Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho
meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan
penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara
bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara
Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan
itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan
boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong,
permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam
hasrat gairahnya.
Dan
ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya.
Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya.
Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai
mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong.
Terbenam dalam puncak kepuasannya.
salang-ui
ba
©Kitahara Saki
Kim
Jaejoong, Jung Yunho
©their self
Sleep with
the Devil
©Shanty Agatha
Sambil
menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Yunho
bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Jaejoong. Sebagian dirinya yang
benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Jaejoong adalah miliknya.
Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Jaejoong.
Yunho
meraih bibir Jaejoong dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan
penuh, bagi Jaejoong kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara
bibir mereka bertautan, sebelah tangan Yunho kembali bergerak ke payudara
Jaejoong, membelainya. Jaejoong hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan
itu dan dia berusaha menahan dirinya,
“Lepaskan
boo, jangan menahannya,” Yunho seolah mengerti apa yang dirasakan Jaejoong,
permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Jaejoong yang nyaris tenggelam dalam
hasrat gairahnya.
Dan
ketika jemari Yunho menyentuh sekujur tubuhnya, Jaejoong menyerahkan dirinya.
Tubuhnya mendesak di tubuh Yunho sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya.
Orgasme Jaejoong menggiring Yunho hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai
mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Jaejoong.
Terbenam dalam puncak kepuasannya.
.
.
Kehidupan
perkawinan mereka berlangsung seperti yang seharusnya. Setiap malam Yunho
selalu menyentuhnya, gairahnya seperti tak pernah habis.
Tetapi
hanya itulah saat mereka bisa dekat. Jaejoong mengernyit menyadari bahwa dia
hanya bisa dekat dengan suaminya ketika mereka bercinta. Yunho memang berubah
menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak pernah kasar dan memaksakan
kehendaknya lagi.
Namja
itu hanya mengangkat alisnya ketika Jaejoong mulai membantah kata-katanya,
kemudian melangkah pergi. Memilih menghindari konfrontasi.
Pernikahan
mereka sudah berlangsung hampir dua bulan dan Jaejoong masih merasakan ada yang
mengganjal di hatinya. Oh ya, dia menyadari bahwa landasan pernikahan ini sudah
salah dari awal. Hanya berlandaskan kontrak kerja yang dilapisi hasrat. Belum
lagi alasan yang tidak mau diakui Yunho, bahkan sampai sekarang ini: bahwa Jaejoong
hanyalah pengganti Jessica.
Jaejoong
tidak pernah lagi mengunjungi sayap rumah yang menyimpan lukisan Jessica itu,
dan Changmin bahkan sudah tidak pernah menyinggung tentang isteri pertama Yunho
lagi. Jaejoong curiga bahwa Yunho melarang Changmin dan semua orang di rumah
ini membahasnya.
Karena Yunho
sendiripun tampak tak pernah menjelaskannya, Jaejoong menjadi semakin bingung.
Akan seperti apakah pernikahan ini nantinya? Salahkah ia ketika menerima
lamaran Yunho waktu itu? Dan satu lagi pertanyaan yang mulai mengusik hatinya,
apakah ia mencintai Yunho?
Semakin
Jaejoong mencoba memikirkannya, semakin kepalanya terasa sakit. Ah, dia memang sering
merasa pusing akhir-akhir ini, pusing yang aneh karena timbul tenggelam tanpa
tahu waktu.
“Boo?” Yunho
tiba-tiba sudah ada di depannya, “Kau kenapa?” Namja itu mengernyit melihat Jaejoong
yang berjalan terhuyung-huyung sambil berpegangan di dinding lorong.
Jaejoong
mencoba berdiri tegak, tetapi pusing kali ini benar-benar menyerangnya dengan
kuat sehingga dia oleng. Seketika itu juga Yunho langsung menangkapnya.
“Boo?”
Suara panik Yunho masih terdengar sebelum semuanya ditelan dalam kegelapan.
.
.
.
.
.
“Nyonya
Jung hamil, selamat tuan,” dokter tua itu menyalaminya dengan penuh semangat,
“akhirnya ada calon penerus keluarga Jung yang akan terlahir.”
Yunho
pucat pasi. Dokter itu terus berceloteh tentang kehamilan dan calon bayi
mereka, tetapi yang ada di benak Yunho hanyalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang selama ini coba dia lupakan,
tetapi sekarang kembali datang menghampirinya.
Yunho
menyuruh Changmin mengantar kepergian dokter itu, dan kemudian Changmin kembali
dan menatap Yunho dengan cemas. Namja itu tentu tahu apa yang berkecamuk di
dalam hati Yunho.
“Dia
hamil,” Yunho mengulang pemberitahuan dokter tadi, meskipun dia tahu Changmin
sudah mendengarnya, dia hanya ingin mengucapkannya supaya benar-benar yakin
bahwa mimpi buruk itu ternyata telah menjadi nyata.
“Kondisi
nyonya sangat sehat tuan...”
“Sehat
katamu??” Yunho membentak marah, “Dia tadi pingsan di depanku, tampak pucat dan
begitu lemah!”
“Tetapi
Nyonya Jaejoong tidak sama dengan...”
“Diam!”
Yunho menggeram marah, “Jaejoong tidak boleh hamil!” serunya memutuskan.
.
.
.
.
.
Jaejoong
membuka matanya dalam cahaya temaram di kamar Yunho. Yang ditemukan pertama
kalinya adalah Yunho yang sedang duduk muram di kursi samping ranjang,
sepertinya namja itu sedang menunggunya tersadar.
“Apa
yang terjadi?” tanya Jaejoong lemah, memegang kepalanya dan mengernyit, masih
pusing.
Yunho
menatapnya tajam, tampak tidak suka dengan pemandangan Jaejoong yang mengernyit
kesakitan.
“Kau
hamil,” gumamnya datar.
“Oh,” Jaejoong
terkesiap, otomatis langsung memegang perutnya dan menutupinya dengan gerakan
melindungi.
Yunho
mengikuti arah pandangan Jaejoong dan ekspresi wajahnya mengeras.
“Kau
harus menggugurkannya.”
Kali
ini Jaejoong benar-benar terkejut dengan kata-kata Yunho sampai hampir terduduk
dari ranjang. Tetapi rasa pusing langsung menghantamnya, hingga dia terbaring
lagi.
“Mwo??”
Jaejoong menatap Yunho tak percaya. Dia tahu namja ini memang kejam. Tetapi
meminta Jaejoong mengugurkan kandungannya, yang adalah darah dagingnya sendiri
benar-benar di luar dugaan.
“Aku
tidak menginginkan anak itu, kau harus menggugurkannya.”
“Ani!” Jaejoong
berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Jaejoong
tidak tahu bagaimana yeoja hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu
sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Jaejoong
langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami
akan melindungi anaknya. “Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat
melaksanakan niatmu itu Jung Yunho! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di
dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri,
dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!”
Yunho
menatap Jaejoong dengan pandangan kesakitan, “Aku tidak bisa Jae, aku tidak
bisa kalau kau hamil!” namja itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi
ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk.
Ketika membanting gelasnya dan menatap Jaejoong, matanya menyala-nyala, “Jessica...dia
sempat hamil kau tahu...kemudian keguguran...”
Jaejoong
tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Yunho. Nama Jessica seakan
tabu untuk diucapkan ketika Jaejoong masuk ke rumah ini sebagai Nyonya Jung.
Dan sekarang Yunho sendirilah yang mengangkat topik itu ke permukaan.
“Tetapi
kondisiku dan Jessica berbeda, aku sehat-sehat saja...”
“Yang
tidak orang lain ketahui adalah Jessica hamil lagi setelah keguguran itu,” Mata
Yunho nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Jaejoong
di ruangan itu, “Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan
hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan
sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Jessica
berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku
dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami
menggugurkannya,” Nafas Yunho tercekat, “Ketika dia meninggal seperti tidur di
atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Jessica sudah
hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan
membuatnya semakin lemah...kehamilan itu yang membunuhnya!”
“Tapi
aku tidak sama dengan Jessica, Yun,” Jaejoong menyela, berusaha mengembalikan Yunho
ke masa kini, “Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku.”
“Aku
tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!” Yunho menyela marah, dan ketika
menyadari wajah Jaejoong memucat karena suaranya yang meninggi, Yunho
memperlembut suaranya, tatapannya memohon, “Aku minta padamu boo, gugurkan bayi
itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di
pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi.”
.
.
.
.
.
Dada Jaejoong
bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Yunho dan betapa egoisnya
dia! Betapapun Yunho merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas
kehamilan Jaejoong, seharusnya namja itu sadar kalau yang ada di perut Jaejoong
ini adalah darah dagingnya, anaknya! Sebegitu tidak berharganyakah Jaejoong di
mata Yunho sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama
kenangan Yunho kepada Jessica?
“Ani Yun,”
Jaejoong menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap. “Aku tidak
akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya
menganggapnya sampah...” Jaejoong menatap Yunho dengan tatapan terluka yang
dalam, “Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia
adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang
kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku
sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah
kematianku.”
Yunho
tertegun mendengar ancaman Jaejoong itu, dia menatap Jaejoong dan menyadari yeoja
itu terluka. Yunho terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu
melukai Jaejoong. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,
“Dengar
Jae, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku...”
“Aku
tidak ingin menentangmu!” Jaejoong setengah berteriak, kali ini emosinya pecah
dan berderai, “Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Jessica,
tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku
untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi
anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!!”
Anakmu
juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Yunho hingga membuatnya mengernyit.
Anaknya juga...Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Yunho pernah mengalaminya
sekali. Dan jika dia harus mengalaminya lagi...
“Mungkin
nanti kau akan berubah pikiran.”
“Tidak
akan.” Jaejoong menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi.
Dan Yunho
menatapnya dengan cemas, “Apakah kau pusing lagi?”
“Ya,” Jaejoong
mengerang dan memijit kepalanya.
“Aku
akan mengambilkanmu air,” Yunho menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi
ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Jaejoong, “Ini...minumlah.”
Jaejoong
menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Yunho meletakkan gelas itu
kembali di tepi ranjang.
Mereka
diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak
secanggung ini. Biasanya setiap malam Yunho langsung mengajaknya masuk kamar
dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka
langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Yunho tidak
bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah
menguras emosi mereka berdua.
Jaejoonglah
yang pertama kali memecah keheningan, “Kau ingin tidur?”
Yunho
menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa
lelah. Jaejoong menggeser tubuhnya memudahkan Yunho untuk berbaring. Namja itu
berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain
yang bergesekan.
Lama
mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya
sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.
.
.
.
.
.
Pagi
harinya suasana begitu dingin, Yunho seolah tidak mau membahas percakapan
mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Jaejoong tetap waspada. Mengingat sifat
Yunho, tidak menutup kemungkinan namja itu akan melakukan segala cara untuk
melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya
misalnya, siapa yang tahu? Mengingat namja itu pernah membiarkan minumannya
dicampuri obat oleh Changmin.
Jaejoong
mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh
ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Yunho lebih mementingkan
kenangannya akan Jessica daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di
depannya, Jaejoong harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.
“Anda
akan mempertahankan anak itu kan?” suara Changmin menyentakkan Jaejoong dari
lamunannya. Namja itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Jaejoong.
Jaejoong
menatap Changmin dan mencoba tersenyum, Changmin sangat baik dan sopan padanya
ketika dia memasuki rumah ini. Changmin pulalah yang menjelaskan kepadanya
kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Yunho.
“Aku
akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau
ingin mencelakai anak ini.”
Senyum
terukir di bibir Changmin, “Tidak nyonya, Tuan jung tidak pernah menyuruh saya
mencelakai anak itu. Bahkan jika tuan jung menyuruhpun, saya akan menolak, anak
itu adalah keturunan Jung yang harus saya hormati pula.”
Kelegaan
meliputi hati Jaejoong, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian
Jaejoong menatap Changmin dengan ragu,
“Apakah
kau tahu bahwa Jessica meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua
kalinya?”
Changmin
menatap Jaejoong hati-hati dan menganggukkan kepalanya, “Saya tahu, setelah
kematian nyonya Jessica. Hal itulah yang menghancurkan Tuan jung, bahwa dia
sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Jessica. Nyonya Jessica bisa
hidup lebih lama seandainya tidak hamil...” Changmin menghela nafas panjang dan
menatap Jaejoong lembut, “Saya harap Anda memahami perasaan Tuan jung.”
“Dia
selalu menganggapku sebagai pengganti Jessica, dia menganggapku sama seperti Jessica,”
Jaejoong memejamkan matanya pedih, “Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku
mengugurkannya,”
Changmin
menatap perut Jaejoong dan tatapannya melembut di sana, “Saya yakin Tuan jung
tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Jessica. Jika dia hanya
menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya
kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang
bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan jung adalah karena dia peduli kepada
Anda?"
Peduli kepadanya?? Bagaimana bisa?? Yunho
menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?
“Tuan
jung menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda.
Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Jessica, dia takut kehilangan
Anda.”
Jaejoong
menatap Changmin dengan tak percaya, “Dia tak mungkin takut kehilanganku.”
“Percayalah
kepada saya,” Changmin tersenyum lembut. “Tuan jung memang tidak pernah pandai
menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu.” Changmin
membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Jaejoong dalam
keheningan.
.
.
.
.
.
To Be Continue

Iya jae.. yunho takut kehilangan lg.. ia takut terluka..hahh lnjutannya udh ada blm yahh.. saki faithing !!
ReplyDeleterasa takut yunho berlebihan .. jae ga mungkin gugurin bayinya
ReplyDeletekasian jae hamil tanpa dapet perhatian dri yunho ...
Iya, yg dikatakan Changmin benar,
ReplyDeleteEmang gak gampang sih bikin Jae percaya gitu aja
Ah Yunho~ bilang I Luph U atau aku sayang gitu kek~
Hidup jd Jaejoong emng serba salah.
ReplyDeletegemes sama Yunho yg ga bilang2 i love u...