Wednesday, February 26

[Remake] Salang-Ui Ba Chapter 19


Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya.
Dan ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong. Terbenam dalam puncak kepuasannya.

salang-ui ba
©Kitahara Saki
Kim Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with the Devil
©Shanty Agatha
Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Yunho bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Jaejoong. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya.
Dan ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong. Terbenam dalam puncak kepuasannya.
.                                                                                                                                                    
.
Kehidupan perkawinan mereka berlangsung seperti yang seharusnya. Setiap malam Yunho selalu menyentuhnya, gairahnya seperti tak pernah habis.
Tetapi hanya itulah saat mereka bisa dekat. Jaejoong mengernyit menyadari bahwa dia hanya bisa dekat dengan suaminya ketika mereka bercinta. Yunho memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak pernah kasar dan memaksakan kehendaknya lagi.
Namja itu hanya mengangkat alisnya ketika Jaejoong mulai membantah kata-katanya, kemudian melangkah pergi. Memilih menghindari konfrontasi.
Pernikahan mereka sudah berlangsung hampir dua bulan dan Jaejoong masih merasakan ada yang mengganjal di hatinya. Oh ya, dia menyadari bahwa landasan pernikahan ini sudah salah dari awal. Hanya berlandaskan kontrak kerja yang dilapisi hasrat. Belum lagi alasan yang tidak mau diakui Yunho, bahkan sampai sekarang ini: bahwa Jaejoong hanyalah pengganti Jessica.
Jaejoong tidak pernah lagi mengunjungi sayap rumah yang menyimpan lukisan Jessica itu, dan Changmin bahkan sudah tidak pernah menyinggung tentang isteri pertama Yunho lagi. Jaejoong curiga bahwa Yunho melarang Changmin dan semua orang di rumah ini membahasnya.
Karena Yunho sendiripun tampak tak pernah menjelaskannya, Jaejoong menjadi semakin bingung. Akan seperti apakah pernikahan ini nantinya? Salahkah ia ketika menerima lamaran Yunho waktu itu? Dan satu lagi pertanyaan yang mulai mengusik hatinya, apakah ia mencintai Yunho?
Semakin Jaejoong mencoba memikirkannya, semakin kepalanya terasa sakit. Ah, dia memang sering merasa pusing akhir-akhir ini, pusing yang aneh karena timbul tenggelam tanpa tahu waktu.
“Boo?” Yunho tiba-tiba sudah ada di depannya, “Kau kenapa?” Namja itu mengernyit melihat Jaejoong yang berjalan terhuyung-huyung sambil berpegangan di dinding lorong.
Jaejoong mencoba berdiri tegak, tetapi pusing kali ini benar-benar menyerangnya dengan kuat sehingga dia oleng. Seketika itu juga Yunho langsung menangkapnya.
“Boo?” Suara panik Yunho masih terdengar sebelum semuanya ditelan dalam kegelapan.
.
.
.
.
.
“Nyonya Jung hamil, selamat tuan,” dokter tua itu menyalaminya dengan penuh semangat, “akhirnya ada calon penerus keluarga Jung yang akan terlahir.”
Yunho pucat pasi. Dokter itu terus berceloteh tentang kehamilan dan calon bayi mereka, tetapi yang ada di benak Yunho hanyalah mimpi buruk. Mimpi  buruk yang selama ini coba dia lupakan, tetapi sekarang kembali datang menghampirinya.
Yunho menyuruh Changmin mengantar kepergian dokter itu, dan kemudian Changmin kembali dan menatap Yunho dengan cemas. Namja itu tentu tahu apa yang berkecamuk di dalam hati Yunho.
“Dia hamil,” Yunho mengulang pemberitahuan dokter tadi, meskipun dia tahu Changmin sudah mendengarnya, dia hanya ingin mengucapkannya supaya benar-benar yakin bahwa mimpi buruk itu ternyata telah menjadi nyata.
“Kondisi nyonya sangat sehat tuan...”
“Sehat katamu??” Yunho membentak marah, “Dia tadi pingsan di depanku, tampak pucat dan begitu lemah!”
“Tetapi Nyonya Jaejoong tidak sama dengan...”
“Diam!” Yunho menggeram marah, “Jaejoong tidak boleh hamil!” serunya memutuskan.
.
.
.
.
.
Jaejoong membuka matanya dalam cahaya temaram di kamar Yunho. Yang ditemukan pertama kalinya adalah Yunho yang sedang duduk muram di kursi samping ranjang, sepertinya namja itu sedang menunggunya tersadar.
“Apa yang terjadi?” tanya Jaejoong lemah, memegang kepalanya dan mengernyit, masih pusing.
Yunho menatapnya tajam, tampak tidak suka dengan pemandangan Jaejoong yang mengernyit kesakitan.
“Kau hamil,” gumamnya datar.
“Oh,” Jaejoong terkesiap, otomatis langsung memegang perutnya dan menutupinya dengan gerakan melindungi.
Yunho mengikuti arah pandangan Jaejoong dan ekspresi wajahnya mengeras.
“Kau harus menggugurkannya.”
Kali ini Jaejoong benar-benar terkejut dengan kata-kata Yunho sampai hampir terduduk dari ranjang. Tetapi rasa pusing langsung menghantamnya, hingga dia terbaring lagi.
“Mwo??” Jaejoong menatap Yunho tak percaya. Dia tahu namja ini memang kejam. Tetapi meminta Jaejoong mengugurkan kandungannya, yang adalah darah dagingnya sendiri benar-benar di luar dugaan.
“Aku tidak menginginkan anak itu, kau harus menggugurkannya.”
“Ani!” Jaejoong berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Jaejoong tidak tahu bagaimana yeoja hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Jaejoong langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya. “Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Jung Yunho! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!”
Yunho menatap Jaejoong dengan pandangan kesakitan, “Aku tidak bisa Jae, aku tidak bisa kalau kau hamil!” namja itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk. Ketika membanting gelasnya dan menatap Jaejoong, matanya menyala-nyala, “Jessica...dia sempat hamil kau tahu...kemudian keguguran...”
Jaejoong tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Yunho. Nama Jessica seakan tabu untuk diucapkan ketika Jaejoong masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Jung. Dan sekarang Yunho sendirilah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
“Tetapi kondisiku dan Jessica berbeda, aku sehat-sehat saja...”
“Yang tidak orang lain ketahui adalah Jessica hamil lagi setelah keguguran itu,” Mata Yunho nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Jaejoong di ruangan itu, “Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Jessica berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya,” Nafas Yunho tercekat, “Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Jessica sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah...kehamilan itu yang membunuhnya!”
“Tapi aku tidak sama dengan Jessica, Yun,” Jaejoong menyela, berusaha mengembalikan Yunho ke masa kini, “Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku.”
“Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!” Yunho menyela marah, dan ketika menyadari wajah Jaejoong memucat karena suaranya yang meninggi, Yunho memperlembut suaranya, tatapannya memohon, “Aku minta padamu boo, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi.”
.
.
.
.
.
Dada Jaejoong bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Yunho dan betapa egoisnya dia! Betapapun Yunho merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Jaejoong, seharusnya namja itu sadar kalau yang ada di perut Jaejoong ini adalah darah dagingnya, anaknya! Sebegitu tidak berharganyakah Jaejoong di mata Yunho sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Yunho kepada Jessica?
“Ani Yun,” Jaejoong menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap. “Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah...” Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan terluka yang dalam, “Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku.”
Yunho tertegun mendengar ancaman Jaejoong itu, dia menatap Jaejoong dan menyadari yeoja itu terluka. Yunho terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Jaejoong. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,
“Dengar Jae, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku...”
“Aku tidak ingin menentangmu!” Jaejoong setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai, “Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Jessica, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!!”
Anakmu juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Yunho hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga...Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Yunho pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya lagi...
“Mungkin nanti kau akan berubah pikiran.”
“Tidak akan.” Jaejoong menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi.
Dan Yunho menatapnya dengan cemas, “Apakah kau pusing lagi?”
“Ya,” Jaejoong mengerang dan memijit kepalanya.
“Aku akan mengambilkanmu air,” Yunho menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Jaejoong, “Ini...minumlah.”
Jaejoong menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Yunho meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang.
Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Yunho langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Yunho tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua.
Jaejoonglah yang pertama kali memecah keheningan, “Kau ingin tidur?”
Yunho menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Jaejoong menggeser tubuhnya memudahkan Yunho untuk berbaring. Namja itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan.
Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
.
.
.
.
.
Pagi harinya suasana begitu dingin, Yunho seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Jaejoong tetap waspada. Mengingat sifat Yunho, tidak menutup kemungkinan namja itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu? Mengingat namja itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Changmin.
Jaejoong mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Yunho lebih mementingkan kenangannya akan Jessica daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Jaejoong harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
“Anda akan mempertahankan anak itu kan?” suara Changmin menyentakkan Jaejoong dari lamunannya. Namja itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Jaejoong.
Jaejoong menatap Changmin dan mencoba tersenyum, Changmin sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Changmin pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Yunho.
“Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini.”
Senyum terukir di bibir Changmin, “Tidak nyonya, Tuan jung tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan jung menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Jung yang harus saya hormati pula.”
Kelegaan meliputi hati Jaejoong, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Jaejoong menatap Changmin dengan ragu,
“Apakah kau tahu bahwa Jessica meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?”
Changmin menatap Jaejoong hati-hati dan menganggukkan kepalanya, “Saya tahu, setelah kematian nyonya Jessica. Hal itulah yang menghancurkan Tuan jung, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Jessica. Nyonya Jessica bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil...” Changmin menghela nafas panjang dan menatap Jaejoong lembut, “Saya harap Anda memahami perasaan Tuan jung.”
“Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Jessica, dia menganggapku sama seperti Jessica,” Jaejoong memejamkan matanya pedih, “Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya,”
Changmin menatap perut Jaejoong dan tatapannya melembut di sana, “Saya yakin Tuan jung tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan jung adalah karena dia peduli kepada Anda?"
Peduli kepadanya?? Bagaimana bisa?? Yunho menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
“Tuan jung menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Jessica, dia takut kehilangan Anda.”
Jaejoong menatap Changmin dengan tak percaya, “Dia tak mungkin takut kehilanganku.”
“Percayalah kepada saya,” Changmin tersenyum lembut. “Tuan jung memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu.” Changmin membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Jaejoong dalam keheningan.
.
.
.
.
.
To Be Continue

4 comments:

  1. Anonymous10:46 PM

    Iya jae.. yunho takut kehilangan lg.. ia takut terluka..hahh lnjutannya udh ada blm yahh.. saki faithing !!

    ReplyDelete
  2. rasa takut yunho berlebihan .. jae ga mungkin gugurin bayinya
    kasian jae hamil tanpa dapet perhatian dri yunho ...

    ReplyDelete
  3. Iya, yg dikatakan Changmin benar,
    Emang gak gampang sih bikin Jae percaya gitu aja


    Ah Yunho~ bilang I Luph U atau aku sayang gitu kek~

    ReplyDelete
  4. Hidup jd Jaejoong emng serba salah.
    gemes sama Yunho yg ga bilang2 i love u...

    ReplyDelete