"Yun," bisik Jaejoong sambil tersenyum. "bear."
"Kau pingsan, boo." Dengan lemah Jaejoong mengangkat
tangan dan mengelus pipi Yunho, membelai rambutnya.
Seperti dikomando, orang-orang yang berkerumun di sekeliling
mereka serentak menaikkan alis. Terdengar seseorang bergumam, "Wah, bukan
main."
"Kau akan segera sembuh. Pasti. Aku yakin." Yunho
mengangkat tangan Jaejoong dan meletakkannya di bibir, lalu menekan telapak
tangannya. Diangkatnya tubuh Jaejoong ke pangkuannya, hingga Jaejoong tidak
terbaring di lantai lagi. "Dokter akan segera kemari."
"Aku tak perlu dokter."
"Tak usah banyak bicara. Kau baru saja pingsan. Karena
terlalu gembira, makanya kau pingsan. Kau akan...."
"Aku hamil, bear."
.
♥
Bittersweet Rain
©Sandra Brown
Kim Jaejoong, Jung Yunho, Choi Siwon, Cho
Kyuhyun, Lee Sungmin
©their self
Bittersweet Rain Yunjae Vers.
©Kitahara Saki
♥
.
Kata-kata Jaejoong yang perlahan itu
menghentikan semburan kata-kata yang hendak meluncur keluar dari bibir Yunho.
Ia menatap Jaejoong tanpa berkata-kata. Jaejoong tertawa kecil melihat wajah
Yunho yang terkesima.
"Itulah penyebabnya. Aku akan menjadi eomma."
Jaejoong menatap orang-orang yang berkerumun
karena ingin tahu. Para pemuka masyarakat menyimak informasi tersebut dengan
sangat antusias, yang menyingkap gosip yang mereka dengar berbulan-bulan
belakangan ini. Mereka inilah yang dulu menganggap Jaejoong dan keluarganya
rendahan. Kepada mereka inilah Jaejoong berusaha menanamkan reputasinya,
berjuang mendapatkan pengakuan.
Kini baru Jaejoong menyadari, bertahun-tahun ia
membuang waktu untuk memperjuangkan hal yang ternyata tak bermakna. Matanya
kembali tertuju pada Yunho. Menatap mata keemasan itu, yang selalu menatapnya
dengan mesra, kasih, hasrat dan cinta. Disentuhkannya pipinya ke pipi Yunho,
dan berkata, "Aku akan punya anak darimu, Yun."
Mata Yunho berbinar-binar. Sambil mempererat
dekapannya pada Jaejoong, ia menunduk dan mendekatkan bibir ke telinga
Jaejoong. "Aku akan jadi appa," bisik Yunho. "Aku cinta padamu,
Jae, boojaejoongie."
Kemudian, secepat angin, Yunho menekuk kaki,
menggendong tubuh kekasihnya itu. "Tolong beri kami jalan. Anda dengar, ia
bilang ia hamil. Aku akan membawanya pulang. Walikota, tolong matikan cerutu
Anda. Asap itu membuat saya mual, padahal saya si calon ayah, bagaimana dengan
calon ibu ini? Boa, tolong ambilkan barang-barang Jaejoong di sana, di
kursinya. Kyuhyun, tolong bawa mobil ke sini. Sungmin, kau tidak apa-apa, kan?
Itu baru adikku yang manis.”
Beberapa saat lamanya Yunho memberi perintah,
sementara Jaejoong bersandar di dadanya dengan nyaman. Yunho menyeruak di
antara orang banyak, meyakinkan setiap orang bahwa Jaejoong baik-baik saja,
bahwa Jaejoong pingsan karena luapan emosi kegembiraan, hawa panas bangunan,
dan sarapan yang kurang. "Saya akan membawanya pulang sekarang untuk
memberinya makan dan menidurkannya. Saudara-saudara, silakan teruskan acara dan
selamat bersenang-senang. Jaejoong akan baik-baik saja. Saya tahu, ibu yang
sedang hamil memang sering mengalami hal ini."
Yunho tersenyum pada Jaejoong, dan seluruh warga
kota menyaksikan mereka meninggalkan gedung. Jaejoong melingkarkan tangannya di
leher Yunho.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sudah bangun?" Yunho memiringkan
tubuh dan memberikan ciuman manis di dahi Jaejoong.
"Dari tadi kau di sini?" Jaejoong
tertidur dengan tangan digenggam Yunho.
"Setiap detik."
"Berapa lama aku tidur?" Jaejoong
menggeliat.
"Beberapa jam. Tidak terlalu lama. Aku
malah ingin kau tetap di ranjang sampai beberapa hari lagi."
Mata Jaejoong membelalak. "Hanya
tidur?"
"Salah satunya," jawab Yunho penuh
arti dan mendekap Jaejoong erat. Sejenak ia membenamkan wajah di leher Jaejoong
yang wangi serta lembut, kemudian ia mengangkat kepala untuk menciumnya.
Bibir Yunho menyentuh bibir Jaejoong dengan
lembut. Dengan lidahnya ia menelusuri garis bibir Jaejoong. Ketika bibir
Jaejoong agak membuka, lidahnya segera dimasukkan ke mulut kekasihnya itu.
Jaejoong melingkarkan tangan di leher Yunho, dan menarik tubuh pria itu lebih
rapat ke tubuhnya.
Yunho tak kuasa menahan desakan yang sejak
beberapa jam yang lalu ditahannya karena takut membahayakan Jaejoong. Ia
berbaring di samping wanita itu di ranjang, dan memeluk tubuh Jaejoong yang
hangat dan masih mengantuk. Bibir mereka saling melumat. Tak henti-hentinya
mereka tersenyum. Tetapi akhirnya Yunho menatap Jaejoong dengan wajah serius.
"Tadinya kapan kau akan memberitahu aku
soal bayi ini, boo?"
Yunho masih berpakaian lengkap, tetapi kancing
kemejanya sudah dibuka. Jaejoong menyelipkan tangannya ke balik kemeja,
mengelus dadanya yang bidang. "Setelah akhir pekan ini. Bila kau tidak
hadir pada acara Festival Musim Gugur ini, aku akan meneleponmu."
"Begitukah?"
"Bila tidak, Boa yang akan menelepon."
"Ia tahu?"
"Kurasa ia curiga. Dan Kyuhyun. Mereka
memang tidak mengatakan apa-apa, tetapi aku merasa mereka selalu memerhatikanku."
"Bukan aku curiga, tapi aku merasa ada yang
tidak beres. Berat badanmu berkurang terus." Tangan Yunho yang diletakkan
di rusuk pindah ke paha.
"Kata dokterku aku normal saja. Aku memang
kurang nafsu makan. Sedikit saja aku makan, selalu keluar lagi."
"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?
Aku tak tahu apa aku harus memukulmu atau menciummu."
"Menciumku."
Yunho mengabulkan permintaan Jaejoong. Yunho
mengelus perut wanita itu. "Ada anakku di dalam sana. Oh Tuhan, mukjizat
yang sangat indah, aku akan jadi appa" kata Yunho sambil memeluk Jaejoong.
Sekali lagi diciumnya Jaejoong dengan lembut dan hasrat menggelora.
Tangan Yunho menyelinap ke payudaranya. Ia hanya
menyisakan pakaian dalam ketika membuka pakaian wanita itu dan menyuruhnya
segera berbaring di ranjang begitu mereka tiba di rumah. Bahan sutra itu terasa
hangat karena pancaran panas dari tubuh Jaejoong. Yunho menyentuh payudara
Jaejoong, melepas bra berenda yang menutupinya. Diciuminya bagian itu. "boo,
maukah kau menikah denganku?"
Jaejoong tersentak. Bibir Yunho dengan panas
terus beraksi. "Bagaimana bisa aku menolak? Kau memintanya dengan begitu
manis."
Yunho menindih tubuh Jaejoong dan memegangi
wajahnya dengan dua tangan. "Aku ingin kau tahu sesuatu, yang tidak
kusadari sampai hari ini." Matanya tajam menatap Jaejoong. "Andaipun
kau benar-benar menjadi istri aboji, aku akan tetap mencintaimu dan
menginginkanmu seperti sekarang ini."
Yunho melihat mata Jaejoong berkaca-kaca. Ia
juga melihat air mata menitik jatuh di pipinya. "Aku cinta padamu."
Jaejoong memegang kepala Yunho dan menekannya ke bawah, minta dicium. "Ya,
aku mau menikah denganmu."
"Secepatnya?" desak Yunho. "Baru
empat bulan aboji meninggal. Orang akan menggunjingkan kita."
Jaejoong menggeraikan rambutnya di bantal dan
tertawa. "Setelah peristiwa pagi ini, kekhawatlran seperti itu tak perlu
lagi." Jaejoong mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. "Kurasa
lebih cepat lebih baik."
"Minggu ini?"
"Besok," bisik Jaejoong, dan Yunho
tersenyum. "Apa yang ingin kita lakukan setelah kita menikah? Di mana kita
akan tinggal?"
"Di sini, di Jung Mansion. Aku harus bolak-balik,
ke Jepang dan ke sini untuk bisnisku." "Aku ikut bolak-balik
bersamamu."
"Tidak takut naik pesawat denganku?"
"Aku tidak pernah takut melakukan apa pun
bersamamu."
Pernyataan itu mendorong Yunho kembali
mendaratkan ciumannya. "Sementara kita tinggal di sini, apa yang akan kita
lakukan, pindah tempat tidur setiap beberapa malam?" goda Yunho.
"Bagaimana kalau kita memakai ranjangmu
saja, dan kamar ini kita jadikan kamar anak kita?"
Yunho memandang ke sekeliling kamar, kemudian
kembali menatap Jaejoong dengan penuh kemesraan. "Andai eomma masih hidup,
ia pasti senang sekali."
Bibir mereka kembali saling melumat. "Aku
tidak bosan-bosan menciummu. Oh, Tuhan, aku sangat merindukanmu."
Dada dengan bulu yang lebat itu menggesek dada
Jaejoong, yang masih basah akibat sentuhan bibirnya. Yunho menggenggam tangan
Jaejoong yang diletakkan di perut bagian bawahnya. Gelora seperti merembes
masuk ke perut lalu menuju paha Jaejoong, seperti mentega yang meleleh. Sambil
menciumi leher Yunho, Jaejoong bergumam, "Yunho, buka pakaianmu."
"Brengsek!" maki Yunho dan duduk.
Pipinya memerah, dan jantungnya berdebar cepat. "Aku tidak bisa
melakukannya sekarang. Kita harus menunda reuni kita. Aku sudah bilang pada Boa
akan mengajakmu turun makan malam begitu kau bangun."
"Oh, astaga!" Jaejoong menyibakkan
selimut dan menurunkan kaki dari ranjang. "Baru aku ingat. Kita akan
kedatangan tamu saat makan malam."
"Tamu? Siapa?"
"Kejutan. Tolong ambilkan pakaianku."
Jaejoong segera beranjak ke meja rias, mengambil sisir dan merapikan rambutnya.
"Apakah aku kelihatan seperti habis...? Kau tahu maksudku."
Dengan cemas Jaejoong memerhatikan wajahnya di
cermin ketika ia menepukkan bedak di bibirnya yang habis diciumi.
Yunho memberinya gaun dari bahan wol, pilihan
yang diambilnya dari lemari. Dipeluknya Jaejoong dari belakang, tangannya
menggenggam payudara kekasihnya. Jari-jarinya beraksi. "Heeh. Kau
kelihatan seperti habis... kau tahu."
Yunho membenamkan wajah di leher Jaejoong, tepat
di belakang telinga, dan menciumi bagian yang sensitif itu. Sambil mengerang,
Jaejoong menarik napas, "Bear, aku tidak akan siap bila kau tidak
berhenti."
"Aku siap." Yunho menekankan
kejantanannya ke bokong Jaejoong. "Aku sudah siap sejak beberapa jam yang
lalu. Kau tahu betapa cantiknya dirimu ketika sedang tidur?"
"Kau tahu apa yang kumaksud. Siap untuk
makan malam."
"Oh, makan malam. Persetan." Yunho
pura-pura menarik napas, menarik tangannya dan menjauh dari Jaejoong.
Setelah tenang, mereka turun untuk bergabung
dengan Kyuhyun dan Sungmin di teras. Tanpa bertanya, Kyuhyun menuangkan soju
untuk Yunho yang mendudukkan Jaejoong di sofa dengan sangat hati-hati.
"Terima kasih," kata Yunho sambil
menerima gelas minuman. Ia menatap adik iparnya dan tersenyum. Andai masih ada
keraguan dalam hati Yunho tentang pernikahan Sungmin, yang ia perlu ia lakukan
hanya memandang Sungmin dan Kyuhyun. Kebahagiaan terpancar di wajah Sungmin
seperti lampu mercusuar yang memancarkan sinar terang benderang di lautan pada
malam hari. Kyuhyun rileks, tidak lagi tegang dan defensif. Ia sudah
merencanakan beberapa perubahan untuk kandang kuda yang sangat produktif. Ia
berbicara dengan Yunho pada posisi yang sederajat sekarang. Kedua pria itu
makin saling mengenal dan saling menyukai.
Ketika bel rumah berbunyi, Jaejoong, membuat
Yunho cemas, melompat dan lari ke teras. "Aku yang buka. Nikmati saja
minuman kalian."
"Bagaimana ia menyuruhku menikmati minuman
sementara ia melompat-lompat seperti kelinci?' tanya Yunho. "Ia seharusnya
berhati-hati selama beberapa bulan pertama ini, bukan?"
"Aku rasanya tidak percaya Jaejoong akan
punya anak," kata Sungmin kepada kakak laki-lakinya.
"Yang aku tidak percaya adalah aku orang
yang terakhir mengetahui hal itu," sahut Yunho sambil menatap Kyuhyun
dengan tatapan menyelidik.
"Mengapa kau tidak meneleponku dan memberi
isyarat?"
Kyuhyun mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.
"Itu bukan kewajibanku."
Yunho mengernyit. Ia ingin mengatakan sesuatu
tetapi terdiam karena kemunculan Jaejoong di ambang pintu. "Yunho, ada
yang ingin bertemu denganmu."
Gadis remaja itu menatap ke sekeliling ruangan
yang asing baginya dengan sorot mata gugup. Ia menggigitgigit bibir. Yang
membuat Jaejoong lega, ia tidak memoles bibirnya dengan lipstik mencolok. Ia
juga tidak memakai anting-anting berbentuk jepitan kertas di telinga, dan tata
riasnya tidak semencolok waktu itu. Pakaiannya sederhana. Rambutnya masih
memakai jeli, tetapi disisir ke belakang seperti model.
"Jaejoong bilang aku boleh datang ke
sini," kata Junsu defensif, sambil menoleh ke arah Jaejoong. "Aku
sudah bilang padanya mungkin kau tidak ingat aku lagi, tetapi ia bilang kau
tetap ingat, jadi...."
Jaejoong melihat perubahan air muka Yunho, dari
heran, terkejut, lalu gembira. Ia menggumamkan nama gadis remaja itu,
mengulanginya, makin lama makin keras. Yunho merentangkan tangan ketika berada
di dekatnya. Tetapi ia tidak ingin membuat gadis remaja tersebut takut. Sesaat
ia berhenti dengan tangan tetap direntangkan.
Jaejoong mengamati Junsu, yang datang ke Jung
Mansion naik taksi. Ia melihat bibir gadis remaja itu bergetar, matanya berkaca-kaca.
Junsu berusaha keras menahan air matanya agar tidak menitik, tetapi gagal. Sisa
ketegarannya tak bertahan lagi, ia lari menghambur ke dalam pelukan Yunho, menggosok-gosokkan
wajah di dada Yunho dan memeluk pinggang pria itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ia tidak terlalu buruk."
Mereka ada di kamar tidur Jaejoong, berganti
pakaian hendak tidur.
"Sama sekali tidak. Hanya salah didik.
Perlu diperbaiki. Aku tidak yakin ia pernah mendapat pendidikan. Seharusnya kau
lihat ia ketika aku berkenalan dengannya. Ia kelihatan seperti wajah yang ada
di film-film horor."
"Sudah berapa lama kalian bersahabat?"
Yunho duduk di ranjang sambil membuka sepatu dan kaus kaki.
"Beberapa minggu. Kami berjumpa dua kali di
kota untuk minum milkshake. Aku mengundangnya ke sini malam ini untuk makan
malam dengan kemungkinan kau masih di sini." Jaejoong membalikkan badan.
"Aku gembira kau masih di sini," katanya lembut.
"Aku juga,” jawab Yunho. "Kau memberi aku
alasan lagi untuk mencintaimu. Terima kasih, boo."
"Terima kasih kembali." Letupan emosi
yang memenuhi hatinya membuat suara Jaejoong parau seperti suara Yunho.
"Kau lihat air mukanya ketika kita
mengajaknya ke Pekan Raya besok? Kurang ajar si jalang Ahra itu. Aku yakin ia
tidak pernah membawa anak itu ke mana-mana."
"Kau memberi pengaruh baik padanya."
"Tidak sebanding dengan kebaikanmu. Aku
ingin kita bersamanya sesering mungkin."
"Aku juga begitu. Namun kau yakin ingin
pergi ke Pekan Raya itu besok?"
"Mengapa tidak?" tanya Yunho, sambil
melepas celana.
Jaejoong menatap cermin dan dengan malas-malasan
menepis rambutnya ke belakang. "Seluruh warga kota akan ada di sana.
Setelah peristiwa hari ini...."
Jaejoong tidak sempat menyelesaikan
perkataannya. Yunho datang ke belakangnya, membalik tubuhnya, dan menciuminya.
Akhirnya ia mengangkat kepala. "Aku akan membawamu berkeliling di Pekan
Raya. Kita akan menyapa setiap orang yang kita temui. Dan aku akan mengatakan
kepada setiap orang, siapa pun yang ingin tahu dan tidak ingin tahu, betapa aku
sangat mencintaimu dan tidak sabar untuk melihat anakku."
Jaejoong meletakkan dahinya di dada Yunho.
"Aku sangat mencintaimu. Kau sangat baik."
"Kau juga sangat baik," bisik Yunho,
sambil menjauhkan tubuhnya dengan lembut. Matanya menatap seluruh tubuh
Jaejoong penuh hasrat. Baju tidur yang menampakkan lekuk tubuh Jaejoong sangat
menggairahkannya, menonjolkan payudara, pangkal pahanya. "Kau sexy sekali,
boo."
Yunho mengelus seluruh tubuh Jaejoong yang
terbalut satin, lalu perlahan-lahan menurunkannya dengan gerakan tangan yang
piawai. Payudara Jaejoong bereaksi ketika jemari Yunho terus bergerak. Punggung
tangannya mengelus pahanya, membuat Jaejoong menggelinjang.
Jaejoong tahu, sesaat lagi ia akan lupa diri.
"Chankamman bear." Tangan Yunho terentang, ibu jarinya mengelus-elus.
"Aku... aku punya sesuatu untuk kuberikan padamu."
"Aku juga punya sesuatu yang ingin
kuberikan padamu," gumam Yunho sambil membenamkan kepala. Lidahnya ikut
beraksi, sementara ibu jarinya meraba-raba dan menemukan yang dicari.
"Apakah pemberianmu bisa menunggu?"
"Aku... aku kira... begitu."
"Aku tidak," kata Yunho sambil
mengambil tangan Jaejoong dan meletakkannya di kejantanannya.
Yunho mengaitkan jarinya pada celana dalam
Jaejoong dan menariknya ke bawah sehingga Jaejoong bisa melepaskannya. Jaejoong
berdiri di hadapan Yunho dalam keadaan telanjang bulat. Yunho menggendongnya ke
ranjang. Jaejoong berbaring, Yunho membuka celana dalamnya dan menindihkan
tubuhnya yang juga tanpa selembar pakaian pun di atas tubuh Jaejoong.
Ia berlutut di antara paha Jaejoong. "Aku
cinta padamu. Aku selalu mencintaimu, boo. Dulu aku mengumpat datangnya hari
baru. Karena aku terbangun dengan pikiran melayang padamu, mencari dirimu,
memikirkan apa yang kaulakukan, kauinginkan, ingin sekali melihat wajahmu. Kini
aku menantikan datangnya hari baru, karena aku bangun tidur untuk mencintaimu
dan tahu kau pun mencintaiku."
Yunho menyentuh perut Jaejoong dengan bibirnya.
Ia yakin bayinya tidur dengan aman di dalam perut perempuan yang sangat
dicintainya itu. Jaejoong meletakkan tangannya di kepala lakilaki yang
dicintainya dengan takjub karena ternyata hidup menganugerahkan kebahagiaan
sedemikian rupa. Hasrat dan cinta saling bertaut, menerpa tubuh Jaejoong
seperti angin sepoisepoi.
Dengan tangan yang masih mengelus payudara
Jaejoong, Yunho menunduk, mencium tubuh Jaejoong. Ia tidak ingin menahan diri
lebih lama lagi, ia ingin memberikan segalanya.
"Tidak akan melukai bayinya?” Yunho
menaikkan tubuhnya ke atas tubuh Jaejoong dan menyatukan diri mereka.
"Ya."
Yunho menguasai Jaejoong dengan perasaan yang
meluap-luap, penuh cinta dan kasih sayang. Pinggulnya bergerak berirama.
Jaejoong mendekap Yunho erat. Mereka saling memberi dan menerima sebagai
ungkapan cinta mereka yang membara. Setelah mencapai puncak, mereka
menikmatinya berbarengan, bersama berpacu meraih puncak surga dunia sambil
berpelukan.
Beberapa saat kemudian, selagi mengeringkan
tubuh sesudah mandi, Jaejoong berkata, "Kau tidak memberiku kesempatan
untuk memberikan hadiahku padamu."
"Maksudmu, mau tambah lagi?" Sambil
menggoda Yunho menepuk bokong Jaejoong yang naik ke ranjang. "Aku tidak
mampu memberikan yang lebih istimewa daripada apa yang barusan kuberikan
padamu."
"Ini serius." Jaejoong beranjak ke
lemari antik dan membuka lacinya. Dari dalam laci ia mengeluarkan gulungan
kertas. Diberikannya gulungan kertas itu kepada Yunho, lalu ia berdiri di
jendela, membelakangi Yunho.
Bulan purnama memancarkan sinar keperakan di
permukaan rumput yang terhampar luas. Sungai yang berkelok-kelok di antara
pepohonan di kejauhan tampak seperti pita yang berkilauan. Jaejoong sangat
mencintai tempat ini. Tetapi ia jauh lebih mencintai laki-laki yang menempati
tempat ini.
Jaejoong mendengar suara gemeresik kertas. Ia
tahu Yunho sedang membaca tulisan yang berisi keputusan Jung Mansion dialihkan
menjadi miliknya. Suara langkah kaki Yunho yang mendekati Jaejoong diredam
ketebalan karpet di sekelilingnya.
"Aku tidak bisa menerima ini, boo. rumah
ini milikmu."
Jaejoong berbalik menghadap Yunho. "Tidak
pernah akan menjadi milikku, bear. Rumah ini senantiasa akan menjadi milikmu.
Itulah sebabnya aku sangat mencintai tempat ini. Tanpa kau di dalamnya, rumah
ini tidak punya arti apa-apa. Kaulah detak jantungnya. Sebagaimana arti dirimu
bagiku."
Jaejoong mendekati Yunho dan meletakkan
tangannya di dada pria itu. "Karena cintaku padamu, aku memberikan apa
yang kurasa sangat kucintai di dunia ini. Cintailah aku, tinggalkan keangkuhan
dirimu, cintai aku apa adanya."
Yunho menatap Jaejoong beberapa saat, kemudian
menatap kertas di tangannya. Digulungnya kertas itu dengan hatihati, dan
disimpannya di lemari. "Aku terima dengan satu syarat. Bahwa kau bersedia
tinggal di rumah ini bersamaku seumur hidupmu. Kau berjanji kita akan selalu
saling mencintai di sini dan punya anak di sini. Kita tidak akan pernah
membiarkan kepedihan hidup yang pernah menimpa diri kita terjadi lagi."
Jaejoong tersenyum bahagia. "Aku
berjanji."
Yunho menciumnya sebagai tanda sumpah setia.
Kemudian ia memeluk Jaejoong dan menggendongnya kembali ke tempat tidur mereka.
.
.
.
.
.
.
.
♥♥♥THE END♥♥♥
Huft, Akhirnya selesai juga FF ini… Gomawo untuk kalian yang
masih setia membaca sampai chapter ini… Gomapta untuk kalian yang selalu
mendukung Saki untuk tetap bersemangat mengerjakan remake ini… meski capek Saki
tetap semangat karena ada kalian…
Kitahara Saki, anyooonggg….
Kitahara Saki, anyooonggg….

Akhirnya tamat dan aq suka happy ending hoho....
ReplyDeletehua.. bnar2 story yg daebak.. alur n tata bahasa x cantik bgt.. aku bnar2 merasa terbawa masuk ke crta x.. saki jjang..
ReplyDeletesaki-ya.. lanjutin dong ff yg lain n klu bsa bkin ff yg baru.. bnaran suka ama story kmu.. apa lagi bittersweet rain ini..
inti x: i love your story, dab aku pengen baca story kamu yg lainnya..
yah udh end, aku bc d ffn klo g salah br chap 13 tp krn klmaan aku baca di blog ini, mian aku baru komen di chap akhr krn trlalu asik baca smp lupa, tapi ada yg bkin pnsaran gmn nasib junsu? apa junsu tinggal brsama yunjae? klo saki mo remake novel yg laen lagi dgn senang hati aku bakal nunggu n baca smp akhr
ReplyDeletewah sungguh luar biasa ....halo reader baru ...ya gk baru sih cuman baru di blog saki.....saki cerita ini sungguh luarbiasa walaupun remake tapi gy dan penempatan kata" sungguh indah...ya ..q baca yg di ffn yg br nyampe chap 14 tapi dengan rasa penasaran dan kemarahan q terhadap siwon q jadinya berselingkuh dr ffn ke blog saki karnq q gak sabaran dan langsung q baca seharian ...nangis marah kasihan campur aduk deh rasa nya ...maaf baru kasih feedback nya yg di akhir chap ..karna itu lg qter bawa emosi...hehehe...dan epep yang baru kayak nya q jug pernah baca di aff...tapi lom kelar dan tadi q lihat ....di sini ada wah bahagia gak usah. susah susah ngartiin ke bahasa maksud qyang ...ada amor itu .heheheh..klo salang ai ba q dah complet tp pingin baca lagi ......maaf mah nyerocos ...di sini ......ok q sangat suka semua remake crita yg saki bkn ......semangat
ReplyDeletesumpah keren! semua remake-an kamu keren, saki! apalagi yg "Salang-Ui Ba". aku gak sabar jd mampir ke blogmu deh. maaf baru komen yah. tolong lanjutin yg "Salang-Ui Ba" yah :)
ReplyDeleteso sweet banget akhirnyaaa~ Yunnie ma Joongie >_<
ReplyDeleteBikin ff yunjae lagi donk~ hehehhe :D
wah..endingnya keren. FFnya keren =)
ReplyDeleteBayi itu telah merenggangkan ketegangan mereka, Aigooooo~ SENAAAAAANG~ Bukan berarti ada yg kontra terus gak ada yg Pro kan
ReplyDeleteSemuanya harus lebih baik dari hari ke marin, ini baru awal kebahagiaan mereka
:'D
#kecupinChangmin