Jaejoong terdiam, mengerutkan kening, tapi
pikirannya melayang, hidupnya terasa begitu mudah, seolah-olah Tuhan
mengulurkan tanganNya langsung dan membantunya. Dia mendapatkan semuanya dengan
begitu mudah, rumah asrama yang menampungnya gratis, beasiswa demi beasiswa
untuk melanjutkan sekolahnya, Boa sebagai pengganti bumonimnya. Pekerjaan yang
sangat fleksibel yang memungkinkannya bekerja sambil sekolah, sekaligus
menyediakan uang untuk kebutuhan pribadinya. Dan sekarang, begitu luluspun,
tawaran pekerjaan langsung datang kepadanya, dan tidak tanggung-tanggung,
langsung di sebuah perusahaan bonafit berkelas tingggi.
Jaejoong tersenyum dan otomatis memandang ke atas,
ke titik khayalan yang dibayangkannya,
"Hei malaikat pelindungku", bisiknya
pelan kepada langit, "Kau pasti sudah bekerja sangat keras, bernegosiasi
dengan Tuhan untuk membuat hidupku begitu mudah, jeongmal gomapta ne."
Kitahara
Saki presented
MAZE
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
© their self
Remake
again from Santhy Agatha Story
.
.
.
Chapter
II
.
.
.
Jaejoong merapikan rok setelan kerjanya yang
sedikit kusut dengan gugup. Bis yang dinaikinya sangat penuh dan sesak sehingga
penampilan Jaejoong jadi tidak serapi ketika dia berangkat tadi. Dan sekarang
disinilah dia berdiri, di lobby mewah perusahaan ini dengan keragu-raguan dan
kecemasan yang tampak jelas.
Aku telah berbuat kesalahan dengan datang kesini,
ini bukanlah tempatku.....
Jaejoong mengusap keringat di dahinya ketika
petugas resepsionist yang ramah tersenyum kepadanya, mengundangnya mendekat,
"Ada yang bisa saya bantu?" Resepsionist
itu mungkin kasihan melihat Jaejoong yang gugup dan kebingungan seperti salah
tempat,
"Eh... ini...." Jaejoong mengeluarkan
surat panggilan interview yang diterimanya kemarin. Dia mengeluarkannya dengan
hati-hati seolah itu harta karun berharga dan menunjukkannya kepada sang
resepsionist, "Saya mendapatkan panggilan interview di sini hari
ini."
Resepsionist itu menerimanya dan mengerutkan
kening, dia adalah pegawai berpengalaman dan tahu, bahwa surat panggilan ini
tidak main-main, dikirimkan langsung oleh sekretaris sang CEO.Bahkan
ditandatangi langsung oleh CEO mereka.... ini bukan surat main-main, ini surat
penting....
"Chankammanyo, saya akan menelepon."
sikap sang sekretaris yang ramah dan mengasihani itu langsung berubah serius
dan dia meninggalkan Jaejoong untuk mengangkat telepon.
Jantung Jaejoong langsung berdegup kencang,
pikiran-pikiran buruk langsung menerpanya, apakah dia salah? Apakah surat itu
surat palsu, mungkin sekedar lelucon untuk mengerjai Jaejoong? Astaga!! Kenapa
tak pernah terpikirkan di benaknya tentang kemungkinan itu?
Jaejoong memandang sekeliling dengan gelisah,
apakah dia akan diusir? Apakah dia akan dipermalukan?
Rasanya lama sekali ketika resepsionist itu
akhirnya kembali dari belakang. Dia sudah berhasil menguasai diri rupanya,
senyum ramahnya sudah kembali,
"Interview akan dilakukan di lantai lima, saya
akan meminta petugas kami untuk menemani anda ke atas."
Seorang petugas entah muncul dari mana dengan ramah
menemani Jaejoong melangkah masuk ke lift menuju ke lantai lima.
"Silahkan duduk disana dulu agashi, saya akan
memberitahukan kedatangan anda."
Jaejoong duduk di sofa sambil tetap mengerutkan
kening, memberitahukan kedatangannya? Kenapa seolah-olah dia adalah tamu yang
sudah ditunggu dan bukannya salah satu calon pegawai yang akan menghadapi test
interview? Dan dimana yang lainnya? Jaejoong memandangke sekeliling yang sepi,
dia menyangka akan di interview bersama calon-calon pegawai lainnya, tetapi
ternyata dia cuma sendirian,
"Silahkan Agashi, Beliau berkenan menemui anda."
Masih dengan bertanya-tanya Jaejoong melangkah
memasuki ruangan itu, sebuah ruangan rapat kecil yang mungkin difungsikan untuk
mewawancarai calon pegawai.
Seorang yeoja yang sangat elegan dan cantik
menunggunya di sana, cantik sekali layaknya seorang model. Wajahnya benar-benar
bisa membuat yeoja lain iri, dengan setelan kantornya yang terlihat mahal dan
menarik.
"Selamat siang, silahkan duduk", gumamnya
datar mempersilahkan.
Dengan canggung Jaejoong duduk di hadapan yeoja
itu,
"Saya Jessica, HR Manager disini, mungkin anda
bertanya-tanya kenapa anda bisa mendapat panggilan di perusahaan ini. Kami
memperoleh rekomendasi dari universitas anda, bahwa anda adalah lulusan terbaik
di sana."
Rupanya kata-kata Boa ada benarnya, Jaejoong
dipanggil karena rekomendasi dari kampusnya...
"Baik, pekerjaan yang akan ditawarkan kepada
anda adalah staff inti dari direksi. Maksud saya, anda akan bekerja sebagai
bawahan langsung dari CEO kami....”
Otak Jaejoong serasa dicubit, Staff Direksi? kenapa
untuk jabatan sepenting staff direksi, perusahaan ini mengambil seorang lulusan
baru sepertinya? Bukankah untuk jabatan seperti itu biasanya sebuah perusahaan
akan mengambil dan mempromosikan pegawainya yang sudah lama mengabdi untuk naik
jabatan? Tapi pertanyaan-pertanyaan di otak Jaejoong langsung terabaikan ketika
dia berusaha berkonsentrasi penuh atas wawancara resmi yang mulai dilakukan
oleh HR Manager yang cantik itu.
Wawancara itu berlangsung lama, dan begitu resmi,
Jaejoong menjawab semua sesuai kemampuannya, dan setelah pertanyaan terakhir
dijawab, Jessica terdiam agak lama dan menatap catatan di mejanya.
Yeoja itu lalu menatap Jaejoong lama seolah-olah
ingin membaca isi hati Jaejoong,
"Kalau anda diterima, seberapa cepat anda bisa
mulai bekerja di perusahaan kami?"
Jaejoong tergagap, tidak menduga akan ditanya
selugas itu, biasanya mereka akan menyalamimu, kemudian mengatakan akan
melakukan evaluasi dan akan menghubungi beberapa waktu nanti bukan?
"Saya bisa kapan saja", jawab Jaejoong
cepat
Jessica menganggukkan kepalanya,
"Anda diterima, saya ingin anda siap dan mulai
bekerja Senin depan. Cukupkah waktu untuk mempersiapkan semuanya? Dalam tiga
hari?"
Jaejoong menganggukkan kepalanya meski masih merasa
seperti mimpi,
"Baik. Saya akan bersiap."
Jessica berdiri dan mau tak mau Jaejoong ikut
berdiri juga, yeoja itu lalu menyalami Jaejoong dengan senyum aneh.
"Semoga sukses di perusahaan ini." dia
lalu melepaskan tangannya dan melangkah keluar, "Sampai bertemu lagi, anda
bisa keluar sendiri kan." dan dengan langkah cepat dan tegas, setegas
pembawaannya, wanita itu meninggalkan Jaejoong sendirian.
Meninggalkan Jaejoong yang masih terpaku di tengah
ruangan itu, menahan keinginan kuat untuk mencubit dirinya sendiri, secepat ini
prosesnya? Mimpikah ia....?
.
.
.
"Sudah selesai," Jessica meletakkan
berkas-berkas itu di meja Yunho.
"Gomawo," Yunho tersenyum menatap
adiknya, "Bagaimana?"
"Dia kebingungan," Jessica mencibir,
"Semua ini terlalu mudah, Kalau aku jadi dia, pasti juga akan sebingung
dia, dan oppa sudah membuat aku melanggar aturan perusahaan dalam merekrut
pegawai."
Yunho tersenyum miris,
"Perusahaan ini punyaku, dan aku juga yang
berhak menentukan penerapan aturan itu."
Jessica mengangkat bahunya,
"Yah... lagipula siapalah aku, bisa dibilang
kau merintis perusahaan ini demi yeoja itu... sekarang keinginanmu sudah
tercapai Jung."
"Panggil aku Park Yunho kalau berada
disini."
Jessica meringis.
"Dia pasti akan tahu suatu saat nanti, Jung
Yunho", dengan keras kepala Jessica tetap memanggil kakaknya dengan
panggilan 'Jung", Appa kita bisa dibilang pengusaha dengan nama besar.
Suatu saat nanti dia pasti akan bisa menghubungkan namamu dengan Appa, dan
identitasmu pasti akan terbongkar.”
Yunho diam tidak membantah kebenaran yang terasa
jelas di ucapan Jessica, matanya menerawang.
"Dia akan tahu, nanti, setelah aku bereskan
semuanya untuknya."
"Dan kau pikir dia akan berterimakasih padamu
nantinya?"
Yunho menggeleng dan tersenyum.
"Ini bukan tentang pemberian dan rasa
terimakasih... ini tentang hutang yang dibayar, Jess. Dan tidak pernah ada
orang yang wajib berterimakasih atas hutangnya yang dibayarkan. Yang ada, yang
berhutang itulah yang wajib mengucapkan terimakasih."
Jessica mendesah, menatap kakaknya dengan sedih.
"Aku cuma bisa mendoakanmu oppa, semoga semua
baik-baik saja." dan menyerahkan semuanya pada Tuhan, sambung Jessica
dalam hati. Meskipun dia mulai merasa tidak yakin, sebab kalau seperti kata
orang-orang bahwa Tuhan itu Maha Pemaaf, kenapa Dia membiarkan kakaknya
menanggung dosa dan rasa bersalahnya selama bertahun-tahun?
.
.
.
.
"Ini ruanganmu", Seorang yeoja yang lebih
tua darinya menunjukkan sebuah ruangan kecil di sudut yang terletak di lantai
paling atas gedung megah itu,
"Seluruh staff direksi berjumlah delapan orang
-- termasuk dirimu, kami bertugas untuk memfasilitasi kegiatan CEO perusahaan
ini, yaitu Park huijangnim. Tugasmu adalah membantu Tiffany, sekretaris direksi
terutama karena dia akan cuti hamil beberapa bulan lagi. Kamu harus bisa
memback up semua pekerjaannya selama dia cuti nanti. Jadi sekarang dia yang
akan menjadi mentormu", kata yeoja itu, yang ternyata bernama Kim Heechul.
Ia mengedikkan bahu ke arah seorang
yeoja muda yang tadi tidak sempat dilihatnya,
Tiffany, yeoja muda cantik yang kelihatan montok
karena sedang hamil besar itu tersenyum padanya, dan Jaejoong merasa lega
karena mentornya itu kelihatannya sangat baik.
"Heechul gwajangnim memang kelihatan ketus,
tapi dia sangat baik, dia bisa dibilang wakil direktur utama disini. Dia yang
menghandle semuanya kalau Park huijangnim sedang tidak ada di tempat", Tiffany
menjelaskan sambil tersenyum ketika mereka duduk bersama dan Tiffany
menerangkan tugas-tugasnya,
"Pemilik perusahaan ini namanya Park
huijangnim?", Jaejoong sudah tahu sebenarnya, karena penasaran kemarin dia
membeli dan membaca berbagai majalah bisnis yang menyangkut perusahaan ini. Dan
sesuai dengan keterangan dosennya sewaktu mencontohkan perusahaan ini sebagai
materi kuliahnya, pemilik perusahaan ini masih muda. Muda dan cemerlang karena
bisa membangun bisnis sesukses ini dalam waktu yang begitu singkat.
"Ne, kau akan sering bertemu dengannya nanti,
apalagi saat aku cuti melahirkan nanti. Bisa dibilang pekerjaanmu adalah
mengatur seluruh jadwal dan keperluannya,"
Tiffany tersenyum dan matanya menerawang,
"Jangan kuatir, Park huijangnim tidak seketus Heechul gwajangnim, dia
sangat baik dan tenang, tidak pernah meledak marahnya..... dan sangat tampan
karena omoninya berdarah cina, bayangkan namja-namja cina yang sexy itu.” Tiffany
mengedip nakal,
“Biarpun beliau sedikit murung, seperti ada sesuatu
yang selalu tersimpan di benaknya, membuatnya susah tersenyum, tapi walaupun
begitu...", Tiffany mengedipkan matanya lagi, "Dia adalah namja yang
paling diincar disini, kesan misteriusnya malah membuatnya semakin memiliki
banyak penggemar. Sayang dia begitu penuh rahasia, tidak pernah terlihat dia
dekat dengan siapapun."
Jaejoong mengernyit, muda, kaya, sukses, dan
cemerlang, tetapi tidak pernah dekat dengan satu yeojapun?
Tiffany tertawa, bisa membaca apa yang ada di
pikiran Jaejoong,
"Dia bukan gay," bisiknya pelan,
"Sebenarnya ini rahasia, tapi aku pernah mengatur beberapa pertemuan
beliau dengan yeoja-yeoja cantik dari kalangan atas. Tapi hubungan mereka
sambil lalu saja, Park huijangnim tidak pernah menjalin hubungan lama dengan
satu wanita,"
Tiffany mengehela nafas dengan dramatis,
"Namja setampan itu.... dan kau tidak boleh jatuh cinta kepadanya Jaejoong-shi,
daripada kau nanti patah hati seperti yang dialami beberapa karyawan di sini
yang berani memendam perasaan kepada Park huijangnim. Mereka semua berujung
patah hati, karena Park huijangnim sedikitpun tidak akan melirik mereka."
Aku tidak akan jatuh cinta kepada 'Park huijangnim'
itu. Jaejoong tersenyum dikulum, berpikir dalam hati, dari ceritanya, namja itu
terdengar terlalu sempurna. Sempurna dan pemurung, ralatnya, sama sekali bukan
tipe namja idaman Jaejoong, karena kekasih yang diimpikannya adalah namja
biasa, yang ceria dan bisa membuatnya tertawa setiap saat.
Dan namja itu bukan Park huijangnim, aku tidak akan
pernah jatuh cinta kepadanya. Jaejoong merasa yakin.
Meskipun keyakinan manusia kadangkala bisa
bertentangan dengan kehendak Tuhan….
.
.
.
Dia ada disini.
Yunho menelan ludahnya, merasa konyol karena
kegugupannya. Astaga! dia yang selama ini menghadapi begitu banyak orang dengan
percaya diri sekarang merasa gugup hanya karena seorang yeoja biasa yang bahkan
tidak akan mengenalinya.
Yunho berdehem menenangkan diri.
Tetapi yeoja ini bukan yeoja biasa, yeoja inilah
yang entah sadar atau tidak, telah mengubah seluruh kehidupannya, telah
mengubah seluruh cara pandangnya terhadap kehidupan. Yeoja inilah yang sekarang
telah menjadi tujuan hidup Yunho. Kebahagiaannya adalah tujuan hidup Yunho.
Setelah menarik napas panjang, Yunho melangkah
masuk ke ruangan kantor staff direksi. Heechul sedang berdiri di dekat pintu
dan langsung mengangguk kepadanya.
"Selamat pagi, Park huijangnim." sapanya hormat.
Yunho mengangguk tak kentara, matanya berputar ke
sekeliling ruangan, dimana Jaejoong? Seharusnya dia mulai bekerja hari ini,
kan?
Heechul sepertinya menyadari apa yang dicari oleh
Yunho, dia termasuk orang kepercayaan Yunho yang tahu rencana bossnya itu
ketika memasukkan Jaejoong keperusahaan ini.
"Dia sedang dikamar mandi, huijangnim"
Yunho mengangguk, merasa sedikit malu karena wakil
direksinya ini menyadari apa yang dicarinya.
"Suruh dia menghadap ke ruanganku nanti",
gumamnya setelah berdehem dan melangkah masuk ke dalam ruangannya.
Di dalam ruangannya, Yunho merasa begitu susah
berkonsentrasi, berkali-kali dia melemparkan pandangan ke pintu dengan gelisah.
Kenapa Jaejoong lama sekali?
Yunho merasa bahwa detik pertemuan inilah nanti
yang akan menentukan langkah ke depannya. Dia harus memastikan bahwa Jaejoong
tidak akan mengenalinya. Tentu saja dia tetap harus menghadapi resiko bahwa
Jaejoong tetap akan mengenalinya. Siapa yang bisa mengukur kekuatan ingatan
seseorang? Apalagi ingatan tentang kejadian buruk biasanya akan lebih kuat
melekat. Dan jika Jaejoong mengenalinya, maka selesailah sudah semuanya.
Yunho merasakan jantungnya berdenyut, dia tidak
akan siap. Dia tidak akan siap jika Jaejoong mengenalinya dan kemudian
membencinya dengan kebencian yang sama seperti yang ditunjukkan di pertemuan
pertama mereka di masa lalu.
Semoga Jaejoong tidak mengenalinya. Yunho masih
merapalkan doa singkat itu berulang-ulang bagai mantra, ketika sebuah ketukan
pelan di pintu mengalihkan perhatiannya.
"Masuk." gumamnya penuh antisipasi
.
.
.
.
To Be Continue

semoga rencanamu berjalan dgn lancar, Jung.
ReplyDeleteDan semoga kebencian Jae ma Yun bisa berubah jadi Cinta.
berhibung ini masih chapter2 awal, aq blom bisa ngira2
fighting !!!!
Semoga aja jae ga inget sama yunho ....
ReplyDeleteBiar jae tetep bisa kerja di perusahaan dan yunho bisa terus bantuin jaejoong
Penasaran sebenernya yunho tuh suka ga sih sama jaejoong ?
jae ntr ngenalin yun gk y
ReplyDeletewaaa~ xD penasaran gimana ntar reaksinya Jae
ReplyDelete