Yifan sudah pernah ke apartemen mereka sebelumnya
bersama Yunho dan sekarang Yifan menuju ke sana.
Yixing meradang. “Apa…”
“Kau tidak akan menyetir malam ini. Jangan pernah
berpikir untuk itu. Aku akan mengembalikan mobilmu besok.”
“Aku punya banyak hal yang harus aku lakukan besok
pagi. Tugas yang harus aku lakukan. Ini tidak perlu…”
“Diam Yixing. Kau tadi minum dan Aku tidak sedang
mood untuk mendengarkan omong kosongmu.”
Yixing duduk kembali, menutup mulutnya dan
bergolak. Dia hanya minum dua kali selama periode 4 jam. Dia juga minum tiga
gelas air mineral. Dia tidak mabuk. Tapi Yifan terlihat sangat marah dan Yixing
begitu lelah untuk melayani kemarahan Yifan.
Besok. Saat Yifan mengembalikan mobilnya, Yixing
akan mengatakan padanya apa yang Yixing pikirkan tentang sikap dan perlakukan
Yifan.
Choosey
Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung
Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya Lynda
Chance
Seratus dua puluh menit kemudian, mereka merapat ke
dalam garasi sebuah pemukiman kelas atas yang tampak baru dibangun. Jaejoong
belum pernah ke rumah Yunho sebelumnya, Tapi Yunho pernah memberitahunya kalau
dia mempunyai rumah di luar Seoul, dan Jaejoong tahu disitulah kini mereka
berada.
Otaknya bertarung saat Yunho menuntunnya ke dalam.
Mata Jaejoong fokus pada Yunho dan tidak berusaha mengingat ruangan-ruangan
yang mereka lalui sampai dengan hati-hati Yunho duduk di atas sofa besar dan
menarik Jaejoong turun untuk duduk di sebelahnya.
Yunho sudah melalui minggu paling kacau dalam
hidupnya dan Yunho tidak bermaksud untuk membiarkan perasaan gelap itu
berlanjut. Yunho menginginkan Jaejoong dan Yunho berencana untuk mendapatkan
Jaejoong. Semoga malam ini. Tapi Jaejoong sangat yakin dia tak akan bisa lagi
untuk lari dari Yunho. Itu tidak akan terjadi.
Tubuh Yunho merenggang di sudut sofa dan dia
menarik Jaejoong ke arahnya, lutut Jaejoong berada di antara paha Yunho yang
merenggang.
Tarikan paksaan itu membuat tangan Jaejoong jatuh
ke atas dada Yunho dan gairah melanda Yunho dengan keras saat selangkangan
Jaejoong mendarat di perut Yunho. Jaejoong dengan cepat menarik tubuhnya
menjauh dari Yunho.
Yunho memegang pinggulnya dengan genggaman yang
erat saat dia berusaha untuk mengendalikan kebutuhan yang mengamuk di dalam
tubuhnya. Yunho mengatakan pada Jaejoong bahwa mereka akan bicara. Mungkin ini
bisa menjadi awal yang baik untuk membuat Jaejoong tahu bahwa dia bisa percaya
pada perkataan Yunho. “Kita Sudah sampai, sayang.”
“Y-ya.” Jaejoong bersandar ke belakang menjauh dari
Yunho, tidak membiarkan tubuhnya menyentuh Yunho. Hal ini membunuh Yunho.
Yunho menyapukan tangannya ke atas lekuk tubuh
Jaejoong dan menyusupkan tangannya ke rambut Jaejoong dan merenggut kulit
kepala Jaejoong. Yunho memegang Jaejoong dengan erat sehingga Jaejoong tidak
bisa lari lagi. “Apa yang harus aku lakukan?” Yunho berbisik.
Jaejoong merasakan bisikan itu dan mengetahuinya,
tanpa ragu, Jaejoong akan menyerah pada Yunho malam ini. Sudah waktunya.
Jaejoong tak bisa menolak lagi. Tapi rasa takut Jaejoong masih kuat.
“Aku tak ingin menjadi seperti yeoja itu. Yeoja
pirang di restoran waktu itu. Yeoja yang…”
“Tidak, sayang. Itu skenario yang sangat berbeda.
Kau tidak seperti dia.” Yunho berhenti sejenak dan menarik nafas dalam untuk
mulai mencoba membuat Jaejoong mengerti.
Jaejoong memotong proses pemikiran Yunho. “Aku tak
ingin tahu soal yeoja itu. Kau tak perlu menjelaskannya. Aku hanya tidak ingin
menjadi seperti dia.”
“Kau tak akan pernah bisa menjadi seperti dia. Kau
berbeda dari seua yeoja yang pernah dekat denganku boo, kau special.” Ibu jari
Yunho menyapu bibir bawah Jaejoong dan panah kebahagiaan menari ke tulang
belakang Jaejoong.
“Aku tahu k-kau ingin tidur denganku.” Mata
Jaejoong mencari mata Yunho lalu Jaejoong menunduk saat rasa panas melanda
wajahnya.
“Dan aku menginginkan itu juga. Tapi aku butuh
sesuatu yang lebih.”
“Apa? Apa yang kau butuhkan? katakan padaku.”
“Aku butuh komitmen.”
Yunho tak tahu apa yang membuatnya lebih kaget.
Fakta yang dikatakan oleh Jaejoong atau fakta guratan kebahagiaan dan kelegaan
yang intens yang melandanya pada kata-kata Jaejoong.
“Komitmen? Aku milikmu dan kau milikku bisa disebut
komitmen?”
“Ya.”
“Apakah kau yakin, sayang? Karena aku harus
mengatakan padamu, Aku bisa melakukan itu dengan mudah. Tak ada orang lain
kecuali kita. Aku tidak ada masalah dengan komitmen. “Yunho tergoncang saat dia
menyadari motifnya sudah berubah 180 derajat dari lima minggu sebelumnya. Dia
berumur 26 tahun, tak pernah menginginkan pacar tetap dan tentunya komitmen
jangka panjang. Tapi beberapa minggu belakangan ini dia berubah dan terlebih 7
hari belakangan ini. Yunho sudah melalui tujuh hari neraka yang tidak pernah
ingin dia ulangi dalam hidupnya. Tidak pernah ingin lagi.
Jadi apakah komitmen membuat dia takut? Tentu
tidak. Yunho ingin mengikat Jaejoong dengan komitmen. Yunho tak ingin perasaan
sakit dan kemarahan dari pemikiran Jaejoong bersama namja lain. Itu akan sangat
tidak bisa diterima. Yunho menarik nafas dalam. Yunho harus menenangkan diri
dan tidak membuat Jaejoong takut dengan terlalu banyak intensitas.
Beruntungnya Yunho, Jaejoong sudah mengatakan ini
dan Yunho hanya perlu menyetujuinya sebelum Jaejoong kembali lari dari Yunho.
Yunho tidak ingin berada dalam kekacauan itu lagi. Tidak akan pernah. Tapi
Yunho suka dengan pemikiran bahwa dia seorang namja yang baik dan Yunho harus
jujur kepada Jaejoong sekarang.
Yunho memegang pipi Jaejoong di dalam telapak
tangannya. “Apakah kau sendiri bisa berkomitmen, sayang? Aku sudah siap untuk
membunuh namja itu malam ini. Kau pikir jika kau bercinta denganku itu bisa
membuatku tenang? Karena aku berjanji padamu, itu tidak akan membuatku tenang.”
“Apa-apa maksudmu?”
“Persis seperti apa yang kukatakan padamu. Kau
katakan padaku bahwa kau milikku, kau setuju untuk berkomitmen, mulai bercinta
denganku dan hanya itu untukmu. Tidak ada lagi menghindar dariku berkeliaran di
Seoul keluar masuk klub dengan teman-teman yeojamu. Paham?” Tangan Yunho
mencengkeram rahang Jaejoong “Tidak ada lagi clubbing tanpa aku. Tidak ada lagi
interaksi dengan namja lain. Titik.”
Jaejoong mendengarkan persyaratan Yunho, terkesima
dengan emosi yang dia lihat dalam mata Yunho. Perasaan gairah dari kebutuhan
melandanya. Yunho cemburu. Yunho posesif. Jaejoong seharusnya membencinya. Tapi
nyatanya tidak. Secara diam-diam Jaejoong menyukainya. Yunho tidak
terang-terangan tentang hal ini, tapi Jaejoong menangkap Yunho melirik ke namja
lain jika saja mereka mengamati Jaejoong.
Persyaratan Yunho tidak membuat Jaejoong khawatir.
Jaejoong tidak harus pergi clubbing tanpa Yunho. Jaejoong juga tak ingin Yunho
pergi tanpa dirinya dan Jaejoong lalu mengatakan itu kepada Yunho.
“Aku tak akan pergi clubbing tanpamu, tapi kau juga
tak akan pergi tanpaku, iya kan?”
“Iya, sayang.” Tangan Yunho melebar di rambut
Jaejoong dan menyusup ke dalam kulit kepalanya.
“Tapi sesekali kita masih akan pergi berdansa, kan?
Kau akan mengajakku?”
“Ya, sayang. Apapun yang kau mau.” Mulut Yunho
menggigit lembut rahang Jaejoong, lalu ke telinganya. Yunho menghisap daun
telinganya dan menyapukan giginya di daun telinga Jaejoong sementara Jaejoong
gemetar di lengannya. Yunho melepaskan mulutnya dari telinga Jaejoong dan
mengangkat wajah Jaejoong untuk memandangnya dan menunggu mata Jaejoong untuk
secara perlahan terbuka. “Kalau begitu selesai? Negosiasi berakhir? Kau setuju?
Kau secara resmi sudah menjadi milikku sekarang, tidak lagi ada masalah yang
berkeliaran, tidak ada lagi omong kosong diantara kita.”
Rasa bahagia menembus ke dalam diri Jaejoong.
Jaejoong tak akan membiarkan rasa takut menghalangi kebahagiaannya. Dan Yunho
membuatnya bahagia. “Ya.” Yunho menghembuskan nafas tertahannya. Persetujuan
Jaejoong membuat Yunho tenang tapi juga membakarnya.
“Berapa banyak kau telah minum malam ini?”
Perubahan subjek pembicaraan membuat Jaejoong
benar-benar terkejut. “Um, sekitar setengah gelas wine. Wae?”
Yunho berdiri, menggendong Jaejoong dengan
lengannya dan berjalan ke kamar tidur utama. Yunho berhenti disebelah tempat
tidur besar dan menurunkan Jaejoong. Tangan Yunho sampai pada kancing paling
atas kemeja Jaejoong dan membukanya.
Yunho akhirnya menjawab. “Dibutuhkan kau dan aku di
atas tempat tidur ini. Tidak ada pengaruh alkohol diantara kita. Tidak ada
perasaan palsu. Hanya kemanisanmu. Hanya tubuh tanpa busanamu.“ Jemari Yunho
menggapai kancing berikutnya dan Suara Yunho menjadi pelan. “Semua yang aku
inginkan adalah kau, Boo. Kau tahu itu sayang?”
Jaejoong mendengar ketulusan di suara Yunho dan
terkesima karena merasakan tangan Yunho gemetar. Jaejoong mulai mempercayai
Yunho. “Y-Ya.”
“Apakah kau sudah siap sekarang, sayang? Aku tak
ingin membuatmu terburu-buru.”
Perkataan itu membuat senyum kecil di wajah
Jaejoong. “benarkah? Kau tidak ingin membuat aku terburu-buru?”
“Ouch. Rasakan hal itu Sayang.”
Jemari Jaejoong menari di wajah Yunho saat mata
Jaejoong terpaku pada Yunho dan aliran listrik mengalir deras di antara mereka.
“ Aku siap,” Jaejoong berbisik.
“Terima kasih Tuhan.”
.
.
.
.
.
.
Mulut Yunho mendarat di dahi Jaejoong dan berdiam
di sana sementara Yunho menyusupkan tangannya membuka baju Jaejoong dan
mendorong melepaskannya dari bahunya. Duduk di pinggir tempat tidur, Yunho
meletakkan tangan Jaejoong di atas paha Yunho dan membawa Jaejoong ke antara
kakinya yang terbuka.
Jaejoong berdiri diantara paha keras Yunho, tangan
Jaejoong gemetar di bahu Yunho. Yunho menyapukan jemarinya ke arah bawah ke
lembah diantara payudara Jaejoong, di atas renda merah jambu cup bra Jaejoong
lalu tangan Yunho kembali menyapu ke atas. “Tuhan, Kau begitu mempesona. Aku
tahu tubuhmu pasti mempesona.” Kata-kata Yunho bukan suatu kutukan, kata-kata
itu sebuah bisikan, doa yang khusuk.
Yunho melakukannya dengan pelan, menggerakkan
tangannya dari pinggang, kebawah panggul Jaejoong dan memutar untuk
mencengkeram pantat Jaejoong di telapak tangannya yang lebar. Yunho meremas
dengan kencang, jemarinya tenggelam ke dalam daging lembut Jaejoong.
Jaejoong gemetar di lengan Yunho saat gairah tajam
melanda sekujur tubuhnya, dari atas sampai bawah. Mulut Jaejoong mendarat pada
mulut Yunho dan mereka berciuman dengan keterburu-buruan yang panas dari lidah
dan mulut mereka. Jaejoong merasakan desakan kebutuhan dari Yunho, melayang
dari tubuh Yunho ke tubuhnya dan intensitas ini menghilangkan kesadarannya.
Lidah mereka saling menari. Tangan Yunho berada di sekujur tubuh Jaejoong dan
Yunho mulai mendorong restleting rok Jaejoong, gerakan Yunho dimulai dengan
godaan yang pelan menjadi sebuah kebutuhan seksual.
Mulut mereka terlepas. “Melangkah keluar.” Saat
Yunho mengatakan itu, tangan Yunho mendorong rok Jaejoong ke bawah kakinya.
Jaejoong mencari keseimbangan dengan meletakkan
tangannya di atas bahu Yunho dan Jaejoong mengangkat kakinya satu persatu
keluar dari roknya, sampai roknya terbaring bersama kemejanya, mendarat di kaki
Jaejoong.
Jaejoong berdiri di antara kaki Yunho dengan Bra
dan thong-nya, kaki Jaejoong gemetar di atas sepatu hak tingginya. Jaejoong
berpegangan dengan Yunho untuk mendapatkan tumpuan, nafas Jaejoong mendesah
panas, membakar tenggorokannya. Tangan Yunho menjepit pinggul Jaejoong dan celana
dalam Jaejoong banjir dengan kelembaban. Jaejoong terangsang dan gelisah dalam
jumlah yang sama.
“Shit.” Mata Yunho menyapu ke atas dan ke bawah
tubuh Jaejoong, menikmatinya untuk pertama kalinya.
Yunho merasa puas. Yunho tahu Jaejoong akan
terlihat indah. Itu sebuah berkah. Tapi keindahan tubuhnya benar-benar
mengagetkan Yunho. Jaejoong bertubuh langsing, sangat langsing, pusarnya bagian
sangat indah dari perutnya, kulitnya pucat. Payudaranya kecil tapi padat dan
bentuknya sempurna pada tubuhnya.
Dan Jaejoong gemetar oleh gairah, kebutuhan seksual
untuk berada di lengan Yunho dan Jaejoong akan segera terbakar.
Untuk Yunho.
Yunho kemudian mengetahui sebuah perasaan posesif
yang buta hadir saat Yunho memeluk Jaejoong dan pelukan Yunho menguasai Jaejoong
secara utuh. Gerakan itu mendorong lengan Jaejoong dari bahu Yunho untuk
kemudian lengannya berpindah memeluk
leher Yunho. Dada Jaejoong menekan kuat ke dada Yunho. Bibir Yunho mendarat di
telinga Jaejoong, lubang hidung Yunho pada rambut Jaejoong dan aroma Jaejoong
membuat milik Yunho mengeras menimbulkan rasa sakit. Yunho mencoba untuk
menguasai emosinya. Yunho tidak ingin membuat Jaejoong takut tapi tetap saja
mulutnya terbuka.
“Jangan pernah katakan lagi padaku bahwa kau bukan
milikku. Tidak setelah apa yang terjadi malam
ini. Apa yang terjadi. Kau milikku. Jangan pernah mengingkari itu lagi.“
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Ah... kok kayaknya Saki salah pilih tokoh ya...
Awalnya Saki milih YunJae peranin tokoh mereka disini karena pusatnya ada dimereka
Siwon kakak Jae
Heechul temen Jae
Yixing sepupu Jae
Yifan temen Yun
tapi kalau Saki liat2 konfliknya YunJae tu gak separah konfliknya FanXing...
mian ya YJS... Saki mian banget... hehehe
tapi Saki lagi mau remake lagi novel milik Abbi Glines, ceritanya lebih bikin merinding Saki sih daripada cerita ini... malah Saki agak nglupain Sacrificio gara2 Saki baca novel ini.. hehehe
tapi...tapi... kayaknya cerita ini bakalan panjaaaaaaannnnnggggg banget, soalnya trilogi... kalau yang diremake cuma 1 buku, bakalan sad ending ceritanya, tapi kalau diremake semua bakalan sampai seratusan lebih 3 buku itu... buku pertama aja 28 chapter... menurut kalian enaknya Saki remake buku itu gak? tinggalin komen ya?
Ah... kok kayaknya Saki salah pilih tokoh ya...
Awalnya Saki milih YunJae peranin tokoh mereka disini karena pusatnya ada dimereka
Siwon kakak Jae
Heechul temen Jae
Yixing sepupu Jae
Yifan temen Yun
tapi kalau Saki liat2 konfliknya YunJae tu gak separah konfliknya FanXing...
mian ya YJS... Saki mian banget... hehehe
tapi Saki lagi mau remake lagi novel milik Abbi Glines, ceritanya lebih bikin merinding Saki sih daripada cerita ini... malah Saki agak nglupain Sacrificio gara2 Saki baca novel ini.. hehehe
tapi...tapi... kayaknya cerita ini bakalan panjaaaaaaannnnnggggg banget, soalnya trilogi... kalau yang diremake cuma 1 buku, bakalan sad ending ceritanya, tapi kalau diremake semua bakalan sampai seratusan lebih 3 buku itu... buku pertama aja 28 chapter... menurut kalian enaknya Saki remake buku itu gak? tinggalin komen ya?
Iyaa aq ngerasa kalo lbh complicated kray couple dibanding yunjae...wew saki, jgn yg trilogi donk, tp terserah saki jg sih tp takutnya malah bikin km keberatan, en stop di tengah2 (trauma krn bnyak ff remake yg stop tengah jln, pdhl udh ikutin dari awal)
ReplyDeleteyg trdiri dari 3 buku tu yg choosy lover ni atw bku baru yg mo diremake? iya q baca dr chap 2 smp 4 kok yifan sama yixing trz yunjae br muncul di chap 4 tu pun dikit,
ReplyDeleteklo mo remake yg trdiri dari 3 buku ut bnrn ya updt trz takutnya wkt q udh ngikuti eh ditengah jalan saki mlh g mo ngelnjut updt kn g enk tuh
Hahahahha.. engga kok. Saki..lanjutkann.. yunjae forever
ReplyDelete