Thursday, March 13

[Remake] Choosey Lover Chapter IV


“Ini tak akan berhasil. Aku namja dewasa. Kau tidak bisa memperdaya atau menggiringku ke dalam sesuatu yang tidak aku inginkan.”

“Ah gurae?” Nada suara Yixing menggambarkan bahwa dia tidak percaya padanya.

“Aku benar.”

“Hemm.” Yixing menjawab Yifan dengan cara yang jelas ingin membuat Yifan menjadi lebih marah lagi.

Yixing benar. Jawaban singkat satu katanya membuat Yifan menjadi lebih marah. Tubuh Yifan maju satu inchi lebih dekat untuk mengancam dan mulut Yifan terkatup membentuk garis lurus yang rapat.

Yixing menegangkan tubuhnya terhadap tubuh Yifan dan menghantam Yifan dengan ungkapan yang terkenal tepat di wajahnya. “Baiklah Yifan. Aku menangkap apa yang kau katakan dengan sangat jelas. Biarkan aku pergi. Ada namja lain yang tak akan keberatan untuk berdansa denganku.”

Yifan menahan Yixing dengan erat, ekspresinya berubah menjadi muram.

“Kau harus berhati-hati, yeoja kecil.” Itu sebuah peringatan. Yifan mengatakannya dengan nada suara rendah, menggertak, suara Yifan bergetar jauh dari dalam dada Yifan.


Choosey Lover

©Kitahara Saki

Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan

©their self

Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya  Lynda Chance

“Aku selalu hati-hati. Meskipun itu bukan urusanmu. Kau bukan kakakku.” Kata-kata Yixing menjadi antagonis.

“kau benar.” Mata Yifan menyapu tubuh Yixing dari atas ke bawah.

“Bagus. Biarkan aku pergi.” Yixing berkata.

“Sebentar lagi.” Yifan tidak terburu-buru.

“Sekarang.” Tuntut Yixing.

“Tidak. Aku katakan padamu untuk berhati-hati berada di sekitarku. Hati-hati untuk apa yang kau katakan padaku. Hati-hati untuk melemparkan omong kosong seperti itu di wajahku. Kau mungkin tak akan suka dengan konsekuensinya.“

“Kau baru saja bilang padaku bahwa kau tak menginginkanku, lalu kenapa harus ada konsekuensi? Kau tak perduli dengan apa yang aku lakukan atau dengan siapa aku melakukannya.”

“Itu sama sekali tidak benar dan aku tak pernah mengatakan aku tidak menginginkanmu.“

“ini semua tentang hal itu, kan? kau memperingatkanku karena kau tak menginginkanku, kau ingin aku meninggalkanmu sendiri.”

“Aku tak ingin mendekatimu karena Jaejoong. Aku ingin kau menjauh dariku karena kau masih berumur 21 tahun. Aku ingin kau menjauh dariku karena kau tak akan tahu bagaimana mengatasi laki-laki seperti aku.“ Dengan fasih, pernyataan non-verbal, tangan Yifan naik ke bahu Yixing, menyapu kulit lembut Yixing dan memeluk leher Yixing dan meremasnya dengan lembut. Mata Yifan menyala, ekspresi Yifan kasar. “kau tak tahu bagaimana ini akan terjadi diantara kita.”

Yifan menekan jemarinya ke leher Yixing dan mata Yixing melebar saat kebutuhan seksual panas melandanya.

Perasaan ganda dari gairah keingintahuan dan ketakutan menghantam perut Yixing secara bersamaan. “B-bagaimana ini akan terjadi diantara kita?”

Yixing merasakan nadi di lehernya berdenyut keras dibawah sentuhan telapak tangannya yang kasar.

Mata Yifan menyapu wajah Yixing, tulang pipi Yixing, bibirnya yang bergetar. “Itu akan jadi intens, yeoja manis. Sangat intens.”

Jantung Yixing berpacu dengan cepat saat sulur-sulur keinginan melanda dirinya yang hampir melumpuhkannya. “Yifan, Jebal.”

“Tidak, ini tak akan berhasil.” Suara Yifan datar.

“Jebal,” Yixing berbisik. Yixing tahu saat ini Yixing memohon kepada Yifan, tapi tampaknya Yixing tidak perduli.

“Tidak, ini tak akan berhasil,“ Yifan mengulangi, kata-katanya keluar dengan lebih lembut.

Dalam keputus asaan, Yixing mulai mencari dalih. “Ok. Ini tak akan berhasil. Arratta.” Denyut nadinya berpacu dengan sengit sampai ke otaknya. Yixing menjilat lidahnya. “Jebal, Satu ciuman saja. Jadi aku bisa tahu.” Mata Yixing memandang Yifan.

Yifan mempelajari bibir Yixing dan kebutuhan di dalam mata Yixing. Yifan memindahkan satu tangan dari leher Yixing dan menyapukannya ke pipinya dengan lembut. Tangannya terus menyapu membentuk alur ke rambut Yixing dan mencengkeram kulit kepalanya. Tangan Yifan yang lain jatuh dari leher Yixing dan memeluk pinggangnya, mengangkat tubuhnya hingga berjinjit dan menarik tubuh Yixing ke tubuhnya.

Pandangan mereka saling bertemu dan tertahan saat gairah seksual melingkupi di antara mereka.

Paru-paru Yifan menarik masuk oksigen. “Seharusnya aku tidak melakukan hal ini. Aku hanya akan menghukum diriku sendiri.“ Kata-kata Yifan seperti kesedihan.

“Jebal oppa.” Yixing berbisik.

“Itu terdengar sangat indah saat kau memohon padaku. Aku sudah membayangkanmu ketika kau memohon padaku.”

.

.

.

.

.

Musik berubah menjadi bernada cepat dan Yunho menarik Jaejoong ke meja dimana Jaejoong dan teman-temannya berada tadi. Jaejoong mengatakan pada Heechul bahwa dia akan diantar pulang. Jaejoong memandang sekeliling untuk mencari Yixing, tapi tidak bisa menemukannya.

Heechul melirik kepada Jaejoong dan Yunho, tapi Jaejoong bertingkah bagai robot, mengikuti perintah Yunho.

Yunho bicara kepada Heechul, “Kalian akan diantar oleh Yifan, Ok?”

Mata Heechul menjadi dingin dan dia memandang Yunho dengan tatapan menuduh. Heechul menunggu sejenak kemudian menjawab “Terserah.”

.

.

.

.

.

.

Kenikmatan bergelung menjalari tubuhnya saat Yixing menyadari bahwa Yifan juga berpikir tentang bagaimana hal ini akan terjadi diantara mereka.

Yifan menenggelamkan kepalanya dan mulutnya dekat ke arah Yixing, membuat Yixing menahan oksigen di paru-parunya. Yixing merintih saat lidah Yifan mendorong ke dalam mulutnya.

Lutut Yixing mulai gemetar dan kupu-kupu mulai berkibar di dalam perutnya saat aroma Yifan, rasa Yifan secara ampuh mempengaruhi dirinya.

Yixing menggelantung di lengan Yifan saat ia berusaha untuk membuat otaknya berfungsi. Ia hanya memiliki satu pikiran. Yifan akhirnya menciumnya!

Tapi sesegera pikiran itu datang, keputusasaan melandanya saat ia menyadari ciuman apa yang diberikan Yifan padanya.

Ciuman hukuman.

Ciuman yang dipenuhi dengan kemarahan dan hukuman setimpal. Dan kelaparan. Oh, Ya. Yixing merasakannya. Kelaparan Yifan. Tapi Yixing juga merasakan kemarahan Yifan saat tangannya mengangkat wajah Yixing dan menahannya, lidah Yifan menusuk secara berulang-ulang ke dalam mulut Yixing seperti Yifan tak pernah merasa cukup. Seperti Yifan tak bisa merasa cukup dan ingin menghukumnya untuk itu.

Kenapa begitu banyak kemarahan? Apa yang telah Yixing lakukan pada Yifan?

Yixing bertahan di lengan Yifan, kesunyian yang pedih melanda Yixing. Ia tak menginginkan ciuman semacam ini yang diberikan Yifan padanya. Ia ingin ciuman yang manis, ciuman yang lembut. Penuh dengan kelaparan, ya. Tapi tidak kemarahan. Ia tak pantas menerima kemarahan Yifan.

Yixing merintih di belakang tenggorokannya, menyarangkan tangannya di dada Yifan dan mulai mendorong. Tangan Yifan menjadi lebih erat mencengkeram Yixing dan Yixing sejenak berpikir Yifan tidak akan melepaskannya. Tapi lalu Mulut Yifan terlepas dari mulutnya dan mereka berdiri bersama, menghisap oksigen dan saling memandang seperti dua orang petarung dalam duel untuk memperjuangkan hidup.

Mata Yixing menyipit dan ia melemparkan pandangan yang panas dan menuduh ke arah Yifan.

Yifan tetap diam dan Yixing memberikan Yifan balasan atas perlakuannya. “Ok. Sekarang aku tahu bagaimana rasanya. Kau benar. Ini tidak akan berhasil. Aku ingin kau meninggalkan aku sendiri. Kau kasar, kacau, bajingan yang egois. Biarkan aku sendiri.” Perasaan benci yang tajam nampak di dalam suara Yixing.

“Hanya karena hal terjadi tidak sesuai dengan apa yang kau inginkan…” Api kemarahan bercampur dengan gairah bergejolak ke dalam diri Yifan.

“Tinggalkan aku sendiri Wu Yifan!” Yixing berteriak di depan wajah Yifan dan menarik diri dari Yifan.

Tangan Yifan terangkat dari Yixing dan Yixing menyapukan punggung telapak tangannya ke mulutnya mencoba untuk menghapus ciuman hukuman darinya, mencoba untuk menunjukkan pada Yifan betapa dalam rasa benci dirinya.

“Bajingan.” Yixing mengatakan itu sambil mendengus, berbalik dan mulai berjalan menjauh.

Yifan meraih tangan Yixing dan mencoba untuk, apa? Minta maaf? “Yixing…”

Yixing menyela Yifan dengan menyentakkan tangannya dan menjerit. “Pergi.”

Yifan mengangkat tangannya dari Yixing dan melepaskan pegangannya. Yixing memandang Yifan untuk terakhir kalinya lalu kembali menuju keramaian dan musik.

.

.

.

.

Jaejoong membiarkan Yunho menuntunnya ke Audi milik Yunho dan sebelum Jaejoong menyadari mereka sekarang sudah berada di jalan tol menuju ke arah keluar kota.

“Kemana kita?”

Yunho mengalihkan pandangan sejenak dari jalan dan memandang tubuh kecil Jaejoong gemetar disebelahnya.

Yunho mengalihkan pandangannya dari Jaejoong dan menjawab, “Ke suatu tempat dimana kita bisa bicara hal pribadi tanpa sejuta orang berada di sekitar kita.”

Itu sebuah jawaban yang mengelak dan untuk pertama kalinya Jaejoong tidak berusaha untuk melawan.

.

.

.

.

Satu setengah jam kemudian, Yifan duduk di atas kursi barnya dengan marah, tangannya memegang bir keduanya malam ini. Yixing berubah menjadi bola liar yang panas sebagai balas dendam seorang yeoja saat ia dengan sengaja membuat malam Yifan menjadi sangat menyedihkan dengan cara menari dengan semua namja sialan di klub dan tidak pernah sekalipun memandang Yifan.

Ini sebuah hukuman, Yifan merasakan ini sangat berat.

Tubuh mungil berlekuk Yixing mengacaukan kepala Yifan yang Yifan sendiri bahkan tak bisa membuat dirinya berpikir.

klub akan segera tutup dan Yifan duduk menunggu dua yeoja yang akan memberikannya tumpangan. Yunho sudah menelantarkannya saat dia mendapatkan kesempatan untuk bersama Jaejoong.

Heechul tadi melintas di hadapannya dan mengatakan padanya mereka akan memberikan dia tumpangan.

Yifan mengamati kedua sahabat itu di lantai dansa sekarang. Heechul langsing dengan rambut sewarna milik Yixing. Heechul cantik. Para namja mendekatinya sepanjang malam. Mata Heechul memandang mereka dengan tatapan tidak tertarik, dan seperti yang heechul tahu, itu justru membuat para namja itu semakin tertantang.

Heechul sangat menawan, tapi Yifan harus mengakui bahwa dirinya tidak tertarik dengan heechul dan matanya terus beralih tanpa ragu ke teman sekamar heechul. Yifan seketika tersentak lagi, dengan kefemininan Yixing. Yixing kecil dan mempesona, dengan pinggul yang ramping dan payudara yang belum lama tadi, berada di bawah sentuhannya.

Yifan gatal untuk merasakannya lagi.

Yifan sudah sangat menginginkan Yixing sejak bertemu dengannya, tapi Yifan waktu itu sangat sibuk dengan pekerjaannya sehingga dia tak punya waktu untuk melakukan apa pun. Yifan juga belum memutuskan apakah dia harus melakukan sesuatu atau tidak soal itu. Umurnya selalu menjadi penghalang, mengacaukan rencana yang dibuat untuk Yixing.

Yixing hanya 5 tahun lebih muda dari Yifan tapi karena Yixing 21 tahun maka 5 tahun perbedaan umur itu menjadi berarti. Yifan sudah berada di wilayah ini cukup lama, sering terlihat. Yifan memiliki kebaikan di dalam dirinya untuk menyadari bahwa Yixing akan sangat terluka jika Yifan mempermainkannya. Otak Yifan sudah berdansa menginginkan dia tapi di satu sisi ingin melindungi Yixing dari dirinya.

Tapi sial, pandangan di mata Yixing saat Yixing memohon Yifan untuk menciumnya tadi. Itu bukan sesuatu yang dengan mudah dapat dilupakan oleh Yifan.

Yifan tahu dia harus mencoba. Sial. Yifan benar-benar tak ada pilihan. Ia punya banyak pilihan tapi sudah berjanji pada Yunho untuk tidak mendekati Yixing.

Jika dilihat kembali, seharusnya Yifan mengajak Yixing berkencan pada malam pertama mereka bertemu. Jika waktu itu Yifan mengajaknya berkencan, mendeklariskannya dari awal, maka Yunho tak akan bisa memberikannya omong kosong seperti ini. Tapi siapa yang tahu akan ada batas waktu untuk mengajak Yixing kencan? Yifan mempunyai urusan pada pekerjaannya yang membutuhkan perhatian penuh dari dirinya. Dan sekarang Yunho menghadapi masalah ini.

Ini situasi benar-benar kacau. Yifan seharusnya sudah mendapatkan Yixing di atas tempat tidurnya beberapa minggu lalu. Dan sekarang Yifan hanya menghadapi kekacauan.

Tangan Yifan terikat.

Oh Tuhan.

Yifan meneguk bir-nya lagi dan meringis saat dia menyadari dia membiarkan minumannya menjadi hangat.

Yifan meletakkan gelas kosongnya di bar di hadapannya dan mengalihkan perhatiannya kepada dua yeoja itu. Mereka berdua minum dan Yifan khawatir tentang mereka yang harus berkendara. Yifan tak tahu mobil siapa yang mereka bawa, dan Yifan juga tidak perduli.

Yifan yang akan menyetir.

Dengan tujuh gelas yang sudah dihabiskannya, Yifan tanpa ragu lebih aman berada di belakang kemudi dari pada salah satu dari kedua yeoja itu.

Yifan duduk, merenung dalam diam dan menunggu sampai dansa terakhir berakhir dan kedua yeoja itu menyusup ke arahnya. Heechul bicara, “Ayo kita pulang Kris.”

Yifan berdiri dan memandang ke arah Yixing yang berdiri di belakang dan merogoh kunci ke dalam kantong celananya.

Jadi mereka memakai mobil Yixing.

Yixing benar-benar mengabaikan Yifan, jadi Yifan hanya menarik diri ke belakang dan mengikuti kedua yeoja itu ke tempat parkir. Beberapa namja seperti hendak bergerak menghampiri mereka, tapi kedua yeoja itu tampak tidak sadar dan Yifan berdiri tegap dan memberikan isyarat pada para namja itu bahwa mereka jangan mengganggu kedua yeoja ini.

Udara larut malam terasa dingin. Yifan menunggu sampai Yixing berjalan ke lexus biru dan Yifan bergerak ke depan ke arah Yixing dengan sangat santai dan membuat Yixing kaget.

“Aku akan membukakan pintunya.” Yifan mengulurkan tangannya untuk menerima kunci dan Yixing dengan ragu-ragu menyerahkan kepada Yifan.

Setelah Yifan menerima kunci di tangannya, sikap Yifan berubah. Yifan meraih Yixing dengan tangannya dan mengarahkannya ke kursi penumpang. Yifan membuka kunci, membuka pintu dan mendorong Yixing ke dalam. “Aku yang akan menyetir.” Kata-katanya tegas dan menuntut.

Yixing melihat Heechul naik ke kursi belakang mobil tanpa berdalih dan Yixing memutuskan tak ada gunanya membantah. Jika Yifan ingin menyetir ke rumahnya itu tidak masalah. Setelah itu Yixing akan menyetir.

Tapi faktanya kemudian, tidak seperti itu.

Yifan sudah pernah ke apartemen mereka sebelumnya bersama Yunho dan sekarang Yifan menuju ke sana.

Yixing meradang. “Apa…”

“Kau tidak akan menyetir malam ini. Jangan pernah berpikir untuk itu. Aku akan mengembalikan mobilmu besok.”

“Aku punya banyak hal yang harus aku lakukan besok pagi. Tugas yang harus aku lakukan. Ini tidak perlu…”

“Diam Yixing. Kau tadi minum dan Aku tidak sedang mood untuk mendengarkan omong kosongmu.”

Yixing duduk kembali, menutup mulutnya dan bergolak. Dia hanya minum dua kali selama periode 4 jam. Dia juga minum tiga gelas air mineral. Dia tidak mabuk. Tapi Yifan terlihat sangat marah dan Yixing begitu lelah untuk melayani kemarahan Yifan.

Besok. Saat Yifan mengembalikan mobilnya, Yixing akan mengatakan padanya apa yang Yixing pikirkan tentang sikap dan perlakukan Yifan.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continue

2 comments:

  1. chap ini sm yg sblmnya yj momentnya sdkt;;;; update terus ya^^

    ReplyDelete
  2. Anonymous3:26 PM

    Wahhh sepertinya yifan n yixing akan berteman baik..hahh

    ReplyDelete