“Dengar,
kita akan menemui jalan buntu dan aku tak akan tidur denganmu, jadi kurasa…”
Kepala
Yunho bergerak turun dan bibirnya mendarat di bibir Jaejoong dalam ciuman
memaksa yang menghilangkan pikiran Jaejoong dari kepalanya dan oksigen dari
paru-parunya. Yunho menekan punggung Jaejoong ke pintu depan apartemen Jaejoong
dan mengurung Jaejoong dalam tubuhnya. Lidah Yunho menari dengan lidah Jaejoong
dan satu tangannya tenggelam di dalam rambut Jaejoong sementara tangannya yang
lain memeluk pinggang Jaejoong dan menggangkat tubuh Jaejoong ke atas tubuhnya.
Tubuh
Jaejoong dibanjiri oleh gairah seksual Yunho dan pikiran Jaejoong mati
seketika. Saat Jaejoong berpikir semua sudah hilang, Yunho mengangkat kepalanya
dan matanya terjerat pada mata Jaejoong.
“Jangan
pernah sekalipun berpikir seperti itu, Jae. Kau tak akan bisa menjauh dariku
semudah itu. Kau ingin terus bermain seolah-olah kau sulit untuk didapatkan?
Aratta.“ Tangan Yunho meremas Jaejoong dengan sangat keras sehingga Jaejoong
mengalami kesulitan untuk mendapatkan oksigen. “Aku ada presentasi besok malam,
tapi aku akan menjemputmu jumat malam jam 7. Bersiap-siaplah.”
Yunho
mencium bibir Jaejoong sekali lagi untuk terakhir kalinya lalu berbalik dan
meninggalkan Jaejoong berdiri di depan pintu.
Choosey Lover
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Kim Heechul, Choi Siwon, Zhang Yixing, Wu Yifan
©their self
Marga disesuaikan, Remake dari Novel karya
Jumat malam, Jaejoong duduk didepan
Yunho dalam sebuah Restoran , meneguk segelas wine dan mempertanyakan
kewarasannya. Mereka sudah memesan dan perhatian Yunho terpusat padanya,
sementara winenya sama sekali tidak tersentuh.
Kencan kali ini menjadi berbeda dari kencan sebelumnya. Sebelumnya
mereka berdua tidak pernah kencan direstoran. Jaejoong dan Yunho lebih memilih
makan di kafe dekat tempat kerja Jaejoong. Sikap Yunho juga berubah. Sikap
bermain-mainnya seperti percakapan awal saat masa perkenalan dengan Jaejoong
benar-benar hilang. Sekarang hanya ada fokus, tidak ada celah, dan intensitas
kepribadian Yunho dominan dan lebih dari apa yang bisa diatasi oleh Jaejoong.
Tangan Kanan Yunho berada diatas meja dan menangkup tangan
Jaejoong yang ada diseberangnya sementara mata musangnya sedari tadi memandang
Jaejoong intens. “Kau sangat cantik.”
Nafas Jaejoong tersangkut di paru-parunya dan dia tetap
diam.
“Malam saat kita bertemu kau membuatku tergila-gila. Aku
sangat ingin menyentuhmu. Apakah kau tahu aku memandangmu hampir satu jam
sebelum aku mengajakmu berdansa? Aku mengamatimu duduk di kursi bar itu dengan
teman-temanmu, menolak beberapa namja, satu demi satu. Aku tak ingin menjadi
namja yang ditolak. Menjadi salah satu namja yang kau buat gila. Kau sangat mempesona
dan semua hal yang bisa aku pikirkan hanya untuk mendapatkanmu. Lalu kau
berdansa dengan bajingan itu. Aku hampir saja meledak, boo. Aku harus menjaga
emosiku. Aku belum pernah merasa takut untuk mengajak seorang yeoja berdansa
sebelumnya.“
“Kau tidak mengajakku untuk berdansa.” Jaejoong berbisik.
“Aku tidak mengajakmu berdansa?” Yunho terdengar bingung.
“Kau mencengkeram tanganku dan menarikku dari kursiku.”
Jaejoong mengatakannya dengan lembut.
Jemari Yunho bergerak maju mundur dan kemudian naik ke
rambutnya saat dia tersenyum dengan perkataan itu.
Tangan Yunho jatuh dari telinga Jaejoong dan mendarat di
bahunya, tangan Yunho menyusup dan meraba tulang leher Jaejoong. Yunho
menyapukan jemarinya maju mundur di atas kulit Jaejoong. Tangannya lalu kembali
ke bahu Jaejoong lalu mencengkeram. “Aku sangat menginginkanmu, Aish
kebutuhanku akan dirimu membuatku gila boo.”
Mata Jaejoong bertemu dengan mata Yunho dan perut Jaejoong
bergetar dengan kenikmatan rahasia.
Mata Yunho menelan Jaejoong seutuhnya dan Jaejoong tak dapat
memberikan jawaban.
“Apa lidahmu dimakan gajah, boo?”
“A..Ani.” Jaejoong mengalihkan pandangannya dari Yunho.
“Aku ingin mengajakmu ke atas tempat tidur. Penantian ini
benar-benar konyol, boo. Menurutmu apa yang akan terjadi? Menurutmu aku akan
kehilangan kesabaran dan tak akan menelponmu lagi?”
“M..Molla,” Jaejoong menjawab Yunho dengan jujur.
“Itu tidak akan terjadi, Sayang. Kau membuat aku begitu
keras untukmu, hal ini tidak akan berakhir dengan cepat. Kau tahu ini bukan
soal aku yang mau berhubungan seks. Aku bisa mendapat teman tidur kapanpun.”
Mata Yunho jatuh ke bibir Jaejoong dan perlahan kembali ke mata Jaejoong. “Ini
soal kau Boo, hanya kau.”
Bagaimana Jaejoong bisa menolak Yunho? Hati Jaejoong
tertumbuk saat dia menyadari Yunho benar-benar serius untuk menggodanya malam
ini. Sisi Yunho yang santai sudah menghilang. Digantikan denga pribadinya yang
perayu.
Jaejoong akan terperangkap. Jaejoong tahu dia akan
terperangkap. Jaejoong hanya seorang manusia biasa pada akhirnya. Dan Jaejoong
juga sangat menginginkan Yunho, Sangat ingin.
Jaejoong terselamatkan dari pemikiran itu saat pelayan
datang mengantarkan makanan mereka ke atas meja. Intensitas Yunho sedikit
berkurang saat dia mengangkat garpu dan mulai menyantap makanan. Selera makan
Jaejoong sudah hilang sejak tadi. Emosi Jaejoong berantakan dan otaknya,
tubuhnya mengalami pertempuran internal yang begitu berisik, Jaejoong terpesona
karena Yunho tidak dapat merasakannya.
Jaejoong mengambil makanannya dan dengan hati-hati meneguk
wine-nya.
Jaejoong merasa lebih dari hanya sekedar melihat Yunho
terpaku di sebelahnya dan Jaejoong melihat ke atas untuk melihat seorang yeoja
pirang yang tinggi dan cantik berjalan ke arah mereka, tatapan tajam yeoja itu
mengarah pada Yunho.
Yeoja pirang itu berhenti di depan meja dan memandang Yunho,
tatapan kebencian muncul dari matanya.
Jaejoong memandang mulut yeoja pirang ini terbuka dan
Jaejoong terpaku saat kata-kata pedas mulai keluar. “Kau benar-benar bajingan
brengsek, Jung. Sampah yang tak berharga.” Yeoja pirang ini memandang Jaejoong.
“Jangan sampai tertipu oleh dia. Karena semua darinya hanya itu. Sampah.”
Yeoja pirang itu berbalik dan pergi secepat kedatangannya.
Keheningan hadir diantara mereka saat Jaejoong menjatuhkan
garpu dari tangannya. Suara nyaring garpu menghantam piring. Tangan Jaejoong
gemetar saat dia meneguk wine yang sangat ia butuhkan.
Pelayan lalu datang dan sebelum Yunho dapat bicara, Jaejoong
melirik ke arah Yunho. “Tolong, Bisakah kami m-mendapatkan tagihannya?”
Suara Jaejoong terdengar kaget dan kecewa bahkan bagi
telinganya sendiri. Udara ketegangan yang tebal hadir di atas meja mereka.
Pelayan memandang mereka berdua dan tanpa mengucapkan apapun berbalik pergi
untuk mengambil tagihan makan mereka.
Yunho tegang disamping Jaejoong dan insting bertahannya
berubah menjadi peringatan berwarna merah. “Demi Tuhan, Jaejoong, berikan aku
kesempatan untuk menje….“
Jaejoong memotong kata-kata Yunho. “Aku ingin pulang.”
“Tidak, Sayang. Kau harus mendengarkan aku…”
“Tidak aku tidak mau.” Suara Jaejoong dingin.
“Yeoja itu bukan siapa-siapa Boo! Benar-benar bukan
siapa-siapa. Lupakan yang tadi terjadi.”
Yunho tahu kalimat kedua yang keluar dari mulutnya merupakan
suatu kesalahan. Jaejoong membuang pandangannya dari Yunho, tapi sebelum wajah
Jaejoong menjadi pucat dan matanya dipenuhi air mata.
Dasar bajingan!
.
.
.
.
.
Perjalanan pulang menuju apartemen Jaejoong benar-benar
penuh dengan keheningan. Yunho benar-benar marah pada yeoja sialan bernama Jessica
itu dan Yunho marah pada Jaejoong karena percaya pada kebohongan yang sudah
diucapkan Jessica. Tapi Yunho paling marah pada dirinya sendiri untuk caranya
yang sangat buruk dalam menghadapi hal ini. Kau akan berpikir Yunho tidak
memiliki sel otak di dalam kepala sialannya.
Mereka merapat ke bagian depan gedung apartemen Jaejoong dan
Jaejoong membuat gerakan menyentak untuk membuka pintu mobil. Yunho
menghentikan Jaejoong dengan meletakkan tangannya di lengan Jaejoong.
“Berhenti. Aku akan membukakan pintu seperti yang selalu aku lakukan.” Suara
Yunho kasar. Yunho marah.
Jaejoong tetap duduk dan menunggu sementara Yunho berjalan
memutar ke depan mobil dan membukakan pintu.
“Kau tak perlu mengantarkanku ke atas.” Suara Jaejoong
menandakan perpisahan.
“Aku akan mengantarkanmu ke atas. Aku selalu mengantarkanmu
sampai atas, iya kan?”
Jaejoong berpaling dan berjalan menuju tangga saat Jaejoong
merogoh ke dalam tasnya untuk mencari kunci.
Jaejoong memasukkan anak kunci ke dalam. “Pergilah, jangan
menemuiku lagi Jung!.” Kata perpisahan itu final dan mutlak. Tangan Jaejoong
meraba-raba kunci dan tersentak saat tangan Yunho mendarat di tangannya dan
memutar tubuh Jaejoong untuk menghadapnya.
“Apa maksudmu!” tangan Yunho meraih rambut Jaejoong dan
menarik kepala Jaejoong ke arahnya. Mata Yunho berkilau ke dalam mata Jaejoong.
Jaejoong menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk bicara
sebelum mulut Yunho mendarat di atas mulutnya. “Sudah cukup Yun. Kita bera…”
Lidah Yunho masuk lebih dalam, lengan Yunho mengunci lengan
Jaejoong dan mengangkat Jaejoong ke atas tubuh Yunho. Cengkeraman Yunho erat,
intensitasnya kasar.
Kepala Yunho terangkat. “Kau milikku Jae. Sebaiknya kau
membiasakan diri dengan itu.“ Yunho yang perayu hilang. sekarang hanya ada
Yunho yang sangat kasar.
Jaejoong menggelengkan kepalanya, membantah Yunho. “Ani, Aku
s..selesai Yun. Aku tak pernah merasa nyaman bersamamu.”
Jaejoong melepaskan lengan Yunho dan memutar kunci di pintu.
Yunho mencengkeram lengan Jaejoong dan membalikkan badannya
menghadap Yunho, “Kau yakin kau ingin melakukan ini, Jae? Ada yeoja lain di
dunia ini, kau tahu itu, kan? Jangan melakukan kesalahan dengan berpikir kau
bisa mengendalikanku dengan sebuah tali.” Kemarahan dan frustasi mengalir dari
Yunho dan membuat Yunho mengatakan hal-hal yang tidak bermaksud untuk dia
katakan. “Aku tak akan peduli dengan sikapmu..”
“Baik. Jangan peduli dengan sikapku. Pergilah!” Jaejoong
membentak kata itu pada Yunho lalu membanting pintu di depan mukanya.
.
.
.
.
.
Jaejoong menghabiskan akhir pekannya dan minggu berikutnya
dengan menangis dan menolak untuk memikirkan tentang Yunho. Jaejoong berangkat
kerja dan langsung pulang ke rumah untuk menonton TV meringkuk dengan erat dan
hampir tidak memakan apapun.
Kamis malam, teman seapartemennya, Heechul dan Yixing,
merasa benar-benar terganggu dengan Jaejoong yang terus mengurung diri di dalam
kamarnya. “Kau akan pergi dengan kita ke luar besok malam. Kita tidak menerima
jawaban tidak.”
Heechul adalah sahabat Jaejoong. Mereka sudah saling
mengenal sejak mereka berumur sepuluh tahun. Mereka sudah bersahabat selama
lima belas tahun.
Yixing adalah adik sepupu Jaejoong. Jaejoong selalu bersifat
protektif kepada Yixing, seperti Jaejoong akan bersikap kepada adiknya.
Mereka bertiga sudah tinggal di apartemen yang sama selama
tiga tahun, sejak Yixing lulus dari SMA. Ketiga yeoja ini teman yang sangat
dekat. Mereka mengetahui diri mereka masing-masing luar dan dalam.
Jaejoong tahu dia akan kalah dalam argumen tentang pergi ke
luar dengan mereka. Kedua yeoja ini sangat mengenal Jaejoong; mereka tahu
tombol mana yang harus ditekan. Jika mereka memutuskan untuk bersama-sama
menarik Jaejoong keluar malam, mungkin itu akan terjadi.
Walau begitu Jaejoong tetap mendebat mereka, hanya untuk
bersenang-senang. “Kenapa kita harus pergi ke luar? Untuk apa? Mereka semua
brengsek. Semua namja hidup itu brengsek.”
Yixing memotong Jaejoong dengan menjatuhkan dirinya ke atas
tempat tidur dan tersenyum dengan senyuman kecil yang nakal. “Ya. Tapi kita
membutuhkan sperma mereka untuk perkembangbiakan spesies.”
Jaejoong melihat Heechul memberikan seringai kasih sayang
kepada Yixing saat dia berkata, “Dia benar, lagipula, tidak semua namja
brengsek.”
Jaejoong memohon untuk menentang. “Sebutkan satu. Sebutkan
satu namja yang tidak brengsek.”
Heechul membalas dengan segera. “Cho Siwon tidak brengsek.”
Jaejoong kaget saat dia memandang Heechul dan melihat wajah
sahabatnya itu berubah menjadi merah. Dari mana hal itu berasal?
Yixing juga memandang Heechul, rahangnya terbuka.
“Ya, aku tahu kakakku tidak brengsek, tapi dia tak masuk
hitungan Chullie. Aku bicara soal namja yang tidak punya hubungan darah
denganku.”
Yixing menyeringai. “Atau denganku.”
Heechul bergumam , “Sebutkan saja.”
Yixing menyilangkan tangannya dan menasehati mereka berdua.
“Ini tidak menyelesaikan permasalahan. Kita akan keluar besok malam. Setuju?”
“Ya. Aku sangat setuju.” Jawaban Heechul pasti.
Jaejoong tahu mereka benar. Dia harus keluar dan melanjutkan
hidupnya. Jaejoong menegangkan tulang belakangnya dan menarik nafas. “Aratta.”
Jaejoong melirik ke mereka berdua. “Oddiseo?”
“Mirotic. Kau harus naik ke atas kuda yang sama yang telah
melemparkanmu.” Yixing mengatakannya dengan keyakinan.
Panah ketidaknyamanan mengalir ke dalam diri Jaejoong
memikirkan untuk pergi ke klub dimana dia bertemu dengan Yunho dulu. Apakah
Yunho akan ada di sana? Jaejoong dan teman-temannya mencintai klub itu, itu
tempat favorit mereka untuk mengadakan pesta dan Jaejoong tak dapat berhenti
untuk pergi bersama-sama ke sana. Jaejoong mungkin bisa mendapatkan kesempatan
pertama kalinya untuk mencoba melalui ini semua. Jaejoong perlahan menyetujui
dan melihat teman seapartemennya saling memandang dengan kelegaan. Sekarang
yang harus Jaejoong lakukan adalah merencanakan untuk memakai sesuatu yang
spesial. Untuk berjaga-jaga...
.
.
.
.
.
.
To Be Continue
jujur aku masih bingung sm crita, jalan crita ff ini, apa krn msh awl2 jd msh blm ketara mslhnya apa ato apa krn aku lemot ya buat nyerna crita yg berat gni? krn dari prolog aku liat jae sepertinya gak sk sm yunho tapi dia mo diajak kencan, yunho jg gt klo bnrn trtarik sm jae knp gak ksh prhtian yg bisa luluhin htinya jae?
ReplyDeleteWowww.. it is daebak saki..
ReplyDelete