Thursday, February 27

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 20


Changmin menatap perut Jaejoong dan tatapannya melembut di sana, “Saya yakin Tuan jung tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan jung adalah karena dia peduli kepada Anda?"
Peduli kepadanya?? Bagaimana bisa?? Yunho menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
“Tuan jung menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Jessica, dia takut kehilangan Anda.”
Jaejoong menatap Changmin dengan tak percaya, “Dia tak mungkin takut kehilanganku.”
“Percayalah kepada saya,” Changmin tersenyum lembut. “Tuan jung memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu.” Changmin membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Jaejoong dalam keheningan.
salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
“Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?” Jaejoong menatap Yunho yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Yunho memasuki kamar sedemikian larut, dan namja itu tampak lelah.
Yunho menatap Jaejoong sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, namja itu  tampak segar dengan piyama hitamnya,
“Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam,” dengan kasar Yunho menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Jaejoong, “Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu.”
“Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah.”
“Kita akan berdebat lagi malam ini ya,” Yunho mendesah lelah, “Aku lelah Jae, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu.”
“Yunho!” seru Jaejoong setengah marah, “Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!”
“Oke!” namja itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka, “Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu...tetapi...” mata Yunho menajam, “Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi.”
Yunho mengalah. Jaejoong terpana, sebelumnya Yunho tidak pernah mengalah secepat itu. Jaejoong tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati-matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Yunho semudah itu mengalah kepadanya.
“Wae?” Yunho menatap Jaejoong marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Jaejoong,
Jaejoong langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, “Ani, tidak ada apa-apa.”
“Tetapi aku punya satu syarat,” gumam Yunho tenang, seolah-olah baru mengingatnya.
Jaejoong terkesiap dan menatap Yunho waspada, dan reaksi itu membuat Yunho menahan tawanya.
“Tenang boo, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu.”
“Apa syaratmu?”
Pandangan Yunho berubah sensual, “Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu.”
Pipi Jaejoong memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Yunho. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Yunho mengganggu kehamilannya...
“Baik,” Jaejoong mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, “Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku.”
Yunho hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Jaejoong, matanya menyala dengan sensual, “Apakah kau masih pusing seperti semalam?”
Jaejoong tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Yunho yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Yunho pasti akan bercinta dengannya ketika Jaejoong sudah tidak pusing. Dan Jaejoong tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Yunho.
Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit, “Sebenarnya aku masih pusing.”
“Benarkah?” Yunho menatapnya tajam bercampur kecemasan, “Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah.”
“Sudah...” sedikit geli Jaejoong melirik Yunho, tetap berusaha berakting kesakitan.
Namja itu menatap Jaejoong lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Jaejoong bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Yunho sudah siap, keras, dan bergairah di sana.
Namja itu sudah begitu bergairah, dan Jaejoong tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa...tetapi tidak! Jaejoong tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Yunho, Jaejoong ingin menghukum Yunho karena hatinya masih sakit atas usulan Yunho untuk menggugurkan kandungannya.
“Aku pusing sekali,” Jaejoong sengaja membuat suaranya terdengar lemah, “Aku mau tidur.” Dengan gerakan sakit dibuat-buat Jaejoong mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.
Yunho hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Jaejoong. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Jaejoong yang sedang sakit, kan?
Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Yunho melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.
“Yun,” suara Jaejoong menggugah penyiksaan yang dialaminya.
“Apa Jae?” Yunho menjawab kasar.
Diam-diam Jaejoong tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Yunho. Rasakan kau, Jung. Dasar beruang arogan, soraknya dalam hati,
“Aku...aku pusing...maukah kau memijit kepala dan pundakku?”
Mata Yunho menyala ketika menatap mata Jaejoong. Yeoja ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Yunho? Memijit Jaejoong? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Yunho bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Jaejoong di tangannya?
“Oke, berbaliklah.” Yunho menggeram lagi. Jaejoong tidak pernah meminta tolong kepadanya, dan kalau Jaejoong melakukannya, itu berarti Jaejoong benar-benar kesakitan.
Jemari Yunho bergerak menyentuh kepala Jaejoong, ke helaian rambut seperti sutera yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Yunho menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh isterinya...Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Jung!
Yunho memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Jaejoong terus menerus mendesah keenakan karena pijatan Yunho. Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Yunho mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya. Kejantanan Yunho sudah berdenyut-denyut, dan Yunho merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Jaejoong.
“Sudah cukup?”
“Aku masih sedikit pusing di sisi ini.” Jaejoong memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Yunho ingin mengigit lembut di bagian lunak di sebelah sana...
Sial. Sial. Sial! Sambil terus memijit Jaejoong, Yunho menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Jaejoong tampak santai, Yunho melepaskan pijitannya dengan hati-hati.
Bagus. Jaejoong sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Yunho bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.
“Yun,”
Hampir saja Yunho mengerang mendengar panggilan Jaejoong,
“Apa Jae?” desis Yunho serak
“Sekarang aku sudah tak pusing lagi.”
Hening.
Yunho tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Jaejoong, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.
“Bagus.” bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Jaejoong dan melumat bibirnya tanpa ampun, Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Yunho menyentuh Jaejoong di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Jaejoong yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya.
Payudara Jaejoong tampak lebih berisi, mungkin karena kehamilannya. Ketika akan menyentuhnya seperti biasanya, Yunho tertegun dan menatap Jaejoong,
“Apakah aku akan menyakitimu?”
Jaejoong tersenyum meminta pengertian, “Sedikit nyeri di bagian situ.” desahnya.
Yunho tidak mengatakan apa-apa, namja itu hanya mengecup ujung payudaranya, lalu mamainkannya dengan lidahnya lembut, tangannya menelusur ke bawah dan menyentuh pusat keyeojaan Jaejoong, menemukan bahwa Jaejoong sudah siap dan bergairah untuknya.
Dengan menahan dirinya, Yunho menindih Jaejoong dan menyatukan tubuhnya, berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil, Ya ampun!
Tubuh mereka menyatu, dan Yunho bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Jaejoong mencapai orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.
.
.
.
.
.
Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia kehamilannya. Jaejoong menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Jaejoong menyadarinya ketika dia merindukan Yunho saat namja itu tidak ada di sisinya. Astaga...merindukan Jung Yunho adalah hal terakhir yang ada di pikiran Jaejoong, tetapi itu memang terjadi.
Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Jaejoong sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Jaejoong bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang perutnya.
Dengan lembut Jaejoong mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena perubahan hormon. Jaejoong tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Yunho, perasaannya menjadi hangat.
Oh, Yunho tidak berubah. Masih sama, begitu dingin, kaku, dan menakutkan bagi para pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang. Gaya bercinta Yunho berubah sejak Jaejoong hamil, bahkan ketika usia kehamilan Jaejoong beranjak makin tua, namja itu tidak menyentuh Jaejoong lagi. Dia hanya mengusap lembut rambut Jaejoong sebelum tidur. Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Jaejoong, setidaknya Yunho terlihat mencoba berkompromi.
Benarkah Yunho sebenarnya mencemaskannya? Benarkah Yunho sebenarnya tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti Jessica? Jaejoong tidak tahu. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak. Teringat akan sikap Yunho selama kehamilannya. Namja itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi namja itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Jaejoong tidak ada.
Jaejoong tahu Yunho seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Jaejoong membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya, Jaejoong tahu bahwa Yunho sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Changmin sudah membantunya duluan. Pernah juga Jaejoong membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Yunho bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Jaejoong juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Yunho pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang. Terasa kencang hingga menohok ke perut Yunho. Yunho langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan dan beranjak pergi.
Sebegitu paranoid kah Yunho dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Yunho dengan bayi ini? Bukankah keberhasilan Jaejoong mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Yunho bahwa Jaejoong adalah calon ibu yang kuat dan sehat?
“Padahal kau tidak tahu apa-apa Nak,” Jaejoong mengusap perutnya dengan sayang, “Maafkan ayahmu yang konyol itu.”
“Nyonya, ada yang ingin bertemu.” Changmin tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Jaejoong dari lamunannya.
Junsu muncul di belakang Changmin, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya yang menyala-nyala, mata Yoochun,
“Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?” Junsu masuk, meletakkan Yoojun dengan lembut di sofa dan memeluk Jaejoong. Sejak pernikahannya dengan Yunho, Jaejoong bersahabat erat dengan Junsu, dan Yunho membiarkannya karena memang Junsu adalah satu-satunya teman Jaejoong.
“Bagaimana kondisimu joongie?” mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Junsu menatap ke perut Jaejoong yang terlihat membuncit, “Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting.”
Jaejoong menganggukkan kepalanya dan tersenyum, “Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat."
Junsu tertawa, “Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Yoojun, tapi di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan,” dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah, “Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu.”
“Gomapta Su-ie.” Jaejoong menyentuh lengan Junsu, benar-benar tulus dengan ucapannya. Berhari-hari dilewatkannya bersama Yunho yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Jaejoong, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya.
Junsu menatap Jaejoong prihatin, “Bagaimana dengan Yunho?” Junsu tahu kisah tentang Jessica tentu saja.
Jaejoong mendesah, “Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada...Dan dia...tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku. Aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Jessica atau...”
“Joongie...” Junsu menyela dengan lembut, “Kadang-kadang ada namja yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Yunho?”
“Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya.” pipi Jaejoong merah padam.
Junsu tersenyum, “Dan apakah kau mencintai suamimu, Joongie?"
“Molla,” Jaejoong memegang pipinya yang mulai terasa panas, “Perasaanku berubah...dulu aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira...Lalu aku memandangnya dengan lebih baik...sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu cinta, Su-ie?"
Senyum Junsu melembut, “Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Joongie. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Yunho menjelaskan perasaannya."
Jaejoong menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Jaejoong menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh.
Dia mendengar suara Junsu yang terkesiap, dan mengikuti arah pandangan Junsu, ke tengah pahanya...di sana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.
Wajahnya pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan? Tetapi setahu Jaejoong proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah…tapi  bukan pendarahan seperti ini.
Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya, Jaejoong mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus, dan terus hingga membasahi roknya. Ada sesuatu yang salah di sini!
“Oh Tuhan, Jaejoong, aku harus memanggil ambulance...”
Changmin langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi ketika kesakitan yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Jaejoong tidak kuat. Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
Ketika Yunho menerima telepon itu, dia sedang berada ditengah meeting penting. Dia langsung melupakan semuanya dan meluncur secepat dia bisa ke rumah sakit tempat Jaejoong katanya dibawa.
Terengah Yunho berlari ke ruang gawat darurat dan hampir bertabrakan dengan Changmin.
Napas Yunho terengah dan menatap Changmin yang tampak pucat dan cemas, Yunho melihat darah. Darah di lengan dan baju Changmin yang kebetulan berwarna putih,
“Kenapa ada darah di bajumu?” suara Yunho bergetar, menahan perasaan cemas yang mulai menggelegak.
“Nyonya...nyonya pendarahan...saya menggendongnya...”
Pendarahan?? Kenapa ada darah? Mau tak mau ingatan Yunho melayang ke masa bertahun-tahun lalu ketika Jessica mengalami keguguran, pendarahan yang sama, kesakitan yang sama.
“Di mana Jaejoong??!”
“Dokter masih menanganinya, Tuan.”
“Yunho,” suara Junsu yang lembut mengalihkannya, “Kondisi Jaejoong kritis, dokter bilang ada yang salah dengan posisi plasentanya, yang mengakibatkan pendarahan. Mereka sedang berusaha mengeluarkan bayinya.”
“Bagaimana dengan Jaejoong?” suara Yunho bagaikan erangan menahan siksaan,
“Jaejoong tidak sadarkan diri sejak dibawa ke ambulance, Yunho,” Junsu memandang Yunho cemas, “Mereka sedang berusaha di dalam sana,” Junsu menoleh pada ruang operasi di sudut dengan lampu merah yang menyala di atasnya, “Yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa.”
Berdoa? Yunho sudah lama tidak berdoa, dia pernah berdoa sebelumnya. Jiwanya yang kelam ini dulunya putih bersih. Percaya bahwa yang namanya Tuhan itu ada dan selalu tersedia untuk menolongnya. Tetapi Tuhan ternyata tidak ada ketika Jessica yang dulu dicintainya meregang nyawa. Tuhan tidak ada. Itulah yang dipercaya Yunho setelah menguburkan Jessica, sekaligus menguburkan seluruh kepercayaan yang dulunya pernah di pegangnya.
Yunho membuang hatinya, menjadi manusia berjiwa kelam yang jahat, dan kemudian lama kelamaan wataknya berubah menjadi kejam. Tidak ada yang bisa menyentuh belas kasihan Yunho, tidak ada lagi.
Sampai ayah Jaejoong datang dan menunjukkan foto anaknya untuk ditawarkan padanya. Yunho menyadari kemiripan itu, meskipun penampilan Jaejoong di foto berbeda dengan Jessica, dengan kacamata tebal dan potongan rambut kunonya.
Yunho tidak menampik, ketika membuat perjanjian pernikahan di usia Jaejoong yang ke dua puluh lima itu murni karena ingin menjadikan Jaejoong sebagai pengganti Jessica.
Tetapi kemudian entah kenapa Yunho jatuh cinta kepada Jaejoong, entah sejak kapan Yunho tidak tahu. Mungkin sejak dia selalu menerima foto-foto hasil pengintaian dari Changmin yang membuatnya sadar bahwa Jaejoong telah berkembang menjadi yeoja yang mandiri. Mungkin setelah percintaan yang dahsyat di malam pertama itu, atau mungkin juga setelah perkawinan mereka, Yunho tidak tahu. Yang dia tahu pasti, Jaejoong tersimpan di hatinya. Hati yang dulu sudah dia buang, Ternyata selama ini hatinya masih ada di sana, menunggu untuk diisi kembali.
Dan sekarang, isteri dan anaknya sedang meregang nyawa di ruang operasi. Dan yang bisa Yunho lakukan hanyalah menunggu di sini seperti orang bodoh.
Isteri dan anaknya astaga! Bahkan Yunho selalu menutup mata, berpura-pura bahwa dia tidak mengakui keberadaan anak itu, selalu mengalihkan mata ketika menatap perut Jaejoong yang semakin dan semakin membuncit setiap harinya. Jaejoong berjuang sendirian selama masa-masa kehamilannya.
Sangat jauh dari yang dilakukannya ketika Jessica mengandung, dia merawatnya, dia menjaganya di setiap langkahnya. Memastikan Jessica sehat dan bahagia di setiap detiknya. Dan sekarang, kepada Jaejoong, isterinya, yang sesungguhnya sangat dicintainya, Yunho telah berbuat luar biasa jahat. Bagaimana jika nanti tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya? Tuhan...jika dia benar-benar ada, Yunho rela berdoa di setiap detiknya demi keselamatan Jaejoong.
“Kalau booJae tidak dapat diselamatkan...” Suara Yunho tertelan di tenggorokannya, “Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya.”
Changmin menundukkan kepalanya, tidak tahu bagaimana caranya menghibur tuannya yang sedang cemas. Sementara Junsu diam-diam menyusut air matanya. Jadi namja ini, yang katanya begitu kejam dan jahat, ternyata mencintai isterinya. Ternyata mencintai Jaejoong. Dengan sepenuh hatinya Junsu berdoa.
"Kau harus hidup Joongie, suamimu di sini, mencemaskanmu. Dia kelihatan sangat menderita, dulu dia jahat dan kejam dengan hati yang hitam, tetapi kau telah sedikit demi sedikit mengangkatnya ke dalam cahaya. Dan kalau kau meninggalkannya, mungkin dia akan terpuruk lagi, jatuh ke dalam jurang yang lebih kelam."
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue

5 comments:

  1. Wahhh..Walaupun mungkin terkesan cepat namun, karena masa kehamilannya JJ hanya diceritakan dalam satu chapter, tp ini bagus sekali..

    Tetap semangat ya..

    ReplyDelete
  2. Anonymous10:33 PM

    Update lg..yeyeyeywye
    .. cintaaa bngt sm Saki... bagun jae.. bknkah kamu ingin dengar kata2 cinta dr suamimu ?

    ReplyDelete
  3. yunjae belum saling ngungkapin rasa cinta mereka masing 2
    mngkanya yunho takut jae ninggalin dia sama kaya jessica
    ayo jae bangun

    ReplyDelete
  4. "Aku belum pernah bilang kalau aku mencintainya"
    Oh astaga Yunho~
    Nanti kalau Jae udah sadar kalian harus saling terbuka dengan perasaan masing-masing, jangan cuma buka baju doang #pout #pletak

    ReplyDelete
  5. Masa nunggu Jaejae sekarat dulu baru mau bilang Cinta Yun...
    Tp gpp lah daripada ga sama sekali.

    ReplyDelete