Saturday, March 15

[Remake] Sacrificio de Amor Chapter VI

"Aku sudah membuat janji dengan pengacaraku tiga jam lagi, akan kubuat kontrak hitam di atas putih atas perjanjian jual beli kita ini, dan selama aku menunggu jam itu.....",
Mata Yunho menelusuri tubuh Jaejoong yang berusaha menutupinya dengan selimut. Tatapan matanya sangat melecehkan.
"Well kurasa sudah cukup kan penghormatanku atas virginitasmu?"
Lalu Yunho naik ke ranjang dan merenggut tubuh Jaejoong. Membawanya ke tempat tidur bersamanya. Kali ini tidak ada kelembutan. Namja itu tidak menahan-nahan diri lagi. Dan dia sudah siap. Dengan kasar dibukannya paha Jaejoong dan tanpa basa basi dia menyatukan tubuhnya dengan Jaejoong, yang entah kenapa sudah siap menerimanya.
Yunho menyatukan tubuhnya dalam-dalam, sebuah erangan nikmat lolos dari mulutnya ketika dia merasakan kenikmatan yang menyengat, namja itu menatap Jaejoong, antara bingung dan marah tercampur di dalam matanya,
“Kau...Sungguh membuatku tergila-gila Jae”, Erangnya kasar sebelum bergerak dengan begitu ahlinya, membawa Jaejoong menuju puncak kenikmatan.

Sacrificio de Amor
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong & Jung Yunho
©their Self
A Romantic Story About Serena
©Santhy Agatha
Jaejoong menatap tubuh telanjangnya di cermin, air panas mengalir dari pancuran menimpa tubuhnya, kamar mandi itu beruap, sehingga bayangan tubuhnya terpantul samar-samar di cermin.
Tadi Yunho tidak lembut, well meskipun tidak sampai menyakitinya, tetapi namja itu berbeda dari semalam, gairahnya liar dan tidak ditahan-tahan lagi, meluap-luap seolah olah sudah bertahun-tahun namja itu tidak melampiaskan hasratnya.
Tapi itu tidak mungkin kan? Jaejoong tanpa sengaja mengerutkan dahinya, Yunho terkenal suka gonta ganti yeoja, yeoja yang dipacarinya selalu setipe, cantik bagaikan boneka, langsing, dari kelas atas dan terkenal, entah itu model, artis dan kebanyakan orang luar. Semua yeoja itu rela menyerahkan tubuhnya pada Yunho dengan sukarela.
Desas desus berkembang bahwa Yunho kekasih yang sangat bergairah dan murah hati, tetapi tidak tanggung-tanggung mendepak pasangannya dengan kejam,  karena dia tak pernah memakai hati dalam berhubungan.
Kekasih terakhir Yunho, yang kemarin baru digandengya dalam acara pernikahan seorang anak direksi adalah artis film yang sedang naik daun, keturunan Jepang yang sangat cantik bernama Mizuki, tubuhnya tinggi langsing semampai dengan rambut cokelat bergelombang yang sangat halus bagaikan sutera,kulitnyapun tak kalah halusnya seperti buah peach dan dia tampak sangat serasi, bergelayut manja di lengan Yunho dengan tatapan memuja.
Apakah Yunho juga akan melecehkannya seperti melecehkanku? Apa yang akan dilakukan Mizuki jika dia mengetahu semua ini? Tidak, apa yang akan dikatakan semua orang?
Jaejoong mengernyit melihat bekas bekas ciuman memerah di pundak dan sekitar buah dadanya. Yunho namja yang suka meninggalkan tanda. Seperti singa jantan yang menandai betinanya, Jaejoong tahu namja itu sengaja meninggalkan bekas-bekas ciuman di tubuhnya....bahkan ada yang di sekitar pinggulnya....
Astaga...apa yang telah kulakukan ya Tuhan? Apakah aku sudah melakukan keputusan yang paling benar? Jaejoong sudah tidak dapat menangis lagi, air matanya sudah habis dan hatinya sekarang terasa amat hampa.
Dengan pelan Jaejoong meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya lalu meraih jubah mandi yang tadi ditemukannya tergeletak di karpet, sepertinya Yunho semalam melemparkannya ke lantai.
.
.
.
.
.
Dengan langkah pelan Jaejoong keluar dari kamar mandi, bingung mau berbuat apa, dan bertanya-tanya dimanakah pakaiannya sekarang?
Tatapannya menuju ke arah sofa, di situ ada kemasan pakaian. Jaejoong melangkah dan mengambil kemasan itu, ya, ini pakaian yeoja, masih baru, dari butik ternama lengkap dengan pakaian dalamnya...Apakah ini untuknya? Jaejoong memegang kemasan itu dengan ragu.
Tapi dia juga tak mungkin memakai jubah mandi dalam kondisi telanjang seharian kan?
Dengan hati-hati Jaejoong membuka kemasan itu, sebuah gaun santai berwarna merah muda dari bahan yang sangat halus, apakah ini sutra? Dan pakaian dalam senada, Jaejoong melihat ukurannya dan semuanya pas, Yunhokah yang memesaannya?
Dengan gerakan pelan dan tanpa menimbulkan suara Jaejoong memakai pakaian itu, gaunnya terasa sangat nyaman menempel ditubuhnya, sebuah gaun santai satu potong sepanjang bawah lutut yang sangat elegan.
Setelah itu selama beberapa lama Jaejoong berdiri ditengah kamar itu tanpa berbuat apa-apa.
Pandangannya mengarah ke arah ranjang yang seperti habis diserang badai,
Dan tubuh Yunho terbaring disana, punggungnya tampak kecokelatan terlihat di balik selimut kamar yang putih bersih.
Namja itu berbaring tengkurap salah satu lengan membingkai kepalanya, dan tubuhnya diam tak bergerak,
Kepalanya terbaring miring di atas bantal. Jaejoong mendekat pelan kesisi ranjang tempat Yunho berbaring, wajahnya tampak damai sekali, kalau sedang tidur, dia tak tampak berbahaya.
Jaejoong melirik ke arah jam dinding, satu jam lagi, seperti yang dikatakan oleh Yunho tadi, dia ada janji dengan pengacaranya....haruskah Jaejoong membangunkannya? Tapi bagaimana nanti kalau Yunho marah dan menuduhnya berani mengganggunya karena ingin segera mendapatkan uang pembayaran? Bukannya Jaejoong tidak ingin segera mendapatkan uang itu, Semakin cepat dia bisa membayar ke rumah sakit, semakin cepat Changmin bisa dioperasi. Tetapi Yunho sudah cukup banyak memandang rendah dan melecehkannya...
Tiba-tiba handphone Yunho yang diletakkan di meja samping ranjang berbunyi keras, membuat Jaejoong hampir terlonjak karena terkejut.
Tubuh Yunho bergerak dan mata setajam musang itu terbuka,langsung menatap Jaejoong. Meski baru bangun tidur, rupanya Yunho tipe namja yang langsung terjaga sepenuhnya detik itu juga.
Matanya langsung menelusuri tubuh Jaejoong dari atas ke bawah tanpa satu incipun terlewatkan, tersenyum puas melihat penampilan Jaejoong dengan baju barunya.
"Ternyata pilihanku tepat", desisnya parau sambil mengangkat telephone.
Telephone itu dari pengacaranya. Yunho menyuruh Pengacara itu menunggu di restoran hotel satu jam lagi.
Ketika Yunho meletakkan telephonnya, Jaejoong masih berdiri diam di tempatnya semula, tak tahu musti mengatakan apa.
"Pengacara akan datang sejam lagi", dengan santai Yunho berdiri dari ranjang, tak peduli dengan ketelanjangan tubuhnya, dan mengangkat alis tersenyum melihat Jaejoong memalingkan muka.
Dengan sengaja dia mendekat berdiri di depan Jaejoong dan mengangkat dagu Jaejoong agar menghadapnya,
"Kenapa Jae? Kau malu melihatku telanjang? Bukankah kita sudah menghabiskan waktu berjam-jam telanjang bersama?"
Wajah Jaejoong merah padam, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Yunho mendengus lalu melepaskan Jaejoong dan melangkah ke kamar mandi.
"Bagus kau sudah siap. Aku akan mandi setelah itu kita sarapan, lalu kita akan tandatangani kontrak perjanjian, setelah itu kau akan mendapatkan uangmu"
.
.
.
.
.
.
.
Jaejoong mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Changmin, kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada Boa, sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Changmin? dia habis mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?
Yunho menatap Jaejoong dari seberang meja, apa yang dipikirkan yeoja itu? Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun?
Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku??? Pikiran buruk itu tiba-tiba menyergap otaknya. Dalam Kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?
Yunho menggertakkan giginya, seharusnya yeoja ini Bangga, Jung yunho, pemilik Jung Corp perusahaan terbesar di Korea, yang bisa mendapatkan yeoja manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!
Yunho memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi mau pun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Jaejoong. Amat sangat menginginkannya. Bahkan, setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Jaejoong, bukannya semakin reda dia justru semakin ingin dan ingin lagi, yeoja itu begitu polos tapi menggairahkan dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari yeoja itu bagaimana cara memuaskannya.
Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, “apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?”
Yunho memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Yoochun pengacara kepercayaannya dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiaannya. Yoochun adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya.
Yunho tahu Yoochun tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Namja itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Yunho yang ekstrim.
Tetapi saat Yunho membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Yoochun,
"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrin Yun, jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau suatu saat nanti terjadi masalah, apalagi mengingat kau warga negara asing"
Yunho tersenyum, Jaejoong tidak akan berpikir sejauh itu, bukannya yeoja itu bodoh, tapi dia terlalu polos, entah kenapa Yunho percaya bahwa Jaejoong akan menepati janjinya.
"Buat saja Park, selanjutnya biar aku yang mengurusnya", gumamnya yakin.
Yoochun tidak mengatakan apa-apa lagi, tetapi Yunho yakin namja itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail. Yoochun adalah namja yang sangat analisis, Yunho menahan senyumnya.
Pikirannya kembali ke masa sekarang, dan menatap Jaejoong yang seolah tidak selera makan,
"Kenapa kau tidak memakan makananmu?", desis Yunho, hanya sebuah desisan dan Jaejoong terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Jaejoong.
"Tuan jung", Jaejoong menyebutkan nama Yunho dengan pelan, di telinga Yunho suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta."
"Sesuai perjanjian kemarin, saya akan selalu ada kapanpun anda membutuhkan saya", pipi Jaejoong bersemu merah mengingat arti dari kata, "Saya...bolehkah saya meminta waktu untuk diri saya sendiri setiap harinya dari jam pulang kantor sampai jam sembilan malam?", suara Jaejoong terdengar tertelan dan takut-takut.
Yunho mengerutkan keningnya, sebenarnya itu bukan masalah, Yunho terbiasa bekerja sampai larut malam, biasanya jam sepuluh atau sebelas malam dia baru sampai di rumah,
"Bukan masalah, aku selalu pulang larut malam", Yunho berdehem,
"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel, karena jam pulang kerjaku yang tak tentu, tidak mungkin pula menyuruhmu stand by di hotel setiap harinya", Yunho merenung, "Tak mungkin juga membawamu tinggal di rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya untukmu juga",
Dengan santai Yunho menyesap kopinya, "Oke, nanti siang setelah bertemu dengan pengacaraku, kita cari apartement di dekat kantor"
Jaejoong hampir menyemburkan teh yang disesapnya mendengarnya, namja ini gila?
Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran dan bisnis yang mewah, apartmen pun pasti juga kelas atas dan mahal, bagaimana namja itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu?
Yunho sepertinya mengetahui pemikiran Jaejoong,
"Lebih mudah bagiku Jae, aku biasanya capek dan bertemperamen buruk setelah bekerja, aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek reservasi hotel jika tiba-tiba aku menginginkan bersamamu",
Yunho tersenyum," apartemen akan memudahkan kita, bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam", tambahnya cepat.
Jaejoong mengangguk gugup, yah, dia kan hanya mahluk yang sudah dibeli, dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Yunho.
“Dan satu lagi jangan memanggilku tuan jika kita sedang berdua. Bersikaplah seperti kekasih diranjang.”
Setelah menghabiskan kopinya Yunho melirik jam tangannya,
"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah,  aku akan menemuinya sebentar",
dengan santai namja itu berdiri, lalu tanpa diduga-duga menarik Jaejoong berdiri, mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah, lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli, sehingga ketika dia melepas ciumannya, Jaejoong hampir tak bisa berdiri membuat Yunho musti menahan tubuhnya, dengan lembut namja itu mendudukkan Jaejoong di kursi,
"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu", gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Jaejoong.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

9 comments:

  1. Entah knp rasanya yunho seksi bgt disini....#di real jg seksi bgt
    thanks saki udh bikin yunjae versionnya

    ReplyDelete
  2. jaejae1:31 AM

    iya,, appa sekseh sekali,, umma sok polos nih,, haha,,
    mau lagi mau lagi,,

    ReplyDelete
  3. Anonymous8:49 AM

    kupikir yang bakalan jadi pacar artisnya yunho ahra. ternyata bukan. hehehe..

    ReplyDelete
  4. Anonymous8:53 AM

    kupikir yang bakalan jadi pacar artisnya yunho ahra. ternyata bukan. hehehe..

    ReplyDelete
  5. Anonymous8:54 AM

    kupikir yang bakalan jadi pacar artisnya yunho ahra. ternyata bukan. hehehe..

    ReplyDelete
  6. Anonymous11:39 AM

    Padahal jae aslinya bnr2 bertolak belakabg ya dr sini. But i love jae gender switch version

    ReplyDelete
  7. Anonymous6:22 AM

    Sukaaaaa,,, Jae yg plos gini bikin gemes ><

    Yun Pervert abiiiisssss ^^

    (ʃƪ´⌣`) Ţћǟπƙ γǿΰ (´⌣`ʃƪ). Dah Remake FF ini Sakiii ~~

    ReplyDelete
  8. yunho bener2 tergila2 ke jae ...
    jaejoong yang begitu polos cuma bisa pasrah di apa2 in juga

    ReplyDelete
  9. Ya ampun Yunho... Bnr2 bikin panas dingin d...
    Mudah2an Jaejae kuat ngelayanin "kebutuhannya"..

    ReplyDelete