Changmin menatap perut Jaejoong dan tatapannya melembut di sana, “Saya yakin Tuan jung tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan jung adalah karena dia peduli kepada Anda?"
Peduli kepadanya??
Bagaimana bisa?? Yunho menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu
disebut kepedulian?
“Tuan
jung menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda.
Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Jessica, dia takut kehilangan
Anda.”
Jaejoong
menatap Changmin dengan tak percaya, “Dia tak mungkin takut kehilanganku.”
“Percayalah
kepada saya,” Changmin tersenyum lembut. “Tuan jung memang tidak pernah pandai
menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu.” Changmin
membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Jaejoong dalam keheningan.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
©Shanty Agatha
“Apakah
kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?” Jaejoong menatap Yunho
yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Yunho memasuki kamar sedemikian
larut, dan namja itu tampak lelah.
Yunho
menatap Jaejoong sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi,
ketika keluar dari sana, namja itu
tampak segar dengan piyama hitamnya,
“Aku
tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam,” dengan kasar
Yunho menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu
dan menatap Jaejoong, “Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu,
mempertahankan anak itu.”
“Tentu
saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini
karena anak ini tidak bersalah.”
“Kita
akan berdebat lagi malam ini ya,” Yunho mendesah lelah, “Aku lelah Jae, yang
aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu.”
“Yunho!”
seru Jaejoong setengah marah, “Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!”
“Oke!”
namja itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka,
“Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu...tetapi...” mata Yunho menajam, “Kalau
sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi.”
Yunho
mengalah. Jaejoong terpana, sebelumnya Yunho tidak pernah mengalah secepat itu.
Jaejoong tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati-matian,
bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Yunho semudah itu mengalah
kepadanya.
“Wae?”
Yunho menatap Jaejoong marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Jaejoong,
Jaejoong
langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, “Ani, tidak ada apa-apa.”
“Tetapi
aku punya satu syarat,” gumam Yunho tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Jaejoong
terkesiap dan menatap Yunho waspada, dan reaksi itu membuat Yunho menahan
tawanya.
“Tenang
boo, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan
menjatuhkan bom ke kepalamu.”
“Apa
syaratmu?”
Pandangan
Yunho berubah sensual, “Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku
menginginkanmu.”
Pipi
Jaejoong memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Yunho.
Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Yunho mengganggu kehamilannya...
“Baik,”
Jaejoong mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, “Asalkan kau
melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku.”
Yunho
hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Jaejoong, matanya
menyala dengan sensual, “Apakah kau masih pusing seperti semalam?”
Jaejoong
tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Yunho yang tersirat itu membuatnya ingin
menantangnya. Yunho pasti akan bercinta dengannya ketika Jaejoong sudah tidak
pusing. Dan Jaejoong tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah
Yunho.
Dengan
berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit, “Sebenarnya aku masih pusing.”
“Benarkah?”
Yunho menatapnya tajam bercampur kecemasan, “Kau sudah minum obat penambah
darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah.”
“Sudah...”
sedikit geli Jaejoong melirik Yunho, tetap berusaha berakting kesakitan.
Namja
itu menatap Jaejoong lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula
Jaejoong bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari
bahwa Yunho sudah siap, keras, dan bergairah di sana.
Namja
itu sudah begitu bergairah, dan Jaejoong tinggal bilang ya, lalu mereka akan
bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa...tetapi tidak! Jaejoong
tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Yunho, Jaejoong ingin menghukum Yunho
karena hatinya masih sakit atas usulan Yunho untuk menggugurkan kandungannya.
“Aku
pusing sekali,” Jaejoong sengaja membuat suaranya terdengar lemah, “Aku mau
tidur.” Dengan gerakan sakit dibuat-buat Jaejoong mengangkat selimut ke bahunya
dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Yunho
hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Jaejoong. Dia sudah dua
hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua
karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Jaejoong
yang sedang sakit, kan?
Sedikit
mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Yunho
melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa
tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.
“Yun,”
suara Jaejoong menggugah penyiksaan yang dialaminya.
“Apa
Jae?” Yunho menjawab kasar.
Diam-diam
Jaejoong tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Yunho. Rasakan kau,
Jung. Dasar beruang arogan, soraknya dalam hati,
“Aku...aku
pusing...maukah kau memijit kepala dan pundakku?”
Mata
Yunho menyala ketika menatap mata Jaejoong. Yeoja ini menatapnya tanpa dosa.
Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Yunho? Memijit
Jaejoong? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana
Yunho bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Jaejoong
di tangannya?
“Oke,
berbaliklah.” Yunho menggeram lagi. Jaejoong tidak pernah meminta tolong
kepadanya, dan kalau Jaejoong melakukannya, itu berarti Jaejoong benar-benar kesakitan.
Jemari
Yunho bergerak menyentuh kepala Jaejoong, ke helaian rambut seperti sutera yang
terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Yunho
menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat
di atas tubuh isterinya...Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Jung!
Yunho
memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Jaejoong terus
menerus mendesah keenakan karena pijatan Yunho. Bahkan kadang mengerang, persis
seperti erangannya ketika Yunho mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya.
Kejantanan Yunho sudah berdenyut-denyut, dan Yunho merasa dirinya hampir
meledak karena gairah, gairahnya kepada Jaejoong.
“Sudah
cukup?”
“Aku
masih sedikit pusing di sisi ini.” Jaejoong memiringkan kepalanya, memamerkan
pundaknya yang hangat dan halus, membuat Yunho ingin mengigit lembut di bagian
lunak di sebelah sana...
Sial.
Sial. Sial! Sambil terus memijit Jaejoong, Yunho menyumpah terus menerus dalam
hati, Kemudian ketika Jaejoong tampak santai, Yunho melepaskan pijitannya
dengan hati-hati.
Bagus.
Jaejoong sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin,
kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena
tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Yunho bergerak turun dari ranjang,
hendak melangkah ke kamar mandi.
“Yun,”
Hampir
saja Yunho mengerang mendengar panggilan Jaejoong,
“Apa
Jae?” desis Yunho serak
“Sekarang
aku sudah tak pusing lagi.”
Hening.
Yunho
tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Jaejoong, dia langsung
membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
“Bagus.”
bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Jaejoong dan melumat bibirnya tanpa
ampun, Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Yunho menyentuh
Jaejoong di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati
betapa tubuh Jaejoong yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap
sentuhannya.
Payudara
Jaejoong tampak lebih berisi, mungkin karena kehamilannya. Ketika akan
menyentuhnya seperti biasanya, Yunho tertegun dan menatap Jaejoong,
“Apakah
aku akan menyakitimu?”
Jaejoong
tersenyum meminta pengertian, “Sedikit nyeri di bagian situ.” desahnya.
Yunho
tidak mengatakan apa-apa, namja itu hanya mengecup ujung payudaranya, lalu
mamainkannya dengan lidahnya lembut, tangannya menelusur ke bawah dan menyentuh
pusat keyeojaan Jaejoong, menemukan bahwa Jaejoong sudah siap dan bergairah
untuknya.
Dengan
menahan dirinya, Yunho menindih Jaejoong dan menyatukan tubuhnya, berusaha
menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil, Ya ampun!
Tubuh
mereka menyatu, dan Yunho bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah
menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Jaejoong mencapai
orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.
.
.
.
.
.
Hubungan
mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia
kehamilannya. Jaejoong menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Jaejoong
menyadarinya ketika dia merindukan Yunho saat namja itu tidak ada di sisinya.
Astaga...merindukan Jung Yunho adalah hal terakhir yang ada di pikiran
Jaejoong, tetapi itu memang terjadi.
Sembilan
bulan telah berlalu, sekarang perut Jaejoong sudah benar-benar buncit dan
gerakannya lamban. Jaejoong bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri
karena terhalang perutnya.
Dengan
lembut Jaejoong mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena
perubahan hormon. Jaejoong tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat
Yunho, perasaannya menjadi hangat.
Oh,
Yunho tidak berubah. Masih sama, begitu dingin, kaku, dan menakutkan bagi para
pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di
ranjang. Gaya bercinta Yunho berubah sejak Jaejoong hamil, bahkan ketika usia
kehamilan Jaejoong beranjak makin tua, namja itu tidak menyentuh Jaejoong lagi.
Dia hanya mengusap lembut rambut Jaejoong sebelum tidur. Dan meskipun masih
belum kelihatan bisa menerima kehamilan Jaejoong, setidaknya Yunho terlihat
mencoba berkompromi.
Benarkah
Yunho sebenarnya mencemaskannya? Benarkah Yunho sebenarnya tidak menganggapnya
sebagai boneka pengganti Jessica? Jaejoong tidak tahu. Memikirkan itu semua
membuat dadanya terasa sesak. Teringat akan sikap Yunho selama kehamilannya.
Namja itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi namja itu selalu
berpura-pura bahwa kehamilan Jaejoong tidak ada.
Jaejoong
tahu Yunho seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Jaejoong
membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya,
Jaejoong tahu bahwa Yunho sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat
buku-buku itu, tetapi tertahan karena Changmin sudah membantunya duluan. Pernah
juga Jaejoong membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi
Yunho bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Jaejoong juga
teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Yunho pernah memeluknya dalam
tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang. Terasa
kencang hingga menohok ke perut Yunho. Yunho langsung mundur, mengucapkan
berbagai alasan dan beranjak pergi.
Sebegitu
paranoid kah Yunho dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Yunho dengan bayi
ini? Bukankah keberhasilan Jaejoong mengandung bayi ini hingga usia sembilan
bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada
Yunho bahwa Jaejoong adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
“Padahal
kau tidak tahu apa-apa Nak,” Jaejoong mengusap perutnya dengan sayang, “Maafkan
ayahmu yang konyol itu.”
“Nyonya,
ada yang ingin bertemu.” Changmin tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan
Jaejoong dari lamunannya.
Junsu
muncul di belakang Changmin, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin
baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya
yang menyala-nyala, mata Yoochun,
“Aku
dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?”
Junsu masuk, meletakkan Yoojun dengan lembut di sofa dan memeluk Jaejoong.
Sejak pernikahannya dengan Yunho, Jaejoong bersahabat erat dengan Junsu, dan
Yunho membiarkannya karena memang Junsu adalah satu-satunya teman Jaejoong.
“Bagaimana
kondisimu joongie?” mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Junsu menatap
ke perut Jaejoong yang terlihat membuncit, “Kau harus banyak istirahat dan
menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting.”
Jaejoong
menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa
pusing-pusing dan mual setiap saat."
Junsu
tertawa, “Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Yoojun, tapi di
awal kehamilan bukan di akhir kehamilan,” dengan sayang dia melirik putera
pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di
karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah, “Rahasianya ada pada teh
mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi
morning sickmu.”
“Gomapta
Su-ie.” Jaejoong menyentuh lengan Junsu, benar-benar tulus dengan ucapannya.
Berhari-hari dilewatkannya bersama Yunho yang selalu bersikap bahwa bayi itu
tak pernah ada di perut Jaejoong, kini rasanya begitu menyenangkan bisa
bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Junsu
menatap Jaejoong prihatin, “Bagaimana dengan Yunho?” Junsu tahu kisah tentang
Jessica tentu saja.
Jaejoong
mendesah, “Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada...Dan dia...tidak pernah
sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku. Aku jadi tidak yakin apakah aku
hanya pengganti Jessica atau...”
“Joongie...”
Junsu menyela dengan lembut, “Kadang-kadang ada namja yang tidak bisa
mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan
cinta kepada Yunho?”
“Tidak
mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya.” pipi
Jaejoong merah padam.
Junsu
tersenyum, “Dan apakah kau mencintai suamimu, Joongie?"
“Molla,”
Jaejoong memegang pipinya yang mulai terasa panas, “Perasaanku berubah...dulu
aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi
kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira...Lalu aku memandangnya dengan
lebih baik...sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu
cinta, Su-ie?"
Senyum
Junsu melembut, “Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang
perasaanku, rasanya memang membingungkan Joongie. Kuharap kau menyadari
perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Yunho menjelaskan
perasaannya."
Jaejoong
menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap
seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Jaejoong menggerakkan tubuhnya,
hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan
basah, basah yang aneh.
Dia
mendengar suara Junsu yang terkesiap, dan mengikuti arah pandangan Junsu, ke
tengah pahanya...di sana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.
Wajahnya
pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan?
Tetapi setahu Jaejoong proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya
didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah…tapi bukan pendarahan seperti ini.
Ketika
merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya, Jaejoong
mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus, dan terus hingga
membasahi roknya. Ada sesuatu yang salah di sini!
“Oh
Tuhan, Jaejoong, aku harus memanggil ambulance...”
Changmin
langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi ketika kesakitan
yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Jaejoong tidak kuat.
Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
Ketika
Yunho menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting. Dia
langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat
Jaejoong katanya dibawa.
Terengah
Yunho berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Changmin.
Napas
Yunho terengah dan menatap Changmin yang tampak pucat dan cemas, Yunho melihat
darah. Darah di lengan dan baju Changmin yang kebetulan berwarna putih,
“Kenapa
ada darah di bajumu?” suara Yunho bergetar, menahan perasaan cemas yang mulai
menggelegak.
“Nyonya...nyonya
pendarahan...saya menggendongnya...”
Pendarahan??
Kenapa ada darah? Mau tak mau ingatan Yunho melayang ke masa bertahun-tahun
lalu ketika Jessica mengalami keguguran, pendarahan yang sama, kesakitan yang
sama.
“Di
mana Jaejoong??!”
“Dokter
masih menanganinya, Tuan.”
“Yunho,”
suara Junsu yang lembut mengalihkannya, “Kondisi Jaejoong kritis, dokter bilang
ada yang salah dengan posisi plasentanya, yang mengakibatkan pendarahan. Mereka
sedang berusaha mengeluarkan bayinya.”
“Bagaimana
dengan Jaejoong?” suara Yunho bagaikan erangan menahan siksaan,
“Jaejoong
tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulance, Yunho,” Junsu memandang Yunho
cemas, “Mereka sedang berusaha di dalam sana,” Junsu menoleh pada ruang operasi
di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya, “Yang bisa kita lakukan
hanyalah berdoa.”
Berdoa?
Yunho sudah lama tidak berdoa, dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam
ini dulunya putih bersih. Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu
tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Jessica yang
dulu dicintainya meregang nyawa. Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Yunho
setelah menguburkan Jessica, sekaligus menguburkan seluruh kepercayaan yang
dulunya pernah di pegangnya.
Yunho
membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat, dan kemudian lama kelamaan
wataknya berubah menjadi kejam. Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan
Yunho, tidak ada lagi.
Sampai
ayah Jaejoong datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya.
Yunho menyadari kemiripan itu, meskipun penampilan Jaejoong di foto berbeda
dengan Jessica, dengan kacamata tebal dan potongan rambut kunonya.
Yunho
tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Jaejoong yang ke
dua puluh lima itu murni karena ingin menjadikan Jaejoong sebagai pengganti
Jessica.
Tetapi
kemudian entah kenapa Yunho jatuh cinta kepada Jaejoong, entah sejak kapan
Yunho tidak tahu. Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian
dari Changmin yang membuatnya sadar bahwa Jaejoong telah berkembang menjadi
yeoja yang mandiri. Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama
itu, atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Yunho tidak tahu. Yang dia
tahu pasti, Jaejoong tersimpan di hatinya. Hati yang dulu sudah dia buang,
Ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan
sekarang, isteri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang
bisa Yunho lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh.
Isteri
dan anaknya astaga! Bahkan Yunho selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak
mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut
Jaejoong yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya. Jaejoong berjuang
sendirian selama masa-masa kehamilannya.
Sangat
jauh dari yang dilakukannya ketika Jessica mengandung, dia merawatnya, dia
menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan Jessica sehat dan bahagia di setiap
detiknya. Dan sekarang, kepada Jaejoong, isterinya, yang sesungguhnya sangat
dicintainya, Yunho telah berbuat luar biasa jahat. Bagaimana jika nanti tidak
ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Tuhan...jika dia benar-benar
ada, Yunho rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Jaejoong.
“Kalau
booJae tidak dapat diselamatkan...” Suara Yunho tertelan di tenggorokannya,
“Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya.”
Changmin
menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang
sedang cemas. Sementara Junsu diam-diam menyusut air matanya. Jadi namja ini,
yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya. Ternyata
mencintai Jaejoong. Dengan sepenuh hatinya Junsu berdoa.
"Kau
harus hidup Joongie, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat
menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah
sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau
meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang
lebih kelam."
.
.
.
.
.
.
.
To Be
Continue

Wahhh..Walaupun mungkin terkesan cepat namun, karena masa kehamilannya JJ hanya diceritakan dalam satu chapter, tp ini bagus sekali..
ReplyDeleteTetap semangat ya..
Update lg..yeyeyeywye
ReplyDelete.. cintaaa bngt sm Saki... bagun jae.. bknkah kamu ingin dengar kata2 cinta dr suamimu ?
yunjae belum saling ngungkapin rasa cinta mereka masing 2
ReplyDeletemngkanya yunho takut jae ninggalin dia sama kaya jessica
ayo jae bangun
"Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya"
ReplyDeleteOh astaga Yunho~
Nanti kalau Jae udah sadar kalian harus saling terbuka dengan perasaan masing-masing, jangan cuma buka baju doang #pout #pletak
Masa nunggu Jaejae sekarat dulu baru mau bilang Cinta Yun...
ReplyDeleteTp gpp lah daripada ga sama sekali.