Monday, March 31

[Remake] MAZE Chapter II

Boa menggelengkan kepalanya, menelan semua bantahan Jaejoong, "Tidak semua orang berkesempatan sepertimu Jae, kau harus datang memenuhi panggilan kerja itu."
Jaejoong terdiam, mengerutkan kening, tapi pikirannya melayang, hidupnya terasa begitu mudah, seolah-olah Tuhan mengulurkan tanganNya langsung dan membantunya. Dia mendapatkan semuanya dengan begitu mudah, rumah asrama yang menampungnya gratis, beasiswa demi beasiswa untuk melanjutkan sekolahnya, Boa sebagai pengganti bumonimnya. Pekerjaan yang sangat fleksibel yang memungkinkannya bekerja sambil sekolah, sekaligus menyediakan uang untuk kebutuhan pribadinya. Dan sekarang, begitu luluspun, tawaran pekerjaan langsung datang kepadanya, dan tidak tanggung-tanggung, langsung di sebuah perusahaan bonafit berkelas tingggi.
Jaejoong tersenyum dan otomatis memandang ke atas, ke titik khayalan yang dibayangkannya,
"Hei malaikat pelindungku", bisiknya pelan kepada langit, "Kau pasti sudah bekerja sangat keras, bernegosiasi dengan Tuhan untuk membuat hidupku begitu mudah, jeongmal gomapta ne."

Kitahara Saki presented
MAZE
Kim Jaejoong, Jung Yunho
© their self
Remake again from Santhy Agatha Story
.
.
.
Chapter II
.
.
.
Jaejoong merapikan rok setelan kerjanya yang sedikit kusut dengan gugup. Bis yang dinaikinya sangat penuh dan sesak sehingga penampilan Jaejoong jadi tidak serapi ketika dia berangkat tadi. Dan sekarang disinilah dia berdiri, di lobby mewah perusahaan ini dengan keragu-raguan dan kecemasan yang tampak jelas.
Aku telah berbuat kesalahan dengan datang kesini, ini bukanlah tempatku.....
Jaejoong mengusap keringat di dahinya ketika petugas resepsionist yang ramah tersenyum kepadanya, mengundangnya mendekat,
"Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionist itu mungkin kasihan melihat Jaejoong yang gugup dan kebingungan seperti salah tempat,
"Eh... ini...." Jaejoong mengeluarkan surat panggilan interview yang diterimanya kemarin. Dia mengeluarkannya dengan hati-hati seolah itu harta karun berharga dan menunjukkannya kepada sang resepsionist, "Saya mendapatkan panggilan interview di sini hari ini."
Resepsionist itu menerimanya dan mengerutkan kening, dia adalah pegawai berpengalaman dan tahu, bahwa surat panggilan ini tidak main-main, dikirimkan langsung oleh sekretaris sang CEO.Bahkan ditandatangi langsung oleh CEO mereka.... ini bukan surat main-main, ini surat penting....
"Chankammanyo, saya akan menelepon." sikap sang sekretaris yang ramah dan mengasihani itu langsung berubah serius dan dia meninggalkan Jaejoong untuk mengangkat telepon.
Jantung Jaejoong langsung berdegup kencang, pikiran-pikiran buruk langsung menerpanya, apakah dia salah? Apakah surat itu surat palsu, mungkin sekedar lelucon untuk mengerjai Jaejoong? Astaga!! Kenapa tak pernah terpikirkan di benaknya tentang kemungkinan itu?
Jaejoong memandang sekeliling dengan gelisah, apakah dia akan diusir? Apakah dia akan dipermalukan?                                    
Rasanya lama sekali ketika resepsionist itu akhirnya kembali dari belakang. Dia sudah berhasil menguasai diri rupanya, senyum ramahnya sudah kembali,                            
"Interview akan dilakukan di lantai lima, saya akan meminta petugas kami untuk menemani anda ke atas."
Seorang petugas entah muncul dari mana dengan ramah menemani Jaejoong melangkah masuk ke lift menuju ke lantai lima.
"Silahkan duduk disana dulu agashi, saya akan memberitahukan kedatangan anda."
Jaejoong duduk di sofa sambil tetap mengerutkan kening, memberitahukan kedatangannya? Kenapa seolah-olah dia adalah tamu yang sudah ditunggu dan bukannya salah satu calon pegawai yang akan menghadapi test interview? Dan dimana yang lainnya? Jaejoong memandangke sekeliling yang sepi, dia menyangka akan di interview bersama calon-calon pegawai lainnya, tetapi ternyata dia cuma sendirian,
"Silahkan Agashi, Beliau berkenan menemui anda."
Masih dengan bertanya-tanya Jaejoong melangkah memasuki ruangan itu, sebuah ruangan rapat kecil yang mungkin difungsikan untuk mewawancarai calon pegawai.
Seorang yeoja yang sangat elegan dan cantik menunggunya di sana, cantik sekali layaknya seorang model. Wajahnya benar-benar bisa membuat yeoja lain iri, dengan setelan kantornya yang terlihat mahal dan menarik.
"Selamat siang, silahkan duduk", gumamnya datar mempersilahkan.
Dengan canggung Jaejoong duduk di hadapan yeoja itu,
"Saya Jessica, HR Manager disini, mungkin anda bertanya-tanya kenapa anda bisa mendapat panggilan di perusahaan ini. Kami memperoleh rekomendasi dari universitas anda, bahwa anda adalah lulusan terbaik di sana."
Rupanya kata-kata Boa ada benarnya, Jaejoong dipanggil karena rekomendasi dari kampusnya...
"Baik, pekerjaan yang akan ditawarkan kepada anda adalah staff inti dari direksi. Maksud saya, anda akan bekerja sebagai bawahan langsung dari CEO kami....”
Otak Jaejoong serasa dicubit, Staff Direksi? kenapa untuk jabatan sepenting staff direksi, perusahaan ini mengambil seorang lulusan baru sepertinya? Bukankah untuk jabatan seperti itu biasanya sebuah perusahaan akan mengambil dan mempromosikan pegawainya yang sudah lama mengabdi untuk naik jabatan? Tapi pertanyaan-pertanyaan di otak Jaejoong langsung terabaikan ketika dia berusaha berkonsentrasi penuh atas wawancara resmi yang mulai dilakukan oleh HR Manager yang cantik itu.
Wawancara itu berlangsung lama, dan begitu resmi, Jaejoong menjawab semua sesuai kemampuannya, dan setelah pertanyaan terakhir dijawab, Jessica terdiam agak lama dan menatap catatan di mejanya.
Yeoja itu lalu menatap Jaejoong lama seolah-olah ingin membaca isi hati Jaejoong,
"Kalau anda diterima, seberapa cepat anda bisa mulai bekerja di perusahaan kami?"
Jaejoong tergagap, tidak menduga akan ditanya selugas itu, biasanya mereka akan menyalamimu, kemudian mengatakan akan melakukan evaluasi dan akan menghubungi beberapa waktu nanti bukan?
"Saya bisa kapan saja", jawab Jaejoong cepat
Jessica menganggukkan kepalanya,
"Anda diterima, saya ingin anda siap dan mulai bekerja Senin depan. Cukupkah waktu untuk mempersiapkan semuanya? Dalam tiga hari?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya meski masih merasa seperti mimpi,
"Baik. Saya akan bersiap."
Jessica berdiri dan mau tak mau Jaejoong ikut berdiri juga, yeoja itu lalu menyalami Jaejoong dengan senyum aneh.
"Semoga sukses di perusahaan ini." dia lalu melepaskan tangannya dan melangkah keluar, "Sampai bertemu lagi, anda bisa keluar sendiri kan." dan dengan langkah cepat dan tegas, setegas pembawaannya, wanita itu meninggalkan Jaejoong sendirian.
Meninggalkan Jaejoong yang masih terpaku di tengah ruangan itu, menahan keinginan kuat untuk mencubit dirinya sendiri, secepat ini prosesnya? Mimpikah ia....?
.
.
.
"Sudah selesai," Jessica meletakkan berkas-berkas itu di meja Yunho.
"Gomawo," Yunho tersenyum menatap adiknya, "Bagaimana?"
"Dia kebingungan," Jessica mencibir, "Semua ini terlalu mudah, Kalau aku jadi dia, pasti juga akan sebingung dia, dan oppa sudah membuat aku melanggar aturan perusahaan dalam merekrut pegawai."
Yunho tersenyum miris,
"Perusahaan ini punyaku, dan aku juga yang berhak menentukan penerapan aturan itu."
Jessica mengangkat bahunya,
"Yah... lagipula siapalah aku, bisa dibilang kau merintis perusahaan ini demi yeoja itu... sekarang keinginanmu sudah tercapai Jung."
"Panggil aku Park Yunho kalau berada disini."
Jessica meringis.
"Dia pasti akan tahu suatu saat nanti, Jung Yunho", dengan keras kepala Jessica tetap memanggil kakaknya dengan panggilan 'Jung", Appa kita bisa dibilang pengusaha dengan nama besar. Suatu saat nanti dia pasti akan bisa menghubungkan namamu dengan Appa, dan identitasmu pasti akan terbongkar.”
Yunho diam tidak membantah kebenaran yang terasa jelas di ucapan Jessica, matanya menerawang.
"Dia akan tahu, nanti, setelah aku bereskan semuanya untuknya."
"Dan kau pikir dia akan berterimakasih padamu nantinya?"
Yunho menggeleng dan tersenyum.
"Ini bukan tentang pemberian dan rasa terimakasih... ini tentang hutang yang dibayar, Jess. Dan tidak pernah ada orang yang wajib berterimakasih atas hutangnya yang dibayarkan. Yang ada, yang berhutang itulah yang wajib mengucapkan terimakasih."
Jessica mendesah, menatap kakaknya dengan sedih.
"Aku cuma bisa mendoakanmu oppa, semoga semua baik-baik saja." dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, sambung Jessica dalam hati. Meskipun dia mulai merasa tidak yakin, sebab kalau seperti kata orang-orang bahwa Tuhan itu Maha Pemaaf, kenapa Dia membiarkan kakaknya menanggung dosa dan rasa bersalahnya selama bertahun-tahun?
.
.
.
.
"Ini ruanganmu", Seorang yeoja yang lebih tua darinya menunjukkan sebuah ruangan kecil di sudut yang terletak di lantai paling atas gedung megah itu,
"Seluruh staff direksi berjumlah delapan orang -- termasuk dirimu, kami bertugas untuk memfasilitasi kegiatan CEO perusahaan ini, yaitu Park huijangnim. Tugasmu adalah membantu Tiffany, sekretaris direksi terutama karena dia akan cuti hamil beberapa bulan lagi. Kamu harus bisa memback up semua pekerjaannya selama dia cuti nanti. Jadi sekarang dia yang akan menjadi mentormu", kata yeoja itu, yang ternyata bernama Kim Heechul. Ia  mengedikkan bahu ke arah seorang yeoja muda yang tadi tidak sempat dilihatnya,
Tiffany, yeoja muda cantik yang kelihatan montok karena sedang hamil besar itu tersenyum padanya, dan Jaejoong merasa lega karena mentornya itu kelihatannya sangat baik.
"Heechul gwajangnim memang kelihatan ketus, tapi dia sangat baik, dia bisa dibilang wakil direktur utama disini. Dia yang menghandle semuanya kalau Park huijangnim sedang tidak ada di tempat", Tiffany menjelaskan sambil tersenyum ketika mereka duduk bersama dan Tiffany menerangkan tugas-tugasnya,
"Pemilik perusahaan ini namanya Park huijangnim?", Jaejoong sudah tahu sebenarnya, karena penasaran kemarin dia membeli dan membaca berbagai majalah bisnis yang menyangkut perusahaan ini. Dan sesuai dengan keterangan dosennya sewaktu mencontohkan perusahaan ini sebagai materi kuliahnya, pemilik perusahaan ini masih muda. Muda dan cemerlang karena bisa membangun bisnis sesukses ini dalam waktu yang begitu singkat.
"Ne, kau akan sering bertemu dengannya nanti, apalagi saat aku cuti melahirkan nanti. Bisa dibilang pekerjaanmu adalah mengatur seluruh jadwal dan keperluannya,"
Tiffany tersenyum dan matanya menerawang, "Jangan kuatir, Park huijangnim tidak seketus Heechul gwajangnim, dia sangat baik dan tenang, tidak pernah meledak marahnya..... dan sangat tampan karena omoninya berdarah cina, bayangkan namja-namja cina yang sexy itu.” Tiffany mengedip nakal,
“Biarpun beliau sedikit murung, seperti ada sesuatu yang selalu tersimpan di benaknya, membuatnya susah tersenyum, tapi walaupun begitu...", Tiffany mengedipkan matanya lagi, "Dia adalah namja yang paling diincar disini, kesan misteriusnya malah membuatnya semakin memiliki banyak penggemar. Sayang dia begitu penuh rahasia, tidak pernah terlihat dia dekat dengan siapapun."
Jaejoong mengernyit, muda, kaya, sukses, dan cemerlang, tetapi tidak pernah dekat dengan satu yeojapun?
Tiffany tertawa, bisa membaca apa yang ada di pikiran Jaejoong,
"Dia bukan gay," bisiknya pelan, "Sebenarnya ini rahasia, tapi aku pernah mengatur beberapa pertemuan beliau dengan yeoja-yeoja cantik dari kalangan atas. Tapi hubungan mereka sambil lalu saja, Park huijangnim tidak pernah menjalin hubungan lama dengan satu wanita,"
Tiffany mengehela nafas dengan dramatis, "Namja setampan itu.... dan kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya Jaejoong-shi, daripada kau nanti patah hati seperti yang dialami beberapa karyawan di sini yang berani memendam perasaan kepada Park huijangnim. Mereka semua berujung patah hati, karena Park huijangnim sedikitpun tidak akan melirik mereka."
Aku tidak akan jatuh cinta kepada 'Park huijangnim' itu. Jaejoong tersenyum dikulum, berpikir dalam hati, dari ceritanya, namja itu terdengar terlalu sempurna. Sempurna dan pemurung, ralatnya, sama sekali bukan tipe namja idaman Jaejoong, karena kekasih yang diimpikannya adalah namja biasa, yang ceria dan bisa membuatnya tertawa setiap saat.
Dan namja itu bukan Park huijangnim, aku tidak akan pernah jatuh cinta kepadanya. Jaejoong merasa yakin.
Meskipun keyakinan manusia kadangkala bisa bertentangan dengan kehendak Tuhan….
.
.
.
Dia ada disini.
Yunho menelan ludahnya, merasa konyol karena kegugupannya. Astaga! dia yang selama ini menghadapi begitu banyak orang dengan percaya diri sekarang merasa gugup hanya karena seorang yeoja biasa yang bahkan tidak akan mengenalinya.
Yunho berdehem menenangkan diri.
Tetapi yeoja ini bukan yeoja biasa, yeoja inilah yang entah sadar atau tidak, telah mengubah seluruh kehidupannya, telah mengubah seluruh cara pandangnya terhadap kehidupan. Yeoja inilah yang sekarang telah menjadi tujuan hidup Yunho. Kebahagiaannya adalah tujuan hidup Yunho.
Setelah menarik napas panjang, Yunho melangkah masuk ke ruangan kantor staff direksi. Heechul sedang berdiri di dekat pintu dan langsung mengangguk kepadanya.
"Selamat pagi, Park huijangnim."  sapanya hormat.
Yunho mengangguk tak kentara, matanya berputar ke sekeliling ruangan, dimana Jaejoong? Seharusnya dia mulai bekerja hari ini, kan?
Heechul sepertinya menyadari apa yang dicari oleh Yunho, dia termasuk orang kepercayaan Yunho yang tahu rencana bossnya itu ketika memasukkan Jaejoong keperusahaan ini.
"Dia sedang dikamar mandi, huijangnim"
Yunho mengangguk, merasa sedikit malu karena wakil direksinya ini menyadari apa yang dicarinya.
"Suruh dia menghadap ke ruanganku nanti", gumamnya setelah berdehem dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangannya, Yunho merasa begitu susah berkonsentrasi, berkali-kali dia melemparkan pandangan ke pintu dengan gelisah. Kenapa Jaejoong lama sekali?
Yunho merasa bahwa detik pertemuan inilah nanti yang akan menentukan langkah ke depannya. Dia harus memastikan bahwa Jaejoong tidak akan mengenalinya. Tentu saja dia tetap harus menghadapi resiko bahwa Jaejoong tetap akan mengenalinya. Siapa yang bisa mengukur kekuatan ingatan seseorang? Apalagi ingatan tentang kejadian buruk biasanya akan lebih kuat melekat. Dan jika Jaejoong mengenalinya, maka selesailah sudah semuanya.
Yunho merasakan jantungnya berdenyut, dia tidak akan siap. Dia tidak akan siap jika Jaejoong mengenalinya dan kemudian membencinya dengan kebencian yang sama seperti yang ditunjukkan di pertemuan pertama mereka di masa lalu.
Semoga Jaejoong tidak mengenalinya. Yunho masih merapalkan doa singkat itu berulang-ulang bagai mantra, ketika sebuah ketukan pelan di pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk." gumamnya penuh antisipasi
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. semoga rencanamu berjalan dgn lancar, Jung.
    Dan semoga kebencian Jae ma Yun bisa berubah jadi Cinta.
    berhibung ini masih chapter2 awal, aq blom bisa ngira2

    fighting !!!!

    ReplyDelete
  2. Semoga aja jae ga inget sama yunho ....
    Biar jae tetep bisa kerja di perusahaan dan yunho bisa terus bantuin jaejoong
    Penasaran sebenernya yunho tuh suka ga sih sama jaejoong ?

    ReplyDelete
  3. jae ntr ngenalin yun gk y

    ReplyDelete
  4. Anonymous3:03 AM

    waaa~ xD penasaran gimana ntar reaksinya Jae

    ReplyDelete