejoong yang lembut dan
penuh gairah di dalam suara Jaejoong dan kebahagiaan hadir di dalam tulang
belakangnya. “Ya.” Yunho ingin agar Jaejoong menemukan kenyamanan denganya.
Yunho membutuhkan itu. Yunho membutuhkan itu karena Jaejoong membutuhkan itu
dan Yunho pun membutuhkan agar Jaejoong bisa merasa nyaman. Yunho menginginkan
itu karena Yunho menginginkan Jaejoong.
Tak akan membiarkan Jaejoong pergi.
Jaejoong mendorong kemeja Yunho dari bahunya dan
Yunho menarik membukanya. Tangan Jaejoong kembali memegang bahu Yunho dengan
segera dan Jaejoong melihat Yunho. Yunho begitu tampan.
Menawan dan tanpa kemeja. Bisepnya besar dan
sekeras batu. Tangan Jaejoong melingkar di atas paha Yunho, puting payudara
namja Yunho dan turun ke bawah ke lintasan bulu yang menghilang ke dalam celana
jeans Yunho. Jemari Jaejoong menyapu di atasnya, maju dan mundur dan Jaejoong
merasa tubuh Yunho menjepit dan nafas Yunho melambat.
Tangan Jaejoong jatuh ke kancing celana Yunho.
Tangan Yunho jatuh ke atas tangan Jaejoong.
“Tidak.”
Jaejoong mengangkat tangannya dan memandang Yunho
dengan tanda tanya.
“Jangan dulu.”
Jaejoong menggigit bibirnya dan mata Yunho menjadi
gelap dengan gigi kecil tajam Jaejoong menghias bibir bawah Jaejoong. Yunho
menggeram dan merenggut mulut Jaejoong dengan mulutnya. Yunho mendorong
lidahnya diantara bibir Jaejoong dan mencium Jaejoong dengan gairah. Dipenuhi
dengan kebutuhan. Dipenuhi intensitas.
Yunho menangkup payudara ringan Jaejoong di
tangannya, menimbangnya, meremasnya. Yunho menyapukan ibu jarinya ke ujung
payudara Jaejoong lalu mencubit puting Jaejoong dengan jemarinya.
Jaejoong mulai mendesah lembut di belakan
tenggorokannya saat Jaejoong mulai menggeliat terhadap Yunho.
Tangan Yunho kemudian jatuh ke pantat Jaejoong dan
menarik Jaejoong ke tubuhnya, menekan Jaejoong ke perutnya. Yunho memeluk
Jaejoong dengan erat saat tangannya menyapu ke seluruh tubuh Jaejoong, tidak
membiarkan adanya jarak satu inch pun di antara mereka. Mulut Yunho
mengkonsumsi Jaejoong.
Jaejoong melepaskan ciuman Yunho dan mulai
mengambil oksigen ke paru-parunya. Jaejoong menekan tubuhnya ke arah Yunho, membelai
kulit kepala Yunho dengan jemarinya dan kembali ke mulut Yunho lagi.
Yunho terpaksa menurut Jaejoong.
Mulut Yunho terbuka di atas mulut Jaejoong dan
lidahnya mulai mendorong dengan dalam dan kuat. Yunho mendorong lidahnya ke
dalam mulut Jaejoong kemudian keluar hanya untuk kembali masuk, lagi dan lagi.
Mereka mulai saling menarik oksigen dan ciuman diantara mereka menjadi basah,
liar dan panas.
Intensitas pertukaran ini benar-benar membuat
hilang pikiran. Jaejoong menggantung di lengan Yunho, gairah menjerit melalui
dirinya, membiarkan Yunho mengambil apa yang dia inginkan dari Jaejoong.
Jaejoong tak tahu kapan dia mulai mencakar Yunho, tapi dengan gerakan
tiba-tiba, Yunho mengangkat Jaejoong dan mengayunkannya ke atas tempat tidur
dan menghampiri Jaejoong dengan gerakan cepat.
Yunho membungkuk dan membuka sepatunya dan kembali
di antara paha Jaejoong. Tangan Yunho mulai menarik Jaejoong ke atas kepalanya.
“Kita tak akan melakukan ini saat masih memakai
sepatu.” Jaejoong berbisik.
Yunho tak ingin berhenti. “Tidak?”
“Tidak.” Jaejoong mulai mendorong bahu Yunho dan
Yunho berbalik dan mengambil waktu beberapa detik untuk membuka sepatunya.
Yunho membuka restleting celananya, tapi tetap
mengenakan jeansnya dan kembali menghadap Jaejoong. Dalam hitungan detik Yunho
sudah kembali dan menarik celana dalam Jaejoong turun ke kaki Jaejoong dan
mendorong kaki Jaejoong terbuka.
Jaejoong merasakan bahan jeans Yunho menyapu paha
bagian dalamnya saat Yunho bersandar ke arahnya. Tangan Jaejoong menyapu sisi
tubuh Yunho saat Yunho mencium bibirnya lalu bergerak ke dadanya, Yunho
memegang payudara Jaejoong dan mengambil payudara Jaejoong lainnya dengan
mulutnya. Manis, kenikmatan yang manis menjalar ke bagian tengah tubuh
Jaejoong, terasa sangat intens untuknya saat Yunho mulai menghisap puting
payudaranya, menjilat lalu menghisap lagi. Yunho terus meremas payudara
Jaejoong lainnya, menggenggamkan tangannya ke atas payudara Jaejoong dan
menggenggam dengan penuh, bergerak menyapu puting payudaranya lalu memegangnya kembali,
menyapunya seperti Yunho tidak akan pernah merasa cukup.
Yunho menggerakkan kepalanya menuju lembah di
antara payudara Jaejoong, menarik nafas dalam, tarikan nafas dalam saat Yunho
menghirup aroma tubuh Jaejoong. Yunho kembali ke payudara Jaejoong dan
mengambil daging putih mulus itu ke dalam mulutnya dan mulai menghisap,
menggerakkan bibirnya dan lidahnya ke sekeliling kulit Jaejoong.
Jaejoong tahu Yunho tanpa diragukan membuat
Jaejoong memar. Tidak sakit, seperti sihir, tapi Jaejoong tahu dia akan melihat
tanda kepemilikan Yunho di pagi hari, hal itu makin membuatnya bergairah.
Yunho bergerak menyapu ke bawah tubuh Jaejoong
sampai bibirnya berada di pusar Jaejoong dan Jantung Jaejoong mulai berdebar
dengan tato gairah di dadanya saat pinggulnya bergerak dan basah, gairah basah
melembutkan Jaejoong. Satu tangan Yunho tetap berada di payudara Jaejoong,
menangkap payudara Jaejoong di dalam genggamannya, Membius Jaejoong dengan
perasaan puting payudaranya yang dicubit diantara ibu jari Yunho dan jemarinya,
memegang Jaejoong dengan erat. Kepala Yunho berada di atas perutnya yang
lembut, Yunho menggerakkan tangannya yang lain ke antara sambungan paha
Jaejoong dan menyusupkan jari besar dan tumpul diantara lipatan basah dan panas
Jaejoong.
Jaejoong mendesah lembut di tenggorokannya saat
jari Yunho menari di bagian panas Jaejoong, bergerak dari clitnya kembali ke
inti lembut feminin Jaejoong. Yunho menyusupkan jemarinya ke dalam, Yunho
merasakan cairan panas Jaejoong dan menariknya keluar kembali hanya untuk
mengelus dan menggoda clit Jaejoong lagi. Maju dan mundur, Yunho terus bergerak
secara konstan sampai kepala Jaejoong bergerak di atas bantal dan tangan
Jaejoong jatuh ke atas kepala Yunho yang berada di atas perut Jaejoong.
"Yunnie." Jaejoong mendesahkan nama
Yunho.
"Ya, Sayang?" Yunho mengangkat kepalanya,
memandang mata Jaejoong dan menyusupkan jemarinya ke atas dan ke dalam diri
Jaejoong, mata gelap Yunho, cair saat Yunho memandang Jaejoong sementara dia
melakukan semua itu.
Nafas Jaejoong tertahan dan tertangkap di
paru-parunya saat mata Yunho menahan mata Jaejoong, Jari Yunho menggali dengan
dalam.
“Apa yang kau inginkan?” Suara Yunho serak.
Bernafas dengan kasar, Jaejoong hanya bisa menjawab
dengan satu kata. “Sekarang.”
Yunho melepaskan jemarinya dengan lembut,
mengangkat mereka ke payudara lain Jaejoong dan Yunho menahan pandangan
Jaejoong sementara Yunho menyapukan jemarinya, melembabkan puting payudara
Jaejoong dengan cairan basah Jaejoong.
Jaejoong menarik nafas saat Yunho bergerak naik dan
menjilat puting payudara Jaejoong, mengisap cairan Jaejoong ke dalam mulutnya,
menahan mata Jaejoong selama dia melakukan itu semua.
Jaejoong hampir saja orgasme saat itu.
“Jangan Dulu.” Yunho mendorong kata-kata itu keluar
dan kembali jatuh ke tubuh Jaejoong sampai kepalan berada di antara paha
Jaejoong. Yunho memeluk kaki Jaejoong di lengannya dan membuka Jaejoong untuk
dirinya. “Oh Sayang.”
Jaejoong mendengar kata-kata bisikan itu lalu
otaknya berhenti berfungsi saat mulut Yunho menemukan dirinya, gigi Yunho dan
bibirnya menghisap di atas clit Jaejoong. Yunho menyapukan lidahnya ke atas dan
ke bawah, Yunho menggeram dalam dari diafragmanya dan memasukan jari tengahnya
yang panjang dan besar ke dalam diri Jaejoong.
Pinggul Jaejoong naik ke atas saat dirinya dilanda
oleh kenikmatan.
“Y-Yunnie,” Jaejoong mendesahkan nama Yunho.
Yunho tidak berhenti.
“Aku
I-Ingin_”
Yunho mengangkat kepalanya dan memandang Jaejoong,
terus memanipulasi jarinya di dalam Jaejoong. “Apa, Boo? Apa yang kau inginkan?
katakan padaku, sayang.”
Jaejoong mendesah lembut dan kata-kata itu keluar.
“Aku ingin orgasme saat kau ada di dalam diriku.”
“Ya.”
Yunho menarik jarinya dari Jaejoong dengan
hati-hati dan berdiri lalu menarik lepas jeans dan celana dalamnya.
Yunho berdiri di samping tempat tidur, tanpa
busana, dan Jaejoong memandangnya, tubuhnya begitu menawan, saat dia mengenakan
kondomnya.
Yunho menjatuhkan lututnya ke atas tempat tidur dan
berada di antara paha Jaejoong, membentangkan kaki Jaejoong dan mengangkat
kedua kaki Jaejoong ke pinggangnya.
Yunho berada diatas Jaejoong sebentar dan
menciumnya. “kau tahu betapa aku menginginkanmu?”
“Ya.” Jaejoong mendesah.
Yunho menyusupkan tangannya ke bawah dan
memposisikan dirinya ke gerbang masuk Jaejoong. Mendorong dengan memberi sedikit
tekanan, Yunho mengangkat tangannya ke wajah Jaejoong dan membungkus wajahnya
dengan tangannya, jemarinya menyapu masuk ke dalam rambutnya.
Mata Jaejoong terbuka dan menemukan pandangan Yunho
yang terfokus sepenuhnya kearah dirinya. Yunho mendorong beberapa inci lagi
masuk ke dalam diri Jaejoong dan Jaejoong merasa dirinya meregang untuk
menerima Yunho.
Yunho menggeram dan mata Jaejoong terpejam.
“Buka.” Kata tunggal itu adalah suatu desisan.
Jaejoong membuka matanya dan Yunho menyusup masuk
seluruhnya, mendorong dengan konstan sampai Yunho tak lagi bisa lebih dalam
lagi. Mata Jaejoong melebar. Jaejoong tenggelam di dalam Yunho. Mata Yunho,
sentuhannya, keposesifannya. Terasa begitu nikmat.
Yunho menahan sebentar, koneksi diantara mereka
begitu kuat, getaran listrik dari mata Yunho menembus Jaejoong. Milik Yunho
mengisi Jaejoong, berdenyut didalam dirinya saat Yunho memandang Jaejoong.
“Begitu manis.”
Jaejoong mendesah di bawah tubuh Yunho, Jaejoong
mengangkat pinggulnya, meminta lebih.
“Jadi milikku.”
“Yunnie, jebal…”
“Katakan, Boo.”
Jaejoong tahu apa yang Yunho inginkan. “Aku
milikmu.”
Yunho menghadiahi Jaejoong dengan dorongan yang
lain lalu berhenti. Kenikmatan hadir diantara mereka. Mereka terengah dengan
hebat.
“Kau menikmati berdansa dengan namja itu, tadi?”
Yunho menggeram, suara Yunho serak saat dia mendorong kata-kata itu keluar
untuk Jaejoong.
Kebingungan melanda Jaejoong. Jaejoong tak ingat
namja itu. Apakah dia tadi berdansa dengan seorang namja? Yunho adalah
satu-satunya yang dia pikirkan malam ini. Yunho begitu besar dan terasa penuh
di dalam dirinya dan Jaejoong tidak bisa membuat otaknya berfungsi. Jaejoong
mengangkat pinggulnya lagi, memohon Yunho untuk melanjutkan.
Yunho menusuk dan berhenti lagi. Mata Yunho meraih
ke bawah ke dalam jiwa Jaejoong. “Aku berharap kau menikmatinya karena itu akan
jadi yang terakhir kalinya kau berdansa dengan namja lain selain aku. Aku
memilikimu seutuhnya. Aku tidak akan berbagi. Tidak lagi ada dansa, tidak lagi
ada ciuman, tidak ada lagi untukmu.” Yunho menarik lagi dan mendorong dengan
keras. “Kau merasakan milikku di dalam dirimu, Boo? Kau merasakannya?” Yunho
mendorong ke dalam Jaejoong, tubuh Yunho menindih di atas Jaejoong. Yunho
memindahkan tangannya dari wajah Jaejoong dan menangkap pergelangan tangan
Jaejoong dan mengangkat ke atas kepala dan menahannya ke bawah. “Rasakan, Boo.
Ingat. Belajarlah untuk menyukainya, karena ini adalah semua yang akan pernah
kau ketahui. Hanya aku. Tidak ada orang lain.“
Kenikmatan yang tajam dan panas menjalar ke dalam
dirinya mendengar kata-kata Yunho itu dan memicu mengalirnya kelembaban baru ke
titik dimana tubuh mereka terkoneksi saat ini.
Yunho melakukan tusukan lainnya saat Yunho menahan
Jaejoong dan menuntut jawaban. “Kau mengerti apa yang kukatakan?”
“Ya.” Hanya itu kata yang bisa diucapkan Jaejoong.
Pinggul Jaejoong menggeliat memohon untuk lagi.
Dengan sepersetujuan Jaejoong, Yunho melepaskan
tangan Jaejoong dan memindahkanya ke bawah tubuh Jaejoong, memegang pantat
Jaejoong yang mulus dan mengangkatnya ke atas ke arah Yunho. Yunho mulai
bergerak dengan tusukan konstan, mengobarkan nafsu mereka berdua.
Itu sangat nikmat. Oh Tuhan, Itu sangat nikmat.
Jaejoong tak bisa fokus pada hal yang lain. Pikiran terus terbang ke segala
penjuru otaknya. Dia bercinta dengan Yunho. Yunho pencemburu dan posesif dan
Jaejoong mencintainya. Yunho terasa besar di dalam dirinya dan menusuknya
menuju orgasme. Maju dan mundur, tubuh Jaejoong dibajiri oleh kenikmatan,
kenikmatan yang murni.
Yunho membungkuk untuk meraih mulut Jaejoong saat
yang sama Jaejoong mengangkat dagunya ke arah Yunho. Bibir Jaejoong terbuka dan
lidah Yunho masuk. Ciuman mereka panas, paru-paru mereka terengah-engah
mengharap oksigen tapi mereka tetap tidak melepaskan diri mereka masing-masing.
Tubuh Jaejoong menegang dan Jaejoong tahu dia akan
segera orgasme. Getaran pelan berasal dari tenggorokannya, suara kebutuhan dan
gairah, dan otot internal miliknya mulai mengetat di penis Yunho. Jaejoong
mendorong ke arah Yunho saat kenikmatan menyelimuti seluruh tubuhnya. Orgasme
itu dalam, internal dan pikiran Jaejoong tertutup untuk apapun selain
kenikmatan yang memabukkan yang menguasai seluruh tubuhnya.
Jaejoong masih berada dalam gelombang orgasme saat
Yunho menggeram dan menusuk ke dalam Jaejoong dengan tusukan lainnya. Tiga
tusukan dalam lalu Yunho klimaks, mengikuti Jaejoong ke dalam dunia yang
intens, kenikmatan yang mendalam. Yunho bertahan di dalam Jaejoong, menumpahkan
benihnya yang hangat, basah dan nikmat ke dalam dirinya.
Jaejoong merasakan itu langsung menuju ke dalam
jiwanya saat ia memeluk erat bahu Yunho.
Mulut Yunho meninggalkan mulut Jaejoong dan Yunho
menjatuhkan kepalanya di samping Jaejoong. Bibir Yunho yang terbuka mendarat ke
bahu Jaejoong dan Yunho tetap berada dalam posisi itu, Mulut Yunho basah di
atas kulit Jaejoong saat mereka berdua mulai menenangkan diri.
Bibir Yunho bergerak ke telinga Jaejoong. “Aku
minta maaf, Boo.” Yunho berbisik.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Uuwaaa.. jd ga pke alat kontraspsi tuhhh..krna itu yun minta maaf? Hahaja.. just for fun.. sblm nikah kagak blh ya readerdul
ReplyDelete