Friday, March 14

[Remake] Choosey Lover Chapter V



Yifan sudah pernah ke apartemen mereka sebelumnya bersama Yunho dan sekarang Yifan menuju ke sana.
Yixing meradang. “Apa…”
“Kau tidak akan menyetir malam ini. Jangan pernah berpikir untuk itu. Aku akan mengembalikan mobilmu besok.”
“Aku punya banyak hal yang harus aku lakukan besok pagi. Tugas yang harus aku lakukan. Ini tidak perlu…”
“Diam Yixing. Kau tadi minum dan Aku tidak sedang mood untuk mendengarkan omong kosongmu.”
Yixing duduk kembali, menutup mulutnya dan bergolak. Dia hanya minum dua kali selama periode 4 jam. Dia juga minum tiga gelas air mineral. Dia tidak mabuk. Tapi Yifan terlihat sangat marah dan Yixing begitu lelah untuk melayani kemarahan Yifan.
Besok. Saat Yifan mengembalikan mobilnya, Yixing akan mengatakan padanya apa yang Yixing pikirkan tentang sikap dan perlakukan Yifan.

Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance
Seratus dua puluh menit kemudian, mereka merapat ke dalam garasi sebuah pemukiman kelas atas yang tampak baru dibangun. Jaejoong belum pernah ke rumah Yunho sebelumnya, Tapi Yunho pernah memberitahunya kalau dia mempunyai rumah di luar Seoul, dan Jaejoong tahu disitulah kini mereka berada.
Otaknya bertarung saat Yunho menuntunnya ke dalam. Mata Jaejoong fokus pada Yunho dan tidak berusaha mengingat ruangan-ruangan yang mereka lalui sampai dengan hati-hati Yunho duduk di atas sofa besar dan menarik Jaejoong turun untuk duduk di sebelahnya.
Yunho sudah melalui minggu paling kacau dalam hidupnya dan Yunho tidak bermaksud untuk membiarkan perasaan gelap itu berlanjut. Yunho menginginkan Jaejoong dan Yunho berencana untuk mendapatkan Jaejoong. Semoga malam ini. Tapi Jaejoong sangat yakin dia tak akan bisa lagi untuk lari dari Yunho. Itu tidak akan terjadi.
Tubuh Yunho merenggang di sudut sofa dan dia menarik Jaejoong ke arahnya, lutut Jaejoong berada di antara paha Yunho yang merenggang.
Tarikan paksaan itu membuat tangan Jaejoong jatuh ke atas dada Yunho dan gairah melanda Yunho dengan keras saat selangkangan Jaejoong mendarat di perut Yunho. Jaejoong dengan cepat menarik tubuhnya menjauh dari Yunho.
Yunho memegang pinggulnya dengan genggaman yang erat saat dia berusaha untuk mengendalikan kebutuhan yang mengamuk di dalam tubuhnya. Yunho mengatakan pada Jaejoong bahwa mereka akan bicara. Mungkin ini bisa menjadi awal yang baik untuk membuat Jaejoong tahu bahwa dia bisa percaya pada perkataan Yunho. “Kita Sudah sampai, sayang.”
“Y-ya.” Jaejoong bersandar ke belakang menjauh dari Yunho, tidak membiarkan tubuhnya menyentuh Yunho. Hal ini membunuh Yunho.
Yunho menyapukan tangannya ke atas lekuk tubuh Jaejoong dan menyusupkan tangannya ke rambut Jaejoong dan merenggut kulit kepala Jaejoong. Yunho memegang Jaejoong dengan erat sehingga Jaejoong tidak bisa lari lagi. “Apa yang harus aku lakukan?” Yunho berbisik.
Jaejoong merasakan bisikan itu dan mengetahuinya, tanpa ragu, Jaejoong akan menyerah pada Yunho malam ini. Sudah waktunya. Jaejoong tak bisa menolak lagi. Tapi rasa takut Jaejoong masih kuat.
“Aku tak ingin menjadi seperti yeoja itu. Yeoja pirang di restoran waktu itu. Yeoja yang…”
“Tidak, sayang. Itu skenario yang sangat berbeda. Kau tidak seperti dia.” Yunho berhenti sejenak dan menarik nafas dalam untuk mulai mencoba membuat Jaejoong mengerti.
Jaejoong memotong proses pemikiran Yunho. “Aku tak ingin tahu soal yeoja itu. Kau tak perlu menjelaskannya. Aku hanya tidak ingin menjadi seperti dia.”
“Kau tak akan pernah bisa menjadi seperti dia. Kau berbeda dari seua yeoja yang pernah dekat denganku boo, kau special.” Ibu jari Yunho menyapu bibir bawah Jaejoong dan panah kebahagiaan menari ke tulang belakang Jaejoong.
“Aku tahu k-kau ingin tidur denganku.” Mata Jaejoong mencari mata Yunho lalu Jaejoong menunduk saat rasa panas melanda wajahnya.
“Dan aku menginginkan itu juga. Tapi aku butuh sesuatu yang lebih.”
“Apa? Apa yang kau butuhkan? katakan padaku.”
“Aku butuh komitmen.”
Yunho tak tahu apa yang membuatnya lebih kaget. Fakta yang dikatakan oleh Jaejoong atau fakta guratan kebahagiaan dan kelegaan yang intens yang melandanya pada kata-kata Jaejoong.
“Komitmen? Aku milikmu dan kau milikku bisa disebut komitmen?”
“Ya.”
“Apakah kau yakin, sayang? Karena aku harus mengatakan padamu, Aku bisa melakukan itu dengan mudah. Tak ada orang lain kecuali kita. Aku tidak ada masalah dengan komitmen. “Yunho tergoncang saat dia menyadari motifnya sudah berubah 180 derajat dari lima minggu sebelumnya. Dia berumur 26 tahun, tak pernah menginginkan pacar tetap dan tentunya komitmen jangka panjang. Tapi beberapa minggu belakangan ini dia berubah dan terlebih 7 hari belakangan ini. Yunho sudah melalui tujuh hari neraka yang tidak pernah ingin dia ulangi dalam hidupnya. Tidak pernah ingin lagi.
Jadi apakah komitmen membuat dia takut? Tentu tidak. Yunho ingin mengikat Jaejoong dengan komitmen. Yunho tak ingin perasaan sakit dan kemarahan dari pemikiran Jaejoong bersama namja lain. Itu akan sangat tidak bisa diterima. Yunho menarik nafas dalam. Yunho harus menenangkan diri dan tidak membuat Jaejoong takut dengan terlalu banyak intensitas.
Beruntungnya Yunho, Jaejoong sudah mengatakan ini dan Yunho hanya perlu menyetujuinya sebelum Jaejoong kembali lari dari Yunho. Yunho tidak ingin berada dalam kekacauan itu lagi. Tidak akan pernah. Tapi Yunho suka dengan pemikiran bahwa dia seorang namja yang baik dan Yunho harus jujur kepada Jaejoong sekarang.
Yunho memegang pipi Jaejoong di dalam telapak tangannya. “Apakah kau sendiri bisa berkomitmen, sayang? Aku sudah siap untuk membunuh namja itu malam ini. Kau pikir jika kau bercinta denganku itu bisa membuatku tenang? Karena aku berjanji padamu, itu tidak akan membuatku tenang.”
“Apa-apa maksudmu?”
“Persis seperti apa yang kukatakan padamu. Kau katakan padaku bahwa kau milikku, kau setuju untuk berkomitmen, mulai bercinta denganku dan hanya itu untukmu. Tidak ada lagi menghindar dariku berkeliaran di Seoul keluar masuk klub dengan teman-teman yeojamu. Paham?” Tangan Yunho mencengkeram rahang Jaejoong “Tidak ada lagi clubbing tanpa aku. Tidak ada lagi interaksi dengan namja lain. Titik.”
Jaejoong mendengarkan persyaratan Yunho, terkesima dengan emosi yang dia lihat dalam mata Yunho. Perasaan gairah dari kebutuhan melandanya. Yunho cemburu. Yunho posesif. Jaejoong seharusnya membencinya. Tapi nyatanya tidak. Secara diam-diam Jaejoong menyukainya. Yunho tidak terang-terangan tentang hal ini, tapi Jaejoong menangkap Yunho melirik ke namja lain jika saja mereka mengamati Jaejoong.
Persyaratan Yunho tidak membuat Jaejoong khawatir. Jaejoong tidak harus pergi clubbing tanpa Yunho. Jaejoong juga tak ingin Yunho pergi tanpa dirinya dan Jaejoong lalu mengatakan itu kepada Yunho.
“Aku tak akan pergi clubbing tanpamu, tapi kau juga tak akan pergi tanpaku, iya kan?”
“Iya, sayang.” Tangan Yunho melebar di rambut Jaejoong dan menyusup ke dalam kulit kepalanya.
“Tapi sesekali kita masih akan pergi berdansa, kan? Kau akan mengajakku?”
“Ya, sayang. Apapun yang kau mau.” Mulut Yunho menggigit lembut rahang Jaejoong, lalu ke telinganya. Yunho menghisap daun telinganya dan menyapukan giginya di daun telinga Jaejoong sementara Jaejoong gemetar di lengannya. Yunho melepaskan mulutnya dari telinga Jaejoong dan mengangkat wajah Jaejoong untuk memandangnya dan menunggu mata Jaejoong untuk secara perlahan terbuka. “Kalau begitu selesai? Negosiasi berakhir? Kau setuju? Kau secara resmi sudah menjadi milikku sekarang, tidak lagi ada masalah yang berkeliaran, tidak ada lagi omong kosong diantara kita.”
Rasa bahagia menembus ke dalam diri Jaejoong. Jaejoong tak akan membiarkan rasa takut menghalangi kebahagiaannya. Dan Yunho membuatnya bahagia. “Ya.” Yunho menghembuskan nafas tertahannya. Persetujuan Jaejoong membuat Yunho tenang tapi juga membakarnya.
“Berapa banyak kau telah minum malam ini?”
Perubahan subjek pembicaraan membuat Jaejoong benar-benar terkejut. “Um, sekitar setengah gelas wine. Wae?”
Yunho berdiri, menggendong Jaejoong dengan lengannya dan berjalan ke kamar tidur utama. Yunho berhenti disebelah tempat tidur besar dan menurunkan Jaejoong. Tangan Yunho sampai pada kancing paling atas kemeja Jaejoong dan membukanya.
Yunho akhirnya menjawab. “Dibutuhkan kau dan aku di atas tempat tidur ini. Tidak ada pengaruh alkohol diantara kita. Tidak ada perasaan palsu. Hanya kemanisanmu. Hanya tubuh tanpa busanamu.“ Jemari Yunho menggapai kancing berikutnya dan Suara Yunho menjadi pelan. “Semua yang aku inginkan adalah kau, Boo. Kau tahu itu sayang?”
Jaejoong mendengar ketulusan di suara Yunho dan terkesima karena merasakan tangan Yunho gemetar. Jaejoong mulai mempercayai Yunho. “Y-Ya.”
“Apakah kau sudah siap sekarang, sayang? Aku tak ingin membuatmu terburu-buru.”
Perkataan itu membuat senyum kecil di wajah Jaejoong. “benarkah? Kau tidak ingin membuat aku terburu-buru?”
“Ouch. Rasakan hal itu Sayang.”
Jemari Jaejoong menari di wajah Yunho saat mata Jaejoong terpaku pada Yunho dan aliran listrik mengalir deras di antara mereka. “ Aku siap,” Jaejoong berbisik.
“Terima kasih Tuhan.”
.
.
.
.
.
.
Mulut Yunho mendarat di dahi Jaejoong dan berdiam di sana sementara Yunho menyusupkan tangannya membuka baju Jaejoong dan mendorong melepaskannya dari bahunya. Duduk di pinggir tempat tidur, Yunho meletakkan tangan Jaejoong di atas paha Yunho dan membawa Jaejoong ke antara kakinya yang terbuka.
Jaejoong berdiri diantara paha keras Yunho, tangan Jaejoong gemetar di bahu Yunho. Yunho menyapukan jemarinya ke arah bawah ke lembah diantara payudara Jaejoong, di atas renda merah jambu cup bra Jaejoong lalu tangan Yunho kembali menyapu ke atas. “Tuhan, Kau begitu mempesona. Aku tahu tubuhmu pasti mempesona.” Kata-kata Yunho bukan suatu kutukan, kata-kata itu sebuah bisikan, doa yang khusuk.
Yunho melakukannya dengan pelan, menggerakkan tangannya dari pinggang, kebawah panggul Jaejoong dan memutar untuk mencengkeram pantat Jaejoong di telapak tangannya yang lebar. Yunho meremas dengan kencang, jemarinya tenggelam ke dalam daging lembut Jaejoong.
Jaejoong gemetar di lengan Yunho saat gairah tajam melanda sekujur tubuhnya, dari atas sampai bawah. Mulut Jaejoong mendarat pada mulut Yunho dan mereka berciuman dengan keterburu-buruan yang panas dari lidah dan mulut mereka. Jaejoong merasakan desakan kebutuhan dari Yunho, melayang dari tubuh Yunho ke tubuhnya dan intensitas ini menghilangkan kesadarannya. Lidah mereka saling menari. Tangan Yunho berada di sekujur tubuh Jaejoong dan Yunho mulai mendorong restleting rok Jaejoong, gerakan Yunho dimulai dengan godaan yang pelan menjadi sebuah kebutuhan seksual.
Mulut mereka terlepas. “Melangkah keluar.” Saat Yunho mengatakan itu, tangan Yunho mendorong rok Jaejoong ke bawah kakinya.
Jaejoong mencari keseimbangan dengan meletakkan tangannya di atas bahu Yunho dan Jaejoong mengangkat kakinya satu persatu keluar dari roknya, sampai roknya terbaring bersama kemejanya, mendarat di kaki Jaejoong.
Jaejoong berdiri di antara kaki Yunho dengan Bra dan thong-nya, kaki Jaejoong gemetar di atas sepatu hak tingginya. Jaejoong berpegangan dengan Yunho untuk mendapatkan tumpuan, nafas Jaejoong mendesah panas, membakar tenggorokannya. Tangan Yunho menjepit pinggul Jaejoong dan celana dalam Jaejoong banjir dengan kelembaban. Jaejoong terangsang dan gelisah dalam jumlah yang sama.
“Shit.” Mata Yunho menyapu ke atas dan ke bawah tubuh Jaejoong, menikmatinya untuk pertama kalinya.
Yunho merasa puas. Yunho tahu Jaejoong akan terlihat indah. Itu sebuah berkah. Tapi keindahan tubuhnya benar-benar mengagetkan Yunho. Jaejoong bertubuh langsing, sangat langsing, pusarnya bagian sangat indah dari perutnya, kulitnya pucat. Payudaranya kecil tapi padat dan bentuknya sempurna pada tubuhnya.
Dan Jaejoong gemetar oleh gairah, kebutuhan seksual untuk berada di lengan Yunho dan Jaejoong akan segera terbakar.
Untuk Yunho.
Yunho kemudian mengetahui sebuah perasaan posesif yang buta hadir saat Yunho memeluk Jaejoong dan pelukan Yunho menguasai Jaejoong secara utuh. Gerakan itu mendorong lengan Jaejoong dari bahu Yunho untuk kemudian lengannya berpindah  memeluk leher Yunho. Dada Jaejoong menekan kuat ke dada Yunho. Bibir Yunho mendarat di telinga Jaejoong, lubang hidung Yunho pada rambut Jaejoong dan aroma Jaejoong membuat milik Yunho mengeras menimbulkan rasa sakit. Yunho mencoba untuk menguasai emosinya. Yunho tidak ingin membuat Jaejoong takut tapi tetap saja mulutnya terbuka.
“Jangan pernah katakan lagi padaku bahwa kau bukan milikku. Tidak setelah apa yang terjadi malam  ini. Apa yang terjadi. Kau milikku. Jangan pernah mengingkari itu lagi.“
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
Ah... kok kayaknya Saki salah pilih tokoh ya...
Awalnya Saki milih YunJae peranin tokoh mereka disini karena pusatnya ada dimereka
Siwon kakak Jae
Heechul temen Jae
Yixing sepupu Jae
Yifan temen Yun
tapi kalau Saki liat2 konfliknya YunJae tu gak separah konfliknya FanXing...
mian ya YJS... Saki mian banget... hehehe
tapi Saki lagi mau remake lagi novel milik Abbi Glines, ceritanya lebih bikin merinding Saki sih daripada cerita ini... malah Saki agak nglupain Sacrificio gara2 Saki baca novel ini.. hehehe
tapi...tapi... kayaknya cerita ini bakalan panjaaaaaaannnnnggggg banget, soalnya trilogi... kalau yang diremake cuma 1 buku, bakalan sad ending ceritanya, tapi kalau diremake semua bakalan sampai seratusan lebih 3 buku itu... buku pertama aja 28 chapter... menurut kalian enaknya Saki remake buku itu gak? tinggalin komen ya?

3 comments:

  1. Iyaa aq ngerasa kalo lbh complicated kray couple dibanding yunjae...wew saki, jgn yg trilogi donk, tp terserah saki jg sih tp takutnya malah bikin km keberatan, en stop di tengah2 (trauma krn bnyak ff remake yg stop tengah jln, pdhl udh ikutin dari awal)

    ReplyDelete
  2. yg trdiri dari 3 buku tu yg choosy lover ni atw bku baru yg mo diremake? iya q baca dr chap 2 smp 4 kok yifan sama yixing trz yunjae br muncul di chap 4 tu pun dikit,

    klo mo remake yg trdiri dari 3 buku ut bnrn ya updt trz takutnya wkt q udh ngikuti eh ditengah jalan saki mlh g mo ngelnjut updt kn g enk tuh

    ReplyDelete
  3. Anonymous3:51 PM

    Hahahahha.. engga kok. Saki..lanjutkann.. yunjae forever

    ReplyDelete